Agustusan 2011: Di Gambir, Kereta Parahyangan Tengah Menuju Ganesha No. 10

Di Gambir

 

Sepasang dada nyaris tumpah, gravitasi diduga

laki-laki. Mataku yang lengket di situ,

menerka ukuran bra yang dikenakannya. Beginikah

dulu Adam memandang Hawa, yang dadanya

 

                                           seukuran khuldi?

 

Adegan Sora Aoi dalam Yehezkiel itu juga bukti

kalau kereta tak lagi datang malam hari,

dan celana-celana makin sempit, memuat dosa

yang tak habis tujuh turunan.

 

Kekasih, di stasiun ini aku tak berani membuka telinga

mendengar kabar tentang gempa yang melandai

kepalamu, ketika kepulangan adalah hal baru

 

untuk kepergian yang terlalu lama kutunggu?

 

 

Kereta Parahyangan

 

Sebuah kereta barangkali meledek reformasi. Mencari

kupe yang tepat sesuai tiket, seorang laki-laki malah

asik membaca koran, menyalakan cerutu, mengabaikan

 

                                                  pendingin ruangan.

 

Tak elok berebut kursi, kupilih yang dekat jendela, kalau

sesuatu terjadi (semisal bau kentut yang menyengat)

kupecahkan saja ia demi menemui udara yang karib.

 

Hanya tiga jam dibanding tiga belas tahun yang urung

membongkar para nasib. Dada yang naik turun karena

sebu, juga beribu soalan yang tak kunjung rampung.

 

Duduk di Kereta Parahyangan, ada yang bergetar di

sakuku, sebuah panggilan tak terjawab, tiga belas lain

private number. Barangkali Tuhan  malu dan kesepian.

 

 

Ganesha No. 10

 

Yang kumakamkan di sepanjang empat sembilan ki hujan

itu adalah doa, diam-diam dititipkan angin dari

seberang pulau. Ibu berpesan, laki-laki seharusnya

tak mengenal putus asa. Hanya saja, bougenville di gerbang

itu terlalu angkuh, untuk meraih dan merengkuh

sebuah cara untuk menjadi dewasa. Kawan, aku yang raib

ditelan cuaca ghaib, mengurung diri dalam kandang

(sedang burung koak tak berkandang), mencuri Waktu--

beberapa malam terakhir seperti ragu.

Dan Ibu tersimpan rapi dalam folder di CPU itu, memutar

drama-drama yang menyajikan airmata, menyamarkan

airmata milikku.

 

(2011)

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

keren om, apalagi soal dadanya

bused , bruakakakakak :D
*ngakak guling guling*

90

So simple but so interesting. a simple minded.

adi pisan

niken suka yang Ganesha No, 10. nampak menggambarkan kamu ya di :P

100

jan erammm....

100

bagus! ><

Begitu kejamnya orang yang berani kentut dalam kesempitan.
Dan begitu anarkisnya bila jendela harus pecah karena bau tak sedap.
Goodluck yeee.... lam kenal.

90

membingungkan, tapi saya suka bagian kereta parahyangan

90

ibu....
:'(

100

Dari Gambir naik Parahyangan, perjalanan lanjut ke Ganesha no. 10.
Empat tahun kemudian, ke mana tempat tujuan selanjutnya?
*sigh*

80

bagai empek-empek disiram cuka

90

huuueeeeeeee...
saia baru tau, ternyata pangeran ikut meramaikan jugak
sangkyu, pangeran
ahak hak hak

80

bgus" teruskan karyamu prince dan doakan semoga aku bisa menyamai tingkatanmu dalam berbahasa,

90

lumayaaan baguuus...
salaaaaam sastraaaa!

80

Saya suka!
Hanya terganjal beberapa tanda baca dan pemenggalan kalimatnya, apakah memang sengaja dibuat begitu?
Salam kenalku!

Semoga dapet Bintang Jalang-nya Chairil Anwar!

100

Selalu nyaman membaca karya2mu..... Salut...!!

100

Puisimu selalu perfect Pangeran .... O ya, selamat menempuh hidup baru, semoga bahagia .... Perkawinan membuat sesiapa pun menjadi dewasa dan bersikap apa adanya. Salam ....

100

hm ... laki-laki gak boleh nangis.
ayo terus berpuisi, sipsip!