Ange Saga: 2. Virtues and Sins

 

“ANGE ROUGE ALTERER!”

Tiba-tiba liontin yang kukenakan bersinar begitu terang dan mengusir gelapnya malam itu. Aku merasakan kehangatannya mengalir sampai ke ujung jari. Aaah… Cahaya merah yang hangat menyelimuti setiap inci tubuhku…

Cahaya di lenganku meredup meninggalkan sepasang pelindung tangan keemasan bertatahkan permata merah yang terpasang erat. Di bahuku muncul pelindung bahu berwarna sama dengan guratan-guratan merah yang berkilau di bawah cahaya bulan. Di kedua kakiku kini terpasang sepatu bot dan pelindung lutut yang juga berwarna emas dengan detil-detil berwarna merah darah. Lalu cahaya merah tadi berubah menjadi pakaian dari kain merah yang lembut dan ringan seperti pakaian orang Romawi dengan ikat pinggang emas.

Liontin hati tadi masih tergantung di leherku dan terakhir, dalam genggaman tangan kananku muncul tongkat cahaya putih yang begitu menyilaukan. Detik berikutnya, cahaya itu meredup meninggalkan tongkat emas sepanjang setengah lenganku yang bertaburan rubi berbentuk hati di kedua ujungnya.

“Menyingkir!!!”

Suara si rubah pirang mengembalikanku ke dunia nyata. Kapak si monster kepala banteng hanya berjarak beberapa inci dari kepalaku. Aku melompat. Aku melompat begitu tinggi dan mendarat di atap gereja. Tidak mungkin… Bagaimana bisa aku melompat setinggi itu? Tapi tak apa… Yang penting aku selamat… Syukurlah, terlambat satu detik saja aku pasti sudah dicincang habis oleh si monster…

Monster itu celingukan kesana-kemari mencari-cari sosokku. Sepertinya otaknya cukup lamban sampai-sampai tidak menyadari kalau aku ada di atas. Ini kesempatan bagiku untuk kabur dan—

“Jangan lari seperti pengecut! Lawan dia! Kau kan Ange Rouge! Seharusnya gampang bagimu untuk menghabisi Fury tingkat rendah seperti makhluk itu!”

“EEEEH???!!!”

Kapan si Rubah Pirang melompat dan bertengger di bahuku?

“Me-melawan? Bagaimana aku bisa melawan makhluk itu? Apa tadi namanya? Fury?” protesku.

“Ya, Fury! Pesuruh para iblis neraka yang diciptakan khusus untuk menyiksa arwah para pendosa di neraka! Makhluk itu jelas-jelas tidak punya urusan di dunia manusia ini, sudah jadi tugasmu untuk menyingkirkannya!”

“Gampang saja bicara, tapi dari mana aku tahu bagaimana menyingkirkan makhluk itu!”

“Awas!”

Monster itu melihatku di atas dan mulai menyerang. Spontan aku melompati lubang ke sisi atap yang satunya… Apa? Bagaimana mungkin aku melompati lubang sebesar itu tanpa berpikir sama sekali? Bagaimana kalau tadi aku jatuh?

“Sudah sadar sekarang, Rouge? Kau punya kekuatan! Arahkan tongkatmu ke Fury itu, lalu katakan sesuatu dan bayangkan kekuatan itu menghajar monster itu atau apa!” bentak si Rubah Pirang.

Katakan sesuatu dan bayangkan? Lagi? Apa ini semacam game superhero di mana untuk menyerang kau hanya perlu mengarang-ngarang jurusnya di tempat?

Baiklah kalau begitu! Sebelum bisa kuserang, monster itu harus berhenti bergerak dulu… Ayo, Eve… Pikirkan jurus yang keren…

Kuarahkan tongkat di tanganku ke monster kepala banteng dan kupejamkan mataku rapat-rapat. Kubayangkan kehangatan liontin di dadaku mengalir melalui lenganku sampai ke ujung tongkat itu, lalu kubayangkan lingkaran cahaya keluar dan mengikat monster itu…

“HALO ROUGE!”

Terdengar raungan kesakitan penuh amarah dari bawah.

Kubuka kedua mataku. Ternyata benar! Monster itu sekarang terikat oleh lingkaran cahaya merah dari tongkatku!

Sekarang, serang!

“BOMBARDEMENT!”

Kali ini panah-panah merah melesat dari tongkatku dan menghujani si kepala banteng. Raungannya berubah menjadi lolongan yang menyayat…

Makhluk itu sepertinya sangat kesakitan… Apa seharusnya aku tidak menyiksanya seperti ini?

Apa yang kupikirkan? Makhluk itu utusan iblis yang berkeliaran di tempat yang tidak seharusnya dan mengganggu orang-orang! Sudah sepantasnya dia mendapatkan apa yang dia alami sekarang!

…Benar… bukan?

“Sekarang saatnya melakukan Disparaite! Kembalikan makhluk itu ke neraka, tempat asalnya!” perintah si rubah.

“A-apa? Bagaimana?”

“Sama seperti tadi!”

Aku menatap makhluk mengerikan yang masih menjerit-jerit kesakitan dalam belenggu yang kuciptakan. Makhluk itu tidak tampak mengerikan lagi di mataku… Daripada mengerikan, lebih tampak… menyedihkan? Aku tidak tahu… Tapi sekarang menurut si rubah, tugasku adalah mengembalikannya ke neraka. Apa penderitaannya akan berakhir setelah makhluk itu kembali ke tempat asalnya?

Kalau begitu…

Sekali lagi tongkatku kuarahkan pada makhluk itu—Fury.

“Wahai pelayan kegelapan, hamba para iblis, penyiksa dari neraka… Kau telah berdosa membuat kekacauan di antara mereka yang bernyawa. Sudah saatnya kau meninggalkan alam ini dan kembali ke tempatmu yang seharusnya!

“Dengan kekuatan cinta dan keberanian! Aku, Ange Rouge, akan mengirimmu kembali ke neraka!

“DISPARAITE!”

Seberkas cahaya putih melintas sekilas, lalu lubang hitam melebar di bawah kaki si monster kepala banteng seperti bayangan. Lidah-lidahnya menjulur-julur, meliliti seluruh tubuh raksasa si pesuruh iblis dan perlahan-lahan menariknya masuk ke dalam ketiadaan sampai akhirnya makhluk itu lenyap sepenuhnya.

Lubang itu pun menutup dan lenyap tanpa bekas.

Aku melompat turun, terpaku memandangi tempat di mana lubang hitam tadi berada. Seluruh tubuhku terasa lemas…

***

“Hei, cepat bangun!”

Aku merasakan sesuatu yang basah di wajahku. Apa-apaan ini? Di mana aku?

Dengan ogah-ogahan kubuka kedua mataku dan menemukan si Rubah Pirang mencoba membangunkanku dengan menjilati wajahku.

“Uhhh…” kusingkirkan makhluk berbulu itu dari wajahku, meletakkannya di pinggir, dan kembali memejamkan mata.

“Ouch!”

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang tajam menggores keningku. Tidak terlalu sakit, tapi mengganggu. Mau tidak mau aku bangun dan mencari-cari rubah kurang ajar itu. Apa dia tidak tahu aku benar-benar kelelahan?

“Hei, bodoh! Kau mau terus-terusan tidur di sini?”

Bo-bodoh katanya? Rubah ini minta dipanggang, ya?

Sekilas aku melihat langit malam di atas sana yang masih hitam tanpa bintang seperti biasa. Yah, di kota yang semakin ‘hidup’ di malam hari ini, hampir tidak mungkin bisa melihat cahaya bintang dengan jelas… Tunggu. Langit?

Sejak kapan aku bisa melihat langit dari kamarku?

Aku baru menyadari bahwa aku bahkan tidak sedang berada di ranjangku sendiri. Aku sedang duduk di atas lantai marmer di antara puing-puing, tepat di bawah langit-langit tinggi yang sudah berlubang. Ternyata aku masih berada di gedung bekas gereja tadi, lalu aku tertidur… Pasti tadi di sekolah aku begitu takut sampai-sampai berhalusinasi ada monster berkepala banteng yang mengejarku sampai aku berlari ke tempat ini dan tertidur saking lelahnya, lalu aku bermimpi mendapat kekuatan ajaib dari sebuah liontin merah, bertemu rubah yang bisa bicara, dan melawan monster berkepala banteng itu. Suara, jilatan, dan cakaran barusan juga pasti hanya imajinasiku saja…

“Sudah sadar?” datang lagi suara bocah lelaki bernada sinis dari sisi kananku. Aku menoleh.

…Rubah?

Tanpa sadar tanganku meraba bagian leherku… Liontin?

Jadi semua itu bukan mimpi?

“GYAAAAAAAAA!!!”

“Sudah terlambat untuk panik! Fury tadi sudah tidak ada, tahu!” si Rubah Pirang bicara lagi! Benar-benar bicara!

“Se-sebenarnya apa yang terjadi?!” tanyaku bingung. Setelah akhirnya bisa berpikir jernih tanpa ancaman makhluk jadi-jadian, aku baru sadar bahwa yang kualami tadi benar-benar tidak masuk akal. Kekuatan apa? Ange Rouge siapa? Lalu ada apa dengan makhluk setengah banteng itu? Belum lagi rubah ini… Rubah itu hewan! Hewan itu seharusnya tidak bisa bicara kan?

“Bukankah sudah jelas?” rubah itu malah bertanya balik, “Kau baru saja dianugerahi kekuatan dari surga, kekuatan seorang Angel of Virtue yang ditakdirkan untuk menyelamatkan dunia ini dari para iblis!”

“Eh?! Aku? Menyelamatkan dunia?”

“Ya, kau! Walau aku bahkan tidak tahu mengapa sang Malaikat Putih bisa memilih gadis bodoh sepertimu untuk menjadi Ange Rouge. Yah… Mungkin kebetulan kau sedang berada di tempat yang kurang tepat di waktu yang kurang tepat,” rubah itu terus mengoceh.

“Lalu… Lalu, bagaimana dengan iblis yang kausebut-sebut itu? Apa masih ada lebih banyak lagi monster berkepala banteng seperti tadi yang ingin menghancurkan dunia atau semacamnya?”

“Tentu saja tidak sesederhana itu! Yang kauhadapi tadi itu baru iblis tingkat rendah—bukan, lebih tepatnya pesuruh para iblis! Fury tadi tidak ada bandingannya dengan iblis yang sesungguhnya, apalagi Seven Deadly Sins yang harus kaukalahkan dengan enam Angels lainnya!”

“Hah?”

“Biar kujelaskan pelan-pelan agar otakmu yang lamban itu bisa mencerna semuanya dengan mudah,” ujar rubah itu sok bijak. Entah mengapa suaranya yang mirip suara anak-anak itu terdengar sangat menyebalkan. Apa tadi katanya? Lamban? Enak saja!

“Hei, Rubah! Kau ini sebenarnya mau menjelaskan atau hanya ingin mengolok-olokku?”

“Aku tidak mengolok-olokmu, itu kenyataan,” jawabnya angkuh, “Sudahlah, itu tidak penting. Yang jelas sekarang ini, coba kau lihat sekelilingmu.

“Dunia ini semakin lama semakin kacau. Orang baik dan tulus hampir tidak ada sama sekali. Manusia-manusia zaman sekarang kalau tidak dibutakan oleh ego, pasti tenggelam dalam nafsu mereka sendiri. Semua berebut untuk bisa ‘bahagia’ dan mereka akan melakukan apapun untuk mencapai tujuan mereka meski harus mengorbankan keinginan dan kehidupan orang lain.

“Mereka lebih memilih jalan pintas yang terkutuk dan menistakan semua yang suci. Kaupikir apa yang menyebabkan semua ini?” tanya si Rubah Pirang.

“…Apa?”

“Ini semua karena para iblis terus-menerus menggoda dan menjerumuskan manusia. Iblis tingkat rendah yang rupanya buruk dan mengerikan seperti yang tadi meneror orang-orang dengan ketakutan, yang tingkatnya lebih tinggi menggunakan penampakan fisik dan kemampuan magis mereka untuk menyesatkan orang-orang…

“…Dan di antara ratusan iblis-iblis itu, ada tujuh iblis yang paling kuat dan memanggul beban Seven Deadly Sins—tujuh dosa paling berat dan mendasar—dan menanamkan benih-benihnya dalam hati manusia. Karena mereka, semakin mudah untuk mempengaruhi manusia untuk berbuat dan berpikiran jahat, dan makin lama kekuatan kebaikan makin memudar.

“Karena itulah Malaikat Putih memutuskan untuk memberikan kekuatan tujuh anak manusia terpilih yang masih memiliki tujuh kebaikan dalam diri mereka dalam bentuk yang paling murni—Seven Heavenly Virtues—agar mereka bisa menggunakan kekuatan itu untuk menyelamatkan umat manusia dan mengalahkan Seven Deadly Sins dengan kebaikan dalam diri mereka.”

“I-itu berarti…”

“Kau, Eve Dragoste Giandra, telah terpilih untuk menyandang kekuatan salah satu dari ketujuh kebaikan—kini kau bisa berubah menjadi Ange Rouge, pemegang kekuatan keberanian. Gunakan kekuatan itu dengan bijak dan hanya untuk kebenaran dan kebaikan serta mengalahkan para iblis!”

…Tidak mungkin. Tanggung jawab sebesar itu? Aku? Mengapa aku yang terpilih?

“Sudah kubilang, aku tidak tahu kenapa kau bisa sampai terpilih. Yang jelas kau harus tunjukkan keberanianmu dan sungguh-sungguh melawan para iblis. Jika tidak, kehancuran dunia ini sudah bisa dipastikan. Bahkan Sang Pencipta dan Malaikat Putih pun tak akan bisa melakukan apa-apa.”

Kehancuran dunia… Berarti semua orang akan ikut hancur? Ayah, teman-teman… Bahkan diriku sendiri juga akan ikut hancur…

Tidak! Aku tidak mau itu terjadi! Aku harus melakukan sesuatu!

Tapi… Apa aku bisa menanggung semua itu? Apa aku sanggup menjadi Ange Rouge dan bertarung demi dunia ini?

Tidak. Aku tidak boleh ragu. Aku pasti bisa!

Pasti!

“Satu hal lagi, jangan sampai orang lain tahu tentang kekuatanmu. Para iblis pasti akan memburumu mulai saat ini—kau adalah ancaman bagi mereka. Dan jika mereka sampai tahu siapa kau sebenarnya, mereka tidak akan ragu-ragu menyandera atau bahkan menyakiti orang-orang terdekatmu,” rubah itu memperingatkan.

Bukan masalah. Lagipula kalaupun aku menceritakan kegilaan ini pada orang lain, mereka hanya akan menertawanku. Lebih baik kusimpan sendiri… Dengan begitu, Ayah dan teman-temanku akan lebih aman… Bukan hanya dunia. Dengan kekuatan ini, aku harus melindungi mereka!

“Ngomong-ngomong, sebenarnya kau ini siapa? Malaikat Putih itu siapa?”

“Malaikat Putih adalah tangan kanan Sang Pencipta yang bertugas untuk menjaga dan mengawasi dunia… Dialah yang memberimu kekuatan,” jawab si Rubah, “Dan aku adalah Ran, penjaga dan pembimbing ketujuh Angels of Virtue sekaligus perantara kalian dengan Malaikat Putih.

“Sebaiknya kau ingat namaku baik-baik karena mulai sekarang, aku akan terus bersamamu sampai para iblis berhasil dimusnahkan dari dunia ini… Atau sampai kalian yang musnah bersama dunia ini.”

“EEEEH?!”

“Dan sekarang, dengarkan aku baik-baik. Aku akan memberitahumu apa tugas pertamamu,” ujar Ran si Rubah Perantara, “Kau tak mungkin bisa menghadapai para iblis seorang diri, oleh karena itu, sekarang tugasmu adalah menemukan keenam Angels lainnya!”

“…Enam Angels lain, ya? Siapa saja mereka?”

“Mana aku tahu! Kau adalah orang pertama yang diberkahi kekuatan dari Malaikat Putih, karena itu kitalah yang harus menemukan yang lain!”

“APAAAA?!”

***

“Kakak, aku menemukan sesuatu yang menarik ketika bermain-main di sekolah barusan!”

“Huh?”

“Ada gadis manis di kelasku yang kebetulan muncul di saat yang kurang tepat… Dia tidak terpengaruh oleh Mealladh-ku! Hebat bukan?”

 “Aku iseng mengirim Fury tingkat rendah untuk mengejarnya, dan tebak apa yang terjadi, Kak!”

“Apa?”

“Awalnya dia lari ketakutan, tapi akhirnya dia mengalahkan Fury itu! Padahal sebelumnya aku yakin dia hanya gadis biasa…

 “Boleh aku bermain-main dengan gadis itu, Kak? Aku ingin sedikit menggodanya… Kakak tahu maksudku, kan? Lagipula aku ingin tahu apa yang Dia lakukan padanya dan sejauh apa kemampuannya… Kakak juga ingin tahu, kan?”

“Lakukan sesukamu, Lux.”

 

Read previous post:  
106
points
(3557 words) posted by Riesling 8 years 14 weeks ago
81.5385
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | fantasi | iblis | shojo | superhero | teenlit
Read next post:  
Writer Chie_chan
Chie_chan at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (7 years 36 weeks ago)
90

AYO LANJUTKAN!!

80

Serasa balik ke masa lalu dan membaca sailormoon abad ke 21 ^^
Memang cerita mahou shoujo itu ga pernah basi ya! XD

Writer Hikaru Xifos
Hikaru Xifos at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 6 weeks ago)
80

Waa... Ceritax keren... XD

Writer k0haku
k0haku at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 7 weeks ago)
90

Kayak nostalgia Sailor Moon jaman dulu, seriusan. XD Apalagi bagian yang tongkat merah itu, itu benaran bikin teringat Sailor Moon dan mahou shoujo lainnya yang pake tongkat...


Nice one, ditunggu lanjutannya~
*sekalian numpang kumpulin poin :p*

Writer Zoelkarnaen
Zoelkarnaen at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 7 weeks ago)
100

Lux=Luxuria? Lalu Eve jadi virtue yang mana?
.
Ini berarti karakterisasi dengan jabatanya harus sesuai, jangan sampai Ira jadi terlihat adem2 aja :3

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 7 weeks ago)

Eve itu sebenernya Humility. Saya ngelompokinnya berdasarkan sifat2 intinya~~ (courage, altruism, dll)

Writer IreneFaye
IreneFaye at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)
80

Rasanya saya kembali jadi anak 5 taun yang nonton eve di tv

Writer dansou
dansou at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)

Asiiik!!! Keren... Tapi kesannya cerita ini begitu menyilaukan dengan efek-efek cahaya di bagian awal XD. Sekian. *lagi males nyabein*

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)

Masih mending saya kasih efek cahaya daripada pose-pose 'eksotis' kan? *teringatsailormoonliveaction**plak*
Makasih dah mampir~~

Writer dansou
dansou at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)
90

Nitip poin duluuuu!!!

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)
80

untung nggak kamu kasi sound effect macam
JGEEER! BLAARR!
wkwkwk
lanjuut ^^

Writer nereid
nereid at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)
80

Mungkin penjelasannya pelan-pelan? Atau dipisah dan dijadikan berapa chapter atau pertemuan? #Plak!
.
Tapi tanpa penjelasan, apa kata dunia? #plak kuadrat!
Sama kayak Sam, saya juga mengerti
Silahkan bandingkan dan lihat kesamaannya, tentu di link Sam :3

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)
80

Bener-bener perasaan yang sama dengan ketika membaca chapter 2 AlterNate saya (penuh penjelasan dan 'Ah?Eh?Apa?')..
Saya mengerti perasaan itu, hahaha
.
Silakan bandingkan, dan lihat kesamaannya:
http://kemudian.com/node/258833

Writer Riesling
Riesling at Ange Saga: 2. Virtues and Sins (8 years 8 weeks ago)

Makanya saya bencibagian penjelasan =.=