House of Romance - Freya - "New Dream"

 

Bosan. Aku mengetuk-ngetukkan pena berwarna ungu di atas meja putihku yang mengkilap, di dalam ruangan kantorku yang terletak di lantai dua sebuah perusahaan Wedding Organizer.

Di hadapanku, sepasang calon pengantin tampak berdebat sendiri mengenai menu hidangan resepsi pernikahan mereka. Come on, it’s just a soup for God’s sake! Pilihlah satu jenis! Susah sekali sih? Mempelai pria biasanya menurut saja kalau soal makanan, tapi ini kok...?

Memang sudah sering aku menghadapi klien yang seperti ini, semoga saja perdebatan mereka tidak malah membuat mereka membatalkan pernikahan. Ah, aku benci dengan pasangan yang seperti itu, hanya karena masalah kecil, malah membatalkan pernikahan. So silly!

Sebenarnya, masalah catering ditangani oleh salah satu rekanku, tapi berhubung dia sedang ke luar kota, jadi aku yang harus menghadapi klien. Dan kesalnya, sebentar lagi aku harus segera pulang untuk peresmian House of Romance, sebuah toko impian keluargaku. Kalau tidak, Kak Isis akan mencincangku dengan pisau dapurnya (sekaligus pelampiasan karena dia tidak bisa mencincang pacar demigod-nya yang tidak kunjung menikahinya). Aku bergidik membayangkan pisau di tangan Kak Isis. Ah, dia memang sangat pandai memasak, tapi lebih baik pisau itu tidak di tangannya saat tidak memasak.

“Nona Freya!” suara si laki-laki mengejutkan lamunanku.

“Eh, maaf? Jadi bagaimana? Sup kimlo, sup jamur, sup jagung...”

Belum selesai aku berucap, si perempuan memotongnya langsung, “kami akan memikirkannya lagi dan akan menelepon Anda besok ya? Aku harap anda tidak keberatan.”

Yallume*!” pekikku spontan membuat kedua orang itu terkejut.

“Apa?” tanya si laki-laki. Aku mengutuk diriku sendiri. Kenapa sih aku tidak bisa mengontrol pekikan-pekikan bahasa peri-ku? Aku tidak mungkin menyalahkan nenekku (ibu dari ayah) yang seorang peri kan? Sejak kecil aku seringkali tidak sengaja mengucap bahasa peri, dan mantra-mantra yang kukuasai semuanya bahasa peri. Orang tuaku memberiku nama Freya, yang berasal dari nama dewi cinta dan kecantikan bangsa Norwegia. Dan aku tidak akan menyesali darah peri dan penyihir yang telah menganugerahiku banyak hal.

“Maaf, maksud saya, tentu saja tidak apa-apa. Anda bisa menelepon saya kapan pun, setelah mendapat keputusan yang bulat,” aku tersenyum, yang bisa mereka terjemahkan sebagai keramahan, padahal itu adalah senyum kelegaan yang begitu besar, karena akhirnya aku bisa pergi.

Aku mengantarkan kedua orang itu keluar dari ruanganku sambil berencana nanti malam aku akan ke rumah mereka dan menebarkan sihirku untuk membantu masalah mereka. Aku akan meniupkan kelopak-kelopak bunga mimpi dan membuat mereka bermimpi yang sama. Ya, aku punya kemampuan mentransfer mimpi pada para pasangan, mimpi-mimpi indah tentunya. Aku tinggal mengucapkan ‘elen sila lumenn omentilmo’, merancang mimpi dan mereka akan memimpikan makan malam romantis di tengah padang bunga.

Dengan menu sup jamur.

*-*-*-*

 

Bergegas aku memasuki mobil. Baru saja aku hendak memasukkan kunci, suara intro lagu Butterfly milik Jason Mraz mengalun keras dari dalam tas Burberry-ku yang berwarna ungu. Segera kukeluarkan ponsel dengan warna casing ungu-ku. Ada nama Afro, adik bungsuku di layarnya.

“Hallo,”

“Kak Freya, apa Kak Isis sudah meneleponmu? Dia meneleponku berjuta kali. Aku masih di tempat lokasi pemotretan untuk iklan. Aku terpaksa meminta fotografer mempercepat sesi pemotretan ini.”

“Iya, dia sudah meneleponku dari tadi. Terima kasih untuk pasangan yang telah kau buat jatuh cinta akhir tahun lalu. Ah, aku ingin segera menyelesaikan urusan pernikahan mereka,” ucapku dengan nada menyindir. Terdengar suara tawa dari seberang.

“Mereka masih juga cerewet? Sabarlah, Kak. Sepasang burung merpatiku tidak akan kemana-mana untuk menunggu hari pernikahan mereka,” Afro berucap santai tanpa rasa bersalah dan malah mengaitkan kesusahanku dengan peliharaan magisnya itu.

“Kamu cepatlah, aku sudah akan menuju ke rumah.”

“Iya, iya. Aku segera pulang. Aku meneleponmu agar bisa melindungiku dari amukan Kak Isis kalau sampai aku terlambat.”

“Minta saja Eros menjemputmu dan terbang bersamanya, jadi kau tidak akan terlambat.”

“Ah, tidak tidak... aku tidak mau! Aku malu meminta padanya. Umm... lagipula... kita kan harus hati-hati, jangan sampai orang melihat kemampuan kita. Apa jadinya kalau orang melihat kami terbang? Sudahlah, aku siap-siap pulang dulu. Sampai jumpa, Kak.”

Aku tersenyum mendengar nada gugup dari suara Afro. Hmm, sepertinya selalu begitu tiap kali aku menyebut Eros. Entahlah.

“Ya, ya, sampai ketemu di rumah.”

Kukembalikan ponselku ke dalam tas lalu tiba-tiba teringat sesuatu. Lipstik pink-ku! Tidak!

Aku merogoh-rogoh dan mencari lipstik pink-ku di dalam tas. Aku ingat terakhir kali menggunakannya untuk meniupkan sihir pada sepasang kekasih di kantorku agar berciuman di dalam elevator (yeah, kadang aku memang iseng).

Aku tidak menemukannya di dalam tas. Sial! Pasti ketinggalan di meja kerjaku. Segera aku berlari kembali ke dalam kantor. Untung saja lipstik itu masih ada di atas meja. Lipstik itu benda magis pentingku. Dan aku tidak tahu bagaimana jadinya kalau sampai hilang.

*-*-*-*

 

Aku turun dari mobil dan melihat seorang pria dengan wajah mengantuk berdiri di depan rumah. Eros. Salah satu dari si kembar yang tinggal bersamaku, Kak Isis, dan Afro. Aku menghampirinya.

“Kenapa dengan matamu? Segar sedikitlah...”

“Aku masih sangat mengantuk,” jawabnya.

“Kau habis tidur lagi di awan ya?” tebakku.

Dia tersenyum, “Kau tahu aku.”

Aku menggeleng-geleng, “Kau memang bandel. Bagaimana kalau sampai ada orang melihatmu terbang?”

“Ah, tidak akan,” ucap Eros santai.

“Lalu kenapa kau masih di sini dan tidak masuk?”

“Aku menunggumu,” jawab Eros. Eros memang paling akrab denganku. Obrolan kami terputus saat suara sebuah mobil dan motor berhenti. Afro tampak turun dari mobil mewah itu. Setelah melambai pada mobil yang mengantarnya, Afro menghampiri kami.

“Kalian belum masuk? Aku tidak terlambat kan?” tanyanya langsung. Spontan aku dan Eros menggeleng bersamaan. Pandanganku teralih ke arah lelaki yang turun dari motor dan melepas helmnya. Kama. Kembaran dari Eros.

Aku memandang Kama yang kini melangkah menghampiri kami. Jujur saja, dia tampak lebih tampan dengan rambut birunya kali ini.

Shall we get in?” ucapnya cuek. Aku berjalan duluan memasuki rumah diikuti Eros. Di belakangku kudengar Kama berbicara pada Afro.

“Siapa yang mengantarmu tadi?” tanya Kama.

“Fotograferku.”

“Hmm, aku ingin jadi fotografermu kapan-kapan. Kau tidak lupa aku seorang fotografer yang bisa juga memotretmu kan?”

Afro tertawa, “Tentu saja aku tidak lupa.”

Sementara itu aku bersyukur Kama belum bisa mendengar pikiran sesama penyihir. Karena aku berpikir andai saja aku bisa menggunakan sihir lipstik pink-ku untukku sendiri agar Kama...

Ah, lupakan saja.

“Oh, berhentilah menekan telepon genggammu Kak Isis. Kami sudah memacu kendaraan secepat mungkin untuk sampai di sini. Kami memilih melarikan diri dari kerjaan daripada mendengar omelanmu sepanjang hari, sepanjang minggu dan sebulan penuh,” ucapku melihat Kak Isis menekan ponselnya di dalam rumah.

*-*-*-*

 

*Akhirnya

 

Dewi Freya

Read previous post:  
56
points
(885 words) posted by majnun 7 years 40 weeks ago
80
Tags: Cerita | Novel | cinta | CERFET | eros | HoR | majnun | Romantis
Read next post:  
Writer Deta
Deta at House of Romance - Freya - "New Dream" (7 years 31 weeks ago)
70

waaah...bagus kak ceritanya siip2....

thnks

90

makan kirpik sambil nunggu lanjutan :D
*kriuk

heheheheh

90

Langsung dapat perasaan 'tertarik' waktu Freya keceplosan bilang "Yallume!"
Nice story..

thanks :D

100

setor poin..
ahahahahahahaha..

huh

100

hmmmmmantap!
menurutku, baiknya abis ini part Kama. itu pun jika kalian sabar menanti :D
pas loh, pertama isis. kedua Eros, lalu Freya, lalu Kama, lalu Afro. lihat ada garis panah tak nampak di situ. hihihi.

horeeee kama post hari iniii!!!!!!!!!

Writer cat
cat at House of Romance - Freya - "New Dream" (7 years 40 weeks ago)

Mana post nya Kamaaaaaa

Manaaaa mana mana mana mana???

iya ni..
saia jua nunggu..

100

Menunggu om dudunbelle... wakakkaka

dirimu dulu sajaaa klo sudah duluaaann wkwkwk

100

ahaha... Freya iseng
hm... dari tetimoni para penghuni HoR, kayaknya Isis yang paling serem ya
*kabur sebelum dilempar shuriken ama emak*

baik hati itu Isis juneee.. heheheh

Writer cat
cat at House of Romance - Freya - "New Dream" (7 years 40 weeks ago)

#komat kamit baca mantra#

Gloriorus teara drops - manggil hujan buat mandiin Kurenai.

‎​​​​:D ªkªkª =D ªkªkª =)) ªkªkª

#Isis itu nda serem kok. Dia baeeeeeeeeeeek bgt#
#iya kan#
Sambil nodongin pisau dapur.

80

keren

thxx

90

hihihi xD jahil beud si Freya, beda jauh ma tokoh sebenernya.
anyway, lanjut!

thanks for reading

Writer cat
cat at House of Romance - Freya - "New Dream" (7 years 40 weeks ago)
100

Aw aw aw aw aw ...

Freya juga keluar hari ini ...

kuereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen.

Btw baca juga HoR yang lain.

HoR part 1. The Magical beginning (Isis)

http://id.kemudian.com/node/260597

HoR part 2. "The Morning Ceremony" (Eros)

http://id.kemudian.com/node/260625

HoR part 3. "New Dream" (Freya)

http://id.kemudian.com/node/260633

naikkan tag cerfeeett n romantiiisss.. eheheheh

80

Hmm..Di otakku, kebayang Freya itu kayak gimana. keturunan peri, cantik, Burberry?Hmm selera yang bagus. Pengennya sih dia nyangklong Hermes. Hahaha. Alurnya menariik, bikin penasaran apa kelanjutannya gimana.

hmm yang kepikiran klo warna ungu, dengan motif silang-silangnya burberry, klo hermes ndak tau wkwkwkwkkw... (kok jd fashion)..
thanks..