Battle of Realms: Preliminary - Lorne

Preliminary – lorne Cruz

 

Kudorong grendel gerbang besar itu. Dibalik gerbang itu terdapat sebuah tanah kosong. Yang terletak tepat di tengah sebuah arena. Arena yang tidak berpenghuni dan gersang ini. Aneh, aku berdiri di tengah arena padahal aku baru saja melewati… gerbangnya menghilang, gerbang tempatku berasal menghilang.

“Selamat datang di Colliseum, Lorne. Kau adalah salah satu kontestan saat ini kan?” sebuah suara menggema di udara, tidak terlihat siapapun yang berbicara.

“Colliseum, Apa itu?”

“Maafkan kalau aku lupa memberitahukanmu, Kau sudah tidak berada di Croix lagi!” Aku mendapatkan asal suara itu, Nekoman orang yang menuntunku kesini tengah duduk di salah satu lingkaran tembok berundak yang mengelilingi arena ini.

“Ne-Ne-Nekoman?” aku memastikan bahwa dia adalah orang yang sama. Ada sesuatu yang berbeda dengan orang itu, orang yang tadi membawaku.

“Yah, mungkin. Keberadaanku bukanlah sesuatu yang harusnya kamu pikirkan. Yang harusnya kamu pikirkan adalah mereka!”

Nekoman menunjuk ke area arena seberangku, tidak ada apa-apa. Sampai tiba sesuatu yang bergolak disana. Udaranya terlihat seperti air yang digoncangkan. Saat semuanya kembali tenang terdapat beberapa orang dan beast yang sedang  berdiri semuanya melihat kearahku.

“Mereka semua adalah bayangan petarung dan penghuni rendahan dari semua dimensi dalam jangkauanku. Kalau kau cukup berharga untuk masuk ke Battle of Realmsku, bertahanlah hidup… untuk saat ini!”

“Kau!” aku menoleh kepada Nekoman, dia sudah tidak berada di tempat seharusnya.

Kutarik kedua Tonfa-mata-pisauku dan kupegang dengan gaya belati belakang.

“Baiklah, aku siap. Majulah!” aku membuka kuda-kudaku.

Puluhan orang dari berbagai ras yang tidak kukenal dan juga monster segera menyebar, mereka bergerak perlahan sembari menatapku.

Waktu seperti ini tidak akan kusia-siakan. Aku memperhatikan beberapa petarung yang pasti akan menggunakan proyektil. Mereka sasaran pertamaku.

“Wahai Chronos sang dewa waktu…” aku memulai pembukaan rapalanku. Beberapa petarung sudah melemparkan bola sihir ataupun panah mereka kepadaku, yang lain menembakkan peluru. Aku berguling menghindar dari tempatku, lalu berlari mendekatkan diriku kepada petarung lain. Berharap mereka mengendurkan serangan jarak jauh kepadaku.

“Ini aku sebagai penyembahmu…” aku dengan segera menangkis serangan tombak dari petarung terdekatku. Soal kekuatan mungkin tidak bisa kulawan, namun kalau kelincahan mungkin bisa kuatasi.

“Meminta berkatmu…” aku menendang tombak yang tadi kutangkis miring. Membuat tombak itu mengitari tubuh pemegangnya dan malah menghantam tubuh petarung di sampingnya.

“Sembunyikan aku, dari aliranmu yang kau sebut waktu!” aku mengubah peganganku menjadi gaya tonfa, menangkis sebuah serangan dari east berbentuk burung yang sedang menukik. Selain menahan cengkeramannya mata pisauku juga menyayat kaki beast itu. Dengan segera kutusukkan ujung pendek tonfaku yang bertahtakan berlian ke dada beast itu membuatnya terpental jauh.

Sudah saatnya… kuselesaikan rapalanku dengan teriakan permintaan kemampuan “TIME SLIP!”

Semuanya melambat di hadapanku. Aku hanya memiliki 50 detik untuk menghabisi yang paling merepotkanku, Para pemegang senjata berat.

Dengan segera aku berlari menuju sekelompok petarung yang membawa pedang lebar atau Kapak super besar. Mata mereka masih bisa menangkap gerakanku, sayangnya reaksi tubuh mereka yang lain tidak. Aku memegang tonfaku kini dengan gaya Belati depan, dengan mudah menebas para petarung-petarung bersenjatakan besar ini.

Beberapa masih bisa menangkis gerakanku dengan gerakan super lambat mereka, namun tidak ada yang selamat dari serangan dua tahap.

Enam petarung jatuh masih bergerak perlahan dalam kejatuhan mereka. Waktuku sudah tidak banyak, akan kuselesaikan rapalan lain sebelum alur waktu kembali normal.

“Wahai Chronos sang dewa waktu, ini aku sebagai penyembahmu, meminta berkatmu, menjadikan senjataku berharga di hadapanmu. TIME BLADE!” saat melantunkan perapalan aku mengubah peganganku kembali menjadi gaya tonfa.

Saat kuteriakkan permintaanku alur waktu kembali normal. Semua petarung kasar yang telah kutebas jatuh di tanah dan menghilang. Aku menatap beberapa petarung yang tersisa memberikan tekanan mental kepada mereka. Menurunkan kepercayaan diri mereka mampu memberikan perbedaan antara aku bisa bertahan hidup atau tidak.

Sang pemanah dan pemegang senapan segera kembali mengincarku. Aku melemaskan pegangan tonfaku dan memberikan putaran penuh di hadapanku.

Mata pisau yang diberkati Chronos menjadikan jejak mereka statis di udara. Membentuk tembok lingkaran yang terbuat dari logam. Menghalangi proyektil mereka sampai ketubuhku.

Para penyerang jauh berhenti menembak dan kini petarung jarak dekat dan beberapa beast yang mulai berlari ke arahku. Aku melangkah maju melewati tembok logam buatan tonfaku. Memulai pertarungan biasa, menangkis dan menyerang beberapa petarung-petarung yang menggunakan senjata ringan. Gerakan-gerakan mereka memberikan kesan kalau mereka bukan petarung handal.

Saat semua petarung dan Beast itu telah kukalahkan aku melihat empat ketiga petarung jarak jauh yang tersisa.

Mereka semua berlari memecahkan barisan mereka. Aku mengejar sang penyihir yang masih diam di tempat.

“Wahai Chronos sang Dewa waktu…”

Aku mendekati penyihir itu yang dengan bodohnya mengayunkan tongkatnya sembarangan kepadaku.

“ini aku penyembahmu…”

Kutepis tongkatnya dan menyodok kepala berlian tonfaku ke perutnya membuatnya menunduk menahan sakit

“Aku meminta Berkatmu…”

Kutarik jubah penyihir itu dengan ujung kedua tonfaku, dan melemparkannya ke tengah arena. Dimana jejak-jejak statis belatiku masih berada di sana. Tubuhnya terpotong saat mengenai bilah yang tidak bergerak di tengah udara.

“Pisahkan aku dari kuasamu yang kau sebut waktu!”

Kedua petarung yang lain terpana kini diam. Aku segera berlari menuju petarung yang menggunakan senapan, dengan panik ia memberikan beberapa tembakan. Aku tinggal memutarkan tonfaku membuat jejak tembok logam yang mementalkan pelurunya.

Sengaja tidak kuselesaikan rapalanku, kusimpan hanya untuk waktu yang paling genting. Saat petarung itu masuk ke area seranganku, kutebas senapannya dan juga kutancapkan sikutku dan ujung belati ke dadanya.

Suara pegas dan lesatan panah kudengar dari belakangku. Aku belum sempat berbalik, dengan segera kuteriakkan permintaanku “CHRONOS CRADLE!”

Waktu terhenti kecuali diriku. Aku berbalik dan menemukan anak panah itu berada di depan hidungku, bahkan dinginnya mata logam terasa di hidungku.

Aku mengubah pegangan di tonfa kiriku menjadi gaya belati depan, dan melemparkannya ke sang pemanah. Dengan santai kuambil panah itu dari depanku dan kubuang di tanah.

Tonfaku melambat dan akhirnya berhenti di tengah udara. Masih ada beberapa 3 detik sebelum semua kembali normal, dengan santai aku berjalan menyusul tonfaku.

 Saat efek rapalan selesai, Mata pisau tonfaku kembali melayang dan menancap di leher sang pemanah.

“Heh… Mudah!”

Aku menghampiri mayat sang pemanah yang mulai menghilang dan mengambil kembali tonfaku.

Arena mulai terdekomposisi menjadi butiran-butiran dan aku menemukan diriku berada di dimensi yang kosong. Melayang begitu saja.

Suara Nekoman yang kini sudah kukenal kembali terdengar bersamaan dengan tepuk tangan.

“Yap kau memang cocok menjadi kontestan Battle of Realms”

 

PS: bentuk pemegangan adalah gaya yang digunakan oleh Lorne untuk memegang tonfanya.

Saat ditulis “belati belakang” itu adalah saat Lorne memegang tonfanya dengan gaya tipikal Kunoichi memegang Kodachinya.

Saat ditulis “gaya tonfa” itu berarti Tonfanya dipegang seperti biasa

Saat ditulis “gaya Belati depan” itu berarti Tonfanya sedang dipegang dengan gaya para pemegan pedang biasa.

Read previous post:  
49
points
(675 kata) dikirim Ivan Rampengan 8 years 6 weeks yg lalu
98
Tags: Cerita | Cerita Pendek | petualangan | Battle of Realms
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis Rendi
Rendi at Battle of Realms: Preliminary - Lorne (8 years 5 weeks ago)
70

*catet2*
begini ya battle pembukaanya karakter di BoR ya?

100

Saya baru sadar kalau karakter ini juga pemakai tonfa..

oh jd mirip demo dl gt kayak di film shinobi

100

cheese :D