India Daksina

"Bisa dansa?" Tanya seorang gadis pemakai gaun putih di depan Fikri.

"Aku tahu sedikit tapi tak bisa praktisnya."

Sang gadis tersenyum, "Susah ya, mengakui kelemahan sendiri?"

Yang ditanya mengangguk, "Aku hanya tahu kalau dansa ialah irama dari detak jantung juga detik nadi yang termanifes lewat gerak badan."

"Mungkin salah..." ucapan itu lepas sebelum bibir manis sang gadis menyesap minumannya.

"Terserahlah, tapi hak mencoba walau sekedar pemaknaan itukan paten bagi tiap individu." Fikri lantas bangkit sambil menyerahkan gelasnya pada Hamzah. Digandengnya tangan sang gadis dengan lembut.

Dituntunnya sang gadis ke tengah aula yang dipenuhi oleh puluhan pasangan yang sedang berdansa.

Detik-detik berhenti bergerak.

Ternyata Fikri berbohong. Lelaki itu justru tampak lebih menghayati geraknya dibanding sang gadis. Keduanya sangat serasi. Lankahnya seperti dari satu hati. Kompak.

"Namaku Fikri."

"Saya tahu."

"Aku masih pelajar."

"Saya tahu."

"Aku sudah beristri."

Sang gadis tersenyum, "Kau bohong."

"Aku bahkan tak tahu Namamu."

"Saya tak peduli, tapi tahu."

Lelaki itu mendekatkan wajahnya pada sang gadis, "Jangan macam-macam dengan semua pengetahuanmu."

"Saya tahu."

Tiba-tiba lampu padam. Sontak semua yang hadir di pesta itu terkejut. Ada kegaduhan kecil yang tidak terelakkan. Kecuali Fikri dan wanita yang berdansa bersamanya, semua menghentikan aksinya.

"Kenapa mereka berhenti?"

"Kaget."

Rekah senyum dirasakan Fikri meski dalam gelap.

"Namaku..."

"Psst," Fikri memotong kalimat sang gadis, "Tak perlu angkat biacara. Aku bahkan tahu kalau kamu paling benci jeruk.

Sang gadis tersentak kaget. Gerakannya kacau sebelum ia berhenti. Wajahnya yang ceria kini berubah menjadi sinis.

Fikri mengangguk, "Aku tahu... sangat tahu."

[Friend, ini baru prolog dari cerita cerita India Daksina] terinspirasi dari seorang pengalih bahasa bernama Yasadipura 2. ditunggu komentnya ya

Read previous post:  
Read next post:  
Writer Alfare
Alfare at India Daksina (12 years 2 weeks ago)
80

Menarik sekali.

Writer eggiedwiananda
eggiedwiananda at India Daksina (12 years 22 weeks ago)
80

Aura filsafatnya terasa, jangan sampai terjebak sama tema cinta yang tidak berisi ya...

Writer k4cruterz
k4cruterz at India Daksina (12 years 22 weeks ago)
80

dari judulnya sudah memikat...penggarapan alur dan susunan kalimatnya juga udh pas banget...terutama dialognya, tapi saya jg harus setuju...penggambaran tokoh dan settingnya masih kurang mantep terutama tokoh hamzah dan situasi lantai dansanya

buat sebuah prolog mnurut aku udh bagus banget...cuma (menurut aku) kayaknya endingnya bisa tambah biar "greget"nya lebih terasa n (mnurut aku juga) bisa lebih memudahkan buat ngelanjutin ke bagian selanjutnya.

wokey deeehh...aku bener2 minta maaf klo komentar aku ad yg kurang pas...

lanjuuuuutttttt.....

-anakmarmutkurangajar-

Writer brown
brown at India Daksina (12 years 29 weeks ago)
80

prolognya asyik, bikin penasaran. setuju sama Za_hara ttg 'Hamzah', sepertinya lbh bagus kalau dia dieliminasi dari prolog ini. arahkan seluruh perhatian pada kedua tokoh, Fikri dan.... wanita itu, siapa namanya? kecuali Hamzah bakal memegang peranan penting dalam cerita ini.

Writer azura7
azura7 at India Daksina (12 years 31 weeks ago)

waduuh makacih banget sobaaat! padahal aku nulisnya sambil mikir di depan Internet setelah putus asa dengan Dragon X riffles.

buat Meier, makcih, Ari Rasya, Alztonia,Redshox,dan semuanya... Masiiiiiiih banget. padahal aku lagi upset nihh.

Writer meier
meier at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
70

coouuulllll bebeh....

Writer za_hara
za_hara at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
80

sama kayak windymarcello, aku juga jarang suka cerita yang terlalu banyak kalimat langsungnya. tapi kamu berhasil membuat cerita dimana kalimat langsung itu memang betul2 perlu dan menarik. dialog2-nya begitu lucu tetapi cerdas. chemistry-nya terbangun.

sayangnya untuk prolog rasanya agak terpaksa diputus sampai di situ. somehow aku kok merasa perlu sedikit teaser lagi untuk menyempurnakan akhir prolog ini.

somehow lho ya, it means aku sendiri tidak yakin bahwa apa yang kurasakan ini benar ^_^

tapi kuharap, pembangunan setting digarap lagi agar mood cerita makin terbangun. misalnya soal nama Hamzah" yang sekonyong-konyong muncul sementara tak disebutkan ada dimana posisi Fikri dan Hamzah saat itu. cara paling aman untuk prolog ini mungkin jangan mengeluarkan nama lain dulu, misalnya cukup memberikan gelas itu pada pelayan (yang biasanya mondar-mandir di tengah pesta)yang kebetulan lewat.

halah, kepanjangan deh komen gue. udah jadi cerpen tersendiri he he he
maaps ^^

Writer Ari_rasya
Ari_rasya at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
90

Keren prolognya

Writer windymarcello
windymarcello at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
80

Biasanya aku ga suka cerita yang byk kalimat langsungnya, tapi cerita ini begitu memikat. sangat2 ditunggu cerita selanjutnya....

Writer alztonia
alztonia at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
100

dikit amat, pnasaran gw!!!
prolog yg keren, bo! ^^

Writer redshox
redshox at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
80

Good Prolog

Writer arien arda
arien arda at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
80

Yasadipura mana neh?
Rien tunggu ya
lenjut
this story so sweet

Writer fortherose
fortherose at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
90

... cepat, cepat lanjut!^^

^_^

Writer abdi_babat
abdi_babat at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
50

Ini prolog ya? Sebagai prolog cerita ini sudah sangat baik. Karena membangkitkan keingin-tahuan para pembaca.
Cukup Well Done.
Lanjut...

Writer Armila_astofa
Armila_astofa at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
70

Aku suka.

Writer bluer
bluer at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
90

hihihi, awal yang menarik. kira-kira apa ya yang dilakukan mereka ketika mati lampu? ^_^

Writer KD
KD at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
100

kalau diberhentiin di tengah jalan lagi!!!

Writer Chatarou
Chatarou at India Daksina (12 years 31 weeks ago)
90

terus..?
ah... awal yang menggelitik..

chatarou