Arisan Cerpen Romantis: Cinta Pertama di Vaduz

Sehelai daun maple jatuh menimpa rambut Axel Klutz saat ia berjalan menyusuri Städtle Strasse siang itu. Sambil merapatkan mantel abu-abu dan syal fleece-nya, ia mengusap rambut coklatnya, membuat daun maple yang berwarna kuning itu terjatuh dari kepalanya. Axel memperlambat langkahnya untuk mengamati daun maple yang berubah warna akibat musim gugur itu jatuh ke permukaan paving trotoar Städtle.

                Ia mendesah, mengeluarkan uap putih dari mulutnya seraya melanjutkan perjalanannya. Tak heran. Saat itu pertengahan bulan November dan hendak memasuki musim dingin di Liechtenstein. Terkadang, suhu bisa kurang dari lima puluh derajat Fahrenheit dan Axel tidak begitu menyukai suhu dingin. Namun, ia sangat menyukai musim gugur, terutama musim gugur di Vaduz. Musim di mana daun-daun pohon berubah warna menjadi kuning dan merah kecoklatan. Musim di mana daun-daun berjatuhan dari tangkai pohonnya, membuat jalanan bagaikan lautan daun. Dan juga musim di mana ia bertemu dengan cinta pertamanya. Di sini. Di Vaduz.

                Terakhir kali Axel ke Vaduz, Liechtenstein, ialah dua puluh tahun yang lalu ketika ia masih berumur tujuh tahun. Lahir dan besar di Vaduz membuat Axel sangat fasih berbahasa Jerman, bahasa resmi di Liechtenstein, meski ia sekarang tidak selancar dulu. Ibunya seorang Inggris sedangkan ayahnya orang Jerman yang tinggal di Liechtenstein, yang letaknya tak jauh dari sana. Ibunya adalah seorang turis dan kebetulan ia bertemu dengan ayahnya di sebuah restoran kecil di Vaduz dan akhirnya mereka berdua menikah di sini, di sebuah gereja kecil di Vaduz.

                Axel tinggal di Vaduz selama tujuh tahun ketika ibunya mengajak keluarganya untuk kembali ke Inggris. Hingga saat ini, ia belum pernah menjejakkan kakinya ke negeri kecil di antara Swiss dan Austria ini. Ke sebuah negeri indah, tempat sejuta kenangan masa kecilnya tersimpan.

                Ketika akhirnya mendapat sebuah kesempatan untuk kembali ke Vaduz, Axel benar-benar tidak sabar untuk segera berangkat. Ia mempersiapkan segalanya matang-matang jauh sebelum pesawatnya berangkat pagi tadi. Dari bandara Heathrow, perjalanan berlangsung selama satu jam menuju ke bandara Kloten di Zürich, Swiss. Liechtenstein barangkali salah satu negara di dunia yang tidak memiliki bandara dan itu sedikit membuat perjalanan Axel sedikit kacau. Meski demikian, Axel tampaknya tidak begitu keberatan ketika ia menaiki kereta dari Zürich ke Sargans, sebuah kota perbatasan antara Swiss dan Liechtenstein selama satu setengah jam. Ia terus tersenyum sepanjang perjalanan sambil melihat pemandangan Zürichsee—Danau Zürich—yang airnya biru jernih dari sisi kiri kereta. Axel masih saja menyunggingkan senyumnya ketika ia harus menaiki bus dari Sargans ke Vaduz, ke kota yang benar-benar ia rindukan. Perjalanan yang memakan waktu selama setengah jam itu benar-benar tidak terasa buatnya.

                Dan sekarang, Axel sudah menyusuri jalanan Vaduz. Ia hanya check-in beberapa menit di hotel, meletakkan beberapa kopernya, mengambil mantel dan ranselnya, dan sudah keluar lagi untuk berpetualang.

                Ia melirik arlojinya ketika ia melewati bagian belakang balai kota Vaduz. Sudah waktunya makan siang, meski ia terlambat satu jam dari waktu makan siangnya di London. Tentu saja. Perbedaan waktu antara Inggris dan Liechtenstein kurang lebih sejam. Tak heran perutnya sudah berbunyi dari tadi. Ia mempercepat langkahnya sambil melihat di sebelah kirinya, mencari café atau restoran.

                Seorang pria nyaris menabrak Axel saat ia mendadak berbelok, menemukan sebuah restoran mungil dengan dinding yang terbuat dari bata merah, dekat dengan Gemälde-Galerie—galeri lukisan. Pria asing itu bergumam, ”Pardon.” dan Axel hanya tersenyum sambil mengangguk. Ia sudah melupakan beberapa kalimat dalam bahasa Jerman dan ia takut mengucapkan kalimat yang salah. Pria itu tersenyum dan berlalu pergi. Axel masuk ke restoran bernama Roten-Apfel—Apel Merah—ketika pria yang nyaris menabraknya tadi hilang di balik kerumunan turis dan penduduk asli di Vaduz.

                Sebuah ruangan mungil dengan lukisan-lukisan imitasi milik van Gogh menempel di dinding bata restoran menyambut Axel ketika ia membuka pintu kaca restoran itu. Ada beberapa orang yang duduk di meja dan kursi kayu di sana, sambil menikmati kopi atau sepotong kecil torte. Beberapa orang pelayan berjalan ke sana ke mari, membawakan pesanan dan membersihkan meja. Axel memutuskan untuk duduk di kursi kayu, dekat dengan jendela tembus pandang. Dari sana, ia bisa mengamati orang yang silih berganti berjalan di trotoar Städtle dan mobil yang lalu-lalang di jalanan.

                “Gruezi—Selamat siang,” kata seorang wanita berambut pirang tiba-tiba. Ia mengenakan seragam pelayan yang berwarna biru dan sebuah buku menu ada di tangannya. Axel menoleh sejenak, lalu sang pelayan itu meletakkan buku menu di atas meja dan berkata dalam bahasa Jerman, “Ada yang bisa saya bantu?”

                “Sprechen sie Englisch?” balas Axel. Ia memutuskan untuk berbicara dalam bahasa Inggris saja, mengingat sudah hampir dua puluh tahun ia jarang berbicara dalam bahasa Jerman.

                Si pelayan itu tersenyum dan bergumam, ”Sure. What can I do for you?”

                Axel membuka-buka buku menu sambil berusaha mengingat-ingat apa saja makanan khas Liechtenstein yang ia pernah sukai semasa kecil dulu. Namun, akhirnya ia menyerah. Ia sudah lupa semuanya, kecuali beberapa hal. Akhirnya Axel menjawab, “Well, aku pesan Kasknopfle dan secangkir kopi hitam.”

                Pelayan itu mencatat pesanan Axel dengan segera lalu bertanya sekali lagi, “Ada lagi? Apa Anda tidak ingin memesan dessert? Torte barangkali?”

                Axel mengangkat bahu sambil berkata, “Aku tak suka makanan manis. Aku rasa itu sudah cukup.”

                “Baiklah! Akan saya ulangi. Satu Kasknopfle dan secangkir kopi hitam, itu pesanan Anda? Silakan tunggu sebentar!” ujar sang pelayan ramah. Ia lalu mengaitkan pulpen ke saku kemeja seragam pelayannya, membawa buku catatannya, dan meninggalkan Axel sendirian.

                Axel memandang Städtle Strasse melalui jendela tembus pandang di dekatnya. Banyak orang lewat di trotoar itu karena Städtle Strasse merupakan salah satu jalanan utama di Vaduz, tempat di mana sebagian besar objek wisata di Vaduz berada. Museum, galeri, Regierungs-gebäude—gedung pemerintahan—semuanya terletak di jalan ini.

                Tidak banyak yang berubah dari kota ini, pikir Axel. Ia sudah dua puluh tahun tidak kemari dan menurutnya tidak banyak hal yang berubah dari Vaduz, kecuali penduduknya yang semakin banyak.

                Sebuah bus kota meluncur dari arah utara, membawa serombongan turis asing, sedikit menarik perhatian Axel. Bus itu melaju ke selatan. Dan seingat Axel, hanya ada satu objek wisata di Städtle yang terletak di bagian selatan. Landesmuseum. Axel tersenyum ketika ia mengingat nama museum itu. Sebuah museum yang membawa ingatannya ke dua puluh tahun yang lalu.

* * *

                Saat itu Axel masih berusia sekitar tujuh tahun, beberapa minggu sebelum ia harus pindah ke London. Ia sedang mengunjungi Landesmuseum—Museum Nasional Liechtenstein— yang tidak jauh letaknya dari rumahnya pada hari Sabtu di musim gugur dua puluh tahun lalu. Axel sangat senang mengunjungi museum waktu kecil dulu dan nyaris lupa waktu kalau sudah melihat berbagai macam terakota, fosil, patung, dan benda-benda kuno lainnya. Sekarang Axel heran sekali ke mana rasa cintanya pada museum itu pergi. Ia bahkan menguap lebar-lebar ketika temannya di Prancis mengajaknya ke Louvre beberapa tahun yang lalu.

                Ketika Axel sedang mengamati deskripsi sebuah jambangan kuno di salah satu bagian museum, seorang gadis kecil menyenggolnya, membuat Axel kehilangan keseimbangan dan nyaris terpeleset, jika ia tidak mencengkeram pagar pembatas yang kokoh. Si gadis kecil itu tampak terkejut dan buru-buru minta maaf. Axel yang sudah menahan amarah sedari tadi mulai melembut ketika melihat gadis berambut pirang itu meminta maaf dengan tulus.

                “Maaf,” kata gadis itu dalam bahasa Jerman. “Aku tidak sengaja melakukannya.”

                Axel menghela napas dan berkata, “Akan kumaafkan kali ini, tapi lain kali kau harus berhati-hati.”

                Si gadis itu tersenyum lebar. Ia segera berbalik untuk melanjutkan kunjungannya di museum saat Axel kecil tanpa sadar menggamit lengan gadis itu, berusaha mencegahnya untuk pergi. Axel sedikit terkejut dengan perbuatan tanpa sadarnya, tapi gadis itu menoleh dan tersenyum lebar. Rambut pirang panjang yang dikelabang miliknya berkibar mengikuti arah gerak kepalanya. Jantung Axel berdetak lebih kencang.

                “Ada apa?” tanya si gadis itu dengan nada ceria.

                Axel melepaskan tangannya dari lengan si gadis itu dan berkata, “Maafkan aku. Er, namaku Axel. Axel Klutz. Boleh aku tahu siapa namamu?”

                “Laura. Laura Wagner,” jawab si gadis kecil bernama Laura itu. Ia masih menyunggingkan senyumnya lebar-lebar. “Aku berumur tujuh tahun dan tinggal di tak jauh dari Städtle.”

                “Hei!” seru Axel. “Aku juga tinggal di sekitar sini. Mana rumahmu?”

                Laura menyebutkan sebuah alamat tak jauh dari Landesmuseum.

                “Aku bisa melihat Schloss Vaduz dari rumahku,” tambah Laura. Axel mau tak mau mengamati Laura yang selalu menyipitkan matanya ketika Laura tersenyum atau tertawa. Dan entah kenapa wajah Axel bersemu merah saat melihatnya.

                Sejak saat itulah, mereka berdua selalu bertemu setiap hari di Landesmuseum. Bermain di depan pelataran museum yang kecil, mengunjungi setiap sudut museum, melihat-lihat semua barang koleksi museum, dan mengunjungi kedai es krim di samping museum. Axel dan Laura kecil benar-benar akrab saat itu. Dan Axel senantiasa merasakan desir-desir aneh di dalam dadanya setiap kali Laura berada di dekatnya. Wajah Axel selalu memerah ketika ia melihat Laura tersenyum ataupun tertawa. Saat-saat itu benar-benar membahagiakan bagi Axel dan Laura. Hingga akhirnya, hari keberangkatan Axel ke Inggris pun tiba.

                “Maafkan aku, Laura,” kata Axel di depan museum di pagi hari sebelum keberangkatannya. “Aku harus pergi ke Inggris. Mutter ingin sekali kembali ke sana.”

                Laura mengangguk sambil sesenggukan. Air mata berjatuhan dari mata hazel-nya, yang selalu berubah warna, kadang hijau, kadang coklat. Jemarinya yang mungil basah karena ia terus-terusan mengusap air matanya yang terus menetes.

                Axel menyodorkan selembar saputangan kepada Laura sambil berbisik lembut, “Jangan nangis, dong! Kapan-kapan aku pasti kembali ke Vaduz.”

                Laura mengambil saputangan itu, mengusapkan ke matanya dengan lembut. Axel tampak tak tega melihat teman baiknya—atau barangkali cinta pertamanya—tampak begitu sedih.

                “Tapi kita tak akan bisa bermain bersama lagi, Axel,” ujar Laura di sela-sela isak tangisnya.

                “Dengar!” kata Axel. “Aku akan membuat janji denganmu, Laura.”

                Axel menggenggam telapak tangan Laura yang mungil dengan erat. Axel menatap mata Laura yang benar-benar indah itu dengan tajam, tetapi penuh kelembutan. Laura balas menatap mata biru Axel. Tangan satunya, yang tidak digenggam oleh Axel, memasukkan saputangan pemberian Axel ke saku jaket merah yang dipakainya.

                “Aku akan kembali suatu hari nanti, Laura. Setiap sepuluh tahun, kau tunggulah di depan museum, setiap tanggal pada hari ini. Dua puluh November. Aku pasti akan kembali, aku janji. Jika aku sudah dewasa nanti, barangkali dua puluh tahun yang akan datang, aku juga berjanji akan melamarmu, Laura!”

                Laura mendongak dan tampak sangat terkejut. Wajahnya bersemu merah ketika Axel mengucapkan kalimatnya tadi. Begitu juga Axel. Tampaknya ia ingin sekali terisap ke dalam trotoar yang diinjaknya.

                Axel menggaruk-garuk kepalanya dan berkata dengan grogi, “Ma-maksud—“

                Laura memotong perkataannya dan sedikit senyuman mulai merekah di bibirnya, meski ada bekas aliran air mata tergambar di pipinya. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dan berseru, “Tidak, Axel! Aku mau menerima lamaranmu.”

                Axel melongo mendengar perkataan Laura, tapi kemudian ia tersenyum dan menggenggam tangan Laura semakin erat.

                “Kau harus menyimpan saputanganku baik-baik, Laura,” kata Axel. “Itu sebagai tanda perjanjian. Aku akan mengambilnya sepuluh tahun lagi. Atau dua puluh tahun lagi. Atau tiga puluh tahun lagi. Kau harus menungguku, Laura!”

                Laura mengangguk. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan menggenggam saputangan Axel dengan kuat.

                “Aku harus pergi sekarang, Laura,” kata Axel lagi. “Vater dan Mutter sudah menungguku di rumah dan kami harus segera naik bus ke Schaan sebentar lagi.”

                Laura menatap Axel sedih. Namun, Axel sangat terkejut ketika Laura memeluknya dengan begitu erat, seolah-olah tak mengizinkan Axel untuk pergi. Tapi kemudian Axel balas memeluk Laura dan menepuk-nepuk pundaknya lembut.

                “Ingat janjiku, ya, Laura!” bisik Axel.

                Ia lalu mengecup dahi Laura, membuat wajah mereka sama-sama merona merah. Axel langsung berbalik begitu saja, meninggalkan Laura di depan Landesmuseum, dan berusaha menahan air matanya jatuh dari mata birunya.

* * *

“Ini pesanan Anda, Tuan!” kata sang pelayan, membuyarkan kenangan Axel dua puluh tahun yang lalu. “Satu Kasknopfle dan secangkir kopi hitam. Silakan dinikmati!”

                Axel tersentak. Ia memandang si pelayan yang tersenyum ramah padanya lalu bergumam terima kasih. Setelah itu, si pelayan meninggalkan Axel sendirian, kembali ke dalam lautan kenangannya.

                Sambil menikmati Kasknopfle, semacam dumpling dengan keju dan bawang di atasnya, ia mengingat-ingat kenangan masa kecilnya bersama Laura.

                Apa Laura masih mengingatnya? Apa ia masih tinggal di Vaduz? Apa Laura masih mengingat janjinya dua puluh tahun yang lalu? Apa Laura masih menyimpan saputangannya? Berjuta-juta pertanyaan melintas di benak Axel ketika ia berusaha melahap Kasknopfle-nya.

                Axel benar-benar menyesal kenapa ia tidak kembali ke Vaduz sepuluh tahun yang lalu. Ia benar-benar lupa dengan janjinya sepuluh tahun yang lalu. Jika ia tidak mengacak-acak gudang dan menemukan barang-barangnya semasa kecil, barangkali ia akan melupakannya sama sekali. Tapi sekarang, ia bertekad untuk menepati janjinya dua puluh tahun yang lalu, kecuali bagian melamar Laura. Axel yakin sekali Laura pasti sudah tumbuh menjadi seorang wanita cantik dan pasti sudah memiliki pacar atau bahkan suami saat ini. Lagipula, Axel tak yakin kalau Laura masih mengingatnya.

                Selesai membayar makan siangnya, Axel berjalan keluar dari restoran itu, menyusuri kembali Städtle Strasse ke arah selatan. Ke Landesmuseum. Ke tempat di mana ia bertemu dengan cinta pertamanya.

                Serombongan turis berbahasa Prancis menghalangi Axel lewat, membuatnya harus berjalan di sela-sela rombongan turis itu. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam mantelnya dan terus berjalan setelah berhasil melewati serombongan turis tadi.

                Ia mendongak dan memandang ke arah timur. Sebuah bangunan kastil berdiri kokoh di puncak bukit dengan latar pohon-pohon evergreen di belakangnya. Schloss Vaduz. Kastil Vaduz. Bangunan bergaya gothic itu terlihat jelas, berdiri kokoh di atas puncak bukit di sisi kiri Städtle Strasse. Kastil tempat tinggal keluarga kerajaan Liechtenstein yang indah. Axel memandang kastil itu dari kejauhan dan tersenyum. Ia masih ingat dengan jelas cerita Laura tentang rumahnya dua puluh tahun yang lalu. Ia bisa melihat Schloss Vaduz dari rumahnya. Tentu saja. Semua penduduk Vaduz bisa melihat kastil itu karena terletak di puncak bukit yang tinggi.

                Ketika akhirnya Axel menjejakkan kakinya di pelataran depan Landesmuseum, mau tak mau ia  merasa berdebar. Mungkinkah Laura mengingat janjinya? Sekarang dua puluh November dan tepat dua puluh tahun yang lalu Axel berdiri di sini, mengucapkan salam perpisahan dan sebuah janji kepada Laura.

                Seorang anak lelaki dan perempuan tiba-tiba berlari-lari di depannya. Mereka saling berteriak satu sama lain, berlomba siapa di antara mereka berdua yang paling cepat. Lagi-lagi Axel tersenyum. Anak-anak itu benar-benar mengingatkan tentang kelakuannya bersama Laura dulu.

                Pelataran luar Landesmuseum tidak begitu ramai hari ini. Rombongan turis yang menaiki bus kota yang Axel lihat tadi barangkali sudah di dalam, berusaha menyerap semua informasi dan data objek-objek dalam museum.

                Tidak. Axel tidak ingin masuk ke dalam museum. Ia tidak seantusias dulu dan mengunjungi museum hanya akan menambah rasa kantuk dan lelah yang sedari tadi ia tahan begitu tiba di Liechtenstein. Axel akhirnya memutuskan berdiri di bawah sebuah pohon maple dan bersandar pada batangnya.

                Axel yakin sekali Laura sudah melupakannya. Jujur saja, ia juga tidak berharap muluk-muluk. Mana mungkin ada orang yang mengingat janji seseorang selama dua puluh tahun? Ia tak mungkin menyalahkan Laura. Lagipula, pertemuan mereka berdua semasa kecil tampaknya kurang begitu berkesan karena mereka hanya berteman selama beberapa minggu. Namun, bagi Axel, pertemuan yang singkat itu mampu mengubah hidupnya. Mampu mengubah perasaannya saat masih kecil dulu. Dan barangkali hingga saat ini. Axel belum pernah berhubungan dengan lawan jenis seumur hidupnya. Ketika ada gadis yang mengungkapkan perasaannya tujuh tahun yang lalu, Axel menolaknya dengan lembut, selalu teringat akan sosok Laura yang barangkali sudah melupakannya. Tapi Axel tak peduli. Ia masih memiliki perasaan yang sama kepada Laura. Ketika seorang gadis menarik perhatian Axel, ia berusaha meredam perasaannya. Selalu begitu sejak ia gagal menepati janjinya kepada Laura sepuluh tahun lalu.

                Sepasang kakek dan nenek berjalan di depan Axel dengan lambat. Sang kakek membawa bungkusan belanja dengan roti baguette panjang mencuat dari bungkusan itu dengan salah satu tangannya, sedangkan sang nenek menggandeng tangan si kakek dengan erat.

                Axel membayangkan sesuatu dalam kepalanya. Seandainya saja, ia tidak mengingat janji itu hari ini. Atau sepuluh tahun yang akan datang. Atau dua puluh tahun yang akan datang. Hingga ia menjadi seorang kakek. Akankah hidupnya bahagia? Melupakan cinta pertamanya begitu saja?

                Axel sudah mempersiapkan segalanya jika saja Laura sudah melihat pria lain dalam hidupnya. Ia tak mungkin memaksa Laura untuk menikahinya, tentu saja. Sudah bisa melihat Laura bahagia, Axel rasa itu sudah lebih dari cukup. Terkadang Axel heran sekali kenapa cinta pertamanya bisa begitu membekas selama ini, Axel tak tahu apa yang terjadi. Namun, ia merasa Laura adalah jodoh yang ditetapkan Tuhan untuknya. Tulang rusuk yang selama ini ia cari. Meski ia sendiri tak yakin, Laura memiliki perasaan yang sama.

                Lamunan Axel buyar ketika seseorang menyenggol sikunya. Seorang wanita bersandar di sisi lain pohon menyenggol sikunya. Ia terkejut dan segera meminta maaf.

                “Maaf,” katanya dalam bahasa Jerman. “Apa aku mengganggumu?”

                Axel menggeleng dan mengamati wanita di hadapannya. Ia mengenakan topi baseball dan kacamata hitam. Sebuah kamera tergantung di  lehernya. Sebuah sweater wol hangat motif garis-garis menempel dengan pas pada tubuhnya yang langsing. Tampaknya ia seorang turis.

                “Kau bisa berbahasa Jerman?” tanya wanita itu. Ia menatap Axel dari balik kacamata hitamnya.

                Axel mengangguk dan berkata dalam bahasa Jerman dengan patah-patah, “Sedikit. Aku dulu tinggal di sini sebelum akhirnya pindah ke London. Kau darimana?”

                Wanita itu tersenyum dan menjawab dalam bahasa Inggris, “Aku juga berasal dari sini. Hanya saja sekarang aku bekerja di Vienna. Kau tahu, di Austria. Ada urusan yang harus kuselesaikan hari ini di sini.”

                Axel mengangguk dan kemudian ia kembali bersandar pada batang pohon maple. Tepat saat itulah, ia melihat apa yang wanita itu lakukan. Ia mengeluarkan secarik kain dari saku jinsnya. Secarik kain yang tampak tidak asing lagi bagi Axel. Secarik kain berwarna biru dengan sulaman huruf A.K. di tepinya. Secarik saputangan yang ia berikan kepada Laura. Dua puluh tahun yang lalu.

                “Maaf?” tanya Axel. “Apa kau bernama Laura? Laura Wagner?”

                Wanita itu tertegun sejenak lalu ia mengernyitkan alisnya.

                “Dari mana kau tahu?” tanyanya.

                Axel nyengir dan berseru, “Apa kau melupakanku, Laura? Dua puluh tahun yang lalu? Setiap tanggal dua puluh November? Janjiku untuk menemuimu?”

                Wanita itu membuka mulutnya lebar-lebar dan melepas kacamata hitamnya. Sepasang mata hazel menatap Axel dengan ekspresi terkejut.

                “Kau Axel?” serunya. “Kau Axel Klutz?”

                Axel mengangguk mantap. Dan tiba-tiba saja Laura memeluknya erat-erat, membuat Axel kesulitan bernapas.

                “Ya Tuhan!” seru Laura. “Kau tak tahu betapa senangnya aku saat ini, Axel. Aku sudah menunggumu di sini, sepuluh tahun yang lalu, tapi kau tak datang. Aku nyaris putus asa. Aku sudah mencari namamu lewat Facebook, Myspace, semuanya, tapi tak berhasil menemukan namamu di sana. Satu-satunya kesempatanku ialah janjimu, meski aku sendiri tak yakin kau mengingatnya. Dan kau sekarang di sini, Axel. Wow, kau semakin tampan saja!”

                Laura masih memeluk Axel erat-erat.

                “Su-sussah berna-na-paas,” kata Axel terbata-bata.

                “Oh,maaf,” kata Laura. Ia melepaskan pelukan mautnya dan tersenyum. Kedua matanya menyipit saat ia tersenyum. Jantung Axel berdetak lebih kencang.

                “Well,” kata Axel sambil nyengir. “Aku minta maaf karena lupa dengan janjiku sendiri sepuluh tahun yang lalu, Laura. Maafkan aku. Tapi sekarang aku sudah menepati janjiku padamu, bukan? Dan, yeah, kau semakin bertambah cantik.”

                Laura bersemu merah saat mendengar pujian Axel.

                Axel tak pernah segembira ini sebelumnya. Cinta pertamanya ternyata masih mengingatnya. Apakah ini bisa menjadi lebih baik lagi?

                “Ini saputanganmu, Axel,” kata Laura sambil menyerahkan secarik kain biru itu kepada Axel. “Setiap hari selalu kubawa untuk mengingatmu, bertanya-tanya kapan kau akan kembali ke Vaduz.”

                Ketika Axel menerima saputangannya dari tangan Laura,mau tak mau ia melihat sesuatu hal yang sangat mencolok. Jemarinya masih bersih. Tak mungkin, pikirnya.

                Apa itu berarti aku masih memiliki kesempatan? tanyanya dalam hati.

                “Hei, kau sudah makan siang?” tanya Laura.

                Axel menggeleng. Ia terpaksa berbohong karena ia yakin sekali Laura akan mengajaknya makan siang bersama dan ia ingin menghabiskan waktu bersamanya lebih banyak.

                “Kalau begitu kau akan kutraktir, Axel. Lagipula kita belum tentu bisa memiliki waktu bersama seperti ini lagi.”

                Axel mengangguk. Tapi ia tahu kalau Laura salah. Mereka berdua akan memiliki banyak sekali waktu bersama. Di sebuah rumah kecil di Vaduz. Atau di Vienna. Atau di London. Bersama seorang bayi kecil. Beberapa bulan lagi, paling cepat. Atau beberapa tahun lagi.

Yang Axel tahu ialah Axel yakin sekali akan hal itu.

Read previous post:  
Read next post:  
100

waw! Sejak kpan post ini? Kok kagak tau..

Tnyata kalian udah pda ikut ACR, aku di tinggalin..

*nagih janji ma dansou bwt ngajarin nulis cerpen romantis, wkwkwk..

udah >,< saya kapok bikin cerita romantis.
.
dan saya sedang merevisi cerita ini habis-habisan

80

Setting latar yang indah. Dan romantis banget. Tapi si Axel rada kejam, bikin janji gak tanggung-tanggung. Sepuluh, dua puluh, tiga puluh. Keburu tua donk. Tapi aneh aja neh. Kayaknya si Axel tuh terus mengingat Laura, kok bisa lupa sama janjinya sepuluh tahun lalu? Lha wong dia ajak gak pernah pacaran, berarti dia selalu mengingat Laura donk. Kok tiba-tiba lupa sama janjinya? =.=

Ceritanya mengalir indah dan enak dibaca. Mungkin Dansou lebih terbiasa menggunakan POV 1. Tapi udah bagus lor ceritanya. Jadi gak usah nyaman di satu POV. POV-3 malah lebih bebas bereksplorasi. Bukannya aku sok tau >.< Cukup dikembangkan sedikit saja. Dan pas deh.

Oke, good luck ya >.<

Ah, ini saya ubah jadi PoV 1 dan kayaknya lebih nyaman pake PoV 1. PoV 3 bukan takdir saya *hiks* *meratap*

100

Poin Full untuk sesama peserta ACR :)
.
Horeeee, Dansou ikuuuut
latarnya kereeen, serasa jalan2 ke Jejer Kauman beneran, wkwkwkwk...
.
Em... minta cabe ya... kayaknya dah diborong semua tuh sama yang lain.
he3... cabenya ditahan dulu di brankas pake nomer kombinasi 99 digit. Baru boleh dibuka setelah kamu kirim email dulu ke panitia. GYAHAHAHAHAHAHA....!!! (*Ketawa jahat*)

oh, ya, omong-omong apa kak Kurenai tahu berapa kemungkinan kita bener nebak kombinasi 99 digit? Jawabannya ialah 1 dibanding 10 pangkat 99 *kabur* *gak penting banget* *dilindes truk molen*

ini bukan di Jerman -_- di sebuah negara kecil bernama Liechtenstein yang entah kenapa saya jatuh cinta sama tu negara (padahal belum pernah ke sana).
.
Oke, malam minggu ini akan saya habiskan untuk merombak dan menyunat cerita ini habis-habisan. Maklum, ngga punya pacar :(

Eh, iya...
abis baca komennya kk saddie tentang menunggu tiap sepuluh tahun di bawah pohon itu...
jadi keinget cinta pertamanya Profesor Agasa di Meitantei Conan lho XD
kan cewenya juga nunggu tiap 10 tahun sekali di bawah pohon gingko. Sayangnya si Agasa lupa tempat perjanjiannya sampai lewat puluhan tahun n dah jadi tua >__<

aduh... ketahuan deh darimana idenya -___- conan edisi 40

80

pertama baca Nana terkesan sama detail latarnya, kerasa eropa bgt.
Tapi mulai ke tengah2 keliatan kalo deskripsi latar lebih dominan
Selebihnya idem sama komentar yg di bawah :D

*terjun ke jurang* kayaknya emang harus saya rombak habis-habisan

sepertinya ga perlu sampe rombak abis2an.. :D
basicly ini dah bagus, tinggal tambahin 'bumbu' emosi aja, bisa pake 'permainan' dialog atau deskripsi

*ga jadi anjlok ke jurang* bikinin dong Na *ngrayu* Ntar saya bayar, deh *evil grin*

ga mau, curang namanya.. xp
Dansou pasti bisa! Ayo2! *loncat2 bawa pom2*

Ga usah rombak abis2an, rombak total aja *lho?*

*balik lagi ke jurang* ini rahasia kita berdua... a... a... (bergema)
.
Baiklah! Malam minggu ini (hiks TT__TT) saya akan berpacaran dengan cerita unyu ini *fire!!!*

Ternyata emang harus dibikin PoV 1 kayaknya. Hiks... T_T.
.
Bye bye PoV 3. Kita memang tidak berjodoh ~.~

100

Poin full untuk peserta ACR.

Aku terpesona dgn latar tempatnya.

Horeeee Dansou ikutan.

Dansouuu ada kiriman onigiri nih.
#tiba2 ingin mengoda Dan.

saya tidak tahu harus senang atau sedih T_T

80

:(
Komen apa yach enaknya XD
Datar, sou... >.<
Kesannya kamu lagi cerita, ada seseorang namanya axel, dia begini begini, trus begini, trus begini deh. Trus selesai. Gak ada hentakannya. Mana emosinya? >.<
Cerita cinta harusnya kan penuh gejolak emosi *digeplak karna sok tau*

Ah itu aja deh XD Hayo coba buat versi POV 1 nya, mungkin dengan gitu bisa lebih personal, dan kegambar jelas perasaan si axel

*tewas* *menggelinjang*
fine! saya nggak mau bikin cerita romantis lagi *ngambek*
.
Atau mungkin itu karena saya belum pernah pacaran? *curhat colongan*

80

Hm, deskripsi tempat yang detail menggambarkan pengetahuan yang luas :)
.
Alurnya mengalir enak di awal, tapi somehow, agak terburu-buru di bagian akhir. Am I right?

Ups... ketahuan *sembunyi di bunker*. Hehehe... Entar daripada nambah-nambahin kata, saya sunat aja ceritanya

80

Mr Dansou.... i have no idea. I just wanna say, it was just not like u. Am i right to say that? :D
Kenapa u bermain-main di dunia PoV yang u ngga ketahui 'dalam' gimana isi n permainannya. Hasilnya begini tau *Kejar Dansou pake golok*

wakakak... soalnya dah lama nggak pake PoV 3 *lalala* :D. Kalo pake PoV 1 masa saya rombak ulang lagi. saya cuma memeriahkan aja, sih *kabuuur*

Kamu itu udah teramat sangat cocok di PoV satu, tempel terus aja dari sudut situ. Kok malah ganti haluan. Kamu kan udah paham betul gimana menghibur pembaca dari PoV keahlianmu sendiri. N Posisiku kalo ngebaca tulisanmu dari PoV pertama bener-bener dalam posisi seseorang yang penasaran dengan ceritamu trus beli bukumu. L
ah disini kok aku ngerasa kaya di posisi kritikus aja. Lubangnya banyak yang mau di kritik.

aku maunya pake PoV 3 *ngeyel*. Tapi saya sendiri juga heran lho mbak. Dulu waktu masih di awal-awal gabung sini saya pake PoV 3 dan hasilnya nggak segeje ini. Entah kenapa sekarang jadi begini *lalala* :D
.
Ini pasti gara-gara Jess. Jesssssss!!!

Dauasaaar. Aku yang tadinya ga online waktu jalan-jalan di kecom, malah Jadi online, cuma gara-gara pengen comment dengan ceritamu ini. >0<
Tapi aku serius lho, kamu feelnya sama sekali ngga dapet. Tapi buat cerita kaya cerita si jess, tak acungin 4 jempol. Keren

ih, masa saya disuruh nulis cerita nggak jelas kayak ceritanya Jess melulu! -__- *hiks* T_T

*Ngelus-elus kepala Dansou* Cup cup cup, aku ngga serius kok. Jangan nangis ya. Mau permen?
Yah, tapi kuhargai kok hasil usahamu ini. Kalo memang kamu yakin dengan PoV yang kamu ambil sih gpp. Tapi ga gampang lho ngerubah dengan apa yang biasa kita lakuin. Itu sama aja nyurh aku ngerubah kebiasaanku yang biasa di PoV 3 jadi PoV 1 atau PoV 2. *Nangis* Aku udah pasti ngga bisa. Tapi aku masih salut dengan keberanian yang kamu ambil.
*Ngasih permen ke Dansou*

*Ngelus-elus kepala Dansou* Cup cup cup, aku ngga serius kok. Jangan nangis ya. Mau permen?
Yah, tapi kuhargai kok hasil usahamu ini. Kalo memang kamu yakin dengan PoV yang kamu ambil sih gpp. Tapi ga gampang lho ngerubah dengan apa yang biasa kita lakuin. Itu sama aja nyurh aku ngerubah kebiasaanku yang biasa di PoV 3 jadi PoV 1 atau PoV 2. *Nangis* Aku udah pasti ngga bisa. Tapi aku masih salut dengan keberanian yang kamu ambil.
*Ngasih permen ke Dansou*

aku maunya permen mahal... *milih*
.
aku nggak putar haluan mbak. cerpen-cerpen saya yang dulu pake PoV 3 kok *masih tetep ngeles*
.
tambahan:
ternyata setelah saya buka arsip-arsip lama saya, ternyata emang kebanyakan PoV 1. Hehehe... Yang PoV 3 cuma Persona, Falling Girl, Program Tantangan geje, cuma itu. Hehehe :)

*Timpukin mentos*
Aku jadi pengen liat gimana kemajuanmu dengan PoV yang kamu ambil *Ketawa kaya'nenek sihir*
Awas kalo berikutnya bikin aku jadi kritikus lagi kaya' yang ini

bukan kemajuan... tapi kemunduran -__- yang dulu jauh lebih bagus daripada yang ini, tapi yang ini juga bagus ah *tetep narsis*

Duassar. Yo wis yo. Ngono ae. Aku seloso ono ujian kemajuan tesis e. Tak tunggu cerita dirimu yang berikutnya. See ya.
*Lempar cium dari jauh*

100

Mohoon cabeee yang banyaaak!!! Ini geje abis, deh -___- dan entah kenapa tema cerita saya akhir-akhir ini berkisar di first love alias erste Liebe.
.
Ah, maaf kalo saya mengacaukan settingnya *amppuuun*