Menuju Le Chateau de Phantasm - Episode 5

Cahaya yang menyilaukan menyeruak ketika pintu itu dibuka, memaksa Eik dan kedua temannya menyipitkan mata. Saat mulai terbiasa, terlihat beberapa sosok berdiri di depan pintu membelakangi cahaya. Sulit untuk mengetahui siapa mereka.

 

"Bawa anak itu!" samar-samar terdengar suara tegas seorang wanita yang langsung membuat wajah Sion memucat.

 

"Teman-teman! Kita selamat! Kita bisa..." Eik tidak melanjutkan perkataannya ketika mendapati Sion diseret oleh orang-orang tadi.

 

"Mau apa kalian?! Hei!!"

 

Eik baru saja ingin melayangkan tinjunya ketika salah seorang dari mereka menendang ulu hati Eik yang sukses membuatnya tersungkur.

 

Sion berusaha memberontak berharap bisa terbebas dari cekalan orang-orang itu. Edgar hanya diam terpaku. Rasa dingin yang begitu lama dirasakannya membuat otaknya jadi sedikit sulit memproses kejadian di hadapannya.

 

"Edgar!! Jangan diam saja!!" bentak Eik.

 

Edgar yang seperti baru tersadar dari lamunan langsung mengambil posisi untuk melempar buku diktat super tebalnya ke arah orang-orang itu. Tapi bukannya berhasil mengenai salah satu orang itu, buku itu malah terjatuh begitu saja ke lantai disertai suara berdebam yang cukup keras. Ternyata sedari tadi seseorang dari mereka telah menghampirinya diam-diam dan menyuntikkan obat bius ke punggungnya dan kini ia pun ambruk.

 

Eik yang sedari tadi hanya memusatkan perhatiannya pada Sion berusaha bangkit kembali hendak menerjang orang-orang itu, namun ternyata ia sama sekali tak dapat bergerak. Tubuhnya begitu lemas dan mati rasa. Matanya hanya memancarkan kemarahan saat melihat Sion dibawa paksa oleh orang-orang itu. Ia hanya bisa meneriakkan nama Sion sebelum akhirnya hanya kegelapan yang bisa dilihatnya.

 

* * *

 

Gelap yang menyelimuti perlahan-lahan lenyap digantikan oleh cahaya putih. Kemudian kekuningan. Entah, tidak begitu jelas. Rasanya terlalu menusuk untuk mengetahui dengan pasti warna cahaya yang mengepung matanya itu.

 

Eik terlonjak bangun membuatnya oleng sebentar dan nyaris kembali ambruk.

 

"Hei, hei! Tenang sebentar. Jangan banyak bergerak dulu!"

 

Eik terengah-engah seolah paru-parunya baru saja mendapatkan oksigen. Ia melihat-lihat sekelilingnya dan baru sadar bahwa ada seseorang yang duduk di sampingnya.

 

"Hai, anak muda!'

 

Pria itu berkulit cerah dan memiliki rambut hitam di bawah topi coklatnya. Tidak salah jika pria itu disebut tampan. Pria itu tersenyum pada Eik.

 

"Oh, eh, hai, apa yang terjadi?" Tanya Eik dengan tampang bingung dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya.

 

"Bukankah seharusnya itu pertanyaanku?"

 

"Begitukah?" Raut wajahnya masih sama, dan kali ini ia berulang kali menoleh ke arah yang berbeda-beda. Ia masih belum ingat.

 

"Eh, baiklah, tadi aku ke tempat ini ingin mengambil pesanan daging di lemari pendingin yang ada di dapur. Begitu aku memasuki mall ini aku melihat banyak orang-orang yang terjebak di dalam toko-toko. Karena aku begitu terburu-buru, jadi aku..."

 

"Oh, kau!" akhirnya separuh kesadaran yang lain berhasil Eik dapatkan kembali.

 

"kau pasti orang yang menyelamatkanku, kan?"

 

"Ya, dan aku..."

 

"Oh, kau sungguh orang yang baik!"

 

"APA KATAMU?!"  menyertai teriakan kerasnya, mimik pria itu langsung berubah menyeramkan dan terasa ada angin dingin yang menusuk berhembus di sekitar. "Oh, uhm, maksudku..." Tapi untunglah sebelum pikiran Eik mencernanya sebagai hal yang aneh, wajah pria itu pun kembali normal. "Eh, ya, terkadang aku memang agak b...b...b...ba...ba..."

 

"b...b...b...? Maksudmu beringas?" Tanya Eik polos.

 

""Bukan , eh maksudku aku memang terkadang beringas, tapi untuk konteks yang ini bukan itu yang kumaksud."

 

"Hmm, brengsek?"

 

"Tidak, tidak. Ya, sebenarnya aku memang agak brengsek, tapi bukan itu kata yang kucari."

 

"Ah, aku tahu, pasti ba..."

 

"Ah lupakan!" potong pria itu karena frustasi. "Oh, sebenarnya aku harus pergi dari sini atau mungkin sebaiknya aku memperkenalkan diri dulu?"

 

"Ehm, boleh juga. Namaku Eik Moonfang dari..."

 

"Dan aku Ovia oops, eh maksudku... Waldo Von... Vladodhalon." pria itu lalu memajukan tangannya hendak bersalaman.

 

"Oh, salam ken..." lagi-lagi perkataan Eik terpotong.

 

“Bin Haris Bin Atang Binti Lan.” Tambah pria itu

 

“Oh, itu nama yang, panjang.” Kata Eik sambil bersalaman.

 

“Ya, panggil saja aku Haris. Ehm, sepertinya aku harus pergi sekarang.”

 

Haris baru saja hendak beranjak dari tempatnya ketika Eik menahan tangannya.

 

“Ya?”

 

“Bisa kau… tolong temanku juga?” pinta Eik seraya menunjuk-nunjuk Edgar yang tergeletak tak sadarkan diri tak jauh darinya.

 

“Oh, ya, boleh saja.” Haris kemudian berlutut di samping Edgar seraya mengeluarkan sesuatu seperti botol kecil dari dalam tas pinggang hitamnya. Dibukanya tutup botol kecil yang berisi cairan berwarna ungu itu, kemudian di tuangkannya isi botol itu ke dalam mulut Edgar. Sesaat Edgar tersentak, terbatuk-batuk sebentar kemudian menatap sekelilingnya dengan tatapan bingung.

 

“Edgar!” entah apa yang merasukinya, Tapi Eik terlihat gembira dan menolong orang yang bernama Edgar itu. Sama seperti Eik, saat ini Edgar juga hampir tidak bisa mengingat apapun. Ia bahkan tidak  keberatan Eik membantunya bangun dan duduk.

 

“Sepertinya anda baik-baik saja, nona. Baiklah, sebaiknya sekarang aku…”

 

“Tunggu!” potong Eik sambil memegang lengan Haris. “Kurasa kau sebaiknya jangan memanggilnya ‘Nona’!”

 

“Lalu apa? Oh, ya,” setelah merasa tahu, Haris kembali menoleh pada Edgar. “Baiklah, nyonya…”

 

“Bukan itu!”

 

“Lalu apa? Nenek?”

 

“Bukan bukan bukan!”

 

“Ah, aku tahu, cewek?”

 

“Ya ampun!” Eik menepuk dahi.

 

“Apa dong? Gadis kecil? Imut? Baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong?”

 

“Dia itu laki-laki!” Entah apa lagi yang merasukinya, tapi Eik terlihat agak frustasi meskipun kali ini hanya masalah panggilan Edgar.

 

“Benarkah? Kau pernah lihat, ya?”

 

Eik terperanjat dan matanya terbuka lebar. Ia jadi ingat dengan kejadian di sebuah pagi, mungkin beberapa hari yang lalu.

 

“Ya, pokoknya ngakunya begitu.”

 

“Ya sudahlah, anggap saja tidak penting.”

 

“Oh iya, kami tinggal di hotel sebelah. Apa kau mau mampir sebentar?” tawar Eik.

 

“Hotel?” Haris tersenyum –atau mungkin lebih tepatnya menyeringai— “Oh, ya, tentu saja. Setelah kupikir-pikir mungkin ada baiknya aku beristirahat dulu di sana.”

 

“Baiklah, kita ke sana sekarang.” Eik membantu Edgar berjalan dengan membopongnya. “Hei, Edgar, bukumu.” Eik melihat buku Edgar masih tergeletak di bawah dan mengambilkannya. Begitu melihat bukunya, Edgar seperti baru diaktifkan. Ketika ia melihat bahwa Eik yang memegang bukunya, ia langsung mengambil dengan cepat dan memasang raut sebal pada Eik. Kesadaran Edgar telah pulih sepenuhmya.

 

“Jangan pernah menyentuh bukuku, buluk!!”

 

Eik sebenarnya agak tersinggung tapi kemudian ia hanya berlalu begitu saja tanpa mempedulikan Edgar yang sibuk merapikan rambut panjangnya.

 

***

 

“Kau menginap di sini?” Haris memperhatikan sekelilingnya.

“Aku ingin istirahat dulu, kalau mau kau boleh tidur juga di ranjang itu.” Tawar Eik sembari tersenyum. Haris hanya membalasnya dengan senyuman.

 

Edgar yang merasa kecantikannya mulai memudar pun memutuskan untuk berendam dahulu di kolam renang hotel ini. Dia hanya ingin rileks untuk saat ini.

 

“Dasar Eik tidak berguna! Gara-gara si buluk itu aku harus merawat kulitku lagi secara ekstra.”

 

Edgar meraih koran yang ada di tepi kolam renang. Koran hari ini.

 

“Maraknya penipu dan pencuri di Porte Nord? Hum…”

 

Setelah berendam cukup lama dan menghabiskan segelas es limun, Edgar memutuskan untuk menyudahi ‘ritual pemulihan’-nya. Betapa terkejutnya ia ketika mendapati kamar yang tadinya agak ‘penuh’, sekarang jadi benar-benar nyaris kosong. Ya, nyaris.

 

“Koperku?? Oh, tidak! Laptopku?! AAAARGH!!!”

 

“Berisik kau Edgar… nyem…”

 

Edgar mendelik ke arah Eik. Dihampirinya Eik sambil menatapnya dengan penuh aura membunuh. Eik yang mulai merasakan adanya aura aneh di sekitarnya pun menoleh.

 

“Oh, hai Edgar! Selamat… malam?” Ujar Eik dengan tampang polos yang langsung mendapatkan hantaman bertubi-tubi dari edgar. Edgar bersyukur buku diktat kesayangannya selamat dari jarahan si Haris atau entah siapa namanya itu. Edgar  mendapati secarik kertas note di atas diktatnya itu –yang tentunya dari si Haris sialan itu—lalu dibacanya dengan cermat.

 

Terima kasih atas tumpangan gratis dan segala fasilitas plus plus yang kalian berikan padaku. Ini hari yang sangat menyenangkan bukan?

 

Oh iya, karena aku kasihan pada kalian makanya aku menyisakan sebuah ransel yang mungkin milik Tuan Moonfang dan buku besar tua yang mirip dengan milikku yang mungkin sudah dimakan rayap di rumah.

 

Oh satu lagi, ijinkan aku memperkenalkan diriku sekali lagi.

 

Aku Oviaz, PENJAHAT NOMOR 1 YANG PALING JAHAT SEJAHAT-JAHATNYA PENJAHAT DIANTARA JAHATNYA ORANG-ORANG JAHAT DIMANA KEJAHATANNYA ITU SANGAT-SANGAT JAHAT DAN… baik, lupakan saja itu.

 

 

Salam,

 

 

Oviaz

 

Peace, love, and LUCKY!

 

...

 

 

…Penipu…

 

Dan pencurian…

 

Di Porte Nord…?

 

Mimik Edgar perlahan berubah mengerikan.

 

Kenapa aku bisa tidak menyadarinya…?

 

Bagaimana sekarang caranya menemukan Wendy dan Sion..?

 

 

 

 

Akhirnya Edgar hanya bisa mengamuk dan membanting apapun yang ada di kamar itu.

Read previous post:  
78
points
(1484 kata) dikirim duniamimpigie 8 years 10 weeks yg lalu
86.6667
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | fanfic | Anti-QPLCDP | gie | Le Château de Phantasm
Read next post:  
100

Nitip poin~

80

kau benar-benar cinta pada LCDP ya yuu?
sama, aku juga cinta denganmu. lho????

wkwkwkwkwkkwkwkw

titip angka dulu ya, saya mau kembali ke masa lalu dulu. mau baca cerita ini dari episode pertama.

100

Add-on Ovz bikin ngakak... Ternyata Ovz jadi maling di sini... XD

Saya gak nemu ide lain.. -_-!
.
Makasih om zoel. XD

100

KASI GAMBAR GIGI AJA...!!!!!!!

Sersan capslock... -_-a
.
Makasih kak Aki. :3
Lanjutan BR kapan kak?

100

hohoho, ternyata ada beberapa bagian yang masih di"reserve"...
.
wkwkwk, ternyata tanpa unsur fantasi pun Oviaz masih menggila, lebih gila malah karena si Eik bisa ga sadar sama sekali. mantabz! salut deh d^^
.
"Bagaimana sekarang caranya menemukan Wendy dan Sion..?"
saya juga jadi penasaran. Ayo, penulis berikutnya, berjuanglah!
.
ah, ada titipan dari Oviaz
Aku hanya bisa bilang ini payah, sangat payah! Apa? Ya, karena kalau kubilang bagus, aku bisa kehilangan gelar jahatku.
XD

Waduh, yang punya OC nongol! 0.o
.
Oviaz~ daku fans setiamu~ XD

100

Saya hanya punya dua kata:Ngakak Abis

Awas entar ada sanduk yg masuk ke mulutmu. /kaboor!/

100

great story.. :D

Makasih. n_n

100

'Benarkah? kau pernah lihat?'
wkwkwkwk... aseli ngakak di bagian ini
terus juga isi suratnya Oviaz XDDDD

Percakapan yg itu saya ambil langsung dari QPLCDP original. :)
Kalau suratnya sih, hasil perbuatan otak saya yg lagi error. xDD

100

<3 Oviaz

Hei Ries, Oviaz punya saya. Dikau kan udah punya Sion. Atau mau tukeran? /PLAK!!/
XDD

100

Ah, ini... SUKSES bikin ngakak!!!

Makasih bunda Gie~ (-////-)

100

well, ini cukup singkat, tapi loe selamat karena ga bikin lebih dari ini ^_^

abis ini giliran sapa?

Thanks ZIONa (sion + a. xDD)
.
abis ini Ratu. :)

100

Quote : Aku Oviaz, PENJAHAT NOMOR 1 YANG PALING JAHAT SEJAHAT-JAHATNYA PENJAHAT DIANTARA JAHATNYA ORANG-ORANG JAHAT DIMANA KEJAHATANNYA ITU SANGAT-SANGAT JAHAT DAN… baik, lupakan saja itu.

saya suka kalimat ini ^_^

Setidaknya saya sudah menepati janji untuk memunculkan oviaz~ <3

saya harap bang mumus gak ngamuk... -_-

90

Sa-saia cuma bisa ketawa. Sumpah, ini Oviaz pelawak nomer satu!
.
Setidaknya dikau sudah berhasil menyelesaikan episode ini, yuu. Semangka! Toh penulis selanjutnyalah yang kelabakan. Ehehahaha...

Saya masih merasa bersalah sama om rea.. #pundung