Dilema

"Temui aku di Café Rusuh yang terdapat di kota tua jam 5 sore ini. Ingat, jangan telat barang sedetik pun. Jangan juga datang sebelum jam 5 sore. Harus tepat jam 5 sore. Jangan bawa teman atau siapa pun. Bila tidak, aku tidak akan menanggung akibatnya nanti. Satu lagi, kau tidak boleh membocorkan pada satu orang pun tentang pertemuan kita. Segalanya bergantung pada putusan akhir darimu. Baik buruknya, kau yang tentukan."

Aku melihat isi ВВМ yang baru kuterima lima menit yang lalu dengan bingung. Apa yang terjadi? Brengsek! Di mana letaknya Café Rusuh itu?

Setelah lebih dari sejam aku berputar-putar di wilayah kota tua ini, masih juga tak bisa kutemukan. Aku sampai kesasar ke pelosok kampung. Sampai akhirnya, bensinku habis. Sialan! Sekarang aku terpaksa menuntun motor matic-ku ini, mencari tukang jualan bensin pinggir jalan. SPBU terlalu jauh untuk ditempuh dengan jalan kaki. Adit brengsek! Mengirimiku BBM bernada ancaman tanpa mencantumkan alamat yang benar. Dan dia seenaknya menyuruhku tepat waktu? Sejak kapan aku bisa tepat waktu? Harusnya dia tahu sebelum mengirim BBM iseng macam itu.

Aku pun memutari wilayah ini. Tak jauh di depan sana, tepat di dekat pasar, ada botol-botol berisi cairan kuning bening berjejer-jejer di sebuah rak kayu. Akhirnya! Kebetulan ada pompa pengisi udara ban juga. Berarti aku bisa sekalian isi angin di sana. Ban motorku kondisinya memang sudah menyedihkan.

“Pak, bensin 2, sekalian isi angin,” kataku setelah sampai di sana. Sembari si Bapak bekerja, mataku menjelajah sekitar. Pasar masih ramai, padahal sudah nyaris jam 5. Jalan kecil ini masih terisi para pedagang yang menggelar lapak mereka di pinggir jalan. Padahal, pasar sebesar Bringharjo saja tutup ba’da ashar. Hebat juga Pasar Legi ini.

Tapi, sore-sore begini kenapa panas sekali? Maksudku, hawanya. Kalau matahari sih sudah turun dari tadi. Gara-gara dari tadi putar-putar tanpa hasil, sekarang tenggorokanku kering. Tepat pada saat itu, kulihat sebuah minimarket tak jauh dari tempatku berdiri sekarang. Aku ingin beli minuman dingin di sana. Tapi, mana bisa kutinggalkan motorku begitu saja. Akhirnya, aku menunggu sedikit lebih lama lagi.

Selang sepuluh menit, ban motorku sudah selesai isi angin. Bensin juga sudah terisi lumayan, meskipun tidak penuh. Ini bukan SPBU, jadi mana bisa aku minta penuh?

Limolas ewu, Mas,” kata si Bapak kemudian. Aku langsung memberinya uang lima belas ribu. Lalu, segera berterima kasih.

Kukendarai motorku sebentar menuju minimarket. Aku segera masuk dan meraih sebotol air mineral dari lemari pendingin. Minimarket itu sepi. Selain pegawai, hanya ada tiga pengunjung, termasuk aku. Tapi, tetap saja harus antre. Aku keduluan seorang mbak-mbak berjilbab dengan belanjaan banyak, sepertinya persediaan bulanan: gula, sirop, sayuran, susu box, bahkan dua bungkus besar persiapan menghadapi tamu bulanan—satu untuk siang, satu untuk malam. Walah, kurang kerjaan! Kenapa juga aku harus memperhatikan detil-detil perlengkapan perempuan macam itu?

Akhirnya, mbak-mbak itu selesai. Sekarang giliranku. Yah, biarpun cuma sebotol air mineral.

Saat Mbak kasir memasukkan barcode harga ke mesin, kepalaku mulai sibuk. Kalau kutanyakan letak Café Rusuh, apa Mbak kasir ini bakal tahu? Tapi, tak ada salahnya dicoba.

“Maaf, Mbak—” Mataku langsung tertuju pada kartu ID yang tersemat di saku kaosnya. Aku mendongak lagi, melanjutkan maksudku, “Mbak Shasa.” Yang kupanggil segera menghentikan kegiatannya dalam memasukkan botol air mineral ke dalam plastik. “Ndak usah diplastik, Mbak. Biar tak bawa langsung aja.”

Mbak Shasa lantas mengangguk. “Oh … iya, Mas.”

“Oh iya, Mbak. Di deket sini ada tempat yang namanya Café Rusuh?”

“Café Rusuh? Maksudnya yang di Jalan Ngeksigondo itu?”

“Jalan Ngeksigondo bukannya—” Adit brengsek! Aku benar-benar bingung sekarang. Bukannya Jalan Ngeksigondo itu di luar wilayah kota tua ini? “Lho? Kata temen, letaknya ada di kota tua.”

“Yah … si Mas ini. Daerah sana kan masuk wilayah Kotagede juga. Memangnya Mas pikir, wilayah Kotagede cuma seputar Masjid Kotagede dan kompleks makam?”

Aku tercenung. Benar juga, yang dikatakan Mbak Shasa tidak salah. Aku saja yang salah tanggap. Akhirnya, kuambil botol mineral itu setelah membayarnya. Begitu setengah isi botol ludes, aku memasukkannya ke dalam tas. Tanpa menunggu lagi, aku melajukan motorku menuju café yang bikin repot itu. Setengah gondok, setengah penasaran. Apa mau dia sampai-sampai mengirim BBM macam itu padaku? Pasti ada yang penting.

 

***

 

Café Rusuh. Aku penasaran kenapa tempat itu dinamai begitu. Awalnya, kupikir tempat itu bakal ramai seramai-ramainya. Itu yang akan terpikir kalau mendengar kata “rusuh”, kan? Tapi, tempat itu sepi.

Saat ini, aku sedang terduduk di motorku, dengan mesin masih menyala. Aku berhenti di pinggir jalan, memandang sebuah café kecil dengan dinding yang terbuat dari bambu. Sempat kulirik bagian dalamnya. Meja-kursinya juga dari bambu, tapi tempat itu sangat bersih. Bambu-bambu itu hanya membuatnya terkesan alami, apalagi pepohonan di sekitarnya. Mungkin pemilik café memang menghendaki café-nya didesain seperti itu. Apalagi dengan plang nama café itu. Sekarang aku tahu kenapa dinamai “Rusuh”. Rupanya itu singkatan. Di bawah tulisan Café Rusuh, terdapat tulisan yang lebih kecil, bunyinya: Ruang Suasana Hati. Ada-ada saja. Tapi, melihat desainnya seperti ini, sepertinya sih pas-pas saja.

Aku mengambil Blackberry-ku, hanya untuk memeriksa jam. Masih kurang 1 menit lagi sebelum jam 5. Bah, malas sekali rasanya masuk sekarang. Nanti saja-lah aku masuk. Aku masih ingin menikmati pemandangan di sini. Meskipun cuma untuk 1 menit.

Di waktu-waktu seperti ini, jalan sebesar Jalan Ngeksigondo harusnya padat, seperti jalan-jalan besar lain di Kodya atau Sleman. Tapi, entahlah. Aku baru sekali ini lewat wilayah sini. Aku tidak tahu memang biasanya sudah sepi atau memang saat ini sedang sepi. Bah, benar-benar bikin iri. Pepohonan yang tumbuh di pemisah jalur itu masih terlihat rindang, tak seperti di daerah yang lebih barat. Sudah meranggas, batang-batangnya banyak yang patah, juga kering. Apalagi di daerah tempatku tinggal, pepohonannya bahkan terhalang pertumbuhannya karena dihalangi baliho-baliho iklan.

Aku merogoh tas ranselku, mengambil kamera. Aku membidik ke arah pepohonan itu, tentu dengan memilih angle yang bagus. Entah kenapa, aku juga jadi ingin memotret Café Rusuh. Jadilah, satu bidikan…, dua…, tiga…, empat….

Di bidikan kelima, seseorang menepuk bahuku, membuatku terlonjak seketika. Nyaris saja kameraku jatuh, untung talinya sudah kukalungkan ke leher. Aku langsung memutar tubuh, dan mendapati sesosok tinggi gempal sedang menenteng laptop dan membetulkan letak kacamatanya.

“Ngapain di sini? Tak cariin dari tadi,” katanya kemudian.

“Ini belum jam 5, Mbul!”

Yo wis, cepet diparkir, terus masuk.”

“Ada apa to?”

“Parkir sik wae. Nanti tak jelasin.”

Alhasil, aku cuma bisa menurut. Adit orangnya memang sering suka nge-bos. Bikin kesal juga.

Saat kami sudah di dalam, dia langsung menaruh laptopnya di meja. Diraihnya buku menu, lalu mendongak padaku. “Pesen apa?”

“Kopi.”

“Kopi apa? Ada banyak, di sini.”

“Kopi Joss. Ada?”

Adit seketika mencibir. Ya jelas saja tidak ada. Kopi Joss—kopi favoritku itu—cuma ada di area Stasiun Tugu. Jam segini pasti sudah buka. Sialan.

“Ke Jalan Mangkubumi, sana,” katanya sengit. “Lagian, kalau ndak mau dateng, ngapain coba sekarang nangkring di sini?”

Itu gara-gara BBM sialanmu itu, Gembul. Ingin rasanya aku ngomong seperti itu padanya. Tapi, semua itu kutelan mentah-mentah. Adit bukan orang yang akan menyuruhku ini-itu tanpa alasan. “Ada urusan apa, sih? Kok ndadak gini?”

Diletakkannya buku menu yang baru dipegangnya, lalu menulis pesanan di secarik kertas. Dia pun memanggil pelayan dan memberikan kertas itu. Setelah pelayan pergi, dia memandangku lekat. Matanya berubah tajam. Aku tahu gelagat ini. Ini artinya dia sedang dalam mode serius.

“Zy, dua tahun lagi kamu udah kepala tiga.”

Perasaanku tidak enak. Kenapa pula pembahasan pertama harus soal umur?!

“Dan kamu masih saja keluyuran dengan kamera bututmu itu? Sampai kapan mau jadi freelancer? Apa enaknya sih? Kalau nikah nanti, kamu mau ngasih makan istrimu dengan penghasilan ndak tetap begini?”

“Apa urusannya sama kamu? Lha wong ini hidupku. Biar tak urus dhewe-lah.”

“Jelas urusanku. Memangnya adik siapa yang lagi kamu pacari sekarang? Memangnya kalian ndak kepikiran buat nikah, apa? Alia udah 26, Zy. Kamu tahu kalau bapakku pengen dia cepet-cepet nikah, kan? Takutnya nanti jadi perawan tua.”

Oke, Adit langsung menyerang titik kelemahanku. Alia. Memang, sih. Sudah hampir 5 tahun kami pacaran, dan Alia sudah berulang kali menanyakan soal pernikahan akhir-akhir ini. Tentu saja aku risih mendengarnya. Aku ini orang bebas, tidak suka terikat. Ngeri rasanya membayangkan hidupku nanti kalau terikat antara rumah…, kantor…, rumah…, kantor…. Aku bisa gila. Itu juga sebabnya aku mengambil pekerjaan sebagai fotografer lepas. Tapi, aku juga sayang Alia. Kalau setahun ke depan kami tak ada kemajuan, jaminan 100 persen kalau Alia bakal dijodohkan bapaknya. Anjrit.

“Makanya itu, Zy.” Adit berhenti sejenak, sambil menusuk mataku tajam. Ingin rasanya kuhindari tatapan itu, tapi itu artinya aku pengecut. Jadi, kutantang saja. “Terima tawaranku. Ndak usah nolak lagi.”

“Dit, aku—”

“Aku ngasih tawaran ini bukan karena Alia. Yah, itu juga sih, tapi bukan itu intinya.”

Dia diam. Aku juga cuma bisa diam, menunggu kata-kata berikutnya.

“Kami butuh ilustrator. Aku belum nemu yang sebagus kamu, Zy. Wis-lah, kerja di tempatku. Pekerjaannya ndak terlalu mengikat, dan gajinya tetap.”

Aku mulai bosan dengan pembicaraan ini. Selalu sama. Sudah berkali-kali kami membicarakan hal ini, dan selalu berakhir dengan kemenanganku. “Passion-ku di fotografi, bukan ilustrasi. Kamu tahu itu.”

“Kamu masih bisa jadi fotografer lepas. Aku ndak akan ngelarang kamu punya kerjaan dobel, yo.”

Dia benar. Yah, baru kali ini, tapi dia benar. Cih! Benar-benar! Bagaimana aku bisa menyangkal argumennya barusan? Bilang padanya kalau aku tidak bisa kerja terikat? Tapi, tadi dia bilang kalau pekerjaannya tidak terlalu mengikat. Tidak terlalu, artinya masih mengikat, tapi tidak seperti kerja kantoran.

Aku masih belum menjawab. Dia juga tidak mulai membahas apa pun lagi. Kami hanya menikmati secangkir cappuccino yang tadi dibawakan oleh pelayan. Ya ampun, ke café cuma untuk minum cappuccino, benar-benar pemborosan. Mending ke utara Stasiun Tugu menikmati kopi Joss. Nikmat, mantap, murah lagi.

Kulirik Adit dan langsung mendengus. Seperti biasa, dia kalau minum kopi, lama sekali. Pakai dihidup aromanya, pula. Setelah masuk mulut pun, harus pakai acara dikulum dulu sebelum ditelan. Ya, ya, itu memang cara yang benar—menurut Adit—dalam menikmati kopi. Repot sekali. Tinggal teguk dan habiskan. Toh, gunanya juga untuk menghilangkan dahaga.

Setelah separuh habis, dia membuka laptopnya. Tanpa mendongak padaku, dia mulai bersuara, “Kamu tahu kenapa aku suka ke café ini?”

Aku tak menjawab. Apa untungnya bagiku mengetahui itu?

“Soalnya, hotspot di sini cepet banget.” Dia diam. Kali ini agak lama. “Zy, pikirkan kata-kataku. Kalau kamu ndak mau nerima tawaranku karena bukan passion-mu, paling ndak, terimalah demi Alia. Aku ndak mau adikku sengsara hanya karena punya suami yang ndak bisa ngasih makan dia. Aku juga ndak mau adikku sengsara karena dinikahkan paksa.”

Lidahku kelu. Meskipun Adit bicara tanpa melihatku, dan dengan suara datar, aku tahu kalau dua kalimat terakhirnya tadi adalah peringatan buatku. Aku harus punya kerjaan tetap, atau terima fakta Alia bakal menikah dengan orang lain. Sialan.

 

***

 

Meskipun hanya dari LCD kameraku, Alia cantik sekali hari ini. Maksudku, dia memang selalu cantik tiap harinya. Tapi, hari ini terlihat lebih cantik. Mungkin karena sepotong kain yang kali ini membalut kepalanya, menutupi rambut hitamnya yang bergelombang. Alia memang pernah bilang kalau ingin pakai jilbab. Dan baru hari ini terealisasi. Baru hari ini hatinya mantap mengenakan kain penutup aurat itu. Yah, walaupun itu masih jilbab kaos yang hanya sebatas bahu. Tapi, bukankah ini pertanda bagus? Aku senang saja melihatnya seperti itu.

“Mas Kizzy, udah belum?”

Aku langsung terlonjak kaget. Bah, gara-gara kamu sih, Al. Aku langsung menghitung mundur dari tiga, lantas memotretnya. Setelah selesai, ia segera menghampiriku.

“Udah? Coba liat.” Alia segera merebut kameraku dan mengamati fotonya. “Jiaaah … kaku banget.”

“Lho? Katanya mau dipake buat perpanjangan KTP. Yo ndak mungkin pake pose-lah. Lagian, kenapa ndak foto di kantor lurah aja sih?”

“Aku lebih suka hasil potretan Mas Kizzy.”

Ya ampun, ini anak…. Sejak kapan Alia jadi suka nge-gombal begini?

“Minggu lalu, Mas Kizzy ketemu Mas Adit ya? Ngomongin soal apa?”

“Kok tau, to?”

“Ya tau-lah. Aku selalu tahu apa pun yang disembunyiin Mas Adit.”

Aku cuma nyengir. Pelan, kuarahkan tanganku padanya, hendak mengusap kepalanya. Hanya seinchi. Ya, hanya tinggal berjarak seinchi, ia mundur perlahan. Tentu saja sambil tersenyum. “Maaf. Sekarang ndak bisa lagi. Aku pengen berubah, Mas.”

Aku mengerti. Ya, tentu saja aku paham. Meskipun aku tak mungkin memungkiri bahwa ada sedikit kekecewaan karena tak bisa lagi seperti dulu. Tentu saja. Memangnya siapa aku? Aku belum jadi suaminya. Aku hanya tersenyum kecut, lantas menghela napas sebentar. Sialan. Tidak bisa menyentuhnya lagi saja sudah membuatku seperti ini. Apa yang akan terjadi kalau aku melihat Alia disentuh lelaki lain? Apa aku bisa tahan?

“Ada apa, to? Kayaknya banyak pikiran.”

Aku langsung menggeleng cepat. “Ndak apa-apa, kok. Aku cuma mikir apa jadinya kalau bapakmu ndak bisa sabar lagi nunggu aku.”

Aku diam, kutelengkan kepalaku pada Alia. Ia juga diam, tampak menunduk. Aku tidak tahu apa yang saat ini sedang dipikirkannya, tapi aku tahu ada benang ruwet di kepalaku saat ini. Hanya Alia yang bisa mengurainya.

“Al, kalau bapakmu ndak bisa nunggu lagi, kamu gimana?”

Alia terdiam lama. Perlahan, ia menengadahkan kepalanya padaku. Pandangannya sayu. “Aku ndak mau jadi anak durhaka, Mas.”

Jawaban yang sudah bisa kuduga. Meski ada sedikit kekecewaan yang terbersit, yang segera saja kusingkirkan. Aku harus menghormati keputusannya. Aku tahu Alia dibesarkan di keluarga baik-baik. Alia bukan tipe pemberontak. Ia lebih suka menuruti kata orang tuanya meskipun harus menyakiti perasaannya. Aku tahu itu dari dulu. Aku juga tahu kalau dia akan jadi istri yang penurut dan setia, juga tidak menuntut banyak. Tapi, kenapa aku masih ragu? Aku menghela perlahan. Goblok! Ini seharusnya pilihan yang mudah dijawab. Antara kebebasanku, atau Alia? Tentu saja aku memilih Alia. Tentu saja, tapi…. Bah, kenapa selalu ada “tapi”, sih?

“Al, kalau aku punya kerjaan tetap, apa bapakmu mau diminta nunggu bentar lagi?”

“Maksud Mas Kizzy? Mas mau nerima tawaran kerja dari Mas Adit?”

Aku menoleh padanya. Aku belum bilang iya. Itu kan hanya pertanyaan. Tapi, melihat sorot mata penuh pengharapan itu, bagaimana aku bisa bilang tidak? Coba katakan. Bagaimana aku bisa bilang tidak?!

Akhirnya, aku mengangguk. Aku belum yakin benar. Tapi, Alia lebih berharga dari kebebasanku. Mungkin, suatu saat, aku akan merasa yakin. Ya, keyakinan belakanganlah. Yang penting, selamatkan dulu hubunganku dengan Alia. Setitik pengorbanan tak ada artinya dibandingkan kehilangan Alia. Apalagi, aku tak mau senyum manis itu jadi milik orang lain. Tidak, selama aku masih hidup. Akhirnya, aku pun tersenyum, mungkin karena tersihir senyumannya itu? Siapa tahu.

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer dansou
dansou at Dilema (7 years 42 weeks ago)
90

Kak Aocchi cowok ya? *brb kabur*. Tapi, anyway, ini PoV cowok yang bener-bener bagus. Bahkan saya sendiri enggak bisa bikin yang kayak gini >,<.
.
The most epic part:

Quote:
“Soalnya, hotspot di sini cepet banget.”

:D :D :D

Writer aocchi
aocchi at Dilema (7 years 42 weeks ago)

Saya CEWEK!! TITIK!! *nangis guling2*
*gigit Dan*
.
hahaha, demi bikin cerita ini, saya sampai nonton bolak-balik film-film indo yang tokoh2nya cowok, misalnya sembilan naga atau merah putih 1-3 (bukan buat dipelototin tampangnya, saya gak peduli tampang mereka, tapi buat saya pelototin akting mereka) ... saya juga melototin kalau ada cowok2 ngumpul, buat nyolong referensi cara ngomong mereka (meskipun hasilnya kayaknya agak maksa ya T_T)
.
masa' sih dikau gak bisa bikin kayak gini? dikau cowok kan, Dan? *kabuuuur*
.
kenapa bagian itu disebut most epic part? saya kan nyantumin itu cuma buat basa-basi aja buat mencairkan situasi yang tadinya tegang -____-a

Writer cat
cat at Dilema (7 years 42 weeks ago)
80

Aaaa Beceks CR1.

Ini yang termasuk Beceks fav ku.

Writer KD
KD at Dilema (7 years 43 weeks ago)
100

hmmm

Writer musthaf9
musthaf9 at Dilema (7 years 43 weeks ago)
90

hmm, menurut saya dilema kurang begitu kerasa sih. justru di bagian awal yg cukup kuat.
.
karakternya bagus, si Adit terasa banget njowo-nya :D
.
“Soalnya, hotspot di sini cepet banget.”
hwahahaha, saya ngakak pas mbaca bagian ini! :D

Writer aocchi
aocchi at Dilema (7 years 43 weeks ago)

hahaha, saya gak tahu harus pake judul apa lagi *plak*
memang gak terlalu dilema sih ya?
.
eeh? memangnya bagian itu bikin ngakak ya? <-- tanda2 urat humor saya bermasalah *pundung*
.
eniwei, makasih sudah mampir, mus XD