School Activity

Halaman sekolah hari ini terlihat lenggang. Lotus datang terlalu cepat ternyata. Ia berjalan santai, sambil menjinjing ranselnya yang berwarna indigo pekat. Aroma anyir sekejap saja membaui penciumannya yang tajam. Ia menoleh kearah selatan, mendapati seorang murid berseragam kumal datang menghampirinya sambil menenteng sebuah kantung plastik yang cukup besar. Lotus mengernyitkan dahinya,

“Apa itu, Bard?” ia bertanya heran. Murid laki-laki didepannya tersenyum kecil, seraya terkekeh pelan.

“Ini PR. Pak Johnson menyuruhku untuk membawa alat peraga,”

“Mapel Biologi ya?” Lotus masih menatap kantung kresek besar itu dengan matanya yang tenang. Laki-laki didepannya tersenyum santai.

“Begitulah. Kau sendiri, kenapa bawa kotak perkakas?” ia menunjuk pada sebuah kotak biru tua yang saat itu sedang Lotus jinjing.

“Sama sepertimu. Ini PR dari pak Johnson untukku,”

“Wow,” laki-laki didepannya bergumam, “Untuk apa itu? menguliti Marinette atau merobek tenggorokkannya Adrian?” Lotus terdiam untuk beberapa saat.

“Entahlah …” ia mengedikkan bahunya, “Mungkin, mencabut bola matamu?” laki-laki didepannya tertawa keras. Jelas sekali ia tidak takut pada kalimat datar milik Lotus.

“Ngomong-ngomong soal organ tubuh, kemarin ayahku memasak Freya,” Bard mengocok isi didalam kantung kreseknya. Menunjukkan bahwa didalam sana ada sesuatu yang dinamakan ‘Freya’.

“Ayahmu memasak dewa?” lagi, laki-laki didepannya tertawa mengejek.

“Bukan bodoh! Freya itu adikku. Umurnya baru sepuluh tahun, jadi tekstur dagingnya begitu lunak. Ini beberapa yang tersisa. Yeah, memang sengaja kusisakan untuk alat peraga Biologi nanti. Kau mau coba? Rasanya seperti babi. Enak sekali!” ia mengambil sesuatu dari dalam kantung kreseknya dan menyodorkannya secara antusias kepada Lotus.

Sebuah lengan kecil dengan lelehan darah terulur didepan matanya.

“Terimakasih. Tapi aku baru saja sarapan,” ucapnya lembut, tanpa menyinggung teman didepannya itu. Bard kembali memasukkan lengan adiknya kedalam kresek.

Well, kau jahat sekali menolak pemberianku yang paling tulus,” Bard masih tertawa-tawa dengan kantung kresek yang sekarang sudah dijatuhinya ke tanah. Ia mendekat kepada Lotus, dan menepuk dada temannya saat itu, ”Bajumu kotor tuh. Kau habis makan apa sih?” Lotus memutar bola matanya, acuh. Ia terlihat tidak senang dengan pertanyaan Bard saat itu.

“Pikiranmu selalu saja diisi dengan makanan,” Bard terkekeh pelan, “Aku habis mengeruk isi kepala Anderson karena kepalanya menghalangi sunrise-ku. Dia mengganggu,” lelaki pirang dengan bola mata aquamarine-nya itu bertepuk tangan.

“Hebat! Bukankah Anderson itu tipe pemberontak? Memangnya kau tidak kesusahan?” Lotus mengeluarkan sesuatu dari kotak perkakasnya. Sebuah pisau berputar ia pamerkan didepan wajah kegirangan Bard.

“Aku menebaskan si ‘Alpha’ hingga membuat kepalanya putus. tubuh Anderson langsung ambruk dan berputar-putar sendiri di jalan. Tapi ah, masa bodo dengan itu,” Lotus mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Benda tersebut dibungkus oleh plastik transparan. Dan lagi-lagi, mata Bard melihatnya dengan antusias, “Aku dapat otaknya. Kudengar IQ Anderson sangat tinggi. Aku bisa menjualnya dengan mahal di pasar malam. Kurasa uangnya cukup untuk membeli kekasihnya Alpha, si ‘Beta’,”

“Alpha? Kau menamai pisaumu Alpha? Dasar kuno!” Bard mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Panjangnya hanya sepuluh senti, “Punyaku namanya Jersey! Ucapkan salam padanya, hei Lotus!” Jersey milik Bard memanjang hingga menyamai sebuah katana.

Mata Lotus menajam. Ia menekan tombol merah pada gagang pisaunya dan membuat bilah-bilahnya berputar, “Hei Jersey, ucapkan salam pada komandanmu, Alpha!”

Mereka saling mendentingkan pisau-pisau itu. sementara matahari semakin tinggi, membumbung di atas langit. Sesuai dugaan Lotus, Bard sungguh payah dalam ilmu bela diri, “Ada celah,” pisau berputarnya sukses membuat lengan Bard yang cukup panjang itu terputus dan mental ke sembarang arah.

“AAHHH! KURANG AJAR!” darah terus mengalir dari potongan lengan Bard. Jersey kebanggannya bahkan tidak lagi di tangan, “Oke, kalau maumu begitu,” Bard nyaris saja mengeluarkan sebuah shot gun mini dari saku celananya kalau saja Lotus tidak buru-buru memotong lengan Bard yang satu lagi.

Cowok pirang itu terhuyung dan jatuh terduduk diatas tanah. Ia menahan jeritannya, agar tidak dibilang cengeng. Tiba-tiba saja Lotus melempar pisaunya kesembarang tempat. Saat itu Bard terlihat bengong.

“Lho?” laki-laki bermata jade itu berjalan perlahan dan kini ia berdiri tepat didepan Bard, “Mau ap–“ ucapan Bard terputus saat tangan lebar Lotus mencengkeram atas kepalanya. murid-murid di sekolah yang berseliweran memerhatikan aksi Lotus-Bard dalam keadaan yang ribut. Beberapa ada yang bertaruh bahwa Bard akan mati, sementara yang lainnya mengatakan bahwa Lotus akan membiarkannya sekarat.

Melihat aksi dadakan yang dilakukan oleh Lotus, tiba-tiba saja pihak dari kubu A berteriak senang.

“Horee! Aku menang taruhaaan!” Lotus memutar kepala Bard sebanyak tiga ratus enam puluh putaran. Suara gemelutuk yang menggelitiknya membuat Lotus semakin terangsang untuk memutar kepala temannya itu sampai benar-benar putus.

Belum sempat ia menyelesaikan tugas prakaryanya yang indah, seorang guru BP datang menghampiri kerumunan yang diciptakan olehnya.

“ADA APA INI?” guru itu menjerit brutal. Salah seorang murid berperawakan nerd yang ada ditempat kejadian menunjuk wajah Lotus, sambil berucap datar.

“Ada yang berantem, Pak.” Lotus melepaskan cengkeraman tangannya dari kepala Bard. Ia sekarang terpekur diam menatap lekat wajah gurunya yang kekar.

“Lotus! Bard! Ikut bapak ke kantor!” Lotus mengangkat tangan kanannya tiba-tiba,

“Maaf pak. Bard sudah mati,”

“Yasudah! Kalau begitu kau saja yang ikut bapak ke kantor!” guru berkulit tan itu menunjuk salah seorang muridnya yang ada di sekitar, “Kau! Yang cebol! Ya, kau! Cari kantung kresek dan masukkan mayat Bard kedalamnya!” murid itu memberi hormat kepada sang guru.

“Baik pak!”

“Dan jangan lupa kau bakar dia di tempat pembuangan sampah!”

Fin

Read previous post:  
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer fitria evadeni
fitria evadeni at School Activity (7 years 26 weeks ago)
80

INI BAGUS LHOOOOOO
kenapa pointnya 0??
hadeh deh. ngemeng ngemeng pas endingnya saya berasa baca cerita humor. gurunya enak amat ya bilang begit. kwkwkk

Writer AwankoLosta
AwankoLosta at School Activity (7 years 43 weeks ago)

ini beneran kosong? sesuai judulnya.. wkwkwkwk

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at School Activity (7 years 43 weeks ago)

:hammer:
belum pernah nyipok piring ya? :3 #plop

Writer dansou
dansou at School Activity (7 years 43 weeks ago)

Ada link di body? Coba itu dihapus dulu link-nya :)

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at School Activity (7 years 43 weeks ago)

Link? di body kosong-kosong aja Kak? aduh, beneran bingung saya O_Q

Writer dansou
dansou at School Activity (7 years 43 weeks ago)

coba dikopi ulang

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at School Activity (7 years 43 weeks ago)

tetep ga bisa Hmm ... nanti saya coba lagi aja deh di komputer orang laen :)

Writer dansou
dansou at School Activity (7 years 43 weeks ago)

submit new post aja. Tapi biasanya kalo enggak muncul, pasti ada link di body :)

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at School Activity (7 years 43 weeks ago)

Oke, nanti saya coba lagi :) makasih kak

Writer Ryuhei
Ryuhei at School Activity (7 years 43 weeks ago)

KOk kosong

Writer Bloodberry Lime
Bloodberry Lime at School Activity (7 years 43 weeks ago)

Bantuin saiaaaa O_Q ga tau kenapa, saya gak bisa ngeposting ceritanya. pas di publish, malah kosong #nangis kejer