Rusuh Susila

SEXUAL CONTENTS & VIOLENT LANGUAGES!

SORAK-SORAI kehancuran semakin menghampiri suatu negeri. Di suatu masa, tidak akan ada lagi pasokan udara tenang nan damai, hanya debu dan abu yang bercampur pesing dan bising yang tersisa. Negeri kecil yang dulunya makmur dan jaya itu kini terbelah dua; kedua-duanya semakin hari semakin girang berporak-poranda. Segala penjuru negeri tersebut sudah disulap menjadi neraka dunia.

Segala macam mediasi dan negosisasi sudah dilakukan, tak ada yang membuahkan perdamaian atau sekedar jalan tengah. Berbagai jenis taktik dan pertahanan militer pun telah dikerahkan, tetap juga tidak mengurangi api-api yang sudah terlanjur berkobaran dan semakin bertebaran. Pihak militer malah semakin kewalahan, dan tak sedikit pula yang akhirnya ambil pihak atau memutuskan untuk berhenti dan angkat kaki. Pejabat-pejabat dan berbagai kaum elit juga sudah banyak yang memutuskan angkat kaki demi menyelamatkan harta yang sudah mereka tumpuk berhari-hari. Rakyat yang tak mau menyatu ke salah satu kubu, dan lebih memilih hidup aman dan nyaman sudah lebih dahulu mengungsi ke sana-sini. Presiden negeri itu pun sudah tak sanggup lagi, dan akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri lalu menghilang entah ke mana. Alhasil, istana pemerintahaan jadi kosong-melompong, tak ada yang mengendalikan. Kacau balau.

Presiden Amerika, PBB, CIA, FBI, dan berbagai forum internasional lainnya turut campur tangan, tapi yang mereka lakukan tak lain sekedar duduk-duduk ribut di ruang rapat tanpa memberikan jalan keluar. CNN, BBC, Al Jazeera, dan berbagai stasiun televisi dari segala penjuru dunia gencar meliput detik demi detik kejadian di negeri itu. The Times, Daily Mail, Yomiuri Shimbun, Amar Ujala, Reference News, dan jutaan surat kabar lainnya laris menjual headline seputar negeri itu bak kacang goreng. Berita-berita seputar kehancuran negeri itu juga sudah jadi konsumsi dunia, diperbincangkan oleh kaula Hollywood sampai preman-preman Caracas, dihakimi dengan hukum buah tangan jidat sendiri, dispekulasikan akhir ceritanya sampai puluhan versi.

Asal-muasal persoalannya sepele, sungguh terlalu sepele. Saking sepelenya, tak sedikit penyaksi dari berbagai belahan dunia yang mencibir, mengejek, bahkan tertawa terbahak-bahak kerap kali mengingat asal-muasalnya. Permasalahannya, presiden negeri itu, yang belum sampai sebulan menduda-cerai, hendak memperistri perempuan baru. Tak ada yang salah dengan fisik perempuan itu; muda, cantik jelita, tinggi menjulang, berkulit seksi coklat mengilat, bola mata biru menawan, bibir sensual merah menyala, badan bak biola, siapa saja yang melihatnya pasti terpana. Bukanlah perihal beda usia yang dipermasalahkan, juga bukan kewarganegaraan asingnya yang dipeributkan, melainkan latar belakangnya sebagai model celana dalam, jebolan Victoria’s Secret pula. Si perempuan memang sudah terkenal piawai memamerkan kemolekan tubuh setengah telanjangnya. Bukan hanya setengah telanjang, foto-foto syur tanpa busana pun sudah jadi makanan khalayak ramai baik di majalah-majalah khusus dewasa ataupun di Google secara gratisan. Para bawahan dan kerabat sebenarnya sudah memeringatkan sang presiden untuk berhati-hati menjalin hubungan dengan si perempuan, bakal banyak pihak-pihak yang menentang. Dasar saja sang presiden yang sudah kepincut duluan, dan sudah terlanjur juga hubungan keduanya jadi bahan rebutan media massa. Kontroversi memang sudah tidak bisa dihindari lagi, apa boleh buat?!

Tak butuh waktu lama, berbagai organisasi keagamaan, mulai dari yang seagama sampai lintas-agama, berduyun-duyun berkhotbah sambil menyusuri jalan. Poster-poster bertuliskan, “Usir Pelacur Amerika!,” “MODEL CELANA DALAM = HARAM,” “Lonte!,” bahkan, “Presiden Kita Ngaceng Euy!” diarak-arak sampai ke depan istana pemerintahan.

“Presiden itu imam bagi kaumnya,” pria bersorban dan berpakaian serba putih yang memimpin arak-arakan itu berseru di hadapan sebuah pengeras suara, “Maka tak patutlah seorang imam itu mendekati zina! Kalau imamnya saja sudah tergiur zina, bagaimana nasib rakyat-rakyatnya!”

“Istri presiden harusnya yang bisa jadi panutan, bukan jadi pelototan!” seru para pengarak.

“Wahai Pak Presiden, janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Tuhan,” seru pemuka agama lain yang juga menggunakan pengeras suara sambil mengacung-ngacungkan kitab suci, “Pecinta maksiat itu tidak sepatutnya menerima amanah keduniawian. Para pemimpin seharusnya menjadi teladan. Pemimpin sejati adalah pelayan.”

“Pemimpin itu hakikatnya memikirkan rakyat, bukan syahwat!” hentak semua semua pengarak berulang-ulang.

Tak cukup kehebohan di hari pertama yang sudah melumpuhkan berbagai macam aktivitas ibu kota, arakan itu dibuntuti oleh arak-arakan susulan di hari-hari selanjutnya. Tak hanya di ibukota, kota-kota lainnya juga turut menyusul dan tak mau kalah heboh. Isinya juga mulai beragam, tak hanya fanatik agama lagi, tapi mulai diikuti juga oleh rakyat biasa yang katanya mau menyerukan budaya ketimuran yang serba berketutupan. Mulanya tuntutan mereka ialah, “Presiden boleh mengawini si perempuan asalkan mundur dari jabatan, atau presiden taubat dan melanjutkan amanat.” Semakin memanasnya arakan, semakin berkembang pula tuntutan yang mereka serukan menjadi, “Hentikan segala macam tindakan kemaksiatan dan pemicu kemaksiatan!” Mereka mengultimatum pemerintah agar segera meluncurkan hukum anti-kemaksiatan dan anti-pemicu-kemaksiatan; mulai dari aturan berpakaian sampai aturan bersentuhan.

“Rajam saja mereka-mereka yang bersentuhan dengan bukan muhrimnya! Rajam saja wanita-wanita yang memamerkan paha! Penggal pelacur! Tebas mati homo! Maksiat itu dosa! Dosa itu kriminal!” hentak para pengarak setiap harinya. Semakin hari, taraf kesadisan tuntutan mereka semakin fantastis. Mereka menjuluki tuntutan tersebut sebagai “Revolusi Susila.”

Seolah-olah satu aliran arakan tak cukup menghebohkan, ternyatan arakan anti-calon-istri-presiden itu mendapat tandingan. Muncul arak-arakan penentang arakan sebelumnya yang isinya kurang lebih didominasi oleh para aktivis, cendikiawan, seniman, sastrawan, budayawan, olahragawan, penari, aktor dan aktris, selebritis, modernis, sosialista, sutradara, model dan supermodel, fotografer, kaum feminis, kaum seksualis, kaum atheis, pekerja bidang budaya, pekerja bidang pariwisata, pekerja pantai, pekerja majalah-majalah metropolitan, pekerja klab malam, pekerja perusahaan bikini, pekerja telepon seks, pelacur, gigolo, germo, mucikari, gay, lesbian, biseksual, waria, pelakon trisam, pelakon sadomasokis, pelakon kumpul kebo, pecinta binatang, mantan narapidana, preman dan bernadalan, PIL dan WIL, tante-tante dan om-om girang, pria-pria hidung belang, wanita-wanita jalang, juga berbagai macam lapisan rakyat lainnya. Tuntutan mereka sudah jelas: menentang “Revolusi Seksual” yang dituntut kaum sebelumnya, dan mengajukan “Revolusi Seksual” versi-versi mereka sendiri-sendiri.

“Seni tidak sama dengan pornografi!” seru para seniman dari berbagai kalangan.

“Pakaian daerah negeri ini juga menunjukkan perut dan paha! Pakaian daerah juga termasuk budaya kebertimuran!” seru para budayawan.

“Kita gak bisa makan kalau gak melacur, kita gak bisa melacur kalau pakek daster!” seru para pelacur.

“Yang porno itu bukan pakaiannya, tapi isi kepalanya!” seru kaum feminis dan aktivis, “Kalau memang otaknya sudah porno, lihat yang gak telanjang saja sudah ngaceng!”

“Alah, sok-sok alim. Padahal otaknya mesum! Tinggal ngentot aja kok repot!” teriak para preman dan berandalan.

Walaupun tidak benar-benar sevisi dan semisi, pihak oposisi ini tak kalah kuat baik dari segi suara maupun jumlah. Aksi-aksi mereka pun semakin hari semakin variatif; mulai dari aksi seni seperti penayangan film-film Pier Paolo Pasolini, pembacaan karya-karya Marquis de Sade, pameran pakaian-pakaian, lukisan-lukisan, dan tarian-tarian daerah yang memamerkan keauratan, pementasan drama Equus, sampai aksi-aksi ekstrem seperti demo telanjang, pameran posisi seks Kama Sutra yang dilakukan oleh model-model berbodi yahud, pertunjukan praktik trisam, sadomasokis, gangbang, bahkan bukkake.

Semakin heboh aksi pihak yang satu, semakin gencar balasan dari pihak lainnya, begitu berlanjut berhari-hari tanpa henti. Tak ada yang mau mengalah, tak ada pula yang berhasil menengahi. Semakin hari, semakin bertambah ekstream, semakin kewalahan pula aparat yang mengamankan, semakin gemetaran pula isi istana pemerintahan. Permasalahan dua sisi yang mulanya hanya sebatas debat mulut, atau sekedar adu sorak, kini mulai menjamah adu fisik. Dentuman-dentuman jontos mulai memenuhi udara. Kurang-kurang, kayu, parang, bahkan senapan pun diturunkan. Segala bangunan hancur tak keruan. Darah muncrat di segala penjuru negeri. Kursi-kursi pemerintahan sudah kosong-melompong, militer juga sudah tak sanggup lagi jadi penengah, dunia hanya berani meratap sebagai saksi. Tinggal masalah waktu saja, pihak mana yang duluan menyerah atau duluan musnah.

 

DI sebuah pulau tropis, di belahan dunia yang lain, yang konon disebut sebagai salah satu surganya dunia, sang mantan presiden dan si perempuan Victoria’s Secret tengah terlentang telanjang bersamping-sampingan di pantai pribadi mereka. Kulit mereka nyaris gosong digigiti terik matahari. Dua gelas setengah terisi es jeruk bertengger di samping mereka. Udara di sekitar mereka begitu tenang, begitu damai, bahkan laut pun serasa turut larut dalam ketentraman. Kalaupun ada yang merusak pemandangan, paling sekedar perut buncit sang mantan presiden yang tidak sinkron penempatannya.

Sang mantan presiden tengah serius menelaah kata per kata pada kolom The Times yang menjuduli fenomena negerinya sebagai “Sodom dan Gomora Abad Ini.” Sementara si perempuan sedang asyik memelototi foto-foto pernikahan mereka yang terpampang di halaman-halaman Rolling Stone.

Ketika senja tiba di cakrawala sana, keduanya melempar bacaan yang ada di tangan masing-masing, lalu bermesraan. Tak ada siapapun di sekitar. Keduanya berkecupan berdua saja.

 

Surakarta, 7 Mei 2010

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer d.a.y.e.u.h.
d.a.y.e.u.h. at Rusuh Susila (6 years 13 weeks ago)
70

akhirnya jadi menikah, sah... tidak mengurusi.
setelah sebelumnya dijabarkan gimana dua pandangan yang bertolak belakang dibawa ke tingkat ekstrim (atau berlebihan?).

Writer Rijon
Rijon at Rusuh Susila (6 years 13 weeks ago)

Waduh sampai baca cerita-cerita lama, yang aku sendiri sudah lupa, malah beberapa hilang file-nya. Makasih, makasih banyak ya. :)

Writer dorarossi46
dorarossi46 at Rusuh Susila (7 years 9 weeks ago)
100

ckck, segitunya ya?

Writer H.Lind
H.Lind at Rusuh Susila (8 years 26 weeks ago)
70

Ermm, sepertinya saya kurang begitu setuju penyebab konflik yang kau tampilkan di atas bisa berdampak begitu besarnya. Terlebih ketika kau menulis bahwa CIA, FBI, dan PBB sampai turun tangan dan hanya bisa bertengkar, juga tentang kerusuhan massal, menurut saya itu berlebihan walau ini ditag sebagai satir.

Writer vertilizer
vertilizer at Rusuh Susila (8 years 26 weeks ago)
60

waduuh..hehehe..lumayan ngawur eh lucu,hehe.mantap kang*

Writer Yafeth
Yafeth at Rusuh Susila (8 years 26 weeks ago)
80

Meski bahasanya terlalu eksplisist sampai pada satu keadaan nyaris membuat saya jengah, saya mengapresiasi kemampuan menggambarkan keadaan negeri yang menyerupai Ibu Pertiwi ini dengan sangat ekstrim. Saya hanya berharap, ini tidak pernah terjadi dalam realita. Cukuplah keekstriman ini dalam khayalan liar saja.