Drone #216

  Ancaman radiasi, makhluk mutan, dan perperangan tanpa henti telah terngiang jelas di kalangan para ilmuan jauh sebelum hal itu terjadi. Untuk mencegah kekacauan, para ilmuan menciptakan sebuah mesin waktu yang akan mengirim Drone ke masa depan. Namun, ketidakmampuan para ilmuan untuk memprediksi dan mengontrol mesin waktu tersebut merupakan sebuah bencana bagi mereka sendiri.

Sebuah sosok terkapar di tanah. Kemudian bangkit dengan gontai dan mendapati dirinya bukan lagi di rumahnya. Tak ingat apa-apa, ia berjalan lurus entah kemana. Tanpa tujuan yang pasti, melintasi hamparan gurun kering kerontang.
 

-----------------------------------------------------------------

 

Sebuah sosok berjalan tertatih dan terseok-seok. Melewati hamparan tanah kering nan kecoklatan. Angin menghempas, membawa partikel-partikel kecil debu bersamanya. Tak sedikit gambaran retakan tanah di sepanjang perjalanan. Tanaman yang dipandang tidaklah sedap, bewarna hijau dan penuh dengan duri. Satu-dua tanaman berdaun, namun kondisinya sangat mengenaskan, menunggu ajal tanpa air yang menemani. Coklat dan layu.

Sosok itu berbibir kering, serta dekil kotoran di wajahnya mendandakan betapa gembel dirinya. Rasa haus dan lapar menggerogotinya—terutama haus. Haus sekali. Kerongkongannya sekering ladang yang ia susuri. Ia seorang pemuda yang tangguh—setidaknya untuk ukurannya yang mampu bertahan di hamparan tanah kering kerontang. Tubuhnya kuat dan ramping, tatapannya mantap, berhidung mancung dan berwajah tampan. Rambutnya tak terlalu mengikuti tren jaman, tersisir rapi menyamping. Namun kini semua kegagahannya tak nampak, karena yang terlihat hanyalah wajah seorang yang hampir menemui ajalnya, lesu.

Ia mengenakan seragam mekanik biru, ada sebuah tulisan di dada kanannya, ‘Rulof’. Penuh dengan noda-noda oli dan debu, menempel dan bersatu membentuk sebuah noda yang jauh lebih tak sedap dipandang.

Berjam-jam ia berjalan, menuju arah tak pasti. Matahari serasa tak bergerak turun. Tetap bertengger di atas kepalanya. Ia tak tahu mana arah barat, utara ataupun selatan. Timur sekalipun. Bayangannya tepat di bawahnya, tak nampak menyamping.

Matanya mulai berkabut, kabur. Kakinya mulai bergetar ketika tenaganya tak sanggup menopang berat tubuhnya. Dan, bruk. Ia terkapar di tanah. Debu-debu berterbangan dan mengambang sesaat di udara ketika tubuhnya menghempas tanah. Ia merintih, dengan lirih. Sebuah shotgun terhempas dari genggamannya, shotgun yang dua jam lalu ia temukan di kamp bandit yang anggotanya telah tewas termakan hewan gurun ganas tempo hari. Ia kini bersenjata, namun tak beramunisi. Nampak berbahaya, namun tak menggigit.

Matanya terpejam, walau dalam benak ia melolong tak ingin mati di tempat.

Ia terbangun ketika ia mendapati tengah dipapah oleh seseorang. Awalnya matanya berkunang-kunang. Makin lama makin jelas pengelihatannya dan sempat ia mendapati sosok pria gemuk setengah baya berkumis lebat dengan ujung lancip dan bertopikan topi koboi tengah memapahnya. Ia menyadari pria gemuk itu tengah membawakan shotgunnya secara sukarela.

“Si—Siapa kau?!” tanyanya itu panik.

“Aku? Namaku Bob. Dan kau?”

“Aku—aku tak tahu...” jawabnya parau.

“Rulof?” tebak Bob tak yakin.

“Huh?”

“Namamu Rulof, kan?”

“Entahlah, aku lupa siapa aku. Aku hanya ingat aku terbangun di gurun sialan ini dan berjalan entah kemana,” ujar Rulof. “Darimana kau tahu?”

“Namamu—lihatlah,” Bob menunjuk tulisan di dada kanan Rulof.

Rulof mengangguk kecil. Sudah paham sedikit identitasnya—walaupun ia sedikit terkejut ketika mendapati sepercik identitasnya hampir tak lebih jauh dari dadanya. Lebih baik begitu, daripada identitasnya mengambang dan benaknya terus dirajam dengan pertanyaan—“siapa aku?”
Dari kejauhan Rulof yang digandeng Bob melihat deretan bangunan. Tua dan lemah. Terkesan dibangun mendadak dengan bahan seperlunya. Serpihan papan kayu, besi dan seng-seng tua bekas digunakan menyandang tiang, dinding dan atap.

“Kita hampir sampai,” ujar Bob seraya terengah-engah memogoh tubuh Rulof.

Rulof terus memandangi rumah-rumah itu. Bagaikan tempat persembunyian yang aman dari cengkraman makhluk-makhluk buas di dalam rimba, rasa lega menghampiri ketika melihatnya. “Mengapa kau menolongku?” tanyanya mendadak. Sedikit terasa tak sopan dan terkesan sangat tidak berterima kasih dari nadanya.

Angin berdebu menyapa dengan kasar, menggemakan suara bising yang menemani telinga sesaat. Terpaksa Bob menunda kata-kata meluncur dari mulutnya sesaat.

“Mengapa? Tentu karena aku harus!” seru Bob seraya tersenyum ringan, ia memandangi wajah Rulof. “Kau mungkin tak tahu betapa berharganya ‘harga’ sebuah jiwa jaman ini, sobat. Tapi populasi adalah satu-satunya hal terpenting dalam kelangsungan hidup manusia. Jika kita tidak ingin punah—maka tolonglah orang asing yang terdampar di gurun walaupun mereka sederajat dengan kecoak. Mengerti?”

Rulof mengagguk. Namun masih ada pertanyaan dalam benaknya tentang kata-kata Bob. “Mengapa? Apa manusia sudah diazab?”

Bob tertegun sesaat seraya terus berjalan dan memapah tubuh Rulof. Ia menyeringai ramah, “bisa dikatakan begitu. Dan manusia lampau terus berusaha untuk menghentikannya, mengirim seseorang tak berguna melewati dimensi waktu untuk mencari tahu penyebab kerusakan ini. Lihatlah—kau salah satunya!” Bob menunjuk kalung berlabel yang tengah dikenakan Rulof. “Kalung ini membuktikannya, kau salah satu yang diutus. Coba lihat—oh ya—kau yang ke 216!”

Rulof mengelus kalungnya. Ia tak ingat ia mengenakan kalung yang seperti itu. “Aku yang ke 216?” gumamnya parau. Suaranya lemah, menandangkan dirinya tak sanggup untuk mengerahkan tenaganya yang tersisa.

“Ya, sudah banyak yang sepertimu datang. Terdampar di tengah gurun. Sebagian mati, sebagian berhasil hidup. Sebagian sampai kota, sebagian dilahap hewan gurun—Clawfear. Sebagian gagal, sebagian mengklaim dirinya berhasil menyelesaikan misinya. Namun, semua dari mereka berkata omong kosong! Tak ada satupun yang mengetahui penyebab kerusakan ini, setidaknya sampai sekarang. Lihatlah; tanah kering, radiasi nuklir mengotori pasokan air, manusia mutan dimana-mana—jangan khawatir, mereka bernaung di ruang bawah tanah seperti bunker, stasiun bawah tanah dan sebagainya. Tak ada satupun dari mereka yang betah tinggal di luar, entah mengapa.”

“Waw, aku tak tahu seberapa rusaknya bumi ini. Tugas yang mulia, bukan?”

Tawa Bob meledak. Kemudian mulai melepas kata ketika ia selesai. “Mulia? Mungkin. Tapi kebanyakan mereka yang diutus adalah orang-orang tolol, psikopat, pecundang, dan sebagian tak berguna. Membual, kebanyakan, itulah yang membuat bumi ini antah berantah!” balas Bob sembari melanjutkan tawanya lagi.

Rulof cemberut seketika. Kecewa akan jawaban dari Bob. Tak terasa mereka hampir mencapai beranda sebuah bar kecil. Terdengar sebuah lagu mendayu penuh penghayatan, terngiang dengan volume yang agak besar dan parau distorsi dari sebuah CD player—Imagine, John Lennon.



Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today


“Matikan lagu itu, dasar kakek tolol!” umpat Bob kepada seorang kakek berjubah compang-camping yang duduk disebuah kursi di beranda bar. Rupanya ialah sang empunya CD player buntut itu, melolong dengan agak menyedihkan—kuno.

Kakek tua itu tak merespon. Tetap kosisten pada pandangan kosongnya yang ditunjukkan pada gurun kering nan luas di depannya. Sedang Bob malah menyeringai dan menggeram, sama seperti hari-hari biasanya. Kakek itu tetap acuh kepadanya dan terus mendengarkan lagunya yang mendayu.

Bob kemudian melanjutkan langkahnya masuk ke bar bersamaan dengan Rulof. Sejenak Rulof memandangi kakek tua itu seraya melangkah masuk melewati beranda. Kakek tua itu membalas pandangan Rulof, walau agak ragu dan malu-malu. Tapi ada sebuah ikatan, entah apa, yang membuat benak Rulof menggigil. Merasakan ada sesuatu yang ingin di sampaikan oleh kakek tua itu. Namun entah mengapa kakek tua itu kembali memandang gurun, seketika membuat hati Rulof hancur dan kecewa. Suara lantunan lagu masih terdengar dari dalam bar.


Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace

Ada seorang wanita jangkung setengah baya yang menjaga bar itu, menjadi seorang bartender wanita. Ia langsung tergopoh-gopoh menggapai Rulof ketika Bob menyenderkannya di sebuah kursi, seraya membawa segelas air putih jernih dan bersih, nampak menyegarkan.

Rulof langsung meneguk gelas air yang disodorkan kepadanya. Rasa lega merambat dari mulutnya, menuruni kerongkongan dan membasahi perut. Terasa segar. Terasa hidup kembali.


You, you may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one


“Apakah kau memiliki segelas lagi?” pinta Rulof parau nampak tak puas hanya segelas air yang ia dapatkan. Kerongkongannya masih kering.

“Maaf nak, hanya itu yang kami punya,” sesal wanita itu. “Kami sedang krisis air bersih belakangan ini, sumber air sedang bermasalah,” imbuhnya.

Rulof mengangguk mengerti penderitaan wanita itu, serta suaminya—mungkin.

“Oh ya, nak. Ngomong-ngomong namaku Risa,” wanita setengah baya itu memperkenalkan diri dengan ramah dan bersahabat. “Siapa namamu?”

“Rulof,” ujar Rulof seraya bangkit lunglai dan memamerkan jabat tangannya pada wanita itu.

Wanita itu kikuk ketika disambar jabat tangan oleh Rulof. Sejenak ia tak tahu harus berbuat apa, namun nalarnya memberikan sedikit petunjuk untuk membalas jabat tangan itu. Ia menyeringai ramah dan tersenyum palsu untuk menyelubungi rasa canggungnya. Sepertinya jabat tangan merupakan adat yang terlupakan dan sudah hilang dari peradaban kala itu.


Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people sharing all the world


“Oh ya, siapa kakek yang di depan itu?” tanya Rulof ramah, terkesan dari nadanya ia mendesak dan sedikit memaksa agar segera di jawab.

“Oh, namanya Bryan. Ia adalah ayahku,” jawab Risa. “Ia buta dan bisu, jadi jangan ganggu dia,” imbuhnya.

“Ya, itulah yang menyebabkan orang tua itu tak berguna!” sambar Bob yang tengah memeriksa suplai minuman keras di bar.

Lelaki tua bertopi koboi itu langsung dipelototi Risa, yang tampak dari tingkah mereka adalah istrinya. Bob langsung bungkam seketika. Risa berjalan menghampiri bar dan Rulof masih duduk lemah di kursinya.


You, you may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will live as one


Lagu Imagine langsung berhenti di latar. “Benarkah?” air muka Rulof menandakan rasa tak percaya. “Aku berani bersumpah ia membalas pandanganku tadi.”

“Itu mungkin ia mengira dirimu adalah Legate. Tapi kenyataannya kau adalah seorang Drone, bukankah begitu?” balas Risa sembari mengelap bar.

Terdengar lagu Imagine ala John Lennon kembali mengumandang. Kembali Rulof disuguhkan oleh lagu yang amat menyejukkan hatinya, sangat. Itulah yang membuatnya ia begitu antusias kepada kakek itu.

“Legate? Drone?” Rulof mengangkat sebelah alisnya menandakan kata-kata itu baru di kamusnya.

“Legate adalah jendral Romawi kuno, digunakan oleh Melany untuk mengungkapkan istilah ilmuan dari masa lampau yang hendak mengambil Toxin—istilah yang digunakan untuk penyebab terjadinya kekacauan ini. Sedangkan Drone, mereka yang diutus untuk mencari Toxin, dan kurasa kau adalah salah satunya,” ujar Risa ketika mendapati kalung yang dikenakan oleh Rulof.

“Ya, aku senang Melany ada di kubu Blackhorn,” gumam Bob disela tegukkan brandy-nya.

“Blackhorn?”

“Nama kota ini, bodoh!” Bob menyeringai kasar, sekali lagi mendapat pelototan Risa dan membuatnya bungkam.

“Aku ingin bertanya,” ucap Rulof. “Apa kelebihan Melany sampai-sampai kau gembira ia berada di kubumu?”

“Sebaiknya kau tanyai Timmy,” usul Bob. “Ia lebih tahu sejarah Blackhorn daripada aku, dan ia akan kembali sesaat lagi dari sumber air—kau tahu? Aku hanya tahu Melany itu wanita yang hebat!”

Rulof hanya mengiayakan. Kemudian Bob menaruh shotgun jarahan Rulof di meja tempatnya bernaung, lalu pergi lewat pintu belakang. Risa masih di bar, mengelap beberapa gelas dengan teliti.

Rulof tertegun, mendengarkan lagu Imagine yang mendayu merdu. Sungguh bersarang di benaknya, memikat pada pertemuan pertama. Ia merasa dirinya bersih, tanpa cacat sedikitpun setiap kali mendengarkan lagu itu. Ia kemudian bangkit—terasa sakit baginya ketika tubuh lesunya dipaksa berdiri walau masih lemah, berjalan gontai keluar dan berdiri tepat di sebelah kakek tua itu.

Ia menyimak lagu itu sembari menyenderkan tubuhnya yang belum pulih betul pada ambang pintu. Sejuk rasanya, walau udara sepanas apapun. Lagu itu benar-benar meluluhkannya, sampai ke tulang-tulang. Tak ada yang bisa menggambarkan perasaannya kala itu. Benar-benar terbebas dari segala masalah, ringan dan segera melayang.

“Lagu yang sangat bagus, kek,” ujar Rulof ramah.

Kakek itu menengadah untuk memandangi wajahnya, kemudian mengembalikan pandangan butanya. Beberapa saat kemudian ia menawari CD player usangnya kepada Rulof, namun cepat ia menolaknya dengan lembut.

“Oh tidak, tidak usah kek,” tolak Rulof sembari menggeleng lemah. “Benda itu akan sangat cocok denganmu. Kau tahu, orang tua buta sepertimu perlu hiburan yang konstan untuk merasa tenang,” ucap Rulof seramah dan sebaik mungkin.

Namun tetap saja kakek tua itu tersinggung. Seramah apapun Rulof, tetap saja kakek tua itu menyeringai lemah.

“Tidak ada yang salah dengan tua,” Rulof mengambil pencegahan cepat. “Tua tak berarti lemah. Malah semakin tua kita semakin bijak—seperti kata orang-orang. Dan lagi, kita manusia tak bisa menghindari masa tua, benarkan?”

Kakek tua itu melunak, mengangguk lemah. Rulof merasa lega.

Nampak sebuah sosok dari kejauhan tengah berlari kecil ke arah bar itu. Fatamorgana, sepertinya. Pemandangan terasa terbakar ketika suhu kala itu sangatlah tinggi. Namun cepat Rulof menyadari sosok itu nyata, dan cepat pula sosok itu membesar, menandakan ia semakin dekat.

“Whoa, whoa sobat,” ujar sosok itu. Bertopi dan berpakaian halayak sang koboi. “Aku tak tahu ada orang asing di sini,” lanjutnya.

“Rulof,” ucap Rulof singkat memperkenalkan diri, ia tak mau percakapan basa-basi mengusik lagu Imagine yang tengah ia dengar.

“Timmy,” balas sosok itu.

“Kau tahu tentang Melany?” tanya Rulof, masih menyenderkan tubuh lemahnya di ambang pintu.

Kakek tua itu langsung menyeringai lemah dan mendesis bisu. Timmy mendekati Rulof seraya berbisik padanya, “jangan di dekatnya. Masuk saja, nanti kuceritakan semuanya,” perintah Timmy seraya mengajak Rulof masuk bar.

Mereka masuk ke bar, Timmy sedikit menuntun langkah Rulof yang gontai.

“Timmy, kau sudah pulang rupanya,” sambut Risa.

“Ya kak. Rupanya masalah sumber air kita adalah New Emperor. Mereka mengklaim sumber air kita dan meminta sebuah pertukaran.”

“Dan apa yang jawabanmu?”

“Tentu saja aku bilang iya,” seru Timmy. “Kau tak ingin berurusan dengan New Emperor, bukan?”

Risa mendesah, “semoga mereka tak mengambil sesuatu yang berharga.”

Timmy memandangi Rulof. “Duduklah,” perintahnya sembari menunjuk salah satu kursi.

Rulof duduk, begitu juga dengan Timmy.

“Mengapa kau bertanya soal Melany?” tanya Timmy mengambil start.

“Karena Bob senang jika ia berada di sini,” jawab Rulof gamblang.

“Sepertinya kau benar,” balas Timmy. “Ia adalah wanita pintar dan kuat. Dia drone, sama sepertimu, kau tahu? Ia adalah Drone pertama, ia menamai dirinya Drone #1. Ia adalah seorang ilmuwan, begitulah dengan Drone yang lain pada awalnya.”

“Pada awalnya?” Rulof mengangkat sebelah alisnya.

“Ya,” jawab Timmy. “Pada awalnya, Drone begitu terhormat dan sangatlah pintar. Lambat laun, Drone yang datang merupakan orang buangan. Kebanyakan napi yang hendak dieksekusi mati, lalu otaknya dicuci—kau salah satunya.”

Rulof sama sekali tak tersinggung dikatakan orang buangan, sebab ia tak mengetahui masa lampaunya--sama sekali. Wajahnya awas penuh antusias.

“Kuduga penyebab mereka mengirim orang buangan karena mereka lelah tak mendapat jawaban para Drone. Dan sama sekali tak ada Legate yang datang,” ujar Timmy. “Melany terkenal karena ia adalah salah satu ilmuan yang mengirim dirinya sendiri menjadi Drone, sekaligus ia adalah Legate. Dan menurut rumor, ia berhasil menemukan Toxin, namun meninggal karena kanker sebelum ia sempat menghubungi para Legate yang lainnya.”

“Jadi, maksudmu Toxinnya mati bersamaan dengan kematian Melany?”

“Tidak juga,” ujar Timmy. “Satu-satunya orang yang mengetahui Toxin selain Melany adalah Bryan--ayahku. Ia adalah satu-satunya orang yang paling dipercaya Melany, karena sesungguhnya mereka dahulu adalah sepasang kekasih. Walaupun ibuku mau menikahinya karena merasa iba, tapi sebenarnya ia masih mencintai Melany, sampai sekarang. Tak berkurang sedikitpun.”

“Darimana kau tahu ia masih setia?”

Lagu Imagine selesai, namun kembali mengumandang lagi.

“Kalau tidak dia tidak akan menjadi buta dan bisu,” jawab Timmy cepat. “Ia menengadah ke matahari setiap saat, seraya melolong kepadanya sekuat tenaga, juga setiap saat. Begitulah yang diintruksikan oleh Melany sebelum ia meninggal. Semata-mata hanya untuk memanggil Legate, namun ia tahu, manusia selain Drone tak akan pernah bisa memanggil Legate. Jika kau tanya aku, Bryan adalah orang yang paling acuh yang pernah hidup. Ia tak akan rela membahagiakan orang lain bahkan jika diminta digarukkan punggung saja. Namun Melany datang dan mengubah jalan hidupnya, begitulah yang dikatakan ibuku.”

“Lalu bagaimana aku bisa menggali informasi darinya?”

“Kau tak akan pernah bisa. Percayalah. Ia bisu dan buta. Dan lagi ia tak pernah mempercayai orang lain—apalagi orang asing.”

"Tahukah kau mengapa ia terus mendengar lagu itu--tidakkah ia pernah mengganti dengan lagu yang lain?"

Timmy mengangkat bahunya. "Aku tak pernah mendengar lagu selain lagu itu. Sudah puluhan tahun ia duduk di situ dan mendengarkan lagu itu. Mungkin karena itu adalah lagu kesukaan Melany, dan ibuku pernah berkata bahwa mereka terus memandang matahari sambil mendengar lagu itu ketika mereka masih muda."

Rulof mengangguk puas. “Lalu apa saja yang harus kuketahui tentang masa kini? Ada nasihat?” tanya Rulof.

“Jika kau bergabung pada satu kubu, jangan pernah berkunjung atau berurusan dengan kubu lain, kecuali memang diperlukan dan menguntungkan kedua belah pihak. Biasanya jika kami berpapasan, turunkan senjata sebagai tanda damai, maka kedua belah pihak berhak untuk lewat dan berhak untuk tak diusik. Namun jika kau tidak melakukannya, maka kubu lain akan menganggapmu bosan hidup.”

“Ada lagi?”

“Ya. Jangan terlalu boros makan dan minum, makanan dan air bersih sungguh langka di sini. Juga pilih-pilih makanan dan minuman sebelum mengonsumsinya, jika kau menelan terlalu banyak radiasi, kau akan berakhir sebagai manusia mutan. Jangan—benar-benar jangan pernah berkeliaran jauh-jauh tanpa bersenjata apalagi sendirian, juga jangan pernah sekali-kali masuk ke dalam ruang bawah tanah, makhluk mutan liar akan memburumu.”

“Sepertinya tak terlalu susah,” Rulof menyimpulkan.

“Tidak semudah itu,” sangkal Timmy. “Hidup di sini susah, terutama tentang konsumsi dan masalah sosialisasi. Amunisi seperti senjata ini (menunjuk shotgun Rulof di salah satu meja), sangatlah susah di cari. Juga, setiap kubu sangatlah terpecah, dan mereka sangat haus dengan kekuatan. Jika ada saja Drone atau penjelajah asing yang tersasar di dalam gurun, maka mereka akan segera merekrutmu—seperti apa yang dilakukan Bob padamu,” terangnya. “Dan mereka akan terus memandang bulu. Yang kuat akan bertahan hidup, dan yang lemah—seperti kami—akan terlindas,” tambahnya.

Rulof hanya mengangguk kecil, tanda mengerti. Ketika Timmy berkata 'kubu yang lemah', ekspresinya berubah muram. Rulof mengerti, ketika ia berkata hal itu, ia merujuk kubunya yang merasa telah terlindas oleh kubu yang lebih besar, seperti New Emperor yang telah mengklaim sumber air mereka dan meminta pertukaran jika ingin sumber air mereka kembali--sungguh tak adil.

Timmy mendesah. “Sepertinya ini adalah kutukan,” gumamnya. “Perpecahan ini, kutukan nenek moyang yang membuat kami kubu kecil terus saja menderita.”

Rulof hanya tertegun mendengar gumaman Timmy, seraya menunjukkan wajah yang tak begitu peduli, walaupun ia sangat peduli. Tiba-tiba Bob muncul di ambang pintu. Wajahnya menyeringai gusar.

“Mengapa New Emperor ada di sini?” tanya Bob gusar dengan nada tinggi.

“Pasti mereka akan memulai pertukarannya,” jawab Timmy seraya bangkit. Risa mendekati adiknya.

“Pertukaran apa?” gusar Bob.

“Sumber air kita, mereka mengklaimnya,” jawab Timmy sigap.

“Sialan!” umpat Bob. “Apa yang akan kita berikan? Kita tak punya apa-apa?”

“Entahlah,” Timmy mengangkat bahunya.

“Bagaimana dengan darah baru, ia belum secara resmi masuk ke kubu kita,” usul Risa.

Bob dan Timmy langsung memandangi si darah baru—Rulof. Kemudian memandangi Risa dan kembali ke Rulof beberapa saat kemudian.

“Apakah kau bersedia, nak?” tanya Bob penuh harap.

Rulof hanya mengangguk kecil. Mungkin anggukannya adalah bentuk balas budinya kepada Bob dan yang lainnya.

“Ayo kita lakukan,” ucap Timmy penuh percaya diri. Kemudian mereka berempat keluar dari bar. Lagi-lagi lagu Imagine usai, dan kembali terulang untuk kesekian kalinya.

Ada tiga sosok pria ramping berpakaian layaknya prajurit Romawi di jaman kuno. Mereka adalah New Emperor, dan mengklaim Romawi adalah kebudayaan mereka dan hendak membangun kembali dari awal.

“Apa yang kalian tawarkan demi sumber air?” tanya salah satu dari New Emperor.

“Darah baru—ia adalah seorang Drone,” balas Bob kasar.

Ketiga sosok itu memandangi Rulof sesaat, menelaah dari ujung rambut ke ujung kaki. “Kami sudah memiliki banyak Drone, ia tak berguna bagi kami!”

Bob dan Tom tersentak, namun tidak dengan Risa dan Rulof. Risa, lebih terkesan gusar, menyeringai ganas.

“Kami menginginkan itu,” ujar salah seorang New Emperor sembari menunjuk ke CD player usang milik Bryan, si kakek tua.

Timmy dan Risa tak bergeming. Mereka mematung dan jelas tak merelakan benda kesayangan ayah mereka. Namun Bob berpendapat lain; “ambil saja,” ujarnya.

Rulof memandangi salah satu sosok yang hendak mengambil CD player tua itu. Namun, Bryan yang menyadarinya langsung menyeringai dan mengamuk gusar. Ia mencengkram tangan New Emperor yang hendak mengambil CD playernya, namun New Emperor itu mencoba untuk melepaskan cengkraman Bryan dan alhasil menghantam rahang bawah kakek tua itu.

“Hei, jangan ganggu dia!” gusar Rulof seraya menyiapkan bogemnya, namun dihadang oleh Bob. Tubuhnya yang lemah tak mampu menerobos brikade pria gemuk itu.

Bryan terjatuh, dan New Emperor itu berjalan menjauh bersama CD player yang masih mengumandangkan lagu Imagine. Bryan yang tengah dilanda kekalapan bangkit lalu menerjang New Emperor itu. Matanya yang buta serasa berfungsi kembali, ia tahu persis letak New Emperor itu.

Rulof makin gusar dan makin memberontak dalam kunci Bob—semata-mata mencegahnya untuk berbuat bodoh dan melawan New Emperor—ketika melihat Bryan di hantam untuk kedua kalinya, terhuyung-huyung lalu ambruk. Rulof tak tega ketika melihat kakek itu, diseret layaknya sudah mati dan diguling-gulingkan ke tanah. Kemudian New Emperor yang menyeretnya mengeluarkan senjata apinya—shotgun, dan mengarahkan moncongnya tepat ke kepala Bryan. Detik berikutnya, suara letusan shotgun terdengar bersamaan dengan:


You, you may say I'm a dreamer
But I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will live as one


Timmy dan Risa tak berani melihatnya, melempar pandangan mereka ke arah gurun kosong. Sedang Bob dan Rulof, dengan jelas melihatnya. Melihat kepala Bryan meletus ketika peluru shotgun meledakkannya. Rulof terguncang, sungguh tak adil! Kakek tua itu hanya mempertahankan sebuah CD player tua. Haruskah nyawanya yang mengalayang karena tak merelakan sebuah benda yang sama sekali tak berharga?

“Ini benda rongsokan kalian,” salah satu New Emperor dengan angkuh dan congkaknya melempar CD player yang mengumandangkan lagu Imagine dari awal kembali. “Kami sudah tak butuh, cuih!”

“Sumber airnya?” tanya Bob.

“Ambil saja,” New Emperor itu menyeringai, lalu mereka pergi.

Rulof meratapi mayat Bryan, ditemani lagu Imagine ala John Lennon, semakin membuat hatinya miris.

“Tak apa, kami akan mengurus mayatnya,” ujar Bob seraya memandangi mayat Bryan tanpa kepala dan telah dibanjiri cairan merah pekat. “Ambil saja benda itu, ia jadi milikmu sekarang.”

***

Rulof membantu sedikit pemakaman Bryan. Menggali kuburannya bersama Bob, sedang Timmy dan Risa merasa enggan untuk menatap mayat itu. Terlalu menjijikan dan tragis, menurut mereka. Mati dengan cara brutal, dengan kepala meletus. Membuat mereka yang melihatnya tak bisa tertidur lelap.

Rulof segera sadar akan sesuatu ketika hanya Ia dan Bob yang menggali kuburan. Sedang Timmy dan Risa terdiam di bar. Ia sadar, kota Blackhorn, hanya berpopulasi empat orang sebelum ia datang; hanya Bob, Timmy, Risa dan Bryan. Tak ada orang lain di sana—beberapa bangunan kosong tak ditempati. Sungguh miris jika dibayangkan lebih jauh, bertahan hidup dalam ganasnya gurun dengan kekuatan dua orang pria.

Bob mengucapkan sepatah dua patah kata terima kasih kepada Rulof, kemudian menawarinya untuk masuk ke kubu Blackhorn. Rulof mengiayakan, dan secara resmi ia menjadi bagian dari Blackhorn hari itu.

Sejak saat itu Rulof tak banyak berbicara. Tak sering bertanya-tanya lagi. Ia lebih memilih duduk di kursi Bryan, sembari mendengarkan lagu Imagine. Berulang-ulang, sepanjang siang dan sore. Juga malam, matanya tak menutup hingga larut malam. Baru setelah Risa membujuknya untuk mematikan lagu itu—sama seperti yang ia lakukan pada Bryan, baru Rulof mau tidur.

Hari demi hari berlalu. Rulof tak pernah meninggalkan kursinya, terus menikmati lagu karya John Lennon. Lama kelamaan, orang-orang mulai menduganya gila. Persis seperti yang dialami oleh Bryan. Terus memandang kosong ke arah matahari.

Minggu demi minggu berlalu. Juga tahun demi tahun. Rulof telah menjadi buta karena terus menatap matahari. Dirinya kurus ceking karena susah makan dan selalu dimarahi oleh Risa. Ia menunggu sesuatu. Namun dirinya makin lama makin lemah, sempat ia khawatir apakah usianya yang pendek cukup untuk menanti.

Sudah empat tahun berlalu, namun kondisi fisiknya menyedihkan. Kurus ceking dan kerempeng. Tidak kuat seperti dahulu lagi. Orang-orang mulai beradu argumen tentang Drone asing itu. Ada yang mengatakannya gila—seperti Bryan, ada yang mengatakannya putus asa, dan ada juga yang optimis kepadanya.

Terdengar samar derapan langkah kaki mendekat.

“Kau mencariku?” tanya sebuah suara berat dan dalam yang sumbernya tak jauh dari letak Rulof. Lagu Imagine masih mengumandang jelas dan indah. Sebab ia juga merawat benda kesayangan Bryan dengan betul, tak ingin benda itu rusak walau terus dimainkan.

Rulof mencari-cari arah suaranya. Dia menengadah menebak-nebak. “Kau Legate?”

“Ya. Dan kau?”

“Aku Drone #216. Aku memanggilmu karena telah menemukan Toxin.”

“Benarkah? Mana? Mana?” tanya Legate itu penasaran.

Rulof memberikan Legate itu CD player usang Bryan. Bukannya senang Legate itu malah gusar.

“Benda ini?! Benda ini juga banyak di masaku!” Legate itu menyeringai gusar dan murka.

“Ya. Benda itu,” jawab Rulof.

“Lalu yang mana Toxinnya?”

“Just Imagine...”

 

Read previous post:  
Read next post:  
Writer alcyon
alcyon at Drone #216 (7 years 40 weeks ago)
100

keren!
aku juga suka lagu ini. lagu yang teoritis, humanian, dan utopis, tapi keren!

Writer NodiX
NodiX at Drone #216 (7 years 40 weeks ago)

wah, thanks gan, duh, dikasih rate 10 lagi...
makasih-makasih udah mampir

Writer NodiX
NodiX at Drone #216 (7 years 41 weeks ago)

udah diupdate dengan lanjutannya di Drone #256

Menceritakan kisah Rulof sebelum menjadi Drone, juga setelah menjadi Drone
*jadi binggung sendiri*

Writer earth52
earth52 at Drone #216 (7 years 44 weeks ago)
80

wah cerita pendek, padahal wa ngarepin ada lanjutanya :(
.
Btw, settingnya post-appocalyptic yaw? Tanah tandus, gersang, wasteland, sama ada beberapa survivor yang bertarung demi sumber daya. Ada monsternya Elder Scroll Oblivion -Clawfear mampir juga wkwkwk...
.
Bagus cerpennya, hanya saja hanya cerpen :( , padahal bisa seru lho kalo diterusin.

Writer NodiX
NodiX at Drone #216 (7 years 44 weeks ago)

settingnya ambil fallout,
gak bisa cari nama monster ambil aja nama Clawfear yg di oblivion (maw ambil nama Gecko di fallout tapi rada" sreg)

mau di buat novel juga, tapi tunggu satu kelar soalnya sedang proses edit
ntar kalo jadi baru mule proyek novel Drone #216

btw thx udah mampir ya

Writer zenocta
zenocta at Drone #216 (7 years 44 weeks ago)
80

hahahaha,, terakhirnya kayak dagelan.. just imagine.. cool....

Writer NodiX
NodiX at Drone #216 (7 years 44 weeks ago)

thx kk udah mampir