Kata Terakhirmu (Selalu mencintaimu)

"Aku mencintaimu" lirihmu pagi itu.

Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu. Andai kau bisa mendengarnya Alvin. Tapi...

Perlahan kau melangkahkan kakimu. Pergi meninggalkanku sendiri di tempat ini. Aku hanya bisa menatap kepergianmu tanpa bisa mencegahnya. Kabut menebal seiring kepergianmu. Aku menyesal. Mengapa saat itu aku tak mendengarkanmu. Aku benar-benar menyesal, kenapa aku tak mempercayai kata-kata Runa, kekasihmu. Kekasihmu sebelum kau ingin menjelaskan semuanya padaku yang tak ingin lagi diperdulikan olehmu. Kekasihmu sebelum aku mendengar kata-kata itu terucap dari bibirmu.

"Aku tak pernah mencintai Runa"

"Bohong!" Elakku.

"Percayalah padaku!" Pintamu seraya menggenggam erat kedua tanganku yang kutepis begitu saja.

"Untuk apa aku percaya padamu hah?!" Bentakku seraya mendorong tubuhmu menjauh dariku.

"Win.." kau menatapku penuh luka.

Hentikan, kumohon! Jangan sebut namaku lagi. Jangan tatap aku seperti itu seakan aku bersalah padamu.

"Tolong dengarkan aku!" pintamu. Aku hanya menatapmu dalam diam dengan mata berkaca-kaca.

Aku tak ingat apa yang terjadi setelah itu. Semuanya terjadi begitu cepat. Mobil silver itu muncul begitu saja. Seakan begitu nafsu untuk mencelakaimu. Aku melangkah begitu saja. Mendorongmu menjauh dari sang malaikat maut. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu. Aku hanya bisa mendengar teriakan pilumu menyebut namaku. Sayup-sayup kudengar Runa memanggil-manggil namaku disertai isak tangisnya. Kurasakan seseorang memelukku begitu erat. Tubuhnya bergetar hebat. Aku bisa menghirup aroma tubuhnya yang membawaku dalam kedamaian. Itu aroma tubuhmu, kehangatanmu. Ingin rasanya aku membalas pelukan itu. Menumpahkan semua rasa di hatiku yang selama ini kusembunyikan. Tapi semuanya jadi gelap. Aku tak bisa lagi merasakan kehangatan yang perlahan terasa dingin itu.

Aku tak ingat sejak kapan berada di tempat ini. Sendirian. Kupandangi sosok yang perlahan muncul di sudut sana. Itu dirimu dengan seikat mawar putih di tangan kananmu. Di sudut langit sana pelangi menghias dengan warna-warninya yang indah. Perlahan kau mendekatiku, menyapaku dengan senyummu yang hangat bagaikan cahaya mentari sore itu. Dan sekali lagi aku mendengar kata-kata itu terucap dari bibirmu.

"Aku mencintaimu Wina"

Aku juga mencintaimu Alvin. Meski dunia kita kini telah berbeda.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Ini cerita cinta segituga gitu ya? Duh lemah ni intepretasi saya klo soal romens >_< Kalimat-kalimatnya mengalir

100

Halo Yuu~..
:D
Duh setuju sekali dengan komentar paling atas, storymu yang ini ampir dijelaskan full show, tapi itu nggak membuat ane bosan, malah terus penasaran buat membaca sampe akhir.

walau ending na rada bikin tanda tanya, itu maksudnya si Cowok ikut mati, atau cuma halusinasi semata?
O.o

70

Halo Yuu!
Aku terpaksa setuju sama om Shin. Hal pertama yang terlintas di kepalaku adalah tentang betapa dialognya kok berasa kayak telenovela. XD
Tapi aku suka suka suka banget caramu menjabarkan apa yang terjadi dengan "show" yang bisa dibilang mulus. Rasanya jadi ada sesuatu yang lebih dalam di cerpen maha singkat ini daripada kata-kata di permukaannya. Endingnya, menurutku masih bisa diolah lagi. Tapi overall ini cerpen yang oke. :D
.
Salam.

Hormatku pada Yang Mulia Kanjeng Ratu
.
Ini flash idea dan langsung posting saat itu juga. Berasa telenovela? Saya sangat setuju, Ratu. xDD
.
Makasih ya. Saya merasa terhormat karena Ratu telah berkunjung. (_ _) /Plak!/

80

Suka penggambaran adegan tabrakannya, juga suka endingnya <3

tabrakannya?! 0_o

makasih sudah mampir. n_n

100

seikat bunga...
mentari sore...

makasih udah membaca cerita ini kak! n_n

sama-sama, ceritanya bener2 bagus n_n

50

hmmm...

saia ngerasa dialogna kaku :)
belum luwes. hehehe.

kip nulis

thanks kk! makasih banget kak shinichi mau membacanya. n_n

100

Hah...tragis
tapi seru :)

salam

makasih kak midori =)

80

Wah, isi ceritanya dapat... :D

hehe makasih

100

cinta....

ada apa dengan cinta? =)