Forgotten Soldier: Back to War (Chapter 1: I Rise My Rifle, Again)

Afghanistan, 12 Maret 2011.

Aku duduk diam di sebuah bangku panjang di dalam helikopter angkut UH-60 Blackhawk, sendiri saja. Disinilah aku kembali mengangkat senjataku, sama seperti di Vietnam. Jabatanku bukan letnan lagi, seperti di Vietnam. Jauh sebelum aku berangkat ke negeri tandus ini, aku di undang oleh Pentagon untuk kenaikan jabatan. Mereka sadar, mereka telah menemui tentara legendaris dari Paman Sam. Sang legendaris akan kembali angkat senjata di Afghanistan, begitu ucapan beberapa perwira di Pentaon yang aku dengar.

Tetapi, untuk apa sebuah label "Tentara Legendaris dari Amerika Serikat" jika akhirnya dilupakan? di buang? Di abaikan?

"Kapten Lawson!!" seru seorang penembak senapan mesin di depanku yang terus bertengger di depan pintu helikopter. "Disini tempatnya! Kau bisa turun sekarang!"

Aku langsung bergegas membuang tali yang telah aku ikatkan pada suatu tiang di dalam helikopter ini. Sebelum aku meluncur, aku mendapat pesan suara dari seseorang melalui alat komunikasiku.

"Ingat misinya, Kapten Lawson. Pihak Mujahidin diketahui memiliki satu unit rudal darat-ke-udara SA-8 Gecko yang sempat menghancurkan helikopter serang kita di daerah pemukiman padat bernama Ab Sabhara. Lokasinya di sebelah barat daya dari tempat kamu berada sekarang, dan jaraknya sekitar 15 mil. Hancurkan ketiga unit itu agar memudahkan helikopter serang kita memberi bantuan pada tentara kita. Semoga berhasil Kapten Lawson"

Itu Jendral Folley. Ia sedang berada di kapal angkut pesawat USS Ronald Reagan. Aku langsung memegang erat tali itu, dan turun dari helikopter. Dengan hati-hati aku meluncur turun hingga menginjak daratan pertamaku.

Setelah itu, helikopternya pergi meninggalkanku. Tak apa. Aku langsung menarik induk kunci pada senapanku, dan benda ini siap digunanakan. Aku berlari menjauhi zona pendaratanku tadi sambil membawa senapanku, yakni M4 Carbine keluaran Colt Defense. Dimodifikasi dengan tambahan alat bantu bidik berupa ACOG dan pegangan pada bagian penjaga tangan senapan ini.

Yang kulihat hanyalah bangunan rumah yang berderet sejauh mata memandang. Aku sempat melihat jejak kendaraan berantai, dan langkah kaki manusia. Aku yakini itu adalah milik tentara Amerika Serikat. Aku mengikutinya. Hingga membawaku pada sebuah tikungan yang dibatasi oleh bangunan rumah bertingkat. Hanya ada jejak kendaraan berantai di tanah berpasir ini. Namun, tak sengaja aku menemukan bekas pasir di lantai semen di dekatku, yang nampaknya tentara infantri memasuki gang ini. Itu berarti, kendaraan berantai dan pasukan infantri berpencar. Langsung aku ikuti sisa pasir di trotoar itu.

Sekitar 30 menit aku berusaha mengikuti jejak yang selalu tak beraturan rupanya. Bekalku mengikuti jejak hanya dari Perang Vietnam. Tapi, rupanya usahaku membawa hasil. Terdengar suara tembakan beruntun, ledakan, dan teriakan dari arah utara dimana aku berdiri sekarang. Aku langsung menuju kesana.

Benar. Lokasi inilah yang dinamakan Ab Sabhara. Kenapa? Karena nama itu tertera di penunjuk jalan di suatu sudut trotoar. Suara pertempuran itu semakin keras terdengar ketika aku diam-diam merayap di dinding samping sebuah bangunan. Ketika aku mengintip dari balik dinding...

DZIING!!

Aku langsung memalingkan mukaku. Hampir saja terkena serangan timah panas yang secepat kilat. Tidak, ini tidak seperti di Vietnam. Dari hasil pengamatanku, kulihat tentara Sekutu berlindung dibalik barikade beton dengan memberi sedikit perlawanan, sementara di dalam bangunan tak berpenghuni yag letaknya di ujung tikungan, dibalik jendela itu terdapat penembak senapan mesin yang tak henti-hentinya menembak ke arah baridake beton itu. Bersamaan dengan itu, milisi Mujahidin datang dari suatu gang memberi serangan ke arah barikade. Tentara sekutu terlihat tertahan.

Aku memutuskan untuk lari secepatya menuju barikade. Syurkurlah aku selamat dari tembakan itu. Beberapa penemak senapan mesin Sekutu dengan senapan mesinnya -M249- memberi tembakan balasan sesekali.

"Kapten! Akhirnya kau datang!" seru seorang prajurit berpangkan sersan di sampingku.

"Bagaimana situasinya?" tanyaku.

"Kami tertahan. Dua tank Abrams berhasil dihancurkan beberapa jam yang lalu di selatan oleh milisi. Bantuan udara sempat dihancurkan beberapa jam yang lalu. Kita harus menghancurkan rudal darat-ke-udara yang terletak di lapangan basket itu." ia menunjuk ke arah lapangan basket yang diberi pagar rantai yang letaknya di samping dan agak berjauhan dari barikade.

"Intel mengatakan ada satu unit rudal darat-ke-udara di area ini. Tapi, kami tidak tahu dimana letaknya!"

"Mungkin mereka menyembunyikannya di suatu tempat!" ucapku. "Kau punya bom asap?"

"Aku punya satu!" jawabnya.

Aku langsung mengambil benda yang berbentuk silinder itu dari tangannya. Kutarik picunya, dan melemparnya tak jauh dari barikade. Tak lama kemudian, silinder itu meledak kecil dan mengeluarkan asap yang sangat pekat.

"Biar aku yang menghancurkannya sendiri." ucapku.

"Aku ikut, kapten!"

"Kau diam saja disitu. Aku tak butuh bantuanmu!" jawabku. "Aku bisa melakukannya sendiri!"

Tanpa kuperdulikan perasaannya, aku langsung berlari sambil merangkan setinggi barikade ke arah suatu bangunan. Tiba-tiba, sesampainya disana, pandanganku mulai berubah. Aku tidak melihat bangunan-bangunan, melainkan hutan tropis dengan rentetan tembakan dimana-mana. Aku teringat di Vietnam! Aku merasakan pening hebat di kepalaku.

Sambil menahan rasa pening, aku berlari masuk ke dalam gang kecil yang membawaku ke sebuah lapangan basket yang ditunjuk, dengan sebuah unit SA-8 yang siaga. Belum sampai di sana, aku sudah disambut dengan tembakan ganas dari senjata para Mujahidin. Dengan refleks, aku langsung bersembunyi di tempat sampah besar yang kebetulan ada di dalam gang ini. Di balik perlindungan sementara ini, aku memberi sedikit tembakan ke arah sendi kaki tentara musuh.

Kurasa aku berhasil mendapatkannya. Langsung aku berdiri dan menembaki kepalanya ketika ia sedang terjatuh menahan rasa sakitnya. Ia tewas seketika. Itu belum berakhir, karena masih ada beberapa orang musuh yang terus memberondongiku. Aku merunduk sesaat menunggu waktu milisi musuh mengisi ulang senjatanya. Dan akhirnya, tembakan itu berhenti, dan kudengar suara tarikan induk kunci senapan dan jatuhnya magazin. Pertanda bahwa mereka sedang mengisi ulang senjatanya.

Dan momen inilah aku manfaatkan. Aku berdiri, dan langsung memberondongi tubuh dan kepala mereka. Mereka yang menjaga unit itu tewas. Aku langsung lari dari tempat persembunyianku. Merogoh granat tangan dari rompiku, melepas picunya, dang langsung melempar ke arah unit rudal darat-ke-udara itu. Sekejap saja, granat itu berhasil menghancurkan unit itu.

Kudengar teriakan seseorang, "mereka mundur! Ayo beri tembakan balasan!"

Disaat yang sama, kulihat tentara Sekutu keluar dari barikade persembunyiannya sambil menembakkan senapannya. Dan saat aku keluar melihat yang sebenarnya, kulihat tidak ada tembakan senapan mesin dari jendela bangunan itu. Dari kejauhan, kulihat beberapa pleton milisi berlari mundur sambil sesekali menembak ke arah tentara Sekutu. Tidak biasanya milisi mudah mundur karena kehancuran satu unitnya. Aneh.

"Lapor kapten, kita berhasil memukul mundur milsi Mujahidin ke tempat persembunyiannya. Kita akan memberitahukan pihak Kavaleri Udara untuk memberikan serangan udara di koordinat ini!" kata seorang prajurit ke arahku. Namun, aku hanya diam menanggapinya sambil menatapnya kosong.

Ditengah sorak sorai beberapa tentara Sekutu, pendengaranku berhasil menangkap suara yang asing. Terdengar seperti suara cicadas saat musim panas. Lama-lama, volume suara itu membesar. Tentara yang sorak sorai tadi menghentikan soraknya saat ia mendengar suara yang sama kudengar. Semua tentara kebingungan, mendengar suara yang seharusnya tidak disini. Suara cicadasnya semakin [bigno]akan telingan. Naluriku mengatakan untuk segera berlindung. Maka, aku langsung bersembunyi di balik gang yang terletak di belakangku.

Kurasakan ada getaran yang mengguncang tanah. Semua tentara Sekutu berteriak saat menemukan tiga sosok aneh yang menyerang mereka.

"Apa itu...?" desisku saat terbelalak melihat sesosok mekanikal dengan senjata lengkap.

Sosok mekanikal itu menyerang tentara Sekutu tanpa ampun. Rupanya, benda itu memiliki senapan mesin gattling GAU-8 30mm. Senapan mesin gattling yang biasanya digunakan oleh pesawat serang darat A-10 Thunderbolt II ini malah digunakan untuk menyerang manusia. Sungguh, untuk pertama kalinya dalam hidupku melihat mesin perang seperti ini, yang sangat mustahil dimiliki oleh milisi Mujahidin. Sosok mekanikal itu mengingatkanku pada permainan video tempo dulu -yang namanya aku lupa- yang pernah aku mainkan beberapa kali.

Aku masih terpaku menyaksikan pembantaian yang dilakukan tiga mesin itu. Beberapa tentara sekutu dengan senapan mesin memberondonginya, namun tidak mempan. Malah, sosok itu menyeruduknya laksana banteng menyeruduk beberapa orang. Beberapa tentara juga ditembaki dengan senapan mesin mematikan yang dimiliki oleh sosok mekanikal itu.

Aku memalingkan tatapanku. Aku segera mengambil tas punggungku dan membuka isinya. Aku melepas pegangan depan pada senapanku, mengambil sebuah pelontar granat M203 dan langsung memasangkannya pada pelindung tangan senapanku. Lantas, aku memberanikan diri untuk keluar dan mempersiapkan pelontar granatku. Kubidik sesaat dengan pisir senapanku, dan menekan picu pelontar granat. Ya, aku menembakkan pelontar granat ini ke sendinya, bukan tubuhnya.

Sosok mekanikal itu langsung terjatuh setelah mendapat ledakan di kakinya dari senjataku. Aku langsung mengisi ulang pelontar granatku, bersembunyi dibalik sosok mekanik yang terbaring itu. Dua sosok mekanik itu tampaknya melihatku dengan tatapan kamera yang -kurasa- tidak bersahabat. Mereka berdua mempersiapkan senjatanya untuk membunuhku.

"Kalian mau lagi?! Ini, tambah lagi!" seruku.

Karena letak diriku dengan kedua mesin itu agak berdekatan dan agak berjauhan, maka aku langsung lari secepatnya -dengan ditemani rentetan senapan mesin gattling itu-. Aku melewati diantara dua kaki milik dua sosok itu, sementara sosok itu masih memberondongiku. Hah, sungguh sial nasib kedua sosok itu. Mereka malah menembaki kaki temannya.

Ya, mereka berdua terjatuh. Saat itu pun aku menembakkan pelontar granatku ke arah gentong amunisinya. Lantas, terjadilah ledakan besar yang di ikuti oleh mesin perang yang di depannya.

Aku berhasil. Tapi, argh sial! Pening hebat itu datang lagi. Pada saat tadi aku melihat ledakan, pandanganku berubah menjadi ledakan bom napalm yang membumi hanguskan hutan-hutan tropis di depanku. Ya ampun, aku teringat Vietnam lagi! Aku merangkak, melepas helmku, dan memegang kepalaku yang terasa pening berdenyut-denyut. namun, kulihat ada seseorang berpakaian penuh dengan rompi anti peluru dengan khafayeh di kelapanya berjalan sempoyongan, baru keluar dari kokpit sosok mekanikal itu. Aku meraih senapanku, membidiknya, dan menembak kepalanya. Orang itu ambruk.

"Ini Kapten Lawson ke markas. Aku butuh pengangkutan di Ab Sabhara. Unit SA-8 sudah dihancurkan." laporku melalui radio komunikasi.

"Kerja bagus, Kapten Lawson. Berapa jumlah pasukan kita yang tersisa" puji Jendral Folley.

"Kelihatanya mereka terbantai, jendral. Tetapi, aku menemukan sesuatu yang unik. Aku mendapati sosok mekanikal mirip robot di Mechwarrior, bersenjatakan GAU-8. Ketiganya sudah aku hancurkan." tambahku sambil melewati bangkai sosok mekanikal tadi yang sudah hancur. "Dan hei, aku menemukan sesuatu yang makin unik disini..."

"Hmm? Katakanlah, Lawson."

"Disini tertulis... aku tak tahu, ini aksara Hangul. Hangul? Korea?!" ucapku sambil meraih kamera digital di tasku, dan memotret tulisan Hangul yang tertulis di bagian samping tubuh mesin itu.

"Hmm... untuk pertama kalinya aku melihat yang seperti itu. Bagaimana mungkin milisi miskin Mujahidin itu dapat mengoperasikan mesin perang secanggih itu?" tanya Jendral Folley keheranan.

"Aku tak tahu, jendral. Aku akan meng-upload foto ini ke databasemu, jendral."

"Baiklah. Aku juga akan memerintahkan satu unit helikopter angkut untuk membawamu keluar dari tempat itu. Dia akan datang ke posisimu, secepatnya."

"Baiklah, jendral. Terima kasih. Kapten Lawson keluar."

Bersambung.

Read previous post:  
Read next post:  
80

masih bertanya-tanya mengapa memilih amerika menjadi protogonis dalam cerita :)
-
tapi yah, bagi mereka perang emang sudah jadi bisnis.
-
bagian dialog, mungkin bisa diperhalus.
-
untuk adegan pertempuran, rambo-like, serasa nonton film-film buatan amerika, bukannya tidak bagus sih, tapi realitasnya tidak seperti itu. aku lebih suka adegan pertempuran seperti di Band of Brothers atau Saving Private Ryan

Terima kasih sebelumnya telah berkunjung.
.
1. Yep. War is US bussiness :D
.
2. Adegan pertempurannya ya? Hmm.... adegan perangnya aku terinspirasi sama Task Force Stradivarius dari akangyamato, yg agak rambo gitu. Ohya, dari film Black Hawk Down, game Call of Duty 4, dan Metal Gear Solid 4 juga inspirasiku membuat adegan perang. Tapi ya, ini masalah selera :p
.
Sekali lagi, terima kasih sudah berkomentar. Maaf kalau ada kata2 yg tidak berkenan

EDIT: Oh, udah muncul gambarnya. Tapi di warnet, kalau di rumah mungkin ga bisa karena koneksi siput.
.
Okay, ini dia chapter duanya. Sebelumnya mohon maaf jika saya tidak mendeskripsikan tiap istilah militer. Mungkin aku menulisnya agak blak-blakan waktu itu. Ah sudahlah, nanti juga aku revisi sendiri :)
.
Silahkan dinikmati, dan mohon 'cabenya' :)