Seseorang yang kusebut umi

Seseorang yang kusebut Umi

 

Judul                     : seseorang yang kupanggil umi

Genre                    : apa ya? Saya juga bingung. Hehe tentuin sendiri deh XD

Rating                   : T , K+

Author                 : Fitria evadeni

.

.

.

Gerimis kecil mengundang gundah di hati. Bukan hari yang buruk memang, hanya seperti hari-hari biasanya. Suara rintik air mencium bumi, bau tanah basah, angin semilir yang kadang-kadang membawa rintik air bersamanya. Suara katak yang bahkan terdengar merdu disuasana seperti ini.

Seorang gadis sedikit menggigil di keranda rumah biliknya. Rambut hitamnya teruntai agak berantakan. Terlihat beberapa kali gadis itu mengembuskan CO2 dari alveolus paru-parunya. Entah apa yang membuatnya tetap termangu dalam dingin dan dinginnya hari ini.

“laras, masuk nak. Nasinya udah matang ini. Ayo makan” terdengar suara lirih dari dalam rumah beralaskan tanah kemerahan yang basah oleh sang hujan. Suara itu cukup membuat sang gadis segera bergegas dengan senyum lebar tersungging dari wajah kumalnya.

“umi.. telurnya buat apri ya” kata seorang bocah laki-laki kecil sambil berkali-kali mencoba menahan air liurnya untuk tidak keluar.

“haah.. bagi-bagi sama kak laras itu. Kemarin malam kan kamu udah makan ikan sendirian” jawab seorang perempuan yang sudah mulai renta. Rok panjang yang ia kenakan banyak sekali tambal-tambalan dari kain yang berbeda. Kain panjang yang sudah sangat kumal tetap melekat di tubuh kurusnya walaupun agak kendor. Rambut hitam tergelung berantakan yang rupanya selaras dengan wajahnya yang mulai menua, namun raut perjuangan tetap tak pernah pudar

“laras gak mau kok. Yaudah setengah buat apri yang setengah lagi buat umi ya” kata gadis itu mencoba mengalihkan pandangannya dari satu telur dadar yang terhidang di karpet.

Gerimis perlahan berubah menjadi hujan deras. Bocah laki-laki yang berumur 4 tahun itu rupanya sulit mengalah. Isak tangisnya kadang masih sering terdengar. Maklum, dia sangat ingin menumpas habis telur dadar yang bahkan bisa dibilang agak gosong tersebut. Bukan hanya apri yang menangis, wanita renta tersebut juga tak berhenti menitikkan air mata dari selahan kunyahannya. Hanya laras yang bersikeras. Keputusan finalnya adalah apri mendapat sebagian telur. Laras dan umi mendapat 1/4.

Apri tertidur pulas di karpet coklat kumal yang digelar panjang menyamping.  Terdengar desah nafas teratur dari laras. Tak salah lagi dia sedang bermimpi indah. Rumah mereka tak besar hanya berukuran 3x4 meter plus sepetak tanah untuk kamar mandi terpisah dari rumah. Bilik dan isinya  yang berdiri tak kokoh di tanah ini adalah satu-satunya milik mereka. Umi bekerja sebagai tukang cuci keliling. Paling seminggu hanya mendapat uang tak lebih dari 40.000, apri belum bersekolah sedangkan laras sedang menduduki bangku kelas 2 SMU, bertahun-tahun dia sekolah umi tidak mengeluarkan biaya sepeserpun. Karena ia selalu mendapat beasiswa tak mampu.

Di rumah ini hanya terdapat 2 tikar panjang, I ranjang yang terbuat dari bamboo,2 meja kayu lapuk yang dijadikan tumpuan beberapa piring,gelas , sendok dan perkakas dapur lain. Biasanya umi memasak menggunakan kompor bata yang disusunnya.sebuah radio tua di pojok ranjang Dan beberapa kursi plastic yang beralihkan fungsi. Menjadi tempat buku-buku laras, tempat baju dan yang lainnya.

Dengan penghasilan kurang dari 40.000 seminggu. Umi memusatkannya untuk membeli beras yang paling murah di pasar. Jangankan lauk telur seperti tadi. Lauk tempe saja sudah termasuk mewah. Biasanya dalam karpet coklat itu hanya terhidang nasi,sambal,garam dan karak1 itu juga hasil pemberian dari tetannga sekitar. Ya seperti tadi siang, salah satu tetangga memberikan 3 butir telur, 1 kilo gula, 1 Pak the tubruk dan 4 kilo beras. Sangat lumayan untuk cadangan makanan seminggu kedepan.

Terlihat sosok umi tergopoh-gopoh memegang sapu lidi dan mencicingkan roknya hingga selutut. Ternyata air hujan sudah mulai memasuki rumah mereka. Tak ayal hal itu membuat umi kalang kabut. Hamper semalaman ia terjaga menghalau air yang masuk dari bawah bilik. Tak jarang terdengar desah nafas lelah dari wanita renta itu, namun ia akan kembali tersenyum saat melihat apri dan laras tertidur pulas. Yaa memang begitukan seorang ibu. Dia rela bersusah payah asalkan anaknya bahagia.

-o-

Mentari menyingsing, kabut tebal rupanya telah menyelimuti desa asri itu. Terlihat para petani yang sudah sangat gigih merunduk-runduk memeriksa tanaman padi mereka. Sepeda ontel tua hilir mudik membawa karung-karung yang entah apa isinya. Tak kalah sekumpulan anak kecil berlari-larian sambil memainkan tas mereka. Seragam putih merah yang mereka kenakan warnanya sudah mulai memudar, namun siapa yang peduli? Mereka terus berlari-lari menuju satu-satunya sekolah Dasar di kampong ini.

“umi, laras berangkat ya” kata seorang gadis berkerudung putih tua,yang sudah kentara sudah lama barang itu dibeli. Baju putihnya pun  tak lagi bisa dibilang putih. Dengan tas merah yang sudah sobek sana-sini, rok abu-abu yang mulai mengatung karena pertumbuhan tulang si gadis bisa dibilang cepat. Hanya sepasang sepatu NB yang digunakannya lah yang masih dalam tahap layak pakai.

“iya, belajar yang bener.. jangan lupa nanti pulang sekolah jual kertas-kertas bekas ini ke kota, umi mau ke bu lastri disuruh nyuci baju” jawab wanita renta yang tersenyum riang pagi ini.

“iya umi, assalamualaikum” kata laras setelah mencium tangan uminya dan segera bergegas pergi.

Suasana ramai Nampak di salah satu bangunan tua bercat biru putih. Tidak tingkat memang namun cukup luas. Terlihat para murid berok abu-abu hilir mudik membawa sapu,  lap ataupun hanya berbincang-bincang. Ya ini adalah hari terakhir sekolah setelah ujian akhir selesai diselenggarakan. Sudah menjadi tradisi disini bahwa murid-murid haru bekerja bakti membersihkan sekolah menjelang libur panjang.

“ras..uhuk..uhuk.. tadi kamu dicariin pak tedjo lho uhuk..uhuk..” kata seorang laki-laki sebaya laras sambil terbatuk-batuk karena debu yang ia bersihkan dari balkon-balkon kelas.

“pak tedjo? Ngapain?” jawab laras menghentikan kegiatan menyapunya

“katanya dia minta tolong kamu buat ngebersihin kandang ayam sama kambingnya. Nanti dikasih imbalan katanya” jawab laki-laki itu sambil tersenyum lebar memperlihatkan barisan gigi yang putih dan rapi. Maklum dia anak kedua dari satu-satunya dokter disini. Jarang yang menyebutnya dokter, disini dia lebih akrab disapa pak mantra.

“wahh, ayo kapan?” kata laras agak kencang setelah mendengar berita gembira tersebut

“pulang sekolah, ehh aku ikut yaa” kata laki-laki tersebut sambil menampliklan ekspresi memohon

“ahh gak ah, ini rejekiku tau” jawab laras berpura-pura ketus

“ahh ayolah, uangnya semua buat kamu, aku..umm” katanya sambil turun dari meja kayu dan berpikir “aha.. aku cukup kamu beliin es lilin di bu ijah, yayaya cumin 300 ini satu, yayayaya” kata laki-laki itu tak menyerah.

“yaudah deh, tapi jangan pulang sekolah ya, aku disuruh umi ke kota jual kertas-kertas bekas” kata laras sedikit menjauh ketika laki-laki itu tepat di depannya.

“oke.. lagian nanti kau mau main bola sama anak-anak.. laras baik deh, haha” ucapnya saat ingin berlalu pergi “apaan ni? Ahh udah gak ada” lanjutnya setelah membersihkan sawang yang menempel di atas jilbab laras dan segera berlari pergi.

Terdengar hembusan nafas lega laras. Tergambar semburat merah di wajah kuning langsatnya. Entah apa yang terjadi tapi jantungnya berdegup lebih kencang ketika dekat dengan seorang laki-laki teman sedari kecilnya, Yohannes Bara.

-o-

Mentari siang ini sangat menyengat, namun hal itu tidak memuat gadis berjilbab putih tersebut lelah mengayuh sepeda ontel hasil pemberian dari pakdhe jauhnya. Peluh menetes ke pipinya, berkali-kali ia menghapus peluh itu dengan tangan kotornya. Jalanan kali ini macet seperti biasanya, namun si gadis tetap tersenyum sambil membayangkan uang 10.000 di kanung bajunya sekarang. Kerja kerasnya mengayuh sepeda tua ini ke kota memang membuahkan hasil. Kertas-kertas yang tak dipakai ternyata bisa dijual. Belum lagi sore ini dia akan kembali mendapatkan uang dari membantu pak tedjo membersihkan kandangnya. Sungguh hari yang melelahkan tapi tetap saja laras sudah tak sabar untuk segera menuju kamoungnya bekerja sekeras apapun asal bisa membantu umi dia sanggup menjalaninya.

Laras memutuskan untuk istirahat sejenak. Mengayuh sepeda sepanjang 7 km, dan 14 km bolak balik bukanlah hal yang mudah untuk gadis kurus sepertinya. Berkali-kali ia mencoba menelan air liurnya saat ia melihat Pop Ice yang diblender tepat 2 meter darinya. Betapa keinginanya sangat kuat untuk membelinya, namun saat dia berpikir ulang. Uang 2.500 dari pada untuk membeli pop ice lebih baik digunakan untuk membeli lauk untuk apri dan umi.

“huh.. capek, maaf mbak boleh duduk kan?” kata seorang gadis berkulit putih bersih, berambut ikal sebahu terurai. Setelah menempatkan posisi motornya ia duduk disamping laras sambil meminum salah satu pop ice yang tadi ia pesan.

“ohh iya silahkan,” jawab laras santun sambil tersenyum

“masih jauhgak ya” kata gadis putih itu berkata pada dirinya sendiri

“mang mau kemana mbak?” Tanya laras sedikit penasaran, hitung-hitung berbasa-basi

“oh, mau kerumah paman di desa bagong. Masih jauh gak ya?” jawabnya sambil menunjukkan ekspresi lelah

“desa bagong? Ohh saya juga dari desa bagong. Gak kok mbak paling sekitar 3 km lagi, emang paman mbak siapa? Mungkin saya kenal” kata laras tersenyum manis

“oh ya? Namnya pak bambang. Ohh yaudah bareng ya mbak” katanya riang sambil tertawa senang. Dia memiliki 1 lesung pipi di pipi sebelah kanan.. ohh gadis yang sangat cantik “oya tunggu sebentar ya” kata gadis itu sambil berlalu ke salah satu warung.

“nih mbak. Itung-itung ucapan terima kasih. Hehe walaupun gak sepadan” kata gadis putih itu sambil memberikan plastic pop ice rasa permen karet pada laras

“hah? Gak usah mbak, saya udah minum tadi” jawab laras malu-malu

“yahh udah minum ya, tapi udah terlanjur dibeli. Gapap ya mbak, mubazir kan kalau dibuang” jawabnya berkelit

“oh iya, makasih ya mbak” kata laras sambil menegguk pop ice yang sedari tadi ia idamkan.

Mentari masih terus saja bersinar terik tanpa henti. Menghantarkan kedua gadi yang mengendarai motor dan sepeda ontel tua. Saat memasuki arela jalanan kampong, kedua gadis itu bernafas lega, karena suasana disini tidak terlalu panas, sebab masih banyak pohon-pohon rindang di sekirat jalanan kecil itu.

“iya ini rumahnya. Aduh makasih banget ya mbak” ucap gadis putih tadi setelah memasuki pekarangan pamannya.

“iya sama-sama, harsnya saya yang bilang terima kasih buat pop icenya tadi” jawab laras sambil tersenyum.

“ahh bisa aja, oya nama mbak siapa? Saya Ayu, Ayu Dewita Putri” katanya sambil menjulurkan tangan kananya

“saya laras. FatimahLarasati” jawab laras sambil meyambut uluran tangan ayu.

Tak terasa hari sudah menjelang malam. Laras mengayuh sepedanya sekuat tenaga karena sudah hampir tiba waktu maghrib. Plastic hitam yang berisi sebungkus sayur lodeh dan tempe itu bergoyang-goyang di keranjang sepeda tua ketika si besi beradu dengan batu-batu dijalanan.

“assalamualaikum, umi laras pulang” ucap laras ketika memasuki rumah yang hanya berpenerangan 1 lampu Teflon atau lampu minyak

“walaikumsalam, emang banyak kerjaannya ras, naympe pulang jam segini?” Tanya umi masih berkutat di depan baju-baju yang berserakan.

“lumayan lah umi, unungnya besok uah libur, jadi bisa istirahat malam ini” jawabnya setelah meletakkan plastic hitam itu di meja

“apa ini laras?” Tanya umi lagi, tapi kali ini ia sudah turun dari ranjang dan menuju ke meja untuk membuka plastic hitam itu.

“itu sayur sama tempe, lumayan buat lauk 2 hari ini. Biar apri bisa makan enak” jawab laras tersenyum seraya mengambil handuk hijau yang tersampir di bangku. “oya umi, ini uang 20.000, jual kertasnya 10.000, trus dikasih pak tedjo 18.000, yang 8 ribu laras beliin itu” kata laras menyerahkan 2 lembar uang sepuluh ribuan

“Alhamdulillah. Yaudah cepet sana mandi, abis itu sholat umi mau masak dulu kalo gitu”

Malam ini hanya gerimis kecil, entah sedang musim apa kali ini. Terhidang makanan yang enak di karpet kumal itu, terlihat apri dengan sangat antusia melahap sesuap demi sesuap nasi yang ia jejalkan ke mulutnya. Laras hanya tersenyum senang bisa membuat adik satu-satunya itu sedikit senang.

Tok..tok..tok      “assalamualaikum… larass” terdengar suara pintu diketuk. Mendengar namanya dipanggil laras segera memakai kerudung langsungan hitam yang tersampir di kursi dan membuka pintu.

“walaikumsalam, bara? Kenapa?” Tanya laras agak kaget melihat bara dating kerumahnya, terlebih lagi.. akhir-akhir ini jika ia bertemu dengan sarah dia selalu mengucapkan salam.

“kamu lupa ya? Kan hari ini ada rapat taruna” jawab bara santai. Dia mengenakan celana panjang santai dan baju berwarna biru langit. Nampak serasi dengan kulit putihnya.

“oya.. tunggu bentar ya, ayo masuk” kata laras sambil menepuk dahinya dan mempersilahkan bara masuk.

Gerimis telah berhenti rupanya. Terlihat beberapa anak muda bergerombol serta bercanda di teras masjid. Ketika laras dan bara tiba ternyata disana juga ada ayu. Rupanya bara sudah lama mengenal ayu. Mereka terlihat sangat akrab.

“bara, temenin gue ya besok. Kaya biasa” kata ayu sambil sedikit menyenggol lengan bara “laras juga ikut ya” lanjutnya sambil mengengok ke arah laras.

“hah? iya” jawab laras polos.

-o-

Ayam-ayam berkokok bersahutan. Mentari dengan setianyakembali menyinari bumi ini.  Seperti biasa terlihat petani-petani sudah mulai bekerja. Speda berlalu lalang, tawa ceria anak-anak tak lupa terdengar. Hari ini adalah hari pertama liburan sekolah, jika biasanya anak-anak serta para remaja sudah berdandan rapi untuk menuntut ilmu, kini terlihat anak-anak bermain riang, sedangkan remaja perempuan terlihat sedang melaksanakan kewajiban rutin mereka, membantu orang tua.

Tak terkecuali laras, hari ini umi mendapat panggilan menyuci. Namun laras dengan sigap ingin menggantikan umi, dan membiarkan umi beristirahat.

“umi, laras berangkat ya.. apri.. bantu umi tuh, jangan man melulu” kata laras setelah mencium umi dan memergoki adiknya sedang bermain kelereng

“iya hati-hati. Udahlah biarin dulu ras, adikmu itu kan jarang bermain” jawab umi sambil menyunggingkan senyum di wajah rentanya.

Menelusuri jalan setapak yang rindang. Melewati sungai yang bersih. Terdengar beberapa bunyi lonceng sepeda tua yang dengan gagahnya terus melaju, jarak bukanlah suatu halangan. Sampailah di sebuah rumah megah seukurang orang disitu, memiliki pekarangan luas yang diisi berbagai tannamn indah dan beberapa burung cantik. Rumah ini berbentuk L yang besar.

 

 


rumah itu adalah rumah pak bambang, rumah paling megah disini. Gerbang besinya berwarna hitam. Disebelah kiri dibatasi oleh tembok yang tidak terlalu tinggi berwarna putih. Saat memasuki halaman yang beralaskan rumput jepang selain banyak terdapat tanaman, disitu juga ada 1 kolam ikan dengan pancuran kecil. Dan beberapa batu berukuran agak besar mngelilinginya.

Seorang gadis desa berjilbab biru muda itu tak henti-hentinya kagum pada satu-satunyarumah megah yang pernah dia tau. Kedua bola matanya seakan tak ingin berhenti memandang arisitektur dan desain penataan rumah itu. Benar-benar menakjubkan itulah yang sedari tadi terucap berulang ulang ari bibir kecilnya.

Terrcium sesuartu yang menusuk indra penciuman gadis itu. Wangi daging dipanggang, tak kuasa berkali-kali ia menelan air liurnya. Tak ingin larut dalam suasana itu, si gadis segera bergegas menemui si pemilik rumah.

Ternyata seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan gadis itu. Itulah bu bambang, istri dari tuan dirumah ini. Dia wanita yang menawan, sedikit guratan penuaan sudah timbul dari sela-sela wajahnya. Namun senyumnya seakan tak pernah pudar.

“laras?” terdegar suara dari ballik pintu kayu yang berdenyit. Terlihat sosok gadis tinggi semampai berkulit putih, berambut ikal sebahu, memakai T-shirt biru muda berpadu dengan celana ¾ berwarna coklat tua.

“ayu? Ohh iya aku lupa, kan kamu disini ya, hehe” jawab laras kaget melihat seseorang yang baru dikenalnya kemarin sedang berdiri dan menyapanya.

“laras ngapain? Aku kira siapa, soalnya mbok lagi sakit” kata gadis itu sambil duduk mendekat

“ohh, ini aku gantiin umi, umi kemarin disuruh pak bambang nyuci ini” jawab laras sedikit membuang muka.

“ohh, umi kamu?” Tanya gadis itu sambil mengangkat sebelah alisnya

“umi bekerja sebagai tukang cuci keliling, mumpung libur aku pengen bantu umi”  entah apa yang terjadi, namun dada gadis berjilbab itu terasa sedikit nyeri, ingin gadis itu segera meningglakna tempat itu, rasa tidak nyaman mulai menjalar ke semua sarafnya.  Ingin sekali hilang sejenak dari tempat itu.

“ohh, gitu” respon ayu sambil menundukkan wajahnya.

-o-

Di rumah bilik yang Nampak sepi, terdengar desahan nafas tak teratur dari sosok wanita renta yang berbaring sambil memegangi dadanya dan menahan batuk. Cahaya kuning dari sang surya seakan mengintip dari celah bilik, ingin tau apakah wanita itu baik-baik saja. Angin semilir membelai wajah yang sudah mulai menampakan guratan lelahnya menjalani liku-liku kehidupan, wanita renta itu tak kuasa menahan batuk yang sedari tadi terdengar di seluruh ruangan sekaligus rumah itu. Tubuh kurus hitam, yang terbaring miring, kakinya sedikit ditarik keatas.

Setetes air mulai membasahi karpet kumal yang menjadi alas tidurnya. Entah apa yang membuatnya menangis. Rasa sakit yang mulai menggerogoti paru-parunya, batuk yang sedari tadi tak pernah berhenti atau tubuhnya telah memberikan reaksi karena darah yang mulai keluar dari mulut dan hidungnya.

Cepat-cepat wanita itu segera menghapusnya dengan baju yang sedang dipakainya, wanita itu bangun sambil terus terbatuk. Setiap terbatuk di telapak tangan itu akan terdapat bercak darah merah pekat. Wanita itu sulit mengatur nafasnya, dia sudah tak bisa membedakan dimana rasa sakit itu bersumber, karena sekarang rasa sakit tu menjalar kesemua tubuhnya.

Wanita itu tak menyerah melapkan darah di telapak tangannya ke bajunya. Baju yang semula berwarna biru tua itu terdapat bercak darah yang hampir menutupi seluruh perutnya. Dia bangkit dengan tertatih ia berjalan, mencari pegangan, entah bilik, kursi ataupun sesuatu. Tujuannya adalah sebuah gelas berisi air putih di ranjang bamboo yang berjarak sekitar 1 meter darinya.

Dengan terhuyung-huyung wanita itu tetap berusaha. Tak kuat lagi dia merintih kesakitan dan memanggil-manggil sebuah nama laras..laras..laras..., matanya berkunang-kunang, kepalanya seakan diberi beban yang sangat berat, sehingga beberapa detik kemudian kakinya melemas dan tak kuat menopang tubuh kurusnya. Tubuhnya ambruk ditempat menghempas tanah merah, wajah rentanya terantuk pinggiran ranjang dan meninggalkan darah yang mengucur dari dahinya.

Dalam semilir angin yang melambaikan beberapa helai rambutnya, sinar mentari yang menembut sela-sela genting yang bolong seolah ingin menololong. Baju birunya tak kuasa menyerap cairan darah pekat yang mengalir dari kepala si wanita renta.

-o-

NB : fuhh… saya bikin ini dadakal lho.. maaf banget kalau ngebosenin. Disini sama sekali gak ada humor disini, cckck.. but thanks for reading

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dhanty
dhanty at Seseorang yang kusebut umi (7 years 40 weeks ago)
60

mau tanya... sebaiknya dalam penulisan cerpen itu, lebih baik menggunakan angka atau huruf sih? misalnya 8. lebih baik ditulis 8 atau delapan? Kalau menurut sy sih, lebih enak ditulis delapan buat memudahkan mata yang sudah terbiasa dengan huruf jadi lebih enak bacanya. nggak tiba2 nongol angka diantara huruf. yang bener mana?

Writer Mustika Ecca
Mustika Ecca at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)

penggambarannya bagus, ide cerita membangun tapi penulisannya tidak memperhatikan hurup kapital. I Like it!

andraveda at Seseorang yang kusebut umi (7 years 46 weeks ago)

setuju.. ini sudah bagus banget, alurnya lumayan. Tapi itu, penulisannya alangkah baiknya disempurnakan, pasti lebih indah lagi. :)

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Seseorang yang kusebut umi (7 years 46 weeks ago)

kelemahan saya dalam penulisan ya? hehe
iya, thanks sarannya.. :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)

oke... thanks ya sarannya
salam kenal :)

Writer Mustika Ecca
Mustika Ecca at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)

penggambarannya bagus, ide cerita membangun tapi penulisannya tidak memperhatikan hurup kapital. I Like it!

Writer dansou
dansou at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)
80

Deskripsinya harus saya akui sangat bagus, menurut saya :D. Porsinya pas, deskripsi cerita ini tidak minim, tapi juga tidak berlebihan.
.
Sayangnya, narasinya agak bikin saya #thatawkwardmoment, enggak tau kenapa, rasanya kurang enak dinikmati. Ada beberapa kata yang bikin saya bilang, "Eh?" seperti CO2 itu tadi. Ganti aja karbondioksida, atau udara aja. Narasi emang lebih enak kalo to the point.
.
Anyway, ini cerita yang oke. Selain masalah ejaan dan penulisannya, enggak ada masalah menurut saya.
.
Tetep semangat! :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)

wahhh... thanks banget sarannya, oke :D
salam kenal ya.. :)

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)

itu belum selesai kok..
thanks for reading :)

Writer mega_pradani
mega_pradani at Seseorang yang kusebut umi (7 years 47 weeks ago)
70

ceritanya sedih =(..tapi overall bagus kok,enak dibacanya..