Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9)

Cherry…

Kegalauan yang dirasakan di dalam hatinya pada sikap Tristan yang masih saja pura-pura bodoh atas perasaannya, membuat Cherry, sejak berlalu dari klinik dr. Talitha dan akhirnya duduk di sudut kantin, melamun dan tanpa sadar hanya membolak-balik halaman majalah di hadapannya, pikirannya mengembara. Tak dipedulikannya beberapa guru lain yang datang ke kantin dan menyapanya. Tapi guru-guru itu bisa memaklumi ketika Cherry membalas sapaan mereka dengan senyum yang kering. Mungkin ia sedang patah hati, atau mungkin Tristan telah menolak cinta gadis cantik dan manis itu.

Semua orang sudah tahu. Mereka tahu, dari perlakuan dan perhatian, tingkah dan sikap Cherry terhadap Tristan tampak begitu jelas di mata mereka. Bahkan keduanya sering menjadi bahan pembicaraan di ruang guru, tentu tanpa mereka berdua mengetahui hal itu. Meskipun mereka hanya bisa menduga-duga tentang hubungan diantara keduanya. Namun sikap Tristan yang tampak biasa saja terhadap Cherry, sama seperti sikap Tristan terhadap guru-guru lain, kadang menimbulkan tanya di pikiran mereka. Cherry – dalam pandangan mereka – adalah guru muda Sunshine School yang paling cantik. Tak ada yang meragukan itu. Agak aneh jika Tristan tak tertarik pada Cherry ataupun menolak cinta Cherry, dan telah membuat gadis itu duduk diam sendiri di kantin dan melamun seperti sekarang ini. Pada akhirnya, dugaan-dugaan mereka itu hanya menemukan sebuah ruang kosong tanpa jawaban yang pasti.

Cherry menutup majalah di hadapannya, pikirannya sibuk membandingkan dirinya dengan Mama Nathan, Joanna. Di mana letak istimewa di dalam perempuan itu. Pesona apa kiranya yang dimiliki Joanna hingga Tristan tak menginginkan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan di pikirannya itu tak mampu ia temukan jawabannya. Mungkin jawaban itu bisa didapatkan andai saja ia bertanya pada Tristan. Tapi, tak mungkin Cherry mau melakukan hal itu, karena itu akan sangat memalukan.

***

Tristan melangkah keluar dari klinik sambil sesekali masih menoleh ke arah pintu klinik, berharap ada seseorang, entah dr. Talitha atau Joanna, memanggilnya untuk kembali ke ruangan itu.

Tak ada yang lebih mengkhawatirkan di hati Tristan mengetahui bahwa Nathan sakit dan ada kemungkinan beberapa hari ke depan tidak akan masuk sekolah, dengan begitu ia tak bisa bertemu dengan wanita pujaannya, Joanna. Rasa rindu yang mungkin akan membuncah jika benar begitu adanya yang akan terjadi.

Tapi ada suatu hal lain yang mengganggu di dalam benaknya sekarang ini. Peristiwa yang baru saja terjadi di klinik dr. Talitha menyisakan pertanyaan-pertanyaan di dalam diri Tristan.

Perihal tingkah aneh Adam ketika melihat Nathan, Joanna yang mendadak menangis ketika Adam mendekati Nathan yang terbaring di ranjang klinik, dan ekspresi wajah Adam ketika pergi begitu saja setelah memandangi Nathan.

“Adakah sesuatu telah terjadi, dan aku tidak tahu apa itu?” batin Tristan bertanya. “Apakah ada sesuatu di masa lalu kakak angkatku itu yang tak kuketahui?” batinnya kembali bertanya.

Tristan tahu, sejak dulu, sejak mereka bertemu kembali setelah sekian lama terpisah dari panti asuhan, Adam tak terlalu suka menceritakan kehidupan cintanya pada Tristan dan Tristan juga tak ambil pusing akan hal itu, toh setiap orang memiliki hal-hal yang ingin disimpan untuk dirinya sendiri.

Tapi kemudian Tristan ingat, Adam pernah bercerita tentang seorang wanita bernama Anna yang menurut Adam sangat istimewa di hati Adam. Mungkinkah itu Joanna? Batin Tristan terusik lagi.

Dan Joanna…

Tristan bisa merasakan pula sikap yang aneh pada Joanna, seperti ketika tak sengaja melihat foto Tristan dan Adam, juga reaksi Joanna setelah mencuri lihat pesan Adam di YM Tristan. Tristan masih bertanya-tanya. “Pasti ada sesuatu diantara mereka, tapi aku tak tahu apa dan bagaimana hal itu mungkin terjadi,” batin Tristan. Tapi, seperti apa sesuatu itu, Tristan tak berani membayangkannya lebih jauh.

Mendadak Tristan ingat tentang keberadaan Cherry di klinik dr. Talitha sesaat lalu. Ada apa ia mencariku? Batin Tristan bertanya.

Sekolah sudah agak sepi. Tristan memasuki kantor. Masih ada beberapa guru yang sedang sibuk menulis laporan kegiatan untuk hari ini. Diamatinya seluruh ruangan, Cherry tak ada di sana. Tristan berbalik bermaksud mencari Cherry di tempat lain, ia melangkah keluar dan berpapasan dengan seorang guru.

“Lihat Cherry nggak?” tanya Tristan pada guru itu.

“Oh, itu pacarmu lagi ngelamun di kantin. Kalau pacaran itu ya jangan bertengkar terus gitu dong Tan, diperhatiin dikit dianya,” kata guru itu menggoda Tristan.

“Eh?” mendengar itu Tristan hanya bisa nyengir saja, tak berusaha membantah atau membenarkan. Karena jika ia membantah, ia akan terus digoda. Sikapnya yang agak pendiam dan sederhana, mengisyaratkan kepribadiannya yang lugu sering menjadi sasaran canda sesama guru.

***

Cherry belum menyuapkan sesendok makananpun ke mulutnya sejak makanan itu dipesannya. Ia hanya memainkan sendoknya di atas piring mengaduk-aduk makanan itu.

“Cher?” sebuah suara dan tepukan di pundaknya membuat Cherry sedikit kaget, membuyarkan semua pikiran di dalam lamunannya. Cherry hanya menoleh sebentar ke arah pemilik suara, untuk kemudian berpura-pura tidak peduli dan kembali sibuk dengan makanannya. Meskipun sebenarnya, hati Cherry gembira Tristan mendatanginya.

Tristan duduk di kursi berhadapan dengan Cherry. “Tadi ada apa mencariku?” tanya Tristan.

“Nggak jadi,” jawab Cherry singkat.

“Kok nggak jadi, tapi tadi sepertinya penting sampai kamu menyusulku ke klinik?”

“Memangnya nggak boleh aku nggak jadi berkepentingan sama kamu???” Cherry malah berbalik tanya dengan ketus.

“Kamu marah sama aku? Kenapa?” tanya Tristan yang tak bisa memahami sikap Cherry.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Cherry hanya diam saja. Sebenarnya dia juga merasa bingung dengan sikapnya sendiri. Padahal seharusnya, kesempatan seperti ini bisa ia gunakan untuk mengalihkan hati Tristan kepada dirinya dari Joanna, setidaknya mencoba mengorek hati Tristan lebih jauh.

“Ehm,” Cherry berdehem, “Memangnya si Nathan itu kenapa?” lanjut Cherry berusaha mencairkan suasana yang – baginya – menjadi canggung.

“Aku nggak tahu, aku juga tadi kan ikut keluar sebelum tahu Nathan sakit apa,” jawab Tristan. “Tapi aku khawatir sama anak itu, semoga saja nggak apa-apa, jadi besok dia masih bisa berangkat sekolah seperti biasa.”

“Khawatir sama anaknya atau ibunya?” sindir Cherry.

***

"Kamu nggak usah berangkat dulu, sayang, biar sembuh dulu," pinta Joanna pada Nathan yang memaksa mamanya mengantarkan dirinya ke sekolah sore itu.

"Nggak bisa gitu, Ma, Nathan harus jadi kucing dan nyanyi," Nathan bersikeras.

"Mama tahu, sayang, tapi Teacher Tristan pasti bisa maklum kalau kamu nggak datang, kan kamu masih belum sembuh betul. Mama nggak mau kamu tambah sakit. Ya? Nanti mama telpon Teacher Tristan," Joanna masih berusaha membujuk putra semata wayangnya itu.

"Nggak mau," Nathan berseru dan duduk di sofa dengan menyilangkan kedua tangan di dadanya, ia memasang wajah cemberut. Sebagai isyarat ke mamanya kalau dia marah.

Joanna merasa serba salah menghadapi keinginan Nathan. Ia tak ingin melihat putranya itu kecewa, tapi ia juga tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Nathan. Dilema menyerang hatinya. Di saat seperti inilah Joanna merasa bahwa seharusnya ada seorang figur ayah untuk menaklukkan Nathan.

Akhirnya Joanna mengalah dan meluluskan permintaan Nathan. Dan meskipun hatinya cemas, melihat senyum ceria Nathan ketika ia mengajaknya berangkat ke sekolah, Joanna merasa sedikit terhibur.

***

Joanna beruntung, keputusannya mengajak Mama Dhana, yang menjadi seksi konsumsi dibawah koordinasinya, saat memesan katering untuk acara malam pagelaran Sunshine School beberapa hari lalu sekarang membawa manfaat. Joanna meminta Mama Dhana mengambil tempatnya sebagai koordinator konsumsi, karena Mama Dhana mengetahui segala detailnya, dan juga karena Joanna tidak ingin meninggalkan Nathan yang masih dalam masa penyembuhan begitu saja tanpa pengawasan. Mungkin Joanna tak akan khawatir andai saja Nathan dalam keadaan sehat.

“…dan sekarang kita sambut penampilan dari gabungan anak anak playgroup Strawberry dan TK Sun Flower,” Tristan yang menjadi MC acara itu berusaha untuk setenang mungkin di atas panggung, di hadapan para orangtua murid, dan tentu saja di hadapan wanita pujaannya.

Wajah Joanna tak lagi terihat cemas seperti satu jam yang lalu ketika dilihatnya Nathan naik ke atas panggung dengan gembira bersama anak-anak lainnya.

Naik ke atas panggung, Cherry mengarahkan dan menata posisi anak-anak kecil itu. Sesekali matanya melirik ke arah Tristan yang berdiri di sebelah belakang panggung dan sedang menikmati sebuah wajah yang ada di barisan penonton.

Dari koridor sekolah yang menghadap ke arah panggung, Adam berdiri menyilangkan kedua tangan di dadanya, dan bersandar di pilarnya. Ada rasa rindu di hatinya untuk melihat lagi lelaki kecil yang ada di klinik waktu itu, yang sekarang ada di atas panggung. Sebuah rasa yang tak bisa ia kendalikan dan menuntunnya untuk datang di sini.

Padahal beberapa jam lalu ia berencana untuk mengajak Tristan pergi ke cafe untuk sekedar ngobrol. Tapi ternyata Tristan tidak bisa menerima ajakannya karena di tempatnya mengajar ada acara, anak-anak didiknya ikut serta dan Tristan harus stand by di sana. Bukankah bocah kecil bernama Nathan itu murid Tristan?

Senyum kecil menghias wajah Adam menyaksikan putranya, anak yang tak diakuinya itu menari dan menyanyi dengan gembira bersama teman-temannya.

Bruuuggg!!

Barisan anak-anak yang menyanyi dan menari menjadi kacau, musik terhenti. Sejenak senyap.

Joanna hanya bisa membekap mulut dengan kedua tangannya dan berdiri menyaksikan salah satu bocah terjatuh dan pingsan di atas panggung. Tristan bergegas menghampiri bocah yang tergeletak itu setelah ia meletakkan mic yang dari tadi masih ia pegangi. Bersamaan dengan Adam yang berlari dan meloncat naik ke atas panggung. Cherry berdiri di belakang dan mengatur anak-anak lain agar mundur.

Adam merasakan sesak di dadanya saat menyangga kepala bocah berkepala botak itu. Diangkatnya bocah itu. “Sofa di kantor guru,” Tristan menunjuk ke arah kantor sebelum Adam sempat bertanya. Adam yang begitu mendengar itu langsung turun dari panggung menuju kantor. Tristan dan Joanna mengikutinya.

***

Read previous post:  
108
points
(1356 words) posted by IreneFaye 7 years 43 weeks ago
83.0769
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  
Writer H.Lind
H.Lind at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 42 weeks ago)
90

Maap telat ngomen. Seperti yang sudah dibilang bagian ini menceritakan lagi orientasi dari semua pihak. Paling suka dengan percakapan Tristan dan Cherry. :D
*berharap ga kacauin cerfet ini* :P

Writer KD
KD at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)
100

hmmm

Writer RIf
RIf at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)
100

:D

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

sengkyu..
^^

100

cerita ini sudah berlanjut ke jalan yang lurus. :D

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

syukurlah kalo memang begitu..
^^

dadun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)
100

dibuka dengan sebuah kalimat yg -agak sangat- panjang, tapi wow.
aku suka bagian Cherry-Tristan. aaah unyu! apalagi waktu Cherry nanya, "khawatir sama anaknya apa sama ibunya?"
.
terus, soal penyakit Nathan, bukankah sebelumnya udah disebut penyakit Nathan itu... cacar? eh, atau campak? atau...? hm... tapi majnun memberi semacam petunjuk pada pembaca bahwa Nathan mengalami penyakit yg agak serius.
.
part ini menghidupkan kembali semua karakter, dan semakin membikin menarik estafet ini.
.
next, juno. *gasabar*

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

sengkyu kang dadun..
*
nha itu, penyakitnya nathan biar di explore sama penulis selanjutnya aja..

100

Like this!!!!

Hayo si Nathan sakit apa ini?
xixixixi

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

terserah sama penulis selanjutnya mbak..
gak berani terlalu jauh saia nya..

like this too lah pokoknya..
^^
sengkyu..

100

Majnun, sorry to say, but INI KEREN.
Gila, kau merangkum semua part jadi satu dalam ceritamu.
.
Dan yg paling keren itu ada di bagian ini:
.
Tristan tahu, sejak dulu, sejak mereka bertemu kembali setelah sekian lama terpisah dari panti asuhan, Adam tak terlalu suka menceritakan kehidupan cintanya pada Tristan dan Tristan juga tak ambil pusing akan hal itu, toh setiap orang memiliki hal-hal yang ingin disimpan untuk dirinya sendiri.

Tapi kemudian Tristan ingat, Adam pernah bercerita tentang seorang wanita bernama Anna yang menurut Adam sangat istimewa di hati Adam. Mungkinkah itu Joanna? Batin Tristan terusik lagi.

Dan Joanna…

Tristan bisa merasakan pula sikap yang aneh pada Joanna, seperti ketika tak sengaja melihat foto Tristan dan Adam, juga ketika reaksi Joanna setelah mencuri lihat pesan Adam di YM Tristan. Tristan masih bertanya-tanya. “Pasti ada sesuatu diantara mereka, tapi aku tak tahu apa dan bagaimana hal itu mungkin terjadi,” batin Tristan. Tapi, seperti apa sesuatu itu, Tristan tak berani membayangkannya lebih jauh.
.
Paragraf2 itu menjelaskan nyaris dari inti keseluruhan konflik cerita yg diangkat.
.
Memang ada beberapa typo, tapi kurasa gak terlalu signifikan.
.
Ah, i lop u pulllll...
.
Lanjudkan, Master JUno.. :p

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

..^^..
tapi sepertinya majnun itu memang gila..
hehe..
*
btw itu tag nya udah saia betulin, udah bisa belum ya..?

eniwei, maap mengganggu lagi, Master Majnun, tapi nanti tag untuk cerita part 9 mu ini, dipisah ya.. soalnya ketika diklik tag "CERFET", part 9-mu nda muncul majnun, karena kegabung sama cerfet;kolaborasi;romantis..
makasiiii om Majnun.. Permisi...

maksudnya flow, itu antar tag dipisahnya bukan dengan tanda (;) tapi pake tanda (,) jadi kepisah

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

udah mbakyu..

Writer cat
cat at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)
100

Yup. Nathan botak.

Majnun top

Aku suka Cherrynya diceritakan dengan baik.

Lalu tristan dan joannanya porsinya pas.

Dokter Thalitanya juga.

Lalu Adam dengan reaksinya saat Nathan jatuh.

Selanjutnyaaaaa.

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

sengkyu mbak..
tapi mbak catz lebih top ah..
^^

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)
90

waw keren...saya suka cara deskripsi dan alur ceritanya di sini.

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

sengkyu..

2550

waaa! ^0^ saya kmarin baru selesai baca semua episodenya!
aliran airnya bagus di sini, saya suka, terutama Cherrynya saya banget!
btw, si Nathan sebenernya sakit apa sih???

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

sakitnya tergantung sama yang nulis setelah saia..
hehe..
^^v

sengkyu..

100

love it...
ada typo tapi lupa.. hehehehe..

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

udah ta' coba cek ulang, perbaikan di sini n di sana, tapi kalo masi ada yang meleset (typo ato sesuatu yang janggal), muhunlah saia ditunjukkan..

90

Nathan botak ya? O-O
lanjut ^^

Writer majnun
majnun at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 9) (7 years 43 weeks ago)

yang saia baca dari sebelumnya, sepertinya begitu..

sengkyu..
^^