BoR Match 16--Eve Dragoste Giandra vs Roger Daniel (Eve's Victory)

 

“DINGIIIIIIIIIIIN!!!”  Eve berteriak sambil menggigil, mumpung belum ada orang di sekitar situ, “Ini keterlaluan! Curang! Siapa sih yang menentukan lokasi pertandingan di tempat dingin seperti ini? Padahal aku tidak bisa bertarung kalau tidak berubah!”

Si guardian bertopeng kucing, Nekoman, pergi entah kemana, digantikan oleh dua gadis manis bertelinga kucing bernama Comedia dan Logina yang langsung meninggalkannya di tempat terkutuk itu untuk menjemput petarung yang satu lagi. Dan rasanya sudah seabad Eve menunggu di tengah dinginnya wilayah pegunungan berkabut itu, tapi lawannya belum muncul-muncul juga.

“Kalau begini bisa-bisa aku kalah duluan sebelum bertanding!”

Eve bahkan sudah kembali ke wujud semula dengan piyamanya yang jauh lebih hangat dibanding pakaian bertarungnya yang tipis itu, tapi tetap saja tidak cukup untuk menghalau dingin yang menyelimuti tempat itu. Eve sudah berputar-putar mengelilingi hutan di sekitar situ, berharap sedikit olahraga bisa membantunya menghangatkan tubuh, tapi percuma. Malah lama-kelamaan ia makin malas bergerak saking dinginnya. Akhirnya ia berhenti dand duduk di bebatuan di pinggir sebuah kolam air panas—oase di tengah kebekuan tempat itu—dan mencondongkan tubuhnya sedekat mungkin dengan kolam agar terkena uap panasnya dan mengurangi dingin yang menyelimuti dirinya.

Sebenarnya posisi Eve benar-benar tidak nyaman, pengaruhnya juga hampir tidak terasa, tapi apa yang bisa ia lakukan? Ia tidak mungkin melompat masuk dan berendam. Lawannya laki-laki dan ia tidak tahu kapan orang itu akan muncul. Bagaimana kalau dia tiba-tiba datang waktu Eve sedang berendam?  Bagaimana kalau ternyata lawannya adalah om-om mesum yang sempat ia temui di Lounge of the Realms sebelum babak pertama?

Cukup, Eve. Daripada memikirkan yang tidak-tidak, lebih baik Eve mengatur strategi. Gadis itu memaksa otaknya untuk berpikir, siapa tahu itu bisa mengalihkan perhatiannya dari dingin yang menusuk-nusuk tulangnya sejak tadi. Strategi, strategi… Eve harus memikirkan strategi yang bagus agar ia tidak perlu banyak bergerak dan bisa menjatuhkan lawan sebelum ia mati kedinginan…

…Strategi apa? Eve bahkan tidak tahu siapa lawannya di ronde ini.

Dasar bodoh! Bisa-bisanya Eve tidak mencari tahu tentang peserta-peserta lain sebelum pertandingan pertama dimulai. Sebelum ronde kedua juga, Eve sempat terkapar selama beberapa jam dan terbangun di infirmary. Ketika ia sadar pun ia tetap tinggal untuk menemani Alea yang masih terlalu lemah untuk dikirim kembali ke realm-nya.

Alea… Gadis itu bahkan masih sempat mengajari Eve dan memberi saran untuk bertarung… Tapi sekarang Alea sudah kembali ke realm­-nya. Ah… Kapan mereka bisa bertemu lagi?

Yang jelas, ketika saat itu tiba, Eve akan membawakan harta MacGuffin, obat untuk penyakit gadis itu.

Ya. Mungkin iblis yang mengikuti pertarungan ini sudah gugur di ronde pertama, namun bukan berarti tidak akan ada iblis yang datang untuk mencoba mencuri harta itu, dan Eve harus memenuhi janjinya pada Alea untuk memenangkan pertarungan dan menggunakan harta MacGuffin untuk mengobati sahabat barunya itu.

Eve tidak boleh kalah di pertarungan ini. Ia harus menang! Demi dunianya, demi Alea!

“Hei, sedang apa kau di situ?”

“G-GYAAAAAAA!” Eve menjerit spontan saking terkejutnya. Hampir saja ia terjatuh ke dalam kolam kalau-kalau ia tidak mempererat pegangannya pada batu terdekat.

Gadis itu cepat-cepat berdiri dan melihat ke sekeliling, mencari-cari sumber suara tadi. Tampaknya asalnya dari ujung kolam yang satu lagi, tapi Eve tidak bisa melihatnya dengan jelas karena tertutup kabut dan uap dari mata air itu, “Si-siapa di sana?!”

Bodoh! Kenapa ia masih bertanya lagi? Sudah pasti itu lawannya—

“Ini aku, Roger Daniels!”

Meski masih gemetar karena dinginnya, Eve melangkah mundur dan menggenggam liontin hatinya. Dengan gigi yang masih bergemeletuk, ia memaksakan untuk berseru.

“A-ANGEL ROU—“

“Hei, kau gila, ya? Masa kau masih semangat bertarung dingin-dingin seperti ini?”

BYUR!

Percikan air dari kolam membuyarkan kabut yang menghalangi pandangan Eve. Dan ternyata yang ada dibalik kabut itu adalah… adalah…

“KYAAAAAAAAAAA!!!”

Merasa baru saja melihat sesuatu yang rasanya tidak pantas dilihat, Eve cepat-cepat menutup matanya dan berbalik.

“A-apa-apaan kau?! Dasar…  D-dasar mesum!”

Keterlaluan! Orang itu benar-benar keterlaluan! Bisa-bisanya dia berendam tanpa pakaian di tengah-tengah turnamen seperti ini! Memalukan!

“Kau ini berlebihan sekali! Kalau aku berendam begini memangnya kau bisa melihat apa?” jawab Roger Daniel santai, “Lagipula aku juga tidak mau tubuhku ini kauintip, jadi jangan ge-er!”

“M-memangnya siapa yang mau mengintipmu, hah? K-Kau yang ge-er! Dasar cowok tidak tahu malu!” omel Eve tanpa menoleh.

“Terserahlah,” ujar Roger, “Aaah… Dingin-dingin begini memang paling enak berendam air panas…”

Sial. Batin Eve sambil mendekap kedua lengannya. Dia juga ingin berendam… Di luar sini benar-benar dingin!

Gadis itu mengintip ke belakang dari sudut matanya—tidak, sudah kubilang aku tidak berniat mengintipnya! Eve hanya penasaran seperti apa rupa lawannya di babak itu. Tidak lebih!

…Dan ternyata Eve mengenali sosok itu. Itu kan bocah berambut hijau menyebalkan yang menertawakannya di Lounge sebelum babak pertama!

Ah! Pertarungan! Kenapa pula Eve membiarkan bocah itu mengalihkan perhatiannya? Ia harus bertarung.

“Kau tidak kedinginan?” tanya Roger, “Tidak mau berendam juga? Padahal di sini hangat…”

Bocah ini benar-benar—sudah, Eve. Tidak usah diladeni. Cepat selesaikan pertarungan ini dan kau tidak perlu menggigil kedinginan lagi!

Gadis itu menggenggam liontin hatinya sekali lagi dan berseru, “ANGE ROUGE ALTERER!”

Dalam sekejap Eve sudah berubah dan mengenakan pakaian tempurnya—Sial! Pokoknya begitu aku kembali ke duniaku, aku harus protes pada Ran agar mendapat pakaian tempur yang lebih hangat dan layak pakai!

Dan sekarang masalah Roger, pertama-tama ia harus membujuknya agar mau menyerah. Walaupun menyebalkan, Eve tidak ingin sampai harus melukainya. Gadis itu akhirnya memberanikan diri untuk berbalik dan menodongkan tongkat ajaibnya ke arah Roger yang masih berendam, “Menyerahlah, Roger Da---“

“Hei, bukankah sudah kubilang aku tidak mau bertarung?”

“…Eh?”

“Makanya, perhatikan kalau orang lain bicara! Dasar bocah kege-eran!” cetus Roger, “Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan padamu, nanti baru kita tentukan siapa yang lebih pantas untuk maju ke ronde berikutnya!”

“Kau juga masih b-bocah! Dilihat dari manapun juga kau masih lebih muda dariku!” balas Eve tidak mau kalah, “M-memangnya apa yang mau k-kau tanyakan?”

Apapun itu, Eve tidak akan membiarkan dirinya kalah dari bocah kurang ajar itu!

“Sebenarnya kenapa kau masih mau terus bertarung di turnamen ini?” tanyanya tanpa basa-basi, “Waktu itu kaubilang kau hanya ingin melindungi harta MacGuffin dari iblis dari duniamu. Iblis itu, Freagh Frevel Grimm, dia sudah gugur di ronde pertama, kan?”

“A-aku s-s-sudah berjanji pada Alea! Aku berjanji akan memenangkan h-harta MacGuffin untuk menyembuhkan p-penyakitnya!” Eve menjawab dengan tegas meski giginya masih bergemeletuk, “Jadi m-menyerahlah! A-aku tidak boleh k-kalah di sini!”

“Jadi kau bertarung untuk Alea Sfir, huh? Padahal kalian baru saling mengenal di turnamen ini dan kau baru saja mengalahkannya di ronde pertama… Menarik,” Roger mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Omong-omong sebaiknya kau pakai jaketku saja,” bocah lelaki menunjuk ke arah pakaiannya yang tertumpuk di bebatuan di belakangnya, “Tidak enak bicara denganmu yang tergagap seperti itu!”

Sekarang dia malah menawarkan jaketnya? Apa maksud bocah itu sebenarnya?

“Ha! K-kaupikir aku akan tertipu? Kau pasti s-sudah menaruh jebakan d-di situ!”

“Jebakan? Aku tidak sepengecut itu! Coba saja periksa sendiri!”

Apa yang harus kulakukan? Eve ragu. Ada yang aneh. Bocah itu benar-benar mencurigakan… Bukannya langsung memulai pertarungan, Roger Daniel malah menanggalkan pakaiannya dan berendam dalam kolam air panas. Dia juga bilang dia tidak ingin bertarung, dan sekarang dia malah menawarkan jaketnya untuk Eve yang memang sedang kedinginan akibat pakaian tempurnya yang tipis dan tanpa lengan.

Apa rencana bocah itu sesungguhnya?

Tapi insting Eve menjerit-jerit agar ia menerima tawaran Roger dan memakai jaketnya. Ia sudah nyaris beku dan jaket itu tampak sangat tebal dan hangat…

Ragu-ragu Eve berjalan mengitari tepi kolam menuju tempat pakaian Roger tergeletak. Ia berjalan pelan-pelan, seolah takut menginjak ranjau atau semacamnya, lalu ia mengambil jaket Roger dari tumpukannya dan memeriksanya dengan teliti kalau-kalau ada bom atau benda tajam yang terselip. Ia bahkan merapatkan telinganya ke jaket itu kalau-kalau ia bisa mendengar detak bom waktu superkecil yang mungkin disembunyikan di situ.

“Sudah kubilang, aku tidak menyembunyikan apapun! Bagaimanapun juga, seorang gentleman sepertiku tidak mungkin membiarkan seorang gadis terus-terusan kedinginan begitu saja!”

Eve memeriksa jaket itu sekali lagi sebelum akhirnya memakai jaket itu meski ragu-ragu. Pipinya terasa memanas sekilas di tengah dinginnya pegunungan itu, “…Te-terima kasih.”

“A-aku bukannya hanya melakukannya untukmu, ya! Jangan salah paham!” sergah Roger cepat, “Kembali ke topik! Apa kau tidak merasa ada yang aneh dengan pertarungan ini?”

“Aneh? Maksudmu?” Eve duduk di atas bebatuan membelakangi Roger dan bertanya balik. Aneh? Keseluruhan turnamen ini memang aneh, bukan? Bahkan sampai sekarang ia masih belum tahu seperti apa harta MacGuffin ini sesungguhnya.

“Coba kaupikir-pikir lagi, setelah sekian lama harta MacGuffin disembunyikan dari orang-orang, mengapa tiba-tiba  orang-orang dari berbagai realm dikumpulkan untuk bertarung dengan harta itu sebagai hadiahnya? Bahkan penjaganya tidak pernah menampakkan wajahnya dan sekarang dia lenyap tanpa jejak.

“Untuk itulah aku di sini. Aku ingin menang agar aku bisa menguak misteri Battle of Realms ini.”

“…”

“Apa kau tidak penasaran? Apa kau tidak ingin tahu tentang kebenaran dibalik semua ini?”

Eve masih tidak menjawab.

“Kalau kau membiarkanku menang, aku bisa membongkar semua itu. Lagipula darimana kau tahu bahwa harta MacGuffin yang tidak jelas wujudnya itu bisa menyembuhkan Alea Sfir? Bukankah jauh lebih baik kalau kau kembali ke duniamu dan melawan para iblis yang sekarang mungkin sudah mulai berkuasa selama kau tak ada?”

Eve terhenyak. ‘Pertanyaan’ Roger  barusan seolah menusuk di tepat di tengah papan target. Ia memang tidak tahu seperti apa harta MacGuffin itu sebenarnya. Bahkan Alea sendiri tidak yakin seratus persen harta itu bisa menyembuhkannya. Dan dunianya… Roger benar. Mungkin saat ini iblis-iblis yang lain sudah semakin merajalela selama ia berada dalam turnamen ini. Bagaimana kalau mereka benar-benar  berhasil menguasai Dominio? Bagaimana kalau para Deadly Sins yang lain telah sepenuhnya bangkit? Bagaimana kalau dunianya ternyata sudah hancur?

Eve menggigit bibr, tidak berani membayangkan apa yang terjadi di luar sana, di luar ‘pertarungan’ ini.

“Bagaimana? Usulku brilian, bukan? Mundurlah dari pertarungan ini, dengan begitu kau bisa kembali menyelamatkan duniamu dan aku bisa membongkar rahasia turnamen ini dan harta MacGuffin.

“Untuk temanmu itu, bukankah duniamu jauh lebih penting? Lebih banyak nyawa yang terlibat. Bahkan mungkin sekarang dia sudah menemukan obat untuk dirinya sendiri di realm-nya. Lagipula, kalau memang harta MacGuffin bisa menyembuhkannya, aku tidak terlalu keberatan berbagi…. Mungkin.”

Antara Alea dan… dunianya. Yang mana yang harus Eve pilih?

Tidak! Keduanya penting bagi Eve, ia tidak ingin mengorbankan satupun di antaranya! Tega sekali bocah itu membanding-bandingkan Alea dengan dunianya? Keduanya sama-sama berharga!

“Oh, ayolah! Memangnya kau butuh berapa abad untuk memutuskan? Bukankah jawabannya sudah jelas?”

Eve tidak yakin Roger Daniel akan benar-benar memberikan harta MacGuffin pada Alea kalau ia berhasil memenangkannya. Meragukan. Lagipula belum tentu dia bisa terus lolos dan memenangkan turnamen ini! Eve harus mendapatkan harta itu dengan usahanya sendiri. Hanya itulah satu-satunya cara untuk menolong Alea dan menepati janjinya!

Dan dunianya… Eve bukan satu-satunya Angels of Virtue, bukan? Mungkin saat ini Ran sudah berhasil mengumpulkan keenam Angels lainnya. Mereka pasti sanggup melindungi Dominio dari seranga para iblis! Memang Eve belum pernah bertemu dengan mereka, tapi Eve percaya… Eve percaya  bahwa mereka bisa melakukannya!

Roger Daniel pasti sedang mencoba menipunya, memanfaatkan keraguannya. Sayang sekali, dia gagal!

“Tidak! Aku tidak akan mundur!”

BOOM!

Tiba-tiba kepulan-kepulan putih mengelilingi Eve dan menghalangi pandangannya. Apa-apaan ini?

…Bom asap?

Sial! Ternyata bocah itu sejak tadi hanya mengulur-ulur waktu!

Eve mendengar langkah kaki dari sebelah kanan. Cepat-cepat ia mengarahkan tongkatnya ke sumber suara itu, “BOMBARDEMENT!”

Panah-panah cahaya merah melesat dari ujung tongkatnya, tapi tidak terjadi apa-apa. Tahu-tahu langkah kaki itu sudah berpindah jauh ke depan. Eve berlari maju dan kembali melemparkan panah-panah merah. NIhil. Terus begitu, langkah kaki itu terdengar berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dan setiap kali Eve mengejarnya dan menyerang, tidak terjadi apa-apa. Padahal gadis itu sudah terjatuh dan menabrak pohon entah berapa kali akibat pandangannya yang terhalang kepulan asap dank abut.

Sial! Di mana Roger Daniel sebenarnya?!

Kali ini suara itu terdengar begitu dekat di belakang Eve. Gadis itu berbalik, tapi ternyata ia menginjak sesuatu.

DHUARRR!!!

Ranjau!

Eve terlempar jauh ke belakang. Tiba-tiba semuanya terasa melambat. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya erat-erat, takut membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya pada dirinya. Jantungnya berdegup berkali-kali lipat lebih cepat, mengantisipasi kemungkinan rasa sakit yang akan ia rasakan kalau-kalau tubuhnya membentur batu atau peopohonan. TIdak, itu bukan kemungkinan, ia pasti akan membentur sesuatu.

Apa semuanya harus berakhir di sini?

Eh?

Bukannya sakit yang ia rasakan, Eve malah merasa hangat. Hangat dan… basah?

Bukannya terhempas ke tanah, Eve merasa tubuhnya menjadi ringan dan perlahan terangkat naik.

“PUAAAH!!!”

Eve mengambil napas dalam-dalam begitu kepalanya keluar dari permukan air. Ternyata ia terlempar ke dalam kolam!

Untungnya kolam itu sama sekali tidak dalam. Gadis itu bahkan bisa menapakkan kakinya dengan kepala tetap di atas air.

Eve beruntung. Kalau saja kolam itu sedikit lebih dalam, atau tadi ia benar-benar membentur bebatuan, mungkin sekarang ia sudah tinggal sejarah.

Eve melangkah agak ke pinggir dan mencari-cari sosok Roger Daniel. Di mana bocah sialan itu? Ternyata dugaannya benar sejak awal, dia memasang jebakan untuknya! Tapi sayang, kali ini Dewi Fortuna berpihak pada Eve.

Di satu sisi, gadis itu merasa nyaman dengan kehangatan kolam itu, tapi ia juga kesal. Ia tidak hanya harus menahan perih di sana-sini, tapi ia juga harus terengah-engah dan menghabiskan energi untuk mengejar lawannya itu tanpa hasil. Ditambah lagi ia sampai harus terlempar dan sempat ketakutan setengah mati kalau-kalau riwayatnya tamat saat itu juga…

“ROGER DANIEL!!! DI MANA KAU?!”

Tidak ada jawaban. Hanya ada derap kaki dari kejauhan di beberapa tempat sekaligus dan bunyi krasak-krusuk seperti kaset rusak yang terdengar begitu dekat.

Jangan-jangan…

Eve naik ke tepi kolam dan membuka jaket yang dipinjamkan Roger tadi dan mengintip di balik kerahnya. Ternyata benar dugaannya, ada sesuatu… Benda hitam yang mengeluarkan suara krasak-krusuk tadi, yang berukuransangat kecil sampai-sampai tidak ia sadari ketika memeriksa jaket itu tadi, benda hitam yang mirip dengan… speaker?

Jangan-jangan… Jangan-jangan suara langkah kaki yang terdengar sangat dekat tadi… Itu semua dari speaker ini? Apa mungkin suara langkah kaki yang lain juga berasal dari speaker-speaker yang sama sementara si bocah tengil itu bersembunyi entah di mana?

Eve melemparkan jaket yang sudah basah kuyup itu ke tanah. Kali ini ia benar-benar kesal.

Lalu ia teringat dengan jurus yang diajarkan oleh Alea sebelum gadis itu kembali ke realm-nya sendiri.

“Kau tahu, Eve? Kekuatanmu bisa dibuat lebih bervariasi dan efektif! Kau bisa memanipulasi cahaya-cahaya merah itu sesuai dengan bayanganmu, bukan?” kata Alea waktu itu.

“…Eh? Sepertinya begitu…”

“Mungkin kau bisa lebih banyak bereksperimen, Eve! Misalnya jurus Bombardement-mu itu, mungkin daripada hanya menyerang ke satu arah, kau bisa membayangkan panah-panah cahaya itu melesat ke segala arah. Siapa tahu salah satu di antaranya mengenai musuhmu! Itu akan sangat berguna kalau kau tidak tahu persis dimana posisi lawanmu…”

Eve memejamkan mata dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Sekarang setelah ia tidak begitu merasa dingin, ia bisa menyerukan mantra yang ia pikirkan berdua dengan Alea dengan lantang tanpa bergetar lagi.

“BOMBARDEMENT MISSILE!!!”

Saat itu juga, cahaya-cahaya merah melesat ke udara dari ujung tongkat Eve, awalnya vertical ke atas sebelum menukik turun ke segala penjuru secepat kilat. Bukan hanya sekali, panah-panah cahaya itu tak henti-hentinya melesat keluar dan menari-nari di udara, di antara pepohonan dan bebatuan yang menutupi wilayah pegunungan itu, menerjang dahan-dahan, kerikil-kerikil, bahkan ada yang mencapai tebing-tebing di kejauhan.

“Hosh… Hosh…”

Eve terengah-engah setelah selesai melancarkan serangannya. Melepaskan begitu banyak panah cahaya memang menghabiskan banyak energi. Apalagi ia harus mengerahkan tenaga ekstra untuk memperluas jangkauan serangannya itu.

…Apa ia berhasil?

Gadis itu duduk di salah satu batu besar di pinggir kolam sebelum akhirnya beringsut masuk ke dalam air. Sudah kepalang basah. Lebih baik ia berendam saja sekalian. Persetan dengan Roger Daniel dan pertarungan, ia butuh istirahat dan kehangatan ekstra.

Gadis itu melihat ke atas langit yang masih gelap dan bertabur bintang. Ia baru menyadari bahwa pemandangan di tempat itu cukup indah. Sebenarnya ia juga bisa melihat keindahan serupa saat pertarungannya dengan Alea, tapi tempat itu terlalu mengerikan. Ditambah lagi ia terlalu larut dalam emosinya sendiri. Tidak ada ruang untuk menghargai keindahan malam sama sekali…

Ah… Apa suatu hari nanti, ia bisa melihat pemandangan seperti ini di langit Dominio?

Tiba-tiba Eve menangkap siluet seseorang dari balik kabut.

Jangan bilang serangannya tadi gagal. Jangan bilang Roger Daniel sudah kembali untuk menyerang!

Eve cepat-cepat naik ke tepi dan dengan tongkat teracung. Ia melangkah mundur perlahan, menjauh dari kolam dan bersiap untuk menyerang balik.

“Selamat, Eve Dragoste Giandra! Kau berhasil memenangkan ronde kedua!”

Ternyata bukan satu orang yang berada dibalik kabut itu, tapi dua. Dan keduanya perempuang, gadis-gadis berkuping kucing yang tadi mengantarkannya ke tempat pertarungan ini.

“Eh? A-aku… Aku menang?”

“Iya! Selamat, ya!” tiba-tiba salah satu di antara kedua gadis itu melompati kolam—bagaimana dia bisa melompat sejauh itu?—dan menyalami Eve.

“Tadi itu keren sekali! Bombardement Missile!” ujar gadis itu—siapa tadi namanya? …Comedia?—sambil menirukan pose Eve saat menyerang tadi, “Hebaaaat! Magical girl memang keren!”

“Jangan berisik, Comedia,” yang satu lagi—pasti Logina—ikut melompat ke hadapan Eve, “Sekali lagi, selamat. Kau berhasil memenangkan pertandingan ini.”

“Ta-tapi… Bagaimana dengan Roger Daniel? Di mana dia? Bagaimana keadaannya?” tanya Eve. Bocah itu… Bocah itu tidak sampai mati, kan? Eve tidak benar-benar ingin menyakitinya, ia hanya ingin memenangkan pertarungan ini dan… Dan mungkin, Eve ingin memberi sedikit pelajaran pada bocah menyebalkan itu… Tapi bukan berarti ia benar-benar ingin mencelakainya! Lagipula tadi bocah itu sudah meminjamkan jaketnya pada Eve… Memang gadis itu sempat kesal karena ternyata jaket itu diselipi speaker yang terang-terangan dipakai untuk menipunya, tapi tetap saja…

“Tenang saja. Roger Daniel hanya pingsan. Dia sejak tadi bersembunyi dibalik pohon di sebelah sana dan terkena salah satu panahmu, lalu dia langsung roboh seketika. Karena itulah kau pemenangnya.”

“Hanya pingsan? Syukurlah…” Eve menarik napas lega, “Terima kasih, Comedia, Logina. Apa sekarang… Apa sekarang kita bisa meninggalkan tempat ini?”

“Tentu saja! Pejamkan matamu!”

Eve memejamkan matanya dengan perasaan yang jauh lebih ringan dari waktu ia pertama menjejakkan kaki di wilayah pegunungan itu. Kini ia sudah selangkah lebih dekat untuk menepati janjinya pada Alea, dan itu juga berarti tak lama lagi ia bisa kembali untuk menyelamatkan dunianya dari para iblis.

…Dan mungkin, setelah ia dang Angels of Virtue lainnya berhasil mengalahkan iblis-iblis itu, orang-orang juga akan bisa menikmati pemandangan malam yang bertabur bintang seperti yang baru saja ia lihat di Dominio City.

Read previous post:  
55
points
(772 words) posted by neko-man 7 years 50 weeks ago
78.5714
Tags: Cerita | Cerita Bersambung | petualangan | Battle of realm | BoR | fantasy | Turnamen
Read next post:  
Be the first person to continue this post

Decon :
(Manis sekali magical Girl kecil.)
(Kau tahu temanmu itu tadinya berniat membunuhmu.)
(Aku tahu cewek yang mirip sepertimu)
(Namanya Madoka)

90

Win EVE!!

80

saingan ama Sam_Riilme dong.
hahaha...

alurnya mengalir lancar. kayak jalan tol (lho?)
untuk kualitas sama, tapi ada bedanya. entah kenapa, aku lebih suka baca tulisanmu ketimbang paman sam (hohoho...:O)

vote Eve!!!

100

"...ia butuh istirahat dan kehangatan ekstra." <- kalimat yang menarik... XD
.
Hmm... padahal akan lebih menarik kalau Roger tidak terlalu mudah dirobohkan...

80

Win Eve!
Eksperimennya kebayang...
Evenya yang bimbang kerasa..
dan tanggung jawabnya pun berat!

80

Cu-Curang T_T
*tak rela Roger kalah digituin aja*
... tapi... lucu juga sih kalo dipikir-pikir. "Segudang Rencana ujung-ujungnya akan dipatahkan oleh Sebutir Keberuntungan* >:P
.
BTW, Roger maw diapain? *keburumimisandanmelotot* @_@

80

adalah apaaaaa???!!!
*pembaca histeris*

saya tunggu kelanjutannya!!! ^^

100

(=3=)
.
Hehe, karakter Rogernya bikin saya senyum-senyum sendiri baca versi Eve ini.. Hum, dia emang tipe yang suka bikin bingung lawannya, dan saya puas dengan caramu menggambarkan anak itu
.
Poin penuh karena sudah lama saya tunggu-tunggu~!

Habis ini Roger saya jadiin mainan ya, mumpung lagi pingsan *plak
Makasih dah mampir~~

ma-mainan? *shivers*