MIMPIKU episode 5: Mati, Hidup, Waktu, dan Takdir

Aku terbangun, lagi, setelah tertelan cahaya keunguan itu. Suara kicau burung menenangkan hati dan angin sepoi-sepoi membuat ku ingin selamanya menutup mataku dan tertidur di sana ketika sabuah nama muncul di benakku dan membuatku terbangun.

Frusia. Aku harus menemukannya.

Dengan cepat aku berdiri, tempat ini penuh dengan bunga dan sebuah gazebo dari marmer putih di bangun di tengahnya. Binatang-binatang bermain ke sana kemari dengan aman.

Seandainya Frusia di sini… Tunggu, apakah ini tempatnya? Apakah Frusia kemari?

Aku berjalan mendekat ke arah gazebo, menemukan seorang wanita sedang duduk sambil meminum teh. Wanita yang sangat cantik, seperti Frusia.

“Frusia!” seruku, aku berlari secepat-cepatnya ke gazebo itu, wanita itu menoleh ke arahku. Seekor serigala menghadangku. Serigala perak keputihan itu menggeram ke arahku. Aku menendang-nendang udara berharap itu dapat menakutinya.

“Pergi, anjing bodoh!” seruku. “Aku harus menemui Frusia!”

“Dia bukan orang yang kau cari, manusia.” Jawab si serigala dengan marah. “Jaga sikapmu karena kau tak tahu siapa yang kau ajak bicara sekarang!”

Serigala ini berbicara? Lalu apa? Aku tak takut selama setelah melewatinya aku dapat menemui Frusia dan bahkan mungkin minum teh bersama di tempat ini nantinya.

“Pergi!” seruku mengusirnya. “Biarkan aku menemui Frusiaku, anjing nakal!”

“Aku bukan anjing, aku serigala, orang bodoh.” Katanya, gigi tajamnya mulai mencuat keluar dari antara gigi-gigi tajam lainnya. “Akan kuberi kau waktu tiga hitungan untuk pergi sebelum aku mengigit lehermu putus.”

“Frusia!”

“Satu…”

“Frusia!” seruku lagi. “Ini aku Frusia!”

“Dua…”

“Frusia!  Jawab aku!”

Tepat sebelum serigala itu melompat dan merobek leherku, wanita itu bangkit berdiri.

“Aku bukan Frusia yang kau cari, manusia.” Jawab wanita itu. “Sejujurnya, aku kaget seorang manusia fana sepertimu bisa masuk ke dunia ini, ke tempat kami.”

“Lalu? Apa maumu setelah aku masuk kemari?” tanyaku marah. “Di mana kalian sembunyikan Frusia?!”

“Aku tak tahu kemana Frusiamu pergi, manusia labil,” jawab wanita itu. “Tanyakanlah pada adik-adikku atau mungkin kakakku.”

“Di mana mereka?” tanyaku menenang, mengetahui mungkin pada kunjungan yang kali ini aku mungkin mampu menemukan keberadaan Frusia. “Siapa kau?”

“Serigalaku akan menuntunmu dengan aman, ikuti apa katanya dan kau akan selamat.” Kata wanita itu sambil dengan anggun kembali duduk. Dan sebelum kembali meneguk tehnya, ia mengatakan namanya. “Dan aku Waktu.”

Serigala itu memandangku tajam dengan mata kuningnya yang tajam dan lalu berbalik. “Kemari, ikuti aku dan jangan sampai tertinggal.”

Tanpa aba-aba, serigala itu segera berlari menuju sebuah hutan gelap yang penuh dengan aura jahat di sebelah barat gazebo itu. Meski aku enggan, tapi keinginanku bertemu kembali dengan Frusia berhasil memaksaku… Karena di dalam ada orang yang mungkin mengetahui keberadaan Frusia. Aku berlari masuk sambil terus memanggil-manggil nama Frusia keras-keras, siapa tahu ia juga ada di hutan aneh ini.

“Diam, manusia,” kata serigala itu. “Mereka yang sudah mati bisa mendengarmu dan mencari Frusia ang kau cari itu lalu mencabut nyawanya.”

Tak mau Frusiaku di ambil oleh “mereka yang sudah mati”, aku diam saja. Meski lidahku gatal ingin memanggilnya lagi, aku tak mau Frusiaku diambil “mereka yang sudah mati”. Perlahan tapi pasti, serigala itu melangkah menembus kabut tipis yang entah dari mana keluar begitu saja. Perlahan tapi pasti, serigala itu merasakan suatu hawa yang tidak enak, sama sepertiku. Tanpa di beritahupun aku tahu, ini hawa “mereka yang sudah mati”. Hawa “mereka yang sudah mati” sangatlah tajam seolah kau dapat merasakan hatimu sedang ditusuk, kabut mistis ini serasa memasuki kepalamu melalui lubang hidung dan telingamu lalu mengorek-ngorek informasi dari dalam otakmu, dan yang paling buruk, bisikan “mereka yang sudah mati” dapat terdengar jelas, terngiang di udara. Nama Frusia terlintas begitu saja di benakku.

“Frusia?” Tanya seseorang. “Nama yang cukup unik.”

“Siapa di sana!?” bentakku. “Kau tahu di mana dia? Kau tahu siapa dia? Siapa kau bagi dirinya?”

Sesosok bayangan berjalan mendekat, menembus kabut pekat dan menunjukkan dirinya pada kami. Seorang anak kecil dengan rambut hitam panjang dan dengan baju gothic panjang dengan hiasan tengkorak dan bermata merah darah muncul begitu saja.

“Kau tahu di mana Frusia?” tanyaku lagi. “Kau tahu di mana dia? Kau tahu siapa dia? Siapa kau bagi dirinya?”

“Diam, manusia fana,” katanya.  “Aku hanya ingin berbicara dengan sang pembawa kabar.”

Aku mendekat ke anak itu dan menatapnya tepat di mata. “Aku bertanya kepadamu, anak kecil. Jawab!”

“Kau rupanya manusia labil yang bodoh,” kata anak itu, lalu menoleh ke arah si serigala. “Bolehkah aku mengambilnya? Dia akan menjadi koleksi yang unik.”

“Jangan berani kau lakukan itu, Mati.” Jawab si serigala. “Atau akan kulaporkan pada kakakmu.”

Mati, anak itu, mendengus. Dia kembali menatapku. “Sekarang kau sudah tahu siapa aku kan? Aku ini Kematian itu sendiri.”

“Lalu?” tanyaku. “Yang aku mau tahu hanya apakah kau tahu di mana Frusia? Apakah kau tahu di mana Frusia? Siapa  kau bagi Frusia?”

“Turunkan aku, manusia,” katanya. “Semua tentang manusia membuatku jijik, terutama manusia labil.”

“Tidak sampai kau menjawab pertanyaanku,” tantangku. “Di mana Frusia? Apakah kau tahu―”

“CUKUP!” serunya marah, matanya mengkilat merah. “Aku sudah muak dengan kelabilanmu, manusia!”

Aku merasakan getaran aneh dan firasat buruk. Dengan cepat aku melamparkan anak itu turun ke tanah. Dia merapikan bajunya dan berbalik pergi, mulai menghilang kembali di balik kabut.

“Tunggu, bocah!” seruku marah. “Kau masih belum menjawab pertanyaanku!”

“Aku sudah muak denganmu, manusia. Lagipula, aku juga tidak tahu apa-apa tentang Frusia yang kau cari itu.” Katanya. Perlahan terdengar suara derap kuda yang datang entah dari mana. “Tanyalah pada saudaraku yang lain… Sambil berharap aku dan kereta kematian belum menemukan Frusia yang kau cari itu ketika kau menemukannya.”

Serigala itu mengigit dan menarik-narik bajuku, memintaku untuk pergi secepatnya dari tempat itu. Kali ini, hawa “mereka yang sudah mati” sudah terasa pekat sekali. Dengan cepat kami berlari keluar dari hutan aneh itu. Serigala itu menuntunku menuju ke sebuah tempat lain yang letaknya tepat di seberang tempat ini. Aku menoleh sekilas ke gazebo dan tidak menemukan wanita cantik yang mirip dengan Frusia itu… Atau jangan-jangan memang dia itu Frusia? Kami sampai di sebuah bukit di mana dari atas sebuah danau besar dan tempat semua binatang penghuni tempat ini seolah berkumpul untuk bermain bersama. Aku mengikuti si Serigala melewati segala macam bintang buas yang tidak buas di sini. Kami berhenti, aku menatap seorang anak kecil berambut pirang dengan mata biru seperti berlian sedang mengelus-ngelus seekor beruang Grizzly. Sekilas, aku membayangkan Frusia waktu kecil, mungkinkah ia nampak sepertinya?

“Hidup,”  panggil si serigala. “Ada yang ingin bertanya padamu.”

Hidup, anak itu, berbalik dan tersenyum ke arahku. Binatang-binatang di sekelilingnya juga menatapku. Aku merasa aneh di pandangi oleh hewan-hewan seolah aku ini Tarzan si raja hutan atau semacam idola para binatang.

“Oh, seorang manusia!” katanya riang. “Sungguh luar biasa seorang manusia bisa mendobrak segala ketidak mungkinan untuk masuk ke mari.”

“Apakah kau tahu di mana Frusia berada?” tanyaku. “Tolong beritahu aku.”

“Aku tak tahu,” kata Hidup. “Satu hal yang pasti, ia sedang ada di suatu tempat yang tidak mengandung unsur kehidupan. Ia bahkan mungkin tidak hidup.”

“Maksudmu dia sudah…”

“Bukan begitu,” Hidup memotong perkatannku. “Mungkin saja dari awalnya dia hanyalah makhluk ciptaan pikiranmu, manusia labil.”

“BUKAN! DIA BUKAN MANUSIA ATAU APAPUN YANG KUCIPTAKAN! AKU BUKAN TUHAN!” seruku. “Dia  adalah kawanku yang baik!”

“Manusia, tenangkan dirimu.” pinta si serigala. Aku tak menghiraukannya, aku segera berbalik lari begitu saja. Aku harus menemukan wanita itu, wanita yang wajahnya sangat cantik dan menyerupai Frusia. Mungkin saja justru ia yang mengetahui letak Frusia sekarang, ia hanya tak mau memberi tahu saja. Tapi kenapa ia tak mau memberitahunya padaku? Aku harus berbicara dengannya, paling tidak semenit saja.

“Frusia!” seruku. Aku berlari melintasi padang bunga dan bahkan berlari melintasi gazebo itu menuju ke arah mana saja. Aku melihat sebuah hutan berisikan berpuluh-puluh ribu macam pohon dengan jenis yang berbeda, baik sudah punah atau belum. Semuanya memang berbeda, namun semua sekilas nampak sama.

“FRUSIA!” seruku sekencang-kencangnya. Seruanku menggema. Aku terus melakukan hal yang sama tiap kali aku berhenti berlari. Begitu terus, berulang-ulang, supaya akhirnya gema panggilanku mampu meraihnya. Aku lalu tersandung batu dan terjatuh, terguling masuk ke sebuah ceruk gelap.

“Frusia?” tanyaku. “Frusia, apakah kau ada di sini?”

Suaraku menggema. Penasaran, aku berjalan maju. Ada sebuah gerbang coklat yang nampak terbuat dari kayu dan penuh lumut serta di rambati akar. Pintunya nampak kuat, namun aku entah kenapa aku tahu aku bisa membukanya dan aku harus membukanya. Aku mendorongnya sekuat tenaga, dan gerbang itu terbuka begitu saja. Kegelapan menerpaku dan aku terpaksa menutup mataku. Sedetik kemudian kubuka mataku dan menemukan aku berada di tempat yang lain. Jam, lengkap dengan semua jarumnya, adalah alas tempatku berpijak. Dinding-dinding atau ruang-ruang di sekitarku penuh dengan roda-roda mekanisme yang biasanya ada pada jam. Sesuatu yang lebih nampak seperti layar televise muncul. Tulisan-tulisan yang sama, hanya berbagai bentuk tulisan dan ukuran, tertampang di layar kaca. Seolah terhipnotis, aku berjalan mendekat hingga ke pinggir lantai berbentuk jam itu.

FRUSIA.

Satu-satunya hal yang tertampang di televisi itu. Entah kapan, tanpa aku sadari seorang anak berambut hitam kecoklatan dengan mata coklat kayu sudah duduk di sebelahku, duduk di tepian jam itu tanpa takut tergelincir jatuh menuju ke kegelapan.

“Kau mencari dia yang bernama Frusia, bukan?” Tanya anak itu. “Aku tak tahu. Waktu, Mati, dan Hidup juga tak tahu. Mereka semua tak tahu. Kami tidak tahu. Yang kau cari itu tidak ada di sini.”

“Dari mana kau tahu itu yang ku cari?” tanyaku. “Siapa kau?”

“Kenapa kau mencarinya, manusia?” Tanya anak itu. “Kau bisa saja melupakannya dan membuat atau mencari teman yang lain, bukan?”

“Aku bukan Tuhan! Aku tak dapat membuat teman!” seruku. “Aku menemukannya dan berbicara dengannya lalu menjadikan ia temanku!”

“Lalu?” tanyanya. “Apa yang akan kau lakukan jika ia pergi meninggalkanmu?”

“Aku akan mengejarnya tentu saja,” kataku. “Sama seperti apa yang sedang kulakukan sekarang ini.”

“Bukan,” kata anak itu. “Kau hanya berusaha menyangkal kenyataan, manusia.”

“Kenyataan apa, anak kecil?” Tanyaku marah. “Kau terjebak di Neverland ini, tak mau bertumbuh besar! Di mana Peterpan, hah?”

“Jangan membuatku marah, manusia,” katanya. “Percayalah, kau takkan mau melihatku marah.”

Tiba-tiba saja, si serigala dan wanita cantik yang seperti Frusia itu datang. Wanita itu berlari mendekat.

“Kakak!” katanya. “Jangan kau apa-apakan manusia ini.”

“Aku baru saja memperingatinya, Waktu.” Jawab anak ini tenang. “Jangan khawatir.”

“Kau sangat berani, manusia,” kata si serigala padaku. “Berani dalam bentuk gila.”

“Aku tak perduli dengan ancaman atau pujian,” kataku lantang. “Yang aku mau tahu hanyalah di mana Frusia berada sekarang!”

Aku menatap Waktu. “Kau Frusia, bukan? Mengakulah!”

“Aku bukan Frusia, Aku bukan orang yang kau cari, manusia.” Jawabnya. “Berhenti menanyaiku itu.”

Kemudian, suara “krek” yang keras bergema dan roda-roda mekanisme mulai berputar. Perlahan, jarum detik yang berhenti di jam yang berfungsi sebagai lantai ini kembali berdetik. Seolah sesuatu yang sudah di hentikan di minta untuk berjalan kembali. Anak kecil itu bangkit berdiri.

“Waktu sudah di haruskan untuk mulai kembali, Mati dan Hidup di haruskan untuk memulai kembali pekerjaan mereka,” katanya. “Waktu untuk menyambut tamu kita sudah habis. Pergilah, Waktu.”

Waktu nampak ragu-ragu, namun dalam kedipan mata ia sudah menghilang entah kemana. Si serigala duduk dengan khawatir, dalam matanya ada ke khawatiran. Gadis ini, siapapun dia, adalah yang paling di takuti di sini.

“Nah, manusia, aku memang tidak tahu di mana Frusia yang kau cari itu berada, tapi aku bisa memberimu sedikit informasi mengenai ke beradaannya,” katanya, lalu mendekat ke layar televisi. Aku mengikutinya dari belakang. Sebuah remote control muncul di tangannya dan ia menekan beberapa tombol yang menghubungkan kami pada siaran berita, acara televisi dan bahkan program music sebelum akhirnya menampilkan kata itu lagi.

Frusia.

Beberapa kata dalam bahasa yang tidak aku ketahui muncul di bawahnya. Anak itu memiringkan kepalanya sedikit.

“Dia ada di dekat sini,” katanya. “Dia juga mencarimu.”

Aku memandangnya dengan senang. “Benarkah?! Siapa kau sebenarnya?!”

Sebelum aku sadar, aku sudah di dorongnya jatuh ke kegelapan.

“Aku Takdir,” jawab anak itu dengan lantang hingga menggema di seluruh ruangan ini. “Dan aku berbohong. Itu hanyalah menu televisi ini.”

Yang kupikirkan selama aku jatuh hanyalah Frusia. Wajahnya. Namanya. Suaranya. Semua tentangnya. Mungkinkah ini akhir dari hidupku mengingat ada yang mengatakan ketika kau mati kau akan melihat kilasan hidupmu atau orang yang kau paling ingin bertemu di saat terakhir ini?

Tidak. Aku tidak boleh mati di sini…

Aku harus menemukannya…

Aku harus menemuinya…

Frusia…

Frusia..

Frusia.

Dan sebelum aku sadari, sebuah kaca besar berbentuk jam muncul. Aku menutup mataku ketika tubuhku terbang melintasinya dan memecahkannya, dan kegelapan kembali menyedotku entah ke mana...

 Semoga ke tempat Frusia berada.

Read previous post:  
47
points
(1749 words) posted by Erick 8 years 14 weeks ago
78.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | metafisika | fantasi | kolab | MIMPIKU
Read next post:  
Be the first person to continue this post
100

Akhirnya, seseorang yang bisa menuliskan mimpinya tanpa terkesan terlalu surealis seperti saya... TwT *terharu ini ceritanya*
Jadi makin menarik aja... :D

*kasih tissue PAS*O*

90

Akhirnya saya ngerti juga inti cerita ini ~,~. Good job, ea :DDD

Makasih kak xD
*lemparin coklat batu (coklat balok)*

wakakakk...padahal udah saya rekap di komen episod pertama loh...
ayo2 yang ga tau inti cerita dari tantangan MIMPI, mampir di omen saya episod satu..
*dilempar batu, jadiin pengganti jumroh*

80

Akhirnya ada juga chapter yang normal. Saya pikir kolab ini akan bener2 jadi kolab surealis xDD

xDD

100

Ea hebat^^

Kak Rea lebih hebat lagi :3

90

kok jadi mudah dipahami sih? :(

wah, ga trima ini ga trima ini...

*Dipukul Rea

*Ditabok Riesling

*Dihajar K0haku

*dilempari celurit Erick

 

hehe, just kid..., peace! XD

 

yaa, gapapalah, crita udah bisa dipahami punya nilai tambah sendiri, dan meski melenceng dari episode sebelumnya (si tokoh jadi manusia), critanya sudah cukup oke...!

 

walo sempet kecewa juga sih, bahasa rune kunonya disegel.

*Hajar si Nereid! XD

 

begitulah, sekian! ^^

 

 

Hm... saya nggak sampe segitu kepinginnya menghajar situ sih hanya karena ceritanya jadi nyambung dan bisa dimengerti...
Tapi ya sudahlah... *tabok* :p

LOL. Makasih kak xD
Ga bisa bahasa rune sih X(

 sebenernya, yang kumaksud dengan bahasa rune itu bahasa kebaliknya kk Rea di episode 1..

bahasa ruwet cermin kebalik...! :(

 

sepertinya banyak yang salah persepsi nih, tapi ndak papalah. anggep bahasa rune itu bahasa mbulet-autowritting! XD

berarti kayak:
kayak gini -> inig kayak

+~ kak erick

 ya, cc Ling? XD

100

bagus deh bahasanya normal...
segel rune kuno : ON! *ditimpuk rea,ling,dll*
ayoooo ayoooo lanjutinnn, udah bagus nihh...*maksa*

ga bisa bahasa rune kak xD

terusin tuh episodenya...

udah ga pake bahasa ruwet-mbulet-njindet-mumet-seret-kucet-kruwet...

 

AYO NEREID, AKU MENDUKUNGMU!

GIVE ME 'N', GIVE ME 'E'. GIVE ME 'R', GIVE ME 'E', GIVE ME 'I', GIVE ME 'D'

Yeeeeeeeee, NEREID! WHOOOOOOOOOOO!

*cheer mode ON! \(^o^)/

saya mau jadiin episod yang bikin geger.... boleh??

Coba saja. Saia mau tau "geger"-nya dikau itu seperti apa. Hehe.

wah jangan berharap lebih nih....saya nunggu dlu mpe episodnya pas buat saya terusin,... hehe, maap kebanyakan minta... *dihajar masall rea,ling,erick,dll*

kalo lama2, ceritanya bakal ga lanjut...

bisa jadi di episode keberapa, alur ceritanya jadi surealis lagi. Mending langsung nerusin ke episode 6 aja...

 

ayo, semangat! \(^o^)/

*ngebet mode ON!

oh ya, terusannya si John tetep manusia nih??

Tergantung. Definisi "manusia" menurut John mungkin aja beda dengan "manusia" menurut tokoh-tokoh di episode ini. Bisa aja, bagi Mati Hidup Waktu Takdir dan Serigala, John ini manusia... tapi bagi John, dia bukan manusia.

90

wow, aku suka cerita ini..

Tapi kok dibagian ini si 'aku' jadi manusia..
Pdahal di episode awal si 'aku' bilang dia bukan manusia, dan nggak mau dsamain dengan manusia..

Selebihnya suka, gaya bahasa yg ini lebih mudah dimengerti dr episode2 awal..

Makasih kak
Soalnya si John nampak kayak manusia, jadi dipanggillin sama mereka manusia :D