He Who Protect Magical Girls (3)

SUCH HAZY PURPLE FLAME

Mereka memegang tanganku dari kedua sisi, si kepala botak dan rambut jabrik. Keduanya tersenyum seram. Rantai kalung berbandul kunci berdenting di leher mereka. Ketua mereka menggertakkan jemarinya. Menekan buku-bukunya hingga berbunyi.

Sekarang tidak akan ada yang menyelamatkanku. Aku pasti mati. Aku harus memikirkan sesuatu.

“Sialan pukul saja aku, aku tidak takut,” kata Rocky.

Bukannya membantu, dia malah mempercepat kematianku. Lebih baik aku pasrah saja deh. Aku merelakan diriku untuk dipukul oleh preman sekolah ini. Ayah, ibu selamat tinggal. Jaga kesehatan baik-baik.

Aku memejamkan mata dan menunggu.

Namun tidak ada yang terjadi, aku melirik sedikit. Dia membeku dan seakan berubah menjadi batu.

Rocky kemudian telah berubah ke bentuk kucing bonekanya. Kemudian dia menarikku.

“Ayo Wrath menyerang kembali.”

Aku mendorong kedua preman sekolah dan satu ketuanya. Mereka pecah berantakan di lantai. “Puecaaaaah!!!” Kupikir aku telah membunuh orang.

“Jangan cemas, mereka pasti hanya akan goyah atau terpeleset paling parah.”

Kemudian aku mengikuti kemana Rocky pergi. Melalui lorong sekolah, kelas-kelas dipenuhi murid-murid yang menjadi batu. Aku sempat menyenggol beberapa patung batu itu hingga pecah berantakan. Rasanya sedikit salah. Kemudian aku mendengar suara pecah dari lantai tiga.

Begitu tiba di lantai tiga via tangga, keadaan sudah kacau balau. Kelas nyaris hancur, patung batu pecah berkeping-keping. Aku mengintip dan menemukan, Wrath yang sedang mengamuk. Sang Prajurit Harmony berwarna biru melawannya.

Aku tidak pernah melihat Honoe seatletis itu atau segesit itu. Dia melompat diantara bangku dan menembakkan anak panah ke arah monster itu. Namun musuhnya juga gesit, bergerak seperti asap diantara lorong kelas. Bentuk Wrath itu berkepala singa dan tubuhnya belakangnya seperti guratan tinta. Di lehernya seekor ular yang juga hitam keluar dari leher singa itu, bergerak-gerak liar.

Honoe terpepet, dia terpaksa melawan dengan busurnya, memotong kepala ular yang menyerangnya.

“Gawat gadis itu terpepet,” kata Rocky.

Aku merasakannya rasa panas itu.

“Aku tahu...Kita tunggu dia mati saja, kemudian kita... Hei.. Hei... Shuzaku mau kemana.”

 

-

 

 

Untung aku tiba tepat di sana untuk menghentikan kepala ular yang hendak mencabik kepala Honoe. Kugenggam kepala ular itu erat-erat, sambil membebaskan Honoe dari cengkraman kepala singa yang memepetnya ke arah tembok. Kutendang kepala singa itu, hingga dia terlontar ke belakang. Meraung dengan keras.

“Menyerang seorang gadis bukanlah tindakan Gentelman.”

“Kau lagi,” kata Honoe, “Apa yang kau inginkan.”

“Kekuatan kristalmu tentu saja, masih kelihatan lezat.”

Honoe mengambil panahnya dan bersiaga, “Kenapa kau menolongku.”

“Entahlah Honey, aku juga tidak tahu sebenarnya. Mungkin sebal melihat wajah singa jelek sialan itu.” Aku mengobarkan tanganku.

Maksudnya tanganku diliputi api keduanya.

Singa itu kembali menyerang, dia menumbuhkan ular-ular berjumlah puluhan di kepalanya. Kuhantam mundur sekali, kedua kali, ketiha kali dan untuk pukulan pamungkas.

“FLAAAAAME KNUCKLE...”

Aku menghantamnya hingga tembok sekolah pecah dan makhluk itu terlempar keluar. Menurutku tembok itu sedikit terlalu rapuh. Aku mengejarnya dan melanjutkan dengan tendangan.

“FLAAAAAME KICK...”

Makhluk itu menghantam tanah. Debu beterbangan. Sebuah karya seni.

“PURPLE BLAZIN ELBOW..”

Dengan kobaran api ungun aku menghantamnya dengan sikut. Cahaya menyebar dimana-mana. Monster itu tidak bergerak.

Honoe ternyata mengikutiku, kebetulan! Aku tidak perlu mengejarnya lagi.

“Sekarang aku akan berurusan denganmu gadis kecil, serahkan kristal itu atau yang lain..” aku meringis keji. Nyaris tertawa.

Honoe menangis.

Gadis berambut panjang diikat ke belakang itu menangis. Air matanya terlihat jelas. Sedikitnya hal itu telah menyadarkan diriku kembali. Dengan cepat dia meraih busurnya kemudian dia menembakkan panahnya tepat kearahku, untung aku sempat menghindar di detik terakhir.

“Aura itu, kekuatan itu, aku mengenalinya. Walau berubah bentuk aku tetap mengenalinya. Itu adalah kekuatan milik Kanade-Sempai. Dari mana kau mencurinya...” kata Honoe.

“Aku tidak mencurinya, tidak pantas seorang lelaki sejati sampai mencuri dari...”

Honoe kembali berteriak, “Diam!diam!diam! kembalikan Kanade-Sempai. Kau telah mencurinya dariku. Mencurinya dari kami semua. Aku membencimu, membenci semua hal darimu. Kembalikan Sempai!”

Dia kembali menembakkan anak panahnya. Bahaya...

Honoe dalam bahaya. Wrath di belakangku belum mati. Dia menumbuhkan ular-ular, dan mencoba menyerang Honoe. Aku harus cepat, tubuhku bergerak otomatis. Kuhadang panah miliknya, dan anak panah itu menancap di sela-sela tubuhku. Aku tetap berlari meraihnya. Kemudian mendorongnya menjauh.

Ini membuatku menjadi mangsa ular-ular gelap itu. Rasanya otot dan tulangku tercabik-cabik. Perlahan rasa sakit menggelenyar ke sela-sela tubuhku. Aku berteriak tertahan, mengeluarkan seluruh udara dari paru-paruku.

Namun aku melihat Honoe selamat, syukurlah..

Honoe mengambil anak panahnya, kemudian menggunakannya seperti pisau menyerang tubuhku. Aku menangkapnya dengan mudah.

Rasanya sakit, dan itu bukan tanganku.

“Kenapa kau menolongku... Kenapa...? Aku tidak perlu ditolong.”

Ketika melihat usahanya sia-sia dia mundur. Kuraih tangannya, saat itu aku bisa memukul. Namun semua itu tidak kulakukan. Kulepaskan tangannya.

Aku berbalik tanpa suara. Monster singa itu masih meraung. Bergerak cepat aku membungkam mulut singa itu, kemudian menghantamkan dengan pukulan sekali, duakali, hingga ratusan kali.

Kuhantamkan pukulan cahaya ungu bertubi-tubi hingga monster itu hancur. Kemudian aku berbalik pada Honoe, aku tidak bisa mengucapkan apapun lagi. Setelah bayangan hitam terserap ke tubuhku, aku segera aku pergi.

 

--

 

“Sialan... Sialan.. Sialan... apa yang dimaui gadis itu.” Kataku memukul tembok sekolah dengan kuat berkali-kali.

“Sudahlah Bos, tanganmu bisa terluka.” kata Rocky.

“Tapi aku tidak mengerti apa maunya. Menyebalkan sekali. Rasanya menyebalkan sekali.”

Rocky menggeleng, “Perempuan juga merupakan misteri bagiku. Tapi gadis itu dia bersikap sangat Witchy.”

Rasanya dadaku berdenyut perih. Seperti ada luka bakar di dalam diriku

“Hei Shuzaku, ini yang aku khawatirkan. Batu Kristal Crisalia sudah memberikan efeknya padamu. Lagipula kau banyak terluka di sana.”

Mendadak perutku mual dan aku ingin muntah.

Kemudian aku pingsan.

 

--

 

Aku segera dibawa ke UKS, dan tidur di sana. Dokter sekolah memberikanku izin untuk pulang cepat. Beberapa saat kesadaranku kosong, seperti orang hilang ingatan. Orangtuaku sempat cemas, namun aku meyakinkan tidak ada apa-apa. Mereka sempat percaya, bahwa aku hanya kelelahan.

“Kurasa, kekuatan batu Crisalia mulai menimbulkan pengaruh,” kata Rocky, “Aku harus meneliti lebih jauh.”

Seharusnya aku memikirkan mengenai diriku sendiri. Namun sekarang di kepalaku hanya ada Honoe, Honoe dan kemarahannya. Dia membuatku sangat amat marah, tiap kali membayangkannya seperti kepalaku bergolak. Sebenarnya bagaimana dia itu, apa dia memang pantas aku lindungi. Seseorang yang bahkan sepertinya tidak ingin dilindungi.

Kemudian rasa perih menyengat hatiku, perih dan cemas. Rasa yang ingin membuatku meringkuk dalam selimut dan melupakan segalanya.

“Hei, Rocky, apakah dibenci itu rasanya selalu semenyakitkan ini?”

“Entahlah.”

Aku mencoba memejamkan mata malam itu, namun tidak bisa. Rasanya kata-kata Honoe terngiang dan selalu menyakitkan. Beginikah rasanya dibenci? Sungguh rasa yang tidak enak.

Rocky kemudian malah balik bertanya, “Seperti apakah rasanya dibenci?”

“Kenapa kau bertanya...”

“Tidak apa-apa..”

 

--

 

Sebuah mimpi datang padaku, seorang gadis yang lebih tinggi dariku dan berambut ungu. Dia mengambil tanganku. Pandangannya sendu, menatap wajahku dalam diam. Dalam hening.

“Lindungilah mereka, kumohon! Berjanjilah...”

 

--

 

Aku tiba di sebuah ruangan, ruangan seperti menara yang diisi oleh kristal-kristal. Ribuan anak gadis membeku di dalamnya. Semuanya diam dalam balutan es berwarna, wajah mereka tenang.

“Apa ini,” tanyaku.

“Tugu memorial.. Bagi para pahlawan yang telah membela kehidupan.” kata ratusan makhluk kucing berwarna pink, bentuknya mirip dengan Rocky.

“Tugu memorial? Memangnya apa nama tempat ini?”

“Kuburan cahaya...” kata mereka dengan suara bernada tinggi.

 

--

 

Di malam gelap aku terbangun. Bayangan terakhir yang kulihat adalah seorang ratu, yang berdiri di atas singga sananya. Wajahnya tidak terlihat karena diselimuti cahaya putih, bahkan seperti dia tidak memiliki wajah. Jubahnya berkilau indah. Tiara tersemat di kepalanya. Ketika dia memandang ke arahku, terasa pandangan tajam yang menusuk.

“Ratu Gaia,” aku bergumam.

 

--

Dan ingatan tentang mimpi itu kembali, seorang gadis yang lebih tinggi dariku dan berambut ungu. Dia mengambil tanganku. Pandangannya sendu, menatap wajahku dalam diam. Dalam hening.

“Lindungilah mereka, kumohon! Berjanjilah...”

“Aku berjanji..” jawabku.

--

--

 

Read previous post:  
67
points
(1989 words) posted by neko-man 8 years 6 days ago
95.7143
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | anime | Magical Girl | Orific | petualangan
Read next post:  
Writer MelZhi
MelZhi at He Who Protect Magical Girls (3) (7 years 30 weeks ago)
100

Waah...
Si Shuzaku mulai ada rasa tuh ke Honoe. XD
.
Makin seru aja kak. Saya suka adegan bertarungnya.
.
Lanjut baca ah. :)

Writer dansou
dansou at He Who Protect Magical Girls (3) (8 years 4 days ago)
90

Huum... Sempai itu apa, sih? Terus Gentelman? Jika itu tidak disengaja, saya akan kasih tahu itu adalah typo. Hum... semakin menarik saja, niih :D saya tunggu lanjutannya

80

Keren...

Writer 145
145 at He Who Protect Magical Girls (3) (8 years 5 days ago)
90

Mwahaha Cewek emang keajaiban dunia nomor 8 >_<
-
Yep, bagian mimpinya... agak sedikit misfit atau aku saja yang kurang gak sreg.
-
Kayaknya kepribadian si shota harus lebih diper-solid lagi

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (3) (8 years 4 days ago)

Bener sudah OTT...

90

mimpinya itu agak aneh ya? kenapa dipisah? apkah itu semua mimpi? atau ada baggian yang nyata?

Writer neko-man
neko-man at He Who Protect Magical Girls (3) (8 years 5 days ago)
100

Chapter 3. Sedikit sedikit tabir mulai terbuka. Aku lagi tertarik buat ilustrasinya..