Tentang Kota Hujan dan Jembatan Pelangi

Tuhan sedang tidak mendengar ketika perempuan itu membisikkan selarik doa. Suaranya mungkin terlalu kecil atau kalimatnya mungkin yang terlalu pendek. Perempuan itupun tidak pernah berharap permintaannya akan dikabulkan. Baginya, apa yang ia lantunkan malam itu hanyalah bentuk pelarian dari kekecewaannya, dari keputusasaannya.

 

Aku ingin suatu tempat dimana perasaanku tak bisa terlihat.

 

Akan tetapi doa tidak hanya bisa didengar oleh Yang Mahakuasa. Alam semesta pun mempunyai telinga, mendengar apa yang terkadang perlu untuk dikabulkan. Karena memang di suatu tempat di dunia ini ada tempat seperti yang diinginkan oleh perempuan itu. Tempat dimana perasaan seseorang tidak akan terlihat.

 

Perempuan itu bangun esok paginya, mengucek matanya yang berat karena kotoran, dan terkejut. Di hadapannya, persis di depan ranjangnya, berdiri sebuah pintu besar. Rangkanya terbuat dari kayu mahoni, daunnya tersusun dari lelehan emas murni, engselnya berparut besi tempa. Pada permukaan pintunya terukir pahatan-pahatan dengan huruf yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Pintu terpancang di tengah-tengah kamar, tanpa menempel pada suatu dinding.

 

Kini ia tidak perlu air untuk menyegarkan wajahnya. Diperhatikannya pintu itu baik-baik, diputarinya lamat-lamat, dirabanya sejengkal demi sejengkal. Sampai akhirnya sebuah keingintahuan―sebuah perasaan yang sering salah diartikan sebagai keberanian―menguasai dirinya. Kenop telah digenggam, langkah siap maju. Pintu itu terbukalah.

 

Memang itu adalah sebuah pintu sihir, sebab pemandangan yang didapatinya bukan lagi bagian dari kamar tidurnya. Pemandangan yang dilihatnya sekarang hanyalah hujan lebat yang tak berkesudahan, tak berjeda. Kilat yang bersahutan menjadi satu-satunya penerang di tempat gelap itu. Gemuruh petir beradu dengan percikan air tidak sinkron, membuat pengang telinga. Awan mendung terus membayang, melingkupi tempat itu seperti payung.

 

Terdapat juga bangunan-bangunan di sana. Terbengkalai. Sebagian telah berupa puing, sebagian melengkung siap roboh. Tapi semua tak beratap, sehingga air pun masuk bebas ke dalam bangunan itu. Ada jalan pula, meskipun sudah tertutupi oleh genangan air yang membanjir.

 

Perempuan itu tercenung di depan pintu, lama. Menimbang-nimbang. Bukan basah ataupun dingin yang menjadi penghalangnya, melainkan rasa janggal pada tempat di seberang pintu ini. Apakah ini merupakan sebuah jebakan? Akhirnya perempuan itu berpendirian. Lebih baik masuk dan terjebak daripada abai dan menyesal. Ia pun melangkahkan kakinya menuju dunia di depan sana.

 

Kaki jenjangnya yang terbalut oleh piyama bermotif polkadot segera menjejak ke aspal basah. Tangannya merentang lebar-lebar, ingin merasai daya magis dalam hujan yang turun. Seiring rambutnya kian basah dan menggumpal akibat diguyur air hujan, ia pun sadar. Hujan ini hanya hujan biasa.

 

Sempat dilihatnya beberapa siluet di kota berhujan ini, berdiri tanpa payung dan memandang ke atas. Perempuan itu mencoba berteriak memanggil tapi suaranya ditelan derap air jatuh, meninggalkannya bergulir hanya pada ulir telinganya. Sampai datanglah suara itu.

 

“Selamat datang, Manusia.”

 

Suara itu terdengar jelas, tak terpengaruh desing air dan deru petir. Perempuan itu menoleh untuk melihat sesosok mahluk mirip―atau mungkin―manusia yang terbungkus dari kepala hingga kakinya. Dari kepala dengan topeng polos tanpa ornamen, dari bahu dengan sejenis mantel bersurai, dari pinggang dengan sejenis rok yang saking panjangnya sampai dikira sang perempuan itu ekor.

 

“Siapa kamu?”

 

“Calantica, begitu orang menyebutku.” Lagi, suara itu terhembus dari antah berantah. Dari tempat di mana kebisingan ini tak dapat menyeruak.

 

Perempuan itu, seraya menyeka wajahnya yang dipenuhi bulir air, bertanya, “Dimana ini?”

 

Calantica terdiam sejenak, seakan merutuki kebodohan manusia. “Ini adalah Kota Hujan. Tak bisakah kau lihat sendiri?”

 

“Tapi kenapa ini ada di dalam kamarku?” Kini perempuan itu berteriak, mengimbangi derasnya tempias air dan angin.

 

“Bukankah kau sendiri yang menginginkan itu? Tidakkah kau yang berharap akan adanya suatu tempat dimana perasaan seseorang tidak bisa terlihat, tidak bisa terdengar, teraba, tercium? Benar begitu, Aires?” Mahluk itu telah mengetahui namanya, lewat doa ia semalam.

 

Aires mengingat apa yang telah ia lalui semalam. Makian kasar...pertengkaran mulut...air mata...pintu yang dihempaskan...pria itu. Aires merasakan dingin, bukan hanya dari luar tapi juga dari dalam.

 

“Mengertikah engkau, Aires?” Calantica berinisiatif bertanya setelah melihat Aires lenyap kata-kata.

 

Perempuan itu mengalih pandangkan ke sekeliling, memandang kota suram yang terbalut hujan ini. “Aku tidak mengerti.”

 

Mahluk itu tidak langsung menjawabnya. Ia sendiri pun, sepertinya, telah kehilangan segala perasaan di sini. Tersamar dalam mantelnya yang terurai panjang dan topengnya yang membungkus penuh.

 

“Tiada dari perasaan yang akan terlihat ini. Rona wajah akan tertutup oleh buliran air keruh yang membasahi wajah. Intonasi suara akan tertimpa oleh getaran dan guncangan petir. Pun gesturmu takkan terbaca di tengahnya awan gelap dan desingan air hujan. Orang tak bisa melihatmu sedang tertawa, tersenyum, ataupun tersedu.”

 

 

Ada keterkejutan di muka Aires yang―tentu saja―tersembunyi dalam kota ini. Ia lantas berpikir: kota ini mungkin tempat yang tepat.

 

***

 

Di sisi sebelah sana, tepat di persimpangan jalan utama, seorang pria sedang menengadah. Pakaiannya formal dengan jas mentereng, celana kain, sepatu kulit, serta dasi merah. Melalui Calantica, Aires tahu pria itu adalah seorang politisi. Pria ini sudah tidak tahan. Otot pipinya sudah capai berpose di depan kamera. Ia ingin lepas, menantang dunia dengan ekspresi bebas. Akan tetapi tentu tidak mungkin itu dilakukannya di dunia dengan cengkraman media. Jadinya ia berpaling ke Kota Hujan.

 

Calantica mengajak perempuan itu berkeliling. Membuktikan keajaiban tempat ini. “Lihatlah bagaimana hujan telah menyamarkan kegusaran yang selama ini ia rasakan. Tiada memang yang pernah mengerti betapa beratnya pekerjaan pria itu.”

 

Pertemuan mereka diadakan larut malam. Atau mungkin pagi buta. Tepat ketika semua kelopak mata terkatup, dan seluruh telinga tertutup. Sulit sungguh untuk menjaga hubungan dengan cara demikian. Lelah benar untuk terus beriringan jika tiada yang menginginkan. Apalagi ketika pertemuan mereka kebanyakan terisi oleh pertengkaran.

 

Aires dan Calantica kembali menyusuri Kota Hujan. Di bawah marka jalan yang telah berkarat, mereka melihat seorang anak perempuan. Gesturnya terlihat aneh, teriakannya tercerai-berai hujan. Sesaat seperti menjejak batu ubin kusam, sesaat seperti meninju dinding bata. Entah apa yang dilakukannya, terhalang oleh derasnya hujan dan mendungnya awan. 

 

“Ia sedang menari dan tertawa,” Calantica menjelaskan. “Sudah lama benar ia menginginkan bebas dari aturan keluarganya yang mengikat. Pertama kalinya ke tempat ini ia mengeluh tentang kebangsawanan keluarganya dan berbagai kursus yang membebaninya.”

 

Pria itu terlalu menghargai orangtuanya. Ia ingin menyenangkan hati ayahnya dengan  terus menempuh berpendidikan formal dan berpenampilan elegan. Jelas bukan sandingan dengan perempuan yatim-piatu yang pernah kecanduan obat. Bukan tandingan perempuan pelayan kafe di sudut kota kumuh.  

 

Selanjutnya mereka melihat seorang pria yang berdiri berhadapan dengan lampu jalan. Terlihat cat-catnya yang telah mengelupas, terbawa aliran air. Cahaya sudah lindap dari sana, meninggalkan cangkang kosong dengan bola kaca di dalamnya. Satu tangan pria itu menggenggam sebuah gambar dan diletakkannya persis di tiang lampu. Sedang satu tangannya lagi mengepal, meninju gambar itu berulang kali.

 

Aires membisik bingung, “Apa yang sedang dilakukannya?”

 

“Ia hanyalah orang depresi dan menyedihkan,” ujar Calantica dingin. “Pria itu selalu tidak bisa menghadapi ibu mertuanya. Selalu tunduk di bawah kendali seorang nenek tua hanya karena status penganggurannya. Oleh sebab itu, setiap hari, ia membawa foto ibu dari istrinya itu untuk dihajar.”

 

Sebentar saja hubungan mereka menjadi konsumsi publik. Tiada yang pernah tahu siapa yang pernah membocorkan kesukaan pria itu untuk berlama-lama menyantap omelet di Pentize. Selanjutnya hanya ada makian garang dan gosip sembarang. Keluarga pria itu pun tak luput untuk tahu. Mengambil tindakan tegas dengan cara mengusirnya secara beringas.

 

“Meskipun yang ada di kota ini hanyalah tetesan air dan gemuruh petir, manusia tetap mendatangi tempat ini. Candu, bagi mereka yang terkurung ekspresinya. Kebutuhan, bagi mereka yang terkungkung oleh aturan formal.”

 

Aires mengangguk perlahan, menyetujui apa yang dikatakan Calantica barusan.

 

Calantica menunggu. Ia ingin melihat seperti apa rupa sebenarnya dari perempuan itu. Sepanjang pengalamannya menjaga tempat ini, orang yang baru pertama kali masuk akan berubah menjadi gila, secara metafor. Menyadari bahwa dunia ini sungguh demokratis-eksklusif, seorang manusia akan menampilkan watak dirinya seutuhnya. Sepenuhnya. Ia akan berjoget, menari, menangis, ataupun melakukan apapun yang tak pernah nyaman dilakukannya di dunia nyata. Calantica ingin mengetahui apa ekspresi yang pertama kali ingin disembunyikan perempuan itu.

 

Benar saja, beberapa menit kemudian Aires langsung mengepalkan kedua tangannya. Lalu ia mengacungkannya ke atas. Mulutnya terngaga lebar, mengijinkan air masuk ke kerongkongannya. Kakinya menghentak perlahan, melompat tertahan. Perempuan itu girang. Tapi di saat bersamaan ada kerut di dahinya, taut pada alisnya, dan parut dalam senyumnya. Ekspresi campuran antara gembira dan kesedihan.

 

“Aku senang dapat menemukan tempat ini,” ujar Aires, jujur.

 

Tempat favorit mereka adalah kafe pinggiran yang buka tiap Selasa dan Jumat pagi. Menunya waffle blueberry dengan es krim satu sekop. Sepiring berdua bukan karena alasan romantis, melainkan sesuatu yang praktis, seringkali memang tidak matematis. Akan tetapi, adakalanya, wafle itu berubah lembek akibat genangan es mencair di lubang-lubangnya. Wafle itu memang hanya dimakan ketika berdua.

 

“Dunia sempurna.” Perempuan itu mendongakkan kepala, membiarkan air menyelimuti tubuhnya.

 

Kemudian mereka diam. Membiarkan Kota Hujan mengambil alih.

 

“Mengapa hujan seperti ini tidak pernah ada di dunia tempat kami tinggal?”

 

Calantica balik bertanya, “Mengapa perlu ada di tempat kalian tinggal?”

 

“Karena ini sempurna!” teriak Aires membendung gemerisik hujan. “Semua orang perlu bersembunyi. Ekspresi tidak ada gunanya. Gestur adalah sampah. Intonasi hanyalah penghalang. Semua orang harusnya dapat mengatakan apa yang mereka ingin katakan, meskipun bohong sekalipun. Semua orang memerlukan hujan ini untuk bersembunyi.”

 

“Jadi,” ulang Aires dengan suara bergetar, “mengapa hanya terjadi di dunia ini saja?”

 

Cukup lama suara Kota Hujan memekakkan gendang telinga Aires, sampai akhirnya ia menemukan secercah suara menyelinap ke hatinya, suara Calantica, “Jembatan pelangi.”

 

“Jembatan pelangi?”

 

Kepala Calantica seperti mengangguk. “Kota ini memiliki keajaiban lain. Jembatan pelangi.”

 

Pikiran Aires mulai menggembara. Sebuah untaian warna-warni yang terbentang di cakrawala, menerangi kota hujan yang kelam, membentuk gurat indah di lukisan semesta? Atau sebuah jembatan melengkung panjang, berwarna-warni, dan megah yang melintasi sungai, danau, dan laut?

 

“Lebih sederhana,” Calantica mengingatkan. “Sesuatu yang sungguh sederhana, tapi memiliki daya magis yang tak pernah diperkirakan.”

 

Aires mendelik bingung. Memohon jawaban dengan mengangkat pundak―sesuatu yang jelas tak terlihat di Kota Hujan.

 

Tapi Calantica hanya diam. Sesaat, Aires merasakan sang penjaga Kota Hujan sedang tersenyum kecil di bawah tudungnya. Meskipun kemudian ia menepis dugaan itu, berkata belum tentu mahluk gaib itu memiliki mulut.

 

***

 

Si laki-laki bingung, mengapa ada pintu yang menghubungkan satu kamar dengan sebuah kota luas yang selalu berhujan. Belum sempat mencerna semua keanehan ini, disesalinya mengapa tidak membawa payung. Paling tidak mereka bisa berlindung di bawah plastik berangka.

 

Si perempuan diam, seolah air adalah perekat bibirnya yang ranum. Rambutnya menyatu, membentuk sebuah ujung yang menghalangi pandangan matanya. Gelegar kilat seakan memberi semangat, kesempatan baginya untuk―sekali saja―menjadi kuat.

 

“Aku membencimu!”

 

Ayah sang laki-laki datang beserta istrinya. Turut dibawanya pula seorang gadis cantik sepantarannya. Kali ini mereka tidak hadir diiringi tatapan mata tajam dan gigi gemeretak. Mata mereka memelas, memohon dengan keras. Sebagian senyum tampak sebagai paksaan, sogokan agar diterima. Kehadiran gadis muda itu pun salah satu cara melelehkan hatinya, menyodorkan bukti nyata bahwa masih ada yang lebih baik daripadanya.

 

Pria itu mendengar perkataan Aires. Lantang sekali menembus kepungan suara Kota Hujan. Dada pria itu mundur, tersentak. Rasanya tetesan hujan telah bertransformasi menjadi butiran es tajam yang mengoyak kemejanya.

 

“Aku membencimu!” Aires mengulang. “Tingkah lakumu yang kekanak-kanakan. Kedatanganmu berulang-ulang di kafe yang mengesalkan. Segala janjimu yang memuakkan tentang kita. Aku membencimu!”

 

Laring perempuan itu tidak bisa menahan suara untuk tidak terdengar lirih. Isak itu terdengar sesak karena dipaksakan keluar. Lendir di hidung perempuan itu pun seolah mencegah perkataannya tidak keluar, sehingga menyebabkan getar di dalam suaranya.

 

Tapi tentu saja, derap hujan dan gemuruh petir menyamarkan bunyi itu. Kota Hujan telah membuat suara itu datar, sesekali menggelegar.

 

Ternyata, argumentasi menjatuhkan sudah tidak dipakai oleh orangtua pria itu. Mungkin lelah akibat kebebalan putranya yang menganggap bola kaca buram pun tetap bisa bercahaya, niscaya. Kini mereka menggunakan taktik lain: mengasihani nasib pria itu. Betapa pandangan masyarakat akan beralih miring apabila mereka bersatu. Betapa promosi pekerjaan akan berkurang apabila kabar jelek tersiar. Betapa masuk akal segala prediksi tersebut.

 

Pria itu masih saja diam. Memandangi kekasihnya yang tampak kesetanan itu tanpa lepas. Ungkapan ‘tersambar petir’ sedang berlaku untuknya, walaupun memang benar-benar ada petir meski tak menyambar.

 

“Aku lelah dengan kehadiranmu.” Aires mengepalkan tangan, mengusir ketegangan. “Setiap hari yang kita lakukan adalah bertengkar. Mempersoalkan etis tidaknya hubungan kita. Mempertanyakan pantas tidaknya melawan amanat orang tua. Akuilah! Sudah sejak lama kau menginginkan hubungan ini putus, berakhir saja. Aku berpikir seperti itu! Setiap hari!”

 

Perempuan itu seorang bodoh, apabila sedang berbohong. Tampangnya benar-benar seperti menyesali apa yang telah ia katakan. Gesturnya berantakan―pundak terangkat, tangan terlipat―juga menyatakan benar apa yang dikatakannya tidak benar adanya. Belum lagi ditambah ekspresinya yang menggelikan kalau tidak bisa dibilang menyedihkan.

 

Tetapi awan mendung dan pilar air rintik menghalangi semua gerakan dan ekspresi itu. Kota Hujan telah membuat ekspresi itu datar, menjadikan apa yang dikatakannya serasa bukan kelakar.

 

Seorang perempuan muda lain diperkenalkan kepadanya. Muda, cantik, intelek, dan segudang kelebihan yang diperoleh dari sekali pandang. Yang lebih membuatnya rendah diri adalah sopan santunnya. Tercermin bagaimana ia menghargai seorang perempuan kumuh yang seharusnya menjadi lawan.

 

Pria itu masih berdiri kokoh, bagai patung. Tak bergerak, tak bersuara, tak bereaksi. Tampaknya hawa dingin kota ini telah mematikan tubuhnya, membekukan ototnya. Tinggal lihat sampai berapa lama lagi patung batu itu lapuk dan hancur sendirinya.

 

“Ingat kau saat pertama kali kita bertemu?” ujar Aires membuat suaranya bergema. “Kau berkata bahwa itu seperti pertemuan dengan malaikat. Sedangkan aku berkata bahwa detik itu pula mataku seperti hanya tertuju padamu.”

 

Tawa membuncah dari rongga mulut Aires. “Itu bohong. Aku berkata begitu hanya untuk membuatmu menjadi pelanggan setia. Lalu uang akan menjejali sakuku. Kemudian air mani akan membasahi sepraiku. Dan...woush...sekejap aku sudah menjadi istri orang kaya.”

 

Ada air encer yang menyembul dari ujung mata sebelum akhirnya mengalir bebas ke pipi. Hanya ada kesedihan yang terpancar dari wajahnya, sakit yang terasa ketika mengetahui segala yang dilakukannya turut menyakiti hati kekasihnya.

 

Akan tetapi, buliran air hujan menyarukan air yang menempel di wajahnya. Kota Hujan telah membuat muka itu datar, pandangan mata menjadi nanar.

 

Sebelum berpisah, diberikan padanya satu kalimat ampuh. Mengalahkan segala tekadnya. Mematikan semua hasratnya. Kalimat itu adalah, “Demi kebaikannya...”. Hanya dua penggal sanggup membuatnya menyerah, mengakui apa yang dinubuatkan orang tua selalu benar untuk anaknya. Apalagi dalam kasus ini. Ia bertekuk lutut. Saat itu, keinginannya satu: membuat pria itu berpaling daripadanya.

 

Pria itu termenung. Ekspresinya pun tertutup oleh Kota Hujan.

 

“Aku membencimu! Sangat membencimu!” terisak, Aires berteriak.

 

Hening antara mereka. Sekeliling masih dipenuhi hujan.

 

“Pergi kau dari kehidupanku! Menghilang!” bentaknya, putus asa.

 

Pria itu mendekatinya. Menihilakan jarak antara mereka, meski hujan tetap menyelingi.

 

“Pergi!” kali ini tenaganya keluar habis. Aires sudah tidak peduli.

 

Aires tidak pernah menduga momen selanjutnya. Sesaat kehangatan melingkupinya. Rasa nyaman membayanginya. Pria itu sedang memeluknya.

 

“Aku mengerti,” bisik pria itu di telinga Aires.

 

Aires berusaha berontak, heran dengan apa yang terjadi. “Lepaskan! Sudah kubilang aku tak pernah menyukaimu.”

 

Dekapan pria itu makin kuat. “Aku paham.”

 

Perempuan itu masih mencoba berontak dan menyembunyikan tangisan dengan menggeleng-gelengkan kepala.

 

“Tapi jangan pernah kaulakukan apapun demi kebaikanku,”desir pria, jelas dan jernih. “Karena kebaikanku itu berarti kamu.”

 

Perempuan dalam dekapan itu tidak mengerti. Bukankah hujan telah membinasakan segala ekspresinya, meniadakan segala gesturnya, membasahi setiap tetes air matanya? Mengapa pria itu tak terpengaruh.

 

Tiba-tiba pikiran perempuan itu tersadar. Kini ia paham sepenuhnya.

 

Di dunia ini ada satu keajaiban. Ia tidak berbentuk, tidak berwujud. Ia hanyalah semburat tanpa warna yang memancar dari hati seseorang. Daya kekuatannya satu: menghubungkan perasaan seseorang dengan orang lain. Mengkomunikasikan apa yang tidak terlihat, menggambarkan apa yang tersembunyi. Jembatan pelangi. 

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
70

Buat saya absurd, abstrak, semacam itu... (liat labelnya), ya iyalah fantasi, filsafat, hehehe. Enggak nyampe saya wahaha. Coba meraba2 maksudnya, sepertinya ada tentang ilusi untuk melarikan diri dari kenyataan tapi tahunya cuman penipuan ya (ya seperti kenyataan itu sendiri, he). Sori :P

Setelah saya lihat lagi dan menemukan ada tag 'filsafat' di cerita ini, saya jadi merasa begitu bodoh. Saya menaruh tag itu tanpa memperhatikan secara cermat makna dari 'filsafat' itu sendiri. Saya pun sesungguhnya gak ngerti filsafat juga kok, haha. Jadi, dalam balasan komen ini, saya minta maaf, juga ke seluruh pembaca lain karena udah masang tag tanpa mikir-mikir panjang. Untuk selanjutnya, kita bisa anggap saja tag itu hilang ya. Hehe.
Omong-omong, terima kasih telah menjadi pembaca setia. Saya sangat menghargai komen-komennya. Seru juga, sekalian nostalgia ke cerpen-cerpen lama saya. Haha :D Selamat Tahun Baru!

Setelah saya lihat lagi dan menemukan ada tag 'filsafat' di cerita ini, saya jadi merasa begitu bodoh. Saya menaruh tag itu tanpa memperhatikan secara cermat makna dari 'filsafat' itu sendiri. Saya pun sesungguhnya gak ngerti filsafat juga kok, haha. Jadi, dalam balasan komen ini, saya minta maaf, juga ke seluruh pembaca lain karena udah masang tag tanpa mikir-mikir panjang. Untuk selanjutnya, kita bisa anggap saja tag itu hilang ya. Hehe.
Omong-omong, terima kasih telah menjadi pembaca setia. Saya sangat menghargai komen-komennya. Seru juga, sekalian nostalgia ke cerpen-cerpen lama saya. Haha :D Selamat Tahun Baru!

100

Ini... boleh dimasukin ke Aksarayana #7 gak? :D

Writer NiNa
NiNa at Tentang Kota Hujan dan Jembatan Pelangi (7 years 41 weeks ago)
80

awalnya denger kota hujan langsung teringat Bogor, hehe...

Wow, lembut. aku suka gaya berceritamu, ending nya...:)

Thanks ya :))

80

Romantis banget. :3

Makasih kak. Ada saran ato kritik? :3

90

keren banget ceritanya!(y)

90

keren banget ceritanya!(y)

thanks :)

makasih makasih makasih bangeet :D

100

Sepintas seperti surealis, tapi ini fantasi.
Aku cuma agak bingung dengan settingnya. Tapi keknya bukan masalah besar, ini keren keren keren :D

Hmm.. settingnya ya? Memang saya agak lemah di poin itu sih
Thanks kak Anggra

90

cap kaki dulu, lind. bacanya nanti ya

80

pertamax mari ber fantasi

ya, mari berfantasi ^^

100

ah pelangi ^_^
ini kereeeeeeeeeeeeeeeeeeeeennnn...
jadi pengen nendang. Ugh!

cheers!

Thanks kak el ^.^
*ketendang :P

90

Lind.. berapa sih umurmu? ini kerennnnn... aku iriiiii... hahahhahaa

Thanks kak Sun. :) Umur...ehmm...ehehehe

100

Ini cantik dan lembut dan indah dan manis dan ...
*usap air mata
.
Ajarin saya nulis beginian, Kak Lind (lagi?)

Thanks ya Gie.
Ehehehe :)

90

Ada beberapa bagian yang seperti diulang-ulang, tapi ini sangat keren ^__^

Thanks ya yellowmoon :)

90

(O____O)
Speechless....ada pesan2 tersembunyi dalam cerita ini yang membuat...cerita ini keren sekali!

*me gusta!
(o__<)b

Ehehe thanks kak Red.
Glad you like it. :)

90

keren-keren wow !!
salam kenal

ardha

Thanks ardha. :)
Salam kenal. ^^

90

Nyetor poin dulu. Mudah2an pertamax :P

Sayangnya tidak :P. Ditunggu cabenya kak anggra

100

Omaigat.
Ini keren banget.

Thanks Chie. :) *tersanjung
*berharap cabe :P