BOR Match 19 : Aldino VS Al (AL win (?))

            BOR Match 19

Hal pertama yang dilihat oleh Al adalah sebuah pintu ruang guru di belakangnya dan lorong panjang dengan kelas di kiri kanannya. Ia jadi rindu pada sekolahnya dan yang paling penting ia jadi ingat pada pekerjaan rumahnya yang belum selesai.

            “Ampun deh, besok ulangan kimia!” teriak Al panic.

            “Ayah! Bukan saatnya memikirkan itu sekarang!” sebuah suara muncul dari PSD miliknya. Itu suara Yuniar, anaknya dari masa depan, “nyawa ibu lebih penting sekarang! Dan karena aku kalah dari si keparat Lorne itu kau harus berjuang sendirian!”

            “EH?” Al berhenti lalu teringat pada Ningrum dan mukanya berubah serius.

            Kemudian ia mulai mengamati.

            “masih ada beberapa murid di sekolah ini, dank au sebaiknya tidak melibatkan mereka!”

            “baiklah, artinya aku harus mengusir mereka terlebih dahulu kan?” Al tersenyum. Ia kemudian mengetikkan sebuah pseudocode dan setelah PSDnya memproses muncul sebuah korek api dan jurigen minyak tanah. Al melemparkan jurigen minyak tanah ke depan dan kemudian melemparkan korek yang sudah menyala ke jurigen itu dan sebuah ledakan dahsyat terjadi.

            Alarm kebakaran berbunyi dan Al segera kabur, namun ia menabrak seseorang yang membuatnya terjerembab ke tanah.

            Al memandang orang yang di tabraknya dan segera mundur.

            “Ningrum? Bagaimana kau bias di sini?”

            Orang –atau gadis?- yang di tabraknya adalah Ningrum. Gadis mungil berjilbab itu menahan tangis dan kemudian memeluk Al.

            “Rizal….!”

            “sudah cukup senang-senangnya dasar bocah!” sebuah ledakan kembali terdengar. Al melindungi tubuh Ningrum yang mungil dengan memeluknya membuat seragamnya diselubungi pendaran-pendaran hitam panas.

            “apa ini?” Al merasakan sakit di punggungnya tapi tak bias mendeskripsikan sakit itu dengan benar.

            Al berdiri dan melepaskan seragamnya. Kini tinggal sebuah T-shirt bewarna biru dan celana abu-abu SMA yang melekat di badannya. Ningrum masih menangis namun Al tak gentar. Sementara seragam putihnya sudah terbakar oleh pendaran hitam sakit di punggungnya mulai menghilang.

            “sebaiknya kita persingkat saja,”

            Seorang laki-laki dengan bekas luka di pipinya perlahan mendekati Al dan Ningrum. Pedang besarnya di seret di tanah dan masih mengeluarkan pendaran-pendaran hitam.

            “Aldino, si Iblis!” terdengar suara Yuniar lagi dari PSD milik Al, “buatlah ia terkejut, ia tak suka terkejut!”

            Namun Al menggeleng, prioritasnya sekarang adalah NIngrum, jadi dengan cekatan ia menggendong Ningrum dan berlari menghampiri Aldino, kemudian dengan tangannya yang bebas ia mengakses sebuah file.

            “Accesing Police Shield

            Realisation begin!”

            Dan kemudian sebuah kode biner muncul dari PSD dan berubah menjadi tameng besar bertuliskan ‘POLRI’ dan tameng itu menghantam Aldino ke belakang. Al menjejakkan kakinya di tameng itu dan membuat Aldino Ambruk. Kemudian ia berlari secepat yang ia bisa menjauhi si Iblis.

            “Al, apa yang sedang terjadi?” Tanya Ningrum di sela-sela lari mereka.

            “sebuah….pertarungan….” kata Al putus-putus, kemudian ia berhenti karena kelelahan, “berapa si berat kamu!” kata Al sambil menarik nafas.

            Ningrum menjawab pertanyaan itu dengan pukulan ringan di bahu Al.

            “Ayah, pertarungan belum selesai!” suara Yuniar kembali terdengar.

            “Nekoman! Bisakah kau bawa Ningrum pergi dari sini!” teriak Al.

            “maaf, Nekoman sedang tidak ada di tempat,” sesosok peri muncul dari kekosongan. Itu Logina, “dan sebuah tantangan bagimu untuk melindungi gadis yang kau cintai dari pertarungan ini,”

            “Apa! Kau gila, aku tidak mau mempertaruhkan nyawa Ningrum untuk ini!” teriak Al kemudian namun Logina sudah menghilang.

            Ningrum menatap Al bingung tapi kemudian dia menyentuh tangan Al dengan mesra.

            “aku siap mati jika pertarungan ini penting bagimu,” bisiknya dengan suara yang gemetar.

            “Tidak!” kata Al ketus.

            Sebuah serangan pendar-pendar hitam kembali meluncur. Al menarik tubuh Ningrum dalam pelukannya dan melindunginya dari pendar-pendar hitam itu dengan punggungnya. Al bisa merasakan rasa sakit dan panas saat pendar-pendar hitam itu mengoyak T-shirt kesayangannya.

            “Anak muda, sudah kubilang! Mari persingkat saja pertarungan ini,” Aldino kembali muncul.

            “aku Januar Abu Rizal Al Islam menyatakan menyerah kepada Rhemusta Aldino!” kata Al keras.

            “Apa?” Aldino tampak terkejut.

            “Tapi gag sido,” kata Al sambil menahan tawa

            Tiba-tiba Al berbalik dan menembakkan sebuah pistol. Peluru pistol itu mengenai Aldino dan merubahnya menjadi es batu bewarna biru terang.

            “pertarungan ini tidak penting jika dibandingkan dengan nyawamu, Ningrum,” bisik Al.

            Ningrum memeluk Al makin erat sambil menangis.

            “Hei! Apakah itu sah?” sesosok peri lain muncul dari kehampaan, ia adalah comedia, “kau tadi sudah bilang menyerah,”
            “aku tadi bilang ‘tapi gag sido’, tidakkah peri sepertimu mengerti artinya!” kata Al kesal.

            “dan apayang kau lakukan padanya!” Comedia menunjuk es batu biru terang yang tadinya adalah Aldino.

            “kau tak pernah ke bioskop ya! Ini senjatanya Megamind!” Al makin kesal, “sekarang biskah kita pergi dari sini?”

 

 

 

Read previous post:  
55
points
(772 kata) dikirim neko-man 7 years 49 weeks yg lalu
78.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Battle of realm | BoR | fantasy | Turnamen
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
100

Loe egois Rai!

masa cuma mentingin cerita loe sendiri, kasiang Rhemusta lho...

60

Wooh NGEBAKAR SEKOLAH! GALAAK!!
.
gag sido? << apaan artinya?
@_@ gw dumbfounded gt bacanya. ini butuh dijelasin neh hehe
.
ada mindfu*k juga disini... valid ga ya menang kek gini? ^^; cara bikin terkejutnya gw bilang antara luarbiasa atau udah-kehabisan ide. luar biasa karena bener2 dicepetin, jadi ga ngasih reaksi bagi Aldino untuk gerak jadi kesannya cma pengejut spontan sedangkan udah-kehabisan ide karena gw mikir "kok gini...?" << lu ga lagi kehabisan ide kan Rai?
.
Setuju sama Kazzak, ga ada personality yang bisa gw baca di sini. konfliknya sih ada, tapi lebih jadi dinamika antara Al dan Ningrum doang >,< posisi si Aldino kesannya cma jadi lalat pengganggu.
.
ini dah kelar ato belum? *beneran cma nanya ya ^^* jangan2 gw lagi ditroll sama lu neh xixixi

gak sido... artinya "Tidak jadi" bahasa jawa,,....

:O
oh ic ic

80

woy! apa apan ini?... mudah banget kalahnya?.... aku sama sekali ga tahu tentang Leo di battlemu ini!.

90

akhirnya selesai juga!