Tantangan Gambar: Nada Dari Langit

"Hei, apa yang lagi yang akan kita lakukan hari ini?" ucapku keras pada Xavi, bocah kecil yang sedang duduk di bangku panjang tepat di sampingku.

Bocah kecil itu hanya terdiam, matanya biru terangnya terus menatap langit berselimut awan, biias cahaya matahari menembus gumpalan kapas langit. Meskipun aku bertanya berkali-kali, dia tidak juga menjawab. Aku tidak yakin, apakah karena dia terlalu asyik melamun atau karena aku hanyalah seekor anjing yang membuat dia tidak mengerti kata-kataku.

Kadang memang aneh, aku bisa mengerti dengan jelas apa yang dia ucapkan tapi sepertinya dia tidak bisa memahami semua kata-kataku. Mungkin karena mereka berbicara dan aku hanya menggonggong, ya menggonggong, begitulah manusia menamakan ucapan kami.

Berbicara tentang keanehan, rambut Xavi, begitu dia mengenalkan namanya padaku, berambut putih. Putih, hampir seputih bulu-buluku. Sesuatu yang sangat jarang aku lihat pada manusia, apalagi untuk bocah seumuran dia.

"Frostie, kamu masih di sini?" tanya Xavi padaku. Aku hanya memiringkan kepalaku, bukan karena aku tidak mengerti pertanyaannya tapi apa maksud dari pertanyaannya. Bukankah dia tidak menyuruh aku pergi, kenapa dia bertanya seperti itu.

Xavi memandangku, tatapannya dalam. Bahkan untuk seekor anjing seperti aku pun, aku bisa merasakan kesedihan yang mendalam. Sejak hampir satu purnama yang lalu, binar mata itu mulai terlihat meski aku merasa dia mencoba untuk menyembunyikannya. Aku tidak tahu apa yang menyebabkan ada kesedihan di bocah itu.

Sejak aku menjadi bagian dari keluarga Primera, tidak pernah sedikitpun aku melihat dia sesedih sekarang. Ya, tidak ada kesusahan yang pernah terjadi yang membuat majikan mudaku ini sedih teramat sangat.

Aku balas menatap dengan penuh tanda tanya, sudah beberapa waktu dia tidak pernah bersenang-senang lagi. Tidak ada permainan saling mengejar, lempar dan tangkap, atau apapun permainan yang biasa dimainkan seorang bocah dengan anjing kesayangannya. Bahkan sepengetahuanku, dia tidak lagi bertegur sapa dengan keluarganya. Meski dia ada dirumah tapi orang tua yang sangat menyayanginya seakan tidak menganggapnya ada, mereka hanya menangis dan menangis. Tidak juga para temannya, tidak ada yang mau bertemu atau bermain lagi dengannya. Hanya aku, ya hanya aku yang mau bermain dengannya meski dia lebih banyak bertingkah menyendiri seperti ini.

"Kamu seharusnya tidak mengikutiku Frostie." kata Xavi datar sambil memalingkan wajahnya, berhenti memandangku. Entah apa yang ada di balik langit sana hingga hampir satu siang ini dia selalu menatap ke atas sana. Meskipun penglihatanku lebih baik dari Xavi atau manusia pada umumnya tapi aku tidak bisa mengetahui dibalik awan kelabu itu. Ya, kecuali bilah-bilah cahaya matahari itu. Apa itu yang di sebut indah oleh para manusia. Aku tidak mengerti, bagiku indah adalah saat badanku melayang untuk menangkap benda yang para manusia sebut frisbee, atau saat aku masih bisa menemukan tulang yang aku kubur berhari-hari lamanya. Ya, itulah indah.

"Bagaimana kalau kita bermain polisi mengejar pencuri lagi setelah ini? Ya, kita sudah lama tidak memainkannya. Kali ini, aku bersedia menjadi pencurinya. Bagaimana, sobat? Kamu tertarik?" ajakku. Namun Xavi tidak bereaksi, entah apa yang dia dengar dari suara kata-kataku ini.

Ah, Xavi tidak mempedulikanku lagi. Dia kembali asyik dalam lamunannya. Biarlah, nanti juga kalau sudah waktunya, dia akan mengajakku pulang dan aku akan membuat memaksa dia untuk memberiku sepotong daging yang besar karena sudah membuat aku bosan. Ya, dia tidak akan bisa menolak jika aku memiringkan kepala, menurunkan telingaku, dan memberinya tatapan khas memelasku. Slrup, ah aku sampai bisa merasakan kelezatan daging itu. Aku merebahkan diri, melamunkan sepotong daging besar.

Aku berharap Xavi bisa seperti aku, dunia adalah tentang kesenangan. Sedih adalah sementara, senang adalah segalanya. Bahkan aku bisa membuat senang diriku hanya dengan mengejar ekorku. Dasar Xavi payah.

"Frostie, kamu tahu jalan menuju rumah?" tanya Xavi. Aku mengangkat kepala, untuk kesekian kalinya majikan kecilku membuat aku bingung.

"Terimakasih untuk masa-masa indah kita Frostie. Bahkan sampai sekarang kamu masih menemaniku dalam kebimbangan ini. Aku benar-benar beruntung mempunyai kamu. Aku tidak tahu apakah ini akan sangat berat bagimu tapi seandainya saja bisa, aku sangat ingin memelukmu."

Kami berpandangan cukup lama. Aku baru tersadar, sejak kejadian ini Xavi tidak pernah menyentuh. Ya, tidak pernah menyentuhku. Apa yang sebenarnya terjadi Exavius Primera, majikan kecilku.

Tiba-tiba, jauh dari atas sana sebuah suara terdengar. Suara yang tidak asing bagiku, suara yang merdu seperti saat keluarga Primera memainkan meja dengan kawat-kawat dan kayu kecil yang berbunyi bila di tekan itu. Piano, ya piano kalau tidak salah namanya. Suara itu mirip tapi berbeda, merdu sekali hingga membuatku ikut menatap searah dengan pandangan Xavi.

"Kamu juga mendengarnya Fros-Boy?" kata Xavi. Aku menggonggong satu kali, ya ini kata yang bisa mudah diterjemahkan oleh para manusia sebagai kata iya dalam bahasa mereka.

"Saatku sudah tiba sahabat putihku. Aku tahu aku tidak terlalu banyak mempunyai teman karena sifatku sendiri. Kamu adalah sahabatku, satu-satunya sahabatku." kata Xavi sambil berjongkok menjajarkan tinggi matanya denganku.

"Nada-nada indah itu adalah pengantar bagiku untuk berlalu. Sudah cukup bagiku untuk menjelajah di tempat ini. Aku bisa menerima keadaanku." lanjutnya.

"Aku harus pergi Frostie. Aku tidak tahu kamu mengerti atau tidak dengan kata-kataku. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagianmu dengan orang lain. Terimakasih untuk semuanya. Aku sayang kamu anjing putihku." kata Xavi sambil mengelus kepalaku. Namun bukan elusan sebuah tangan Xavi yang aku rasakan, bukan elusan seperti biasanya melainkan udara dingin yang menerpa kulit dan bahkan terasa sampai ke dalam kepalaku.

Dalam keterkejutanku, tubuh Xavi perlahan melayang di udara. Sesuatu yang sama sekali tidak dimengerti oleh makhluk sepertiku. Namun ada perasaan yang sakit dan menusuk di bagian tubuhku, perasaan ini sama seperti ketika Xavi pergi berkemah dan meninggalkanku selama satu minggu di rumah, atau saat dia sekeluarga pergi berlibur ke luar negeri dan aku dititipkan pada penitipan hewan.

"Xavi, jangan pergi. Xavi, katakan padaku apa arti ini semua. Apa kamu akan pergi berlibur lagi. Berapa lama kamu akan pergi?"

Aku berteriak sekencang-kencangnya kepada Xavi. Salah satu bagian dari diriku mengatakan kalau aku tidak akan bertemu lagi dengan dia. Entah apa itu tapi aku tidak akan bisa lagi bertemu dengan bocah kecil kesayanganku ini.

"Xavi, jangan! Jangan pergi! Aku janji, aku tidak akan menggigit bantalmu hingga hancur. Aku juga tidak akan lagi menyembunyikan barang-barangmu ke dalam tanah. Aku janji akan menurut Xavi tapi ku mohon jangan pergi."

Tubuh Xavi semakin tinggi, melayang hingga menembus awan. Aku mengeraskan teriakanku, sambil melompat-lompat berusaha mengejar Xavi ke atas sana. Aku tidak perduli seberapa letih, aku akan menemukanmu kembali Xavi.

+++++

"Hei, Ike. Kamu tahu tentang cerita menyedihkan di pantai ini?" tanya Karin yang sedang membonceng sepeda yang kebetulan melewati pantai bagian selatan desanya.

"Tentang pemuda berambut putih yang tewas tenggelam di laut? Tapi itu kan cerita seram bukan sedih." Ike mengernyitkan dahi. Dia melanjutkan sambil mengayuh sepedanya, "Sejak meninggal di laut itu, banyak yang melihat penampakan bocah itu."

"Ya itu benar juga tapi yang aku maksud adalah anjing putih yang kabarnya adalah peliharaan bocah yang tewas itu." jelas Karin sambil menatap laut yang terlihat. Peringatan ombak besar membuat tempat itu sepi dari pengunjung.

"Kenapa dengan anjing itu?" Ike menyimak, menoleh sedikit kepada Karin yang duduk di belakang.

"Satu purnama sejak bocah itu tewas, dia terus menerus menyalak dan melompat-lompat. Seperti berusaha untuk mengejar sesuatu." Karin memasang muka sok tahunya. Dia kembali berkata, "Dan setengah purnama itu, sang anjing juga mengikuti jejak majikannya."

"Hmm bagus kalau begitu. Berarti mereka bertemu di alam sebelah sana." kata Ike sedikit lega.

"Tapi tidak seperti itu kenyataannya. Konon anjing putih itu tidak mengetahui kalau dia sudah tewas. Dan dia tetap saja melakukan 'ritual'nya itu. Sampai sekarang, beberapa pengunjung berani bersumpah bahwa mereka melihat hantu anjing putih di dekat bangku itu." lanjut Karin

"Hoo..menyedihkan sekali. Kasihan sekali anjing putih itu, pasti dia sangat menyayangi majikannya itu. Semoga dia juga bisa mendengar nada-nada dari langit." Ike bersungut-sungut.

Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing sambil mendengarkan suara angin dan debur ombak. Perlahan dan samar di antara suara-suara itu, mereka bisa mendengar salak seekor anjing namun mereka tidak menemukan adanya tanda-tanda makhluk berkaki empat itu di sekitar mereka.

#####

Read previous post:  
10
points
(170 words) posted by Sun_Flowers 8 years 29 weeks ago
50
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | nada | tantangan gambar
Read next post:  
Writer aocchi
aocchi at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
90

hmm... aki bikin cerita apa pun ujung-ujungnya kalo gak berakhir jadi fantasi pasti jadi horor... >_>
anyway, great job >.<

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheuheu...udah main set otaknya...

Writer septy
septy at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
90

ceritanya sangat bagus, kak ^^
mengharukan juga
hehehe

kritik tulisan aku ya

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

thx...
aku dah mampir t4mu... :)

Writer cat
cat at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
80

aku malah merasa bagian akhir itu sangat menarik. asal jangan dibuat terlalu betele-tele aja.

to the point . hap - selesai penjelasannya

sudut pandang dari frosti yak ...

hanya saja aku menantikan alasan mengapa Xavi pergi .. ah ..

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheu..
alasan Xavi pergi karena dia udah menerima keadaan kalo dia sebenarnya dah meninggal..

80

bagus kak!

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

thx...

Writer Riesling
Riesling at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
90

Cuuuuuute~~ Bagian dari POV Frostie keren~~ adorable~~ Xavi juga~~ <3 <3
.
Btw ini AU dari cerita tentang Ike dkk yang asli atau tetep di universe yangs sama sih? Pemakaian istilah purnamanya itu loh...

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheu..sebenarnya si AU,,tapi aku binun,,kalo anjing ngitung harinya bagaimana,,yang muncul akhirnya balik lagi ke "purnama" XD XD...

Writer lavender
lavender at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
80

Emosi anjingnya dpt bgt..

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheu..makasi..bertapa dua hari buat jadi anjing...

100

Ahahah... Apa kubilang, horor kan? XD

Tapi serius Om, jadi multiverse gini kalau ga bikin nama2 karakter baru... XP

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheuheu...aku males mikir nama baru...

Writer anthalogy
anthalogy at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)
80

wihhh.. kok jadinya misteri ya, tapi caranya mengambil sudut pandang dari sisi yang lain ini aku suka

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

heuheu..iya ni,,dari kemaren belajar bikin teenlit,,ujung2nya ke misteri,horor, ma fantasy...payah...

70

Eeer... Serius Om, bagian ahirna mengganggu! Bagian si Ike dan entah sapa temanna itu, mengurangi keindahan tulisan ini! Ugh, menurut sy dihilangkan pun tak masalah >.< alna sy merasa seolah mendadak ditarik paksa dari tubuh si Anjing, lantas dilempar keras ke sudut pandang Ike dan kawanna! Ga enak~ X(

makkie at Tantangan Gambar: Nada Dari Langit (8 years 28 weeks ago)

ahh begetu,,,baiklah...saya coba edit,,aku mau emphasis tentang seberapa lama si anjing kaya gitu en ga nyadar kalo dah mati...enaknya gimana ya..