FanFic Death Note: Amarah

“Sidang pengadilan dugaan kasus korupsi yang melibatkan Nose Murai diadakan hari ini – ”

Belakangan ini, aku merasa telingaku memberontak padaku.

“Takagi Taysuke, seorang pengusaha wiraswasta terkemuka, yang ditangkap atas tuduhan suap, mengelak – ”

Mataku menolak melihat ke arah yang kuhendaki.

– Okui Toshitsugu, terdakwa kasus penggelapan uang negara, hari ini dinyatakan bebas – ”

Dan … Kurasa aku sangat marah, dan aku memendamnya.

Aku, Shirasu Hiroko, sangat marah pada dunia.

Atau … Tidak. Kurasa aku tidak marah pada dunia. Tapi pada Kira-sama. Dewa yang selama ini kupuja, yang kupercayai akan mendatangkan kehidupan yang lebih baik. Ya, aku marah padanya. Marah karena tiba-tiba keadilannya menghilang; dia berhenti melakukan penghakiman, dia berhenti membunuh manusia-manusia tercela itu.

Tiba-tiba semuanya kembali seperti semula – seperti Kira-sama tidak pernah ada. Kebobrokan dimana-mana. Kriminalitas meningkat, krisis moral yang tak tertolong, kebusukan-kebusukan para manusia –

Ah, sial. Aku lupa kalau aku juga manusia. Sial, aku sama dengan mereka.

Januari. Hari keduapuluhdelapan. Tahun 2015. Seperti hari-hari lainnya aku menunggu dalam diam. Menunggu sebuah berita tentang kembalinya Dewaku yang tercinta. Menunggu satu – ya, satu saja – dari sekian banyak para pelaku kejahatan mati dengan tangan bergayut di dada. Cardiac arrest – serangan jantung yang menjadi media bagi Dewaku menjalankan penghakimannya. Menunggu keadilan ditegakkan. Aku menunggu Kira-sama!

Dan selama aku menunggu, aku mulai membenci Dewa. Aku marah, karena aku menunggu terlalu lama. Dunia ini menunggu terlalu lama dan sekarang semuanya sudah terlalu busuk!

Amarah membuatku merasa tak ada gunanya lebih lama hidup di tengah kehancuran seperti sekarang ini.

Lima tahun terakhir Kira-sama menghilang. Detektif terkenal yang menyebut dirinya L itu mengumumkan bahwa Dewa telah kalah, Dewa telah dijatuhkan. Aku menolak untuk percaya. Ya, banyak dari rekan-rekan sepemahaman yang menolak untuk menyerah. Dewa hanya beristirahat, seperti yang pernah Ia lakukan sebelumnya. Ia belum kalah, dan kami akan terus mendukungnya, memujanya. Mereka yang lebih tua – dan lebih beruntung dariku – berteriak lantang di jalan-jalan, dengan setumpuk kertas pamflet yang siap disebarluaskan. “KIRA-SAMA BELUM KALAH!” dan aku ikut berteriak dalam hati, menyemangati mereka. Mengutuk detektif sok misterius itu.

28 Januari, 2015. Hari ini genaplah aku berusia tujuh belas tahun. Usia yang cukup untuk menyuarakan pikiranku. Aku sama bebasnya dengan pemuda-pemudi lainnya, aku berhak mengatakan apa yang kuinginkan. Lima tahun lalu aku hanya bisa melongok dari jendela mobil yang mengantarkanku ke sekolah. Hari ini aku bisa melangkah keluar rumah sebagai seorang yang merdeka. Aku tak perlu lagi mengkhawatirkan apa kata orangtuaku; mereka terlalu takut untuk mengakui bahwa Dewa adalah keadilan yang sesungguhnya, dan aku tidak mau menjadi pengecut seumur hidupku. Hari ini aku berlari ke jalan-jalan dimana para pemuja Kira-sama meneriakkan apa yang mereka percayai – bahwa Kira-sama belum kalah!

Tapi jalan-jalan itu kosong. Pikiranku seketika juga kosong.

“Sidang pengadilan dugaan kasus korupsi yang melibatkan Nose Murai diadakan hari ini – ”

“Takagi Taysuke, seorang pengusaha wiraswasta terkemuka, yang ditangkap atas tuduhan suap, mengelak – ”

– Okui Toshitsugu, terdakwa kasus penggelapan uang negara, hari ini dinyatakan bebas – ”

Suara-suara penyiar berita kembali terngiang di telingaku. Aku baru ingat, hari ini adalah lima tahun sejak saat itu – sejak si detektif mengklaim kejatuhan Dewaku, sejak orang-orang yang percaya mulai berkeliling, menyisip di antara mobil-mobil yang terjebak macet dan mengulurkan selembar kertas dengan tulisan merah menyala ‘KIRA-SAMA TIDAK TERKALAHKAN’, sejak Hiroko yang masih sangat muda mulai kehilangan cahaya harapannya –

Jalan-jalan itu sepi. Sepi dari suara-suara yang menyerukan nama Dewaku. Kira-sama. Orang-orang lalu lalang tanpa menoleh ke belakang, atau ke samping. Mereka berjalan dengan dagu diangkat, mata terpaku ke depan. Seolah-olah mereka lupa tahun-tahun yang mereka pernah lalui saat Kira-sama masih bekerja, menghukum yang pantas mendapatkan hukuman, menegakkan keadilan yang dulu dianggap sebagai hal yang mustahil. Manusia – semua manusia di dunia ini lupa Kira-sama pernah menghukum mereka. Ya, lupa. Tentu saja. Parahnya, dunia ini makin membusuk saja. Tidak hanya pembunuhan, pemerkosaan, pencurian, gangster yang meresahkan. Lihat, moral mereka makin hancur. Kejahatan yang halus, tak terlihat, tak terasa.

Sepuluh tahun yang lalu aku memang masih terlalu hijau untuk mengerti pahit dan kejamnya dunia. Tapi aku bukan anak yang bodoh, aku tidak selugu anak tujuh tahunan lainnya. Aku tahu ada yang berubah di duniaku. Seiring dengan bertambahnya umurku, aku semakin paham dengan kondisi dunia. Aku mengerti siapa itu Kira-sama, apa tujuan dan keinginannya. Tak salah orang-orang yang mengenalku menyebutku sebagai anak cerdas; saat aku menginjak usia duabelas tahun, aku bisa mengerti ketakutan yang disebarkan oleh Kira-sama. Ketakutan bagi orang-orang yang pantas merasakannya, kejayaan bagi orang-orang yang berhati mulia – yang muak dengan degradasi yang menghantui. Dalam angan anak duabelas tahun, terbayang dunia yang tanpa cela, menenangkan, dan tanpa masalah.

Sekarang aku tujuh belas tahun, dan aku marah pada Dewa – tidak, orang yang pernah menjanjikan begitu banyak idealisme di otakku.

Mana dia sekarang? Benar-benar kalah??

Langit sore Kanto berwarna abu, mendung menggantung di atas kepalaku. Orang-orang di sekitarku berjalan agak tergesa, mungkin khawatir tiba-tiba hujan menyerbu. Dalam lautan manusia itu aku melangkah perlahan, masih berusaha mengingat-ingat suara-suara yang meneriakkan nama Dewaku. Sialnya, lagi-lagi yang terngiang malah siaran berita yang kutonton di kafeteria sekolah tadi.

Aku masih marah, tapi langkahku masih sangat pelan.

Mungkin Dewaku benar-benar sudah menyerah. Atau kalah, seperti klaim Detektif L kala itu.

Aku baru sadar, aku sudah mulai membenci Dewa sejak klaim itu tersiar di koran-koran. Aku benci kenyataan bahwa dia bukanlah dewa. Dia kalah, artinya dia adalah salah satu dari kami – manusia. Seorang dewa seharusnya tak terkalahkan, seharusnya dia berdiri sampai akhir. Sampai semua babak selesai dipentaskan. Kira – sekarang aku menolak menyebutnya Kira-sama, karena dia bukan dewa – tak lagi meneruskan penghakimannya, dan dunia yang sempat membaik kembali membusuk dengan sampah-sampah masyarakat di dalamnya. Hiroko saat itu sudah membenci Kira, tapi ia terlalu naif. Aku naif, dan terlalu idealis sampai-sampai berasumsi bahwa Kira hanya berhenti sementara. Ia akan kembali lagi, keadilannya akan ditegakkan lagi. Nihil. Lima tahun berlalu dan aku menemukan diriku terjebak dalam mimpi semu yang disebut dengan Kira.

Aku masih marah, dan sekarang aku berlari di bawah serbuan titik-titik air dari langit.

Jalanan kini benar-benar sepi. Hanya aku yang cukup bodoh membiarkan hujan membasahi seragam sekolahku. Dan tampaknya, hanya aku yang masih membohongi diri sendiri bahwa Kira akan kembali.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer neko-man
neko-man at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

One shot yang bagus, konfliknya sederhana banget tapi ngena. Coba kalau dia jadi next Kira ya... (ngarep)

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

Hehe makasih :)
Silakan tunggu Riesling, dia yang mau bikin lanjutannya :p

Writer bss
bss at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)
100

Gw suka Death Note!
keren banget penggambarannya

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)
100

Ayo lanjutkan!

Hayoh, jadi nambah kan kerjaannya... ^^

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

Kan ini cuma one-shot, jadi nggak ada lanjutannya dong :p :p
Atau kita tunggu saja Ries beraksi. Mungkin dia yang bikin lanjutannya(?)
:D
Eniwei makasih udah mampir yak (^^)

Writer matadewa
matadewa at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)
100

idem ma komentar yang dibawah . . .
di fanfic ni qu dapet banget kondisi psikologis fans kira yang kecewa karena kira yang dianggap dewa kalah
kayak bener" baca lanjutan dari death note

cuma kayaknya tokoh hiroko gak cocok aja buat jadi kira. . .
di bayanganku kira identik banget dengan light yagami
ketenangannya, kepintarannya & kemampuannya prediksi masa depan
bener" membuat light is the real kira
.
light yagami di chapter awal udah membuktikan bahwa kemampuannya memang fit buat karakter kira
hiroko di chapter ni belum terlalu kelihatan
he. . he
.
fanfic yang bagus buat selingan sambil nunggu cerita utama death note

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

Ini pengalaman pribadi juga soalnya, makanya bisa main emosi :D
(apapun yang saya bikin berdasarkan pengalaman biasanya jadi lebih masuk akal :D)
Ini berdasarkan kekecewaan saya karena DEATH NOTE ITU FIKSI T___T
.
Yap, Kira-Light emang nggak tergantikan.
Dan emang nggak ada plan buat mengangkat Hiroko jadi the next Kira. Di sini aku cuma mau ngegambarin seorang pemuja Kira (keadilan). Mungkin kalo Hiroko tau kalo Kira itu Light, dan Light pernah membunuh orang yang nggak bersalah (misal: FBI, kan bukan penjahat tuh), Hiroko mungkin nggak setuju dan nggak suka sama Kira.
Jujur aja pas Kira-Light mulai keliatan egois saya sebagai pemujanya juga ngedroppppp ==a
.
Anyway makasih udah mampir (^^)

Writer matadewa
matadewa at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

wah cc pemuja kira sama juga ya. . .
setuju cc, kayaknya disna kekurangannya om tsugami odha
.
kepingin liat lanjutan cerita ni, soalnya kayaknya cc bisa buat karakter kira yang sesuai dengan bayanganku ( ya ialah synrio gitu ^^)
tapi tetep karyanya cc yang qu tunggu demonic elven, penasaran gimana demonic elven setelah dicabik", terus dibuat ulang

Writer Riesling
Riesling at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)
100

Perfect score. Permainan emosinya bagus banget, amarahnya keren, TOTALLY AWESOME xDD
.
Saya pernah pengen buat fanfic kayak gini, tapi ceritanya orang-orang udah 'lupa' sama Kira dan menganggap itu cuma mitos, tapi banyak yang ngejual merchandise Death Note dan si tokoh utama yang diam-diam percaya kalo Kira itu bener-bener ada dan beli Death Note yang dijual pasaran itu. Eh ternyata Death Note betulan, jadi dia mikir kalo misalnya Kira itu betulan mitos, dia mau bikin jadi kenyataan xD, tapi belakangan bakal ada lebih banyak orang lain lagi yang ternyata juga punya Death Note (dengan reaksi yang bermacam-macam), tapi saya ga pernah sempet bener2 ngerjain...
.
Conclusion: This is awesome.

Writer matadewa
matadewa at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

hmmm . , ,
bukannya di komik death note yang asli, cuma beberapa orang 'terbatas' aja yang tahu death note?
kok bisa ada marchandisenya?

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)

Kenapa nggak dikerjain Ries? Hayukk bikin gih XD
.
Dibikin dalam waktu empat jam, harusnya saya bikin lanjutan DE. Tapi yang lahir malah fanfic 8D

Writer Shikamaru
Shikamaru at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)
80

Wow penggambaran emosi karakter utamanya bagus banget...

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)

Hehe makasih :)

Writer abc
abc at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)
80

i like the emotion... kondisi psikologisnya bagus...
penuturannya juga sudah baik... dan sia-sia kalau cerita ini kamu hanya jadikan one shoot

======================

sebenarnya saya juga mau membuat novel semacam death note tapi saat ini banyakin riset dulu dan belajar lebih dalam untuk memperkuat emosi dan efek psikologis tokoh utama... it kind of kira but it's not kira's story

:)

Writer matadewa
matadewa at FanFic Death Note: Amarah (8 years 32 weeks ago)

kayaknya seru. . .
ntar kalo udha diposting inget" kabarin ^^

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)

Ohoho makasih udah mampir (^^)
Sebenernya udah punya banyak proyek ori, tapi pas lagi buntu-buntunya.
Waktu lagi serius nonton berita di tipi, tiba-tiba kepikiran, 'Kalo Kira-sama beneran ada, kira-kira dunia kayak apa yak?'
Dan lahirlah one-shot ini XD
.
.
Wah, asik nih. Sudah dipos di kcom jugakah?

Writer serigalahitam
serigalahitam at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)
100

wah... Kukira dia yang akan menjadi the next kira, ternyata one shot hehehe

Writer synrio
synrio at FanFic Death Note: Amarah (8 years 33 weeks ago)

Tergantung dari respon dan kritik-saran terhadap karya saya ini (sok formal), ada kemungkinan lanjut :D
Makasih udah mampir :)