Simpul Tali Yang Artistik

 

Setelah selesai dengan segala persiapan, tanpa melepas gunting dari mulut, Zul turun dari kursinya lalu bertelanjang kaki menginjak ubin-ubin yang dingin. Sambil mendongak ia memperhatikan bahwa hasil karyanya tidak terlalu mengerikan seperti yang biasa dipertontonkan di dalam film, malah, pada sudut tertentu, pesona artistik simpul tali yang dibuatnya jauh lebih terpancar daripada aura kematian yang biasanya berpendar di sana.

            Lalu apa? Dirinya membatin. Apa yang kamu tunggu? Sisi lain dirinya yang lebih berani ikut menimpali. Tidak tahu, tapi tunggulah sebentar lagi, ucap Zul hampir berbisik. Selalu masih ada waktu untuk perenungan di saat-saat seperti ini.

            Seseorang mengetuk pintu kamarnya. Tidak terdengar bunyi “tok tok tok” seperti pada umumnya tapi lebih menyerupai suara “dob dob dob” yang dihasilkan oleh tumbukan bagian sisi dekat kelingking dari tangan yang terkepal. Seseorang di luar sana pasti ingin segera menemuinya walaupun dia mungkin bisa melihat bahwa lampu kamar Zul telah dimatikan dan Zul bisa saja tidak sedang berada di kamarnya, tapi orang ini terus saja mengetuk. Seolah-olah itu adalah pintu kamar mandi, dengan asumsi bila terkunci pasti ada orang di dalamnya, segelap apapun kelihatannya dari luar.

            “Ya, ya, aku sudah bangun, tunggu sebentar.” Ketukannya berhenti. Tapi Zul membutuhkan waktu tambahan untuk bisa menggapai pintu tersebut. Ada beberapa hal yang harus ia sembunyikan dan ia pikirkan termasuk bila tamunya bertanya mengapa lampu kamarnya mati di jam seperti ini.

            Zul langsung memberi jawaban ,”Aku sudah mau tidur tadi,” dia yakin tamunya akan mendengar dari balik pintu. Dia menggeser potongan-potongan tali di lantai dengan kakinya lalu setelah menghembuskan napas, dia membuka kunci pintu kamarnya. Dia bahkan tidak bertanya siapa.

            Marin berdiri di ambang pintu. Rambut keriting, alis tebal, sedikit bintik jerawat mempengaruhi warna kulit wajahnya atau mungkin itu karena efek redup pencahayaan ruang apartemen yang membuatnya terlihat pucat. Marin tinggal di kamar di seberang kamar Zul, tapi jarak yang dekat tidak menjamin sebuah jalinan persahabatan bisa diikat, mengingat hubungan mereka hanyalah sebatas sapaan atau semacam simbiosis antar penghuni apartemen tua di pinggiran kota yang menyangkut pinjam-meminjam barang. Sesekali soal uang. Dan untuk pinjam-meminjam itulah, Marin men-dob-dob-dob pintu kamar Zul.  

            Kira-kira hanya seperempat bagian saja pintu itu dibuka. Zul menjulurkan mukanya sementara tiga per empat anggota badannya malu-malu untuk menampakkan diri.

            “Kenapa harus gelap-gelapan?” Marin tidak pandai berbasa-basi.

            “Tadi kubilang, aku habis tidur,” Zul menjawab.

             “Dengan TV menyala keras-keras?”

            Dan tiba-tiba saja suara TV yang menyala keras-keras itu menggoyang gendang telinga Zul dalam kesadaran yang baru saja tiba seperti habis dari toilet. TV sedang menyiarkan acara kuis tebak-tebakan. “Oke mari kita lihat nilainya saat ini, regu merah masih memimpin dengan poin 100, sementara regu biru...”

            “Ya, aku lupa mematikannya. Pasti tadi ngantuk sekali rasanya,” Zul bisa merasakan bahwa itu bukan jawaban terbaiknya. “Ada perlu apa?”

            “Mmm, aku mau pinjam gunting. Aku mau menggunting celana panjangku. Kalau tidak salah kamu punya gunting merah yang besar itu, aku pernah meminjamnya dulu. Sekarang aku ingin pinjam lagi. Sebentar saja. Guntingku terlalu kecil, cocok buat mencukur rambut, kamu bisa meminjamnya kalau mau.”

            Marin mengajukan sebuah penawaran barter yang canggung sifatnya. Kebiasaan lama Zul untuk selalu mencukur rambutnya sendiri dijadikan motif utama Marin dalam menunjukkan niat baiknya, walau cenderung agak dipaksakan. Terutama karena selama ini Marin termasuk sering meminjam barang-barang milik Zul.

            “Ah, tidak usah. Sebentar, kucari dulu,” dengan otomatis Zul menutup pintu kamarnya. Dia membutuhkan privasi untuk mengingat di mana ia meletakkan gunting merahnya itu. “Pertanyaan selanjutnya berkaitan dengan olahraga. Siap. Oke, tahun 1986 adalah tahun yang menggembirakan bagi rakyat Argentina. Di musim panas yang meriah itu sekitar 30 juta penduduk Argentina mengadakan perayaan di Meksiko saat untuk yang kedua kalinya, trofi piala dunia sepakbola menjadi milik mereka. Adalah Diego Maradona, kapten tim sekaligus pahlawan sepanjang masa yang lewat permainan cantik maupun kontroversi legendarisnya telah mampu membawa...

            Pelan-pelan Zul mengitari kamarnya. Keberadaan Marin di balik pintu sedikit mengusik ketenangannya sehingga ia lebih memilih untuk menyerah dan mengatakan bahwa guntingnya hilang entah ke mana.

            “TEEET!” suara di TV menggema. “Regu merah?” “Tangan Tuhan!” “Anda yakin? Saya belum menyelesaikan pertanyaannya, tapi, iya betul sekali! Tambahan poin untuk regu merah” “PLOK-PLOK-PLOK!” “Sayang sekali regu biru, tampaknya tadi ragu-ragu. Tidak apa-apa, masih ada kesempatan, ayo semangat!”

            Saat pintu hendak dibuka, Zul baru menyadari gunting merah itu ia pegang di tangan kirinya dari sejak tadi. Gagang plastik dengan goresan putih tipis dan kulit yang mengelupas serta kilatan besi tajam dari dua pelat sama panjang yang saling menindih dan berpelukan, terbaring di atas telapak tangannya yang memerah. Entah bagaimana ia bisa memegangnya dan tidak pernah menyadari akan hal itu. Zul lalu membuka pintu kamarnya, seperempat bagian saja.  

            “Kamu lagi telanjang di dalam sana?” tanya Marin ketika melihat wajah Zul yang menyembul dari pintu kamarnya.

            Zul tidak bergerak dari posisinya, namun kedua alisnya seketika menyerupai dua ekor ulat bulu yang mencoba berdiri. “Apa?” dia terdengar seperti laki-laki tuli.

            “Kamu tidak sedang memakai baju kan? Sedang apa di sana sampai harus menutup pintu segala,” Marin terdengar sedikit aneh di sini karena kalimat tanya yang ia utarakan keluar dari nada yang seharusnya. Ia menyampaikannya dengan datar, menyembunyikan rasa ingin tahunya pelan-pelan.

            Zul memang sedang tidak memakai baju atau atasan lain. Ia bertelanjang dada dan menurutnya tidak ada yang salah dengan itu. Tapi Marin membuatnya harus memastikan bahwa ia masih memakai celananya seperti yang ingat. Celana panjang jeans warna biru yang mulai memudar dalam warna putih. Bagian bawahnya ia lipat sedikit karena terlalu panjang dan tidak terlalu nyaman bila dibiarkan menjulur. Celana tersebut adalah celana kesukaannya dalam dua tahun terakhir dan mungkin bisa dibilang sudah terlalu sering ia pakai. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa dalam beberapa kesempatan, celana itu mendongkrak rasa percaya dirinya dengan baik dan kenyataan bahwa kondisinya saat ini sudah jelek membuatnya khawatir.

              Marin seperti menunggu jawaban walaupun itu tidaklah terlalu penting buat dirinya. Di lain pihak, Zul juga merasakan bahwa keberadaan dirinya sudah tidak terlalu penting untuk keduanya dalam situasi sekarang. Ia berpikir bahwa waktunya sudah selesai. “Tentu saja aku memakai celana dan ini guntingnya,” ujarnya singkat.

            “Oke. Nanti kukembalikan,” Marin berbalik. Zul menutup pintunya.

            Lima detik kemudian Zul membuka pintunya lagi, “Hei, ambil saja guntingnya.”

            “Untuk saya?” Marin kembali berbalik, “Kenapa?”

            “Kamu lebih membutuhkannya daripada saya,” Zul menutup pintunya lagi perlahan. Tidak ada reaksi atau ucapan yang ia tunggu dari lawan bicaranya. Dia berada di kamarnya lagi sendirian.

            “Terima kasih!”

            Percakapan mereka pun berhenti.

 

***

 

Zul bersandar di pintu kamarnya. Menghela napas panjang dengan ketenangan yang telah susah payah ia kumpulkan. Ia menatap tali pancangnya lagi, yang menjulur dari langit-langit dan diam membisu di atas sana. Masih di dalam pikirannya, ia menangkap pesona artistik dari simpul tali tambang yang ia buat tersebut.

            Ia berpikir untuk memotretnya. Tapi kemudian, menurutnya itu ide yang bodoh.

            Ia tidak beranjak, mengamati tali itu dan kursi  kayu di bawahnya dari jarak perimeter yang ia tentukan sendiri. Kebiasaan lama memang sulit dihilangkan. Setiap kali ia selesai membuat sesuatu, ia selalu meluangkan waktu beberapa menit untuk sekedar memandangi hasil karyanya sebelum akhirnya ia menikmati fungsi dari ciptaannya tersebut. Perfeksionis. Tidak akan berpaling sebelum semuanya dipastikan benar, berfungsi, tanpa cela, dan tak dapat disangkal lagi, sempurna.

            Ia yakin kepalanya akan muat di dalam sana. Ia tahu talinya tidak akan lepas dan luat menahan beban tubuhnya.

            Ia yakin prosesnya akan berlangsung cepat. Sedikit kesakitan tak apa-apa lah asalkan sebentar saja dan hening tanpa gangguan.

            Ia tidak begitu peduli tentang apa yang akan terjadi setelah itu. Mungkin dia akan tetap hidup, melihat, bernapas, dan berjalan di tempat yang tampak sangat asing. Mungkin dia akan menjadi hantu dan tak bisa menyentuh apapun atau bahkan tidak memiliki bayangannya sendiri dan hanya boleh keluar di malam hari. Mungkin yang terjadi adalah dia hanya akan tertidur, terbaring, tak merasakan apa-apa, tak bermimpi, tak bisa dibangunkan, hanya berbaring, benar-benar mati. Tamat.

            Ia lebih meyakini (dan mengharapkan) kemungkinan yang terakhir. Ia tidak mau berpikir bahwa jarak api neraka hanya tinggal beberapa jengkal dari lantai, seperti yang biasa ia dengar dari ceramah beberapa temannya yang puritan. Masa bodoh lah!

            Cahaya dari pesawat televisi sedikit menciprati bagian yang bulat-berlubang dari rangakain tali itu. Sesaat kemudian, ia merasa sudah puas. Tinggal setengah langkah lagi.

            Tapi inikah saatnya? Ya, kenapa tidak.

            Siapa lagi yang harus ditunggu?

            Apa lagi yang mesti ditunggu?

            Ia berjalan mendekati kursi. Seperti seorang martir. Digirng dari penjara bawah tanah oleh dua orang penjaga yang masing-masing menggamit tangannya yang terikat di belakang. Diikat dengan ikatan yang kuat. Walau demikian, ia berjalan tegak, menatap kematian yang menunggu di depannya. Menghayati tiap langkahnya dengan gerak tubuh yang berani, Dan saat ia berdiri di samping kursi itu, ia menatap mata sang algojo, seperti sebuah perkenalan yang tidak formal dan agak canggung, dengan raut muka mengungkapkan: “Hei, apa kita pernah bertemu?”

            Mungkin. Seingatnya baru sekitar 3 hari terakhir ini pintu hatinya terketuk oleh  kematian.

            “Ah, tak perlu diingat-ingat lagi lah, toh aku sudah sampai di sini sekarang,” ia meyakinkan diri dalam hati.

            Suara kuis di TV sedikit memeriahkan suasana.

            “Babak rebutan. Yang tercepat menekan bel dia yang harus menjawab. Bila salah, pertanyaan akan dilempar, namun tak akan mengurangi nilai. Saat ini masih regu merah yang memimpin. Tapi masih ada waktu untuk menentukan hasil akhir. Oke, siap-siap.

            “Pertanyaan tentang sejarah musik. Santai. Sebuah buku karangan Aldous Huxley berjudul ‘The Doors of Perception’ menginspirasi empat orang pemuda untuk membentuk sebuah band rock di tahun 60-an. Dimulai dari pertemuan dua orang mahasiswa film di Amerika, band ini lalu berkembang dan mendunia. Dengan lirik puitis, musik yang progresif serta vokalis yang kharismatik dan kontroversial, band ini turut mendefinsikan era generasi bunga di kala itu. Apakah nama grup band ini yang vokalisnya tewas bunuh diri di usia muda di dalam sebuah kamar hotel di Paris?”

            “TEET!”

            “Ya, regu merah?”

            “Mmm... ”

            “Waktu habis! Pertanyaan dilempar ke regu biru, sialhkan.”

            “Mmm, The Doors?”

            “Ya, jawabannya benar!”

            “PLOK PLOK PLOK!”

            Lalu kemudian bunyi “dob dob dob” lagi.

            Pintu kamar bergetar lagi.

 

***

           

Marin berdiri di depan pintu. Kemeja kotak-kotak yang sebelumnya ia pakai, kini berganti hanya tinggal kaos dalam saja, tanpa lengan dan bagian lehernya tampak melar. Putih bersih seperti baru diambil dari tempat cucian.

            “Maaf harus mengganggu lagi,” katanya berusaha bersikap sedikit sopan.

            Ya tentu saja, padahal sebentar lagi pesawatku lepas landas, pikir Zul. Posenya di depan pintu tidak berubah, masih menyisakan seperempat bagian dari 90˚ ruang gerak pintu kamarnya serta sodoran wajahnya yang tanpa ekspresi. “Mau apa lagi?” jelas sekali ia merasa kesal.

            Marin menangkap sinyal tersebut. Sifatnya yang selalu ingin tahu tanpa disadari telah menajamkan sisi perasanya dalam menerjemahkan kondisi emosi, raut wajah, gerak bibir, nada suara, bahasa tubuh, dan kedipan mata manusia. Karenanya ia tidak langsung menjawab. Diam sejenak menyusun kata-kata yang tepat untuk dilontarkan sambil berusaha memberikan kesan bahwa dia juga merasa tidak enak.

            “Tidak apa-apa kan kalau aku pinjam barang kamu lagi? Hanya barang remeh temeh, bukan barang yang penting, tidak terlalu mahal juga, biasa saja seperti palu. Aku butuh palu buat memasang fotoku di dinding. Aku pernah dengar kamu sedang memakai palu di kamar dan mungkin aku juga ingin memakainya sebentar saja. Oh, sekali lagi terima kasih buat guntingnya tapi kalau kamu ingin memintanya lagi atau meminjam guntingku yang kecil untuk mencukur rambut atau apalah, datang saja ke kamarku.”

            “Ah tidak usah. Aku tidak memerlukannya lagi.”

            “Oh ya? Kamu punya gunting yang baru? Bagus kalau begitu.”

            “Bukan, cuma aku tidak memerlukannya lagi.”

            “Kamu tidak suka mencukur rambutmu lagi?”

            “Rambut? Lama-lama rambut ini juga akan rontok.”

            Marin tertawa kecut, semacam partisipasi terhadap selera humor yang tidak ia mengerti. “Ya, benar juga. Lagipula kamu terlihat bagus dengan rambut panjang. Eh, kamu suka kue tart? Kebetulan aku punya, kamu suka?”

            “Ah tidak usah, aku tidak lapar, terima kasih. Kamu ulang tahun?”

            Marin tersenyum agak masam. “Ya. Sekitar jam 12 tadi malam.”

            “Aku tidak tahu hari ini hari ulang tahunmu. Aku tidak tahu kamu bisa berulangtahun juga, maksudnya kamu tidak pernah cerita selama ini. Kalau begitu, selamat ulang tahun.”

            “Ya, aku juga tidak suka merayakan ulang tahun, tapi─ kamu yakin tidak mau mencoba kuenya?”

            “Mmm, oke lah, tapi nanti saja. Sisakan saja buatku. Saat ini aku benar-benar tidak bernafsu untuk makan apapun.”

            “Nanti akan kusiapkan. Kuharap rasanya enak dan kamu suka.”

            “Ya, nanti saja.”

            Penolakan halus serta kecenderungan Zul untuk berbicara singkat dan padat memberikan kesan seseorang yang sedang terusik. Marin melihatnya dengan jelas, maka ia pun berhenti berbicara, memperhatikan Zul yang menghela napas panjang seperti melakukan usaha mengeluarkan sesuatu dari hidung. Keduanya sama-sama tidak bersuara. Dengan canggung, Marin mencoba untuk bertingkah wajar dan bersahabat di bawah tatapan kosong lawan bicaranya. Mungkin lebih baik jika dirinya segera pergi, atau menghilang, atau mungkin mengecil sehingga Zul tidak akan memperhatikan, atau berubah menjadi Zul, atau memulai topik pembicaraan baru yang menarik walaupun dibumbui sedikit bualan.

            “Aku yang membuat kue tart-nya sendiri,” ia berkata.

            “Ya,” jawab Zul tanpa kesan, “sisakan saja buatku.”

            “Tidak terlalu susah membuatnya. Menurutku siapapun juga bisa melakukannya asalkan punya buku resep yang bagus. Itu saja. Sisanya adalah improvisasi karena ini adalah tentang penampilan. Tapi, rasanya juga tidak mengecewakan, kuharap begitu.”

            “Aku tidak tertarik.”

            Marin sedikit tersentak. “Oh ya?”

            “Aku tidak tertarik membuat kue tart sendiri.”

            “Oh.”

            “Bukan sesuatu yang bisa kulakukan.”

            Zul benar-benar mengatakan perasaannya. Bukan hanya tidak tertarik untuk membuat kue tart, tapi juga tidak tertarik untuk mendengarkan Marin berlama-lama lagi membicarakan sesuatu yang tidak berguna. Sama halnya dengan tidak tertarik untuk menemui siapapun juga sekarang atau membuang waktu ketidakjelasan yang dihadirkan oleh lawan bicaranya itu. Maka ia merubah tatapannya menjadi lebih tegas. Menyiratkan pada Marin, kenapa masih ada di sini?

            Sambil berdehem, mungkin untuk menghilangkan kecanggungan, Marin menggerakkan tangan kanannya lalu berkata, “Aku mau pinjam palu.”

            “Oh ya,” ucap Zul seolah-olah mendapatkan kata yang telah susah-payah berusaha ia ingat-ingat. Sekali lagi, ia berbalik dan menutup pintunya lalu bertanya di dalam hati, Nah di mana palunya?

            Iklan deterjen muncul di TV.

            “Lihat, hanya dalam beberapa menit saja kemeja kotor ini berubah menjadi kemeja baru. Putih. Mengkilat. Seperti... “      

            Tidak ada yang putih mengkilat seperti itu di dalam kamar Zul atau bahkan di dalam lemari pakaiannya. Ia lebih suka mengenakan pakaian berwarna gelap. Tapi kaos dalamnya berwarna putih. Sedikit keruh oleh sisa keringat dan partikel debu. Tergeletak dengan kerutan di bawah kursi. Tadinya kaos itu melekat di kulit Zul namun akhirnya ia hempaskan ke lantai tanpa ia sadari karena ia merasa kepanasan, karena ia membutuhkan udara sejuk menempeli badannya yang telanjang.

            Ia meraih kaosnya. Palu yang ia cari terlihat di atas lantai.

            Ia membawanya. Membuka pintu lalu menyerahkan pada Marin. “Nih, ambil saja. Buatmu sekalian.”

            Awalnya Marin menyangka kata-kata Zul adalah sikap kesal-sarkastis yang ditujukan padanya karena entah bagaimana, pada satu sisi, kehadirannya telah menyebabkan semacam gangguan dalam hidup Zul. “Tidak perlu seperti itu, aku hanya pinjam sebentar saja,” jawabnya.

            “Tidak apa-apa, aku serius. Ini buatmu saja. Aku tidak memerlukannya lagi.”

            “Serius?”

            “Ya, ambil saja. Tidak apa-apa,” Zul seperti berubah menjadi lebih bersemangat.

            “Aku tidak membuatmu marah kan?”

            “Aku tidak mengerti. Ambil saja. Kamu lebih memerlukannya.”

            “Oke,” Marin mengambil palu itu dengan gerak-gerik segan bercampur rasa malu  dan sedikit rasa heran. “Kalau kamu mau tart-nya, datang saja ke kamarku.”

            “Ya, nanti saja. Aku tidak lapar.”

            Marin berdiri mempertahankan posisinya. Sepertinya belum beranjak pergi. Ada urusan lain yang ia tunggu tapi Zul tak mau berlama-lama lagi. Ia mengangguk pelan, dengan bibir sedikit bergerak hendak tersenyum, lalu mundur ke belakang dan bersiap menutup pintunya.

            “Tunggu, Zul.”

            “Ya, ada apa lagi?”

            “Tidak apa-apa kan, kalau aku sekalian minta pakunya juga?”

 

***

 

Zul menatap layar televisinya. Tiap beberapa detik gambarnya berganti, begitu pun dengan intensitas cahaya yang dipancarkannya. Kadang menyilaukan, kadang redup, tapi tak pernah gelap karena TV itu terus meyala bahkan tanpa disadari pemiliknya.

            Sejak kapan TV itu menyala, Zul tidak ingat.

            Dan tampaknya tidak terlalu peduli.

            Lalu bagaimana dengan kue tart? Tak pernah terpikir untuk membuatnya. Tapi tidak ada salahnya mencicipi sedikit. Mungkin sebagai makanan penutup, anggaplah begitu, walaupun sedikit ironis karena kue itu dimaksudkan untuk perayaan ulang tahun.

            “Memakan kue ulang tahun di hari yang indah seperti ini di mana hari esok tak bisa kutunggu lagi,” pikirnya, “sungguh ironis. Tapi akan menjadi cerita perpisahan yang menarik.”

            Lamat-lamat terdengar suara palu dan pakunya sedang dipakai di seberang kamar.

            Tak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa dia akan menghabisi nyawa bertepatan dengan hari ketika orang lain, tetangganya, merayakan kelahiran. Dari sudut pandang tertentu, ini jelas karya takdir, yang selalu tidak berhenti melahirkan ironi hidup. Tapi dengan banyaknya kematian dan kelahiran di dunia ini, lalu apa artinya? Ini hanya satu dari banyak kejadian, kejadian yang sama, kejadian yang berulang-ulang. Tidak ada yang perlu untuk terlalu diistimewakan dari keduanya; kematian atau juga kelahiran. Kapan, bagaimana, dan kenapa. Mati tetaplah mati. Meninggalkan kehidupan. “Dan aku telah memutuskan untuk meninggalkanmu selamanya.”

            Di bawah tali ia berdiri. “Lupakan kue tart, aku telah melahap semua yang kubutuhkan untuk bisa berdiri di sini.”

            Ia naik ke atas kursi untuk yang kesekian kalinya. “Roket siap melumcur. 10. 9. 8,” ia berbisik pelan seperti sedang mengucapkan mantra atau doa dengan khidmat dan ketenangan tinggi. Ia tahu apa yang ia inginkan.

            “Apa nama pesawat ulang-alik yang dikendarainya yang pada akhirnya gagal mendarat di permukaan bulan?”

            “TEET!”

            “Regu merah!”

            “Mmm... ”

            “Ayo, waktunya terus berjalan. Cepat, cepat. Ya, sayang sekali. Dilemparkan ke regu biru.”

            “Apollo 13!”

            “Benar sekali!”

            “4. 3. Du... Ada bunyi ketukan?“ Zul bertanya-tanya dengan gerak refleks mengerutkan dahinya. “Sepertinya bukan. Sampai mana tadi? Ah tunggu apa lagi?”

            Tali itu sudah manis mengalungkan lehernya sementara kedua kaki telanjang Zul berjinjit seperti kaki yang terbungkus sepatu berhak tinggi. Ditemani suara tepuk tangan dari dalam TV, ia memantapkan arahnya menuju tujuan yang berikutnya. Ia tidak bisa menampik bahwa keringat muncul di sekitar dahinya, butir-butir kecil dari rasa takutnya muncul dari balik kulit kepala, kulit yang melindungi pusat kendali otomatisnya. Dan dari sana, pada detik-detik terakhir seperti ini, sekelibat muncul wajah ibunya. Tapi hanya sebentar. Cepat sekali. Nol koma sekian detik. “Ah sialan!”

            Dari tadi ia mencoba untuk mengabaikannya tapi suara ketukan di depan pintu kamarnya terlalu mengganggu.

            Batal lagi. Ia melompat dari kursinya, turun dengan kesal. Siapapun yang akan ditemuinya di luar sana, ia berjanji untuk tidak akan menyembunyikan rasa kesalnya. Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, ia membuka pintunya lalu berteriak, “apa!?”

            Tidak ada jawaban dari sang tamu yang kaget.

            “Kamu lagi! Mau apa sekarang?”

            “Maaf.”

            “Sudah jawab saja! Mau pinjam apa lagi?”

            “Maaf sekali lagi. Cuma sekali ini saja.”

            “Kamu boleh pinjam kamarku sekalian kalau mau!”

            “Maaf, tapi jangan teriak-teriak.”

            “Aku tidak peduli! Ayo bilang saja apa maumu,” Zul mengangkat tangannya.

            “Kertas,” jawab Marin, sedikit terintimidasi.

            “Terus?”

            “Itu saja. Cukup.”

            “Omong kosong! Pasti ada lagi. Ayo, sebut saja! Pasti kamu sedang berusaha untuk membuat uang sendiri dengan kertas-kertas itu kan! Kamu punya buku resep untuk membuat uang sendiri juga ya?”

            “Jangan berteriak,” Marin menempelkan jari telunjuknya ke bibir. Ia merasa terganggu oleh sikap Zul, dan juga tersinggung. Seketika kepalanya sedikit menunduk, seolah hatinya baru saja dipentung oleh palu yang besar sekali. Dia memang bukan orang yang selalu memiliki uang. Perkataan Zul tadi cukup menusuk dan menyakitkan walaupun pada sudut tertentu bisa terdengar lucu juga. Sambil tetap menunduk, Marin menjawab, “tidak, aku perlu untuk menulis.”  

            “Aku tidak peduli kalau kamu mau meledakkan kamarmu sekalian malam ini. Yang jelas aku tidak akan meminjamkanmu apa-apa lagi,” kali ini Zul merendahkan frekuensi suaranya, namun tetap dengan kekesalan yang sama.

            “Ya, ya, aku mengerti.”

            Zul menatap wajah Marin dengan sangar. Ia tidak percaya orang di depannya telah menunda hal penting yang akan ia lakukan. Ini pertama kalinya ia membentak Marin, setelah sekitar dua tahun terakhir mereka saling mengenal.

            Zul masuk ke kamarnya memungut berlembar-lembar kertas kosong dari atas meja. Dengan cepat ia kembali ke depan pintu kamar lalu menyerahkan kertas-kertas tersebut walaupun ia tidak bertanya berapa lembar kertas yang diperlukan Marin. “Ambil semua. Gratis.”

            “Terima kasih. Terlalu banyak, tapi terima kasih.”

            “Oke. Beres sudah.”

            “Ya. Maaf aku mengganggumu. Tapi ini bukan berarti kamu tidak mau mencicipi kue-ku kan? Aku sudah menyiapkannya. Ini,” Marin menyerahkan sebuah piring kecil berisi irisan kue tart.

            Zul tidak menyadari bahwa sejak tadi Marin membawa piring tersebut untuknya. Pikirannya tidak dapat teralihkan dari rasa gemas yang ia rasakan.

            “Sudah kubilang, aku tidak lapar, tidak mengerti juga ya?”

            “Ya, aku tahu. Tapi ambil saja, sekalian sebagai permintaan maafku.”

            “Aku tidak butuh apa-apa darimu. Ambil saja,” Zul memutar badannya dan hendak menutup pintu.

            “Kenapa? Zul!”

            “Apa lagi?”

            “Kenapa tidak mau terima kuenya? Ayolah,” Marin meyodorkannya lagi.

            “Kamu ini tuli ya? Kubilang aku tidak mau.”

            “Kenapa?”

            “Aku tidak tahu, yang kutahu adalah aku tidak mau! Mengerti!?” Zul berbalik dan membanting pintunya.

            “Tapi setidaknya kamu bisa menerima kuenya,” suara Marin terdengar dari balik pintu. “Aku tahu kamu kesal, tapi apa susahnya menerima ini. Aku sudah sengaja menyiapkannya untukmu. Tinggal diambil saja. Ini tidak sopan namanya.”

            Zul bersandar di pintu. Menggelengkan kepalanya dengan muak.

            “Zul?”

            Zul tidak menjawab. Berharap Marin segera pergi.

            “Ayolah Zul.”

            Tak ada tanggapan.

            “Kenapa harus menolak?”

            “Pergilah!” ucap Zul dari dalam kamar.

            “Ini tidak sopan,” kata Marin. Lalu langkahnya mulai menjauh.

 

***

 

Sendiri di kamar, Zul misuh-misuh di dalam hati sambil berjalan mondar-mandir. “Tidak sopan? Tidak sopan dia bilang? Jelas ada yang salah dengan isi kepalanya. Brengsek sekali berani menuduhku seperti itu padahal sendirinya sudah membuang-buang waktuku seenaknya. Pinjam ini, pinjam itu, benar-benar sialan.

            “Dasar orang tidak berguna, terlalu banyak melakukan hal-hal tidak penting.  Aku tidak percaya kalau dia tidak akan datang lagi. Pasti nanti dia ketuk pintu lagi. Lalu dengan wajah pura-pura segan, pura-pura bersalah, senyum palsu, dia pinjam barang lagi dengan sejuta alasan. Dia akan datang lagi dan meminjam pulpen karena si idiot itu lupa kalau dia tidak punya alat tulis! Luar biasa.

            “’Aku pinjami gunting kecil buat cukur rambut, aku kasih kue tart buatan sendiri’, cuh! Banyak tingkah sekali. Buat apa itu semua? Tanpa dia pun aku masih bisa hidup. Kalau ada maunya saja dia menawarkan kebaikan semacam itu. Biasanya juga ia tidak pernah bergaul denganku. Benar-benar merepotkan. Kalau aku gantung diri sekarang, lalu beberapa menit kemudian dia datang lagi, dia pasti tidak akan malu-malu buat membuka pintu kamar ini dan menyelamatkanku. Sama saja bohong!

            “Kalau aku kunci kamar lalu matikan TV, tidak ada yang mengira aku ada di dalam dan mayatku akan membusuk seperti tahi. Si tolol itu tidak akan mengetuk pintu kamarku kalau TV-nya dimatikan. Dan mayatku akan akan ada di sini selama tiga hari. Tapi aku tidak mau ditemukan membusuk dan dilihat oleh banyak orang, atau bahkan masuk koran, atau bahkan masuk berita di TV. Sialan! Berarti aku harus menunggu dia tidur. Tapi, kapan? Kenapa dia yang harus mengganggu jadwalku? Dan kenapa aku yang harus menyesuaikan dengan kelakuannya? Aku tidak pernah tahu kalau dia bisa tidur. Selalu saja terdengar suaranya di tengah malam. Baru kali ini aku sadar kalau tetanggaku itu benar-benar menyebalkan!

            “Apa lagi yang bakal dia pinjam nanti? Gayung buat dia pakai mandi. Sabunnya sekalian. Kalau boleh handuk juga. Lalu dia datang lagi untuk meminjam hair dryer buat mengeringkan rambut keritingnya. Coba tebak Marin, aku tidak punya!

            “Dia bakal datang lagi. Lihat saja. Begitu aku mengalungkan tali di leher, tok-tok-tok, tok-tok-tok. Mungkin harusnya hari ini aku nonton TV saja sampai mati. Mati bosan. Mati ketawa. Kuis brengsek!”

            Zul mengarahkan pandangannya ke layar televisi. Pembawa acara kuis mengantarkan sebuah pertanyaan.

            “Pada tahun 1961, sebuah tembok dibangun yang memisahkan dua negara, yaitu Jerman Barat dan Jerman Timur. Tembok ini lalu menjadi simbol perang dingin yang paling dikenal antara dua kubu kekuatan dunia kala itu, komunis dan kapitalis. Lalu pada bulan November 1989, massa sama-sama meruntuhkan tembok tersebut sebagai perayaan terhadap berakhirnya perang dingin dan terutama kemerdekaan bagi kemanusiaan. Potongan dari tembok tersebut adalah kenangan bersejarah bagi dunia. Pertanyaannya, apa nama kota tempat tembok ini dulu berada yang juga adalah ibukota dari negara Jerman?

            “TEET!

            “Regu merah!”

            “Emm... mmm... Munn-chen.”

            “Salah! Regu biru!

            “Berlin!”

            “Tepat sekali! Dengan begitu regu biru berhak maju ke babak bonus!”

             Zul mendekatkan wajahnya ke TV. Ia berjongkok sambil mencondongkan badannya. Kedua matanya menyelidik dengan sirat keheranan. “Marin?” ia bertanya dalam hati.

            “Sayang sekali regu merah harus pulang  setelah sebelumnya sempat memimpin skor. Tapi seperti itulah permainan.”

            Seakan kurang yakin, ia mengerutkan dahinya seperti sedang menganalisis sesuatu. Lalu kesimpulannya adalah, “Marin? Sedang apa dia di dalam TV? Kalah lagi. Sayang sekali. Padahal dia bisa dapat uang lumayan banyak.

            “Kenapa dia tidak cerita kalau dia masuk TV? Setidaknya kasih tahu kapan acaranya ditayangkan. Daripada malah bolak-balik datang pinjam ini-itu. Tidak perlu malu lah walaupun kalah juga, yang penting kan masuk TV. Tapi wajahnya tidak berubah, tetap jelek seperti aslinya, seperti tadi.  

            “Ah tapi kalaupun dia menang juga dia pasti diam-diam saja. Uangnya bakal dia makan sendiri sampai perutnya kembung. Bisa dia pakai seenaknya. Tapi begitu uangnya habis, baru dia ingat aku. Ketuk kamar lalu bilang mau pinjam-pinjam lagi sambil merengek. Yang kaya begini yang namanya parasit.”

             Sambil masih berjongkok di depan pesawat televisi, ia memutar lehernya untuk menatap tali itu lagi. Diam tidak bergerak. Seperti seorang kekasih yang sedang marah, diam dengan angkuh sambil menyilangkan tangan mengharapkan seisi dunia ini untuk bersujud di hadapannya. Tali itu tergantung, terabaikan, bahkan tiupan angin tak sedikit pun menyentuhnya. Dan dari tempat Zul melihat, tali itu masih terlihat artistik. Lalu di meja dan kursi di sekitar tali itu, kini tampak tak seramai sebelumnya.

            Gunting yang ia pakai untuk memotong tali itu sudah tidak ada. Palu dan paku-paku untuk memasangkan tali itu di langit-langit juga telah raib. Sementara kertas-kertas yang salah satunya ia gunakan untuk menulis pesan terakhirnya itu (“Kehidupan yang menyakitkan lebih buruk daripada kematian yang menyakitkan”) kini sudah tak bersisa.

Semua alat yang ia pakai untuk persiapan bunuh dirinya itu telah lenyap, karena ia tidak akan membutuhkannya lagi, karena semuanya telah ia serahkan pada Marin, karena Marin mungkin lebih membutuhkannya, “Karena bisa jadi Marin juga ingin...” pikiran Marin terhenti.

Mari regu biru ikut saya menuju ke podium di seberang.”

            Marin berdiri. Berjalan menuju pintuk kamarnya. Pelan-pelan ia buka dan menatap langsung kamar Marin di seberang yang lampunya masih menyala. Ia berjalan keluar, tanpa sengaja kakinya menginjak sepiring kecil kue tart yang tergeletak di lantai. “Sial.”

            Ia mendekat pintu kamar Marin. Sayup-sayup terdengar suara radio yang menyala, tengah menyiarkan lagu-lagu lama.

            Ia mengetuk pintu kamar Marin. Tak ada jawaban.

            Ia ketuk lagi. Tapi tetap nihil. Ia ketuk sampai bunyinya terdengar dob-dob-dob. “Hei Marin, buka pintunya. Aku mau barang-barangku kembali.”

            Zul mengetuk pintunya tanpa jeda. “Ayo cepat. Kamu ada di dalam kan?”

            Ia menekan gagang pintunya dan ternyata pintu tidak terkunci. Ia masuk ke dalam dan melihat Marin ada di sana.

            “Tuh kan, lihat!” ia berteriak kesal, “dasar parasit pengacau. Sedang apa kamu gantung diri seperti itu? Harusnya aku, brengsek! Aku sudah merencanakan ini semua!”

            Tubuh Marin menggeliat. Kedua kakinya berlari di udara. Kedua tangannya menggenggam tali yang mengikat lehernya sementara wajahnya memerah hampir kehabisan napas.

             Zul menghampiri Marin bermaksud untuk melepaskan ikatan yang menjeratnya sambil terus berceramah. “Kamu tahu? Ini adalah rencanaku tapi hancur karena ulahmu. Terus-terusan datang pinjam barang-barangku padahal aku sudah tinggal menggantung. Dan sekarang, lihat, aku malah menolong kamu yang mau bunuh diri. Lucu sekali.”

            Marin berhasil diturunkan. Namun badannya lemas dan ia terus memegangi tenggorokannya.

            “Apa yang harus kuperbuat sekarang?” Zul bertanya pada Marin. Marin tidak menjawab karena suaranya tampak sulit untuk keluar. Ia memberi isyarat meminta air untuk diminum.

            Zul bergerak, mengitari kamar Marin yang beraroma kue tart itu untuk mencari gelas dan air. Namun ia tidak menemukannya. “Di mana?”

            Marin menunjuk badan Zul.

            Zul tidak mengerti maksudnya, “hah? Di mana?” Marin menunjuk semakin tegas.

            “Oh ya tentu saja,” ujar Zul setelahnya, “pinjam sama aku lagi kan? Segera datang, bos!” ucapnya agak sinis.

            Zul lau pergi menuju kamarnya.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Marendra Agung
Marendra Agung at Simpul Tali Yang Artistik (7 years 37 weeks ago)
100

haha.keren.

Writer Marendra Agung
Marendra Agung at Simpul Tali Yang Artistik (7 years 37 weeks ago)

akhrnya! Saya temukan juga jejak tulisan anda (arkiatsema) setelah ribuan tahun mencari karya-karya imajinasi anda yang betapa membuat saya terkesima. Terimakasi karna sudah membawa saya jalan-jalan kedunia tak tersentuh.
Hehe.saya udah baca karya karya anda di kolomkita.
Dan skarang saatnya melanjutkan perjalanan saya berwisata dengan karya anda di web ini. Salam_:)

Writer arki atsema
arki atsema at Simpul Tali Yang Artistik (7 years 35 weeks ago)

haha terima kasih banyak atas waktunya

Writer ichea
ichea at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 13 weeks ago)
50

ceritanya bgus tetapi terlalu panjang :)

Writer arki atsema
arki atsema at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 7 weeks ago)

terima kasih ichea

Writer dansou
dansou at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 16 weeks ago)
90

Wow keren! Nggak ada yang bisa saya kritik. Cuman terlalu panjang dan kata-kata yang dicetak miring dalam dialog yang bukan dari TV agak mengganggu saya.
.
Endingnya unpredictable. Keren. Dan saya suka adegan kuis TV yang menyela cerita ini. Rasanya makin nyata.
.
Salam kenal

Writer arki atsema
arki atsema at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 16 weeks ago)

terima kasih atas apresiasinya, salam kenal juga.

Writer kakarlak
kakarlak at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 16 weeks ago)
100

Ceritanya menarik, walau pada akhirnya sedikit lucu.......

Writer arki atsema
arki atsema at Simpul Tali Yang Artistik (8 years 16 weeks ago)

hahaha, terimakasih