Innocent Girl - Niki

Tisnasomantri Nikita Adiwikarta, namaku. Ketika kau menyebutkannya secara lengkap dan jelas, beberapa orang akan langsung menunjuk ke arahku, maka akan kupastikan kau akan menerima tatapan mencurigai—apakah kau sengaja mengucapkan nama sepanjang rel itu untuk menyindirku atau memang benar-benar ingin bertemu dengan pemilik nama langka itu—karena aku bisa menilai seseorang dari ekspresi pertamanya saat itu juga. Tisnasomantri berasal dari nama buyutku, seseorang yang dulunya berprofesi sebagai bidan dan dianggap sebagai figur seorang pahlawan di kampungnya. Nikita adalah nama gabungan dari orang tua kandungku, DeNI dan KITAsih. Sementara Adiwikarta sendiri merupakan nama belakang ayahku.
Masa kecilku lumayan membahagiakan. Aku dilahirkan dan menghabiskan waktu bermainku di pedesaan. Ayahku yang kala itu menjabat sebagai Kepala Desa cukup disegani oleh warga sekitar. Rumah kami berada di pinggir sawah—menyenangkan bisa bermain lumpur setiap hari, tapi aku juga harus siap mendapat omelan beruntun dari ibuku—sehingga kami bisa selalu menikmati angin segar juga bunyi-bunyian nyanyian yuyu.
Ayah adalah seorang petani. Beliau menggarap sawah dan sabar menunggu sampai tanaman padi menguning. Hamparan padi yang telah menguning sangatlah indah. Orang-orang seringkali menyebutnya sebagai permadani emas. Oleh sebab itulah aku sangat menyukai warna kuning. Setiap hari Minggu, ayah tidak pernah absen mengajakku berjalan-jalan. Kami biasa mengambil beberapa batang tebu, jagung, dan juga kacang panjang untuk dibawa pulang.
Pada suatu hari, kami kelelahan berjalan dan beristirahat di bawah pohon mangga. Saat itu aku melihat dua ekor kerbau memakan daun-daunan dengan lahapnya. Ayah berkata kalau manusia seperti kerbau itu—kami sempat tertawa—, mereka segar dan kuat karena memakan dedaunan ibarat sayuran. Aku mengerti dan mengiyakan. Semenjak itu aku suka sekali makan sayuran—terutama kangkung karena di sana kangkung hidup di mana-mana.
Kemudian saat itu tiba. Ayah meninggal karena dipatok ular.

Tidak ada setahun, ibu menemukan pengganti ayah, seorang pengusaha kaya. Walaupun aku tahu pria itu sangat baik hati, namun aku tetap tidak bisa menerimanya. Dia sama sekali tidak bisa menggantikan sosok ayah yang tertanam kuat dalam hatiku. Lagipula dia juga memiliki anak, sepasang bocah laki-laki kembar. Saking nakalnya, aku menyebut mereka “Setan Cilik”. Kami lalu pindah dan tinggal di sebuah kota besar, hidup dalam kemewahan namun hatiku hampa.
Aku bersekolah tanpa ada semangat. Mengucapkan terimakasih, maaf, juga tersenyum hanya kulakukan jika itu perlu. Jika aku sedang stres memikirkan tugas-tugas sekolah dan tes-tes yang merajam membabi buta, sepulang sekolah dan setibanya di rumah, aku akan mengunci kamar dan menghidupkan musik sekeras-kerasnya, tidak peduli ibu berteriak-teriak mengamuk di luar. Hal itu bisa berlangsung sampai beberapa jam bahkan bisa sampai larut malam hingga seisi rumah akan terus terjaga. Kalau sudah terlelap, aku akan keterusan tidur dan akibatnya sering terlambat ke sekolah. Kalau sudah sampai begitu, biasanya aku akan memasang tampang sedih, minta dikasihani. Satpam sekolah lamaku sangat mudah dikelabui, sama seperti guru-guru yang dengan mudahnya memaafkan kalau aku berbuat salah.
Suatu ketika ada seorang petugas perpustakaan baru di sekolah, seorang laki-laki tinggi yang masih begitu muda. Aku yang saat itu kebingungan mencari buku referensi untuk mengerjakan suatu tugas, dibantu olehnya. Dia sangat baik dan ramah. Caranya menjelaskan hal-hal yang dia ketahui, mirip dengan ayahku. Baru saat itulah aku merasakan rasa sayang, yaitu cinta. Ian namanya, pangeran yang sangat ingin kumiliki. Sungguh kecewanya saat aku tahu kalau dia mempunyai kekasih, gadis kurus dan mungil yang masih duduk di bangku SMA. Aku kalut dalam kabut kehitaman. Tidak tahu bagaimana cara melampiaskannya.
Beberapa waktu kemudian, rumahku kedatangan tamu dari luar negeri. Rekan kerja ayah tiri dan putri sulungnya yang lebih tua dua tahun dariku. Nama gadis itu Jennifer. Pertama kali bertemu, dia langsung menunjukkan ketertarikannya padaku. Fakta mengejutkan begitu aku mengetahui kalau dia sebenarnya adalah seorang lesbian! Dan sasarannya adalah aku! Dia sengaja dititipkan di rumah kami untuk sementara. Bayangkan saja seperti apa nakalnya bocah itu karena dia tengah menjalani skorsing selama dua minggu! Setiap hari kerjanya cuma mengajakku berkencan! Gila!
Lama-lama kesabaranku habis juga. Karena tidak tahan terus diganggu, akhirnya aku mengikuti kemauannya dengan syarat dia tidak boleh mengganggu ketika aku sedang belajar. Jennifer setuju. Kami lalu makan malam di sebuah restoran. Dia dengan riangnya terus menggodaku tanpa peduli kalau aku merinding parah.
Pandanganku terpaku ke sebuah arah. Sepasang muda-mudi tengah bergandengan tangan dengan mesranya. Wajahku seketika memerah dan kugigit bibir bawah. Jennifer heran melihat ekspresiku yang tiba-tiba berubah. Dia mengikuti arah pandanganku lalu tersenyum. Dia rupanya sangat pintar membaca pikiran. Aku mengepalkan tangan keras-keras lalu membuang muka.
Jennifer tertawa kecil lalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah ada di pikiranku sebelumnya.
“Kenapa tak kaujadikan saja dia milikmu?”
Aku terkesiap mendengarnya. Kutatap lurus wajah oval dan mata coklatnya yang indah. Dia memiliki apa yang tidak kumiliki. Jalan pikiran yang begitu sederhana dan mudah.
“Kalau ada yang menghalangi, singkirkan saja.”

Gadis itu—Bella—si Pengganggu, kukorek semua hal tentangnya dari orang-orang yang kubayar. Keluarganya ternyata memiliki aib yang sengaja disimpan rapat-rapat dalam sebuah kotak pandora. Itu kunci kemenanganku. Kusebarkan aib itu sehingga Bella dikucilkan. Dia dan seluruh keluarganya terpaksa harus menyingkir. Tapi sesuatu di luar perkiraanku terjadi. Ian berniat mengejar Bella.
Aku kalut. Tidak bisa kubiarkan itu terjadi.
Kusewa orang-orang di lingkungan tempat tinggal Bella untuk dijadikan provokator. Warga di sana lalu mengancam keluarga Bella agar mereka cepat-cepat pergi. Rumah mereka bahkan nyaris dibakar. Di saat mereka melarikan diri dengan mengendarai mobil, tidak kusangka Ian berusaha mengejar. Aku mematung dan hanya bisa memperhatikan dari kejauhan. Kuremas rokku, penuh rasa kekecewaan.
Rencanaku gagal.
Dalam hitungan beberapa detik setelah bulir pertama air mataku jatuh, terdengar bunyi kendaraan yang mengerem mendadak diakhiri dengan suara tubrukan.

Ian dirawat di rumah sakit luar kota. Sedih tidak bisa menemuinya, aku tidak menghiraukan nasihat-nasihat para guru yang menyuruhku untuk terus memperhatikan pelajaran. Beberapa dari mereka memarahiku karena tidak sekalipun mengumpulkan tugas yang mereka berikan. Pikiranku yang saat itu buruk, makin bertambah kacau. Malam harinya, aku menyelinap sendirian ke dalam sekolah tanpa ada satu orangpun yang tahu. Aku mencuri dan langsung membakar kertas-kertas tugas yang dikumpulkan oleh siswa-siswa di sana. Akibatnya guru-guru menjadi kebingungan, dan aku merasa puas.
Tidak cukup sampai di situ saja, aku juga telah beberapa kali melanggar etika disiplin sekolah. Guru-guru yang tadinya rutin menceramahiku, kini tidak bisa berkata apa pun lagi. Bagi mereka, aku sudah kelewat batas.

Aku pindah ke SMA Dikaiosune. Hari pertama di saat aku seharusnya sudah masuk, gagal gara-gara aku bangun kesiangan. Tidak ada pilihan lain, aku terpaksa membolos. Ketika berada di toko buku, aku sengaja membeli banyak sekali komik. Niatku adalah membacanya di dekat Ian yang masih koma, supaya dia tidak kesepian. Aku sangat kerepotan membawanya hingga menabrak seorang gadis.
Dunia ternyata memang sempit. Gadis itu—Faya—ternyata satu kelas denganku, ditambah dengan seorang lagi, gadis berwajah panda yang selalu tidur ketika jam pelajaran berlangsun—Diana. Mereka ternyata tipe anak yang suka sekali membuat masalah. Sementara Diana tengah tidur, aku dan Faya kompak membuat ulah di kelas. Itu menyenangkan. Setidaknya aku memiliki dunia yang indah di sini—tentunya dengan Ian bersamaku—dan lagi, tidak akan kubiarkan gadis pengganggu itu muncul lagi, selamanya.

Read previous post:  
89
points
(1110 words) posted by Aletheia_agatha 7 years 38 weeks ago
74.1667
Tags: Cerita | Cerita Pendek | lain - lain | cerita remaja
Read next post:  
Be the first person to continue this post
Writer shin_nirmala
shin_nirmala at Innocent Girl - Niki (7 years 24 weeks ago)
80

Atha ... lanjutannya ... manaaaa....

Writer Gea_Freecss
Gea_Freecss at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
100

Pengambilan first person point of view nya bener - bener bisa menggambarkan karakter Niki dengan sempurna. aku jadi bisa mengenal tokoh Niki lebih dalem lagi. so ditunggu vol 11 nya ya Aletheia :)

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

iya, makasih udah ditunggu ^^
saia akan buat secepatnya

Writer tsukiya_arai
tsukiya_arai at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
90

eh....ini berseri ya?

saya suka narasinya <3

Writer anna
anna at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
70

Niki Physco ngeri dach... tar gimana nie lanjutanya Faya, Diana dan Niki ..gimana nasib ian salanjutnya saya tunggu

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

jangan nunggu di sini endingnya, nyonya anna~ :D
baca cerita utamanya di http://www.kemudian.com/node/259817

makasih udah mampir :)

Writer dansou
dansou at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
90

Namingway-nyaaaaa w('A'w)

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

Kenapa lagi namingway-nyaaaaaaaaaaaa?! xD

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
80

Niki tetep di hati. Psycho itu kan luarnya. jauh di lubuk hati pasti dia masih nyimpen kebaikan...aku yakin itu. Ayo Niki kita kencan

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

iya iya deh, saya nyerah. dikau boleh ajak Niki (kalau dia beneran mau ;p).
PM, bagaimana jika kau kujadikan Farid?

Writer Putra Mahkota
Putra Mahkota at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

hahahah nama sobat gue itu mah. Hm...boleh deh hahaha

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
80

Ternyata Niki emang psycho... =_=a
antar paragrafnya kurang enter rasanya, jadi kurang nyaman baca.
Seperti emak, saya juga lebih suka Diana ^^

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

sebenernya waktu buat yang part ini saya sempet bingung lho kak. maunya saya buat dia setara kocak sama Diana n Faya, tpi g bisa soalnya d cerita utama nanti, dia bikin konflik sendiri.
ya smoga aja saya bisa bikin hepi ending ^^
.
kurang enter? hm, iya deh nanti saya edit.
makasih udah mampir :)

Writer cat
cat at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)
70

Aku tidak terlalu suka sama Niki.

Lebih suka sama Diana.

ː̖́ټ..ћέ²..ټ..ћέ²ː̗̀(*)ː̖́..ټ..ћέ²ټː̗̀

Writer Aletheia_agatha
Aletheia_agatha at Innocent Girl - Niki (7 years 36 weeks ago)

wajar sih kak Cat, saya juga ngeri sendiri kalau bayangin si Niki itu. aslinya dia itu nggak ada bedanya sama cewe2 lain, cuman ya gtulah...
nantinya mungkin saya akan buat dia menyesal, n for all, happy ending^^
makasih sudah mampir :)