Proyek LCPD: Wear to become a cat

Aku berjalan tak tentu arah di mall besar ini. Temanku yang berjanji akan mentraktirku menonton “Insidisious” malah tidak muncul-muncul, padahal katanya dia akan datang bahkan sebelum aku tiba. Aku berdiri saja di depan bioskop seperti orang gila, tapi ia tidak datang juga. Sebelum satpam bioskop yang melototiku terus menanyaiku seolah aku ini dicurigai seorang teroris atau apalah, aku pergi saja berkeliling. Lantai tiga sudah kuputari tiga kali, ya, aku menghitungnya.  Aku akhirnya mengeluarkan telepon genggamku dan menelponnya tidak sabar. Nada RBT(Ring Back Tone)nya terdengar jelas, sambungan diputus. Aku mengumpat. Dia sengaja meninggalkanku di sini. Telepon genggamku lalu bordering, SMS masuk. Dia ada urusan, kami akan menonton yang jam selanjutnya… kira-kira dua jam lagi. Karena itu aku berada di sini, berjalan tak tentu arah di dalam mall yang besar ini.

Aku duduk di bangku yang disediakan di tengah-tengah paviliun mall, yang didesain seperti taman outdoor. Lampu-lampu taman sudah mulai menyala meski hari masih belum begitu gelap. Aku menatap jam tanganku, masih ada dua jam lagi. Aku mendesah dan bersandar di bangku. Punggungku menyentuh sesuatu yang mengganjal, kontan aku berdiri dan berbalik. Sebuah bando pink polkadot dengan pita merah merona di sisi samping atas kirinya. Aku mengambilnya dan melihat ke sana kemari. Bando seperti ini biasanya milik seorang anak kecil, mbak-mbak kemayu, atau mungkin tante-tante yang lebih kemayu lagi. Aku berjalan menuju ke arah informasi ketika sesuatu yang aneh terjadi.

Aku merasa ada sesuatu yang mengganjal di leherku… Serasa mau… Muntah. Aku segera berlari menuju ke toilet terdekat dengan keadaan masih membawa bando tersebut. Aku masuk (baca: mendobrak) ke toilet wanita, yang untungnya kosong. Aku segera bersiaga di depan wastafel untuk segala kemungkinan yang dapat terjadi. Benar saja, semenit kemudian aku muntah… Memuntahkan bola bulu. Serius, aku tidak bercanda.

“Bola bulu?!” aku histeris. “Tapi aku kan bukan ku―Nyaww.”

Dunia membesar, letak wastafel ada di atasku. Salah, aku yang mengecil. Aku menjadi seorang kucing! Aku memanjat rak-rak penyimpanan pembersih toilet dan tissue ke atas wastafel, aku menatap kaca tak percaya. Aku menjadi seekor kucing hitam, mata kuningku berkilat-kilat, telingaku bergerak-gerak dan ekorku melambai-lambai. Oh, masuk akal, pakaianku hari ini hitam, jadi mungkin... Pintu terbuka, si cleaning service masuk. Dia segera mengambil tongkat pel.

“Gimana caranya kucing masuk sini?!” serunya. “Hush! Hush!!”

Dia mengayunkan tongkat pel membabi buta, aku melompat dan mendarat dengan selamat. Bando aneh itu ternyata tidak ikut berubah mengecil atau ikut melekat di badanku, tentunya aku tak mau menjadi kucing polkadot. Aku menyambar bando tersbebut lalu berlari melewati celah di antara kedua kakinya.

“Tunggu!” seruku. “Aku bukan kucing!”

Itu yang ingin aku serukan, tapi telingaku hanya mendengar. “Meong meong,” dan “Meong!” yang tentu manusia manapun takkan mengerti. Aku berlari kembali ke dalam mall, taman outdoor lebih tepatnya. Cleaning service psycho itu tidak mengikuti. Aku duduk di kursi di mana aku menemukan bando tersebut, lalu mengusap mataku. Aku menatap jam yang ada di taman, satu jam tiga puluh menit lagi sebelum waktu perjanjian dengan temanku, itu saja jika ia tidak terlambat. Aku harus mencari jalan menjadi manusia kembali sebelum semuanya terlambat!

Aku meletakkan bando tersebut di sebelahku, lalu menatapnya lama. Di mana orang membeli bando ini? Apakah bando ini semacam eksperimen senjata pemerintah? Yang pasti aku tak boleh membiarkan orang lain menemukan atau mengenakan bando ini, cukup aku saja yang jadi korban saat ini. Yang pasti, aku lapar. Meski aku sudah menjadi kucing, aku masih dapat mendengar paduan suara favoritku bernyanyi di perut.

Aku membawa bando tersebut dengan mulutku dan menyembunyikannya di bawah kursi, berharap supaya bayangan gelap dapat menyebunyikannya. Aku melompat turun dan kembali berjalan. Hidungku mengendus bau makanan yang enak. Food court terbuka di taman, rupanya. Ada hotplate, nasi goring, ayam goreng, dan dasar hidung kucing, seafood. Aku berjalan mendekati pasangan yang sedang memakan  satu set ayam goreng. Aku duduk dengan muka memelas sambil menatap keduanya. Tak ada yang melihatku, melirikpun bahkan tidak. Aku mengeong. Si wanita menatapku, lalu melanjutkan makannya. Aku mendesah gaya kucing lalu kembali berjalan. Semua meja yang kudatangi tidak ada yang bersimpati padaku, memberi sehelai mi pun tidak ada yang mau. Aku lalu berjalan ke dekat kios seafood, tak ada yang menjaga. Aku berdoa dalam hati, “Tuhan, aku tak pernah ingin mencuri, tapi maafkan aku…”

Aku segera melompat ke atas box es dan mengambil seekor ikan gurame yang berukuran cukup besar dan melompat pergi begitu saja. Seorang karyawan berteriak marah dan para pengunjung hanya melihatku. Aku pun kabur secepat kilat. Aku masuk ke antara semak-semak, lalu kuletakkan gurami mentah berbau amis ini di tanah. Aku merobek sisiknya dengan cakarku, bau amis sekarang lebih menyengat. Aku lalu menjilatnya sejenak. Lidah manusiaku ingin muntah, tapi lidah kucingku malah ingin segera memakannya. Aku tak punya pilihan lain selain membiarkan sisi manusiaku mengalah dan segera menyerbu gurami tersebut. Sesudah memakan habis si gurami mentah dan ingin muntah, aku segera berjalan kembali ke bangku tadi. Dua orang pertugas kebersihan sedang mengambil bando tersebut.

“Oh, ini bando yang lagi terkenal itu ya?” Tanya salah satu dari mereka. “Dari toko di lantai lima, kan?”

“Catness?” Tanya yang satu lagi. “Iya, barang di sana memang mahal-mahal. Bando ini saja mungkin dua puluh ribu.”

Yang memegang bando tersenyum senang. “Anakku bakal suka nih. Siapa sih orang yang cukup bodoh untuk meninggalkan bando mahal ini?”

Aku berlari, ia tidak boleh mengambilnya. Aku berlari melompat ke atas bangku dan segera melompat menyambar bando tersebut pergi. Kedua petugas kebersihan itu berteriak marah, menambah jumlah orang yang kubuat berteriak marah dan mengamuk hari ini. Aku harus membawanya sebagai bukti ke Catness. Tapi bagaimana caranya aku masuk ke mall?

Aku berlari masuk ke mall. Pintu terbuka karena menggunakan sensor  di mana bila ada seseorang atau sesuatu di dekat pintu maka pintu akan terbuka, petugas keamanan yang berjaga di balik pintu berteriak. Aku terus melaju, aku berlari menaiki escalator.  Petugas keamanan itu berlari mengikutiku. Aku terus berlari. Beberapa orang berteriak kaget ketika aku melewati begitu saja celah kaki mereka. Aku lalu berhenti mendadak di  ujung escalator ke lantai lima. Rusak, sebuah lubang cukup besar menganga begitu saja. Terdapat sebuah karton besar bertuliskan: “SEDANG DALAM PERBAIKAN.”

Lift? Tak mungkin kugunakan. Kalaupun bisa, aku tak akan dapat menyentuh tombol membuka lift, apalagi tombol lantai. Si petugas keamanan yang ngotot itu masih berlari-lari mengejarku, nafasnya sudah terengah-engah. Aku terjepit. Aku menatap lubang cukup lebar itu dengan gugup. “Kalau ini berhasil, aku akan beli seekor kucing hitam bermata kuning.”

Aku melompat. Dengan resiko jatuh mati aku melompat. Mungkin otakku sudah menjadi gila karena kejadian aneh ini, tapi aku selamat. Kurasa memang benar kucing punya semilan buah nyawa. Sangat disayangkan aku akan kehilangan sembilan nyawa itu saat aku kembali menjadi manusia. Tanpa menunggu lagi, aku berlari ke lantai lima meninggalkan si petugas keamanan, yang kuharap tidak mengejarku dengan lift.

 

Siapapun yang memiliki Catness ini, dia orang yang sangat amat kaya. Seluruh lantai lima ini rupanya adalah toko aksesoris ini. Sayangnya, nampaknya toko ini tutup karena efek dari perbaikan escalator dan para pengunjung nampaknya malas mengantri lift. Aku berjalan mengendap-endap tanpa suara di lantai yang gelap ini. Mata kucing memang ampuh menghadapi situasi seperti ini. Suara aneh terdengar dari arah sebuah ruangan, di mana pintunya terbuka dan cahaya bersinar keluar. Seorang laki-laki sedang menggaruk-garuk kepalanya sambil menatap ruangan yang berantakan itu.

“Sialan…” umpatnya, lalu kembali mencari. “Di mana ya? Duh, itu bando special…”

Aku menyeringai senang ala kucing. Orang ini pemilik bandonya. Aku hendak melangkah masuk dan mengeong ketika laki-laki ini melanjutkan perkataannya.

“Tanpa bando itu, aku ga bisa makan enak…” katanya sedih. “Padahal aku baru saja dapat resep tongseng kucing…”

Tunggu, Tongseng… Kucing?!

Sialnya aku, laki-laki itu berbalik memandangku. Ia tertawa lebar, lebar sekali. Dengan ngeri aku menatap tanda pengenalnya: Ari Siaraan, pemilik Catness. Laki-laki gila ini pemilik toko ini? Pake jampi-jampi apa?!

Sebelum aku tahu, kedua tangannya sudah melayang hendak menangkapku. Aku segera melompat mundur dan berlari pergi. Tiba-tiba, senter bersinar dari sudut kea rah escalator, security ngotot itu menaiki lift untuk mengejarku. Aku melompat ke sebuah gang kecil antar toko. Ari mendatangi si security.

“Maaf, pak. Lihat kucing nggak?” Tanyanya. Si security mengangguk.

“Kebetulan, pak. Saya juga lagi cari,” jawab si security sialan. “Kan binatang dilarang masuk ke mall indoor, pak.”

Keduanya sekarang mencariku. Bagaimana caraku nanti kabur? Bagaimana caraku mengetahui cara untuk kembali? Bagaimanaaaaaa??!!!!  “Nyaaaa….”

Senter si security segera menyinariku. Bodohnya mulutku. Aku segera berjalan mundur dan keluar melalui gang sebaliknya. Di keadaan lantai yang gelap ini, mereka takkan dapat menemukanku semudah itu… Atau setidaknya itu yang kupikirkan sebelum tiba-tiba lantai ruangan menyala. Aku ternyata berada di dalam salah satu gerai. Penutup besi yang seharusnya menutupi gerai ini dan seharusnya, jalan keluarku, sudah berkarat dan hancur ditabrak tikus atau binatang lainnya. Meski aku bukan pencinta hewan, tapi aku merinding melihat apa yang kulihat di sini. Ini rupanya dapur kecil Ari. Di dindingnya terpajang satu lembar kertas dengan dua foto, kucing dan masakan yang kuduga hasil dari kucing tersebut. Selain itu, ada banyak sekali bulu kucing di lantai. Ini adalah dapur pembantaian si Ari. Sehelai kertas yang tertempel di dinding tertiup angin dan jatuh di dekatku.

RENCANA TAHUN INI: MAKAN 100 KUCING UNTUK MEMBUAT JIMAT YANG MENGUBAH ORANG MENJADI KUCING. TANDAI DENGAN “WEAR TO BECOME A CAT”.

Sialan… Aku korban pertamanya? Suara langkah kaki terdengar dari dalam, dari pintu dapur yang tak dihalangi pintu maupun tirai, Ari nampak terkejut, rupanya ia meminta si sekuriti menunggu di depan. Aku melompat kea rah kompor, di mana sebuah pot berisi air sedang direbus dan asap mengepul-ngepul.

“JANGAN!” seru Ari marah. “AKU MEMBUATNYA PENUH PERJUANGAN TAHU!”

Aku tak perduli. Aku hanya ingin menjadi manusia dan hidup normal, bukannya dicerna menjadi makan malam Ari atau terpaksa menjadi kucing jalanan. Aku berdiri disandang kedua kaki belakang dan melemparkan bando masuk ke dalam air. Ari berteriak marah, namun suatu hal aneh terjadi. Tubuhnya menghilang. Mungkin ini sejenis perjanjiannya dengan jimat ini. Entahlah. Yang pasti: Ari hilang tanpa jejak. Aku? Aku sendiri masih menjadi kucing. Dengan sedih aku melompat turun dan bejalan keluar melalui lubang kecil tempat aku masuk. Kegelapan total menyambutku. Dengan insting aku berjalan kea rah lift. Aku memencet tombol dan pintu lift terbuka. Aku memencet tombol menuju ke lantai bioskop...

Tunggu… Aku jadi manusia lagi! Aku memegangi mukaku dengan senang. Aku mendesah lega. Pintu lift terbuka. Aku berlari ke arah bioskop. Temanku sudah menunggu di depan kasir. Aku nyegir dan menerima tiket yang ia sodorkan.

“Kemana aja sih kamu?” tanyanya marah. “Aku udah nunggu sepuluh menit yang lalu tau ga?!”

Aku tersenyum. “Maaf, tadi aku jalan-jalan.”

Bersama kami berjalan masuk dan duduk di kursi kami. Film rupanya sudah berjalan hingga scene di mana  teriakan pasti akan terdengar. Temanku mencolek tanganku.

“Tadi aku beli bando bagus lo di toko,” katanya, sambil mengambil sebuah bando berpita biru. “Lagi hot. Kata pegawainya barusan datang hari ini dan disebar ke seluruh Indonesia.”

Aku mengambil bando tersebut dan menemukan sesuatu yang lebih mengerikan dari film ini.

Di sana. Tertera dari kanan ke kiri, di tengah bando.

WEAR TO BECOME A CAT.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis cat
cat at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 17 weeks ago)
80

Ah terlepas dari semua kument yang lain saya merasa adegan kejar2annya seru.

Tp yah itu dia perubahan jd manusia sangat tiba2.

makasih kak :D

80

Well. terlepas dari settingnya dll. (cabe yang dilontarkan semua kerabat di bawah)

saya mendapati kalau cerita ini benar-benar memberikan suntikan adrenaline. sbuah acara kejar-kejaran dari awal sampai akhir.

yap benar. transformasinya juga kerasa terlalu cepat coba di hayati mungkin lebih enak kali yah!

Makasih kak xD
Lain kali coba baca dulu 3X baru post :D

Penulis Chie_chan
Chie_chan at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 18 weeks ago)
100

Eh, ea, ada "seorang kucing" tuh di atas. Sengajakah? XD
Ini keren lho. Double keren. Eh, triple keren. Jarang-jarang aku ngasih sepuluh (eh tapi belakangan ini jadi sering)!
Gaya penceritaannya ngalir dan lumayan membumi (apa maksudnya membumi, jangan tanya karena aku juga ga tahu), tapi nuansanya malah teenlit terjemahan. Flaw terbesarnya sudah disebutin kak Kure, tapi aku bukan orang yang terlalu bermasalah sama logika bolong, jadi tenang aja. XD
Bagian favoritku ya eksekusinya. Hehehe. Btw nama Ari Siaraan hampir ngingetin aku sama seseorang, tapi ga tahu siapa.
.
Love this! XD

Makasih kak XD
Yang itu mga sengaja ><
LOL. Saya cari itu nama mungkin lagi dengerin berita gosip :p

Penulis nagabenang
nagabenang at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
90

dari semua cerita eksperimen, kekny aku paling sreg sama setting cerita eksperimen yg ini, entah kenapa, wkwkwkw~

adegan kejar2annya seru loh btw ^_^

makasih :D

makkie at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
100

kapan dia make bandonya..???

itu kesalahan fatal saya QAQ

Penulis k0haku
k0haku at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
70

Loh, ini masih bisa dilanjutkan? Kukira tamat...
Tapi ceritanya seru, menarik dan nggak terduga. :D
Tidak menduga juga ini buah karya LCDP yang saya ikuti di fb. :p

makasih :)

Penulis Rea_sekar
Rea_sekar at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
100

Saia kasih 10 poin karena dikau bener-bener telah resmi bebas dari webe.
.
Semangka!

makasih XDDD

Penulis Kurenai86
Kurenai86 at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
70

Lho, 'aku'-nya nggak pake tuh bando bisa berubah jadi kucing ya? Kan dia cuma pegang aja. Terus kenapa orang lain yang juga sama2 pegang nggak jadi kucing juga?
Setelah itu, ketika dia balik jadi manusia juga terjadi tiba2...

*panik* kesalahan yang amat fatal

Penulis Isyan
Isyan at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
70

setuju dengan pendapat yang sebelumnya, transformasi terjadi dengan terlalu mendadak (kalo ada proses yang lebih menjelaskan, mungkin akan lebih bagus).

Tunggu, 'seorang kucing'? wah, mungkin salah satu kata temuan terbaru, ya? (Ha2, peace!)

Lidah kucing, lidah manusia -> penceritaanmu tentang hal ini terasa mengganjal bagiku (seolah-olah tokoh utama mempunyai dua lidah).

'Sehelai mi', oh, kalimat inipun terasa aneh menurutku.

Wah., banyak yang ikutan eksperimen ini, ya? jadi pengen ikutan

makasih cabenya X)

Penulis herjuno
herjuno at Proyek LCPD: Wear to become a cat (8 years 19 weeks ago)
70

Ada dua hal yang mengganjal saat saya selesai baca ini. Pertama, kamu tidak menceritakan sang karakter aku mengenakan bando itu; ia hanya mngambilnya dan membawanya ke pusat informasi. Namun, kenapa tahu-tahu dia jadi kucing? Kedua, tak dijelaskan proses atau alasan ia kembali menjadi manusia. It's just happen, IMO.
.
Terlepas dari hal itu, saya rasa kamu satu-satunya orang yang mengikuti aturan no. 2, yakni toko aksesoris berada dalam mal atau pasar swayalan. yang lainnya (kaya' saya) mana ada? :3

*despair* Ternyata ada yang saya lupakan...
.
beneran? :/