ABNORMAL : IQ 95 (part 1)

 

 

Synopsis:

 namaku Balqis Monalisa, gadis cacat yang hanya bisa duduk dikursi roda. gadis yang hanya dikaruniai IQ oleh Tuhan sebesar 95. aku hanyalah beban, masalah selalu datang bertubi-tubi. aku frustasi dan kupikit aku tak perlu hidup. saat seseorang membisikkan sebuah kalimat 'yang terjadi adalah yang terbaik'. mungkin kau pikir ini kisah bualan tak berbobot. tapi tunggu hingga kau membacanya. inilah kisahku...


 


 


“mama .. orang itu kenapa” ucap anak kecil polos yang terpana melihatku

“ssttt tidak boleh seperti itu” ucap ibunya sambil menjauhkan anaknya dariku “dia cacat” bisik ibunya “oleh karena itu kau harus bersyukur karena kamu sehat dan tidak cacat sepertinya” lanjut ibunya sambil terus memilih sayuran yang ada di supermarket

Bersyukur? Ya orang sehat memang selalu berkata ‘kau harus bersyukur karena kau diberi kesehatan’ lalu bagaimana dengan yang sakit? Apakah kami orang yang sakit harus bersyukur? Bersyukur untuk apa? Kami tidak diingikan, kami hanyalah beban!

“I ii ..ibu au auu maan anyam(ibu aku mau makan ayam)” ucapku dengan susah payah

“huh, baiklah” jawabnya sambil mendengus “akan kuambilkan, merepotan saja!”

Aku memang selalu merepotkan satu-satunya orang yang sangat kucintai di dunia ini, dia adalah ibuku, walaupun kadang dia sering tidak mengakuiku sebagai anak di depan orang-orang , tapi aku yakin ibu pasti menyayangiku, bukankah seorang ibu pasti menyayangi anaknya, iya kan?

“ini ayamnya, yang bisa langsung digoreng saja ya” ucapnya berbisik

Akhirnya kami kembali kerumah, rumah kami tidak terlalu mewah, tapi cukup untuk dibilang bagus, rumahku sejuk dan ada kolam renangnya,

Di rumah ini tinggal 6 orang yaitu,bu iyem pembantu dirumah ini, pak parjo tukang kebun disini ibuku, ayahku,aku, kakaku anis, anis sedang dalam masa liburannya, dia kuliah di jerman university, dia disini mencari suasana tenang untuk skripsinya, dia mengambil jurusan sastra, berbeda dengan ayahku

“mau makan mona ?” Tanya anis padaku lembut,

“au apal ai iu eum maak (aku lapar tapi ibu belum masak)” aku benci bicara karena, hanya untuk bicara aku harus mengeluarkan semua tenaga dalam dadaku

“kau mau makan apa? Biar aku yang memasak” katanya sambil membelai rambutku

“anyam (ayam)”

“baiklah tunggu ya”

Anis segera melesat ke dapur, dia baik padaku, tapi aku dapat membaca bahwa dia tidak sayang padaku, dia hanya kasihan ya kasihan, tersirat jelas dimatanya!

Besok anis akan kembali ke jerman, kuliahnya tinggal beberapa bulan lagi, dan ibu harus pergi keluar kota untuk mengurusi perusahaan marketingnya, itu berarti aku harus berdua dengan ayah dirumah ,

“nah ini dia, mau kusuapin cantik?” Tanya anis menggodaku

“mm” hanya kubalas dengan anggukan

Jangan heran, aku jadi pandai beracting, aku berpura-pura menyukai mereka, aku berpura-pura tidak tau ketika tetangga menyuruh anaknya untuk tidak dekat-dekat denganku, aku tau, hanya dengan cara itulah aku bertahan, aku berpura-pura hingga pada akhirnya aku percaya kepada kepura-puraanku,

Aku mencoba untuk tidak merepotkan mereka, saat aku ingin berdiri dari kursi rodaku, aku berusaha sendiri, aku tidak ingin aku menjadi lemah, karena aku tidak lemah

Saat kuingin berjalan, aku akan mencari pegangan sendiri dan tak jarang usahaku berakhir dengan tersungkurnya tubuhku mengikuti gravitasi, luka memar di kaki atau badanku sudah tak terhitung, tapi tak ada yang menyadari,

“sudah selesai, mau tidur?” Tanya anis padaku

“hmm”

Lalu anis mengantarku ketempat tidur, dan menemaniku hingga terlelap, seperti biasa aku hanya berpura-pura terlelap

Nina bobo oh nina bobo.. kalau tidak bo .. bo digigit nyamuk,

Ni ..na bobo ohh ni naa bobo..

Aneh.. anis menagis, dia menyanyikan lagu nina bobo untukku dan menagis?

“mona sayang, maafkan kakak..” ucapnya berbisik

“semoga ini cukup terjadi padaku, kamu beruntung” “aku iri, aku ingin menjadi sepertimu saja, ” “maaf tapi kakak akan menjemputmu kakak janji,” “kau tau betapa aku ingin berlama-lama disini hingga besok aku pergi, aku ingin disini”

Dia terus berkata hal yang membuatku bingung, aku beruntung? Dia iri padaku? Apa yang kurang darinya? Cantik, pintar, baik apa yang kurang?

“anis, sudah malam tidurlah, jangan ganggu adikmu” kata ayahku dari balik pintu

“iyaa” kusempatkan mataku untuk melirik, anis mengapus air matanya dan menarik nafas dalam-dalam

Belum cukupkah semua penderitaanku? Belum cukupkah kau memberiku tubuh yang cacat ini? Belum cukupkah kau memberiku IQ 95? Apa kau masih ingin membuatku tak menegrti tentang dunia oh bukan maaf, dunia terlalu besar. Keluarga, kau bahkan membiarkanku dungu dalam keluarga yang sangat pintar ini? Kenapa kau menjadikanku puyuh? Dan kenapa kau menempatkan puyuh ini ke kandang merak yang sangat cantik? Apakah agar aku bisa menjadi contoh menderita untuk burung-burung lain?

-o-

Tengah malam aku terbangun, entah apa yang membangunkanku, aku masih memikirkan maksud dari kata-kata anis beberapa jam lalu, kusibakkan sedikit tirai di jendelaku, kulihat bulan jelek itu serasa mengejek diriku,

Ngik..ngik..

Ha? Anis belum tidur rupanya? Ranjangnya berdenyit berkali-kali, sepertinya ia sedang memindahkan tubuhnya berkali-kali, apa dia masih menangis?

Ngik..ngik..ngik..

Temponya semakin cepat, kurasa ia benar-benar sedang cemas, hingga ia berkali-kali mengganti posisi tidurnya seperti itu, apa aku perlu ke kamarnya?

Ah sudahlah, kupaksakan mataku untuk terlelap di malam yang hangat ini

-o-

Pagi yang cerah.. namun tidak secerah wajahku, karena secara teknis wajahku memang tidak pernah enak dipandang. Hari ini anis berangkat, kurasa aku mulai menyukainya semenjak insiden lagu nina bobo semalam, untuk pertama kalinya aku mendengar lagu itu dinyanyikan untukku, seandainya ibu yang menyanyikan.. hum pasti akan lebih indah. J

tapi aku masih penasaran tentang perkataan anis semalam, sungguh otak bodohku ini semakin suskes membuat ketololanku beradu dengan rasa ingin tahuku.

"mona, kakak berangkat ya" kata anis sambil mengecup keningku, kurasakan sebuah rasa, senang, hangat aku ingin tersenyum. apa ini yang dinamakan kasih sayang?

"ai ai ak(hati-hati kak)" kataku sambil mencoba menyentuh rambut lembutnya

dia sempat kaget dan tersenyum, ia berpamitan kepada ibu karena ibu juga akan pergi keluar kota hari ini. malam ini ayah ada pesta perayaan di rumah ini. kami menghantarkan ibu terlebih dahulu.

"anis, pesawatmu berangkat jam berapa?" tanya ayahku sambil memegang pundaknya

"jam 10" kata anis sambil melambai pada ibu di mobil

"masih lama, berarti kamu masih sempat mengobrol bersama papa, kamu ini masa hanya beberapa tahun sekali pulang, tapi tidak pernah mengobrol dengan orang tua" kata ayah sambil mengisyaratkan anis untuk masuk.

"mona ayo masuk" ajak anis

"au mau didini, anyinnya enyak (aku mau disini, angginya enak)"

anis pun mengikuti papa masuk kedalam, mereka memang sering berdua, papa tidak pernah ingin mengobrol denganku. memang aku harus sadar diri, papa tidak mungkin ingin repot-repot mendengarkan omonganku yang bahkan tidak bisa disebut omongan ini. lagipula apa yang bisa dibicarakan dengan otakku?

kudengar suara berbisik dari dalam rumah, humm kurasa mungkin bukan bisikan, mungkin saja kemampuan pendengaranku buruk. aku tidak akan kaget jika semua indraku buruk. angin semilir terasa membelai rambut hitamku, daun-daun coklat yang siap gugur menyambut semut-semuat yang akan menggerogotinya. liuk dedaunan hijau yang seolah menari beradu dengan angin terasa damai. suasana ini menghantarkanku berlabuh di pulau putih berkapuk.

brug...

suara itu cukup membuat mata dan indraku bereaksi. syarafku menegang mencari sumber suara, pandanganku tertuju ke sosok cantik sedang memungut salah satu buku tebal berwarna biru muda. ohh aku baru sadar suara itu berasal dari gravitasi yang menarik buku itu dan sukses menghempas di kerasnya keramik putih.

"anyis au tdak belangkat? (anis kau tidak berangkat)" kataku sambil mengucek kedua mata ini

"sebentar lagi mona, apakah suara tadi membangunkanmu? maaf sayang" katanya sambil tersenyum, kulihat air bening membuat mata indahnya seperti kaca atau pelangi. kurasa dia menangis, ya menangis

"apa manya? (papa mana?)"

"papa tertidur pulas dikamar, jangan dibangunkan ya nanti papa marah" katanya sambil mengelus lembut kepalaku

"hmm"

"kakak berangkat, jaga diri baik-baik" kata lisa sambil berlalu meninggalkan gerbang dan melaju menggunakan mobil berwarna biru dan terdapat tulisan diatasnya T-A-K-S-I , beberapa menit berlalu dan aku baru mengerti ohh yang barusan itu taksi. otakku sungguh hany amemberiku sedikit kesempatan.

Mulai besok aku akan bersekolah di salah satu SLB disini. Apa yang harus aku rasakan? senang, bahagia malas atau apa? Tapi aku tau pasti apa yang sedang kurasakan sekarang. Aku lapar.

Kupanggil bu iyem dengan suara yang nyaris tak terdengar, yasudahlah kuputuskan untuk pergi menyusulnya ke dapur. Kulewati ruang tamu yang mungkin tak terlalu besar, dinding cream berhias gambar-gambar bangunan hasil dari kerja keras ayah yang sudah didirikan di berbagai kota bersanding dengan paras cantik yang dimiliki ibu dan anis yang terpampang di dinding itu. Tepat diatas sofa berwarna coklat ketuaan bersandar kokoh foto keluarga, ada 3 orang tentu saja itu ibu ayah dan anis. Asal kau tau aku tidak boleh ikut jika ada foto keluarga seperti itu. Aku mengerti keberadaanku hanyalah aib, siapa yang mengira bahwa keluarga sempurna seperti ini mempunyai anggota yang cacat? Tidak ada!

Setelah melewati ruang tamu, aku sampai ke dapur, bukan berarti keberadaan dapur tepat setelah ruang tamu. Tentu saja tidak kurasa ayah bukanlah seorang arsitek yang bodoh. Yup setahuku semua yang ada dirumah ini adalah rancangan ayah. Dari mulai penataan ruangan, kombinasi warna dan penataan perabot. Akhirnya sosok yang sedari tadi kucari ketemu sudah. Seorang wanita paruh baya atau lebih tepatnya janda paruh baya. Dia sudah bekerja pada keluarga ini lebih dari 20 tahun. Dan saat itu umurnya sekitar 17 tahun. Berarti umurnya sekarang mungkin sekitar 50an. Suaminya meninggal sekitar 12 tahun lalu. Dia hanya mempunyai 1 anak perempuan bernama linda, namun naas setelah menginjak usia remaja linda pergi entah kemana. bibi pernah bercerita padaku bahwa linda mungkin sekitar 2 tahun lebih muda dari anis. Tragis bukan, hamper setragis kehidupanku. kenapa? Kata siapa bahwa dunia itu adil?

Kudekati perempuan yang selalu baik kepadaku, dan memesan nasi goring untukku.

“mau dibawa ke kamar nasinya?” katanya lembut, dan hanya kubalas dengan anggukan.

Untungnya rumah ini bukan rumah bertingkat, jadi aku tidak perlu repot-repot menaiki tangga. Kamarku berada disamping bu iyem. Sebenernya ini adalah kamar tamu, tapi mungkin tidak usah kujelaskan mengapa ini menjadi kamarku.

-o-

Malam ini teman-teman papa merayakan keberhasilan mereka dirumah ini dan itu berarti selama semalaman aku tidak boleh 1 milimeterpun keluar dari kamar. Kadang saat aku menonton film atau membaca buku motivasi semangatku kembali bangkit. Aku berfikir masih ada harapan untukku, masih ada harapan kelak papa dan mama akan berubah, berubah menyayangiku. Tapi terlalu sering kenyataan membuatku mendengus kesal. Berapa lama pun aku menanti semuanya tidak akan berubah. Balqis monalisa tetaplah gadis cacat yang tolol.

“hendra pradibyo. Keluarga loe emang perfect banget dah, punya istri cakep anaknya juga gak kalah cakep” kata seorang teman papa

“iya iya.. eh hen tapi kemaren kayaknya gue liat anak pake kursi roda disini deh, itu siapa saudarakah?” sambut temannya yang lain. Dia mengetahui keberadaanku oh tidak. Apa papa akan mengakui keberadaanku? Akankah?

“ohh itu saudaranya bi iyem dari kampong. Katanya si bibi kangen. Hush jangan ilag gitu lah, gak enak gue kalo denger bibi” ujar papa beralasan. Harusnya aku tau, selamanya pun papa tidak mungkin mengakuiku sebagai anaknya. Anak seorang hendra pradibyo arsitek yang sukses dan terkenal. Bodoh sekali aku sempat berharap.

Lagi-lagi bulan di langit kelam itu serasa menertawakanku. Tertawalah sepuasnya..

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 39 weeks ago)

padahal saya suka banget certa ini, tapi disini ternyata peminatnya dikit ya T.T

Writer kim zhu rin
kim zhu rin at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 40 weeks ago)
100

wahh, idenya bagus :D

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 39 weeks ago)

yongcrai sip. :D
disini ceritaini sama sekali gak lagu. khukhukhu T.T

Writer siaitiei
siaitiei at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 40 weeks ago)

untung ada Bibi..
kesel sama Ayah sama Ibu..
penasaran kenapa Anis nangis..
lanjutannya mana?

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 40 weeks ago)

belum sempet di posting XD

Writer Azifah zahro
Azifah zahro at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 45 weeks ago)

kagum dengan Mona, ttep semangat
;-)

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 45 weeks ago)

tthanks :)

Writer Kurenai86
Kurenai86 at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 46 weeks ago)
70

salam kenal, fitria :)
eh, ini masih part 1 ya, berarti ada sambungannya?
kalo gitu tag-nya diganti aja jadi cerita bersambung ^^
.
Masih ada beberapa typo ya...
.
terus... menurut saya cerita ini kurang pas kalau pake POV 1, karena berarti yang cerita kan si 'aku' yang nggak gitu pinter. Nah, kalau gitu dia kok bisa nulis cerita hidupnya dengan narasi yang saya rasa 'cerdas'?
Nggak ada efeknya meski kamu buat si 'aku' beberapa kali membodoh-bodohkan dirinya sendiri. Buat saya, dia masih cukup cerdas dan cuma pura2 nggak tahu apa2 di luar :P
.
Menurut saya pribadi, untuk POV 1 kekurangan IQ-nya akan lebih terasa kalau kamu sederhanakan gaya bahasa pada narasinya. Sementara di cerita ini, si 'aku' masih bisa pakai kata2 yang puitis dsb... sama sekali nggak terasa begonya tuh :P
Atau typo-nya kamu sengaja ya?
.
Jadi gini, kalo kamu buat cerita dari sudut pandang anak2, bikinlah narasi yang kekanak-kanakan dan sederhana. Kalo dari sudut orang dewasa, bikin yang dewasa. Dengan begitu kamu bisa memanfaatkan POV 1 dengan maksimal.

.
Aih, kok saya jadi bawel gini ya ^^

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 46 weeks ago)

wahhh iya juga ya saya gak kepikiran kalau yang jadi 'aku'nya itu kan IQnya kecil, tapi saya malah gunain kata-kata kaya gitu. hehe
soalnya pas buat ini saya pake sudut pandang orng 1, biar lebih kerasa penderitaan sama senangnya...
iya deh nanti saya perbaiki, tapi mungkin diperbaiki dalam segi endingnya biar pas sama narasi.
thanks kak atas sarannya, saya seneng bacanya..
salam kenal :)

andraveda at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 46 weeks ago)
80

bagus, saya lebih mengapresiasi tulisan ini daripada tulisan yang menggantung, terlalu sungguh menggantung, namun ini ndak.. :) *applause*

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 46 weeks ago)

makasih.. :D
salam kenal kak :)

Writer emustika
emustika at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 47 weeks ago)

good

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 47 weeks ago)

:)

Writer fitria evadeni
fitria evadeni at ABNORMAL : IQ 95 (part 1) (7 years 47 weeks ago)

hehe :)