Cerfet : Di Ujung Pelangi (Bagian 15) Revisi

 

TIDAK! Seakan hanya kata tersebut yang bisa melukiskan perasaan Tristan saat itu. Hatinya remuk mendapatkan kenyataan yang diberitakan oleh Cherry. Ia masih memandang ke bawah.

“Tan…,” panggil Cherry perlahan sembari memegang pundak Tristan. Berusaha menghibur pujaan hati atas dusta yang dikatakannya.

Tersentak oleh belaian lembut Cherry, Tristan disadarkan. Ia tidak boleh mengumbar kepedihannya di depan Cherry.

“Kamu tidak apa-apa?” lanjut Cherry lagi.

Ia mengatur kembali perasaannya sebelum menoleh dan menjawab pertanyaan Cherry yang sarat dengan kecemasan, “A-ku.. tidak apa-apa...,” ucapnya tetap berusaha memendam perasaan yang sempat tidak terkontrol tadi. Tristan menggeser tempatnya berdiri sembari dengan lembut menepiskan pegangan

“Bener?” tanya Cherry ingin meyakinkan jawaban Tristan. Bukan Cherry tidak tahu keguncangan perasaan Tristan. Tentu saja Cherry menyadari dusta Tristan. Ia hanya pura-pura tidak tahu.

“Maaf yah, Cher....” tambahnya tanpa berniat menjelaskan kecerobohan memperlihatkan emosinya di depan Cherry. Namun apa yang harus dijelaskan? Bahwa dia jatuh cinta kepada ibu dari siswanya. Bahwa terselip rasa cemburu dalam hatinya. Atau... sebenarnya perasaan marahkah kepada Adam yang mencampakkan seorang wanita yang dicintainya, kemudian tidak tahu malu datang kembali mengoyahkan Joanna.

Mencampakkan?

Itu dia kunci yang menghentakkan akal sehat Tristan untuk memperoleh kebenarannya. “Cher, aku duluan yah...,” pamit Tristan sesaat Cherry baru saja membuka mulut dan hendak berkata, “Tan...-“

 

^^

TUNGGU. Memori Joanna terhenti. Bukan tragedi yang memberi nafas pada Nathan, tetapi bencana yang menghancurkan masa depan saat Adam mencampakkannya. Ia melepaskan pelukan dari Adam oleh sentakan potongan masa lalu yang penuh luka, dan kini menguak lagi. Pedih. Sementara pria itu kaget saat Joanna menepiskan pelukannya.

“Pergi!” ucapnya dingin tanpa memandang Adam, berbalik, bangkit dan berjalan ke dalam rumahnya.

“Anna...,” panggilan gusar Adam tidak lagi menjadikan alasan Joanna untuk berhenti dan terlena seperti kekeliruan tindakan tadi.

Joanna mengusap jejak air matanya sebelum menutup perlahan pintu rumah. Terusik oleh kepulangan Mamanya, Nathan menghambur ke hadapannya dan berseru, “Mama sudah pulang!!!”

Terlintas rasa bersalah dalam benaknya. Joanna merasa telah mengkhianati penderitaannya. Bagaimana ia masih terlena oleh kehangatan Adam, orang yang telah dengan begitu mudah menorehkan luka yang sampai sekarang pun belum pulih. Pria yang telah memberikan penderitaan yang tidak hanya ditanggungnya sendiri, tetapi juga buah hatinya.

“Mama... kuenya Nathan ada?” tanya si kecil polos.

Joanna masih tersihir oleh kejadian yang baru saja dialaminya. Kepulangan Adam menjadi bencana yang meneror kembali hidupnya yang sudah tenang. Adam datang membayar semua kedamaian yang dengan susah payah diperoleh Joanna hanya dengan penyesalan. Cukupkah? Tidak akan cukup membayar semua perjuangan Joanna menahan malu akan gunjingan yang menghiasi tepian jalan hidupnya.

“Mama...,” panggil Nathan tidak sabar lagi. Joanna terhentak sadar dari lamunannya. Menatap si kecil yang sudah separuh merengek.

“Iya, sayang...?!”

“Mana kue Nathan?”

“Oh-itu... kuenya entar kita beli di Mal ajah yah, sayang?”

“Ahhhh Mama... Nathan mau kuenya sekarang...,” rengeknya lagi.

“Aduh Nathan!” keluh Joanna kelabakan dengan tuntutan si kecil sementara ia sedang menata hatinya yang kacau. Berusaha menyembunyikan perasaannya dari Nathan. Selain itu, Joanna berusaha mengendalikan emosinya yang sedang labil. Tiba-tiba saja bayangan Tristan melintas di benaknya. Tristan pasti pandai mengakali kebandelan Nathan. Ah! Kenapa bayangan Tristan menghantuiku? Joanna menggeleng-gelengkan kepala, menepis bayangan itu.

 

^^

 

Adam masih menatap kosong jalan di depannya. Terhenyak mendapati Joanna yang sudah berlalu dari hadapannya. Masih dirasakannya kehangatan tubuh Joanna, kekasih yang sangat dirindukannya. Harapan yang membumbung tinggi terhempas, terbating. Seperti hatinya terpilin oleh kenyataan.

Dikiranya Joanna akan memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki semua kesalahan yang pernah dilakukannya. Tetapi, ucapan dingin Joanna menjadi jawaban yang tidak terbantahkan sesaat sebelum meninggalkannya terpaku di trotoar itu.

Kepalan tangannya mengepal. Menahan kemarahan dalam hatinya. Tidak patut marah kepada Joanna atau kepada keadaan. Yah, ia marah kepada masa lalu yang memojokkannya, kepada dirinya sendiri. Perbuatannya.

“Errr..,” erangnya tertahan.

Tidak lama berselang, ponselnya berbunyi.

Tristan Calling...

“Halo...”

“Aku ingin bertemu, sekarang juga. Bisa?” suara Tristan masih setenang biasanya.

^^

Cherry mendengus kesal. Jelas-jelas ia telah menemukan kunci agar Tristan berpaling padanya. Tetapi Tristan malah meninggalkannya begitu saja. terburu-buru. Kenapa dia terbu-ru... bu-ru... ASTAGA! Jangan-jangan Tristan mencari tahu kebenarannya? Jika ketahuan kalau berita yang kusampaikan dusta? Batin Cherry kemudian kelabakan. Bingung dengan pikiran dan dugaannya. Ia mengigit bibir bawahnya, mencoba mencari akal atau dusta selanjutnya?

Ia sangat mengenal Tristan. Mencintai pria itu menempanya untuk memahami Tristan melebihi apapun. Tatapannya tidak pernah lagi berpaling dari Tristan saat pertama kali cinta itu bersemi. Tristan lebih mempercayai pembuktian daripada sekedar pembicaraan.

DUSTA.

Candu dalam dusta. Tidak mudah terlepas. Pecandu yang akan semakin terjatuh dalam dusta-dusta lain. Kebohongan yang mengantarkan pada dunia indah yang hanya sementara sebelum beralih kembali pada dusta yang lain. Ataukah memilih untuk berhenti berdusta. Sakaw. Menderita. Kedua pilihan yang membawa pada lembah nista.

Ia hanya terpaksa untuk berbohong. Jika tidak berbohong, apa yang harus dikatakannya kepada Tristan apabila ditanya buat apa dia mengunjungi rumah Nathan?

Aku harus melakukan sesuatu!!! Batinnya berjalan meninggalkan sekolah yang sudah sepi. Cherry tidak ingin kehilangan Tristan meskipun ia belum mendapatkan cintanya. Setidaknya ia harus berjuang sebelum kobar api putus asa membakar hatinya.

^^

“Darimana kamu, Bang Adam?” tanya Tristan tenang saat Adam baru saja duduk di hadapannya. Ia mencoba sedikit demi sedikit mengupas kegiatan Adam.

“Heh!” dengus Adam, tidak ingin mengungkit kembali kejadian yang menghancurkan harapannya.

Sebelum Tristan sempat melanjutkan percakapannya, ponselnya berbunyi. Ia meraih ponselnya dengan perasaan sebal.

“Halo, Cher?!” sapa Tristan membuka percakapan.

“Tan... a-ku... sa-kit...,” rintih suara perempuan di seberang.

“Bi-sa... da.. tang...?” pintanya kemudian.

“Iyah, Cher... aku segera ke sana!!!” ucap Tristan segera bangkit dari duduk dan segera berpamitan dengan kakak angkatnya, “Bang Adam, maaf... aku harus pamit duluan. Temanku butuh kehadiranku!”

“Ya... ya...,” jawab Adam tidak bersemangat.

 Tristan segera bergegas menuju rumah Cherry yang pernah beberapa kali didatanginya. Sementara Cherry menatap ponselnya yang sudah tidak tersambung lagi. Pikirannya melayang kepada Tristan. Inilah dusta yang ditelannya lagi.

Maaf, karena aku mencintaimu, Tristan! Batinnya. Cinta yang jujur dari dalam hati berubah menjadi nista karena candu dusta. Semua hanya untuk memiliki cinta Tristan yang tidak pernah diperoleh Cherry meskipun waktu tidak mendustai penantian panjangnya.

^^

 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

btw thx Lily karena sudah bersedia merevisi part DUP

tp sepertinya peluang yang lebih besar untuk kelancaran DUP lebih terbuka pada part sebelum revisi jadi Dudun memilih part sebelum revisi.

so sorry.

part yang ini memang sudah lebih baik dan lebih enak dibaca daripada part sebelumnya.

good lily!

100

bohong.. ah saya pengen bunuh orang tukang bohong! *bukannyayangbikinbohongitugueduluanya?*

90

udah lebih bagus dari sebelumnya ^^
.
Oya, bukannya Joanna udah belanja ya? kenapa kuenya nggak dikasih aja ke Nathan?
atau gara2 ketemu Adam belanjaannya jadi ketinggalan di trotoar?
hmmm... sempat berharap ada adegan Adam liat belanjaan itu terus ngambilin n pake itu buat alasan biar Joanna mau bukain pintu. Terus ditolak n dia naruh tuh belanjaan d depan pintu rumah ><
*kok malah saya yang ngayal*
he3... maafkan kebawelan saya :P

ih, kak Kure ngomongnya soal trotoar mulu! xD

hmmmm

hahahah.. kebanyakan yaq? tar kalao sempat kulihat lagi yah. aku coba nempatin posisi di Tristan kalau mendapat telepon dari teman yang sedang kesakitan, umumnya akan pamit dengan meminta maaf kepada orang yang kita ajakin terlebih dahulu dan membantu teman kita yang sedang kesakitan. :p

80

hoh.. bner kata org ya, klo bohong sekali, jdinya mesti bohong lgi untuk menutupi yg lalu.
.
d sini sikap cherryny udh agk mending m'nurut saya, wajar. sinetronnya b'kurang ^^
tpi titik2nya pa g kebanyakan? trus kykny lucu gtu, Tristan yg ngundang n pergi duluan pdhal adamnya datang.
.
maaf & permisiii..

maaf, setelah direvisi masih perlu berkilo2 cabe. tapi setelah sepanjang hari bergulat sama ide dan pergumulan #halah, aku hanya dapat menulis seperti yang diatas. sudah kubaca berulang-ulang.
ada scene yang kubuat untuk mengembalikan karakter para tokohnya. ada scene yang mempertegas kondisi saja. ada yang pengen kucoba keluarkan pergumulan batin.
mungkin masih banyak kekurangan... maaf apabila telah mengacaukan cerita atau ceritanya kurang berkembang. :p sebenarnya pas Cherry bilang mau melakukan sesuatu, aku sendiri bingung mau nulisnya apa.. jadi kupikir kalau Cherry pura-pura sakit kan Tristan bakalan (meskipun teman sejawat) pasti akan datang membantu Cherry dan menunda keingintahuan Tristan... hakhak.. :)
mungkin akan sedikit seru kalau Tristan penasaran agak lama. :D