Seika Gakuen ni Monogatari Part 2

Hawa pun menjadi hangat kembali.

Tetapi Keiichi dan Fumi masih diam. Masih menatap tempat si gadis berdiri tadi. Darah yang harusnya berceceran di lantai, menghilang. Kini, hanya kesunyian yang tinggal.

“Fumi...” ujar Keiichi.

“Ya...”

“Kita harus membaca arsip ini...”

“Ya...”

“Tapi tidak hari ini...” lanjut Keiichi.

Fumi memandang wajah Keiichi dengan kaku. “Hm?”

“Sudah malam. Sebaiknya kita pulang. Besok pagi, kita kembali menyelidikinya. Hari... sudah malam..”

Fumi tersentak. “Ah! Iya!”

Fumi kemudian berdiri. Arsip yang berada di tangan kanannya, ia pandangi sebentar, lalu ia meletakkan kembali di tempatnya semula. 

 

~”~”~

 

Jam setengah belas malam.

Fumi dan Keiichi sudah keluar dari sekolah mereka. Lampu-lampu sekolah tersebut sudah mereka matikan. Pintu-pintu sudah dikunci lagi seperti semula. Seakan-akan, tak pernah ada yang terjadi malam itu. Malam yang luar biasa.

“Fumi. Kau masih mau melanjutkan ini?” tanya Keiichi kepada gadis yang sekarang tengah mengenakan jaket dua lapis itu.

“Tentu saja. Aku sudah bertekad, bukan? Walaupun sedikit takut dan kaget, tapi aku akan berjuang!” Fumi mengepalkan tangannya ke depan sambil tersenyum.

“Haaa!! Kau ini berbeda sekali dengan tadi. Tadi kau itu terlihat seperti domba yang ketakutan!”

“Biar aja! Kau juga begitu, kan?”

“Setidaknya tidak seperti kau. Hahaa!!” Keiichi tertawa menggoda. “Aku bahkan harus menepuk-nepuk kepalamu agar kau tenang, kan? Aku jadi seperti menepuk-nepuk kepala anak SD.”

“Iya iya! Aku tau kalo aku pendek dan kamu tinggi. Terus?”

Keiichi tak membalas perkataan Fumika. Ia hanya menatap Fumika lama sambil berjalan. Yang ditatapi malah memalingkan muka. Risih.

“Huh. Kukira kau bakal ketakutan.” Keiichi mengacak-ngacak rambut Fumika. Tapi karena Keiichi berjalan di belakang dan Fumika berjalan di depan, Keiichi sama sekali tak bisa melihat ekspresi gadis itu.

“Tapi, kenapa kau sangat berniat membantu cewek itu? Dia kan, nggak menghantuimu?” tanya Keiichi. Habis, Fumika baru saja mendengar cerita tersebut siang tadi, ia bahkan nggak dituntut untuk mencari cowok tersebut. Tetapi mereka sudah mencari-cari arsip tentang si cowok teman masa kecil si gadis arwah.

“*HI-MI-TSU!”

(*RA-HA-SI-A!)

“Hah?”

Fumika hanya tersenyum.

“Eh, iya. Menurutmu, cewek itu berdarah-darah kenapa, ya?” tanya Fumika.

“Kau sudah lupa ceritanya? Bukankah ia terjatuh karena getaran lonceng itu? Lonceng itu, kan, ada di lantai tiga? Pikir saja apa yang terjadi jika tubuhmu terjatuh dari lantai tiga.” ujar Keiichi santai.

“Wah, kamu santai sekali... Eh, tunggu... kalau ia terjatuh dari lantai tiga... bagaimana bisa kepalanya masih utuh? Yah, aku tau. Kepalanya berdarah-berdarah. Tapi, kalau dari lantai tiga... rasanya bisa terjadi sesuatu yang lebih, deh.”

“Kau berharap otaknya keluar, begitu?”

“Ihh!! Keiichi!! *Chigau! Hanya saja.... rasanya aneh..”

(*Bukan begitu!)

“Mungkin dibawahnya ada bantal.. atau mobil... atau ada orang yang menangkapnya..” kata Keiichi asal.

“Kamu ini aneh sekalii, Keiichi. Mana mungkin! Kalau begitu kenapa dia mati?”

“Yah, terserahlah. Ngomong-ngomong, gimana jika cowok-temannya-si-cewek-arwah ini sudah meninggal?”

“Rasanya nggak mungkin. Kalau udah meninggal, pasti cewek itu nggak akan gentayangan lagi. Tapi.. kalau misalkan udah meninggal, kita ke kuburannya aja!”

“Kau ini...” Keiichi tersenyum.

 

~”~”~

 

Pagi pun tiba. Hagiwara Fumika berangkat pagi-pagi sekali. Jam setengah tujuh pagi, ia sudah berdiri manis di depan pagarnya. Sementara itu, Amakusa Keiichi tinggal menyebrang saja untuk sampai ke rumah Fumika.

Hmm, mereka berangkat pagi-pagi untuk apa? Haa.. tentu saja untuk menyelidiki si cowok-teman-masa-kecil-si-arwah-cewek.

“Keiichi *ohayou!”

(*Pagi!)          

“Ohayou. Ayo kita berangkat.”

“Ya.”

Selama perjalanan, mereka terdiam. Sibuk dipikiran masing-masing.

“Kau... tidak mengalami yang aneh-aneh, kan? Misalnya mimpi bertemu cewek itu...” tanya Keiichi tiba-tiba.

Fumika tersentak. “Eh? Ah, tidak. Kamu?”

“Aku juga tidak.”

 

~”~”~

Sekolah masih sepi. Sangat sepi. Hanya segelintir anak yang ada di sekolah itu. Cuaca yang tadi cerah, mendadak saja menjadi mendung. Angin pun bertiup sedikit kencang. Bunyi gemerisik pohon sakura yang mengelilingi Seika Gakuen, terdengar.

Fumika dan Keiichi baru saja berniat memasuki pintu utama, tetapi pandangan mata mereka berhenti ke arah atap, ke arah lonceng tersebut.

“Fumi, di samping lonceng ada orang.” Keiichi memberitahukan.

“Ya. Aku melihatnya.”

“Apa dia cewek itu? Aku nggak bisa melihatnya dengan jelas.” ujar Keiichi. Matanya memang sedikit minus.

“Nggak tau. Ayo kita periksa.” ujar Fumika kepada Keiichi, disertai anggukan kepala dari cowok itu.

Mereka berjalan ke dalam sekolah. Betul sekali. Koridor terasa sepi. Hanya sedikit anak-anak yang ada di koridor. Koridor tersebut juga terasa dingin, tidak seperti malam kemarin yang hawanya terasa hangat.

Keiichi dan Fumika berjalan naik dari lantai satu. Mereka melewati perpustakaan dan kelas yang tampaknya kosong. Mereka berjalan naik lagi ke lantai tiga, dan akhirnya menaiki lantai kecil yang akan membawa mereka ke atap.

Atap tersebut berbentuk persegi panjang. Di sekelilingnya, tidak diberi pagar sama sekali, tetapi dipasang sekat setinggi lutut. Dan di tengah ujung atap tersebut, ada empat tiang luas dan tinggi yang memiliki atap, dan di tengahnya ada sebuah lonceng berwarna kuning memudar yang tampak berkarat, serta... seseorang.

“*Takamiya-sensei?”

(* : Pak Takamiya? Sensei sendiri artinya guru)

 

Sesorang tersebut membalikkan badannya. Ia tampak sedikit kaget dengan kehadiran dua orang murid di hadapannya.

Dia adalah guru Bahasa Jepang mereka, Takamiya Shingo.

“Sensei sedang apa di sini? Kami tadi melihat seseorang di atap, jadi kami ingin memeriksanya.” ujar Keiichi dengan tenang.

“Ah. Kemarin... aku mendengar lonceng ini berbunyi.”

“Eh? Kami juga mendengarnya.” kali ini Fumika yang berbicara.

“Kalian juga mendengarnya?”

“Iya. Kebetulan kemarin kami ada di Taman Tomoyo.”

“Hm. Aneh sekali, ya? Padahal sudah sepuluh tahun lonceng ini tak berbunyi...”  Takamiya diam. “Baiklah. Kalian, jangan pergi ke luar rumah larut malam lagi, ya? Pastikan itu.” ucapnya.

“Eh? Larut malam? Memang jam berapa sensei mendengar lonceng itu berbunyi?” tanya Fumika penasaran.

“Jam dua belas.”

 

~”~”~

 

“Jam dua belas? Bagaimana bisa?” tanya Fumika kepada Keiichi setelah mereka turun dari atap.

“Entahlah. Padahal kita mendengarnya sekitar jam setengah sembilan...”

“”Tapi Takamiya-sensei mendengarnya jam dua belas malam. Itu juga hanya sekali. Tapi kita yang rumahnya di dekat sekolah... tak mendengar apapun pada jam segitu.”

Keiichi mengangkat bahu. “Yang penting, sebaiknya sekarang kita ke perpustakaan.”

“Iya.”

Keiichi dan Fumika berjalan turun ke lantai dua. Kini, beberapa anak sudah tampak berdatangan. Hawanya pun sudah menjadi hangat.

Mereka memasuki perpustakaan..

Suasana di perpustakaan tampak sama seperti kemarin. Bedanya, kini perpustakaan tersebut tampak lebih terang daripada kemarin.

“Ah, Amakusa-san, ohayou gozaimasu. Eto...” ucap seorang wanita tersebut berusaha mengingat-ngingat. “Ah! Hagiwara-san, ohayou gozaimasu. Kalian datang pagi-pagi sekali hari ini.” ucap si wanita yang ternyata guru sejarah mereka.

“Ohayou gozaimasu, sensei. Ya, ada yang ingin kami cari sekarang. Sensei juga datang pagi?”

“Ya! Kebetulan ada yang ingin aku ingin cari juga. Tapi sudah ketemu, kok. Jaa, *dozo.”

(*Silahkan)

“Arigatou sensei!” ucap Fumika dan Keiichi berbarengan.

Setelah itu, mereka berjalan ke arah rak nomor tiga.

 

~”~”~

 

“Nee, Fumi...” suara Keiichi memecahkan keseriusan Fumi.

“Ada apa?” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari arsip di depannya.

“Apa kau nggak sadar, kita nggak tau nama cowok itu? Cewek itu aja kita nggak tau?”

Pertanyaan itu membuat Fumika membeku. “Eh? Ya-yang penting, kan... Aahh! Kamu ini mengganggu aja! Ki-kita pasti bisa menemukannya, kok!”

“Ya ampun.. kau ini! Apa kita perlu memanggilnya, hah?”

GLEEDARR!!!

Suara petir di luar membuat jendela di perpustakaan bergetar. Di luar, gerimis mulai turun dan di dalam...

Mati lampu.

“Keiichi! Kamu memanggilnya!” teriak Fumika kepada Keiichi di dalam kegelapan.

“Ya. Sepertinya begitu. Tetapi, dimana dia sekarang?”

Tepat saat itu juga, sebuah kilat besar menyambar ke arah luar jendela. Membuat ruang perpustakaan menjadi terang dalam sedetik. Membuat semuanya terlihat...

Gadis itu...

Lalu cahaya petir tersebut habis dan menjadi gelaplah ruang perpustakaan lagi. Tetapi kini ada yang terlihat.

Terlihat sepasang mata merah bagaikan warna darah yang menyala di tengah kegelapan. Rambutnya, wajahnya, dan badannya memang tak terlihat, tetapi darah yang mengalir di tempat-tempat tersebut menjadi sumber cahayanya, sehingga yang terlihat hanyalah darah yang menyala yang menyerupai sosok seorang perempuan.

Keiichi dan Fumika terdiam. Pertama karena mereka kaget dan yang kedua karena mereka tak mengetahui letak masing-masing. Yang terlihat hanyalah kegelapan beserta darah yang menyala itu.

Lalu tiba-tiba, darah yang ada di ujung jari tersebut berbentuk menjadi huruf Katakana.

Hirofumi Sakura

Lalu darah yang berbentuk tulisan tersebut menghilang. Lalu, tiba-tiba mata yang berwarna merah menyala itu membuka besar, lalu menutup tiba-tiba. Dan kemudian darah-darah yang menyala di sekeliling tubuh gadis itu menghilang, membuat seluruh ruang perpustakaan menjadi gelap pekat. Dan tiba-tiba, dalam sedetik, seluruhnya menjadi semula.

Lampu-lampu menyala serentak. Petir dan gerimis itu telah menghilang, diganti menjadi sinar matahari yang terik dan menyilaukan mata. Bahkan bekas rintikannya pun tak ada. Suasana mendadak kembali seperti semula.

Seperti tak ada yang terjadi...

Kini yang tampak hanya seorang laki-laki dan perempuan yang terdiam mematung dengan mata dipelototkan dan keringat dingin yang mengalir.

Fumika dan Keiichiro tampak kaget.

“Fumika... Di hari pertama kita kelas dua SMA, kita malah membantu ‘seorang’ arwah...”

“Ya.. dan di hari keduanya... lagi-lagi kita melihat penampakan yang luar biasa...”

“Hirofumi Sakura... Nice name.” ujar Keiichi.

Sekarang, kedua orang tersebut diam. Tak melakukan apapun. Lalu kemudian, Fumika mengerjapkan mata dua kali, lalu sibuk membuka halaman arsip.

“Heee.... kau sudah kembali normal, ya?” tanya Keiichi.

“Tentu saja. Kalau kita berdua hanya mematung dan tak melakukan apa-apa, percuma saja kan Hirofumi-san menampakan dirinya kepada kita?”

“Huh. Kalau begitu, cepat cari! Sekarang sudah jam delapan!” Keiichi mengacak-acak rambut Fumi.

“Sabar sabar! Sebentar lagi... AH! Ini dia!” 

Keiichi segera merapatkan tubuhnya kepada Fumi. Ia segera membacanya.

Nama              : Hirofumi Sakura

TTL                 : 5 April 1984

Alamat             : Kamp. Gochizoka...

 

“Gochizoka? Bukankah wilayah itu sudah dibangun hotel?” kata Fumika tiba-tiba.

“Baca sajalah!”

Mereka terus memb~aca. Menelusuri setiap informasi di arsip tersebut. Tapi...

“Fumi, arsip ini tidak membantu kita apa-apa!”

“Yah, itu benar...”

“Coba kucari yang lain!” Keiichi mengambil arsip tersebut. Kini ia sibuk membolak-balikkan halaman. Lalu tangannya berhenti membalik...

“Fumi..”

“Apa?”

“Ini...” Ketika Keiichi menunjuk nama yang ada di arsip tersebut, bel berbunyi.

 

~”~”~

 

Selama jam pelajaran berlangsung, Hagiwara Fumika dan Amakusa Keiichi tidak tenang. Batin mereka gelisah ingin cepat-cepat keluar dari kelas tersebut. Ketika istirahat pun, mereka sibuk mencari-cari sosok seseorang, walaupun pada akhirya, mereka tak menemukannya. Sementara itu juga, mereka menanyakan kepada yang lain, mengenai lonceng yang berbunyi kemarin malam.

Tak ada.

Tak ada yang mendengar.

Sama sekali...

“Berarti... benar, ya.” tegas Fumika.

“Ya, benar. Berarti benar. Takamiya-sensei lah cowok itu.”

 

~”~”~

 

Bel elektronik itu berbunyi, bukannya lonceng besar yang kemarin sudah berbunyi “tiga kali”. Keiichi dan Fumika bergegas kembali mencari sosok Takamiya Shingo di sekolahHari sudah menjelang malam, maupun di sekolah, sampai ke rumahnya segala.

Keiichi berkata. “Kosong. Istrinya bilang Takamiya-sensei belum pulang...”

“Dari sekolah... Dan kita sudah mencarinya di sekolah hampir satu jam! Sekarang pun sekolah pasti sudah kosong!” lanjut Fumika. “Apa kita harus mencarinya lagi? Di sekolah?”

“Sudahlah Fumi! Mencarinya lagi pun nggak akan ketemu! Kita lanjutkan saja besok, kecuali kalau...” suara Keiichi berhenti. Telinganya berusaha mendengar suara samar-samar itu.

Teeeng...Teeeeng...Teeeng..

“Kau mendengarnya Fumi?”

“Ya. Aku mendengarnya.”

 

~”~”~

To be Continue to The Last Chapter

 

Read previous post:  
67
points
(4500 words) posted by Gitta-chan 7 years 48 weeks ago
74.4444
Tags: Cerita | Cerita Pendek | horor | horror | misteri | romance | school life
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer Luca
Luca at Seika Gakuen ni Monogatari Part 2 (6 years 50 weeks ago)
80

wah keren nii ...
lanjutannya kapan ?

maav ya baru comment, baru baca soalnya ..

Writer m.rifqi
m.rifqi at Seika Gakuen ni Monogatari Part 2 (7 years 42 weeks ago)
80

wah! seru banget ceritanya!
Ditunggu lanjutannya.

Keep writing!

Writer SR_2127
SR_2127 at Seika Gakuen ni Monogatari Part 2 (7 years 43 weeks ago)
80

Penasaran nih... Ditunggu lanjutannya!

Writer mikan
mikan at Seika Gakuen ni Monogatari Part 2 (7 years 46 weeks ago)
70

Kak, menurut Mikan cerita ini terlalu banyak dialog percuma. dan minim banget deskripsi dan Narasi. tapi ceritanya seru lho. semoga cepet selesa ya.

gantian kmentari cerita Mikan ya :)