Dari Balik Kipas Merah - Bagian Pertama

“Nuki! Perhatikan langkah kaki dan orang-orang di dekatmu!” suara perempuan berumur mendekati 50 tahun memperingatkan Nuki, remaja enam belas tahun yang sedang berlatih melakukan tarian. Beberapa saat gadis itu terjatuh karena kakinya kehilangan keseimbangan.

“Maaf Ibu Deins, saya kehilangan konsentrasi.” Nuki berdiri dengan cepat dan menundukkan kepala, beberapa teman berlatihnya hanya tertawa kecil. Namun tidak berlangsung lama karena mereka tidak mau kena imbas dari omelan Ibu Deins.

“Sebaiknya kamu hilangkan pikiranmu tentang hal lain selain menari! Kamu harus ingat, ini adalah acara yang penting.” Ibu Deins menarik nafas sejenak sambil membenarkan rambut pirang panjangnya. Dia melanjutkan, “Sangat jarang kita mendapatkan kesempatan untuk tampil di Istana, apalagi ini adalah acara pengukuhan satu-satunya Pangeran di kerajaan kita.”

“Iya, saya ingat itu Ibu Deins.” Nuki kembali menunduk, menatap dalam dalam lantai kayu berwarna coklat agak gelap sambil berpura-pura merapikan sepasang kipas merah yang ada di tangan kanan dan kirinya. Bagaimana mungkin bisa berkonsentrasi, jika dia akan menari di depan puluhan petinggi Istana. Dan yang paling membuatnya tidak bisa benar-benar menghilangkan perasaan canggungnya adalah orang itu, orang yang pasti hadir di tempat itu.

“Baiklah, mari kita lanjutkan. Dan sebaiknya kamu benar-benar berlatih keras karena kita hanya mempunyai lima hari lagi.” lanjut Ibu Deins. Dia menegakkan badannya dan menatap murid-muridnya. “Dan itu juga berlaku bagi kalian semua. Ayo kita ulang dari tarian ketiga!” Ibu Deins bertepuk tangan dua kali. Anak-anak didiknya pun langsung mengambil posisi untuk mengulang kembali tarian variasi ketiga dari tujuh tarian yang akan mereka lakukan secara berurutan.

+++++

Nuki duduk bersandar di bangku kayu di ruang untuk berganti pakaian. Matanya menatap langit-langit rumah Levia, satu-satunya tempat pelatihan kesenian di desa Mungi. Sudah hampir dua tahun dia berlatih di sini, sejak dia nekat meminta disekolahkan di Levia daripada harus menjadi seorang tabib seperti yang di inginkan ayahnya, satu-satunya orang tua yang dia miliki. Ibunya sudah meninggal dunia sejak dia berumur lima tahun karena penyakit, itulah yang menjadi alasan kenapa ayahnya memaksa dia menjadi seorang tabib. Selain itu, alasan sang ayah adalah bekerja menjadi tabib jauh lebih mudah bagi iexian, ras setengah manusia setengah hewan, seperti mereka.

“Hei, kamu tidak apa-apa?” sapa seorang gadis yang sebaya dengan Nuki. Gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi yang berada dalam satu ruangan dengan ruang ganti itu hanya memakai kain yang membalut badannya.

Lamunan Nuki terhenti, dia menatap ke arah gadis berambut merah yang sedang mengeringkan rambutnya dengan kain dari bahan yang sama dengan yang sedang dikenakan.

“Eh, aku tidak apa-apa Milli.” kata Nuki sambil mengamati tubuh Milli sahabatnya itu. Sejak beranjak remaja, Nuki selalu iri dengan tubuh teman sejak kecilnya itu. Selain tubuh Milli yang bagus, perbedaan dengan dirinya adalah Milli seorang inland. Tidak seperti dirinya yang memiliki sepasang telinga kucing yang menyembul dari rambut pirangnya, belum lagi ekor panjang di bagian belakang. Ciri dari ras Kitharian tidak bisa dia sembunyikan.

Nuki sedikit tersenyum masam, beruntung Milli tidak melihatnya karena sedang membalikkan badan untuk memakai pakaian yang di taruh di rak kayu berwarna coklat dengan sekat-sekat kecil. Kalau gadis itu mengetahui dia iri mengenai bentuk fisik mereka, Milli akan mulai berceramah panjang lebar tentang hal itu.

“Apa kamu memikirkan tentang dia lagi?” tanya Milli tiba-tiba sambil memalingkan wajah. Nuki tersipu, berteman sejak lama memang membuat sahabatnya itu sangat hapal dengan isi pikirannya. Wajahnya terasa menghangat, mungkin jika dia bercermin dia akan melihat betapa merah meronanya pipinya.

Mengangguk kecil si gadis kucing tidak berani menatap Milli. Dia mendengar sahabatnya hanya menghembus nafas kecil, dan kembali merapikan pakaian.

“Nuki, aku tidak tahu bagaimana mengatakan ini dengan benar. Tapi menurutku kamu sebaiknya berhenti memikirkan dia. Hadapilah kenyataan ini.” tegas Milli yang sudah jenuh dengan tingkah laku Nuki yang sudah hampir satu purnama bertingkah laku aneh.

“Apa seorang kitharian tidak boleh jatuh cinta terhadap seorang inland?” Nuki menatap Milli.

“Bukan itu maksudku Nuki. Kamu sangat tahu bahwa aku tidak pernah memikirkan hal itu.” Milli balas menatap Nuki. Dia melanjutkan, “Ya, aku memang membeda-bedakan ras. Jujur saja, siapa yang tidak?”

Milli berdiam sejenak dan menatap Nuki.

“Tapi aku tidak pernah peduli dengan semua perbedaan itu. Bagiku yang terpenting adalah apakah mereka orang yang baik atau tidak.” lanjut Milli.

Nuki terdiam, dia lupa bahwa sahabatnya itu tidak bermaksud berbicara tentang perbedaan ras.

“Kamu tahu kan yang kumaksud Nuki?” lembut Milli sambil duduk di samping Nuki. “Dia adalah seorang Pangeran. Bukan seorang yang mempunyai jabatan tinggi saja, bukan anak seorang bangsawan atau tuan tanah. Tidak mungkin bagi rakyat biasa seperti kita ini bisa berdampingan dengan penerus Raja. Bahkan berteman dengan mereka saja bisa dikatakan sangat mustahil.”

Nuki memejamkan mata, ceramah panjang lebar Milli sudah dimulai meskipun dia sangat tahu bahwa apa yang dikatakan Milli benar, hampir selalu benar. Kecuali pada saat mereka berumur 10 tahun dan Milli mengajak mereka untuk meminum arak mahal milik orang tua Milli karena tergoda oleh wangi aroma minuman keras itu. Pikirannya kembali melayang ke masa-masa mereka melakukan kenakalan pada saat mereka kecil, dan mulai tidak menghiraukan kata-kata bijak seorang Milli.

“Akuilah Nuki.” kata Milli sambil menepuk pundak Nuki.

Mengerjapkan mata berkali-kali, Nuki berusaha untuk terlihat puas dan seolah-olah mendengarkan nasehat-nasehat Milli dengan cermat.

“Kita bahkan tidak diperbolehkan bertemu dengan para keluarga kerajaan kecuali ada undangan untuk mengisi acara seperti ini. Bagaimana mungkin kamu bisa bertemu dengan pangeran hatimu itu? Dan kalaupun bisa bertemu, apa dia akan mengenalimu? Apa dia akan menganggap dirimu lebih dari rakyat jelata lainnya.” lanjutnya lagi.

Nuki tersenyum sedikit memaksa, dia benci tapi Milli benar. Tapi perasaan ini tidak bisa dia hilangkan semudah itu. Apa anugerah dari dewi cinta ini adalah sesuatu yang terlarang, apa ini sengaja dia dapatkan sebagai kutukan karena dia jarang pergi ke kuil untuk menyembah para dewa dan dewi.
“Lupakanlah, dan kembalilah ke dirimu yang biasanya. Jadilah seorang pendamba saja seperti kebanyakan orang yang mendambakan pangeran yang memang tampan itu.” kali ini Milli mengusap-usap rambut Nuki.

Nuki mengangguk, meski dalam hati dia tidak akan menghilangkan perasaan itu. Akan dia biarkan perasaan itu mengendap sambil bertahan dan berusaha menutupi di depan semua orang. Bahkan di hadapan Milli, sahabatnya itu.

“Bagus, sekarang kembalikan otak dan badanmu ke tarian kita. Kita hanya punya sedikit waktu untuk berlatih. Kamu tidak mau terlihat malu di depan pangeranmu itu kan?” Milli menepuk-nepuk kecil kepala Nuki.

=====

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
80

dtunggu lanjutan ceritax mas bro..

siap...agak lama tapi..ini plotnya belum mateng...

bagus..

makasi :)

90

Ditunggu lanjutannya

heuheu..thx..doakan biar masih bs dilanjutkan..

Writer Kika
Kika at Dari Balik Kipas Merah - Bagian Pertama (8 years 29 weeks ago)
90

lupa poin :D

Writer Kika
Kika at Dari Balik Kipas Merah - Bagian Pertama (8 years 29 weeks ago)

Hoo...
Kaya gini cerita roman aki makkie ^^
ga tau mau komen apa
lanjuut...

ga usah komen... T__T

80

menarik ya, bagaimana jadinya tuh dua pasang kekasih. Tapi kok penjelasan iexian singkat banget. "iexian" = "setengah manusia setengah hewan". Emang jelas sih, tapi Daah~ (-.-).

hmm,,rencana si akan dijelaskan seiring cerita,,,soalnya nanti menyinggung2 soal ras...

90

*ngakak keras2*
.
Saya jarang lo nemu fantasy romance, ada gadis kucing lagi xD xD xD. Lanjutannya ditunggu, loh, pih~~

XD XD...
..aduuuhh,,kebakar juga ni otak...biarlah ini jadi cerita paling geje seumur idup saya...

90

Asik. Bagian pertamanya in medias res (walaupun di awalnya sudah diceritakan sebelum pesta dengan petinggi istana), bikin saia mengharapkan flesbek di episode dua nanti

yup,,yang kedua rencananya si flashback..kalo ga ada perubahan..heuheuheu..thx dah mampir..

100

Hehe... Epic Teenlit... ^^

Settingnya masih dunia yang sama nih?

iya,,saya tetap bikin settingnya di Erde,,,biar ga bikin yang baru lagi...thx...

70

mampiirr.. baru tau ternyata aki boleh juga bikin cerita cinta :D
tapi ki, kapan si nuki ketemu pangerannya? diceritain dong. jangan langsung ngmongin perasaan si nuki.. saya jadi merasa sedang membaca tengah2 cerita. bukan bagian pertamanya.. ^^

jiaahhh...saya bukan ahli cinta ni..T__T
itu dia,,aku bikin ngasal jadinya ya bingung dengan susunan ceritanya..terpaksa ubah plot...
nanti di bagian dua ada flashback..(kayaknya.. :P)

80

inland itu semacam manusia biasa ya? 0_0
nyahaha XDD gapapa kan sekali-kali bikin fantasi salah jalur.. jadi pengen liat aki bikin fantasi romance kayak gimana..
ayo lanjut >.<

ho o,,inland itu ras manusia..
ga pa2 si..tapi repot juga kalo dari POV cewek ni..
secara akika kan ga cewek tulen bo.. XD XD XD

90

sebelumnya salam kenal~ ^^
fantasy romance jg gak masalah... ahahag..
cuma aku bingung... iexian kan ras setengah manusia setengah hewan... kalau inland apa? kok gak dijelaskan?
.
koreksi sedikit utk tanda baca, sebelum tanda petik penutup dialog kan seharusnya koma(,) bukan (.) kalau keseluruhan kalimat itu belum selesai.
jadi geregetan aja bacanya =p

..salam kenal lagi..kita pernah ketemu di forum LCDP...
..oh iya,,aku lupa ini cerita baru..masih terngiang zheik ma xalvadur,,di situ dah dijelasin...thx dah mampir..

karya salah jalur...mau bikin fantasi petualangan,,eh malah jadi fantasy romance...haduuuhh..haduuuuhhh...silakan di caci makkie deh...