The Story of Kenai (part 5)

"Lihat ini!"

Kenai mengerutkan keningnya ketika mendapati tak ada apa-apa kecuali pepohonan tinggi di sekelilingnya dan juga dinding batu yang dipenuhi sulur tepat dihadapan mereka.

"Koda, disini tidak ada..."

"Biar ku tunjukkan!" Koda menyibakkan sulur-sulur tanaman yang menutupi dinding batu tersebut. Dan perlahan, seiring semakin banyaknya sulur yang disibakkan oleh Koda, semakin tampak pula ukiran-ukiran asing di dinding batu tersebut. Kenai meraba ukiran-ukiran asing itu perlahan.

"Aku memang tidak mengerti apa maksud ukiran-ukiran aneh itu. Tapi, ini penemuan yang keren, kan?" Ujar Koda bangga.

Kenai menatap lekat-lekat ukiran-ukiran yang semakin jelas dimatanya itu. Tulisan yang hanya berupa garis-garis aneh yang seperti diukir asal-asalan itu perlahan membentuk huruf-huruf yang entah apa maksudnya.

"Wakati wa knight wa mwanga tena, mkuu wa giza imeongezeka bonde. Tu legend na muhimu kwa imani ya hadithi ambayo inazewa kurejesha kila kitu..." Bisik Kenai.

"Hah? Apa? Apa yang baru saja kau katakan Kenai?" Tanya Koda heran.

Kenai tersadar dari lamunannya dan langsung mundur beberapa langkah menjauhi dinding batu itu.

"Kenai, ada apa?" Cemas Koda seraya memegang pundak Kenai. "Kenai?"

Wajah Kenai memucat. Ada sensasi yang aneh tiba-tiba ia rasakan. Tangan kanannya gemetaran.

"A... aku baik-baik saja." Ujar Kenai berusaha menenangkan dirinya.

Tupai milik Kenai tiba-tiba muncul setelah menghilang entah kemana dan tergesa-gesa merayapi pakaian Kenai lalu bersembunyi di balik baju Kenai. Kumbang milik Kodapun tingkahnya tidak jauh lebih aneh. Kumbang yang biasanya lebih suka terbang berkeliaran itu tiba-tiba saja hinggap di pundak pemiliknya dan tidak mau lepas dari sana meskipun Koda berulang kali berusaha menyingkirkan serangga raksasa itu dari pundaknya.

"KENAI!!!" Denahi berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Kenai disusul oleh kucing hitam penuntunnya. Setibanya Denahi di hadapan Kenai, Kenai heran melihat wajah Denahi yang begitu pucat dan tubuhnya dipenuhi oleh keringat karena lelah berlari. Denahi terlihat begitu... yah, begitu tegang sepertinya.

Kenai tersenyum mengejek kearahnya, "Apa yang kau temui? Ular, kalajengking, atau..."

"Cepat pergi dari sini!!" Kenai hanya melongo mendengar ucapan Denahi.

"SEKARANG JUGA KENAI!!!" Bentakan yang cukup keras dari Denahi membuat Kenai terkesiap.

"Denahi, a... ada apa sebenarnya?" Tanya Koda cemas. Denahi terdiam. Ia menatap Kenai dengan nanar.

"Koda, tolong jaga Kenai!" pinta Denahi. Sesaat terpancar ekspresi terkejut di wajah Koda. Wajah Koda terlihat begitu cemas. Ada ekspresi tidak terima yang terpancar di matanya.

"Apa yang kalian bicarakan? Ada apa sebenarnya? Dan... kenapa aku harus pergi?" Ujar Kenai gusar. Koda hanya melirik Denahi dan menggeleng lemah.

Tiba-tiba Sitka dan elang penuntunnya muncul dari arah hutan. Ia berlari tergesa-gesa seraya membawa dua tas ransel yang berisi entah apa dan menghampiri mereka.

"Denahi, tak ada waktu lagi! Cepat!!" Ujar Sitka seraya menyerahkan kedua tas ransel itu masing-masing kepada Koda dan Kenai. Mereka berempat segera pergi meninggalkan desa.

Sementara itu di desa keadaannya sangat genting. Serigala-serigala bermata merah yang entah muncul darimana menyerang desa dan memporak-porandakannya. Hani berusaha melindungi Tanana dibantu oleh beberapa pria desa tersebut.

"Bagaimana dengan Kenai?" Cemas Tanana.

"Tenanglah," jawab Hani "Kenai dan tiga orang lainnya sekarang dalam perjalanan menuju..."

"Kau bisa mengawasi mereka untukku?" pinta Tanana.

Sesaat Hani terdiam. Ia menggenggam mata kalungnya yang terbuat dari kayu dengan ukiran bulan dan bintang diatasnya seraya memandang langit yang tiba-tiba berubah menjadi kelam.

"Tentu saja."

-o0o-

"Lewat sini!" Bisik Sitka ketika mereka berempat tiba di daerah puncak bebatuan.

"Kau serius kita harus lewat sini?" Tanya Denahi yang ngeri melihat segerombolan ular merayap bebas di jalan tersebut.

"Denahi, tidak ada pilihan lain. Sebentar lagi hari mulai gelap. Kita harus membawa Kenai secepatnya ketempat itu." Ujar Sitka berusaha meyakinkan adiknya. Denahi ingin mengajukan protes sekali lagi tetapi segera dibungkam oleh tatapan Sitka.

Mereka berempat menyusuri jalan itu dengan waspada. Sitka memimpin di depan diikuti oleh Kenai dan Koda yang berjalan beriringan dan Denahi yang berada paling belakang berulang kali meneguk ludah dengan susah payah melihat ular-ular di dinding batu begitu mengawasi mereka.

Koda melirik Kenai yang terdiam sejak tadi. Koda menghela nafas berat. Ia tak menyangka hal itu akan terjadi secepat ini.

Maafkan aku, Kenai... Batinnya.

Pikiran Kenai terus tertuju pada ukiran dan gambar-gambar di dinding batu yang dilihatnya tadi. Semakin berusaha ia menepis bayangan-bayangan tentangnya semakin kuat pula sensasi aneh yang dirasakannya.

"Sitka!" panggil Kenai. Sesaat terpancar ekspresi kaget di wajah Sitka sebelum ia menoleh pada Kenai seraya mengangkat kedua alisnya.

"Ada apa, Kenai?"

Kenai terdiam sesaat, mencoba mencari kata-kata yang tepat.

Sementara itu, Denahi mengernyitkan dahi ketika melihat ular-ular yang tadinya begitu banyak sedikit demi sedikit memasuki sarangnya. Seakan-akan ular-ular itu takut pada sesuatu atau mungkin ingin menghindari sesuatu.

"Apa maksudnya dengan... 'Ketika sang kesatria cahaya kembali, maka pangeran dari...'" Ucapan Kenai terhenti ketika matanya menangkap sosok seseorang yang berdiri di puncak bebatuan di sisi kanan mereka. Tidak begitu jelas karena hari mulai gelap. Tapi Kenai merasa tak asing dengan sosok itu.

Apa kabar sang legenda?

Kenai terkejut mendengar ucapan yang entah dari siapa itu. Kenai memandangi Sitka, Denahi, dan Koda bergantian. Bukan mereka. Kenai kembali mengamati puncak bebatuan mencoba mencari sosok tadi yang ternyata telah menghilang.

"Lanjutkan Kenai!" Pinta Sitka. Kenai sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia terus memandangi puncak bebatuan itu. Ia heran, siapa yang dimaksud 'Sang Legenda'?

"Kenai?" Koda menepuk pundak sahabatnya yang nampak begitu gelisah. Kenai terkejut dan segera menoleh pada Koda.

"A- apa?"

"Hei, kau tampak pucat adik kecil!" Seru Denahi.

"Kau tak apa-apa Kenai?" Tanya Sitka.

"Aku baik-baik saja!" Elak Kenai.

Tiba-tiba saja tanah di sekeliling mereka bergetar hebat. Bebatuan yang ada di puncak serempak menggelinding menuju tempat mereka berada. 'Sitka', elang penuntun Sitka sempat memekik begitu kerasnya. Koda segera meraih tangan Kenai dan menggenggamnya begitu erat.

Reruntuhan batu mulai berjatuhan di sekitar mereka. Asap yang mengepul mulai menghalangi penglihatan mereka.

"SITKA!! DENAHI!!!" seru Kenai.

Sesaat sebelum reruntuhan bebatuan itu menimpa mereka, Kenai merasa seseorang mendekapnya. Ia sempat membuka matanya tetapi yang dilihatnya hanyalah noda hitam di lengan seseorang yang mendekapnya. Noda hitam yang melambangkan sesuatu. Kenai merasa pernah melihat lambang itu entah dimana. Sedetik kemudian cahaya yang menyilaukan menyerbu mata kenai. Ia masih bisa merasakan genggaman Koda yang semakin kuat hingga akhirnya Kenaipun tak sadarkan diri.

Read previous post:  
18
points
(712 words) posted by yuu_chan 8 years 27 weeks ago
60
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | kehidupan
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Edo_flavio
Edo_flavio at The Story of Kenai (part 5) (8 years 12 weeks ago)
40

hehehe lupa poinnya :P

Writer yuu_chan
yuu_chan at The Story of Kenai (part 5) (8 years 12 weeks ago)

kapan dikau ngepost karyamu juga? :3

Writer Edo_flavio
Edo_flavio at The Story of Kenai (part 5) (8 years 12 weeks ago)

ceritanya makin unik.. ditunggu lanjutannya ;D

Writer Kika
Kika at The Story of Kenai (part 5) (8 years 25 weeks ago)
90

nambah seru..
ayo kak lanjutt...
~~akhirnya bisa bayar hutang baca juga XD~~

Writer yuu_chan
yuu_chan at The Story of Kenai (part 5) (8 years 25 weeks ago)

Makasih kika~ n_n

Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at The Story of Kenai (part 5) (8 years 27 weeks ago)
100

poinnya lupa XD

Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at The Story of Kenai (part 5) (8 years 27 weeks ago)

hwooo..
Bahasa apa itu?
Itu si Denahi ma Stika bisa tau tempat Koda ma Kenainya dari mana?
Dari 'kenai' ato dari penuntun masing2?

Writer yuu_chan
yuu_chan at The Story of Kenai (part 5) (8 years 27 weeks ago)

bahasa apa yaaaa~ :3
di part berikutnya akan muncul kok artinya. :)

Tempat itu -tepatnya hutan itu- tempat favoritnya Koda. Sedangkan Kenai selalu ngikut sama Koda buat berpetualang kecil2an (?). Karena desa mereka tergolong kecil, dan Sitka juga Denahi tahu pasti kebiasaan adiknya itu suka pergi ke hutan, dan juga 'Denahi' yg dengan mudah melacak keberadaan Kenai, sehingga Kenai dan Koda dengan mudah ditemukan. dan juga... ah, kurasa penjelasannya sudah cukup. -_-

Writer AndravaMagnus
AndravaMagnus at The Story of Kenai (part 5) (8 years 27 weeks ago)

hwarakadah?
ko sayah baruh tauh kaloh desahnyah kecilh yah?
-ngangguk2 ngedengerin penjelasan yuu-
lah? ko dipotong penjelasannya? XP