Primea - 6 - Awal Masalah

Benda amat besar yang menyinari bumi di bawahnya agaknya makin menyengat saat ia mulai naik ke puncak hari. Hal itu membuat sabana di bawahnya tampak berkilau keemasan kalau dilihat dari kejauhan. Menandakan lebih banyaknya rumput-rumput kering daripada yang subur menghijau. Sepasang ekor rusa tengah meneguk air di genangan yang dangkal di tengah-tengah sabana. Rusa yang lebih kecil memakan rumput-rumput kering di dekat ibunya. Begitu lahapnya, mungkin ia sangat lapar. Keasyikan itu pecah oleh suara berdebam keras tak jauh dari tempat rusa-rusa itu berada. Membuat sepasang rusa itu langsung mengungsi ke tempat aman.

Suara itu berasal dari sesuatu yang mencuat tiba-tiba dari tanah kering di tempat itu. Sesuatu semacam pintu besar yang terbuka dan menghantam tanah. Menampakkan lubang besar yang menganga di tengah-tengah sabana itu. Hening kembali. Tak berselang lama, suara berderap terdengar dari lubang itu, diikuti seekor kuda yang muncul tiba-tiba dari dalam lubang. Kuda-kuda yang lain mengikuti di belakangnya. Saat kuda terakhir telah naik, seseorang menghampiri lubang itu dan menutup pintu tanah itu kembali ke tempatnya. Hanya menyisakan rumput-rumput kering yang menutup lubang itu.

Pemuda tanggung yang menutup lubang itu, terdiam agak lama. Pandangannya terpaku ke arah perbukitan batu besar di kejauhan. Tatapannya kosong. Kekosongan yang membuat suasana menjadi semakin kelam. Seseorang menghampirinya. Sesosok gadis berambut panjang itu menepuk bahunya lembut. Pemuda itu menoleh. Dan mata hijau itu terasa menembusnya.

“Kita harus pergi, Al,” kata gadis bermata hijau itu.

Allioth mengangguk, lalu kembali ke kawanan berkuda yang menunggu keduanya. Mereka memang sudah jauh dari kampung, tapi tidak cukup jauh untuk menghindari kemungkinan adanya pengejar. Meskipun pasukan kecil yang menghadang mereka itu sudah dialihkan oleh Kapten Zira Sillen, mereka masih mungkin ketahuan. Jadi, tak ada pilihan lain selain terus bergerak.

“Aku masih tidak mengerti kata-kata kapten itu,” kata Milia setelah mereka bergabung dengan kawanan berkuda. “Dia bilang akan menghindarkan kita dari masalah ganda. Maksudnya apa?”

“Para pemburu itu,” sahut pemuda klimis di dekat mereka. Pandangannya lurus ke depan. Kosong. “Mereka mengejar Zira. Makanya dia lebih memilih menyongsong pasukan kecil yang menghadang daripada bersama kita. Memancing para pemburu ke arah musuh kita. Membiarkan para pemburu yang menghabisi pasukan kecil itu, sementara pasukannya tetap bisa keluar.”

“Tapi, menggunakan mayat-mayat orang kalian sendiri untuk mengalihkan perhatian,” Milia meraih lengan Allioth demi meredakan kegetirannya sendiri. Allioth balas menggenggam tangan itu. “Itu bukan perbuatan yang pantas dilakukan pada orang yang sudah meninggal. Aku hanya merasa—”

“Terlalu kejam, bukan?” Kei tersenyum getir. “Aku sudah bilang padanya. Tapi, suku nomaden itu tidak bodoh. Membawa sekedup tanpa isi hanya akan membawa kecurigaan mereka pada pelarian kita. Lagipula, aku mempercayai penilaian Zira.”

Seorang pria bertubuh besar dan kekar yang tadi meneriaki prajurit-prajurit itu menghampiri mereka bertiga. Membuat percakapan itu pecah. Secara khusus, ia memberi semacam hormat pada Kei.

“Tuan Ruslin,” kata orang itu pada Kei. “Kita harus terus bergerak. Jangan khawatir, mereka bertiga pasti bisa menyusul kita di titik pertemuan. Kalau ingin mengobrol, silakan nanti di perjalanan saja.”

Kei mengangguk, “aku mengerti, Luca.” Kei kemudian mengalihkan pandangannya pada Allioth dan Milia. Meminta keduanya untuk segera naik ke kuda.

“Jadi, apa yang kalian inginkan dariku?” tanya Allioth saat mereka sudah menjauh dari kampung. Setelah Milia menceritakan pembicaraannya dengan Kapten Zira Sillen kemarin, Allioth merasakan sedikit harapannya membuncah. Meski ia belum berani berharap terlalu banyak. “Kalau ini berhubungan dengan penelitian orangtuaku, aku tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak tahu apa yang mereka teliti.”

“Benarkah kau tidak tahu apa-apa?” Kei berkata sambil memandang Allioth penuh arti. “Kalau begitu, kenapa namamu kerap kali disebut dalam jurnal mereka?”

“Mungkin karena aku ini anak mereka?”

Kei tergelak cepat. “Apa kau ingin tahu apa yang sedang mereka teliti?”

Allioth diam, masih memandang Kei lekat. Menunggu. Milia yang membonceng di belakang Allioth hanya menatap Allioth dan Kei bergantian.

“Apa pendapatmu tentang Primea?”

Wajah Allioth berubah serius seketika. Primea? Apakah penelitian kedua orangtuanya berhubungan dengan itu? Ia menjelajahi mata Kei, berusaha menembus apa yang ada dalam pikiran pemuda klimis itu. Pada akhirnya, Allioth hanya mendesah pelan. “Itu hanya dongeng berumur ribuan tahun.”

“Lalu?”

“Aku tidak tertarik pada dongeng,” sahut Allioth gusar.

“Orangtuamu berpendapat sebaliknya, kau tahu?” kata Kei. Ia diam sejenak, membiarkan Allioth untuk berpikir. “Sebenarnya, mereka meneliti hubungan dunia lama itu dengan beberapa kejanggalan yang ada di masa kita sekarang.”

Allioth masih terdiam. Ia memandang jauh ke sabana di hadapannya. Sementara di belakangnya, Milia mengernyit tidak paham. “Dunia lama? Apa maksudmu? Bukankah Primea itu sebuah pulau?”

Lagi-lagi Kei tergelak. “Kau benar-benar percaya tentang dongeng yang diceritakan cendekiawan gila di perkampungan kumuh Eusia Lama itu? Tentang Primea adalah sebuah pulau? Detailnya mungkin memang benar, tapi bahwa Primea hanya seluas pulau? Nona Milia, Primea adalah nama yang digunakan Perserikatan Dunia Baru untuk menyebut dunia lama. Kisah macam apa yang diceritakan pada anak-anak perkampungan di Lamaris?”

“Kisah yang sama seperti yang diceritakan pada anak-anak di belahan dunia lainnya,” sergah Milia.

“Kurasa beberapa anak diceritakan oleh orangtuanya tentang kisah yang berbeda.” Tatapan Kei mengarah pada Allioth saat ia mengatakannya. Yang ditatap hanya membuang muka.

“Lalu, hal-hal janggal apa yang diteliti orangtuaku?” kata Allioth tanpa menoleh.

“Lendir Turliph.”

Jawaban itu segera mengejutkan Allioth dan Milia. Melihat ekspresi keduanya, Kei tersenyum kecil. Sepertinya langkah pertama untuk memancing perhatian Allioth bisa terbilang sukses. “Nah, Allioth. Apakah kau mengingat sesuatu tentang hubungan makhluk yang dikeramatkan di beberapa wilayah itu dengan dunia lama? Aku yakin orangtuamu pernah menyinggung-nyinggung soal itu sebelum keberangkatan mereka ke Kota Pusat.”

Allioth hanya bisa menelan ludah. Kei benar. Orangtuanya memang pernah menyebut soal itu. Bukan hanya sebelum keberangkatan. Bahkan mereka mulai menyebut-nyebut tentang itu sejak saat Allioth mulai bisa mempelajari apapun. Sejak ia balita. Tapi karena pengetahuan yang diperolehnya itu berbeda dengan anak-anak yang lain, ia tak pernah menyebutnya pada siapapun kecuali pada Zach.

Hubungan antara Turliph dengan dunia lama? Ia memang pernah mendengar sebutan aneh orangtuanya untuk Turliph itu. Bukan makhluk keramat. Melainkan sesuatu tentang warisan, dan Primea. Ia tak terlalu peduli selama ini, karena dipikirnya pengetahuan itu tak bisa diaplikasikan ke dunia nyata. Tapi, sekarang? Ia harus berusaha keras untuk mengingat-ingat lagi. Setelah beberapa lama, ia mulai mengingat sesuatu. Perlahan, ia berpaling pada Kei. “Warisan gagal Primea. Itu yang pernah disebutkan orangtuaku tentang Turliph.”

Kei tersenyum lebar, lalu mengangguk.

***

“Pergi ke mana dia?” suara seorang wanita terdengar amat dingin, seolah membekukan seluruh padang bebatuan itu. “Katakan, Zira. Sebelum kucabut jantungmu itu.”

Kapten Zira Sillen hanya terkekeh tertahan di sela-sela mulutnya yang terus mengeluarkan darah. Ia tersimpuh, dengan satu tangan bertumpu pada pedang dan tangan lain meremas erat noda gelap di bawah belikat kanannya. Memaksakan diri tertawa membuatnya tercekat. Bahkan bernafas saja sudah begitu menyiksanya. “Kau—takkan pernah—mendapatkannya—Zee. Kujamin i—”

Kata-kata itu tak pernah selesai, karena Kapten Zira Sillen telah terjengkang lebih dulu oleh lesatan kaki Zee yang mengenai wajahnya. Ia terkapar dan nafasnya makin berat. Dari sudut matanya, ia bisa melihat tubuh-tubuh tergeletak samar-samar. Meski pandangannya mulai kabur, ia masih bisa mengenali dua tubuh anak buahnya diantara tubuh-tubuh itu. Seorang bertubuh gempal yang tengkurap dan seorang bertubuh lebih kurus sedang bersandar pada batu sambil tertunduk. Ada noda merah pekat yang mengabur di sekujur kedua tubuh itu. Ia tak tahu apakah keduanya masih hidup atau sudah mati.

“Kemana kau mengirimnya, Zira? Kau masih tak mau bicara meski tak lama lagi maut akan menjemputmu? Apa yang kau harapkan dari mereka berdua? Anak sepasang cendekiawan itu tak berguna bagi kami, kau boleh ambil. Tapi yang seorang lagi—kemana kau suruh dia pergi?”

“Kalian—hanya akan membunuh bocah itu—setelah mengambil manfaat—darinya,” balas Kapten Zira Sillen, masih terengah-engah. “Ambil saja—nyawaku yang tak berharga ini—tapi—nyawa bocah itu—berharga bagi kami—”

“Bagi kelompok bodoh seperti kalian.”

Kapten Zira Sillen terkekeh lagi, kali ini diiringi muntah darah yang cukup banyak. Hal itu membuat Zee makin bernafsu membunuhnya. Saat ia beranjak mendekati Kapten Zira Sillen dengan pedang terhunus, sesosok bayangan hitam muncul di belakangnya.

“Zee—” suara seorang laki-laki memanggilnya. “Laporan dari Lana. Dia bilang bocah itu terlihat menuju barat. Dengan kecepatan penuh. Dan juga—” ia menelengkan wajahnya ke arah Kapten Zira Sillen sebelum melanjutkan, “—mereka datang.”

“Bocah itu menuju barat?” Zee berpikir sejenak, lalu tersenyum. Senyuman yang sama sekali tak bisa dikatakan manis. Ia memandang dingin pada Kapten Zira Sillen. “Kau mengirimnya ke Vena? Benar-benar bodoh. Kenapa kau tidak langsung mengirimnya ke selatan?”

Kapten Zira Sillen mendengus lemah. Membuatnya tercekat oleh nafasnya sendiri.

“Zee, kita harus pergi sekarang. Aran ada bersama mereka. Bahkan kau pun tak bisa mengalahkannya—”

“Kami tak pernah bisa saling mengalahkan,” koreksinya dingin. Nyali si lelaki menciut oleh tatapan menusuk Zee. “Pergilah lebih dulu, Tooru. Biar kuselesaikan pekerjaanku di sini.”

“Tapi—”

Zee tak mengindahkan interupsi Tooru di belakangnya, dan terus melangkah menuju Kapten Zira Sillen. Akhirnya Tooru hanya menghela panjang. “Kita bertemu di tempat pertemuan awal,” katanya sebelum melesat pergi.

Zee menyempatkan diri melirik rendah gadis yang terkapar di hadapannya sebelum mengangkat pedangnya. Matanya berkilat penuh kebencian, “sekali sampah, kau selamanya akan tetap jadi sampah, Zira.”

Dan ia pun menggerakkan tangannya ke bawah. Mengarahkan pedangnya ke leher Kapten Zira Sillen. Secepat ia menyabetkan pedangnya, secepat itu pula gerakannya terhenti. Benda menyilaukan yang melesat ke arahnya membuat Zee melompat mundur. Kini, diantara ia dan perempuan yang dibencinya itu, tertancap sebilah pisau dengan ukiran naga kembar saling bertautan di gagangnya. Ia mengenali pisau itu.

Seketika ia menoleh ke arah sumber serangan demi mendapati seorang pria bongsor dengan pedang terhunus tengah memacu kuda dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Ia sedikit bimbang. Ia harus segera mengejar Tooru dan Lana. Sementara urusannya belum selesai. Tapi kalau ia harus berhadapan dengan pria bongsor itu, ia akan membuang-buang waktu. Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi. Kesenangan membunuh perempuan itu bisa ditunda lain kali.

Akhirnya ia melompat mundur ke arah batu besar di belakangnya, tepat saat pedang pria bongsor itu menebas angin di tempat baru saja ia berada. Mereka bertatapan sejenak. Sorot mata kebencian saling bertarung diantara mereka. Suara derap langkah kuda dari arah belakang memecah keheningan itu. Membuat Zee tersadar bahwa ia harus mengejar rekan-rekannya. Dan membuat pria bongsor itu tersadar akan keberadaan Kapten Zira Sillen.

Setelah sempat menatap tajam pria bongsor itu, Zee melesat pergi melompati padang bebatuan menuju ke barat. Meski pria bongsor itu begitu inginnya mengejar Zee, ia tahu kalau Kapten Zira Sillen lebih membutuhkan bantuan. Maka, ia turun dari kuda, dan berusaha untuk tak menyesali keputusannya yang tidak mengejar Zee.

Pria bongsor itu meraih Kapten Zira Sillen dan mengangkatnya perlahan. Membiarkan kepala Kapten Zira Sillen bersandar pada lengannya yang kasar.

“Zira, bertahanlah.”

Suara itu berat dan dalam. Agak kasar, rasanya seperti kalau telinga sedang diiris dengan pisau tumpul. Terdengar sakit di telinga. Ya, suara yang khas itu. Kapten Zira Sillen mengenali suara itu. “Aran—”

“Jangan bicara, kau kehilangan banyak darah. Sial—perempuan itu menggunakan racun,” sahutnya cepat. Ia segera menolehkan kepalanya ke arah beberapa orang berkuda yang baru berdatangan. “MEDIS!!”

Orang-orang itu mengerti. Mereka segera turun dari kuda, beberapa menuju tubuh-tubuh yang bergelimpangan, beberapa yang lain menuju Aran yang sedang memangku Kapten Zira Sillen. Dengan tenaga yang masih tersisa, Kapten Zira Sillen meraih lengan Aran. Membuat Aran berpaling padanya lagi. “Lin—Sinias—”

“Mereka sedang ditangani. Khawatirkan dulu dirimu sendiri.”

Sedang ditangani? Jadi, ia bisa berasumsi kalau keduanya masih punya harapan untuk hidup. Atau mungkin Aran hanya mengatakan itu untuk menghibur dirinya. Ia tak tahu, tapi ia tak terlalu memedulikan hal itu sekarang. Ia punya kecemasan lain. “Bocah itu—mereka tahu—”

“Kemana perginya?”

“Nagre—” suaranya hampir habis, tapi Kapten Zira Sillen tak mau menyerah sebelum menanyakan pertanyaan terakhir. “Dia akan—baik-baik saja?”

“Jangan khawatir soal itu. Akan kukirim Elias ke sana.”

Elias? Nama itu membuatnya kosong. Kapten Zira Sillen pun tersenyum kecut. Paling tidak, laki-laki urakan itu bisa diandalkan. Elias pasti akan menjaga bocah itu.

Saat orang-orang mulai mendatanginya, mungkin untuk mencoba menghalangi maut menjemputnya, pandangannya makin mengabut. Saat kegelapan itu menyergapnya, rasa sakit itu hilang begitu saja. Ia mati rasa. Pada akhirnya, kesadaran meninggalkannya.

Read previous post:  
49
points
(2218 words) posted by aocchi 8 years 30 weeks ago
70
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Primea
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ran4koak
ran4koak at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
90

karakter yg muncul membludak! Bingung mana yg ini mana yg itu hehe...
Hmm.. Tp keseluruhanya ok, apalagi bagian trakhirna, wih bkn penasaran.

Writer Misterious J
Misterious J at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
100

Top!!! Narasinya benar2 bagus.
Sudah kembali on fire, ya?

Writer hHilda_njyo
hHilda_njyo at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
70

agaakk... membingungkan. tokoh yang keluar jadi kebanyakan, menurutku. Yang bisa aku ngerti dengan sekali baca hanya terakhir2 nya aja. Apa aku nya aja yg lagi lola?

salam kenal ^^

Writer anggra_t
anggra_t at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

Ao, komentarku bakal panjaaaang... Siap? Siap? XD
START!
.
humm.. Kurasa pelan2 memang kau bukakan dr tiap2 chaptermu. Tapi cobalah memilah dg teliti mana yg perlu diceritakan sekarang, mana yg hrs diceritakan nanti sbg unsur kejutan. Jangan membuat pembaca hrs berpikir keras sampai bolak balik membaca ceritamu hanya untuk memahami jalan ceritamu. Mungkin soal selera jg sih. Aku memang tipe pembaca yg ngga suka dibuat bingung dg apa yg kubaca. Kurasa perlu jg mendengar pendapat teman2 lain.. Hehe..
.
Lalu aku merasa dikau bnyk mengeluarkan karakter. Siapa pula itu si aran? Tooru? Zee? (Hmm kayanya sblmnya dia udah muncul ya?) Hati2 nanti kebingungan mengembangkan masing2 karakter yg kau buat. Jdnya pembaca ngga bs bedain karakter mereka masing2...
.
mw komentarin soal pembukaan chapter ini. Kau bilang, "benda amat besar yang menyinari bumi, blablabla..."
Intinya matahari kan? Kok ribet amat sampai bilang "benda"? Apa jgn2 org2 primea belum pernah ngasih nama "benda" itu dg nama matahari?
.
Terakhir mau tanya soal Luca. Sebenrnya Luca ini siapa sih? Lalu Kei ini jg siapa? Apa pangkatnya Kei?
Terus kok si Luca bs ngga sopan gt ngomong sama Kei. "Udah jalan aja sekarang, ngobrolnya ntar aja."
Aku jd berpikir, apa Luca ini termasuk dlm suku atau ras tertentu yg berbeda dengan Kei dkk dan punya sifat kasar?
.
Ups... Muuph kepanjangan. Moga2 ao ngga pusing XD

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

saya gak pusing, bu Tabib.. malah saya pikir kurang panjang mengingat banyaknya penjelasan yang salah tempat.. salah satu kekurangan saya, belum bisa memilah-milah mana penjelasan yang harus diungkap sekarang mana yang harus diungkap nanti.. makanya sembari belajar juga, bu.. chapter2 awal memang kurang penjelasan sih (pasti nanti bakal saya rombak ulang XD)
.
semua karakter yang sudah kesebut namanya bakal berperan di chapter berikutnya.. tapi, mungkin saya terlalu numpahin mereka di satu-dua chapter. nanti akan saya lihat lagi mana yang bener-bener penting harus keluar sekarang atau nanti.. (lagi-lagi perombakan ulang XD).. bakal saya keluarin pelan-pelan deh (berhubung saya masih matengin chapter berikutnya, akan saya gunakan waktu yang ada buat merombak 6 chapter ini~sudah kelihatan berantakan soalnya >_>)
.
untuk yang 'benda' itu, saya gak tahu kenapa jari saya ngetik begitu.. saya juga ngerasa aneh sih bacanya (kan saya sudah bilang ada yang salah dengan chapter ini, terasa aneh.. baru nyadar setelah dikasih tahu bu Tabib *speechless)
.
soal Luca, tebakan bu Tabib 100% benar .. hebat nyahaha XDD
rencananya mau saya ceritakan di lain chapter, tapi setelah dicabein, saya jadi kepikiran buat menerangkan soal Luca dan Kei di sini (paling gak keterangan awal soal mereka)
.
sankyuu >.<

Writer anggra_t
anggra_t at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

yah sudah. hajar teruuss XD
nanti baru dirombak abis2an. supaya dikau ada gambaran mau nulis kaya gimana. aku sendiri juga begitu waktu nulis astaria. cerita yang sekarang, jauh banget bedanya dengan yang dulu. :D
.
tapi mungkin komen2ku di bab2 selanjutnya, ga jauh beda. "salah letak penjelasan" XD XD
gini aja deh. kalo aku bilang, "komentarku sama seperti sebelum2nya", dikau sudah ngerti yah. maksudnya "itu" XD XD

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

iya XD
.
aih, saya jadi penasaran seperti apa astaria sebelum dirombak.. soalnya setelah dirombak, hasilnya bagus banget >.<

Writer anggra_t
anggra_t at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

aaa.. mending jangan dilihat. ancur banget. yang ini aja jg masih perlu dibenerin lagi. banyak yang harus di edit.. =__=
tapi cuek aja deh. abisin dulu.. :))

Writer inderi_ajah
inderi_ajah at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

:-)

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
80

Seru, seru. Kalimat terakhir membuat saia bertanya-tanya hehe (tidaaaakkk, kapten Ziraaaaaaaa...)
.
Btw, pas si Aran tiba-tiba dateng malah menurut saia si Aran ini di sini cuma berperan sebagai Deus ex Machina (tiba-tiba ada pisau menancap di tanah). Gapapa sih, soalnya saia baru baca setelah karya ini diperbaiki atas saran om Zoel, jadi saia ga tau apakah versi awalnya lebih Deus ex Machina daripada yang ini
.
Ayo, ayo bikin lagi, saia butuh lanjutannya

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

apa itu Deus ex Machina? >.<

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

di saat-saat genting tiba-tiba ada yang menolong. Ya si Aran itu kan tiba-tiba dateng tepat sebelum Zee menebas Zira, jadi dia itu Deus ex Machina

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

hee.. saya baru tahu kalau yang seperti itu ada istilahnya..
ki-kisah sebelumnya sih Aran malah datang telat.. Zira masih hidup gara-gara Zee membiarkan dia hidup.. padahal Zee dah gatel banget pengen bunuh Zira.. alasan Zee gak cukup kuat untuk membiarkan Zira hidup.. makanya langsung saya edit >.<

Writer alcyon
alcyon at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
80

gak ada yang janggal, cchi! semuanya nice looking. oke,rupanya turliph itulah master of ceremony-nya! sudah kuduga! Primea rupanya sebuah sebutan untuk dunia lama? aku sungguh tidak sangka. Oke, lanjutkan.

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

Aztazim, ini pertama kalinya ada orang yang manggil saya cchi OMG
iya, turliph itu master of ceremony-nya.. makanya sudah saya fokuskan dari awal.. hmm..

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
100

Menurut saya adegan ketika para prajurit mendadak kalut rada aneh... Dan Zee yang cuma butuh satu atau dua detik untuk menghabisi sang Kapten, ternyata malah ninggalin Zira dalam keadaan hidup (klise, soalnya mereka musuh dan Zee disini berniat menghabisi Zira)...

Menurut saya (lagi... ^^) seharusnya Aran datang tiba2 tanpa pemberitahuan dan langsung mencegah Zee membunuh sang Kapten, jadi lebih masuk akal...

But that's just my humble opinion... ^^

Writer aocchi
aocchi at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

Astazim, benar kan .. sudah saya duga ada yang salah.. ok, sankyuu bang Zul.. akan saya perbaiki >.<
ada lagi yang kelihatan janggal? >.<

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)

Dah ok... ^^

Writer anggra_t
anggra_t at Primea - 6 - Awal Masalah (8 years 30 weeks ago)
70

aku titip poin dulu yah. bsok baru baca. lagi nggak mood nih. muuph >.<