Kemana Harta Zakat Kita ?

Sore itu Ali sedang dalam perjalanan pulang dari kantornya, tiba – tiba terdengar alunan lagu “sholatum minallah” dari HP nya. Lagu itu adalah isyarat jika sebuah sms telah diterima. Ali tersenyum membaca tulisan sms tersebut,”Kang, djln skitar kompleks prumahan qta skrg bnyk spanduk lmbaga amil zakat.aq bingung mw pilih lmbaga yg mana. Ada ide ?”. Ali lalu membalas dengan kata – kata,”insya Allah ba’da tarawih qta ngobrol ttg hal ni dmsjid ya”. Tak lama kemudian muncul balasan,”Ok Kang”.

Ba’da tarawih di masjid Nurul Huda berkumpul 5 orang remaja masjid. Mereka adalah Ali, Sofyan, Agus, Ridwan dan Deni. “Kang, gimana jawaban smsku tadi sore ?”, tanya Deni. Ali pun lalu balik bertanya pada semua kawan karib yang semuanya sedang duduk bersila. “sahabat – sahabatku, tadi sore Deni bertanya padaku tentang lembaga amil zakat manakah yang harus dipilih ketika akan menitipkan zakat, infak dan sedekah. Nah, sebelum aku menjawabnya, apakah diantara kalian ada yang bisa menjawab pertanyaan sederhana dari Deni ?”.

Tiba – tiba Agus berkata,’kalo mnurut aku sih lebih baik diberikan langsung pada mustahiknya, jadi lebih tepat sasaran.. soalnya melihat kondisi zaman sekarang amat sulit mencari amilin yang amanah. Apalagi harta titipan umat itu amat berat pertanggung jawabannya diakhirat”, katanya dengan semangat.

Ali tersenyum, lalu bertanya lagi,”ide yang bagus. Ada pendapat lain ?”

Sofyan lalu berkata,”kalo aku sih agak kesulitan mencari mustahik didaerahku, soalnya mayoritas masyarakat dilingkunganku orang – orang sibuk yang pergi kerja pagi dan pulang sore bahkan malam hari. Karena jarang bersosialisasi itulah kami mempercayakan urusan zakat pada amilin di masjid dekat rumah. Alhamdulillah amilin nya bisa dipercaya”

“iya, untung amilinnya bisa dipercaya. Didaerahku juga ada ketua DKM masjid yang membagikan harta dari muzakki pada beberapa orang yang merupakan pengangguran. Mereka ada yang diberi modal kerja, dibelikan gerobak dorong hingga mesin jahit. Alhamdulillah sekarang para pengangguran tersebut telah naik kelas menjadi muzakki”, kata Agus.

“Subhanallah. Menyalurkan harta pada mustahik langsung atau pada amilin masjid memang cara yang tepat. Namun masih adakah pendapat lain ?” tanya Ali pada hadirin.

Deni lalu membalas”kayaknya Ridwan punya pendapat yang lain dari kita deh. Ia kan suka bayar zakatnya ke lembaga amil zakat ? nah kasih tau dong alasannya ke kita – kita”.

Ridwan yang dari tadi terdiam pun lalu berbicara dengan semangat,”karena aku tinggal di apartemen, rasanya susah kalo menyalurkan langsung ke mustahik. Itu karena dilingkunganku mayoritas orang berada. Lagipula karena kesibukan kerja menyebabkan saya jarang ke masjid dan bertemu amilin. Akhirnya saya percayakan penyaluran harta zakat, infak dan sedekah pada lembaga amil zakat yang terpercaya. Alhamdulillah setiap saat terasa gampang jika ingin membersihkan harta, tinggal telpon layanan jemput donasi maka segala urusan menjadi lancar”.

Agus lalu bertanya,”kalo menitipkan harta pada lembaga amil zakat begitu, gimana cara kita mengetahui bahwa harta kita telah sampai pada mustahik ?,”

Ridwan pun membalas,”Alhamdulillah lembaga amil zakat yang ini tiap bulan selalu memberikan laporan penerimaan dan pengeluaran harta titipan dari umat yang seterusnya disalurkan pada para mustahik di seluruh Indonesia. Laporan tersebut dikemas dalam bentuk buku yang diberikan gratis pada tiap muzakki saat hendak menitipkan hartanya. Karena telah memiliki banyak cabang, jangkauan nya jadi luas ke seluruh pelosok negeri ini. Dengan demikian banyak warga tidak mampu tertolong dengan adanya lembaga ini.”.

Ali lalu berkata,”Alhamdulillah. Ternyata dari sahabat semuanya saya bisa mendapat begitu banyak informasi yang berharga tentang cara – cara penyaluran harta dari muzakki pada para mustahik. Bagi sahabat Deni, dari ketiga sahabat tadi bisa diperoleh kesimpulan sebagai berikut : pertama, jika bisa menyalurkan harta pada mustahik secara langsung, maka lakukanlah dengan diam – diam. Karena dulu para sahabat Rasul pun senang bersedekah dengan sembunyi – sembunyi. Hal ini dilakukan agar harta kita tepat sasaran dan terjaga dari sifat riya. Kedua, titipkanlah pada amilin masjid jika kita tidak mampu memberi langsung pada mustahik namun ingin mengurangi jumlah fakir miskin disekitar lingkungan kita. Hal ini dikarenakan para amilin dimasjid biasanya sudah punya data base jumlah fakir miskin didaerahnya masing – masing. Ketiga, kalau ingin praktis namun harta kita bisa digunakan untuk membantu para mustahik yang tersebar dipelosok negeri ini, pilihlah lembaga amil zakat profesional yang terpercaya dan transparan keuangannnya. Semoga kesimpulan dari saya bisa membantu kamu mencari tempat menitipkan harta yang sesuai dengan kemampuan kamu”, kata Ali dengan wajah berbinar.

“Subhanallah, luar biasa sekali pertemuan kita saat ini. Alhamdulillah saya mendapat banyak masukan berharga dari kalian semua. Khusus pada Kang Ali, terima kasih telah berinisiatif menyelenggarakan pertemuan ini. Insya Allah saya telah memiliki pilihan tepat dalam memilih amilin untuk menyalurkan harta saya”, kata Deni dengan ceria.

Malam pun semakin larut, kelima sahabat tersebut lalu sepakat untuk beri’tikaf dimasjid dengan berbagai kegiatan seperti shalat malam dan bertadarus Al Quran hingga waktu sahur tiba.

Bandung, 22 Agustus 2011/23 Ramadhan 1432 H


# Muzakki : orang yang mengeluarkan zakat
# Mustahik : orang yang menerima zakat
# Amilin : orang yang menerima titipan dan mengurus zakat

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer panglimaub
panglimaub at Kemana Harta Zakat Kita ? (7 years 43 weeks ago)
50

Typo... mohon diperhatikan huruf besar dan huruf kecilnya

Writer musthaf9
musthaf9 at Kemana Harta Zakat Kita ? (8 years 2 weeks ago)
70

bahasanya agak gimanaa gitu, agak terkesan menggurui
.
kerapiannya jangan ditelantarin dong bang
.
10 untuk idenya
4 untuk teknisnya

Writer edeluwis
edeluwis at Kemana Harta Zakat Kita ? (8 years 4 weeks ago)
80

mengalir ceritanya...