"Sorry, Gue bukan Gay" (awal)

Hari belum berangkat siang, namun kemacetan belum juga usai. Deru mesin kereta api mengubah niat Sissy untuk antre di kemacetan menuju pusat kota. setelah menunggu setengah jam, akhirnya KRL ekonomi dari selatan datang. Petugas kemanan sibuk mengusir penumpang yang duduk diatap kereta. Pintu masuk kereta sudah dijejali penumpang yang kegerahan. Sebagian bergelantungan di pintu kereta. Penumpang yang turun di stasiun Pasar Minggu lebih sedikit daripada penumpang yang naik. Kereta bertambah padat. Udara dalam gerbong bercampur bau ketiak. Tubuh penumpang saling merapat dan bertukar keringat.

“Copet…awas copet” terdengar jeritan halus perempuan dari depan pintu kereta.

Gemuruh suara penumpang saling mengingatkan, namun hanya sesaat dan kembali tenang. Sang pencopet berlari senang. Entah dia ada dimana. Mungkin ikut berjejal dengan penumpang lain sambil mencari mangsa baru atau ikut turun di stasiun Tebet.

Tak sampai setengah jam, Sissy sudah tiba di stasiun Juanda. Ia membuka PDA phone yang sedari tadi tersembunyi di pojok tas. Ada 3 panggilan dengan nomer yang sama. Nomer telepon fix line dari kantor Roy. Panggilan yang sama setiap hari, ngalahin absen pagi dari kantor. Sissy tersenyum sendiri.

Ringtone lagu Dancing Queen dari PDA phonenya berbunyi, ah ini Roy. Panjang umur dia.

“Ya Roy?”
“Dimane lo?”
“Baru sampe stasiun Juanda”
“Tumben kesana, ada apa?” tanya Roy heran dari ujung telepon.
“Biasa, klien baru. Sekalian ngurus persidangan buat minggu depan”
“Si, gue punya gosip baru seputar Joglo, yahud banget deh. Loe pasti kaget dengernya”
“Apaan”
“Gak seru kalau ditelpon. Ntar malam aja gue ceritain. Kita ketemuan di food court biasa ya. Gue ngajak Tia sama Anton juga. Deh ya, bos gue lagi inspeksi mendadak nih. Daah”

Hati Sissy senyum senyum sendiri. Roy memang gelo. Sebenarnya yang punya kantor di Joglo itu Sissy dan Tia, tapi gosip terbaru justru datang dari dia sebagai alumni Joglo. Wakakakak

*****

Food Court lantai 4 disebuah mal ditengah kota malam itu penuh, maklum hari ini adalah hari gaul nasional karena besok kebanyakan kantor libur. Tidak sulit mencari sosok Roy yang tinggi besar dengan rambut cepaknya diantara meja-meja yang penuh terisi. Ia ambil tempat duduk di tengah ruangan dekat jendela.

“Sorry Roy, macet jadi telat” kata Sissy tersenyum sambil duduk dihadapannya.
“Sissy, gue dah biasa kok sama ngaretnya lo. Naik busway kok macet. Gue dah setengah jam neh” jawabnya sambil menggerutu.
“Maap deh, Tia sama Anton mana?” sambil celinguk ke kanan dan kiri.
“Dia lagi pacaran. Tadi dia telpon gue, katanya kena macet di kuningan. Eh dia malah batalin kesini. Mau ketemu Doni aja di pasar festival. Anton mendadak harus keluar kota. Katanya ada novum baru dari kasusnya yang lama”
“Yee, tuh anak. Eh Gosip apa Roy?” dengan penuh rasa ingin tau.
“Gue laper nih, pesan makan dulu ya”

Suara tawa mereka membahana, padahal Cuma dua orang. Roy memang paling cerdas kalau soal kabar-kabari seputar Joglo. Malam itu Roy cerita soal bos Joglo yang ngejar-ngejar kliennya, sorang artis penyanyi dangdut yang baru saja cerai. Mangkok baso kedua sudah datang, tapi gosip dari Roy belum juga habis. Ampun deh.

Tiba-tiba Roy mengajak Sissy pergi dari Food Court itu. Wajahnya tampak ketakutan dan sesekali tas kulit coklat yang diselempangkan di pundaknya di tarik tarik menandakan ia resah. Sambil jalan keluar food court Sissy bertanya heran.

“Kenapa lo, bakso gue kan belum habis. Sayang tau”
“Si, lo tau rombongan cowok-cowok yang duduk dibelakang lo gak? Yang menghadap ke gue?”
“Iya, kenapa? Cakep-cakep lagi”
“Ada satu cowok yang flirting ke gue. Kedip-kedip mata gitu. Gue kira dia kelilipan”
“loh knapa emang?”
“Iya, pertamanya dia senyum ke gue. Gue kira dia temen gue. Ya gue senyumin lagi. Eh taunya flirting ke gue makin sering. Sampai lambain tangan segala. Emang gue Homo” katanya jutek bin judes.
“Hahahaha…” tawa paling keras Sissy pecah. Beberapa pengunjung mall yang di lewati mereka ikut melirik.
“Roy, ke toko buku aja yok, disana pasti lo aman deh” ajak Sissy
“Yuk deh, gue juga mau liat buku baru”

Dengan eskalator, mereka menuju ke toko buku di lantai dasar. Tak berbeda dengan food court di lantai 4, toko buku ternyata juga penuh. Jakarta memang tak pernah sepi, dimanapun berada. Apalagi malam sabtu seperti ini. Hiburan yang paling murah dan tak membosankan hanyalah mall yang saat ini bisa dijumpai di semua sudut kota. Materi jadi ukuran untuk mengubah gaya hidup penduduknya. Sebuah kemenangan untuk hedonisme.

“Tas lo gak dititipin Si?”
“Enggak ah, gue bawa aja”
“Gue juga deh”

Mereka berpencar di dalam toko buku. Sissy menuju rak buku novel. Banyak novel baru yang belum dibacanya. Sissy mencari beberapa judul yang menarik perhatian.

“Sissy, kita pulang aja yu” ajak Roy sambil menarik tas Sissy.
“Yee, gue lagi cari novelnya John Grisham terbaru. Bentar”
“Ayo Si cepet. Mau beli gak? Cepet bayar” setengah memaksa sambil menyeret lengan Sissy.
“Ih, knapa sih lo. Aneh banget hari ini. Biasanya paling betah di mall”

Mereka langsung menuju kasir dan menyelesaikan pembayar. Langsung bergegas keluar toko buku. Seperti ada yang memperhatikan, Sissy menengok ke belakang. dilihat seorang lelaki muda yang cukup tampan dengan buku terbuka ditangannya menatap Roy. Bukan menapat Sissy.

“Roy, ada yang ngeliatin lu tuh. Cakep banget”
“Masih liatin gue gak?”
“Tadi si iya, sekarang gak tau. Siapa Roy, lu kenal? Dari cara ngeliatnya kayaknya dalem banget” tanya Sissy selidik
“Tadi waku gue lagi baca buku Jakarta Undercovernya Muammar Emka dia deketin gue. Dia bilang buku itu bagus. Ya gue jawab aja, heeh. Eh dia senyum ke gue. Gue pikir pikir, siapa ya orang ini. Apa gue kenal. Gak lama, dia ngajak kenalan dan ngasih kartu nama. Waktu gue ambil kartu nama dia, tangan gue dipegang Si. Trus dia natap gue lama banget sambil senyum senyum”
“Terus”
“Terus … kayak tukang parkir aja lu. Ya udah, gak beres tuh orang. Gue tinggal aja”
“Kayaknnya dia naksir elo deh” goda Sissy
“Sissy, sorry ya, gue bukan gay, Huh!!!” katanya dengan suara tegas bin jutek.

Tawa Sissy pecah seketika itu juga. Mukanya memerah menahan geli mengingat peritiwa malam ini. Bayangkan aja, dalam waktu 3 jam ada dua gay yang naksir Roy. Sissy menduga, kalau ada satu lagi gay yang naksir dia, pasti Roy dapat gelas cantik.

Hahaha.

bersambung...

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Fany Ijo
Fany Ijo at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (10 years 10 weeks ago)
80

brati si Roy cantik doonk, sampe ditaksir 2 cowoq getu..
hheeheeehee..
bagus lhooo..
ayo lanjutannya jangan pake lama..

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 22 weeks ago)
80

Kasian bgt si r0y, hehehe

Writer solitude_heart
solitude_heart at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 23 weeks ago)
70

Menurut seorang sahabat gw, di dunia ini ada beberapa kategori manusia, sekian persen straight, sekian persen ac-dc, sekian persen belok, sekian persen gak tau. Nah, kalian ada di bagian mana ni?? hehehhe =p cheers

Writer imr_aja
imr_aja at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
80

Boleh donk... kita orang kenalan... ?

Writer ima_29
ima_29 at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
70

Urusan Gay, gw juga bergaul dengan orang2 seperti itu...banyak yang ganteng gila!!!Mupeng!!wakakakaka

Cewek ga cuma saingan sama cewek untuk ngedapetin cowok, tapi juga mesti saingan sama cowok juga, kikikik...

Ada yang kurang di tulisan ini, beda sama tulisan mbak yang sebelumnya...

Writer windymarcello
windymarcello at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
70

kesannya justru yang homo si roy deh..menghibur sekali..sayang, prolognya kepanjangan

Writer Littleayas
Littleayas at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
80

si roy tampangnya manis kali jadi gay2 pada suka gitu..hehe

Writer hephaistion
hephaistion at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
80

I love it... Homophobia seems somehow cute... in this case :D

Writer miss worm
miss worm at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
70

walau bukan kesukaanku ^^ dan kangen tulisan khas-mu yang begitu kuat.

oh, ya.. penulisan 'di' bisa diedit ^^. untuk kata tempat, 'di' nya dipisah, beda dengan awalan 'di' untuk kata kerja pasif ^^

ditunggu terus tulisan yang lain

Writer bluer
bluer at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
50

arien_arda : hehe, lagi pingin buat yang ringan.

Arsela : sama...peace lho?

chatarou : hehe, jangan jangan beneran ya? hahahaha

redshox : kan dah gue gambarin. tinggi besar dengan rambut cepak. tas kulit coklat yang disandang dibahu. itu salah satu ciri yang menandai mereka. tapi disini gue gak tulis. kayaknya memang perlu banyak perbaikan...

Writer redshox
redshox at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
100

Emang dandanannya spt apa sih? ok para gay naksir??? ha ha ha ha ....

Writer Chatarou
Chatarou at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
90

menjiwai banget nih ceritanya...

jangan-jangan....

Writer ArSeLa
ArSeLa at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
100

SUMPAH DEH AKU JUGA BUKAN GAY..HE HE HE..NICE STORY

Writer arien arda
arien arda at "Sorry, Gue bukan Gay" (awal) (12 years 24 weeks ago)
70

jgn2 roy nya bergaya agak manis.. jadinya ditaksir mulu sama gay...

gosipnya apa seh? kok gak diceritain..? jd penasaran..
dieksplore lg deh pasti menarik..
ok..
mana gaya bluer..??