Eksperimen - E-mail - Part 1

Dear, Tika….

Apa kabarmu? Semoga nggak bosan terus-terusan dengar pertanyaan itu di tiap e-mailku. Biar saja, deh. Basa-basi kan kadang-kadang perlu juga. Yah, meskipun aku tahu kamu pasti baik-baik saja. Gimana Bandung? Sudah hujan, belum? Di sini belum hujan. Aah, padahal aku pengen banget hujan-hujanan lagi. Di sini benar-benar kering kerontang. Nggak setetes air pun jatuh dari langit. Geez….

Oke, aku pengin cerita panjang lebar sebenarnya. Tapi, dikit saja deh.

Kamu tahu kalau hari-hari sekolahku sungguh amat sangat biasa saja. Iya to? Selama ini nggak ada yang istimewa. Cuma satu-dua kejadian minor yang nggak berarti. Pagi-pagi sampai di sekolah setengah jam sebelum kelas mulai. Mengamati satu per satu anak-anak yang masuk gerbang dari beranda lantai dua di depan kelasku. Tersenyum-senyum saat beberapa anak terkunci oleh gerbang yang ditutup satpam saat jam 7 tepat. Tertawa-tawa saat melihat anak-anak yang terlambat dihukum joget poco-poco di depan tiang bendera. Sampai saat ini, aku bersyukur belum pernah telat.

Saat istirahat, nggak ada tempat selain perpustakaan dan kantin yang kukunjungi. Saat pulang, aku pun nggak keluyuran ke mana-mana. Kamu tahu se-killer apa bapakku kalau tahu anaknya keluyuran sehabis pulang sekolah, kan? Beneran bosan.

Tapi, kemarin beda. Ada yang mengusik hidup damaiku. Seperti air di baskom yang dibiarkan berjam-jam, begitu tenang … lalu tiba-tiba saja ada jari usil yang mencelup. Bikin air tenang itu bergelombang. Aih, analogi yang rumitkah? Maaf, maaf, aku tahu kamu benci semuanya tentang IPA. Hehe, peace.

Oke, kamu masih ingat Arya, temen SD kita itu? Ya, ya, anak cowok gempal yang suka usil sama anak-anak cewek, yang sering kita labrak gara-gara gangguin adik kelas itu, lho. Ah, sekarang dia nggak gempal lagi. Ceking, malah. Belum lagi … masa’ dia jadi lebih tinggi dariku to? Padahal dulu tingginya cuma setelingaku. Mungkin ini yang disebut pertumbuhan cowok lebih pesat ketimbang cewek ya?

Coba tebak. Aku ketemu dia di perpus. Ya, perpus sekolahku. Dan dia pakai seragam sekolahku. Tentu saja aku kaget. Kayaknya sih dia juga kaget. Soalnya, seingatku dia pindah ke Jakarta setelah lulus SD. Tiap tahun reuni, dia nggak pernah datang. Tiba-tiba saja ketemu. Siapa coba yang nggak kaget. Apalagi, kami sudah kelas 2. Dia bilang, sejak naik ke kelas 2, sudah di Jogja. Yang bikin aku heran, kok selama setengah tahun sekolah di SMA yang sama, bisa-bisanya baru ketemu sekarang. Nah lho, iya to? Ini aku-nya yang kelewat kuper atau dia-nya?

Aku nggak tanya. Buat apa? Penasaran yo. Tapi kan, kita punya sejarah buruk selama SD dulu. Sampai kita lulus, terus dia ngilang, kita belum pernah gencatan senjata. Masa’ tiba-tiba langsung sok akrab gitu? Ogah.

Eh, itu dulu deh. Nanti aku update lagi infonya. Si Roku dah manggil-manggil tuh. Terus mengeong dari tadi, kenceng banget pula. Dari pagi belum kukasih makan.

Salam buat keluarga ya….

 

***

 

Malam, Mia.

Jiah, Bandung juga belum hujan, Bu. Sama-sama kering, tapi dingin sih. Cuma matahari gak pernah muncul lama. Sebel deh, bikin cucian gak kering.

Eh, Mi, kamu serius? Si Arya sekarang dah di Jogja lagi? Ya ampun, itu anak cuma 4 tahun di Jakarta, terus pulkam lagi? Demi apa, coba?

Tapi, setengah tahun se-SMA dan baru ketemu kemarin. Itu sih kebangetan. Tapi, kalau dia udah berubah sedrastis itu sih, wajar kalau kamu gak ngenalin dia kalau-kalau kalian pernah papasan sambil lalu. Yang aku heran, kok dia bisa-bisanya gak ngeliat kamu to? Bukannya kamu gak pernah berubah ya? Dari dulu tetep gitu-gitu aja. Jangan-jangan dia takut sama kamu, Mi. Gara-gara dulu kamu pernah nendang dia sampai jatuh ke sungai kecil samping SD. Ah, tapi dia tukang bikin onar dulu, masa’ iya to pakai acara takut segala.

Ah, pokoknya coba deh kamu baik-baikin dia. Bentar aja. Liat reaksinya. Masih mendendam apa gak. Oke? Kutunggu update-annya, Bu. Sukses.

 

P.S. Eh, dulu kamu nendang dia demi apa to? Aku kok lupa.

 

***

 

Tikaaaaaa….

Mimpi buruk! Yakin, ini pasti mimpi buruk!

Si Biang Onar kita, Tik. Dibully! Bayampun! Aku kaget banget waktu tadi iseng-iseng ngintip ke kelasnya. Dia dipojokin sama anak-anak kelas 3. Nggak ada satu pun teman sekelasnya yang bantu. Akhirnya, terpaksa aku turun tangan juga.  Beneran! Nggak enak banget adu bentak-bentakan sama anak-anak kelas 3. Mereka cowok semua, pula. Suaraku langsung teredam-lah. Jadinya aku cuma bisa teriak kenceng-kenceng. Untung ada guru lewat. Hasilnya, mereka langsung diseret ke kantor BP, dan aku nyeret Arya ke perpus.

Kayaknya tuh anak sudah tobat, Tik. Aku nggak tahu ada kejadian apa waktu dia SMP di Jakarta, tapi jelas ada sesuatu yang mengubah dia. Dia makin kalem. Nggak grusa-grusu lagi kayak dulu. Nggak emosian lagi kayak dulu. Tapi, yang paling bikin kesal, dia makin pintar ngeles. Ampun! Aku tanya apa, dia jawab apa.

Bikin kesal. Tapi, dia jadi pintar. Sekarang atau dulu sama saja. Otot-otak nggak berimbang. Dulu, ototnya yang nonjol. Sekarang, otaknya yang melejit. Aku baru tahu kalau semester lalu, dia juara paralel. Kamu tahu sendiri aku malas melihat pengumuman macam itu.

Eh, ngomong-ngomong, tadi dia minta maaf ke aku. Katanya buat semua hal-hal buruk yang dia perbuat ke aku waktu SD. Perasaan, bukannya aku yang lebih banyak jahat ke dia ya? Ah, tapi aku juga langsung bales minta maaf kok. Dengan begini, kami sudah gencatan senjata. Eh, dia titip salam buat kamu, katanya minta maaf juga. Aku sih cuma bilang kalau kamu pasti sudah maafin dia-lah. Iya to? Eh, kubilang begitu, dia-nya cuma nyengir.

Tik, kamu ingat tampang dia tiap kali nyengir seneng, kan? Nggak enak banget dipandang, iya to? Aku nggak salah, to?

Tapi, coba deh kamu di sini. Nggak cuma isi otak dan kepribadiannya yang berubah jadi lebih baik. Tampangnya juga. Sudah nggak begitu ngrusak pemandangan lagi sekarang. Ah, tapi mungkin aku bilang dulu dia ngrusak pemandangan gara-gara aku—pasti kamu juga—benci banget to sama dia. Sekarang sudah lain, jadi sugesti merusak itu hilang.

Umm, kenapa aku nendang dia? Soalnya, dia habis ngatain aku apa, gitu. Atau habis ngomong sesuatu yang bikin aku malu. Aku juga lupa apa. Sudah lama banget yo. Dan aku nggak berniat buat tanya. Bisa-bisa gencatan senjatanya batal.

Sudah ah, kok malah ngomongin Arya to?

Kamu kapan liburan ke Jogja, Bu? Kangen, nih….

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer herjuno
herjuno at Eksperimen - E-mail - Part 1 (8 years 6 weeks ago)
80

Masih belum bisa komentar banyak, tapi sepertinya menjanjikan....

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Eksperimen - E-mail - Part 1 (8 years 6 weeks ago)
100

ahaa...........manis sekali,,

Writer sekar88
sekar88 at Eksperimen - E-mail - Part 1 (8 years 6 weeks ago)
70

lalalala, sepertinya ini berasa kisah cinta monyet waktu sd dan berlanjut saat SMA

nyanyanya kok saya merasa seperti itunya
eniwei mengalir nice :D

*mo kabur takut kena damprat karena kasi komen yang gaje

PS : si cowok di tendang bukan karena dia bilang dia naksir cewek itu kan :P

Writer aocchi
aocchi at Eksperimen - E-mail - Part 1 (8 years 6 weeks ago)

yang bener musuh bebuyutan pas SD dan baikan pas SMA *plak
.
alasan ditendang itu ... ah, nanti baca saja lanjutannya *dobelplak*