I Hate Him : Part 2

DISCLAIMER: Magic Kaitou © Aoyama Gosho

Pagi itu di sekolah, aku tidak melihat sosok Kaito dimanapun. Bangkunya kosong. Saat aku bertanya pada teman-teman sekelas, mereka bilang anak itu sakit. Aku mengernyit. Sejak kapan anak itu bisa sakit? Bukannya orang bodoh tidak bisa jatuh sakit ya?

Sampai kelas berakhir, batang hidungnya belum menunjukkan tanda-tanda akan muncul. Jadi, dia benar-benar sakit? Mungkin, sebaiknya nanti aku menjenguknya saja. Dan mungkin juga akan kubawakan ikan untuknya. Aku meringis membayangkan tingkahnya saat melihat ikan itu. Tapi, dia pasti akan menembakiku dengan pistol aneh itu lagi. Jadi tak usah sajalah.

“Aoko-chan,” suara di belakangku itu mengejutkanku. Aku menoleh. Seorang gadis berkacamata dengan rambut yang dikuncir dua itu tersenyum padaku. “Eh, mau ikut ke bioskop di samping stasiun, tidak? Hari ini ada film horor yang keren.”

Sejak kapan film horor itu keren? Aku menggeleng. “Maaf, tidak bisa. Aku ada keperluan lain.”

“Hee.. jangan bilang kau mau menjenguk si maniak sulap itu…”

Ah, kok dia tahu sih? Aku hanya cengar-cengir. “Ahaha…”

“Ya sudah, hati-hati saja ya?” katanya sambil berlalu.

Cepat-cepat, kukemasi buku-bukuku dan memasukkannya dalam tas. Sebelum aku sempat beranjak, sebuah tepukan pelan di bahuku menyentakku. Aku berbalik. Gadis cantik berambut panjang itu berdiri di hadapanku.

“Apa kau mau menjenguk Kuroba-kun?”

“A-Akako-chan…” kataku, masih kaget. “Eh, iya. Ada apa? Akako-chan mau ikut?”

Ia berpikir sejenak, lalu mengangguk. Jadilah kami berdua yang pergi menjenguknya.

“Semalam, KID beraksi lagi ya?” kata Akako-chan tiba-tiba saat kami dalam perjalanan menuju rumah Kaito.

Aku menoleh padanya, bingung. Benar-benar awal pembicaraan yang tak terlalu menyenangkan.

“Kenapa tiba-tiba membicarakan dia?”

“Kelihatannya kau tidak suka. Padahal banyak yang mengidolakannya.”

Aku mendengus. Mereka semua dibutakan kostum kerennya saja. Kalau sudah ketahuan aslinya, belum tentu mereka masih mengidolakannya. Meskipun aku masih tidak mengerti. Oh, ayolah. Dia hanya seorang kriminal. Tidak lebih.

“Jadi, kau benar-benar tidak suka?” tanyanya sekali lagi. Memastikan.

“Aku—benci—sekali—padanya.”

Aku agak kikuk saat Akako-chan memandangku penuh arti. “Kalau misalnya KID itu Kuroba-kun, apa kau masih akan membencinya?”

Aku terhenti dan menatapnya lekat. Entah bagaimana, saat Akako-chan mengatakan itu, dadaku terasa baru saja dihantam batu besar. Aku hanya membelalak padanya. “KID itu Kaito!?”

“Aku kan bilang misalnya.”

Perlahan, ingatan tentang kejadian semalam melintas lagi di benakku. Tentang bayangan Kaito yang muncul saat aku bertatapan dengan maling itu. Tapi, tak mungkin mereka orang yang sama. Oh, ayolah. Kaito memang maniak sulap seperti maling itu. Dan entah kenapa dia selalu saja berada di pihak KID dan membelanya. Kami pun kerap bertengkar hanya gara-gara memperdebatkan tindakan maling brengsek itu. Tapi, untuk berpikir bahwa Kaito adalah seorang kriminal?

“Kalau mereka orang yang sama—,” sahutku pada akhirnya. “—yang jelas, aku tetap akan menghajarnya.”

Saat kami sudah sampai, tiba-tiba ponsel Akako-chan berbunyi. Saat ia mengeceknya, ia hanya tersenyum. Dia bilang padaku kalau dia harus pulang. Aku mendesah kecewa. Tapi, aku tetap tersenyum dan memintanya hati-hati di jalan. Setelah punggung Akako-chan menghilang, aku beranjak menuju pintu depan dan menekan bel. Beberapa saat kemudian, pintu dibuka oleh Chikage-san. Ia segera memintaku masuk.

“Kaito hanya sedikit demam dan badannya agak kurang beres,” katanya saat kutanyakan kondisi Kaito. Aku hanya mengangguk-angguk. “Kaito ada di kamarnya. Naik saja.”

Kamar Kaito tergolong cukup rapi untuk ukuran kamar laki-laki. Pasti Chikage-san yang kerap membereskannya. Di atas tempat tidur, kutemukan anak itu tengah tertidur. Aku mendekatinya. Dia memang tampak sakit. Perlahan, kusentuh dahinya dan dahiku bersamaan untuk memastikan suhu badannya. Ternyata memang panas. Aneh, ini kan bukan musimnya orang bisa sakit flu.

Akhirnya, aku duduk di bibir tempat tidurnya sambil memandangnya lamat-lamat. Seharusnya orang seperti dia akan baik-baik saja, tapi entah kenapa aku tetap cemas. Perlahan kusingkirkan poni yang menutupi dahinya itu. Ia berkeringat dingin. Kuambil saputangan dari sakuku dan mengarahkan tanganku ke dahinya, tapi terhenti seketika. Aku mengarahkan sisi saputanganku yang kotor oleh keringat maling itu. Aku mengernyit. Kenapa tadi aku lupa mencucinya? Akhirnya kugunakan sisi sebaliknya untuk mengelap keringat Kaito. Entah bagaimana aku merasakan sensasi yang sama dengan saat aku mengelap keringat maling itu. Ah, itu pasti bukan apa-apa.

Pelan-pelan aku berdiri. Sesuatu menarik perhatianku. Aku berbalik, dan di dinding di hadapanku, kutemukan sebuah pigura besar tertempel di dinding. Di dalamnya ada foto Touichi-san sedang menunjukkan trik sulapnya. Refleks, aku tersenyum. Kaito pasti begitu mengagumi ayahnya. Meski Kaito bertekad melampaui ayahnya, kurasa ia belum bisa melakukannya untuk sekarang. Aku pun mengagumi Touichi-san. Aku ingat saat dulu aku dan Kaito duduk di barisan paling depan menyaksikan atraksi sulap Touichi-san. Benar-benar mengagumkan. Tapi, sesuatu yang buruk tiba-tiba saja terjadi. Terdengar kabar bahwa Touichi-san meninggal karena kecelakaan dalam salah satu atraksi sulapnya. Selama ini aku tak pernah menyangka kalau pekerjaan sebagai seorang pesulap bisa menjadi pekerjaan yang berbahaya. Apa Kaito akan meneruskan jejak ayahnya ya? Aku hanya mendesah panjang.

Perlahan, kugerakkan tanganku ke depan. Entah kenapa aku ingin menyentuh foto itu. Sebelum tanganku sempat menyentuhnya, suara teriakan dari arah belakang membuatku terlonjak. Aku berbalik seketika. Kulihat anak itu bangkit dari tempat tidur dan langsung bergerak cepat ke arahku. Dalam satu gerakan gesit, ia menempelkan tubuhnya ke dinding, menutupi foto ayahnya itu. Ia terengah-engah setelahnya. Aku hanya terperangah. Dalam kondisi sakit begitu ia masih bisa bangkit dan bergerak cepat seperti itu. Anak itu memang benar-benar kelebihan energi.

“Kau sedang apa, Aoko!?”

“Kau sendiri sedang apa!?” balasku, agak sedikit terkejut karena dia masih bisa membentakiku dalam kondisi sakit begini. “Orang sakit harusnya berbaring saja. Jangan banyak gerak.”

“Hei—terserah aku kan mau berbaring atau tidak? Toh, ini tubuhku sendiri. Hanya aku yang tahu batasan tubuhku sendiri.”

“Dasar keras kepala. Orang sakit itu bagaimanapun harus tetap istirahat. Lagipula, kenapa kau panik begitu? Aku cuma mau menyentuh foto ayahmu saja kok.”

“Si—siapa yang panik!? Aku tidak panik.”

Dahiku berkerut. Benar-benar mencurigakan. Ada apa dengan Kaito tiba-tiba bersikap begini. Dia memang aneh, tapi tak pernah seaneh ini.

“Po—pokoknya jangan sentuh foto—”

Kaito tiba-tiba merosot. Sekarang aku yang panik. Buru-buru aku menumpunya. Setengah bersimpuh, setengah berjongkok. Aku membantunya kembali ke ranjang. Kami duduk di bibir ranjang. Meski aku sudah menyuruhnya berbaring saja, ia berkeras ingin tetap duduk.

Ia terus-terusan saja terengah-engah dan keringatnya makin banyak. Aku mengelap wajahnya lagi pelan-pelan. Saat kulakukan itu, entah kenapa dia terus saja mencengkeram lengan kirinya erat. Di bawah alisnya yang sudah menyatu, matanya memejam keras. Ia juga meringis, seolah sedang menahan sakit.

“Kaito, lengan kirimu sakit?”

Ia agak kepayahan menoleh padaku. Dari matanya yang menyipit karena kesakitan itu, aku bisa merasakan kalau dia sedang membelalak padaku. Mungkin terkejut atas pertanyaanku? Aku tidak tahu. Tapi, ia hanya menggeleng.

“Aku baik-baik saja.”

“Bohong!” aku tetap curiga dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku. “Coba kulihat lengan kirimu. Apa sakit?”

Ia tetap menggeleng. Tapi, aku tak terlalu ambil pusing. Aku meraih lengan piyamanya dan memaksa menggulungnya ke atas.

“Aoko, apa yang kau—”

“Diamlah, jangan banyak bergerak,” sergahku.

Ia mencoba melawan, dan tak membiarkanku menggulung lengan piyamanya lebih tinggi lagi. Tapi, mengingat kesehatannya yang sedang berada di titik nadir itu, aku tahu ia tak bisa mengalahkanku sekarang. Setelah kami berjibaku lama, dia akhirnya kalah. Dan lengan piyamanya tersingkap. Aku membelalak saat menemukan perban yang membalut lengan kirinya. Tiba-tiba, aku teringat peristiwa semalam. Ketika aku memberikan pertolongan pertama pada seorang maling yang kena serempet peluru di lengan kirinya. Tanpa sadar, aku bergerak mundur.

“Ka—Kaito—lenganmu—kenapa?”

“A—aku hanya—” ia terdiam, seolah sedang mencari kata yang tepat untuk menjelaskan. Tapi bagiku, ia hanya sedang mencari-cari alasan. Tiba-tiba, pertanyaan Akako-chan menggema dalam benakku, yang menikamku seketika itu juga.

Kalau misalnya KID itu Kuroba-kun, apa kau masih akan membencinya?

Aku menatap Kaito lekat, mencoba mencari jawaban dari matanya. Tapi, ia memalingkan wajahnya dariku. Ia seperti sedang mencoba menghindari tatapanku.

“Luka ini—kemarin aku—ceroboh—hingga lenganku tergores—pisau dapur—yang tak sengaja jatuh dari rak atas,” katanya tergagap. Mungkin karena rasa sakit yang sedang dirasakannya, tapi kurasa lebih karena itu semua hanyalah kebohongan.

“Kau bohong.”

Aku bergegas ke arahnya dan berdiri di hadapannya. Ia masih belum mau memandangku. Aku sedikit membungkuk. Kusentuh wajahnya dan mendongakkannya, memaksanya bertatapan denganku. Wajahnya memang menghadap padaku, tapi matanya masih mencoba untuk menghindar. Kudekatkan lagi wajahku, hingga bisa kurasakan desahan nafasnya yang cepat di wajahku. Aku tak punya waktu untuk malu, karena aku butuh jawaban darinya.

“Apa kau tak mau jujur padaku, Kaito?” aku berbisik lembut padanya. Meski begitu, dadaku berdegup kencang sekali. Mungkin karena perasaan waswas atas jawaban yang akan keluar dari mulutnya.

Perlahan, sesuatu yang hangat kurasakan menyentuh bagian belakang kepalaku. Sesuatu itu mendorongku, membuatku kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh di tubuh Kaito.

“K—Ka—Kaito—”

“Jangan memandangku,” bisiknya lemah. Aku pias. Sekian tahun aku mengenalnya, Kaito tak pernah bersikap seserius ini. Sekarang, ia tiba-tiba memelukku dan berkata begitu. Bisa kurasakan panas yang menjalari seluruh tubuhku dan degupan yang makin kencang di dadaku. Perasaan apa ini?

“Kalau aku bicara jujur, apa aku akan kehilanganmu?”

Read previous post:  
34
points
(1109 words) posted by aocchi 8 years 28 weeks ago
68
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | kaitou KID | magic kaitou
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer ExewRiyan
ExewRiyan at I Hate Him : Part 2 (8 years 1 week ago)

wah... bagus-bagus, serasa berada ada part special di komik magic kaitou nya hihihi... ini masih ada lanjutannya?

Writer ExewRiyan
ExewRiyan at I Hate Him : Part 2 (8 years 1 week ago)

wah... bagus-bagus, serasa berada ada part special di komik magic kaitou nya hihihi... ini masih ada lanjutannya?

Writer suararaa
suararaa at I Hate Him : Part 2 (8 years 26 weeks ago)
90

good,,, good....
ini adalah sisi yg jarang banget dibahas di komiknya.. aku suka caramu menggambarkannya.. ayoo lanjutkan..!

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)
100

Haha... Semangat Ao, toh masih ada potensi konflik yang jauh dari cinta2an... ^^

Writer ip_23
ip_23 at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)
80

GOOD..... seru!!!!!

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)
90

Entah bagaimana aku merasakan sensasi yang sama dengan saat aku mengelap keringat maling itu. Ah, itu pasti bukan apa-apa.

kalimat ini....
saya baru tahu ngelap keringet aja ada sensasinya, wkwkwkwk,

ngomong ngomong, versi aslinya judulnya apa ? seingatku ada manga yang nyeritain kaito kid sendiri

Writer aocchi
aocchi at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)

judulnya magic kaitou.. kan sudah saya sertakan disclaimernya kan? ^_^

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)

owh...maaf, kurang teliti

Writer M0n1kk
M0n1kk at I Hate Him : Part 2 (8 years 28 weeks ago)
2550

Ha..ha..ha.. Tidak seburuk itu koq ceritanya.
Aq berharap nanti ada dmsukkan ktika kaito beraksi utk mencuri benda2 seni. Dtnggu klanjutannya..