Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7)

 

Joanna sudah siap dengan berliter makian sampai suara yang terlalu dikenal menyetakkannya. Ia terpaku. Bisu dan serasa membatu. Seorang pria yang memiliki figur yang sama persis seperti mimpinya. Tetap setampan dan semenawan dahulu, saat cinta masih menjalin kasih. Pria yang diam-diam dirindukan dalam derai tangisnya sesekali. Dan seorang ayah bagi buah hati yang dengan sampai hati ditinggalkannya. ADAM.

Mulutnya menganga dan tidak sempat menutupnya, matanya telah memburam. Ada buncah rindu dan keinginan untuk bersandar dipelukannya, namun langkah mengenggankan.

“Anna…,” bisiknya kembali, haru menguasai hatinya.

“Dam…,” Joanna masih tidak bisa berkata-kata.

Joanna berbalik menghindari Adam meskipun terlambat karena telah tertahan oleh tangan kokoh itu.

“Jangan pergi,” pintanya lirih.

“MAU APA LAGI, DAM?” bentaknya pedih, ada seberkas marah yang masih mendera rasanya. Kecewa dikhianati. Marah dicampakkan. Dan sedih karena masih tersisa cinta itu.

“Anna, biarkan aku berbicara denganmu!”

“TIDAK!” jerit Joanna membalikkan tubuh dan memandangnya nanar.

“JANGAN GANGGU AKU LAGI!” sambungnya seraya menghempaskan pegangan Adam.

 

===

 

“Nathan…” panggil Joanna perlahan menghampiri anaknya yang tergolek lesu.

“Mah… “ serunya manja.

Tristan memandang Joanna dengan heran, ada bekas jejak air di parasnya yang masih cantik serta mata indah yang sembab. Ia menyadari betapa berarti Nathan bagi Joanna. Meskipun Tristan keliru.

“Sabar yah mama Nathan…,” hiburnya ragu ingin menguatkan dengan memegang pundak ibu muda itu atau mengenyahkan keinginannya. Di saat sedih begini, selalu saja Tristan ingin berada dekat dengan Joanna, wanita pujaannya.

Belum cukup saat ingin menghiburnya, ponselnya elah berdering.

“Halo, Bang Adam? Ohh… saya kebetulan lagi di klinik dekat sekolah, ada siswa yang sedang sakit. Bagaimana kalau menyusul ke sini ajah? Ok?”

Sesaat Joanna kaget ketika mendengar nama Adam disebut. Ia tidak mungkin lagi menghindari pertemuan ini. Tetapi bagaimanakah ia harus bersikap? Pura-pura tidak mengenalkah? Ia bingung. Sekarang, Adam akan bertemu langsun dengan Nathan, anak yang tidak pernah diinginkannya.

Tidak sampai setengah jam, Adam telah tiba. Tristan menyambutnya dengan hangat, sebuah tali persaudaraan yang tidak mungkin terputus meski harus melewati waktu yang seringkali memudarkan sebuah hubungan.

Adam terbelalak mendapati Joanna tengah berada di ruangan tersebut bersama Tristan. Terbayang kembali kejadian yang baru saja berlalu, dan akhirnya ia tahu alasan dibalik Joanna yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Alasan yang masuk akal untuk ibu yang mencemaskan keadaan anaknya.

“Ehmm..,” ia mengumam seraya memadang Tristan, meminta penjelasan.

“Oh.. ini Joanna, Mama Nathan, siswaku yang lagi sakit.” Tristan menjelaskan sambil menujuk Nathan yang baru saja terlelap. Adam memandang seorang anak lelaki lucu dan menggemaskan itu, meneliti setiap inci tubuh saat kaki membawa langkahnya untuk tiba di samping Nathan. Joanna hanya terdiam, dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya. Di satu sisi, Adam adalah ayah biologis Nathan dan di lain sisi, ia sangat mengharamkan kedatangan ayah bagi Nathan. Adam tidak pantas menemui anaknya, ia telah mencampakkan mereka. Dirinya dan Nathan.

“Bang…,” seru Tristan mengernyit. Ia jelas merasa aneh dengan tingkah abangnya yang baru pulang dari Amerika. Tiba-tiba saja ia tertarik dengan seorang anak kecil yang baru saja ditemuinya.

Joanna menangis dan hal ini semakin membuat kernyit Tristan semakin dalam. Ada apa dengan mereka? Adam yang tiba-tiba terbengong-bengong menghampiri Nathan. Yah, tidak bisa dipungkiri bahwa Nathan sangat menggemaskan dan sedang lucu-lucunya. Dan si wanita pujaan, Joanna menangis sesegukan saat melihat Adam mendekati anaknya. Apa yang terjadi?

“Lho, mama Nathan? Kenapa?” tanya Tristan menghampirinya. Joanna menggeleng. Ia ingin membantah kecurigaan yang terpancar di wajah Tristan, tapi mulutnya tidak sanggup terbuka.

Adam memandang lekat malaikat kecil itu dengan seksama. Tangannya telah terulur untuk membelainya namun mendengar gumam kecil, ia mengurungkan niat. Bibirnya mengulas senyum kecil saat memandang hero kecil itu tersenyum dalam tidurnya seraya bergumam, “Teacher tristan.” Ia tersentak kaget. Dalam benak kecilnya, tidak ada kamus yang berarti papa. Ia yang bersalah telah mencampakkan malaikat mungil itu. Rasa sesal, kesal, marah, dan berbagai kepedihan menjangkiti hatinya. Kepada dirinya sendiri, ia menyalahkan. Air mata hampir saja membuat jiwa prianya terlihat lemah, cepat-cepat disusutkannya.

Kemudian, ia melangkah pergi tanpa memedulikan tatapan kedua pasang mata itu.

 

===

 

“Bu, lihat Pak Tristan?” tanya Cherry cemas. Semenjak pagi ia tidak melihat guru itu.

“Oh, Pak Tristan terburu-buru tadi ngantar Nathan yang lagi sakit ke klinik.”

“Oh, makasih Bu.”

UH! Nathan lagi! Dumelnya dalam hati. Ia memang tidak menyukai kehadiran Nathan, tepatnya mama Nathan yang selalu diperhatikan oleh Tristan. Bukannya Cherry tidak menyadari, namun ia selalu berpura-pura tidak mengetahui perhatian Tristan yang terlalu berlebih kepada Nathan, terutama mamanya.

Cemburu sudah menjadi makanan sehari-harinya. Selama bertahun-tahun Cherry mencintai Tristan tanpa diketahuinya atau pura-pura tidak tahu? Sekeras apapun usahanya, tidak pernah pandangan Tristan berpaling padanya. Seperti kisah Pohon, Daun, dan Angin. Akankah Cherry menjadi daun. ‘Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?’

Dan Cherry sangat tidak berharap menjadi Daun dalam cerita itu. Sungguh menyedihkan jika demikian. Ia harus bersanding dengan yang lain sementara hatinya telah direbut oleh Tristan.

Dugaannya benar, Tristan tinggal untuk menjaga Nathan untuk kesekian kali karena mama Nathan. Sebelum memasuki klinik, ia bertabrakan dengan seorang pria tampan namun terisak tangis. Sungguh aneh!

Cherry mengendikkan bahunya dan berjalan menuju ruangan yang ditempati Nathan setelah bertanya di bagian informasi. Paras cantiknya memerah saat mendapati mama Nathan dan Tristan yang sedang duduk berdampingan. Mama Nathan terlihat sesegukan sambil dihibur oleh Tristan yang tengah mengambilkan minuman untuknya.

“Minum dulu, mama Nathan…” tutur Tristan lembut sembari menyodorkan gelas kepadanya.

“Pak Tristan!” seruan Cherry menyentakkan Tristan sehingga ia harus menggeser posisinya yang terlalu dekat dengan Joanna yang sudah tidak menyadari, sebab tenggelam dalam kesedihan yang tidak juga dimengerti oleh Tristan.

“Ada apa Bu Cherry?” tanyanya polos dan formal.

UGH! Sial! Masih gak sadar yah kalau aku cemburu! Dasar Tristan BODOH! Makinya dalam hati. Kesal!

 

===

 

Read previous post:  
102
points
(1260 words) posted by bl09on 7 years 51 weeks ago
78.4615
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7) (7 years 51 weeks ago)
80

Ugh endingnya. Ah lanjut baca cerita berikutnya. :)

Sep, ntar juga kuubah yah... :)

dadun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7) (7 years 51 weeks ago)
80

yaaay... cherry unyu muncul. yes yes yes.
soal nathan, dlm versiku, kupikir anak berumur 3 th itu masih cadel, ternyata enggak. dan nathan pun sudah tidak kubikin cadeR :D
jadi, fix ya kalo nathan itu nggak cadel. soalnya udah om dudun latih dg "uler melingker-linger di pager ngejer-ngejer ager"

90

Saatnya karakter saya muncul ya? Hmmm bawa kabar baik ato kabar buruk ya :P

.
Cepet amat tapi TAT

100

Cepet amaaat
bagian 6 kelewat deh
mbaca mundur nih ^^

@kumi : pas di cerfet keenam aku sudah membayangkan tu si Adam :p dangkal bener setelah dipikir2.
@mak cat & sun : makasi masukannya
@lav : iyah sempat baca di Nathan cadel.
@minie : coba diperhatikan dari awal deh :)

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7) (7 years 51 weeks ago)
2550

skedar mengingatkan Adam pake gue lo tante....

80

Ah, kali ini saya setuju dengan komen Kak Cat..
Menunggu lanjutannya :)

100

Aku suka permainan bahasanya, tante lily, di beberapa bagian terasa dalam..
Utk masalah laen2 setuju ma mbak catz, klo soal cadel kyknya d part nya dudun cadel mbak, klo ga salah baca..

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7) (7 years 51 weeks ago)
70

Sebenarnya aku mengharapkan tabrakan itu bukan adam dan Anna yang bertemu.

Bisa saja siapa saja.

Dan logikanya mobil yang sudah bertabrakan. Apa Adam ndak perlu bawa pergi servis dulu. Heeem adam terlalu kaya yah.

Lalu adegan Nathan memanggil teacher tristan - karakter Nathan sejak awal tidak dibikin cadel.

Di part 1, Nathan pada percakapannya telah bisa memanggil Teacher Tristan tanpa cadel.

Sorry.

Untuk adegan Cherry, aku suka.

Emosi Cherry pas.

Lalu kepada semua estafeter. Tolong diperhatikan perkembangan hubungan Tristan dan Joanna. Jangan hanya mengarah pada Adam terus.

# ‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª #

Btw cukup terkejut Lily telah memposting lanjutannya tak lama setelah Minnie. Wow kejar ampe tengah malam yak yak?

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 7) (7 years 51 weeks ago)

Btw saya juga mau ngomentari soal waktu.

Saat adam menelepon itu artinya Joanna udah di situ cukup lama.

Dan sebagai orang tua, si Joanna. Apa dia akan terus menunggu dan membiarkan anaknya di klinik.

Logikanya, si ibu setelah pemeriksaan langsung bawa anaknya pulang agar bisa istirahat.

Kecuali antrian dokternya sangat panjang. Dan dia blom dpt antrian.

Lily lain kali diperhatikan lho.

Ini hanya sekedar saran.

Jd kamu harus menjelaskan kenapa dalam waktu setengah jam Mama Nathan blom pulang juga.

Menurutku sih.

Btw thx uda mengikuti estafet ini.

Lily posting e cepat aaa

90

Wah, oma postingan kilat >.<
Cherry udah masuk disini ya ^^
ada beberapa typos Oma dan akhirnya Joanna - Adam bertemu. Agak kecepatan menurutku Oma :D hehe.. lanjutt~

wah, ga sadar banyak typo --a sori temans...