Champagne & Valet (4)

 

****Episode 4****

 

Cast :

 

Gemma Arterton as Grace Miller

 

Gabriel Macht as Rick Jerome Lancaster

 

Milo Ventimiglia as Ryan Zimmerman

 

************************************

 

(Chatlawn Landing, Mount Shakermill Island)

 

“Fletch?” aku baru saja pulang dari memancing ikan di sebuah danau yang ada di tenggara pulau kecil terpencil ini, ketika tidak menemukan siapapun di dalam pondok milik kakak tiriku itu.

“Fletcher!” aku mengulang memanggilnya, mungkin Fletcher berada di halaman belakang, atau memang belum pulang dari lahan gandum. Setiap pagi sampai siang, Fletcher diminta mengolah lahan gandum milik seorang kakek tua yang sudah lama tinggal di pulau ini. Tapi saat ini sudah lebih dari jam biasanya Fletcher pulang.

Ketika hendak menuju ke belakang, aku melihat ada yang ganjil di meja makan. Sepiring sphagetti yang masih mengepul panas, dan baru termakan sedikit. Fletcher tidak pernah meninggalkan makanannya, dia selalu menghabiskan makanannya sebelum melakukan hal lain. Dan gelas di sampingnya, dalam posisi tergeletak di atas meja, air putih masih tampak menetes dari permukaan atas meja ke lantai.

Aku mulai waspada, tanganku langsung mencabut Glock 23 dari pinggangku, mengacungkannya ke arah halaman belakang. Pelan-pelan aku melangkah. Suara sebuah benda terjatuh mengejutkanku. Suara itu datang dari arah lantai dua. Segera kunaiki tangga kayu yang hampir reyot itu pelan-pelan sambil masih terus siaga. Mungkin aku terlalu paranoid, mungkin itu Fletcher yang menjatuhkan sesuatu di kamarnya di lantai atas.

“Rick...” aku mendengar suara Fletcher pelan. Curiga, aku mempercepat langkahku menuju ke atas. Ketika sampai di atas, aku melihat Fletcher tergeletak di lantai. Aku langsung tersentak. Sudah seharusnya aku paranoid. Fletcher tertembak peluru di bagian dadanya.

“Fletch, siapa yang...” aku langsung menghampirinya.

Run, Rick! Run! Just... get... the hell out... from here!” ucap Fletcher patah-patah.

“Bertahanlah, Fletch, aku akan membawamu...”

Fletcher menggeleng-geleng, “I’m not... gonna make it, Rick...”

Keringat mulai mengucur di dahiku, aku tidak siap atas kejadian semacam ini. Aku tahu kejadian ini pasti cepat atau lambat akan terjadi. Tapi tidak begini. Tidak Fletcher. Jangan Fletcher.

“Tidak, tidak, kau pasti bisa. Look at me, Fletch! Damn it!” aku berusaha meraih tubuh Fletcher, aku berharap bisa membopongnya dan membawanya keluar dari pondok ini menuju ke rumah sakit kecil di pulau ini.

“Mereka... akan kembali... mereka... sepertinya mencari... di gudang... belakang...”

“Fletcher...”

“Aku... sudah berjanji... pada Mom... cepat... pergi dari sini bodoh!...”

Aku langsung membeku. Membisu karena mata Fletcher terpejam. Fletcher tak lagi bersuara ataupun bergerak.  And he’s not breathing anymore.

Dadaku terasa sesak, bercampur segala rasa sedih dan amarah. Aku terus mengutuk diriku sendiri. Aku yang menyebabkan semua ini. Aku yang membuat kekacauan tapi Fletcher yang harus menanggungnya. Sambil berucap dalam hati bahwa aku akan segera kembali pada Fletcher, segera aku menuruni tangga dan hampir saja berlari menuju ke gudang belakang, untung saja akal sehatku masih berjalan. Kutahan segala perasaanku dan berdiri di tembok dekat pintu belakang. Nafasku memburu, aku bersiap dengan pistolku, menunggu para keparat itu kembali dari belakang.

Ketika kudengar langkah kaki dari halaman belakang, aku segera beranjak menuju pintu, mulai menarik pelatuk pistolku dan menembaki dua orang lelaki yang kulihat. Satu orangnya botak, dan yang satunya lagi berambut cepak. Aku menembak mereka berdua membabi buta sambil terus mengumpat. Mereka tak sempat membalas satu tembakan-pun. Di tengah amarahku, aku melihat seorang lelaki lagi keluar dari gudang belakang, tempat kami menyimpan kayu-kayu dan barang-barang tua. Menyadari dua rekannya kuhabisi, dia berlari cepat setelah tembakannya ke arahku meleset. Dia terus berlari menuju balik pepohonan rimbun di belakang rumah. Melihat perawakan dan baju yang mereka kenakan, aku yakin mereka bukan anggota SIA. Mereka pasti anggota The Poison Bullets.

Aku mengejarnya, terus mengejarnya menerobos lebatnya hutan. Aku harus menemukannya dan menembaknya. Kepalaku masih penuh dengan Fletcher. Bagaimana aku harus mengatakan pada Mom tentang Fletcher? Aku benar-benar kalut. SIA sialan! Seandainya mereka yang lebih dulu menemukan persembunyianku di sini, maka tidak akan begini. Fletcher tidak akan... sialan!

Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan menghabisi semua keparat pembunuh Fletcher, seluruh anggota The Poison Bullets, tanpa sisa.

*-*-*-*

 

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

“Silakan, Miss,” Ryan memberikan kunci mobil padaku dengan senyumannya.

“Oh Ryan, kau pasti sangat bosan berurusan dengan mobilku,” aku tertawa kecil.

“Tidak, Miss. Saya sangat senang melakukannya.”

“Oh ya?”

“Anda pelanggan setia restoran ini. Dan tentu... tentu saja saya... akan melayani Anda... eh... mengurus mobil Anda dengan lebih baik, Miss.” Ryan tampak salah tingkah, entah kenapa, aku tak tahu.

Well, thank you, Ryan. Oh ya, panggil saja aku Grace,” aku berusaha untuk mengakrabi petugas valet itu. Kupikir tidak ada salahnya, sepertinya dia anak muda yang baik, dan aku sering bertemu dengannya. Menambah kenalan, tentu sah-sah saja.

“Ah, saya tidak mungkin memanggil pelanggan...”

Langsung kupotong kalimatnya, “Tidak apa-apa. Panggil saja aku Grace.”

Ryan tersenyum, “Umm... kalau boleh saya tahu, Anda berprofesi sebagai apa, Miss? Kok sering sekali datang ke restoran ini dan... tampaknya sibuk dengan klien-klien?”

“Aku seorang client service di RichTV, yah, menggaet klien adalah tugasku. Jadi, kau akan bosan sering melihatku datang ke sini, entah sampai kapan. Karena aku harus terus menerus merayu orang. Apa aku sudah terdengar cukup murahan?” ucapku sambil tertawa pahit, berharap aku bisa mendapatkan pekerjaan lain yang lebih menarik. Karena jujur, aku sudah bosan dengan pekerjaanku sekarang.

Ryan tersenyum tulus, “Tidak, Miss, umm, maaf, Grace. Kamu sama sekali tidak murahan. Justru aku yang lebih murahan, pekerjaanku hanyalah sebagai petugas valet parking.”

Aku melihat Ryan mulai tidak kaku lagi. Hmm, siapa tahu aku bisa berteman dengan anak muda itu.

“Ryan, kamu bisa mencoba mengendarai banyak jenis mobil lho. Apalagi kulihat seringkali ada mobil-mobil mewah datang ke sini. Kupikir itu menyenangkan. Dengar, jangan rendah diri seperti itu.”

Sekilas kulihat wajahnya merona. Oh, anak muda ini manis sekali. Dia bahkan tampak tersipu mendengar ucapanku barusan. Tampaknya dia benar-benar anak muda yang polos.

*-*-*-*

 

(Sundown Apartment, Plainhill, Richton Springs)

 

Wow, lihat diriku sekarang. Baru saja selesai mencuci tumpukan baju-baju kotorku yang tidak kucuci hampir seminggu dan kini tengah merapikan apartemen lusuhku yang sangat berantakan. Aku bahkan melakukannya sambil menyenandungkan lagu All About Loving You-nya Bon Jovi.

“... everytime I look at you, baby I see something new... that takes me higher than before... and makes me want you more...”

Aku mirip seperti laki-laki yang tengah dimabuk cinta. Aku menyanyikan lagu cinta! Apakah ini hal yang baik untukku? Atau malah membuatku terlihat menyedihkan?

Well, tampaknya aku harus mengakui, aku memang sedang jatuh cinta. Nama Grace Miller tak pernah berhenti mengisi otakku. Akhir-akhir ini dia makin sering datang ke restoran dan aku makin akrab dengannya. Meski hanya sebentar-sebentar tiap kali dia datang dan hendak pulang, namun obrolan-obrolan kecil di antara kami membuatku makin bersemangat untuk berangkat kerja.

Selesai merapikan apartemen, aku beranjak mendekati bak cuci piring. Di dalam bak itu sudah menumpuk piring-piring dan gelas-gelas kotor yang sejak kemarin belum kucuci. Masih bersenandung, aku memulai aktivitas cuci piringku di Minggu siang ini.

Sejenak aku berhenti, aku teringat pada detektif pendek bernama Brawner itu, dan perintahnya menugaskanku agar bisa lebih dekat dengan Grace. Untuk membuatku mengorek tentang mantan suaminya. Damn it! Bayangan detektif itu mengganggu khayalan indahku dengan Grace saja. Iya, aku memang makin akrab dengan wanita cantik itu, tapi, aku tidak mau dianggap dekat dengannya karena perintah polisi itu. Aku sungguh-sungguh ingin dekat dengannya, karena aku, yeah, jatuh cinta padanya. Aku tidak peduli dengan mantan suaminya. Kalau memang benar mantan suaminya berbahaya, well, aku ingin bisa melindunginya.

Suara dering ponsel membuatku terlonjak. Jangan-jangan detektif itu meneleponku. Sial! Dengan malas aku menghampiri ponselku yang tergeletak di atas meja depan TV. Aku menghela nafas lega. Ternyata Henry.

“Hey, ada apa?”

“Bro, Grace datang ke restoran. Kau tidak mau ke sini?” suara Henry terdengar bersemangat. Aku langsung terkejut.

“Grace? Tapi ini Minggu siang. Tidak biasanya dia...”

“Iya, aku tahu ini Minggu siang, lalu kenapa? Lagipula kau sedang libur. Cepatlah ke sini kalau kau ingin bertemu dengannya untuk pertama kali tanpa seragam valet konyolmu!”

“Hey, kau juga memakai seragam valet itu!”

Terdengar suara tawa yang singkat dari seberang, “Ye-yeah, I know! Sudahlah jangan banyak bicara! Kau mau ke sini tidak?”

Segera kututup sambungan telepon dari Henry dan bergegas mengganti kaosku.

*-*-*-*

 

(Coldmont Square Restaurant, Richton Springs)

 

Kecewa. Aku sangat-sangat kecewa. Bagaimana tidak, aku sudah meluangkan waktu liburku di hari Minggu ini untuk menemui pria tua bos perusahaan besar itu. Permintaan cerewetnya yang mengatakan terlalu sibuk di hari-hari biasa dan hanya bisa bertemu di hari Minggu sudah kuturuti. Dia memesan champagne mahal Cuvee Annamaria seharga $154, sudah kuturuti juga. Aku sudah menjelaskan semua hal yang dia tanyakan, meski pertanyaan-pertanyaannya begitu konyol. Tapi ujung-ujungnya dia menolak kerja sama yang kuajukan. Dasar pria tua menyebalkan!

Aku keluar dari restoran dan mendapati seorang petugas valet yang tadi memarkirkan mobilku. Dia siap menerima kartu parkir valet ku. Tapi dia tidak sendiri. Ryan ada bersamanya, tapi tidak mengenakan seragam valet seperti biasanya. Dia memakai kaos berwarna hitam, yang entah kenapa membuat anak muda manis itu menjadi terlihat makin menarik.

“Ryan?” sapaku.

“Hai, Grace.”

“Saya ambilkan mobilnya dulu, Miss,” petugas valet yang bersama Ryan menerima kartu parkirku dan meninggalkanku bersama Ryan.

“Bukannya kamu libur? Tadi temanmu bilang kau libur.”

“Iya, aku libur hari Minggu. Tadi... kebetulan lewat... dan ada perlu dengan Henry, temanku tadi. Oh iya, tidak biasanya kamu datang ke sini hari Minggu, siang pula?”

Aku menghela nafas kesal, teringat dengan gagalnya kontrak tadi, “Yeah, permintaan spesial.”

“Kamu tampaknya sedang kesal?” tanya Ryan. Aku melihat ekspresinya ketika bertanya, entah kenapa kulihat ada perhatian yang tidak dibuat-buat darinya.

“Hanya kontrak yang gagal. Not a big deal.”

“Oh, I’m sorry to hear it. Ada yang bisa kulakukan untuk... umm... mengembalikan mood-mu?”

Aku tertawa kecil, “Memangnya kamu mau melawak? Aku ingin tertawa, melupakan kekesalanku.”

“Aku tidak bisa melawak sih...” Ryan tertawa malu.

Aku berpikir sejenak. Entah kenapa ada ide gila muncul di kepalaku. Mungkin karena faktor kecewa, kesal, dan champagne yang membuat pikiranku memunculkan ide itu.

“Kamu sungguh mau membantuku, Ryan?” tanyaku.

Anything,” jawab Ryan langsung tanpa berpikir. Sejenak aku merasa terkejut dengan tanggapannya. Namun aku mencoba tidak ambil pusing. Segera kukemukakan ide gila itu.

“Kamu libur kan? Mau menemani aku jalan-jalan? Mungkin kamu tahu tempat-tempat bagus di Richton yang aku belum pernah tahu?”

Ryan tampak terkejut sejenak, sebelum kemudian salah tingkah (yang seringkali kulihat tiap kali bicara denganku), berpikir sebentar, lalu menjawab, “Aku mau.”

 

(to be continued)

Read previous post:  
59
points
(2864 words) posted by dansou 8 years 4 weeks ago
84.2857
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | drama | domestic drama | mini series
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer zachira
zachira at Champagne & Valet (4) (7 years 40 weeks ago)
80

Masih lanjut kan ini ceritanya?

karena style penceritaannya lebih ke style cerita terjemahan, beberapa dialog aku nangkap ada tambahan 'loh', 'sih', 'kok'. yang mana imbuhan itu agak nggak biasa.

dan beberapa pemakaian kata 'kamu' bukannya 'kau' seperti di part2 sebelumnya.

selain itu seperti biasanya aku suka ceritanya,
*buruan dong lanjut*

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 39 weeks ago)

semoga masih lanjut wkwkwkkw blm ada ilham...
oh gitu ya? baiklah, nanti kuperbaiki di seri selanjutnya *kalau ada ilham* wkwkwk..
thanks sudah maraton cerita ini... :D

Writer dede
dede at Champagne & Valet (4) (7 years 42 weeks ago)
100

aiihhhh....
aio lanjut...!!

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 42 weeks ago)

ayo, lanjutkanlah dede... (loh?) wkwkwkwk...
bantulah saya melanjutkannya hehehehehe

Writer KD
KD at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)
100

hmmm

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

hmm juga

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)
90

Ak nda mampu jd partner mu kak lav.. ini setting yg nda ak kuasai.. nanti malah jadi berantakan di tangankuuu.. kak cat nampaknya bisa diangkat jd partner, karena dy menguasai byk genre. xixixiiixixii

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

ayolaaahhh ini bukan masalah setting... kan settingnya fiksi... ini hanya drama biasa seperti drama2 lain. pleaaaseeeee... mbak catz menolakku huhuhuhuhuhu, dirimu saja ya yang jadi temen mainku... oke oke... wkwkwkkwkwkwk..

Writer cat
cat at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)
80

Lanjuuuuuuut. Lanjuuuuuuuuuuut.

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

ah mbak catz ga mau maen denganku T_T

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)
20

Hmm...Fletcher...kenapa jadi inget ama Mundungus Fletcher ya? Hihihi

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

sorry to tell you that it's different, n it's not fantasy ^^

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

HA.HA.HA....

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)
80

Sepertinya harus ngulang baca dari awal nih -.-a
bagian cerita Mil... maksudnya Ryan dan Grace bisa saya tangkap
tapi bagian Rick dan tembak2-an segala itu saya miss sama sekali
eheheh...

Writer lavender
lavender at Champagne & Valet (4) (7 years 43 weeks ago)

dipanggil Milo juga nggak apa-apa, june... wkwkwkwk...
mungkin karena Rick nya selama ini belum ada scene hubungan dengan 2 karakter lain kali ya,jadi ga memorable dan ngepost terakhir sekitar agustus, aku aja udah lupa-lupa ingat... wkwkwkwkw..