The Tail of October

Willow mengemasi semua barangnya dalam koper besar. Semua, dalam artian, tidak meninggalkan barang sebilah sisir pun. Satu-satunya yang dia tinggalkan hanya Chestnut, anjing corgi kecil dengan bulu berwarna keemasan yang diadopsinya bersama Sidar dari penampungan Highgate empat tahun lalu. Ia sengaja meninggalkannya bersama mantan kekasihnya, entah dengan alasan apa, tapi Sidar tahu semenjak dulu Willow memang kurang telaten mengurus. Gadis itu berdiri di pintu depan, menggenggam kopernya, menunggu mobil yang menjemput dan tersenyum—bebas. Sidar tertegun karena Willow tak pernah tersenyum sebebas itu. Jadi, selama empat tahun ini, apakah dia dan Chestnut telah memerangkap Willow dalam hubungan berat sebelah? Jadi, semua tawa dan kata sayang itu, palsu?

Jadi, benarkah firasatnya, kalau penjelasan Willow mengenai ‘ini bukan karena orang lain’ adalah penghiburan kosong?

Bunyi klakson mobil yang baru tiba mengagetkan mereka. “Aku pergi dulu.” kata Willow manis. Ada sedikit rona sesal (kasihan) di mata coklatnya ketika dia menatap mata biru Sidar. Ia mengambil langkah, satu dan dua, menyongsong mobil yang menunggu di balik pagar. Sidar melihat sosok lelaki asing di kursi sopir. Willow akrab dengannya. Mereka tertawa, bunyi mesin dinyalakan kembali, tak ada lagi kata ‘sampai jumpa’. Chestnut mencakar-cakar pipa celana Sidar minta makan. Pemuda itu menggendong anjingnya, masuk ke rumah, menyiapkan piring makan untuk si corgi. Lalu ia ke kamar mandi, merendam mukanya dalam air keran, mencoba menahan nafas.

Ia menangis di bawah air keran, sementara gerimis tipis di langit Inggris mulai meraja. Guntur dan gonggongan Chestnut. Truk es krim kesorean. Tiga menit yang menyublimasi kebersamaan selama empat tahun, di bawah keran itu Sidar bersumpah tak akan melupakan cintanya pada Willow. Tak akan melupakannya. Akan selalu ada bila dia butuh, dan, semua sumpah chivalrik itu. Air dan langit mencatat sumpahnya.

Dan dia melakukannya. Mengirim surat. Tak dijawab. Mencoba menelepon. Tak sambung. Melewati rumah. Tak ada tanda kehidupan. Setengah-mati dia putus asa ingin tahu kabar mengenai orang yang dikasihinya itu, setengah-sekarat dia berdoa tiap malam semoga Tuhan melindungi Willow padahal pakai salib saja dia terbalik. Cinta. Cinta. Cinta. Ia percaya mantan kekasihnya tidak akan melupakannya.

Tapi pada suatu hari dia mengintip keluar jendela karena didengarnya suara ribut, pekik kesenangan suara perempuan yang dikenalinya sebagai suara Willow. Dan memang Willow. Gadis itu goyah, di atas kakinya yang berbalut sepatu roda, pipinya merah dan terengah karena takut jatuh. Sidar tak tahu harus memasang muka seperti apa. Sebesar rasa senangnya melihat Willow baik-baik saja, sebesar itu pula rasa cemburu merongrong nalarnya karena di tangan ramping willow, menggenggam, tangan besar seorang pria dengan tato Nazi dan berambut pirang kotor. Sejoli itu bertukar kata kasih dan tatapan sayang. Sidar membuka jendela dan Willow menyadari kehadirannya. Ia melirik, tapi juga acuh, karena si pirang kotor itu sedang mengajarinya teknik meluncur seperti walet dan mereka sibuk dan mereka saling mencintai dan keberadaan seorang mantan sama tak bergunanya dengan pot bunga anyelir Maret yang baru saja mereka sepak secara tak sengaja.

Pot anyelir Maret itu jatuh dan hancur, menjadi sampah, menjadi metafora dari perasaan Sidar. Semua jenis sumpah mendadak terasa jinak saja. Tapi masih, masih, dia mencintainya dan tidak bisa membencinya. Kembali dia duduk di sofa tunggal itu, duduk terpekur, tidak menangis dan tidak juga marah. Mati rasa. Ia merasa tertidur, dan barangkali memang tertidur, karena detik ketika dia bangun, dagunya telah terasa kasar dan bajunya terasa apak. Sampah makanan sisa di meja menjadi wahana sirkus lalat. Chestnut duduk di ambang pintu, makan salami pemberian bibi tetangga.

Sidar merasa mati suri selama beberapa hari. Dengan kesadaran baru, dan perasaan baru. Di luar hujan turun. Deras. Sidar bangun, menatap dinding yang dilapisi wallpaper pilihan Willow. Dengan tangannya dia mencakar lipitan wallpaper dan melepasinya, kasar. Lalu dia mendekati piano yang biasa dimainkannya dengan Willow, mencungkili tuts-nya satu per satu dengan tang tua, yang nantinya juga dia gunakan untuk memecahkan kaca dari semua pigura foto di dinding, yang kemudian dia gunakan untuk merusak apa saja yang bisa dirusak. Terakhir, dia kembali untuk merogoh ke dalam pot aksesoris, mengeluarkan kalung anjing. Dipakaikannya benda itu pada Chestnut. Anjing itu menggonggong riang karena kalung itu artinya mereka akan berjalan-jalan.

“Let’s get a life.” kata Sidar. Pemuda itu memakai jas hujannya, lalu, menerobos rikatnya hujan bulan Oktober.

Sidar sedang mencoba mengingat kembali dunianya ketika belum ada Willow. Gadis itu cuma selipan ilusi. Sambil menahan tali kekang Chestnut, dia berjalan melewati petak-petak kebun hortensia dan matahari yang ditanam Nyonya Elm. Sejak kapan mereka sudah tumbuh sebesar itu? Ia melewati tikungan, dan, menyadari bahwa toko sepatu Tuan Birch sudah lama pindah ke utara dan kini bangunan itu dihuni oleh tukang cukur bernama Tuan Alder. Penjaga toko roti Mrs. Reed, Apple, tersenyum manis sekali ketika ia lewat. Membuatnya mampir untuk membeli sekantung roti Yahudi, dan, pada gadis itu ia menemukan satu topik yang di luar dugaan membuat mereka nyaman bicara hingga satu jam penuh. Di antara kepul asap teh berwangi daun salam, mereka berjanji akan bertemu lagi. Dan meski perasaan itu masih belum menjadi cinta adanya, setidaknya, Chestnut mencatat bahwa Sidar sudah bisa tersenyum.

Mereka berjalan, menerabas hujan yang kini sudah menjadi rintik air tipis. Chestnut menggeram melihat bayangan dirinya di atas air hujan yang menggenang. Sidar menjaga kantung kertas berisi roti yahudinya baik-baik agar tak terkena hujan. Mereka berhenti di halte bus, tak ada alasan khusus, Sidar hanya perlu menunduk untuk membetulkan tali sepatu. Ketika dia mengangkat kepala, Chestnut telah sibuk menggonggong-gonggong. Dan di depannya, berdiri sosok perempuan bermata coklat dan berambut hitam.

“Sidar!” sapa perempuan itu riang.

“Willow.” kata Sidar parau, tercekat, separo-tak percaya, matanya hampa. Betapa tidak?

Ini Willow, tapi baginya, nampak tak sepenuhnya Willow pula. Willow yang dia kenal tidak pernah tertawa terbahak hingga dadanya yang subur nampak terguncang-guncang begitu. Malah, Willow tak pernah membiarkan dadanya nampak; dia benci pakaian pelacur. Karenanya, Sidar mencintainya. Namun hari ini dia mengenakan pakaian pelacur yang dulu dia cerca. Kausnya ketat, kemben. Roknya pendek keterlaluan. Ada sedikit harum sisa bir di ujung rambutnya dan dia melihat jemari gadis itu menggamit rokok. Bau parfumnya aneh, seperti kolonye yang dipakai nenek-nenek Jerman. Hancur hatinya melihat pujaannya berubah menjadi sesuatu yang asing.

“Apa kabarmu? Oh, aku bla blalablabla…” dan bahkan gaya bicara Willow pun berubah. Sidar tertegun. Kaku.

“….”

“Sidar? Sidaaar?”

Sidar tidak ingin memiliki hubungan dengan orang ini. Jijik. Kecewa. Siapa, orang ini...?

Bus melaju di depan mereka. Besar, dan digdaya. Mendadak saja dada Sidar panas. Hilang akal. Ia menyentak tali kekang Chestnut—yang masih asik menggonggongi biji bunga dandelion yang terbawa embun—dan menyepaknya ke tengah jalan. Bus melindasnya. Anjing itu tak sempat menggonggong; kakinya remuk, ekornya terlipat ke bokongnya, gepeng. Darah menggenang bersama air, beberapa tetes di antara terciprat ke tubuh Sidar dan Willow. Ke kantung roti Sidar. Ke ujung rokok Willow. Ke sepatu mahal Willow. Ke kancing jas hujan Sidar.

Gadis itu terlalu terpaku untuk berkata apa-apa. Bibirnya gemetar. Tapi Sidar sudah berkata, mendahului, “Tak ada ikatan lagi.” datar. “Dah.”

Pemuda itu berlalu pergi, separo-berlari, enah kenapa perasaannya lega, lega sekali. Dan hujan berhenti turun. orang meributkan bangkai corgi. Willow masih terpaku. Matahari bersinar seolah bayi yang tersenyum. Ia melepas jas hujannya, membuangnya ke tempat sampah, karena, baru ingat, benda itu, dulu juga dipilihkan oleh Willow.

Tak ada. Tak ada lagi.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer cat
cat at The Tail of October (7 years 44 weeks ago)
70

Entah mengapa saya merasa kasihan dengan si anjingnya.

:‎​​(˘_˘)ck! (˘_˘)ck! (˘_˘)ck !

Writer duniamimpigie
duniamimpigie at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)
80

Eeemm... gaya terjemahan yang sungguh, cantik :)
Saya menikmati narasi yang kaubuat dan tenggelam di dalamna.

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)

M-makasih banyak :"]

Writer dansou
dansou at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)
80

Uoooh... saya suka deskripsinya, tapi agak terasa keju di beberapa bagian :(. Tapi saya suka cerita ini ^^
.
Tetep semangat :D

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)

Semangat, Ka Dansou, makasih :"D Mau gak mau emang cheezy soalnya... sifat si laki gitu oTL <-- yang nulis aja gatel sebenere

Writer H.Lind
H.Lind at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)
90

Ehmm, tema ceritanya umum, tentang hubungan dua orang yang pernah mencintai. Menjadi unik ketika kamu menceritakan ikatan ini dengan menitikberatkan pada seekor anjing. Selain karena kedekatan anjing dengan manusia, saya juga suka ketika hubungan itu diputuskan di bagian endingnya. Dan rasanya emang jarang sih tema begini pakai sudut pandang orang ketiga.
.
Deskripsimu juga kaya, kurasa. Mengenai bunga yang tumbuh di Inggris, dll, terjelaskan cukup mendetail.
.
Erm, rasanya itu aja. Keep writing. :)

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)

... :"] Nice critic as always. Thanks, H.Lind! Can't wait for your next project too.

Writer kemalbarca
kemalbarca at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)
60

sebenarnya aku sempat bingung baca awalnya karna ga tau yang cewe itu Sidar atau Willow
ceritanya sebenarnya bagus, tapi beberapa ungkapan aku gak ngerti kayak "Semua jenis sumpah mendadak terasa jinak saja", tapi emang aku gak berapa ngerti ungkapan bagus sih, huhuhuhu
tapi ceritanya berujung menyedihkan banget, sampe2 anjingnya kelindes bus, ya ampun, ngeri bgt

Writer sastrasempoa
sastrasempoa at The Tail of October (7 years 48 weeks ago)

eaaaa miss di sana ya :-? thanks banget udah baca dan udah merhatiin bagian itu. Haha, iya, saya angst-junkie nih belakangan =)) sebenernya ini cuma iseng sih awalnya, abis baca katalog soal pohon dan personaliti. Di sana, sidar itu male-childish dan willow itu female-egoist, so yeah... =)) Makasih banget ya.