Taik!

VIOLENT LANGUAGE!

 

TAIK semakin merajalela!

Kelakuan Taik semakin semena-mena. Taik menitah orang-orang itu-ini-itu-ini: Belikan es teh manis di warung belakang sekolah! Pakai uangmu dulu! Lihat PR Matematika, awas kalau salah, harus benar semua! PR Biologi dan Fisika juga! Pijat bahuku! Pegal! Hapus papan tulisnya! Hei, yang piket hari ini, bersihkan kolong mejaku sebersih-bersihnya! Ingat, pelajaran olahraga nanti, semua harus mengalah! Ujian besok siapakan contekan! Mana jatah keamanan harian! Awas kalau ada yang berani ngadu guru! Maka bersicepatlah semua jelata melakukan segala titah yang sudah diludah. Tak ada tapi-tapian. Tak ada nanti-nantian. Dua kroconya, yang kami juluki Penjilat Taik dan Pengulum Taik, sudah berkacak-kacak pinggang di depan sana. Mata mereka yang sok-sok berkuasa jelalatan menilik sekeliling kalau-kalau ada perintah Taik yang tak kami indahkan.

Sebentar-sebentar si Pengulum Taik akan membentak. Mukanya memang dungu, otaknya memang tak berisi, tapi bogemnya sudah lebih dari cukup untuk dijadikan ancaman. Konon, ia pernah dikeroyok lima orang, dan menang dengan gampang. Taik memang piawai sekali memanfaatkan kedunguan Pengulum Taik sebagai tameng sekaligus senjata. Taik mampu memengaruh Pengulum Taik sedemikian rupa; entah dengan bujuk rayu, entah dengan suara-suara lembut-sendu. Taik seakan-akan seperti tuan sang penyelamat jiwa yang harus dilindungi oleh Pengulum Taik. Seolah-olah ada hutang budi tak terkira yang membuat Pengulum Taik merasa terikat batin pada Taik. Ia sudah dicuci otak sedemikian rupa sehingga di otaknya hanya kata-kata Taiklah yang paling benar dan paling dibenarkan. Semua yang bermaksud menghalangi apalagi melukai Taik akan dilindasnya dengan segenap jiwa dan tenaga. Semua yang dititahkan Taik akan mutlak ditelannya masak atau mentah. Namun entah sebaliknya.

Penjilat Taik hanya berkacak-kacak saja di sisi kanan Taik sambil tercengir memandangi rakyat jelatanya. Matanya menyipit sinis. Semua orang bisa menebak apa-apa saja yang ia rasakan sekarang. Walaupun bibirnya mengatup rapat, lidahnya terbahak puas, sepuas hatinya yang bakal kecipratan segala keberkahan yang didapat Taik; kolong mejanya ikut disapu, dapat bagian es teh manis, dapat makanan rampasan, dapat persenan jatah keamanan, dapat persenan selundupan dari kas kelas, dapat sontekan PR, tugas, dan ulangan. Intinya, Penjilat Taik bakal kecipratan siraman kemakmuran. Penjilat Taik berbangga hati karena semua kemakmuran itu tak lain merupakan buah dari hasutan-hasutan yang dibisikkannya pada Taik. Penjilat Taik ini begitu cerdik dan licik, sehingga apa-apa rencana yang satu dari kami pikirkan untuk tak mengindahkan titah Taik selalu saja bisa ditebak. Seolah ia bisa melebur ke udara sekitar, lalu merasuk ke otak-otak kami untuk membaca segala pikiran kami. Kalau ada satu-dua dari kami yang ketahuan kabur, tak lain pasti karena aduan si Penjilat Taik. Selanjutnya, melayanglah bogem-bogem besar Pengulum Taik. Tiada pandang bulu.

Sedangkan Taik cuma bertengger di sana, di singgasana sementaranya sampai bel berbunyi, dan serta-merta Taik harus patuh karena guru akan segera tiba dan menduduki singgasana itu. Sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dari Taik, ia tak secerdik dan selicik Penjilat Taik dan bogemnya tak sebesar Pengulum Taik. Yang membuatnya begitu berpengaruh tak lain ialah kemampuannya dalam memengaruhi. Taik seakan sudah ditakdirkan untuk memengaruhi, menghipnotis segala pasang mata yang ingin ia hipnotis. Mengelabui pikiran-pikiran, lalu mencuci otak mereka yang tertipu daya begitu saja. Taktik itulah yang ia gunakan pada kami sehingga ia bisa sukses menggengam tampuk kekuasaannya seperti sekarang ini. Sedemikian rupa Taik menyemproti bau busuknya dengan wewangian segala rupa. Mungkin pula ia sudah mandi kembang tujuh rupa tujuh malam untuk menyempurnakan taktik pengelabuannya. Sebegitu piawainya Taik mencitrai lubang hidung kami sehingga yang tercium di depan mata kami adalah sesosok yang begitu tampan dan rupawan, begitu arif dan alim, begitu berwibawa dan berkarisma. untuk dijadikan pemimpin kelas. Seminggu setelah itu, baunya menyeruak ke mana-mana. Hidup kami mulai sengsara ketika ia mulai menunjukkan rupa aslinya.

Akhirnya bel melengking. Taik dan dua kroconya bersegara kembali ke tempat mereka semestinya. Kami pun langsung menuju posisi masing-masing. Bu Guru Matematika akhirnya masuk juga.

Taik duduk di depan sana, seseblahan dengan otak kelas ini (jelata yang paling encer otaknya di antara kami). Tentu Taik yang menitahkan untuk duduk bersamanya. Tujuannya juga sudah jelas: untuk kepentingan ujian, tugas, PR, pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari bibir-bibir guru, dan, tentunya, untuk menjaga pencitraannya sebagai pemimpin kelas yang tak hanya adil dan budiman, tapi juga cerdas dan cerkas di mata para guru. Dua kroconya duduk mengekor di belakang. Sialnya, aku kebagian duduk di belakang dua kroconya. Di belakang Pengulum Taik pula, yang badannya tiga-empat kali lebih besar dan lebih lebar.

Kami punya cara sendiri melampiaskan segala emosi jiwa akibat ulah-ulah Taik. Salah seorang dari kami, biasanya yang duduk di barisan paling pojok dan paling belakang, akan merobek selembar kertas dari buku tulisnya. Lalu kertas itu akan digilir ke masing-masing kami dan ditulisi segala sumpah serapah. Tentunya kami melakukan semua ini dengan sangat hati-hati, tanpa sepengetahuan Taik, dua kroco Taik, ataupun guru.

Sekali-duakali aku menoleh ke belakang untuk memastikan sudah sampai di siapakah kertas itu dan masih berapa lama lagikah kertas itu bakal menancap di depanku. Aku sudah tak sabar memuntahkan segala kekesalan di kepala.

Oh, akhirnya kertas itu sudah sampai ke tangan rekan sebangkuku. Ia meraihnya, lalu bersicepat memindahkan kertas itu ke pangkuannya. Aku mengintip sekali-duakali, tentunya dengan sangat hati-hati agar tak dicurigai. Satu bagian halaman kertas itu ternyata sudah penuh, yang artinya hanya tersisa halaman sebelahnya untuk kami sumpahi. Temanku memutuskan untuk membaca sumpah serapah yang sudah tertulis terlebih dahulu sebelum menyumpahi. Ia terkekeh-kekeh, sambil menutup rapat bibirnya agar tak didengar oleh dua kroco di depan. Aku semakin tak sabaran, tapi aku harus bisa menjaga diri agar tak ketahuan.

Ah, akhirnya kertas malang itu sampai juga ke tanganku. Kuputuskan untuk membaca tulisan yang ada terlebih dahulu:

TAIK KAMBING! TAIK KEBO! TAIK ASU!—Taik mencret taik! Muka kayak taik! Mulut isi taik! Pantas, pantatnya kan di muka, yang keluar dari mukanya ya taik!—(Ada gambar taik sedang mencret lengkap dengan kroconya yang sedang menjilat dan mengulum)—Taik! Taik! Taik! Taik! Taik! Taik! Taik! Taik! Taik!—(Gambar taik berlapis-lapis)—Taik mati saja hanyut di sungai kuning busuk menyusahkan saja hanyut saja tenggelam saja mati saja ditelan sungai taik taik—(Setumpuk gambar vulgar)—

Aku tak bisa menahan diri untuk terkekeh-kekeh. Tanpa kusadari dua kroco di depan sudah menoleh. Mata mereka nanar. Sekejap kertas berisi sumpah serapah itu sudah berpindah ke tangan mereka.

 

MALAM itu, masih ditimpa oleh kejengkelan akibat tragedi kertas sumpah serapah tadi, aku memutuskan untuk bersemayam di depan akun Facebookku. Kupajang status Facebook baru:

Szar! Scheiße! Sranje! Merde! Merda! Mierda! Mala! Lort! Stront! Skit! Skatá! Paska! Pask! Pox! Der’mo! Dziarmo! Govno! Gówno! Hovno! Lay̆no! Tawagoto! Mut! Gluposti! Sūdi! Šūdas! Rahat! Jenjang! Đi tiêu! Bok! Xụ..... “Xụ A-Xụ!”

Tentu berbagai sumpah serapah asing, yang menurut Google Translate semuanya bermakna “kotoran,” itu ditujukan agar tak memamcing-maincing Taik atau dua kroconya yang terdaftar sebagai teman di akun Facebookku. Tak sampai semenit, statusku itu sudah diserbu.

taik?—ya—hahahahahahah!!!!—gimana besok? serius lo? —BOGEM!—lo tolol sih, bisa2nya kertas itu diambil—jadi gimana besok?—maaf.... tadi itu gw gak sadar—telat....—eh, entar orangnya baca lo—maaf—aduin?—aduin spa?—Guru?—bogem?—Terserah!—bogem?—kryok aja! Iya, keroyok aja!—cma tiga gitu. keroyok aja sampe mampus!—Pada berani? Jangan NATO!¹—Gimana? Gimana?—keroyok!—Yakin?—Sikat!—Hajar!—MAMPUS!—wkwkwkwkwkkw—eh, entar orangnya baca—atur rencana!—hati-hati orangnya baca!—hapus status ini, atur rencana di meseg aja!—TAIK!

 

RENCANA kudeta sudah kami siapkan matang-matang. Taik dan dua kroconya tak akan lagi bisa macam-macam. Kami semua sengaja datang lebih pagi, lalu menunggu Taik dan dua kroconya menyembul dari pintu kelas untuk menyatakan mogok dari kerja. Selanjutnya sederhana saja, kalau Taik dan dua kroconya berani macam-macam, kami akan bongkar segala wewangian pencitraannya yang selama ini sudah mengelabui lubang hidung guru-guru. Kalau ia mengancam bakal membogem kami apabila ia mengadu, kami akan balas mengancam mengeroyoknya. Sekelas versus tiga, masihkah dia berani? Kami tak akan tanggung-tanggung lagi, batu dan kayu bisa jadi turut andil tergantung situasi. Kami tak mau ditindas lagi. Kami tak mau diperbudak lagi. Bulat sudah tekad kami!

Begitu lama kami menunggu, lima menit, sepuluh, setengah jam, belum juga Taik dimuntahkan oleh pintu kelas itu. Tapi kami tetap tahan menunggu. Tekad kami tak tergoyahkan lagi.

Tiba-tiba saja bel melengking. Kami kebingungan karena pintu itu tak juga memunculkan sosok Taik ataupun dua kroconya. Kami lebih dikagetkan lagi ketika wali kelas mendadak masuk bersama Taik dan dua kroconya. Ada apa gerangan? Taik dan dua kroconya menyungging senyum kemenangan di depan sana. Sedangkan wali kelas malah memasang muka murka. Astaga, wali kelas mengeluarkan kertas sumpah serapah yang kemarin dirampas dari tanganku!

Taik!

¹ not action talk only

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Taik! (6 years 13 weeks ago)
90

suka sama komennya KD hehe. satu kata mjd nyawa cerita. biarpun pelakunya anak2 SMA (ya?)... tapi ini ungkapan anak SMA yang... begitulah :)) frontalnya sempet ngingetin sama joni ariadinata.

Writer playwithmsfrou
playwithmsfrou at Taik! (8 years 37 weeks ago)
2550

sadis kerennya..

Writer playwithmsfrou
playwithmsfrou at Taik! (8 years 37 weeks ago)

sadis kerennya..

Writer KD
KD at Taik! (8 years 40 weeks ago)
100

seandainya kata taik diganti, cerpen ini kosong. bagaimana mungkin kamu bisa menemukan satu kata yang menentukan 99 % isi cerita.
---------------------------------------------------------
geleng kepala

Writer H.Lind
H.Lind at Taik! (8 years 41 weeks ago)
100

Haih, sumpah speechless.
Keren banget cerpenmu kak.

Writer fruitpunchlover
fruitpunchlover at Taik! (8 years 41 weeks ago)
100

keren banget euy! empat jempol! :D

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Taik! (8 years 41 weeks ago)
100

Nitip poin aja deh. Gak ada yang bisa saia komen. Narasimu dewa, bang Jon. Permainan situasi di sini juga mantap.
.
Btw, gambarnya disturbing. Saia suka.

Writer nagabenang
nagabenang at Taik! (8 years 41 weeks ago)
70

As* tenan ending'e, wkwkwk~