Jalan Tengah

Malam itu seperti malam-malam sebelumnya. Abdul Rahim, yang dikampungnya kurang begitu populer sedang berbincang dengan seorang temannya, dikampung mereka teman abdul Rahim ini kurang begitu disuka. Abdul Rahim, lelaki hampir berumur 30 tahun, menikah punya anak 3, adalah seorang pedagang kecil yang kurang sukses. Begitu juga dengan lawan bicaranya. Sama jeleknya. Abdul Rahim malam itu seperti berbicara dengan dirinya sendiri. Malam itu perbincangan mereka sudah kehabisan bahan. Tanpa disadari pembicaraan mereka memasuki hal-hal semi gaib, yaitu keinginan. Mereka berbincang diteras rumah Abdul Rahim.

"Apa yang kau lihat dari pemimpin daerah kita?" Abdul mulai membuka topik.

"Jelas, kaya. Segalanya sudah diperoleh, istri, anak, harta dan kekuasaan" jawab temannya,
seperti sudah mengenal betul pemimpinnya.

"Seberapa kayanya".

"Sebanyak keperluannya".

"Maksudmu?" Abdul tampaknya kurang mengerti.

"Coba kau lihat, berapa jumlah ongkos biaya hidupnya, keluarganya, pembantu-pembantunya yang melebihi jumlah keluarganya. Berapa perbulannya" sepertinya teman Abdul ini faham betul dengan soal hitung-hitungan.

"Kalau dilihat dari situ, sepertinya betul. Memang kalau dibandingkan dengan jumlah pengeluaran kita sangat jauh, tapi kau juga pasti mengalaminya, pengeluaran kadang-kadang lebih dari pendapatan kan?" Abdul tersenyum sambil menepuk pundak temannya.

"Aku tidak lupa hutangku padamu" rupanya temannya mengerti apa maksud Abdul, "Tapi coba kau pikir. Pengeluaran kita berkutat pada hidup sehari-hari dengan istri dan anak. Dan mengenai hutang itu, untuk biaya istri melahirkan, anak sakit, istri sakit, anak sekolah" temannya menoleh kearah pintu "Kopi! mana kopinya. Sepertinya pembicaraan kita menarik" temannya tersenyum sambil jari jarinya mengetuk-ngetuk meja.

Abdul memanggil istrinya, kopi katanya singkat. Setelah istrinya berlalu, temannya lalu melanjutkan.

"Dan kau lihat, jika hal tersebut menimpa pemimpin kita. Dia tidak berhutang ataupun mengeluarkan uang sepeserpun".

"Bagaimana bisa begitu?".

"Karena daerah ini adalah miliknya, dibawah kekuasaannya".

Temannnya melihat-lihat kearah pintu , menunggu kopi. Abdul menyalakan rokoknya entah yang keberapa. Temannya memperbaiki duduknya dan melanjutkan.

"Dan kau lihat lagi, tanda simpati pasti berdatangan dari segala penjuru, semoga panjang umur, semoga lekas sembuh, yah pokoknya ucapan manis yang sejenisnyalah. Dan apa yang kita terima bila…." temannya berpikir sejenak " kita ambil contoh istri melahirkan atau anak sakit" temannya memandangi Abdul untuk menunggu reaksi balasan. Tapi Abdul hanya manggut-manggut.

"Yang kita dapat pasti, sudah hidup susah masih saja nambah anak, makannya anak dijaga, jangan asal makan makanya sakit, kapok, sukurin dan lain-lain." Lanjut temannya senyum-senyum kecut.

"Kopi datang" istri Abdul menaruh kopi dimeja, tersenyum dua kali lebih kecut. Lalu pergi. Setelah menyeruput kopi yang masih panas, teman Abdul menyalakan rokoknya. Setelah dua tiga hisap lalu melanjutkan.

"Pemimpin kita bulan ini baru saja membangun rumah mewahnya yang keduabelas dan baru saja menggenapi rumah sederhana nya jadi jadi duapuluh" ketika menyebutkan kata sederhana teman Abdul membentangkan kedua lengan seluas-luasnya "Dan tanah miliknya hampir separo dari dari luas daerah kita . Padahal anaknya cuma tiga orang. Aku tidak tahu apa yang dicarinya. Sepertinya masih saja ada yang kurang. Kau tahu untuk apa harta yang sebanyak itu as plenty as blachberrie" jarinya menunjuk pohon jambu air didepan mereka yang pada saat itu sedang berbuah sangat lebat .

"Dari apa yang kau bicarakan dari awal, orang kaya itu adalah orang yang banyak keperluannya"Abdul coba menyimpulkan.

"Tepat sekali" temannya menyeruput kopi lagi.

"Jika aku diberi rezeki yang berlimpah, aku tidak akan mengumpan keinginanku" Abdul bertekad. "Aku tidak percaya" temannya juga bertekad.

"Aku akan hidup sederhana, dengan sedikit keperluan dan sedikit keinginan" Abdul tidak menghiraukan tekad temannya.

"Apa beda keinginan dan keperluan?" giliran temannya tidak mengerti.

"Kau tidak tahu?" sebenarnya Abdul juga tidak tahu apa perbedaan dua kata yang diucapkannya tadi. Temannya menunggu. "Keinginan bisa disamakan dengan hal yang tidak mendesak dikehidupan nyata atau yang sedang dijalani tapi selalu dipikirkan" Abdul mulai tersenyum "Dan keperluan adalah kebalikannya!". Ya ilham itu tepat sekali melintas dikepalanya . Abdul menarik napas puas. Temannya pun puas dengan definisi tersebut.

"Tapi aku berani potong jari bila kamu diberi rezeki yang berlimpah kau tidak akan sanggup menahan keinginanmu" temannya sekarang sepertinya sudah mengerti betul perbedaan keperluan dan keinginan.

“Kau tidak tahu seberapa kuat tekadku. Jika aku bertekad, tidak seorangpun dapat merubuhkannya. Bahkan Iblis pun tidak".

"Kenapa Iblis?".

"Memangnya kenapa? Ya karena Iblis adalah moyangnya Setan". "Apakah kau tahu seberapa kuat Iblis?. Tidak lebih kuat dari tekadku" Abdul mendengus.
Temannya mencibir.
Saat itu angin bertiup kencang dan langitpun gelap, pertanda bahwa adiknya, sang hujan akan datang. Temannya lalu pamit, terimakasih atas kopinya katanya sambil berlari mendahului hujan.

Pada saat itu juga Iblis berdiri pada bayangan mereka. Mendengarkan, semuanya dari awal sampai akhir.

Lewat beberapa detakan jantung rasa kantuk menguasai Abdul. Pedagang yang bangkrut itupun membaringkan tubuhnya disamping istrinya. Lalu iapun tertidur pulas. Laksana dibius oleh bau badan istrinya. Dan lewat setengah detakan jantung, Iblis menampakkan dirinya kepada Abdul dalam wujud lelaki yang sungguh gagah, sungguh tampan dan sungguh agung. Diluar bayangan wanita gila manapun.

"Hai Abdul, apakah kau mengenalku?" Iblis tak mendapat jawaban. Abdul merasakan tubuhnya gemetar.

"Hai Abdul" Iblis mengulang "Akulah Iblis"kembali iblis tidak mendapat jawaban.
"Apakah kau mengenalku, akulah yang akan menguji tekadmu ".

Abdul tak menjawab, dia sibuk merapalkan ayat-ayat yang dihapalnya.
Iblis menyeringai “Tenanglah Abdul, ketahuilah aku tidak takut pada ayat-ayat, orang suci atau apapun. Yang kutakuti hanyalah Tuhan tempat dimana kau mengalamatkan doamu".

"Tapi ayat suci berasal dari Tuhan" Abdul mulai timbul keberaniannya.

"Kau tidak mengerti, Tuhan memberiku kebebasan untuk menentukan apa yang kutakuti sejalan dengan apa yang dipikirkan manusia".

"Kenapa Tuhan memberimu kebebasan? Tuhan telah mengutukmu!".

"Siapa yang dikutuk.Setanlah yang dikutuk".

"Jadi siapa kau sebenarnya?”

"Aku adalah engkau tentunya".
Abdul hanya terdiam.

"Ketahuilah Abdul, aku hanya ingin memberi apa yang menjadi keinginanmu, karena aku tahu keinginamnu".

"Tidak ada yang tahu keinginanku, Tuhanlah yang tahu".

"Abdul, sebelum kau mengetahui keinginanmu, Dia kepadaNyalah semua kebenaran, telah mengetahuinya. Dan jika kau sudah tahu keinginamnu akupun mengetahuinya".

"Kenapa kau memujiNya, padahal kau telah menentangnya".

"Tapi kaulah penyebab bapak moyangku terusir dari surga"

"Itu akibat perbuatannya sendiri. Dan memang betul manusia tak pantas untuk disembah"

Lalu Iblis mengulangi niatnya.
"Ketahuilah Abdul, bila kau meminta kepada Tuhan, jalan jauh, sempit dan berlikulah yang kau temui. Dan bila kau meminta kepadaku jalan pintas dan lapanglah yang kau jumpai".

"Apakah ada jalan lain".

"Tidak ada jalan lain, yang ada hanya jalan Tuhan dan Aku".
Abdul hanya terdiam.

"Jika kau malu untuk mengatakannya, tidak mengapa, cukup anggukan kecil dihatimu dan aku akan mengabulkannya".

"Iblis, sebelum aku meminta kepadamu, aku bertanya dahulu kepadamu, apakah rupamu yang sekarang adalah wujudmu yang hakiki? Karena sepengetahuanku, wujudmu digambarkan menyeramkan, aneh, menjijikan mewakili sosok kejahatan".

"Wujudku hanyalah milikNya, rahasiaNya, dimana semua rahasia hanya Dialah yang mengetahui. Tapi ada manusia yang pada mereka dibukakan tabir rahasia olehNya untuk melihat wujudku".

"Manusia macam apa mereka?".

"Sebenarnya, aku tidak mau lagi rahasiaku terungkap, sejak nabi terakhir mengetahuinya. Tapi aku akan memberitahumu, manusia yang bisa melihat wujudku adalah manusia yang berjiwa alif. Itupun masih kurang masih ada tiga huruf lagi yang harus dijiwai".

"Apakah aku manusia yang alif?"

"Bukan, untuk mencapai Alif, kau perlu menjiwai berpuluh ribu bahkan lebih huruf lainnya".

"Sebanyak itu?”.

"Ya, sebanyak keinginamnu".

Abdul lalu teringat dengan keinginannya, jadi wakil rakyat, fasilitas mewah, bahkan melebihi apa yang didapat pemimpin daerah dan seterusnya dan seterusnya.
Dan malam itu runtuhlah huruf Tuhan dihati salah seorang MahklukNya.

Setahun telah berlalu.
Abdul Rahim telah menjadi wakil rakyat yang mewakili kampungnya. Punya fasilitas mewah dan harta melebihi pimpinan daerah. Dan malam itu Abdul Rahim duduk diteras rumahnya yang mewah ditemani oleh temannya. Teman yang sama pada malam Abdul Rahim belum populer. Wajah Abdul lesu seperti ada yang kurang dengan apa yang diraihnya.

"Ada apa denganmu kawan?" temannya bertanya.

"Aku tidak tahu" Abdul menjawab sambil menghembuskan asap rokoknya.

"Tidak tahu soal apa?"

"Pemah kuceritakan padamu, cerita mimpiku yang telah membuat keajaiban dalam hidupku. Ada satu hal , barangkali sudah kuucapkan dalam hati atau terlewat..."

Temannya memotong “Sudah kukatakan bahwa itu hanyalah mimpi, tapi..." temannya berhenti sejenak "Aku penasaran apa yang terlewat atau kau kira sudah kau ucapkan itu?".

"Keinginanku".

"Keinginanmu, kamu mempunyai keinginan lagi"temannya tersenyum.

"Ya keinginanku yang terakhir, aku keliru iblis memang perkasa".

"Apa keinginanmu, mudah-mudahan ini yang terakhir. Dengan melihat wajahmu aku tidak berani mempertaruhkan jariku lagi" temannya mengejek.

"Aku ingin menjadi Pemimpin Bangsa, Presiden".

"Kali ini kau pilih jalan yang mana?".

"Andai saja ada jalan tengah".

"Satu lagi keinginanmu".

"Ya, in medio tutissimus ibis".

Temannya tertawa, Iblispun tersenyum. Sungguh manis.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Kumiiko_chan
Kumiiko_chan at Jalan Tengah (8 years 47 weeks ago)
90

woww, b^^d

Writer zoelkondoi
zoelkondoi at Jalan Tengah (8 years 47 weeks ago)

terimakasih, salam kenal

Writer Redo Rizaldi
Redo Rizaldi at Jalan Tengah (8 years 47 weeks ago)
80

Waw, hebat sekali orang kampung bisa tau bahasa latin.

Writer zoelkondoi
zoelkondoi at Jalan Tengah (8 years 47 weeks ago)

terimakasih atas commentnya, salam kenal