Eternity (8)

 

 

Berjanjilah padaku, berbahagialah di kehidupanmu yang mendatang. Hiduplah dengan penuh cinta. Jalani hidup penuh kegembiraan untukku juga, karena kegembiraanmu membuat sinarku lebih terang dari sebelumnya.” Erlangga berusaha menghapus aliran air mata yang turun pada bukit pipi Lili dan merasakan kepala wanita yang dicintainya itu menelusup pelan ke dadanya.

 

Namun belum sempat dia mendengar Lili membalas ucapannya, tubuhnya seakan ditarik dengan paksa oleh ratusan medan magnet raksasa. Seketika saja dia merasa tersedot. Melayang kembali dalam ruang tanpa pijakan yang membuatnya sungguh merasa lelah.

 

Sudah akan berakhirkah penderitaannya sekian lama ini? Setelah dia memilih untuk menukarkan hidupnya sendiri agar Lili bisa memperoleh kehidupan barunya yang murni tanpa ingatan tentang dirinya?

 

Belum pernah Erlangga merasa seletih ini. Ironisnya, belum pernah pula dia merasa selega ini. Jika memang perasaan cintanya pada Lili dan perjuangannya untuk mempersatukan mereka adalah salah, maka cukup dia yang lenyap.

 

Perlahan, Erlangga memejamkan matanya. Rapat-rapat. Mencoba mengumpulkan kedamaian yang telah lama raib dari hatinya dan membiarkan tubuhnya terseret kian jauh dan semakin jauh. Hingga akhirnya samar-samar Erlangga dapat mendengar suara-suara yang tak dikenalnya itu mampir ke telinganya.

 

"Detak jantung semakin melemah, Dokter."

 

Erlangga tersenyum.

 

"Lakukan resusitasi jantung."

 

Berharap apa yang dilakukannya sekarang sudah tepat.

 

"Denyut femoralis dan karotis pada arteri besar sudah tak teraba, Dok."

 

Yang diharapkannya sekarang ini cuma satu.

 

"Siapkan defribillator. Sekarang."

 

Dia ingin Lili bahagia.

 

"Pasien tidak merespon, Dok."

 

Cuma itu.

 

"Tambahkan tegangan."

 

Tidak ada yang lain.

 

"Kembalilah, Erlangga."

 

Mendengar suara itu, sontak Erlangga berusaha membuka kelopak matanya yang terpejam rapat. Namun seperti ada lem yang berusaha tetap merekatkan kedua matanya, Erlangga tak bisa melakukannya. Kedua matanya tetap terpejam. Bahkan kini rasanya lebih lekat dari sebelumnya.

 

"Belum waktunya bagimu untuk lenyap."

 

Suara itu. Erlangga yakin sekali, suara itu bukan suara sekumpulan dokter dan suster yang baru saja didengarnya tadi. Bukan. Suara ini berbeda. Suara yang rasa-rasanya pernah Erlangga dengar di waktu yang lalu. Suara seorang wanita yang sepertinya pernah begitu dekat dengannya.

 

"Kembalilah, Erlangga. Kembali dan selesaikanlah semua yang menjadi bagianmu."

 

Bagianku?

 

"Belum waktunya bagimu untuk menyerah.Kembalilah."

 

Siapa – kau?

 

"Kembali, Erlangga. Berjuanglah untuk sesuatu yang kau tahu tak ternilai harganya."

 

Aku lelah....

 

"Dia masih menunggumu."

 

Dia...? Lili?

 

"Bangun, Erlangga. Berjuanglah."

 

Aku akan lenyap.Sudah kutukar hidupku dengan kebahagiannya.

 

Susah payah Erlangga berusaha mengeluarkan suaranya. Dia ingin berteriak. Ingin balas bertanya. Tapi suaranya tercekat entah di mana. Tak bisa ditemukan meski Erlangga sudah berusaha mengerahkan seluruh tenaga yang masih tersisa di dirinya.

 

"Kembali, Erlangga. Bangun dan berjuanglah. Agar pengorbananku tidak sia-sia...."

 

'***

 

Temaram sinar lampu menelusup dari balik celah jendela sebuah toko buku di persimpangan jalan sana. Dina menghentikan nafasnya sejenak, merasakan seperti dadanya berdenyut tak nyaman, kombinasi antara rasa sesak dan perih, sebelum akhirnya dia memantapkan hati untuk tetap bergerak.

 

Dari luar, dia telah melihat siluet laki-laki yang dicarinya dari balik kaca jendela yang tersamarkan oleh kain gorden tipis. Kemudian untuk alasan yang dia sendiri tak mengerti, sekali lagi Dina merasakan dadanya berdenyut. Kali ini lebih nyeri dari sebelumnya.

 

Ketika kakinya telah mengantarkannya ke muka pintu, dia mengangkat sebelah tangannya, memutar kenop pintu yang telah tertutup, dan mendorongnya dengan hati-hati. Menimbulkan decit pelan yang dia harap tidak mengusik Erlangga yang sedang duduk di dalam sana.

 

"Belum pulang?" Dina mengajukan pertanyaan yang dia sendiri tahu kalau Erlangga tidak akan menggubrisnya.

 

Saat itu, yang dilakukan Erlangga hanya duduk di sebuah kursi menghadap sebuah meja di toko bukunya dan memandangi sebuah pot bunga lili yang dulu pernah dia berikan pada Erlangga.

 

Sudah dua minggu kamu sejak kamu keluar dari rumah sakit, kamu selalu seperti ini, Ga.... Duduk sendirian di sini sampai tengah malam dan tidak melakukan apapun kecuali memandangi sebuah pot bunga lili yang bahkan sedang tidak berbunga." Dina menarik sebuah kursi dan duduk di hadapan Erlangga. "Mau sampai kapan kamu seperti ini...?”

 

Erlangga melirik sedetik ke arahnya. Dengan sorot mata kosong yang membuat Dina ikut merasa ngilu.

 

"Pulanglah, Din." Erlangga membuka suaranya yang terdengar serak. "Sebentar lagi aku juga akan pulang."

 

"Aku nggak akan pulang sebelum kamu pulang, Ga." Dina berkeras. Membuat Erlangga memijit pelipisnya yang mulai berdenyut sakit.

 

"Apa di dia pernah muncul lagi di tokomu, Din?" tanya Erlangga akhirnya. Setelah selaput hening menggantung di antara mereka selama beberapa jenak.

 

"Dia? " Dina mengernyitkan keningnya. "Sudahlah, Ga." Lalu dikibaskannya sebelah tangannya. Pertanda dia tak ingin lagi memperpanjang percakapan yang mengangkat topik ini dan berharap Erlangga mengerti. "Kita nggak perlu membahas soal ini terus-menerus kan? Kamu sudah menanyakan pertanyaan yang sama itu sepuluh kali di setiap pertemuan kita. Dan sudah kujawab, Ga. Itu cuma halusinasimu." Dina menatap mata Erlangga sesaat dan mengalihkannya ke tempat lain. "Dan berhentilah memandangi pot daun bunga lili ini."

 

Dina menggeser pot itu dari hadapan Erlangga. Membuat Erlangga bangkit dari duduknya dan membuka suaranya.

 

"Jangan sentuh pot ini," ujarnya. Dina membaca ketegasan dalam suara serak Erlangga. Kemudian dikembalikannya pot itu ke posisi semula sebelum Dina menggesernya. "Dan berhentilah menuduhku berhalusinasi, Din. Kamu tahu aku tidak gila!"

 

"Belum gila." Dina ikut-ikutan memberi penegasan di ucapannya. "Bisakah kamu lupakan kejadian itu dan hidup normal seperti sebelumnya?" Suara gadis itu naik seoktaf. "Kalau kamu seperti ini terus, aku jamin sebentar lagi kamu akan gila! Jangan buat orang lain khawatir dengan ulahmu, Ga. Tante Marina dan Om Mahendra sudah berulang kali memintaku menghiburmu. Mereka takut terjadi sesuatu padamu karena tingkahmu yang belakangan ini nggak normal."

 

"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang aku." Erlangga mendengus tak suka sebelum akhirnya dia duduk kembali dan membuang mukanya.

 

"Apa kamu pikir tindakanmu belakangan ini bisa dibilang normal, hah?" Dina mencoba mencari bola mata Erlangga yang sengaja sedang tak menatap ke arahnya. "Nggak ada orang normal yang tiba-tiba lari ke toko bungaku dan mencari seorang gadis yang ternyata cuma halusinasinya di malam-malam buta seperti yang pernah kamu lakukan."

 

"Kamu juga melihatnya, Din." Erlangga menoleh tak senang. "Kamu tahu aku tidak berhalusinasi."

 

"Nggak ada orang normal yang memakan bunga lili sampai dia keracunan dan masuk rumah sakit, koma berhari-hari dan nyaris kehilangan nyawanya," potong Dina tak peduli. "Dan nggak akan ada orang normal yang mogok bicara dan melakukan apapun hanya demi duduk menyendiri di sebuah toko buku sampai larut malam cuma sambil memandangi sebuah pot daun lili yang kelopak bunganya sudah dia habiskan seolah dia menikmati sepiring salad!"

 

Kamu – tidak tahu apa-apa – tentang kami....” Erlangga bergumam jemu. "Pulanglah, Din. Tolong jangan ganggu aku."

 

"Aku nggak akan pulang sebelum kamu juga pulang, Ga!" Dina tetap sekeras tadi. "Kalau kamu putus cinta, tolong jangan libatkan semua orang dengan masalahmu. Diam saja nggak akan menyelamatkanmu, Ga."

 

"Lalu apa pikirmu yang bisa kulakukan?" Suara Erlangga separuh membentak. "Apa yang masih bisa kulakukan sementara semua orang menganggapku gila? Dan berpikir bahwa aku melakukan tindakan mengerikan dengan mencari-cari roh yang mengakibatkan aku dituduh berhalusinasi? Masih untung kalian belum menyeretku ke bangsal rumah sakit jiwa!"

 

Dina menatap Erlangga dengan pandangan tak percaya.

 

"Seberapa penting dia bagimu, Ga?"

 

"Eh...?"

 

Tak tahan lagi, Dina memaksa matanya sendiri untuk menembus kedua bola mata Erlangga dan menemukannya merah berkaca. Belum pernah Erlangga memperlakukannya seperti ini. Belum pernah Erlangga bicara dengannya dengan nada membentak seperti yang baru saja dilakukannya.

 

"Seberapa penting Lili bagimu sampai-sampai kamu rela mengorbankan dirimu sendiri demi dia?"

 

"Kamu tidak tahu apa-apa soal dia, Din...." Intonasi suara Erlangga melemah. Untuk alasan yang dia sendiri tak mengerti, tiba-tiba saja perasaannya menjadi sangat tidak enak.

 

"Seandainya, Ga, aku yang ada di posisi Lili, apa kamu juga akan melakukan hal yang sama untukku...?"

 

"Apa – maksudmu?" Erlangga menaikkan sebelah alisnya. Percakapan ini semakin tak menyenangkan baginya. Dan Erlangga tidak suka meneruskannya.

 

"Apa kalau kamu tahu hidupku tinggal sebentar lagi karena ulahmu, apa kamu juga akan menukarkan hidupmu untukku...?"

 

Pertanyaan Dina tidak dilontarkan dalam bentuk desakan. Tapi entah mengapa, Erlangga membaca sesuatu yang tersembunyi di balik pertanyaannya yang sekilas terdengar sederhana itu. Sesuatu yang membuat Erlangga merasakan kepalanya semakin sakit dan tengkuknya meremang dengan sendirinya.

 

"Jawab aku, Ga...." Dina meminta. Erlangga dapat membaca permohonan yang teramat sangat dalam suara gadis yang selama ini bersahabat dekat dengannya itu.

 

Lalu gadis di hadapannya itu bangkit dari duduknya, dengan kedua telapak tangan tertumpu di atas meja, dicondongkannya wajahnya mendekati wajah Erlangga. Hingga Erlangga dapat mencium betapa harum wangi yang menguar dari helaian rambut Dina.

 

Wangi yang rasanya, pernah Erlangga kenal sebelumnya.

 

Lalu begitu saja, Erlangga melihat air mata yang sejak tadi menggantung di kedua pelupuk mata Dina mendesak keluar. Turun melewati kedua belah pipinya yang senantiasa bersemu merah dan jatuh bergulir begitu saja. Menitik di atas helaian daun bunga lili yang ada di dekat mereka. Kemudian untuk suatu alasan yang mungkin tak dapat dinalar dengan akal sehat, tiba-tiba saja helaian daun bunga lili di hadapan mereka itu berpendar.

 

Seperti ada cahaya terang berkilauan yang tiba-tiba saja menyorot ke dalam dua pasang bola mata mereka, Erlangga memaksa kedua kelopak matanya tetap membuka.

 

Kemudian dia melihat sesuatu yang sungguh mati tak pernah disangkanya.

 

Helaian daun lili itu bergerak. Membentuk semacam kuncup di tengah pendar cahaya berkilauan itu, sebelum akhirnya perlahan cahaya itu memudar, meluruhkan daun-daun itu dan memunculkan sesuatu di pusatnya. Sekuntum bunga. Bunga lili dengan kelopak putihnya yang utuh dan indah.

 

Namun bukan itu yang membuat Erlangga terperanjat sepenuhnya. Bukan dengan mekarnya kelopak bunga lili yang secara mistis di hadapannya itu. Melainkan bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi.

 

Menahan rasa dingin yang tiba-tiba menggigitnya, Erlangga mendongakkan kepalanya. Ditatapnya mata Dina lurus-lurus dan membuka katup di bibirnya.

 

"Apa yang sudah kamu ketahui tentang aku dan Lili, Din...?" Erlangga menemukan sorot mata yang belum pernah dia lihat sebelumnya di mata gadis di hadapannya. "Apa yang selama ini kamu rahasiakan dariku...?"

 

Erlangga melihat Dina memalingkan wajahnya. Bekas air mata masih tersisa di pipi gadis yang – selama ini dikiranya – telah dikenalnya sejak lama itu.

 

"Dan siapa kamu sebenarnya...?" Erlangga mengepalkan tangannya. Ditahannya rasa pedih yang seketika saja memenuhi seluruh rongga di dadanya. "Mengapa bunga ini bisa tumbuh begitu saja karena ulahmu?"

 

"Din...." Suara Erlangga terdengar sengau. "Cuma roh bunga yang dapat memekarkan bunga dengan cara seperti tadi...." Sementara kepalan di tangannya menguat, dipaksanya wajah Dina menghadap wajahnya sendiri dan melanjutkan. "Sebenarnya... apa hubunganmu dengan.... – Lili...?"

 

 

'***

 

(to be continued)

Read previous post:  
57
points
(1454 words) posted by cat 8 years 2 weeks ago
95
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | cinta | CERFET | Eternity | Romantis | sunflowers-cat-lavender
Read next post:  
Writer lfour
lfour at Eternity (8) (7 years 25 weeks ago)
90

ah.......
jangan dina, itu reinkarnasi lili lagi?
cuma udah lupa,,
udah ah mau lanjut aja baca na

Writer aznurra
aznurra at Eternity (8) (7 years 50 weeks ago)

lanjuuuuuuttt

Writer Sun_Flowers
Sun_Flowers at Eternity (8) (7 years 51 weeks ago)
100

Menunggu Kak Lavender melanjudkan.. huehehehe

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Eternity (8) (8 years 5 days ago)
90

aaaa...
bikin penasaraaan
siapa si Dini ituuuuu

Writer lavender
lavender at Eternity (8) (8 years 6 days ago)
100

sudah kumen di ef-beh...
T_T

Writer cat
cat at Eternity (8) (8 years 6 days ago)
90

Sun Dong Yang.

sama seperti kumentku di FB.

Part 8 Eternity ini pengantarnya sudah baik sehingga pembaca tidak terlalu pusing dengan perpindahan yang tiba-tiba.

Hanya saja kembali lagi kukatakan aku masih merasa percakapannya terlalu tidak padat.

Dan seriuuuuusaku penasaran siapa itu Dina sebenarnya.

Apa hubungannya dengan Lili.

Aku juga tidak habis pikir. Dina memanggil Erlangga untuk kembali dengan mengatakan urusannya belum selesai, sedangkan dia juga tidak mengharapkan Erlangga bersatu dengan Lili.

ohhhh .... PR yang rumit untuk Lavender.

Bersyukurlah diriku sudah bertukar posisi.

wkwkwkwkk ................

Kabuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur.

Btw Lavender (sayang sekali di kekom tidak bisa menyumon seseorang) PR mu ada dua, eh tiga ding!

1. Freya - HoR
2. Eternity 9 (Aapa hubungan Dina dan Lily)
3. Lanjutan DUP (tentu saja setelah Irene posting)

semoga semuanya dalam waktu bersamaan dikau posting.

Oh iya ... jgn lupa tugas khusus berupa

EAT dan Pulang Kampung.

Yihaaaaaaaaaaaaaaaa seruuuuu

Writer lavender
lavender at Eternity (8) (8 years 6 days ago)

haduh satu-satu mbak Catz T____________T

Writer cat
cat at Eternity (8) (8 years 6 days ago)

aaaaaaaaaa Freya.

saya menunggu Freyaaaaaaaa.