Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 15)

 

TIDAK! Seakan hanya kata tersebut yang bisa melukiskan perasaan Tristan saat itu. Hatinya remuk mendapatkan kenyataan yang diberitakan oleh Cherry. Ia terus menerus memandangi ke bawah.

“Tan…,” panggil Cherry perlahan sembari memegang pundak Tristan. Berusaha menghibur pujaan hatinya atas dusta yang dikatakannya.

“Maaf Cher, tolong tinggalkan aku…,” pinta Tristan memohon. Dia sudah tidak peduli apabila Cherry mencurigai gelagatnya. Hatinya terlanjur pedih, sakit.

“Tapi…,” ragu menyusup dalam hati Cherry. Selalu, ia selalu ingin menjadi wanita paling dekat untuk Tristan, apalagi inilah kesempatan untuk berusaha meraih hatinya. Sudah terlalu lama penantian itu, meskipun ia tidak pernah merajut lelah. “Kamu tidak apa-apa?” lanjutnya.

“Tidak. Aku baik-baik saja!” Jawab Tristan, merasa sedikit risih.

“Tapi Tan, kamu tidak terlihat baik-baik saja.” Protes Cherry lagi, masih tak ingin beranjak dari tempatnya.

“Tolong CHER!” pinta Tristan, sedikit membentak. Ia menopang tubuh dengan memegang tiang yang berada di dekatnya.

“TRISTAN!” tidak sadar Cherry membalas bentakan Tristan. Ia tidak tahan diperlakukan seperti itu. Bahkan saat belahan jiwanya terguncang, tidak sudikah Tristan menerimanya meskipun hanya sekedar menemani?

Tristan menoleh, tercengang. “Cher?”

“A-aku hanya ingin menemanimu… Tidak bolehkah?” getaran dalam suara Cherry sarat dengan tangis yang semakin membuncah, melukiskan kesakitan dalam hati.

“Maaf,” kata Tristan perlahan. “Aku tidak bermaksud…-“

“Sudahlah! Tidak perlu ada maaf… tidak ada yang salah…,” Cherry menepiskan tangan Tristan yang baru saja hampir tiba di pundaknya. Ia berlari menjauh.

Cherry merasa sangat pedih. Tersinggung. Bahkan Tristan tidak menginginkan keberadaannya di saat terburuk pun. TIDAK ADIL! Aku tidak pernah meminta kebahagiaanku darimu saat itu kemudian menjadi milik orang lain. Tetapi bahkan tidak tersisa ruang di saat terburukmu? Di saat kamu butuh seorang pelipur lara? Meskipun sebuah cinta yang jujur dari hati harus berubah nista dalam kedustaan, semua hanya agar memiliki cintamu, Tristan! Jerit Cherry dalam hati.

 

^^

 

“Mama…,” ada kecemasan bersinar dari mata si malaikat kecil melihat mamanya bersama seorang pria dalam balutan tangis yang masih tersisa.

“Mama kenapa?” tanya Nathan lagi, ingin memastikan keadaan mamanya.

Joanna hanya menggeleng namun Adam segera menjawab pertanyaan buah hatinya, “Matanya mama Nathan tadi kelilipan, makanya keluar banyak air mata…,” dusta Adam Klise.

“Masih sakit mama?” tanya Nathan mendekati mamanya sembari menggapai-gapaikan tangan mungilnya ke arah mama seperti yang sering dilakukan mamanya.

“Biar Nathan tiupin yah, ma..,” kata Nathan kecil sambil bersiap memonyong-monyongkan mulutnya. Sikap jenaka Nathan segera saja mengulas tawa Joanna dan Adam.  Segera saja mereka menahan tawanya agar Nathan tidak tersinggung. Dan Joanna memberikan matanya untuk ditiup Nathan.

“Makasih yah Nathan…” ucap Joanna sembari memeluk hangat buah hatinya.

Ada perasaan hangat merasuki perasaan kedua orang dewasa itu. Seorang anak kecil yang perhatian dalam kepolosannya, menunjukkan cinta kepada ibunya. Nathan mengajarkan sebentuk cinta polos yang tak ternodai, bukan seperti cinta mereka yang berbekas luka. Noda sebuah pengkhianatan.

Berkat Nathan, Joanna disadarkan kembali akan cinta yang bernoda. Seharusnya ia tidak terhanyut dalam gelayut mesra mantan kekasihnya. Ia menepis secara sopan pegangan pundak Adam. “Maaf, silakan duduk…,” katanya bersikap lebih sopan.

“Nah, Nathan… panggil Om Adam dulu…,” perintahnya kepada Nathan yang baru saja melepaskan pelukan mamanya.

Om Adam… DEG! Seperti ditikam sembilu, diguyur air es, dan dipukul dengan palu. Adam disadarkan dari mimpinya, mimpi untuk menebus semua perbuatan buruknya. Mimpi untuk meraih kembali kekasihnya. Dan mimpi untuk mendapatkan panggilan papa dari anak kandungnya.

“Om Adam…,” sapa Nathan menggemaskan.

Adam hanya membalas sapaan Nathan dengan tersenyum, senyum hambar. Nathan tidak peduli, ia melenggang pergi – sibuk dengan mainannya.

Joanna memperhatikan sesaat tingkah putranya sebelum akhirnya mendapati tatapan perih Adam saat mengamati buah hatinya. Adam memang bukan Tristan, tidak akan disambut hangat oleh Nathan – DEG! kenapa kubandingkan dengan Tristan? Joanna menggeleng-geleng sendiri, menepiskan bayangan guru muda itu. Tristan yang disukai Nathan, dan Tristan yang dengan mudah membujuk Nathan padahal dirinya saja sempat kebingungan untuk membujuk Nathan agar bersedia pergi ke Rumah Sakit.

“Jadi, buat apa kamu ke sini?” tanya Joanna sedingin mungkin, bukan saja untuk menegaskan tetapi juga sesegera mungkin mengusir bayangan Adam dari lubuk hatinya.

 

^^

 

“Mungkin aku sudah keterlaluan…,” gumam Tristan setelah ditinggal Cherry. “Dia hanya ingin menghiburku, tetapi aku malah membentaknya!”

Tristan memainkan lagi rambutnya untuk mengurangi kebingungannya. Selalu saja hal itu yang dilakukannya apabila ia sedang gelisah. Di satu sisi, dia marah kepada sikap Adam yang tidak tahu malu atau kepada dirinya sendiri? Karena mencintai seorang ibu muda yang telah memiliki anak dan ternyata kakak angkat yang dikagumi itu yang menjadi ayah biologisnya. Di lain sisi, ia merasa bersalah telah bersikap kasar kepada Cherry yang tidak tahu apa-apa. Membentaknya. Kemana dirinya yang selalu sabar? Tenang? Rasanya ia ingin berteriak.

“Ergh!!” erangnya perlahan, menahan emosi yang membuncah di dadanya. Jalan terbaik buatnya saat ini adalah pulang ke rumah.

Ia mengayunkan langkahnya secepat mungkin untuk menuju motornya. Menghidupkan dan segera menderu meninggalkan tempat itu diiringi sepasang mata penuh harapan.

Cherry berdiri dibalik dinding, memperhatikan kepergian Tristan. Air matanya sudah berada dipelupuk. Sebelumnya ia mengira Tristan akan mencarinya dan meminta maaf atas perlakuan kasarnya. Tetapi sekarang? Tristan malah pergi meninggalkan sekolah. Kemana kah dia pergi? Ke rumah Nathan kah? Tidak… tidakk… bagaimana mungkin? Aku hanya berprasangka buruk. Batin Cherry.

“Tan… aku tidak akan menyerah!!! Akan kurebut cintamu untukku, tak akan kubiarkan penantianku sia-sia!” ucapnya yakin.

Meskipun harus berbalut dusta! Batin Cherry menambahkan.

^^

 

 

Read previous post:  
116
points
(1414 words) posted by jayhawkerz 7 years 50 weeks ago
77.3333
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | kolaborasi | Romantis
Read next post:  

Berarti ada gumaman Cherry yang perlu diperbaiki... :)

yang dipake yang ini... sile buat om dudun.. :p

Writer bl09on
bl09on at Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 15) (7 years 49 weeks ago)
80

sudah banyak masukan, saya sudah baca tunggu bagian revisinya kalau begitu, Tante..

maaf, aku harus mengembalikan karakter mereka :) aku lagi revisi.. ditunggu saja.

80

waduh saya nggak nyangka kalo di cerita sebelumnya dia sangat-sangat lunak kayak bandeng presto mendadak berubah lagi.. aduuuuuuuuuuuuh galau kayaknya T^T

hahaha... makasi masukannya *peluk*
untuk adegan Joanna dan Adam, di part sebelumnya menjelaskan Joanna malah memperat pelukannya kepada Adam. itu yang membuatku bingung bagaimana harus melanjutkan ceritanya. padahal kita tahu dari awal Joanna sakit hati terus ma Adam. makanya di part ini aku berusaha mengembalikan keadaan menjadi semula. sebenarnya ada adegan dia membimbing Joanna masuk, tapi kekna kehapus ma saia tanpa sadar. :p
untuk adegan Cherry, aku berusaha membuat sewajar mungkin, tapi masi ga wajar yaq? kekna perlu diubah bagian itu.

terus aku mencoba mengikuti ritme part sebelumnya. soalnya Cherry nya bohong dan di part 13 juga kayaknya menggambarkan Cherry ingin mencari rahasia seseorang yang bisa secara tidak langsung menjadi ancaman untuk seseorang. jadi aku menangkap si Cherry kemudian malah berubah menjadi tokoh antagonis.

jadi sepertinya perlu revisi... minta waktu :D

60

Selamat pagi, Lily. :) :) Mohon maaf sebelumnya,kurasa komenku kali ini akan sedikit berlumur cabe. Dengan segala hormat, tidak ada niat menggurui, hanya saja mari kita belajar menulis bersama2 menjadi lebih baik dari sebelumnya.. xixixixi :) :)
Berikut adalah pendapat saya atas part 15 ini:
.
Pertama, yg ingin sy komentari sudah diwakili oleh kak Lavender. Sepertinya kalimat memandangi ke bawah itu lebih baik jika di tulis memandang ke bawah. :)
.
Kedua,adegan Tristan dan Cherry terasa tidak natural. Percakapan kedua tokoh ini -maaf- agak klise. Adegan bentak membentak itu, kurasa kurang pas. Apalagi setelah itu Cherry sakit hati dan berlari meninggalkan Tristan, setelah itu kamu sisipkan gumaman batin Cher. Errrr-sy merasa akan lebih baik jika gumaman atau jeritan batin Cher itu dimodifikasi menjadi bentuk narasi saja. Buat kalimat2 kuat yang menjelaskan adegan betapa sakitnya hati Cher menyadari bahwa Tristan tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang dimiliki Cher. Kesedihan yang dirasakan pembaca atas sesuatu yang sedang dialami tokoh dalam cerita bukan melulu harus disampaikan dalam bentuk gumaman dan jeritan batin saja loh :) Km bisa membangunnya dengan membuat situasi yang mendukung, percakapan yang sederhana namun bermakna dalam.
.
Ketiga, bagian Adam- Joanna. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, Adam meninggalkan - bahasa kasarnya, membuang- Joanna, ketika dia tahu Joanna hamil. Kalau aku jadi Joanna, aku gag akan membiarkan laki2 gag tau diri seperti itu masuk ke dalam rumahku dan mempersilahkannya duduk. Dan terlebih lagi gag akan memperkenalkannya baik2 kepada anakku. Seandainya Nathan melihatpun, ak akan bilang, Adam itu bukan siapa2. Atau melanjutkan scene dari part 14, ketika Adam mengatakan bahwa dia merindukan "anak kita", ak akan meninggalkan Adam dengan sinis di depan rumah, dan masuk tanpa menoleh lagi, setelah sebelumnya berkata, "Dia bukan anakmu. Detik sejak kamu memutuskan untuk meninggalkan kami begitu saja, Nathan adalah anakku. Bukan anakmu. Dan sampai kapanpun, tidak akan pernah menjadi anakmu." Lalu kutinggalkan saja Adam tergugu sendirian seperti orang bodoh yang meratapi penyesalannya di depan sana. Seandainya pun aku sedih, aku akan menangis di balik pintu. Nggak akan kubiarkan Adam melihatku menangis di depannya. BUkan cuma laki2 yang bisa kuat, wanita bahkan bisa lebih tegar dari itu... xixixixixiixi..
.
Keempat. Adegan penutup. Sejujurnya ak kurang sreg dengan ucapan yang dilontarkan Cher dibagian akhir, yaitu pada bagian ini:
“Tan… aku tidak akan menyerah!!! Akan kurebut cintamu untukku, tak akan kubiarkan penantianku sia-sia!” ucapnya yakin.
ummm, IMO, kurasa kalimat ini lebih baik tidak diucapkan. Karena mungkin dsinilah letaknya sinetroniah. :) Mungkin, seperti komen di awal, akan lebih baik jika ucapan Cher ini dimodifikasi kedalam bentuk narasi yang dalam dan bermakna, sehingga dapat menyampaikan pesan kepada pembaca, betapa sedihnya Cherry atas perasaannya pada Tristan.... :) :)
.
Demikianlah Lily, kecerewetan saia di pagi ini. MOhon maaf yang sebesar2nya ya kalau ada kata yg tidak berkenan. Semoga kita sama2 bisa belajar menulis menjadi lebih baik dari sebelumnya, karena sy sendiri juga masih harus banyak belajar. Terima kasih dan tetep semangat!! :) :)

ini seperti bikin cerpen di lapak "komentar" hahahah panjang beneeerrr!!!

100

Ia terus menerus memandangi ke bawah. --> kalimatnya agak ada yang kurang pas gitu, tante... mungkin klo Ia terus menerus memandang ke bawah, lebih pas gitu... hehe maapkan kecerewetan saya..
*
soal gumaman atau ucapan Cherry memang terasa sinetron jadinya tante, terlalu banyak gituh, mungkin dikurangin gituh di beberapa bagian.. hehe maapkan kecerewetan saya lagi...

80

Hum... kalo nggak salah, setting adegan Adam-Joanna di cerita sebelumnya adalah di trotoar pinggir jalan ya?
Rasanya saya belum nemu adegan mereka jalan masuk ke rumah, jadi kok sudah nyuruh duduk aja? duduk di trotoar?
uuuh... saya beneran berharap Joanna banting pintu di mukanya Adam :P
he3... lanjuuut
*plis jangan jadi sinetron dong ><*

Setuju deh sama kamu
*ngomong ala iklan silverqueen*

80

wah, saia berasanya kok ada aura sinetron d sni yak? kata2 yg seharusny hanya d batin, ini keluar semua (khususnya cherry).
.
sejauh yg saia baca baguslah. ^^

80

Pertamax!!!
Ugh ... rasanya apa ya ... hmmm ...perkembangan cerita terlalu cepat?
hmmm ...