Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer!

 

Selamat datang di era kegelapan, era dimana dunia berada di ambang kehancuran, era dimana yang kuat berkuasa sementara yang lemah disiksa dan dibinasakan. Kejahatan telah menjadi kebiasaan dan kebenaran makin terlupakan. Manusia hidup di antara kebencian dan ketakutan.

Namun, masih ada harapan.

Suatu hari nanti, ketika iblis mencengkeram dunia ini, akan lahir tujuh orang gadis yang masih percaya akan kebaikan hati, dan langit akan memberkati ketujuh gadis ini dengan kekuatan yang akan mengakhiri gelap dengan cahaya suci dan mengembalikan cinta ke seluruh   bumi.

Kami menantimu. Oleh karena itu, bangkitlah, Angels of Virtue!

***

“Seperti yang diberitakan tadi pagi, akhir-akhir ini banyak hal aneh yang terjadi pada malam hari, ditambah lagi meningkatnya kasus orang hilang di sekitar kompleks Dominio Academy ini, jadi semua siswa harus sudah meninggalkan sekolah pukul enam sore dan langsung menuju rumah masing-masing—“

Mrs. Reed yang malang. Memang suaranya terdengar seperti rekaman yang diputar oleh robot penyampai pesan otomatis, tapi niatnya baik. Ia hanya ingin memastikan keselamatan kami semua… Tapi tak seorangpun yang mendengarkan. Semuanya sibuk dengan obrolan masing-masing, tak sabar menunggu sampai bel pulang berbunyi.

Atau setidaknya, begitulah kelihatannya.

“Berita itu cuma omong kosong! Itu hanya karangan pecundang yang ingin bikin sensasi!” seorang anak cowok yang duduk di belakang berujar dengan sombongnya, “Mana mungkin ada manusia berkepala banteng dan bersayap yang muncul tiba-tiba dan langsung menyerang orang-orang! Yang melaporkan hal itu pasti kebanyakan nonton anime!”

“Dasar pembual, padahal kau yang paling ketakutan waktu berita itu beredar!” sahut murid yang lain, disusul oleh tawa seluruh kelas.

Kesimpulannya, tak ada satupun yang menganggap serius kabar tentang kejadian aneh di Dominio City belakangan ini. Aku sendiri tidak yakin apa itu sungguhan atau bukan, tapi tetap saja… Sekolah saja sampai mengeluarkan peraturan agar sekolah dikosongkan setelah pukul enam sore. Berarti kemungkinan besar berita itu benar… Ditambah lagi kasus orang hilang itu… Hiiy…

Teng! Teng!

“Selamat sore, anak-anak! Ingat, tidak ada lagi yang berkeliaran di sekolah setelah—“

Tidak ada yang memedulikan Mrs. Reed. Semuanya langsung bubar begitu saja meninggalkan kelas seolah guru matematika kami itu sama sekali tidak ada.

Aku menghela napas panjang, mengucapkan selamat sore kepada Mrs. Reed, lalu mengikuti arus meninggalkan ruangan.

Sekolah ini benar-benar kacau. Tidak. Kota ini benar-benar kacau. Tanpa manusia berkepala banteng dan orang-orang yang menghilang saja kasus-kasus kriminal sudah sering terjadi. Jangankan orang dewasa, anak-anak sampai yang seusiaku sekarang terbagi antara dua ‘kelompok’, yang menindas dan yang ditindas. Yang menindas adalah mereka yang lebih kaya atau memiliki penampilan yang lebih menarik tapi tidak punya perasaan, apalagi hati nurani, sementara yang ditindas hanya pasrah dan tidak mau melakukan apapun untuk memperbaiki keadaan.

Ya. Aku hidup di lingkungan menyedihkan seperti itu.

Tapi aku percaya, suatu saat semua akan menjadi lebih baik.

“Ingat, Eve, kau tidak boleh sampai kehilangan kepercayaan itu. Lakukan apa yang kauanggap benar, jangan ragu! Sekecil apapun perbuatanmu itu, pasti ada yang berubah, dan suatu saat, perubahan kecil itulah yang akan membuat kota ini menjadi kota yang indah dan ramah seperti dulu!”

“Jangan pernah lupakan hal itu, Eve…”

Aku mengeluarkan handphone-ku dan memandangi wallpaper yang terpampang di layarnya. Senyum Ayah, Ibu, dan senyumku sendiri menyambutku—foto tujuh tahun yang lalu yang kuambil dari potret yang terpajang di ruang tengah rumahku sekarang.

Sekarang tidak mungkin lagi kami bisa berfoto bertiga seperti itu. Ada satu orang yang kurang, satu orang yang tak mungkin tergantikan.

“Jadi kau berani melawanku, hah?!” terdengar suara serak kasar yang memecah lamunanku.

“B-bukan begitu… Tapi… Tapi…”

Aku menoleh dan melihat seorang murid cowok kurus dikerumuni oleh murid-murid lain yang tampaknya bisa meremukkan si kurus dengan satu tangan. Sekilas saja siapapun bisa melihat bahwa si cowok kurus itu sedang diganggu oleh yang lainnya.

Langkahku terhenti. Aku melihat ke sekeliling.

“Tapi apa, huh?! Pecundang seperti kau tidak usah banyak omong! Mau kuhajar?!”

Orang-orang berlalu begitu saja. Murid-murid yang lain, guru, tak ada yang melakukan apapun.

Lakukan sesuatu, Eve!

Suara Ibu melintas lagi di kepalaku. Tapi apa yang bisa kulakukan? Aku hanya anak kelas satu, cewek lemah yang tidak bisa apa-apa. Kalau aku membuat masalah dengan cowok-cowok itu, bisa-bisa aku berakhir di rumah sakit. Tidak ada yang akan menolongku… Sama seperti tidak ada yang menolong cowok kurus itu.

“Ja-jangan—“

“Tampang bocah tengil ini sepertinya minta dipukul!”

Tapi… Tapi harus ada yang melakukan sesuatu!

Jangan ragu, Eve…Percayalah…

Aku menggigit bibir, mengepalkan kedua tangan, dan melangkah ke arah cowok-cowok itu.

“Hentikan!”

Tinju salah satu dari mereka berhenti tepat di depan wajah si kurus. Detik berikutnya, semuanya menoleh ke arahku. Awalnya mereka tampak terkejut, tapi itu tidak berlangsung lama. Ekspresi itu langsung berubah menjadi seringai licik. Mereka maju perlahan meninggalkan target awal mereka dan bergerak mengelilingiku. Mendapat kesempatan untuk kabur, si cowok kurus langsung lari secepat kilat meninggalkan tempat itu.

Si-sial… Apa yang harus kulakukan sekarang?

“Nona ini berani juga,” ujar salah satu dari cowok-cowok itu.

Aku melangkah mundur, tapi punggungku membentur salah satu dari mereka. Aku menoleh. Sama sekali tidak ada celah buatku untuk kabur…

“Sepertinya nona pemberani ini begitu bosan sampai-sampai mengganggu kesenangan kita,” sahut yang lain dengan nada yang memuakkan.

“Tidak masalah, kita punya cukup banyak waktu untuk bermain-main,” sambung yang lain lagi sambil memegangi ujung rambutku sementara teman-temannya yang berdiri di belakangku memegangi kedua lenganku. Aku hanya bisa merinding jijik.

“Apa mau kalian, hah?” aku berontak, “Lepaskan aku! Dasar rendah!”

PLAK!

Pipi kananku serasa terbakar. Cowok sialan ini… Berani-beraninya mereka menamparku!

“Kurang ajar! Berani-beraninya—“

PLAK!

Kali ini pipi kiriku yang kena.

“Sepertinya mulutmu ini masih perlu diberi pelajaran lagi! Mau kita apakan dia?”

“Sobek saja bibirnya!” salah satu dari cowok-cowok tidak tahu diri itu mengeluarkan sesuatu yang berkilau sesaat dari saku celananya… Sesuatu yang tajam…

Silet?

Aku makin meronta-ronta. Sebenarnya apa mau mereka? Ini sudah keterlaluan!

“Ide bagus,” cowok yang menamparku tadi mengambil silet itu dari temannya, lalu tangannya yang satu lagi memegangi daguku dan menarik wajahku dengan kasar hingga jaraknya hanya beberapa senti dari wajahnya yang jelek dan mirip ular, “Tapi sebelum itu, kita bisa memanfaatkan bibir yang tidak tahu diri ini…”

Tawa mereka terdengar mengerikan. Wajah ular cowok yang satu ini lebih mengerikan lagi. Gawat… Apa mau mereka sebenarnya? Yang jelas bukan sesuatu yang menyenangkan… Apa yang harus kulakukan sekarang? Di saat-saat seperti ini, seharusnya ada seseorang yang muncul dan menyelamatkan gadis dalam kesusahan seperti aku! Masa tidak ada satu orang pun yang datang menolong?

Aku tidak bisa diam saja seperti ini… Aku harus bertindak!

Aku memejamkan mata dan menendang selangkangan si muka ular kuat-kuat.

Setelah itu, yang kudengar hanyalah jeritan.

“K-kau… B-betina kurang ajar!!! Habisi dia!” sementara si muka ular memegangi selangkangannya sambil meraung kesakitan, teman-temannya yang memegangi tanganku memperkuat cengkeramannya dan yang lain memegangi kakiku sementara satu di antara mereka mengangkat tinjunya, siap memukulku.

Gawat! Kali ini tamatlah riwayatku…

Aku menutup mataku rapat-rapat. Segala kemungkinan terburuk melintas di pikiranku. Mungkin mereka akan menghancurkan wajahku… Mungkin mereka akan mengikatku dan mengurungku di suatu tempat… Mungkin mereka akan… Mungkin mereka akan benar-benar menghabisiku untuk selamanya…

Ibu… Bagaimana ini?

Aku memalingkan wajahku, berharap tinju itu akan meleset. Tapi tidak mungkin… Aku hanya bisa menunggu sampai akhirnya tinju itu mengenai wajahku yang malang ini…

“A-ampun…”

Tiba-tiba tangan-tangan yang membelenggu lengan dan kakiku terlepas. Aku jatuh terduduk. Takut-takut aku membuka kedua mataku dan kembali melihat ke depan. Cowok-cowok tadi bergerak menyingkir perlahan sambil gemetar sebelum lari ketakutan, meninggalkan cowok yang tadi hampir memukulku, lalu aku melihat ke atas dan menemukan penyebabnya.

Seorang cowok yang tidak kukenal berdiri menjulang di hadapanku. Tubuhnya tinggi sekali, mungkin sampai dua meter. Dari kulitnya yang seputih kertas, kutebak dia pasti orang asing. Tapi dia memakai seragam Dominio… Mungkin anak kelas tiga.

Aku menengadah dan melihat wajahnya. Aku merinding.

Wajahnya sempurna, terlalu sempurna. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya tegas, hidungnya melengkung sempurna dan membuatnya terlihat seperti patung dewa yang biasa ada di museum-museum. Tapi matanya…

Satu kata. Mengerikan.

Matanya yang keemasan menatap seolah mengancam tajam ke arah cowok yang tadi hampir memukulku. Kalau tatapan seperti itu diarahkan padaku, aku tidak bisa membayangkannya… Benar-benar mengerikan. Rambutnya yang hitam dan agak panjang hanya menambah nuansa muram yang menyelimutinya. Salah satu tangannya mencengkeram lengan yang tadi hampir melukaiku kuat-kuat. Jelas sekali kalau cowok itu bisa meremukkan lengan itu kapan saja ia mau.

Instingku menjerit di telingaku, menyuruhku untuk berdiri dan meninggalkan tempat itu secepatnya. Tapi tubuhku mematung. Aku hanya bisa menatap keindahan bercampur kengerian dalam wajah cowok itu seolah terhipnotis.

“Ma-maafkan aku! T-tolong lepaskan…” cowok yang tadi mencoba memukulku itu bahkan tidak berani melihat langsung si Mata Emas. Suaranya bergetar. Begitu cengkeramannya melonggar, cowok itu langsung kabur secepat kilat.

Kabur meninggalkan aku dan ‘penyelamat’-ku.

Aku bahkan tidak tahu apa aku benar-benar selamat atau malah masuk ke sarang singa lain.

Tatapan cowok itu beralih kepadaku, masih mengintimidasi seperti sebelumnya, tapi intensitasnya sudah berkurang. Tetap saja aku bergidik dibuatnya. Lalu cowok itu berbalik dan pergi tanpa mengatakan apa-apa.

Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku saat itu, tapi aku mengumpulkan kekuatanku untuk berdiri dan mengejar cowok itu. Aku meraih lengan jasnya. Ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku.

Aku tergagap. Wajahku terasa panas. Sekarang setelah aku berhasil menghentikannya, aku tidak bisa mengatakan apa yang tadi ingin kukatakan. Kalau tahu begini jadinya, seharusnya kubiarkan saja cowok itu pergi tadi…

Sepasang mata emas menatapku, kali ini dengan bosan.

Aku memalingkan wajahku, “Te-terima kasih…”

Cowok itu menepis tanganku dan melangkah pergi.

***

Ternyata kesialanku hari ini masih belum berakhir juga. Bisa-bisanya aku meninggalkan tugas kimia yang harus kukumpulkan besok di sekolah! Padahal tidak ada yang boleh berkeliaran di kompleks sekolah di atas jam enam… Ditambah lagi ada kasus orang hilang dan manusia berkepala banteng itu… Hiiy…

Setelah sekian lama waktu terbuang percuma untuk perang batin antara menantang bahaya yang masih menjadi tanda tanya malam ini atau melewati neraka yang pasti besok pagi, disinilah aku, mengendap-endap di sepanjang koridor menuju kelasku dengan tongkat baseball di tangan untuk berjaga-jaga kalau ada penculik atau manusia banteng atau apapun yang mencoba menghalangiku.

“Hihihi…”

Terdengar suara perempuan cekikikan dari arah kelasku. Apa itu suara monster berkepala banteng? Tidak… Dengan sosok sesangar itu, mana mungkin suaranya centil seperti itu… Atau jangan-jangan…

Hantu?

Ah, tidak mungkin… Pasti hanya halusinasiku saja. Mana mungkin ada hantu zaman sekarang ini? Haha…

Tapi kabarnya dulu sebelum Dominio Academy dibangun, daerah ini pernah dijadikan situs pemakaman…

Aaaah! Jangan berpikir yang tidak-tidak! Aku hanya perlu masuk, terus melihat ke arah lantai sambil berjalan ke bangkuku agar tidak melihat hal-hal aneh, mengambil tugas kimiaku, lalu lari secepat kilat pulang ke rumah. Ya! Segampang itu!

Kubuka pintu kelasku perlahan, tidak mau mengejutkan apapun yang ada di dalam sana.

Krieeeet…

Sial! Kenapa tanganku gemetar begini sih? Tadinya kuharap aku bisa masuk tanpa suara… Tapi gara-gara tangan bodoh ini… Ah, sudahlah! Lihat ke bawah, Eve, lihat ke bawah… Lihat ke bawah… Suara perempuan tadi masih belum hilang juga. Jangan menoleh, Eve, terus lihat ke bawah…

Suara cekikikan itu berhenti.

“Lihat siapa yang datang.”

Gawat! Aku ketahuan!

Kali ini suara laki-laki, suara bariton yang rendah tapi terdengar… manis? Ah, bisa-bisanya aku memikirkan hal tidak penting seperti itu! ‘Hantu-hantu’ itu melihatku! Ini benar-benar gawat! Argh… Kenapa aku sial melulu hari ini?

Tunggu dulu. Rasanya aku pernah mendengar suara itu.

“Jangan malu-malu, nona manis, angkat kepalamu! Jangan kausia-siakan wajah cantikmu itu dengan menunduk terus seperti itu!”

Jangan dengarkan suara itu, Eve. Bangkumu hanya tinggal beberapa langkah lagi. Terus berjalan, ambil bukunya, lalu tinggalkan tempat ini secepatnya!

“Oooh… Ternyata Eve-chan yang datang! Ayo ke sini, bergabunglah dengan kami!”

Glek!

Bukannya mengambil bukuku dan kabur, tanpa sadar aku malah menoleh ke arah sumber suara. Dasar Eve bodoh!

“Kau seperti melihat setan saja, Eve-chan! Ayo ke sini!”

Tunggu dulu. Itu bukan hantu. Aku mengenali orang yang sedang duduk di atas meja di ujung sana dan berbicara padaku. Aku tidak bisa melihat dengan jelas, tapi aku mengenali rambut hitam keunguan acak-acakan itu…

“Lux Druis?”

Itu kan teman sekelasku yang baru pindah tiga hari yang lalu!

“Ah! Eve-chan mengenaliku! Senangnya…”

“Sedang apa kau di sini malam-malam begini? Bukannya semua murid dilarang berada di sekolah setelah jam enam?”

“Eve-chan sendiri sedang apa?” Lux bertanya balik, “Jangan-jangan Eve-chan mencariku, ya?”

“Aku hanya mengambil tugasku yang ketinggalan,” syukurlah, ternyata bukan hantu atau monster… Hanya Lux… Aku lanjut melangkah dan mengambil bukuku dari laci mejaku. Sebelum keluar, aku menoleh ke belakang, “Kau juga jangan lama-lama di sini. Berbahaya! Na-nanti muncul sesuatu yang tidak ingin kaulihat…”

“Bukankah lebih berbahaya kalau Eve-chan pulang sendirian? Ayo bermain-main denganku sebentar lagi, lalu kuantar pulang!” ajaknya dengan santai. Suaranya terdengar lembut dan… uh… menggoda?

“Jangan bercan—“

“Ayo… Ayo bermain denganku, Eve-chan…”

Lux masih tersenyum lebar. Tapi ada yang aneh dengan senyumnya itu… Senyum itu membuatku merinding. Lalu terjadi sesuatu pada matanya… Matanya… Mata Lux tiba-tiba menyala keemasan dalam gelap. Lalu aku menyadari bahwa dia tidak sendirian di dalam situ. Aku melihat sumber suara cekikikan tadi… Bukan hanya mata Lux yang menyala, mata-mata yang lain… Mata perempuan… Mata perempuan-perempuan yang mengelilinginya juga menyala… Dan semuanya menatap langsugn ke arahku.

Apa yang terjadi? Perasaanku tidak enak… Aku harus pergi! Aku harus menjauh dari tempat ini!

“Ayo ke sini, Eve-chan…”

Aku melangkah mundur. Apa itu benar-benar Lux? Atau jangan-jangan, itu hantu yang menyamar sebagai Lux?

Lalu senyum itu menghilang dan berubah menjadi seringai.

“Kau… Pesonaku tidak mempan rupanya…”

“Tidak mempan! Hahaha…”

Seringai itu berubah menjadi tawa mengerikan.

“Sayang sekali, Eve-chan! Padahal aku yakin kita akan bisa bersenang-senang… Tapi sayangnya kita tidak akan bertemu lagi setelah—“

Aku meyakinkan diri bahwa aku tidak mau mendengar kelanjutannya. Aku lari.

Sebenarnya apa yang terjadi? Masa Lux bisa jadi seperti itu? Jadi seperti… Seperti…

Seperti iblis.

Ah… Mana mungkin ada yang seperti itu? Aku pasti berhalusinasi... Ya, itu hanya halusinasiku saja. Aku terlalu takut gara-gara berita-berita aneh belakangan ini sampai-sampai jadi membayangkan hal yang tidak-tidak. Ya… Pasti begitu… Lagipula seharusnya tidak ada orang yang masih berkeliaran di sekolah jam segini, kan?

Tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang mendekat dari belakang. Aku menoleh.

Aku melihatnya.

“KYAAAA!!!”

***

“Huff… Huff…”

Sampai kapan aku harus berlari terus seperti ini? Ini sudah benar-benar keterlaluan untuk sekedar halusinasi… Terlalu mengerikan… Aku bersembunyi di balik patung batu entah apa yang berdiri di depan sebuah bangunan dan melihat ke belakang. Apa monster itu masih mengejarku?

Tidak ada tanda-tanda manusia raksasa berkepala banteng yang membawa kapak yang sebesar tubuhnya sendiri… Tidak ada… Aku sudah kehilangan makhluk itu…

Syukurlah…

Aku melangkah masuk ke dalam bangunan di depanku. Sebelah daun pintunya yang terbuat dari marmer sudah roboh, tinggal reruntuhan. Lebih baik aku bersembunyi di dalam kalau-kalau makhluk tadi masih mengejarku…

Ternyata monster berwujud manusia berkepala banteng itu benar-benar ada… Atau setidaknya begitulah yang terlihat olehku. Monster itu mulai mengejarku setelah aku kabur dari Lux dan ‘teman-temannya’ tadi. Betapapun aku berharap ini semua hanya mimpi atau halusinasi, itu tidak mungkin. Kalau ini semua tidak nyata, aku pasti sudah sadar dari tadi. Sejak awal, mata Lux tidak mungkin menyala seperti tadi dan dia tidak mungkin tertawa seperti kesetanan. Monster kepala banteng itu juga tidak mungkin mengejarku sampai keluar dari sekolah…

Aku benar-benar tidak ingin mengakuinya… Tapi ini semua nyata.

Sinar bulan masuk melalui lubang yang cukup besar di langit-langit gedung tempat persembunyianku akibat sebagian atap yang hancur, memberi cukup penerangan bagiku untuk mengenali tempat itu. Ternyata sekarang aku berada di dalam gereja tua di dekat sekolah yang sudah belasan tahun ditinggalkan umatnya. Selain atap yang bolong dan pintu yang setengah hancur, ada banyak retakan di temboknya. Bangku-bangkunya sudah berdebu dan ditutupi sarang laba-laba di sana-sini, sebagian bahkan sudah hancur berantakan. Patung dan ornamen-ornamen yang menghiasi gedung itu benar-benar tidak terawat. Pemandangan yang menyedihkan…

Aku pernah ke sini sebelumnya. Aku ingat, waktu aku kecil dulu, ibuku sering mengajakku datang ke tempat ini. Saat itu gereja ini sudah lama ditinggalkan, tapi kerusakannya belum separah ini. Ibu sangat menyukai tempat ini. Katanya tempat ini membuatnya merasa tenang karena dulu tempat ini pernah menjadi tempat berkumpulnya segala macam kebaikan…

Aku tidak pernah ke sini lagi sejak Ibu meninggal… Tapi Ibu benar. Rasanya tenang dan nyaman sekali berada di sini.

Aku ingat, dulu aku selalu berkata ke orang-orang kalau aku sering melihat cahaya-cahaya aneh di atas altar sebelah sana. Sekarang aku bahkan tidak yakin lagi dengan penglihatanku waktu itu. Aku tidak akan menyangkal kalau ada yang bilang itu hanya bualanku untuk mencari perhatian…

Eve… Eve Dragoste Giandra…

Eh?

Kemarilah, Eve…

Aku mendengar suara-suara lagi, kali ini dari arah altar. Bukan suara yang membuat bulu kudukku berdiri seperti suara Lux tadi, juga bukan geraman monster kepala banteng. Suara yang ini lebih halus, lebih… menyejukkan…

Seperti suara Ibu.

Eve…

Cahaya! Ada cahaya! Ada cahaya kemerahan yang seolah mengambang di atas altar. Apa itu artinya cahaya yang kulihat dulu bukan sekadar bualan anak kecil? Kali ini aku benar-benar melihat cahaya itu, cahaya kemerahan yang seolah memanggilku. Ya, suara itu seolah berasal dari cahaya itu… Dan suara itu… Cahaya itu ingin aku mendekat…

Aku melangkah mendekati cahaya merah itu. Apa yang kupikirkan? Setelah semua keanehan dan kesialan yang menimpaku hari ini, seharusnya aku lebih berhati-hati. Tapi tubuhku seolah bergerak sendiri. Lagipula… Lagipula cahaya itu berbeda. Suara itu berbeda. Aku tidak merasakan kengerian atau apapun dari cahaya dan suara itu… Hanya ada ketulusan… Ketulusan yang murni…

Aku berhenti tepat di depan altar. Ternyata cahaya merah itu berasal dari sebuah liontin, liontin yang sangat indah. Rantainya seolah terbuat dari emas murni dan bandulnya dikelilingi permata-permata kecil yang berkilau seperti debu bintang. Bandulnya sendiri berbentuk hati dan terbuat dari semacam permata berwarna merah yang berkilauan seperti batu rubi… Aku ingin menyentuhnya, aku ingin melihat liontin itu berkilau dalam genggamanku. Aku ingin merasakan beratnya di tanganku.

Tapi aku takut. Takut keindahan itu akan buyar begitu saja ketika tersentuh oleh jemariku.

Ambillah, Eve. Liontin itu milikmu.

Milikku?

Jangan ragu, Eve, ambil liontin itu… Itu akan menjadi kekuatanmu…

Kekuatanku?

Ayolah, Eve. Sentuh sedikit saja. Tidak akan terjadi apa-apa kalau kau hanya menyentuhnya sedikit, bukan?

Pada saat seperti ini, kuharap tubuhku bergerak sendiri lagi seperti tadi. Itu jauh lebih baik daripada tenggelam dalam keragu-raguan dan akhirnya tidak melakukan apa-apa.

Sedikit saja…

Akhirnya kuberanikan diriku untuk mengangkat tanganku. Kubiarkan ujung jariku yang gemetaran menyentuh jantung hati yang berkilau merah itu.

Lalu semuanya menghilang.

***

Di mana ini?

Tidak ada lagi reruntuhan marmer dan bangku-bangku berdebu dalam gereja tua tadi. Semuanya putih. Putih bersih. Putih kecuali untuk bola cahaya kemerahan yang berpendar-pendar dan mengambang di tengah kekosongan.

Eve…

“Siapa itu?!”

Aku ada di hadapanmu… Aku adalah kekuatanmu…

Cahaya merah! Suara itu berasal dari cahaya merah! Tapi… Kekuatanku? Apa maksudnya?

Kau adalah malaikat yang ditakdirkan untuk menyelamatkan bumi ini dari para iblis.

“Ma-malaikat?”

Kau adalah Ange Rouge, gadis terpilih yang dianugerahi kekuatan untuk menghentikan para iblis yang ingin menguasai dunia ini. Kau dan enam malaikat lainnya harus bertarung dan mencegah bangkitnya Seven Deadly Sins, iblis dari segala iblis.

“A-Ange Rouge? Iblis? Apa maksudnya semua ini?”

Ingat. Aku adalah cinta dan keberanian dalam dirimu, inti dari kekuatanmu. Jangan ragu dan jangan sampai kau kehilangan semua itu.

“Tu-tunggu dulu…”

Bangkitlah, Ange Rouge!

“Hei! Aku tidak mengerti apa—“

Sebelum aku bisa menyelesaikan protesku, cahaya merah itu melesat masuk ke dalam… Ke dalam liontin hati tadi yang sekarang terkalung di leherku? Apa-apaan ini? Malaikat? Iblis? Aku benar-benar tidak mengerti!

Tidak ada waktu untuk memikirkan semua itu. Tahu-tahu aku sudah kembali berdiri di depan altar di dalam gereja yang sudah hampir tamat riwatnya itu. Liontin tadi secara ajaib sudah berpindah dari altar tadi dan sekarang tergantung di dadaku. Dan tiba-tiba aku merasakan hawa jahat yang bergerak mendekat dari belakang. Terdengar suara berdebam yang begitu keras.

Aku berbalik dan melihat si monster kepala banteng masuk lewat pintu yang sudah hancur sepenuhnya akibat ulahnya barusan. Monster itu berjalan mendekat dengan kapak terangkat. Langkahnya berat dan lambat, begitu yakin bahwa mangsanya tidak bisa kabur lagi. Namun hentakan kakinya meninggalkan retakan-retakan di ubin lantai gereja yang sudah rapuh.

Sial! Aku terjebak! Aku tidak mungkin bisa lari melewati makhluk itu dan kabur lewat pintu sebelum kapak itu menghantamku. Satu-satunya jalan keluar tinggal lubang di atas atap, tapi aku tidak mungkin bisa melompat setinggi itu!

Tamat! Kali ini riwayatku benar-benar tamat!

“Jangan diam saja, bodoh! Cepat berubah!”

Aku mendengar suara seperti bentakan anak kecil. Dari mana datangnya suara itu? Jelas bukan dari si monster kepala banteng. Tapi siapa?

Lalu aku melihat ke bawah dan menemukan seekor rubah kecil berbulu keemasan menyalak-nyalak ke arahku. Mata merahnya menatapku kesal.

“Apa yang kaulakukan! Cepat berubah! Kau mau mati, ya?”

Malam ini benar-benar malam yang aneh. Teman sekelasku seperti kerasukan, lalu aku dikejar-kejar manusia banteng, lalu aku diberitahu cahaya aneh bahwa aku punya kekuatan untuk melawan iblis, dan sekarang ada rubah yang bisa bicara? Apa-apaan ini?

“Hei! Ayo berubah! Kalahkan Fury terkutuk itu!”

Berubah? Berubah bagaimana?

Aku pasti mengatakan yang barusan kuat-kuat karena rubah itu berujar, “Katakan sesuatu dan bayangkan kekuatan Ange Rouge mengalir ke seluruh tubuhmu!”

Ange Rouge? Cahaya merah tadi juga mengatakan hal yang sama. Cahaya itu juga mengatakan bahwa dia adalah cinta dan kebaikan dalam diriku… Berubah, huh? Apa aku harus mengatakan sesuatu seperti pahlawan-pahlawan yang ada di komik atau film kartun?

“Cepat! Tidak ada waktu lagi!”

Benar, monster banteng itu hanya berjarak beberapa langkah dariku. Tubuh raksasanya menutupi seluruh pandanganku. Kapaknya terangkat tinggi-tinggi, siap membelah tubuhku kapan saja.

Aku harus berubah!

“ANGE ROUGE ALTERER!”

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Chie_chan
Chie_chan at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (7 years 36 weeks ago)
90

Woot!
Ini asik banget, Ling. Bener-bener kerasa kayak mahou shoujo. LOL~ XD
Sebenernya saya ngobrak-abrik lapakmu buat nyari2 proyek bersambung, tapi saya cuma nemu PBCWMH dan saya emang udah ngikutin itu. Lalu saya inget proyekmu yg lain yg konon judulnya Ange Saga, dan ketemu ini. Tapi ini versi lama kah? Kok udah ga disambung2 lagi? :v

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (7 years 35 weeks ago)

Ini kan proyek NaNo saya, ratu =w=
Akhirnya saya bikin versi inggris, dah tamat kok. mau di-emailin? owo

Writer Chie_chan
Chie_chan at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (7 years 35 weeks ago)

MAUUUUUUUUUUUUUU!!!
Tapi ga janji bisa selesai cepet bacanya, Ling. :v :v

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (7 years 35 weeks ago)

email ratu apa sih? owo
gak papa~ nyantai aja, ratu <3

Writer Chie_chan
Chie_chan at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (7 years 35 weeks ago)

chie_chan@rocketmail.com
kyaaaa~~~ penasaran apa jadinya kalo kolonel jadi--eh, bikin mahou shoujo~ >///<

Writer IreneFaye
IreneFaye at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 8 weeks ago)
90

“ANGE ROUGE ALTERER!”
,
,
saingannya
,
,
"MOON PRISM POWER!!! MAKE UP!!!"

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 8 weeks ago)

Satu-satunya yang bikin saya minder Eve bisa menang ngelawan Sailor Moon adalah karena kemungkinan Eve bakal kena mual-mual ringan ngeliat pose lawannya waktu henshin *ditimpukin*

80

Saya dah ngomen di VP. Di sini tinggal ngasi poin.

Writer neko-man
neko-man at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
70

Nama yang bagus, prolognya aku suka.
-
Sayangnya kupikir standar magical girl. Ternyata temanya agak gelap dan kemungkinan dekonstruksi, banyak yang seperti itu akhir-akhir ini. Aku lebih suka magical girl yang original.
-
Kemudian agak klise. Tapi tidak terlalu jelek juga. Liat lanjutannya dulu ah.

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Ge-gelap???
...Ternyata saya memang menebar aura suram...
.
Klisenya disengaja *plak.
Makasih dah mampir~~

Writer neko-man
neko-man at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Sure, setelah prolog yang indah kau beri kasus orang mati. Mood langsung ancur. Setelah itu tokoh utama mau dilecehkan dan ditolongin cowok yang auranya gelap. Kemudian musuhnya itu serem. Tokoh utama yang pandangannya sangat realistis. SURAM...

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

...Saya memilih untuk menerima aura suram dari diri saya sendiri apa adanya. *plak

100

Saya ga punya kemampuan ngomentarin genre ini, jadi saya akan baca dan menikmatinya saja... ^^

100

Yah sayang... gak kaya episode 1 semua acara, minimal klau tokusatsu kayak gini bkin berubahnya kek sampe itu kaijin mati 1 episode komplit

<--- gak tahu diri.

mengingatkan saya pada tokusatsu buatan saya juga.

oh iya, karna si Ling jago gambar, maka saya memaksakan resling untuk bikin kostumnya jangan dengan hanya kata"

heheheheheh

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

iya. saya sebenernya udah bikin sampe monsternya mati. tapi jadinga 4 ribu kata lebih... dalam hati saya bilang 'wtf! ini mah udah ga sehat!', karena males nyingkat, saya potong deh.
.
Kak ivan bikin tokusatsu yang gimana?
,
Iya, saya udah gambar kostumnya, ntar kapan2 saya uplot. kalo dah belajar bikin, saya bikin! :p

kamu yg terinspirasi dari Mahou shoujo, kalau aku inspirasinya dari KR, tuh cek aja lapakku paling ata, dibikinnya rada cepat" jadinya agak labil plotnya.

iya, iya minta gambar kostumnya, kan emang yang menanrik dari ginian kostumnya.numpang nanya primary color nya eve pas udah power make-up, itu warna apa..?

lah minta spoiler *plak

Tebak" dari ceritanya sih, emas dari rantai kalungnya atau merah dari permatanya

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Merah. Rouge itu merah~~
Saya pake Prancis buat para heroine, Irish buat para villain~~

Writer k0haku
k0haku at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
90

Love it. Tapi emang klise banget sih, hahaha.
Ditunggu kelanjutannya, btw, kenapa memilih 7 malaikat?

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Yeah! Klise, tv tropes, whatever! I'll face you head on!!! *plak
7 malaikat? itu...
itu...
itu bener2 RANDOM. ehe.
Saya sengaja ngambil karakter agak banyak biar bisa mainin tipe2 karakter klise (plus biar ngematch ma 7 deadly sins, biar satu lawan satu). Bagian malaikatnya murni random.
.
Makasih udah mampir~~

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

ingetnya 7 Seals dan 7 Angels dari X Clamp :P

Subaru <3 *mendadak nongol terus ber-FG

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Saya suka siapa tuh... yang cewek rambut item panjang n rada2 tsundere sama cowoknya~~

Writer Yafeth
Yafeth at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
80

Jadi ingat pembicaraan tentang mahou shoujo yang ada di grup FB >:) Jalan ceritanya lumayan mengalir, jauh lebih baik dari buatan saya. Cuma mungkin terasa terlalu padat untuk satu bab, ya.

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Kak yafeth bikin juga? minta link-nya doooong~~
Biasanya saya juga bikin satu bab ga sepadat ini. Tapi saya rada 'maksa' supaya paling nggak mahou shoujo-nya udah ketahuan di satu chapter ini, biar jelas nih cerita mo dibawa ke mana.
makasih dah mampir~~

Writer dansou
dansou at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
90

INI BAGUS LING. KAU HARUS MENAMATKAN CERITA INI #maksa
.
Sebenernya ada yang mau saya cabein kemarin, tapi udah lupa. Sudahlah lupakan saja ==

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

*nagih cabe*

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
90

Aaaa... rubaaah >O<
mau rubahnya!!! terus kalo bisa henshin juga kasih buntut sembilan yaaa
*Plaak! seenaknyasendiri.com*
.
keren, beginilah kalo Riesling yang bikin cerita. bahkan klise Sailor Moon jadi menarik.
Cuma agak terganggu waktu Eve teriak 'KYAAA!!!' comical banget ahahaha...
.
Eh, kalo kepala banteng bukannya Minotaur? Kok jadi Fury?

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Iya~~ Saya sengaja milih familiar yang bisa henshin kayak rubah >w<.
.
Kyaa itu entah kenapa nyangkut di kepala saya, jadi terpaksa saya muntahkan.
.
Sebenernya saya lebih ngebayangin manusia kepala banteng di neraka versi Asia, bukan Minotaur. Akhirnya saya mutusin bahwa secara umum, semuanya istilahnya 'Fury', entar ada Fury yang spesies lain juga~~

Writer herjuno
herjuno at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
80

Ah, how I love the description. Amat natural, dan nggak tersendat dan dipaksa. Beberapa bagian showing dilakukan cukup apik (mis bagian "ada satu orang yang kurang..." dan "tidak ada tanda-tanda manusia berkepala banteng..."). Adegan2nya pun dieksekusi dengan tek-tek-tek (sambil bikin gerakan mencincang) dan juga nggak lompat (kec pas bagian buku fisika itu). Hanya ada beberapa disorientasi setting. Misal, kenapa pakai Mrs. dalam Mrs. Reed kalau bagian belakangnya Eve-chan? Sama, ini kelas 1 SMP, kan?
.

Btw bagian ini: "Aku tidak tahu setan apa yang merasukiku saat itu."
.
"Saat itu" berarti kamu menceritakan kondisi tidak sekarang dong, padahal bagian lain menceritakan kondisi sekarang. Kalau "barusan", masih kerasa enak. :D
Suka bagian rubahnya. Bagian itu gak boleh dilupain. >.<

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

...Sbenernya ini kelas 1 SMA *plak
Saya mutusin untuk 'nyuekin' konsistensi setting, terutama untuk panggilan, untuk sementara. Saya masih belom nemuin jalan keluar yang tepat... Sebenernya saya mo pake setting western, tapi saya ga kepikir panggilan yang 'cute' buat Eve dari si Lux *plak.
.
saat itu yah... ntar saya cek ulang.
Makasih kak juno~~

Writer herjuno
herjuno at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

Kalau pakai setting barat ya pakai 10th grade, 11th grade, dsb dong? :D

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

makanya... saya sendiri ga sreg pake 10 11 dst

Writer Rea_sekar
Rea_sekar at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)
100

AKU HARUS BERTINDAK
.
Wehehehehe namanya Dragoste ya? Jadi inget Dragostea Din Tei a.k.a. Numa Numa Dance. Ahahahaha. Ehem. Anyway... dari awal saia udah nunggu seekor familiar untuk datang, eh di deket akhir ternyata ada rubah. Menyenangkan!
.
Saia gak nyesel baca ini :D

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 1. Ange Rouge Alterer! (8 years 14 weeks ago)

AKU HARUS BERTINDAK
*ditimpuk kak smith*
Numa Numa Dance?
Dragoste itu artinya cinta, bahasa Irish~~
Saya sempet bengong lumayan lama mikirin mo pake familiar apa =w=.
Makasih dah mampir, kak reak~~