20-Something : Riley’s Side (Part 2)

Hayden Christensen as Riley Copeland

 

Emma Roberts as Anna Cravenheart

 

Tiffany Dupont as Zoe Felshade

 

Emma Stone as Genevieve Halloway

 

Ryan Gosling as Michael Ross

 

Janeane Garofalo as Catherine Corvette

 

***

(Crest Grove Apartment #169, Portway Annexopolis, My place)

Ponselku berbunyi. Kuraih ponsel dari meja di samping ranjang dan kulihat nama pengirimnya. Anna???

Segera kubaca isinya, “Aku di Annexopolis Station” begitu isi pesan singkat yang kuterima.

“Tunggu di situ, I’ll be right there.” Aku segera membalas sms dari Anna. Ada perasaan khawatir dan juga senang di hatiku mengetahui dia sekarang ada di Portway.

Aku bergegas menuju basement, mengambil motorku di area parkir dan segera berangkat menuju Annexopolis Station, menjemput Anna. Bagaimana dia bisa tahu kalau aku juga merindukannya, aku bertanya-tanya.

Sebuah senyum menyambutku di depan stasiun.Ah, lama sekali aku tak melihat senyum indah itu, batinku. Senyum yang ingin kutukar dengan hidupku, seandainya saja aku bisa...

My lovely Riley!” pekik Anna dengan senyumnya yang masih mengembang. Dan tanpa menunggu aku turun dari motor, Anna memelukku, hangat dan penuh cinta.

Diciuminya kedua pipiku, bibirku, semua bagian wajahku dengan kerinduan yang mungkin telah lama ia bendung, sama sepertiku. Dan tentu saja, aku menyambut semua ciuman itu dengan perasaan yang sama. Aku juga begitu merindukan Anna.

So, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku setelah agak lama kami berciuman.

“Hey, pertanyaan macam apa itu? Kau tidak suka aku datang, sayangku?” kata Anna dengan nada menggoda. Aku jadi salah tingkah. God, I really love this woman. Anna tersenyum senang. “Aku bilang akan ke rumah Bibi Martha di Rockwood, jadi aku sekalian saja ke sini. Sayang kan kalau dari Springwillow ke Rockwood cuma lewat Portway saja tanpa mampir?” katanya lagi.

Aku tak menyangka Anna bisa senekat ini. Tapi kenapa dulu dia tak berani senekat ini? Pikirku. Andai saja dulu Anna dan aku bisa nekat, entah akan ada di mana kami sekarang. Mungkin hidup akan sangat berbeda, dan semua ini tak perlu terjadi.

Keluar dari stasiun, kubawa Anna ke apartemenku. Ada perasaan bahagia yang menyelimutiku, tapi juga perasaan cemas mengetahui Anna ada di sini. Berbagai pertanyaan yang tak kutemukan jawabnya bergelayutan di pikiranku.

"Berantakan sekali kamarmu ini," kata Anna ketika masuk dan melihat kamarku yang memang sangat berantakan. Beberapa kardus pizza, asbak yang sudah tak bisa lagi memuat puntung rokok, dan pakaian-pakaian kotor yang berserakan. Aku tak sempat membereskan kamarku.

"Kau hanya makan makanan seperti ini selama kau di sini??" tanya Anna sambil menunjuk kardus-kardus fast food yang belum sempat kubuang.

"Riley-ku yang malang..." katanya, kemudian meraih wajahku dan menciumiku. Aku hanya pasrah.

Anna berhenti menciumiku, "Apakah kau tahu aku sangat merindukanmu, my lovely Riley?"

Aku tak peduli lagi apa yang dikatakannya, aku juga meridukannya, akan kutuntaskan semua rinduku untuknya hari ini, biar malam ini hanya milikku dan Anna.

I love you, Anna, my only reason, my only desire..

Tlululululululululutt...

Ponselku berbunyi. Aku mengamati seluruh ruangan, tak kudapati Anna. Hanya ada aku dan isi kamarku. Kuraih ponsel dari meja di samping ranjang.

“Hey, anak malas, bangun. Sudah pagi, kau harus kerja,” Suara Zoe terdengar dari ujung ponsel.

“Hmmm..” aku hanya bergumam saja, suka sekali dia menggangguku, seperti tak ada pekerjaan lain yang bisa dilakukannya.

“Cepat bangun, ini sudah jam 7 pagi. Kau bisa sarapan di rumahku, biar tidak terlambat.” Zoe bicara lagi.

Ye-yeah,” jawabku dan menutup telpon. Aku beranjak dari tempat tidurku dan bersiap-siap.

Mimpi-mimpi tentang Anna selalu datang di tiap tidurku. Semua kenangan-kenangan itu seperti diputar ulang di mimpiku. Dan tak hanya dalam mimpi, ketika aku sendiri pun pikiranku selalu membawaku pada Anna, my lovely Anna. Bagaimana aku bisa melupakanmu, Anna? Why it’s so hard letting you go...

“Kenapa mukamu terlihat kusut begitu?” tanya Zoe saat menemaniku sarapan di rumahnya..

Rumah Zoe hanya berjarak tiga gedung dari gedung apartemenku. Dia tinggal di rumah bersama kedua orang tuanya. Sedangkan adiknya, Zack, entah kemana, tak ada yang tahu. Aku sendiri belum pernah ketemu ataupun melihat Zack, kecuali dari foto yang ada di rumah ini. Zack juga seorang pemain musik, memiliki sebuah grup band dan suka main dari café ke café. Terakhir kali Zoe melihat adiknya adalah ketika adiknya berpamitan untuk pergi bersama teman-teman band nya. Adiknya bilang mau membuat rekaman demo di New Jackdale, tapi tidak pernah kembali lagi dan tidak ada kabarnya.

Itulah sebabnya, Zoe bilang aku mirip Zack, kecuali dalam beberapa hal, dan kemudian menganggapku sebagai adik.

“Tidak ada apa-apa,” jawabku sekenanya.

"Nggak mungkin nggak ada apa-apa" kata Zoe

Sejenak aku diam, aku tahu, hanya pada Zoe aku bisa bercerita tentang semua hal. "Anna.."

"Kenapa Anna?" Zoe mengejar dengan pertanyaan lain.

"Anna masih saja mengisi mimpi-mimpiku,"

Zoe menghela nafas, "Bukankah kau pernah bilang, kau akan mencoba untuk move on?"

"Aku tahu," kataku sambil menyuapkan makanan ke dalam mulutku, "lalu aku harus bagaimana? Itu mimpi, Zoe. Yang datang dengan sendirinya, dan aku tak bisa mengaturnya."

“Memangnya nggak ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Anna di hatimu?” Zoe bertanya, dan sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tak membutuhkan jawabanku, karena Zoe sudah tahu itu.

"So?" tanyaku berlagak bodoh

"Nggak mungkin selamanya kau akan begini, Rile. Kau nggak boleh terus menerus tenggelam di masa lalumu bersamanya. Hidupmu terus berjalan, it's been 2 years since, you know."

Aku diam saja.

“Bagaimana dengan Margareth? Atau...” Zoe mulai menyebalkan seperti biasanya.

No, no, no,”

“Lhoh? Kenapa?”

“Aku tidak mau dikenalkan orang-orang yang tak pasti begitu,” ucapku.

“Ayolah, pilih saja salah satu!” kata Zoe memaksa.

“Ah, sudahlah, aku berangkat dulu. Thank’s, Sist,” kusudahi pembicaraan yang mulai tak kusukai ini. Bagaimana bisa aku dengan mudah mengganti Anna dengan sembarang orang seperti perempuan-perempuan yang Zoe tawarkan itu.

“Hey Riley,” Zoe memanggilku,“Nanti malam jangan lupa ya. Kau harus tampil di cafe-ku malam ini”

“Oke” jawabku dan segera bergegas keluar, tapi Zoe memanggilku lagi, memaksaku berhenti berjalan dan menoleh padanya

“Oh ya, kau bisa coba cari kekasih baru di kantor barumu itu, kan?”

Kudengar Zoe mengatakan itu dengan tertawa, aku tak mempedulikannya. Aku menyesal mau saja berhenti dan mendengar kata-katanya itu. Huh, menyebalkan sekali orang ini.

***

(Teakreation Inc, 3rd floor, Upper Grandstead Street #10M, Portway Annexopolis)

Mr. Connely, manajer IT, menyuruhku mempelajari network perusahaan, mempelajari bagan-bagan jaringan dan semua hal yang berkaitan dengan itu. Sepertinya sudah menjadi kegiatan standar untuk orang baru seperti aku ini. Dan tampaknya pula, Mr. Connely belum ingin memberiku tugas-tugas yang penting.

Mr. Connely bilang, nantinya aku bertugas untuk membantu Michael yang sepertinya tugas-tugasnya saat ini sudah overload, karena Michael, satu-satunya IT support yang bekerja menangani dan mengatasi semua masalah IT di perusahaan ini. Sedangkan IT support lainnya, Stephanie, tidak begitu banyak membantu.

Sepertinya aku tahu, kenapa Mr. Connely berkata seperti itu mengenai Stephanie. Aku melihatnya terlalu banyak berbicara dengan Catherine di tengah-tengah pekerjaannya tentang hal-hal yang menurutku tidak ada hubungannya dengan pekerjaan. Padahal, Catherine juga tidak terlalu mempedulikannya.

Seperti hari ini, Stephanie mulai bicara pada Catherine tentang hal-hal yang tidak penting dan tak ada hubungan dengan pekerjaan, gosip. Meskipun sebenarnya ia ada  tugas untuk mengecek instalasi beberapa komputer yang  baru ditangani Michael. Aku tak begitu peduli dengan bahan pembicaraannya, karena aku memang tak menyukai gosip dan menghindari gosip.

“...mereka berdua terlihat turun dari taksi yang sama. Kau pasti nggak percaya, kan? Aku melihatnya sendiri, Mr. McKenzie dan Miss Halloway.”

Halloway? Bukankah itu si Production Planner? Batinku. Entah mengapa, gosip murahan Stephanie tentang Production Planner itu membuatku tertarik. Aku mulai pasang telinga untuk mendengarkan Stephanie.

“..mungkin saja mereka dari hotel atau dari mana, karena pagi hari. Nggak mungkin juga, kan, kalau mereka tidak ada apa-apa?”

Aku masih saja memandangi layar monitorku sambil masih tetap mendengarkan gosip dari Stephanie tentang Production Planner itu. Hmmm.. tapi apa urusannya denganku, kenapa aku tertarik dengan gosip itu?

“...dan pasti ini salah satu cara Miss Halloway agar cepat dipromosikan. Kau tahu, kan, Cath, banyak sekali orang yang suka menggunakan cara-cara seperti itu?”

Aku melirik ke arah Catherine yang wajahnya berjudul “get me out of here, please...” Dan ketika aku berdiri dan menghampirinya, wajahnya menjadi lega.

"Cath, kau bisa bantu aku sebentar, ada sesuatu yang tak kupahami di bagan jaringan itu?” dan dengan penuh semangat Catherine menyanggupi permintaanku, meskipun aku yakin Catherine pasti tahu, bahwa aku hanya berpura-pura bertanya padanya karena aku juga merasa terganggu dengan gosip-gosip Stephanie yang tak jelas kebenarannya itu.

“Kau bisa melihatnya sebentar?”  lanjutku.

Yes!” Catherine langsung saja menyahut dan menuju ke mejaku.

Di mejaku, Catherine berpura-pura melihat layar, kemudian berbicara setengah berbisik.

“Kenapa di setiap tempat selalu ada orang seperti Steph ya?”

Aku tertawa saja dan melirik ke arah Stephanie yang masih di meja Catherine dan merasa bingung karena mendadak diabaikan Catherine.

Catherine melihat jam di tangan kirinya.

“Kau sudah mau ke kantin?” tanyanya.

“Ng... jam berapa ini?” aku bertanya balik.

“12, waktunya istirahat, kan? Kau mau ke kantin? Aku ikut ya.” Kata Catherine seraya menyeret lenganku keluar ruangan menuju lift.

“Aku hanya butuh keluar dari ruangan itu agar bisa sejenak mengistirahatkan telingaku dari ocehan-ocehan Stephanoying itu.” Gerutu Catherine, membuatku tersenyum mendengar sebutannya untuk Stephanie itu.

Seketika pandanganku menuju Miss Halloway, si Production Planner itu, saat aku dan Catherine melewati meja kerjanya – karena itu satu-satunya akses menuju lift – dan Miss Halloway keluar dari ruangan Mr. Derrick McKenzie dengan wajah begitu kesal dan bersungut-sungut.

“Dasar Diktatosaurus!!!” umpatnya lirih. Sungguh umpatan yang aneh, sebenarnya membuatku ingin tertawa, tapi aku terpaksa menahannya.

“Oh ya, aku hanya ikut kau turun saja, aku ada janji makan di luar.” Kata-kata Catherine membuatku mengalihkan perhatian dari Miss Halloway.

No problem,” sahutku.

Sebelum masuk lift aku masih sempat menoleh ke arah Miss Halloway lagi.

“Tidak mungkin...” pikirku. Entahlah, aku merasa bahwa perempuan itu tak seperti gosip Stephanie tadi.

Di kantin aku duduk menikmati makan siangku sendirian. Beruntung ada meja yang kosong, karena sepertinya aku hari ini sedang malas bersosialisasi dengan orang-orang, khususnya rombongan.

"Hmmm.. sepertinya semua orang di sini sedang membicarakan sesuatu...." batinku, karena tampak beberapa meja yang berbicara dengan berbisik-bisik sambil sesekali menoleh ke suatu arah.

Sambil menjejalkan makanan ke dalam mulutku, kulayangkan pandanganku ke seluruh penjuru ruangan, tapi sebenarnya maksudku adalah mencari arah mana yang mereka lihat.

Prod Planner?? Aku tak melihat dia datang dan duduk di sana, mungkin tadi aku terlalu sibuk dengan makananku.

Fyuh...

Sepertinya semua orang sedang membicarakan gosip itu.

Kuperhatikan, Miss Halloway sendirian, tidak bersama temannya. Ia tampak canggung menikmati makan siangnya di meja itu. Siapapun pasti akan merasa hal yang sama kalau seluruh isi ruangan membicarakannya. Aku tahu rasanya.

Entah apa yang menggerakkanku, tapi tanpa kusadari, aku bangkit dan berjalan ke arahnya, dengan membawa nampan makan siangku dan coke yang masih tinggal separuhnya saja.

“Boleh saya duduk di sini, Miss Halloway?” tanyaku. Miss Halloway tampak sedikit terkejut melihatku berdiri di hadapannya. Dia diam sejenak dan kemudian mempersilakanku.

Aku duduk di kursi yang berhadapan dengannya.

“Anda sendirian, Miss Halloway? Kemarin Anda makan bersama teman yang meja kerjanya di dekat Anda.” Tanyaku membuka percakapan.

“Panggil saja aku Gene.” Katanya, “Iya, aku sendirian. Summer sedang marah padaku. So, bagaimana kesan pertamamu dua hari bekerja di sini, Riley? Aku boleh memanggilmu Riley kan?” Aku mengangguk saja.

Gene dan aku mengobrol beberapa hal, termasuk alasanku keluar dari Cexoo. Tapi aku hanya mengatakan garis besarnya saja, karena aku juga tidak terlalu nyaman menceritakannya.

“Oh ya? Dimana apartemenmu?” tanya Gene kemudian.

“Crest Grove.” Aku perhatikan perempuan didepanku ini kelihatan agak gelisah. Aku bisa pahami itu. “Umm.. kamu kenapa? Kelihatannya tidak tenang.”

“Dekat perempatan sebelum belok ke kawasan Upper Grandstead? Entahlah, Riley, aku merasa sejak pagi tadi orang-orang kantor melihatku aneh. Kau tahu sesuatu?”

Aku meminum sisa coke-ku sambil melirik ke sekitar.”Iya, dekat perempatan. Aku.. tidak tahu tepatnya sih, hanya saja, aku mendengar teman-teman di Departemen IT, mereka membicarakanmu.”

“Membicarakan apa? Katakan padaku.” Tanya Gene penasaran.

“Umm.. bagaimana ya? Aku tidak tahu persis, aku kan masih baru di sini. Aku belum akrab dengan mereka...” Aku mencoba beralasan. Aku merasa tak nyaman membicarakan gosip seseorang. Apalagi orang itu ada di depanku dan sedang bicara denganku.

“Ayolah, Riley.. santai saja, katakan padaku. Aku siap mendengar apapun.” Kata Gene dengan nada sedikit memaksa. And it work...

Dengan hati-hati aku katakan padanya apa yang kudengar dari Stephanie. Tentu saja tanpa menyebutkan biang gosipnya.

“Apa?!..” ucap Gene hampir berteriak karena terkejut,”.. gila! Mereka pasti berpikir macam-macam tentangku!”

Aku tersenyum melihat reaksinya itu, “Aku tahu pikiran mereka tentangmu tidak benar.” kataku sambil menikmati puding penutup makan siangku.

“Maksudnya?” tanya Gene dengan wajah bingung.

“Kau tadi bilang kan kalau orang-orang pasti berpikiran macam-macam? Menurutku kau tidak macam-macam dengan bos besar.”

“Katakan pada mereka, Riley. Tidak ada apa-apa antara aku dan Mr. McKenzie. Tadi malam mobilnya mogok di dekat apartemenku, dan aku hanya membantunya. Aku tidak menyangka akan begini jadinya.” Kudengar Gene menghela nafasnya.

“Aku percaya padamu.” ucap Riley.

Aku sendiri tak tahu, mengapa aku begitu yakin bahwa Gene tak seperti yang orang-orang pikirkan.

Kuakui, dengan tadi, sudah dua hari ini aku memperhatikan Gene, dari gerak-geriknya, sikap dan caranya membawa diri, aku tahu dia bukan perempuan semacam itu. Dan selama ini aku belum pernah salah menilai seseorang.

Yang sebenarnya menjadi pertanyaanku adalah, mengapa orang-orang harus merasa peduli dengan kehidupan seseorang kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk diperbincangkan. Itu bukan urusan mereka. Tidak adakah sesuatu yang lebih penting untuk mereka kerjakan?

Dan apa untungnya buat mereka seandainya apa yang mereka gosipkan itu benar adanya? Tidak ada.

“Terima kasih, Riley. “ Ucap Gene kemudian tersenyum senang. Aku hanya mengangguk.

***

Sebelum jam pulang, sambil membantu Michael menyelesaikan tugasnya membongkar CPU. Kulihat Catherine sedang membereskan barang-barangnya, dan kemudian mengambil tasnya untuk pulang.

“Cath!!” seruku memanggilnya. Catherine melambai kepadaku agar aku mendekat. Segera kuhampiri Catherine yang masih berdiri di depan meja kerjanya.

Michael menoleh sejenak kemudian kembali tenggelam dengan kesibukannya. Kelihatan sekali dia sedang serius dengan pekerjaannya. Michael adalah tipe orang yang tak banyak bicara, kecuali jika dia memang benar-benar perlu bicara atau diajak bicara terlebih dahulu.

“Ada apa?” tanya Catherine.

“Aku dan Michael nanti malam mau ke cafe yang baru buka dekat-dekat sini, kau mau ikut?”

Seketika wajah gadis berkacamata itu bersemu merah dan gugup, kulihat matanya sempat melirik ke arah Michael, “Eh? Ng.. Michael ya...? Bagaimana ya...?”

Sepertinya aku tahu ekspresi itu, “Iya, Michael. Kenapa?”

“Ti-tidak apa-apa” jawab Catherine gugup.

“Kalau kau tak mau ikut, ya tak masalah, mungkin lain waktu,” kataku memancing sebelum berbalik untuk kembali ke tempat Michael.

“Eh, Riley, tunggu...” panggil Catherine.

“Ya?”

“A-aku, nanti ikut.”

Nice,” ujarku. Kudekatkan bibirku ke telinga Catherine dan berbisik, “Kalau kau terus menyembunyikannya, dia tak akan pernah tahu.”

Kata-kataku membuat Catherine tersentak, kemudian mencoba membetulkan kacamatanya yang sebenarnya tak berubah posisi, “E, b-bagaimana kau bisa tahu?”

“Tingkahmu itu,” kataku sambil tersenyum.

Don’t tell him anything, OK?” Catherine memberi isyarat dengan telunjuknya diletakkan di depan bibirnya.

Okay, you can count on me,” Jawabku. “Oh ya, bagaimana menurutmu kalau aku mengajak Gene?”

“Gene?? Maksudmu Miss Halloway?” tanya Catherine.

Yeah, how do you think? Is it OK with you? Biar tambah ramai.”

“Hmmm, menurutku tidak masalah,” jawabnya.

Good, karena Michael juga tak keberatan. Sepertinya kalian berdua memang cocok,” ucapku menggoda Catherine.

“Ssssshhh!!” Catherine memberi isyarat diam kepadaku, dan aku hanya bisa tertawa melihatnya. “Hey, apa kau tahu?” lanjut Catherine.

“Apa?” tanyaku.

“Kau jadi bahan pembicaraan,” kata Catherine dengan berbisik.

“Ha?”

Catherine mengangguk, “Yup, aku dengar banyak orang yang melihatmu bicara dengan Miss Halloway di kantin tadi, dan sekarang mereka membicarakanmu...” jelasnya.

“Oh, itu...” sahutku, ”tak masalah buatku, terserah mereka mau bicara apa.”

“Baguslah..” ucap Catherine pendek. “Ya sudah, aku akan menunggu di lobi,”

“Sebentar, satu lagi,” cegahku sebelum Cath berlalu, “kau membonceng Michael, ya? Hehe...”

What??” pekik Catherine dan kemudian memasang wajah tak setuju, “Kau pasti sengaja.” Aku tertawa melihatnya seperti itu.

“Ah, tidak, itu hanya perasaanmu saja. Eh, aku lupa, belum mengajak Gene,” kataku ketika melirik ke arah Gene yang sedang membereskan mejanya, aku segera menghampiri meja Gene seraya berkata pada Catherine, “Kau harus mau.” ucapku langsung meninggalkan Cath, tidak peduli bagaimana dia tampak mulai salah tingkah hingga kudengar suara benda terjatuh. Aku menoleh sekilas ke belakang dan tersenyum. Cath menjatuhkan order-order di mejanya. Kubiarkan mereka berdua di dalam ruangan IT sementara aku mempercepat langkahku mendekati Gene di mejanya.

***

(Zoe’s Café, Central Crest Grove, Portway Annexopolis)

Well, everything seems to be alright now, untuk sejenak, ng... mungkin lebih tepatnya seharian ini, aku bisa lupa tentang Anna. I made friend, dan setidaknya aku membawakan Zoe pelanggan baru.

Bertiga, Catherine, Michael dan aku datang ke Cafe Zoe. Gene tak bisa ikut, meskipun tadi aku mengajaknya dan ia bersedia ikut, tapi Bos Besar alias Mr. McKenzie memintanya untuk tetap tinggal di kantor. Kata Bos, ada beberapa dokumen yang ia tak paham dan butuh Gene untuk membantunya..

Bagiku tak masalah, mungkin di lain waktu Gene bisa datang ke cafe. Tapi tadi tampaknya Gene memberi isyarat padaku untuk menolongnya dari permintaan Bos, but he’s the boss, not me. Lagipula tak ada salahnya pula memenuhi permintaan Mr. McKenzie, jadi ketika Gene memberiku isyarat dengan matanya yang melotot, aku pura-pura tak paham saja.

Malam ini cafe sangat ramai, begitu banyak orang yang datang di acara peresmian cafe. Zoe sendiri rupanya ikut sibuk melayani pesanan para tamu. Zoe adalah bos di sini, di cafe ini. Tapi aku tak pernah melihatnya hanya duduk dan bersantai seperti layaknya bos-bos lainnya. Dia sering ikut turun tangan melayani para tamu. Hingga jarang orang yang mengetahui jika dia adalah bosnya, kecuali orang-orang yang mengenalnya.

“Zoe!” kupanggil Zoe saat kulihat ia sudah agak tidak sibuk. Zoe segera menghampiriku dengan tersenyum.

“Hey, kau tahu, ini sangat menakjubkan! Banyak tamu yang datang, semoga saja tiap hari seperti ini,” Zoe langsung bicara sebelum aku sempat berkata-kata, “Oh ya, kenapa kau masih di sini? Bukankah kau kuminta tampil? Temanmu, Jamie sudah menunggu dari tadi,” sambungnya.

“Aku ingin mengenalkanmu pada teman-teman baruku,” aku menunjuk ke Catherine dan Michael.

Hi, Zoe’s here” sapa Zoe sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Catherine.”

“Michael.” Catherine dan Michael memperkenalkan diri.

“Dia pemilik cafe ini, dan sekarang kalian sudah mengenalnya, jadi kalian tenang saja, she won’t give us the bill,” kataku sambil tertawa menggoda Zoe.

“Iya, kalian bawa pulang saja semua, sampai meja kursi yang ada di ruangan ini,” kata Zoe sambil memukul lenganku. Catherine dan Michael hanya tertawa.

“Cath, Mike, aku temui dulu temanku, kalian nikmati saja dulu makanan dan minumannya. Zoe, kau temani mereka, ya.” Aku bergegas menuju ke tempat Jamie yang sedang mengeluarkan gitar dari tasnya di sebelah panggung.

“Kau sudah siap Jame?” Jamie menoleh ke arahku dan mengangguk. “Let’s go then,” sambungku. Kami berdua naik ke atas panggung kecil itu dan Jamie mulai memasang kabel-kabel gitar.

Kami berdua lebih sering perform akustik, dengan gitar ataupun keyboard. Meskipun sebenarnya, Jamie lebih nyaman dengan keyboard daripada gitar. Dan kami berdua sama-sama bisa menyanyi, ketika salah satu menjadi lead vocal, maka yang lain back vocal-nya, tergantung pada karakter lagu yang kami bawakan.

Betapa menyenangkannya ketika berada di atas panggung, meskipun itu hanya di panggung sebuah kafe, bukan di stage yang luas dengan ribuan penonton. Ada sebuah sensasi yang tak terungkap menjalar di seluruh tubuh ketika penonton bertepuk tangan setelah lagu selesai. Pandangan para penonton yang tertuju pada kami seolah mengatakan bahwa kami sedang menjadi pelipur untuk hati mereka. Sebuah rasa yang begitu sensasional.

Kebanyakan, lagu-lagu yang kami bawakan adalah lagu-lagu ciptaan kami sendiri, dan lagu-lagu milik musisi lain yang terkenal.

“Hey Jame,” panggilku selesai agar ia sedikit mendekat. “Lagu terakhir,” Lanjutku, Jamie mengangguk mengerti maksudku. Aku ingat sebuah lagu yang pernah dinyanyikan Anna di telepon.

Ah, aku ingat Anna lagi, seketika aku merindukannya...

***

 

To be continued...

Read previous post:  
70
points
(2074 words) posted by majnun 8 years 14 weeks ago
77.7778
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | drama | mainstream romance
Read next post:  
Be the first person to continue this post

lanjutannya manaa lagi.., i've been waiting for soooo looooonnnggg... ^^

Writer cat
cat at 20-Something : Riley’s Side (Part 2) (7 years 44 weeks ago)
80

Majnuuuun kenapa tidak ada yang memberitahu aku ttg lanjutan ini.

#cekek n potong2 Lavender.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

Lanjut lanjut lanjuuuuuuut.

80

ayo,,, dilanjutkan lagi.. :D

90

Yeee.... hai om majnun ^^. Selamat datang kembaliii...
.
Akhirnya lanjutannya keluar. Dan, yah, dibanding dengan chapter pertama, dialog yang ini terasa lebih hidup. Udah mau komen itu aja. Oke, oke.
.
Saya tunggu lanjutannya

kerennn. :)

100

Finallyyyyyyyyyyy!!

“Memangnya nggak ada perempuan lain yang bisa menggantikan posisi Anna di hatimu?” Zoe bertanya, dan sebenarnya itu adalah pertanyaan yang tak membutuhkan jawabanku, karena Zoe sudah tahu itu.

"Try what?" tanyaku berlagak bodoh

--> sepertinya ada yg aneh dgn perpindahan dialognya?

mohon maaf kalo ini gak sebanding dengan 20-something nya mba' lavender..
mohon bimbingannya..

hayaahhh -___-"