Lampu Kota

LAMPU KOTA

Dua kelingking yang bertautan, punya debar yang lebih abadi, dari janji itu sendiri.
- Disa Tannos

/1/

Suatu malam di bulan Agustus. Langit hening. Kita berjalan menyusuri sepanjang sisi kota, berdua. Setelah lama hanya dapat melihatnya di layar kaca, akhirnya kita sampai juga di kota Jakarta. Bintang tak tampak, pun dia, dewi purnama. Tapi malam demikian mesra menyentuh tubuh kita.

Perlahan, aku menggenggam tanganmu. Kita turut merasakan nadi kehidupan Ibu Kota, dan menyaksikan denyut kesibukan yang melingkupinya. Gedung-gedung berdiri di sisi kiri dan kanan jalan, malam bermandi cahaya. Kita, yang sehari-harinya hidup di desa kecil, selalu merasa takjub tiap berdiri di kota besar.

"Kau tahu," bisikmu, "mengapa lampu jalan selalu menghadap ke bawah?" Kau menunjuk beberapa lampu yang berdiri di dekat jembatan penyeberangan.

Aku melihatnya. "Karena memang dirancang demikian," kataku.

"He-he, ada hal lain," kau melepaskan genggamanku dan meletakkan tanganmu di belakang punggungmu. Aku selalu suka mendengar kata-katamu. Sederhana, namun mengena.

Kau menatapku - selalu begitu setiap kita bicara, "tahukah, lewat lampu kota, manusia ingin mencipta matahari," kau menunduk, memandang pantulan cahaya di bawahmu, sambil berjalan, "matahari kecil nan hangat dan cerah, dan bersinar pada malam hari." Kau memainkan anak rambutmu, memilinnya dengan jemari, dan termenung.

"Pun," kau berkata lagi, "jika biasanya Tuhan menciptakan bahan dan manusia menjadikannya obat, kini terbalik."

"Terbalik?" tanyaku heran. Aku mulai tertarik dengan kata-katamu.

Kau mengangguk, "pernah tidak kau berpikir, bahwa lampu kota - ciptaan manusia, diolah Tuhan menjadi obat?" Matamu berbinar-binar.

Aku menggeleng, "mungkin setelah mendengar jawabanmu, aku akan berubah pikiran."

Kau tertawa dan menunjuk satu-satunya pohon di seberang jalan, daunnya sudah banyak berjatuhan di trotoar. Di belakangnya ada minimarket 24 jam dan seorang kakek penyapu jalan, sedang duduk di sebuah bangku tua. Semuanya bermandi cahaya.

"Lampu kota, telah diubah Tuhan menjadi penyembuh, bagi kesedihan dan kesunyian semua makhluk-Nya," katamu, "seperti cahaya, menyentuh kita dengan hangatnya. Sederhana."

Aku diam saja meresap kata-katamu. Terharu. Kau benar, terkadang, justru lewat hal-hal kecil, kita dapat mendekatkan hati pada Sang Pembesar Jiwa.

Aku membuka suara, "barangkali," bisikku, "ada satu hal lagi."

Kau melihatku.

"Lampu kota juga dapat meneduhkan sebuah pertemuan," aku tersenyum, membalas tatapanmu. "Sebab pendarannya serupa sayap yang menyentuh benak kita."

Aku kembali menggenggam tanganmu, "bukankah sekarang, kita bisa merasakan hangat, meski cuaca sedang dingin?"

Kau terdiam, memandang mataku dalam-dalam, seakan menemukan sesuatu di sana. Aku gugup. Matamu terlalu indah. Terlalu dekat.

"He-he, betul kan?" aku mengelus rambutmu, kemudian mengacak-acaknya, kau tak sempat menghindar. "Kebiasaan! Jadi berantakan, kan?" Kau bersungut dan merapikannya lagi.

Aku tertawa, kemudian mengajakmu duduk di bangku di sebuah kedai kopi -mereka menyebutnya kafe, kita memesan dua cangkir teh dan menyesapnya perlahan, "kelak, meski malam tak lagi mengenal kita, dan kenangan hanya ada dalam ingatan pohon tua, mungkin rindu tetap bisa bernaung di bawah lampu kota, tempat ia biasa berteduh dan berlindung dari musim kesedihan," kau menatap ke lepas jendela, lalu terdiam, memikirkan kata-katamu sendiri. Pun aku.

Setelah di dalam cangkir hanya ada ampas, kita pun meneruskan perjalanan. Aku melihat jam, malam sudah larut. Gerimis tumpah. Perlahan, kota terlihat buram, seolah berbaur dalam satu pejaman.

"Aku tak bawa payung," katamu. Panik. Lalu merapatkan jaketmu. Aku segera menaruh tanganku di kepalamu, supaya tak pening terkena siraman air. Kita langsung berlari mencari tempat kering.

Beberapa menit kemudian, kita berteduh di depan pertokoan. Cukup lama, meski cipratan masih mengenai kaki.

Kota terlihat ganjil di tengah siraman hujan. Sementara pandangan mulai kabur, mobil-mobil masih melaju menembus malam. Entah sudah berapa lama kita berada di sana.

Kota tak jua lelap.

Hujan bertambah deras.

Seketika, kita merasa sunyi.

/2/

Kini, setahun berlalu. Aku berdiri di depan kafe, tempat kita pernah menghabiskan malam bersama. Aku menatap lampu kota di selatan jalan. Lampu itu empat nyalanya. Tapi dulu, sekarang tinggal dua, redup, dan catnya mulai mengelupas.

Aku tersenyum, menghampirinya. Lalu membiarkan cahaya menyentuh sekujur tubuh. Di sekitar tiang, laron-laron beterbangan. Sama mencari hangat di tengah pias lampu.

"Aku selalu mengingatnya, bagaimana mata dapat menambah indah percakapan," aku mengenang kata-katamu. Lalu mencoba menggambar parasmu dan menyimpannya dalam ingatan. Senyummu terus termangu di benak.

Sekarang kau sudah tiada. Malam luruh dalam tangis September, sedang langit, tak mampu lagi membendung kesedihan. Hujan turun, sama seperti setahun lalu. Aku hanya diam, membiarkan tetesan air membawa air mataku. Aku berharap ada perasaan lega menyusup, lantas menderas nerkamkan sesak, di hati.

"Kau benar," aku menatap langit.

"Setidaknya lampu kota dapat mengobati rasa rindu padamu, meski tak pernah benar-benar bisa - menyembuhkannya."

Rafael Yanuar (21 Agustus 2011)

Satu-satu bintang pergi, rindu berdiam menjaga pagi.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Lampu Kota (4 years 26 weeks ago)
80

suasananya kentel. melankolis.
filosofi lampu kota.

Writer Chlochette
Chlochette at Lampu Kota (7 years 43 weeks ago)
90

Bagus banget (n_n)
Simple but deep (>"<)

Writer just_hammam
just_hammam at Lampu Kota (7 years 46 weeks ago)
70

Cerpen recomended by jayhawkerz
http://www.kners.com/showthread.php?t=1270&page=3
.
Cerita yang manis. Hanya satu yang mengganjal, di bagian /1/ cerita di suatu malam di bulan agustus, namun di bagian /2/ yang disebutkan setahun berikutnya, disebutkan di bulan september. Apakah ada yang aku lewatkan??

Writer jayhawkerz
jayhawkerz at Lampu Kota (8 years 7 weeks ago)
80

Mungkin karena terlalu pendek, diksi indah yang biasanya kau tampilkan jadi agak terkesan hambar. Tapi aku sangat suka dengan kata-kata ini ==> "kelak, meski malam tak lagi mengenal kita, dan kenangan hanya ada dalam ingatan pohon tua, mungkin rindu tetap bisa bernaung di bawah lampu kota, tempat ia biasa berteduh dan berlindung dari musim kesedihan" keep nulis! :)

red_rackham at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)
60

Sebenarnya cukup unik dan saia bisa merasakan rasa 'pahit' perpisahan di cerpen ini.
Hanya saja bagi saya agak sedikit mengganggu kamu pakai POV1 tapi juga menggunakan 'kita' dalam cerpenmu. Saia jadi agak sedikit bingung dengan sudut pandangnya. Apa ini POV3 (model kyk game 3rd person view) atau POV1...
Anyway...good one~! Keep on writing!

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Penggunaan "kita" pada POV 1 salah ya? Kalau "kami"? Aku masih bingung dengan penggunaan sudut pandang dalam menulis cerpen, mohon bimbingannya =/.

red_rackham at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Ehm....ga salah sih. Cuma ga wajar aja. Soalnya di POV1, pembaca dibuat merasa seolah-olah dia karakter utama yang ada di dalam cerita (si 'aku'). Kalau di POV3 pembaca bisa dibuat mengikuti jalan cerita tokoh utama dari belakang punggung (khas kyk di game 3rd person view), disamping karakter utama, atau dari sudut pandang pengamat di 'langit' (kayak klo maen game strategy).
Begitulah....

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Oh, aha-ha, ngerti-ngerti. Dalam setiap cerpenku, aku sering memakai tokoh "aku" dan "kamu", bukan "dia" (nama), jadi aku memakai kata "kita" pada cerpen ini. Kebiasaan =).

Writer H.Lind
H.Lind at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)
80

Entah kenapan kali ini saya hampir tidak menemukan diksi indah yang biasa kau tampilkan. Bukan masalah sebenarnya. Saya aja yang kepingin. Hahahaha.
.
Membaca semua ceritamu, aku mendapat kesan kau selalu menuliskan cerita tentang 2 orang yang sama. Laki-laki penyanyang yang filosofis dan perempuan pujangga yang menghilang. Apakah dalam semua ceritamu kau sedang merujuk pada satu orang? :P
.
Saya suka dengan makna lampu kota itu. Sweet. :D

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Setelah dibaca lagi, benar juga :-). Mungkin tidak sengaja. Tapi sosok perempuan puitis-filosofis memang benar-benar ada dalam hidupku, meski sekarang aku tak tahu di mana dia berada (kami sama-sama pindah keluar kota waktu itu.) Mungkin aku teringat sosoknya. Semoga dia sering browsing internet dan tidak sengaja menemukan akunku di k.com. He-he-he :-).
-
Terima kasih ya sudah mampir, senangnya ada yang memperhatikan cerpen-cerpenku :-).

Writer H.Lind
H.Lind at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Wuih, really sweet memory. Amin, semoga dipertemukan kembali. Hehe :D

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)
70

nice......banyak filosofinya :)

Writer Rf. Yanuar
Rf. Yanuar at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)

Sejujurnya, saya malah tidak tahu di mana letak filosofis-nya (>_<)a.

Writer ekih
ekih at Lampu Kota (8 years 8 weeks ago)
80

Mendalam dan filosofis...Aku suka ceritanya. :)