Testing : tiga pewaris

            Kehancuran di mana-mana. Ledakan demi ledakan menghancurkan gedung gedung tinggi di Atlantis. Api berkobar dimana-mana membuat orang-orang panik semua orang. Lagit semakin menggelap dan gelombang laut beberapa kali menghantam pelabuhan dengan kuat.

            Di hadapan Rachel sesosok laki-laki berjubah hitam tersenyum melihat kehancuran yang dibuatnya. Jubah hitamnya berkibar terkena angin, tampak noda darah di seluruh jubahnya. Ia memegangi sebuah sabit –scyte- hitam kelam yang juga bernoda darah.

            Lalu sesosok gadis seumur Rachel melayang dan menyinari sekitarnya dengan cahaya keemasan. Laki-laki itu memudar dan kehancuran di sekitarnya berhenti, membeku seperti video yang di pause.

            “Makhluk kegelapan berlomba menghancurkan Atlantis.

            Sampaikan ramalanmu pada tiga pewaris

            Kunjungi segel artemis dan cegah kebangkitan sang penghancur atlantis.

            Jangan beri ampun meski ia menitis ke seorang gadis.”

            Dan sinar emas gadis tiba-tiba membutakan mata Rachel.

            Rachel terbangun dan menemukan dirinya di di kamarnya yang disinari cahaya bulan dari jendela. Ini buruk, pikir Racel, sangat buruk. Pikirannya terus berkecamuk. Jika gadis itu muncul biasanya apa yang ia katakan –sekalipun dalam mimpi- akan menjadi kenyataan.

            Kemudian Rachel tersenyum. akhirnya ia bisa pergi dari rumah ini. sudah terlalu lama ayah Rachel menguasai hidup Rachel. Ia harus kabur. Ia sudah menyiapkan ini seminggu penuh musim panas ini.

            Rachel kemudian mengambil ransel di bawah ranjangnya dan memeriksanya kembali. Ia meyakinkan dirinya bahwa persiapanku sudah matang. Ini tantangan besarku seumur hidup. Aku membuka jendela dan keluar lewat jendela itu. aku tersenyum.

            Selamat tinggal ayah, batinnya.

            Ia tak akan kembali lagi ke rumah ini. dan misinya sudah jelas, menemukan 3 pewaris dan ia bisa merasakan dimana mereka.

**

            Rachel Lowen.

            13 tahun.

            Sang pembawa ramalan.

            ___

**

            Sarah meatap nisan itu sedih. Di nisan itu terukir nama kedua orang tuanya yang meninggal seminggu yang lalu. Setelah meletakkan bunga lili –lambang keluarga Lavier- sarah kemudian berbalik. Hari ini ia akan dikirim ke sekolah asrama khusus wanita. Tak banyak pilihan untuk saat ini.

            Paman Gregori sudah menjelaskan semuanya. Sementara bersekolah di sana. Perusahaan keluarganya akan dijalankan oleh paman Gregori dan Jerry –Kakak Sarah-

            Sarah berjalan keluar dari area pemakaman. Namun ia berhenti. Sesosok pria dewasa bermata satu menyeringai padanya. Jelas sekali pria ini berbahaya. Sarah berbalik, melihat pagar terdekat dan kemudian berlari ke arah pagar itu. pagarnya memang tak seberapa tinggi sehingga Sarah dengan Pdnya yakin bisa melompatinya.

            Tapi dia salah, saat hendak melompat sesosok laki-laki lain bermata satu menghadangnya. Membuatnya terpental dan jatuh ke tanah pemakaman. Tubuh laki-laki bermata satu itu pasti sangat keras dan kuat sehingga cukup untuk membuat Sarah mimisan. Ini bencana! Pikir Sarah dan ia melihat ada 5 laki-laki bermata satu lengkap dengan badan kekar mengepung areal pemakaman dan semakin mendekat.

            Darah menetes dari hidungnya, Sarah mengelapnya dengan jari telunjuknya dan kemudian bangun. Segera ia terkejut saat makam di bawahnya bergetar dan sebuah tangan mayat muncul dari bawahnya.

            Spontan Sarah berteriak.

            “Jangan takut, Nona Hades,” akhirnya seluruh tubuh mayat itu bangun dengan susah payah. Menyingkirkan kayu peti yang tersangkut di tangannya dan kemudian tersenyum –bisakah kau membayangkan tengkorak tersenyum?-

            Sara terpana.

            “Hades?”

            “kami akan membantumu, tapi berikan kami sedikit kekuatanmu,” kata mayat hidup itu.

            Sarah mengelap lagi hidungnya yang mimisan, tak ada lagi pilihan buatnya. Para pria mata satu mendekat, kali ini setengah berlari sambil menghindari nisan-nisan tinggi di areal pemakaman itu.

            Pria mata satu yang tadi membuatnya terpental sedang melawan mayat hidup yang pertama kali bangun. Dan dengan darah yang mengalir dari hidungnya, Sarah membangkitkan 4 lagi mayat hidup.

            “Terima kasih, Nona Hades, kami akan membereskan mereka,” kata salah satu mayat hidup yang berpkaian tentara.

            Sarah mengambil langkah seribu untuk segera kabur. Ia sadar pertarungan antara mayat hidup dengan pria kekar bermata satu tidak akan berjalan seimbang jadi ia harus kabur secepat yang ia bisa. Ke mobil? Tidak, para penjaganya sudah bersimbah darah di sana dan ia jelas tak bisa menyetir mobil.

            “Butuh bantuan, nona Hades?”

            Seekor kuda hitam bersayap –pegasus?- muncul dari langit membawa sesosok gadis mungil dengan rambut ekor kuda. Pegasus itu terbang rendah, gadis kecil itu kemudian menarik tangan Sarah. Sarah harus bersuah payah untuk menaiki punggung sang pegasus. Tapi akhirnya berhasil juga.

            “Jaga diri kalian baik-baik!” teriak Sarah pada mayat hidupnya, “sampai jumpa lagi!” dan hal yang terakir yang ia lihat dari para mayat hidup itu adalah, mereka kehilangan kepala mereka.

            **

            Sarah Lavier

            15 tahun

            Pewaris hades/Putri dunia bawah.

 

            **

            Tak ada yang lebih baik selain duduk di pantai yang sepi, berdua dengan kekasih dan menatap matahari terbenam. Pantai barat Atlantis memang terkenal akan pemandangannya. Dan tempat Dyas Harold dan Cecilia Curtiz benar-benar tahu tempat mereka berkencan.

            “Aku selalu suka laut,” kata Dyas.

            “memang menyenangkan melihatnya dari pantai,” Cecil setuju, “tapi akan berbeda kalau kau ada di tenganya,”

            “di tengah laut? Hei…kau belum pernah melihat orang hawaii berselancar?” Dyas menampakkan ekspresi kagum, “orang-orang amerika benar-benar tahu cara bersenang-senang dengan laut,”

            “jadi kau lebih menyukai laut daripada aku?” Cecil mencubit lengan Dyas.

            Dyas mengadu sebentar lalu melepaskn cubitan Cecil

            “yaah…kau bisa bilang laut dan Cecil sama-sama memenuhi hatiku,” Dyas nyengir.

            “Dyas jahat!” dan Cecil berdiri dan kemudian berbalik meninggalkan Dyas.

            Dyas memukul wajahnya karena kebodohannya membuat gadis itu ngamuk. Dan terdengarlah suara mobil Cecil. Cecil meninggalkannya.

            “Aduh…ngambek lagi,” Dyas menatap laut, “kenapa dapet cewek yang suka ngambek gitu ya.”

            Tapi Dyas enggan beranjak, ia menikmati pemandangan ini. matahari sudah terbenam sepenuhnya dan ia sangat malas untuk mengejar gadis manja itu. tapi kedamaian itu terganggu saat sebuah ledakan terjadi di tengah laut.   

            Awalnya yang terlihat hanyalah gundukan merah besar namun perlahan terlihat seekor gurita besar dengan tentakel yang sebesar kereta. Dyas berdiri dan berbalik namun salah satu tentakel itu menangkap Dyas dan memberi tekanan luar biasa yang cukup untuk meremukkan badan Dyas.

            Tapi Dyas tidak remuk.

            Air asin terasa membasahi tubuh Dyas dan melindungi Dyas dari tekanan tentakel itu. Dyas merasa bisa mengendalikan air laut di sekitarnya. Apa yang akan terjadi saat ia memikirkan jarum?

            Dyas mencobanya dan mendadak air laut yang melindunginya berubah menjadi jarum-jarum besar air laut yang langsung menusuk tentakel yang menekan Dyas. Tentakel itu melepaskan Dyas dan Dyas jatuh ke laut. Ia masih mengapung dan laut di sekitarnya tampak tenang padahal air laut harusnya sudah pasang.

            Gurita besar itu kembali menenggalamkan diri ke laut. Dyas linglung, ia bingung akan apa yang terjadi barusan. Kemudian terdengar suara kuda. Dyas mendongak dan menemukan, apa? Kuda terbang? Bagaimana bisa. Kuda itu terbang rendah kemudian gadis kecil yang menungganginya menyapa Dyas.

            “Hei tuan Poseidon, kalau tidak keberatan maukah kau ikut denganku?” 

            “Namaku Dyas,” kta Dyas, “Dan ikut kemana?”

            “kami membutuhkan bantuanmu,” jawab gadis itu, “ralat, Atlantis membutuhkanmu,” Ia tersenyum.

            **

            Dyas Harold

            16 tahun.

            Pewaris Poseidon/Putra laut.

 

            **

            Ini baru namanya perang! Hebat! Bus sekolahnya sudah berguling di pinggir jalan di tengah hutan. Ada troll, makhluk yang hanya pernah dilihat Kim di dalam game. Troll menjijikkan itu melemparkan banyak batu pada tempat Kim dan teman-temannya berlindung. Dan yang melindungi mereka adalah Centaurus dan Dwarf. Untungnya Dwarf cukup ahli melindungi Kim dan teman-temannya dari lemparan batu.

            Perjalana wisata ini harusnya tidak menjadi perang, Pikir Kim. Kim tahu harus membantu tapi ia tak tahu harus bagaimana. Malam semakin larut. Teman-teman Kim menggigil kedinginan di tenda yang didirikan para Centaurus.

            “Nona Zeus,” salah satu centaurus membungkuk padanya, “kami bangkit dari segel untuk melindungi anda, tapi perjuangan kami sia-sia kalau anda tidak membantu,”

            “Eh? Aku?” Kim tak yakin harus bilang apa.

            “Naiklah,” Centaurus itu menawarkan punggungnya untuk di tunggangi. Sejujurnya agak risih juga menerima tawaran itu. tapi ia tak sanggup menolak.

            “Katakan padaku apa tepatnya yang harus aku lakukan?” kata Kim setelah naik ke punggung centaurus itu.

            “Petir,” Centaurus itu berderap ke medan perang.

            Saat Troll melihat Kim, mereka berhenti melempar batu. Kim memandang langit, tak ada awan mendung. Kemudian ia mmandang para Troll menjijikkan itu. kebencian meluap, harusnya Troll tidak merusak perjalanan kami, pikirnya.

            Dan tiba-tiba petir menyambar, menari-nari menggosongkan para Troll dalam sekejap. Kim terkejut. ia tak tahu apa yang barusan ia lakukan.

            “Anda memang pewaris Zeus,” para centaurus dan Dwarf membungkuk pada Kim, membuat Kim sungkan.

            “Pendaratan Darurat, selamatkan kami!”

            Kim menoleh ke atas, seekor kuda dengan tiga penumpang turun ke tanah dengan cepat. Bersiap menghantam tana. Tapi para Dwarf  menangkap kuda itu –yang ternyata bersayap- dan tiga penumpangnya.

            “Itu penerbangan yang berbahaya!” seorang gadis sebaya Kim membentak pemuda di hadapannya.

            “Memangnya siapa yang mengusulkan naik pegasus bertiga?” pemuda itu balas membentak.

            “Sudah…jangan bertengkar,” gadis yang lebih kecil memukul perut kedua orang itu dengan muda dan tanpa rasa bersalah    . kemudian ia menoleh pada Kim, “Halo Nona Zeus,”

            “Sang peramal? Kaukah itu?” salah satu Dwarf –yang terlihat paling tua- mendekati gadis kecil itu, “anda sudah berhasil mengumpulkan tiga besar,”

            “itu misiku, kan?” gadis itu tersenyum, “sebaiknya kita cari tempat untuk menjelaskan situasinya,”

            “situasi apa?” tanya Kim penasaran.

            “Kiamat,” jawab gadis kecil itu suram, “kiamat bagi Atlantis.”

 

            **

            Kimberly Harvey.

            16 tahun.

            Pewaris Zeus, Putri Langit.

 

Read previous post:  
Read next post:  
Punya ide tentang lanjutan karya ini ? Saat ini belum ada yang menulis lanjutannya. Ayo lanjutkan karyanya.
Penulis donasaku
donasaku at Testing : tiga pewaris (7 years 45 weeks ago)
10

lumayan

Penulis cloekz
cloekz at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
70

lanjut?

Penulis Rival_chan
Rival_chan at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)

kereen.. ayo teruskan!

Penulis dansou
dansou at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
80

Hooo... Ide baru lagi, Rai? Huuum... Huum.... Pasti terinspirasi setelah kau selesai membaca Perjon dan HoO ya? Yaaah... saya bakalan komen kalau kau udah ngeluarin lanjutannya :P

Jillian Leonhart at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
80

Uwooooww... Plot sangat menarik. Saia terutama sangat tertarik sama Mba' Sarah, lord of Underworld X3

Oke, miss nya, scene mu kadang mengalir terlalu cepat. Terus ada sedikit pengulangan kata yang kurang effective:

- "Api berkobar dimana-mana membuat orang-orang panik semua orang"

- "Di hadapan Rachel sesosok laki-laki berjubah hitam tersenyum melihat kehancuran yang dibuatnya. Jubah hitamnya berkibar terkena angin" (buat ini, kata 'jubah hitam' nya bisa di pake satu aja dengan tidak menyebutkan jubah hitam di kalimat pertama, terus menyebutkannya di kalimat berikutnya: 'jubah hitam yang ia kenakan berkibar tertiup angin')

Dah. Dan beberapa kata yang kurang huruf 'h' :3
Buat development, mungkin bakal lebih tegang lagi kalo kamu ngasih deskripsi rasa sakit mereka. Nubruk orang ampe mimisan sakit lho :3 Yosh~

Sugi~

Penulis arudoshirogane
arudoshirogane at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
80

Boku suka crita ini! Tapi ad satu hal yg mengganjal di mata neh...

Quote:
...dengan Pdnya...

agak ga sreg liat kata "pdnya" <:3
.
Lanjutin, ya? Tapi saya sungguh berharap crita ini jgn sampai jd terlalu mirip dengan "Peter Jakson, The Lightning Thief" :3

Penulis Shikamaru
Shikamaru at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
80

Ini ada lanjutannya kan? lanjutin ya, keren nih...
oh iya, entah kenapa bagian ini terasa mengganggu: –bisakah kau membayangkan tengkorak tersenyum?- (itu menurutku sih)

Penulis zoelkondoi
zoelkondoi at Testing : tiga pewaris (7 years 46 weeks ago)
70

Bahasa yang digunakan tidak konsisten (maaf baru nyoba comment), salam kenal