SWEAT

 

Angin masih bertiup kencang. Rerintik hujan masih menitikkan dirinya satu demi satu ke bumi. Seakan tak mau berhenti berhujan, langit mendung, tak ada setitik cahaya sama sekali yang merembes dari awan hitam pekat yang menitikkan butir hujan. Adit, dengan tenangnya, berjalan selangkah demi selangkah menuju sebuah apartemen susun. Ia berjalan menuruni tangga penyeberangan jalan menuju trotoar sambil menutupi kepalanya dengan tas koper kulitnya. Sementara ia mencoba menghindari lalu-lalang kendaraan ketika menyeberang, apartemen yang ditujunya terlihat gelap. Awan gelap berputar diatasnya, membentuk spiral yang tidak mungkin terjadi bila diterka dengan akal sehat. Tapi apa mau dikata, jangankan melihat keatas, melihat kedepan saja ia sulit. Rintik hujan perlahan berubah menjadi guyuran air. Derasnya hujan ini memaksa langkahnya semakin cepat. Cepat, cepat dan akhirnya sampai ke pintu depan.

 

            Ia lalu mengetuk pintunya beberapa kali. Tidak ada jawaban. Lalu diketuknya beberapa kali lagi. Tetap tidak ada jawaban. Dengan bingung, ia mencari cari sesuatu di pintu. Dan akhirnya ditemukannya sebuah tombol bel, tepat diatasnya. Merasa bodoh, ia menekan tombol bel itu dan suara belpun berbunyi kencang. Lebih kencang dari suaranya yang tertutup hujan.

 

            “ya, ya, tunggu!” sahut seseorang dari dalam. Pintupun terbuka. Terlihat seorang pria paruh baya dengan kemeja hijau, bertopi sport merah dan menghisap pipa rokok.

 

            “hai.” Adit menyapa.

 

            “kamu temannya Alvin?” pria itu bertanya sambil menggaruk-garuk lehernya yang kemerahan. “saya pemilik apartemen ini. ayo masuk.”

 

            Adit membuka jaketnya, lalu menaruhnya ke atas rak sepatu dekat pintu bersama dengan tas kulitnya. Ia lalu mengikuti pria itu masuk ke dalam sambil mengeringkan beberapa bagian bajunya yang masih basah. Di dalam apartemen ini gelap, beberapa lampu sudah tidak menyala. Sisanya menyala terang-redup berkali-kali seperti meregang nyawa, tanda sudah hampir mati. Bau yang tidak enak menyerang dari setiap sisi kamar yang kelihatannya tidak terpakai, masuk ke hidung Adit yang daritadi menutupi hidungnya sendiri dengan sapu tangan. Sementara pemilik apartemen, masih berjalan dengan santai seakan tidak peduli, berjalan dan berjalan di depannya. Adit dak ada pilihan selain mengikuti saja, daripada ia tersesat di gedung ini dan harus menghadapi bau-bau yang tidak sedap ini seharian.

 

            “anu…” Adit membuka pembicaraan. Pemilik apartemen menoleh. Tatapan matanya tidak mengenakkan. Adit menelan ludahnya sedikit sebelum melanjutkan pembicaraan. “su, sudah berapa lama Alvin tidak keluar kamar?”

 

            “dia bukannya tidak keluar kamar.” Pemilik apartemen itu menjawab dengan sigap, seakan tahu apa yang akan Adit katakan. “dia menghilang begitu saja.”

 

            “apa?” sudah jelas bahwa Adit tidak mengerti apa yang dikatakan pemilik apartemen ini. Pemilik apartemen itu malah terus berjalan, menaiki tangga dan masuk ke lantai baru tanpa menjelaskan maksud dari perkataannya barusan. “maaf, apa maksud anda…”

            “temanmu itu,” pemilik apartemen menyela. “menghilang begitu saja dari dalam kamarnya tanpa memberitahuku. Sedangkan kamarnya terkunci dari dalam.” Pemilik apartemen itu berkata dengan suara serak yang membentak. Ia lalu terbatuk-batuk.

 

            Setelah berjalan beberapa lantai, mereka berdua sampai ke lantai ketujuh, lantai paling atas. Adit yang terengah-engah mengikuti pemilik apartemen mencoba menarik nafasnya dengan berat ketika pemilik apartemen membuka pintu dari kamar, ketiga dari ujung.

 

            “kau tahu, terakhir kali temanmu ini keluar, dia seperti kehabisan daging. Badannya kurus sekali dan matanya menghitam. Aku tidak mau apartemenku menjadi kotor gara-gara dia.”

 

            Adit memperhatikan kondisi apartemen yang sebenarnya memang sudah kotor sama sekali. “yang benar saja.” Bisiknya.

 

            “apa?” tanya pemilik apartemen. Sepertinya ia mendengar keluhan Adit tadi.

 

            “maaf,” sahut Adit. “sejak kapan ia mulai bertingkah aneh, kalau boleh saya tahu?”

 

            “sejak beberapa hari ini. Ia selalu keluar kamar dengan tampang seperti mayat hidup dan kembali ke apartemen dengan wajah segar seperti orang kelebihan makan.” Pemilik apartemen itu menunjukkan wajah kesalnya saat memilih kunci yang akan ia masukkan ke dalam lubang kunci. Melihat banyaknya kunci di tangannya, sepertinya ini akan lama.

 

            “dan…ada yang aneh dengan kelakuannya? Maksudku…kata-katanya, tingkah lakunya, atau…”

 

            “jangan kau bertanya tentang aneh, anak muda. Temanmu ini sudah aneh dalam segala hal, bahkan dalam ukuran aneh milikku. Dia pernah meminum air kotor langsung dari gelas milikku.”

 

Apaan? Pikir Adit. Memangnya kenapa dengan itu? Dan terlebih lagi, kenapa ada air kotor di gelasmu?

 

Belum habis rasa bingungnya, pintu terbuka. Pemilik apartemen masuk ke dalam.

 

“ayo masuk.” Ajaknya. Adit menurut. Ia masuk ke dalam. Dan hal pertama yang ia rasakan adalah bau menusuk.

 

“apa-apaan nih!” sentaknya sambil menutupi hidung dan mulutnya dengan tangan kanannya. Sementara tangannya mencoba berpegang pada dinding ruangan. Licin. Terkejut, ia melihat ke tangan kirinya. Lengket dan licin.

 

“apa-apaan lagi ini!” Entah cairan apa, yang pasti dinding ruangan ini penuh dengan cairan lengket ini. Tidak terlalu kental, tapi meresap di permukaan. Adit jijik, dan mengelap tangannya di mantel yang tergantung di dinding. Untungnya, mantel ini kering.

Pemilik apartemen tidak menghiraukan keluhan jijik Adit dan terus berjalan masuk.

 

“ayo kesini.” Panggilnya. Adit mengikuti. Begitu sampai ke kamar dalam, Adit semakin terkejut bukan main. Langit-langit, dinding, dan tempat tidur, lemari, jendela, bahkan sudut-sudut kamar, tertutup oleh minyak yang kental. Minyak itu menetes dari langit-langit, membasahi sudut ruangan. Minyak yang ada disini kelihatan berbeda dengan yang ada di dinding depan. Minyak yang ini tidak meresap, namun menggumpal. Meskipun kelihatannya tidak banyak, tapi Adit tahu bahwa volumenya cukup untuk mengisi satu tangki besar penuh. Namun anehnya minyak yang itu sama sekali tidak merembes kemana-mana lagi. Lokasinya tepat berkumpul ke satu tempat. Ke tengah ruangan. Membentuk genangan.

 

“apa-apaan ini? Ini minyak apa?” Adit berteriak pada pemilik apartemen. “baunya…ya ampun…” pemilik apartemen diam saja sambil menghadap ke genangan itu.

 

“disini mungkin tempatnya.” Ujar pemilik apartemen itu. Ia lalu berjalan mendekati genangan itu. Dan menjulurkan tangannya. Adit menahan mual saat pemilik apartemen itu mencolek genangan minyak yang menggumpal dan memperlihatkannya ke Adit. “ini keringatnya.” Ujarnya dingin.

 

“keringat? Keringat siapa?”

 

“kau tidak kenal baunya?”

 

“apa?”

 

“ini keringat temanmu.”

 

Adit terbelalak. Mendengar bahwa genangan lengket itu adalah genangan keringat yang menggumpal, ia langsung membalik badannya, berlari keluar ruangan. Mencari jendela. Ia ingin muntah. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun tidak ia temukan jendela dimanapun. Gila! Jendelapun tak ada, pantas apartemen ini kumuh sekali! Pikirnya sambil menahan mualnya. Lalu ia melihat ada tong sampah di sudut ruangan. Ia berlari secepat kilat, dan memuntahkan semua yang ia makan tadi pagi ke dalam tong itu.

 

“brengsek!” teriaknya. “brengsek! Brengsek! Bau sekali!” seisi perutnya serasa keluar semua. Apa yang ia makan pagi ini rasanya terdorong naik. Keluar melalui sela-sela mulutnya. Bahkan ada sedikit yang keluar melewati hidungnya. Namun perasaannya lega. Setelah keluar dari atmosfer kamar yang sengak itu, rasanya fresh. Meskipun koridor lantai ini pengap dan lembab sekali, rasanya masih seribu kali lebih baik daripada berada di dalam sana bersama dengan cairan lengket yang menggenang itu.

 

“hei. Kesini.” Panggil pemilik apartemen dari dalam kamar. Suaranya menggema jauh. “kesini sebentar. Cepat.”

 

“se, sebentar!” seru Adit membalas. Perutnya mulas. Kepalanya pusing. Bau itu masih tertanam di kepalanya. Samar-samar masih ia cium baunya.

Setelah puas memuntahkan isi perutnya, Adit kembali ke kamar. Namun suasana di kamar berbeda dari tadi. Atmosfernya lebih menekan. Udaranya lebih sesak. Namun karena telah merasa mual sekali, ia jadi lumayan terbiasa. Namun ruangan terasa kosong kemana perginya pemilik apartemen?

 

“pak?” panggilnya.

 

Tak ada jawaban.

 

“pak?” sekali lagi ia memanggilnya.

 

Lagi-lagi, tak ada jawaban.

 

Merasa sudah ditinggalkan, Adit berkacak pinggang. Memikirkan apa yang harus ia lakukan dengan kamar ini. lalu handphonenya bergetar. Ia membukanya, dan mendapati sebuah pesan. Dari Alvin.

 

“Alvin?” Adit terkejut. Ia membuka pesannya. Pesannya berisikan kata-kata absurd yang tidak dimengertinya.

 

Adit.

Sakit.

Adit.

Tolong.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

 

“apa-apaan, Vin?” Adit langsung menekan tombol call number dan menunggu Alvin mengangkat handphonenya. Berdering sejenak, namun tak ada jawaban. “ayo, Vin…angkat dong! Kau dimana sih!” keluhnya. Ia mengelap keringatnya yang merembes akibat pengapnya ruangan di kamar.

 

Lalu, ia mendengar suara. Suara dering nada panggil. Suara beat 2 nada. Suara ponsel Alvin. Suaranya tenggelam-timbul. Samar-samar. Adit menengok kesana-kemari, mencari asal suara ponsel Alvin. Ditengoknya ke balik lemari, tidak ada. Dibukanya tas yang digantung, tidak ada. Lalu dimana? Tiba-tiba langkahnya terhenti di ruang tengah. Telinganya menangkap bunyi itu. Seakan tahu darimana asalnya, ia menoleh perlahan.

 

Itu dia. Ponsel Alvin. Beserta sarung tangan yang kelihatannya sedang menggenggam ponselnya. Di ruang tengah. Tepat di atas genangan keringat itu. Kenapa aku tidak menyadarinya dari tadi? Mungkin karena genangan keringat itu yang menghitam di bawahnya.

 

Adit meraih ponsel itu dengan sapu tangannya. Dengan jijik dilapnya bekas-bekas lendir yang menempel dan diperiksanya ponsel itu. Tertera disitu daftar terakhir orang orang yang dihubungi Alvin sebelum ia menghilang. Ternyata ia menghubungi hampir semua orang yang ada di buku teleponnya saling selang beberapa menit. Dan nomor ponsel Adit berada di urutan terakhir yang dihubunginya. Adit meneguk liur. Kalau baru saja Alvin menghubunginya, berarti ia masih ada di dalam ruangan ini kan? Lalu kenapa hanya ada ponselnya saja disini?

 

“Alvin! Keluar kau!” teriaknya. “jangan main-main!”

 

Hening.

 

Adit menekan tombol “search message by name” di ponsel Alvin. Ia mengetik namanya disitu. Mencoba mencari tahu apakah ada pesan lain yang dikirim Alvin padanya.

 

“brengsek, brengsek benar kau Vin. Apa maksudnya semua ini hah?” geramnya. Ponsel Alvin masih menunjukkan “search” di messageboxnya. Dan ketika window itu tertutup, muncul daftar message yang dikirimkan Alvin pada Adit, semuanya belum tersampaikan oleh operator.

 

980 Messages waiting to be sent…

 

Adit terbelalak. Apa-apaan ini? gila? Semua pesan singkat itu isinya sama. Sakit, sakit, tolong, sakit, sakit. Ia menekan kursor, menggeser panel message tapi semua pesan isinya sama. Kata-kata aneh yang tidak jelas. Ia melemparkan ponsel Adit ke lantai dengan keras. Brak!

 

“sudah cukup! Aku mau keluar!” teriaknya kesal. Ia melangkah ke luar ruangan, dentuman kakinya jadi keras. Tepat dengan kekesalannya yang memuncak. Nafasnya memburu. Bukan karena rasa lelah, bukan karena rasa takut, tapi atmosfer yang tidak nyaman ini sudah masuk ke dalam syarafnya. Menekan aliran nafasnya. Membuatnya pusing, membuatnya susah berfikir. Membuatnya…ingin melihat terus ke minyak lengket itu. Entah ada daya tarik apa yang muncul dari  genangan itu, ia serasa tertarik ke dalam dimensinya. Merasanya ingin mendekat. Sekarangpun, ia merasakan paling tidak sedikit rasa kehilangan, seperti kehilangan orang yang dikenalnya. Entah apa yang terjadi. Entah apa yang membuatnya merasa seperti itu. Entah, entah.

 

“bentar, dong.”

 

Adit terdiam.

 

Telinganya bergerak, memastikan apakah yang didengarnya tadi benar-benar sampai di telinganya. Benar-benar terdengar. ia menoleh, memperhatikan pintu apartemen yang terbuka. Bau tidak enak tercium samar-samar. Adit menyipitkan matanya. Memperhatikan setiap celah, setiap tempat, setiap sisi sisi gelap dari tiap sudut apartemen yang kusam itu. Well, semua apartemen kusam, tapi mengingat bahwa apartemen yang satu ini mempunyai sesuatu yang ‘spesial’, membuatnya tidak mengindahkan apartemen lain yang bersebelahan.

 

“halo?”

Panggilnya.

 

Tidak ada jawaban.

 

“halo?” sekali lagi.

 

Hening.

 

“pemilik apartemen kemana, sih?” benaknya. Ia mendekati pintu depan apartemen itu. Ia memperhatikan langit-langitnya, hanya untuk memastikan sesuatu yang tidak ada. Lalu ia melangkah masuk. Kembali masuk ke dalam apartemen neraka itu. Ia yakin sekali suara tadi memanggilnya. Iapun yakin bahwa yang memanggilnya itu seseorang yang ia kenal. Seseorang yang sangat akrab dengannya. Suara Alvin.

 

“ALVIN!” ia berseru. Hening. Sama seperti tadi, hanya bunyi gemeritik hujan membentur atap yang terdengar. namun baunya tidak lagi menyengat seperti pertama kali ia masuk ke dalam sana. “Alvin, keluar kau!”

 

Bodoh sekali, pikirnya. Memanggil orang yang tidak ada. Tapi, kalau Alvin tidak ada di kamar ini, siapa yang tadi memanggilnya? Apa ini karena pengaruh atmosfer, sehingga derikan angin melewati sela-sela ventilasi terdengar seperti orang memanggil? Ataukah hanya pikirannya yang menggila karena stres menghadapi hal tidak jelas ini? ada apa ini sebenarnya? Ia membatin. Ia melangkah masuk ke dalam dengan kesal, namun masih berhati-hati. Lantainya berderik. Ia melewati koridor, hingga sampai ke ruangan tengah.

 

Disana ia melihat seseorang. Figur pria, membelakanginya, berdiri di atas genangan keringat tadi. Adit terdiam. Kaget! Jantungnya tak bisa berhenti berdetak kencang. Nafasnya tiba-tiba memburu. Tekanan atmosfer yang tidak nyaman ini membuat tubuhnya seperti koma,- tidak bisa menggerakkan satu jaripun. Hanya bibirnya yang bisa bergerak. Mengeluarkan suara terbata-bata.

 

“si-si-si-siapa?” pekiknya.

 

Figur pria itu tidak menjawab. Ia malah masih membelakangi Adit sambil terlihat seperti menjaga keseimbangannya agar tidak jatuh.

 

“JAWAB!” bentakan tiba-tiba ini keluar dari mulut Adit. Suaranya menggema ke seluruh koridor. Figur itu mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya, sebuah ponsel. Ia menekan beberapa nomor, lalu mendekatkannya ke telinganya.

 

Tiba-tiba, ponsel Adit berdering.

 

Adit begitu kaku sehingga tidak bisa mengangkat handphonenya. Ia hanya bisa memandang handphonenya berdering dan berkelip dari saku bajunya.

 

“apa-apaan…” ujarnya. Tetapi handphone Adit mempunyai teknologi mesin penjawab. Sehingga siapapun yang menelepon, akan meninggalkan pesan. Dan…apakah figur itu akan meninggalkan pesan atau apa?

 

Nogia technology, silakan tinggalkan pesan anda.

 

Tuuut…

 

“Adit.”

 

Adit terdiam. Matanya terbelalak, mendengar suara dari speaker handphonenya, sekaligus suara figur di depannya ini berbicara bersamaan. Figur itu terdiam sejenak, mengambil nafas panjang. Lalu ia berbicara,-

 

“sakit.

Sakit.

Sakit.

Sakit.

Tolong.

Sakit.

Tolong.

Sakit.”

 

Adit terbelalak. Nafasnya semakin sesak. Badannya menggigil. Keringatnya bercucuran deras, membasahi lantai. Keringatnya yang jatuh langsung mengalir ke arah figur itu, ke dalam genangan.

 

“kamu berkeringat, adit?” tanyanya. “bagaimana kalau menjadi keringat?”

 

Adit tak bisa menjawab.

 

“ya? Jadi keringat ya? Gabung ya? Ayo ya?” suara keringat itu berubah jadi suara anak-anak yang terdengar merayu.

 

APA-APAAN, MENJADI KERINGAT SEGALA?

 

Sementara Adit kebingungan, figur itu badannya bergerak kesana-kemari, kepalanya memutar kesana-kemari. Hanya saja badannya tidak bergerak dari tempat awalnya. Adit hanya bisa memperhatikan figur itu dengan penuh kebingungan dan keringat dingin.

 

Dan tiba-tiba, gerakannya berhenti. Senyap. Hening beberapa saat sebelum figur itu akhirnya berbalik ke hadapan Adit.

 

Pemilik apartemen. Wajahnya wajah pemilik apartemen! Di dadanya yang terbuka, muncul kepala Alvin, yang menghilang. Wajahnya senang sekali kelihatannya. Membuatnya terlihat konyol. Adit, hanya tertegun ketakutan. Figur itu melangkah keluar dari dalam genangan, menghampiri adit. Dari setiap langkahnya terdengar bunyi cipratan. Cplak, cplak, cplak…

 

“kamu tahu, bergabung dengan kami menyenangkan, lho.” Ucap pemilik apartemen.

 

“dunia kami ribuan kali lebih baik daripada duniamu yang indah ini.” lanjut Alvin.

 

Mereka semakin mendekat, mendekat, mendekat, dan akhirnya hingga sampai ke depan wajah Adit. Mereka berdua menyeringai. Alvin membelalak bukan main.

 

“ikut ya?”

 

Gelap.

 

Suara hujan menyayat jantung.

 

---------

 

Siang menyengat. Sepertinya ini adalah hari terpanas dalam sejarah musim kemarau di kota detektif Alan, menyibukkan diri dengan hal yang membuatnya bisa lupa dengan panasnya kota brengsek ini, memutuskan untuk menyelidiki kasus yang ditawarkan sahabatnya lewat handphone. Sahabatnya menghilang akhir-akhir ini, dan hanya beberapa kali meneleponnya dengan suara aneh dan beberapa kata tidak jelas yang diulang-ulang. Sakit, atau apa, begitu. Tapi heck, ia tidak peduli sama sekali. Yang penting kasus ini bisa membuatnya lari dari rasa panas yang memanggang otak ini.

 

Mobilnya memarkir di depan apartemen. Garis polisi memenuhi pintu depan. Detektif Alan menyapa dua petugas polisi yang sedang berbincang di depan pintu.

 

“selamat siang, officer.” Sapanya. Dua orang petugas itu menyapa balik. “apa yang terjadi?”

 

“dua orang hilang dalam semalam, di tempat ini. satu orang hilang seminggu sebelumnya.”

 

Detektif Alan menyipitkan matanya. “modus?”

 

“tidak diketahui, sayangnya…dan anehnya, kami menemukan sesuatu yang aneh di apartemen tempat korban pertama.”

 

“apa itu?”

 

“kata tim forensik, sih…sebuah genangan yang mengangkut DNA tiga orang sekaligus.”

 

“DNA siapa?”

“ya DNA tiga korban itu.”

 

Detektif Alan terdiam sejenak. “kasus yang benar-benar aneh.” Lanjutnya. “genangannya sebanyak apa?”

 

Pembicaraan mereka terhenti sejenak ketika beberapa orang petugas terlihat mengangkat sebuah tong besar bersama-sama. Mereka oleng.

 

“hati-hati!” teriak salah satunya. Tong itu terselip, dan jatuh mengguyur aspal.

 

“sebanyak itu.” Lanjut petugas di depan detektif Alan. “dan masih ada sepuluh tong lagi.” Detektif Alan mencibir.

 

EPILOGUE

 

Angin berhembus, detektif Alan menaikkan kerah jasnya. Ia melihat ke langit, ternyata mendung.

 

“tumben.” Ujarnya. Lalu, handphonenya berdering kencang. Sambil masuk ke dalam apartemen, ia mengangkat handphonenya perlahan.

 

“halo?”

 

---------

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Rainy Oktavia Langitan
Rainy Oktavia L... at SWEAT (7 years 36 weeks ago)
40

feelnya berasa bangeeeet , keren :)

Writer keitaro3660
keitaro3660 at SWEAT (8 years 8 weeks ago)
80

wogh, deskripnya bener2 terasa. sampe2 agak mual pas si adit muntah2 @__________@
ini "disgusting type" horror eui..
mengerikan, dalam artian yg berbeda dari takut >.<

Writer yellowmoon
yellowmoon at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

bagus sekali

Writer Samara Dahana
Samara Dahana at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
90

Halo salam kenal. Cerita yang penuh teka-teki, bikin penasaran, dan pastinya enak diikuti ^__^

Writer liza is rin
liza is rin at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

selamat! cerita anda telah membangunkan sang pecinta cerita horor! hihihi..

Writer enjelin choi
enjelin choi at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

detektif alan jadi korban berikutnya ya.
menegangkan jg. >.<

Writer centuryno
centuryno at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
90

lumayan merinding.. oh ya ada untuk awal kalimat langsung pake huruf kapital, ^_^

Writer Kurenai86
Kurenai86 at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

wah, deskripsinya bikin serasa ngebayangin sendiri gimana kumuhnya tuh rumah.
.
Ada beberapa kesalahan dalam nulis huruf besar dan kecil, kk.
awal paragraf dan awal kalimat harusnya dikasih huruf besar.

Writer dansou
dansou at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

Cerita kakak berhasil membuat saya merinding disko dengan sukses ;-)

Writer dee_86
dee_86 at SWEAT (8 years 28 weeks ago)
80

Nice..