Cerpen EAT 2011 - Two Shadow

Lagi-lagi berlumuran darah.

 

Ini sudah yang keempat kalinya. Yang pertama adalah bunga mawar putih. Cantik, tapi berlumuran darah. Yang kedua adalah CD lagu sinting yang retak dan penuh darah, aku sama sekali tidak berminat untuk mendengarnya, bahkan memang tidak bisa diputar. Yang ketiga adalah awetan kupu-kupu, seperti masih baru dan…baunya seperti alkohol, bermandikan darah merah segar.

 

Dan ini…awetan kelabang dan kalajengking yang berwarna merah.

 

“Ukh….uuuu…huuuhuuu…”

 

Hanya tangisan yang bisa didengar di kamarku yang sepi ini. Orang tuaku sudah tiada, aku sudah bekerja, dan sekarang adalah malam hari.

 

Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi.

Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi.

Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi.

Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi. Aku tidak kuat lagi.

 

Aku takut sendirian malam ini.

 

Segera aku meraih ponselku dan menekan beberapa tombol, sebelum kemudian memilih “panggilan”.

 

[“Halo?”]

 

“….Vyn…huuu..”

 

[“Halo? Mengapa menangis? Apa yang ter….ah, pasti dia lagi! Kali ini kau tidak mendapatkan yang lebih aneh lagi kan?!”]

 

“Ukh….huuuu…huuuwaaaa….”

 

[“Te-tenanglah! Jadi memang lebih aneh? Oke, aku segera ke sana! Jangan bukakan pintu kecuali kau mendengar suaraku, oke?”]

 

“…Um…” jawabku sebelum kemudian menutup panggilan.

 

Vyn adalah sahabatku. Dia adalah orang teraneh yang pernah aku temui sampai sekarang. Bukan menghina, maksudku, kapanpun dan dimanapun aku memintanya untuk segera menemuiku, dia pasti akan menjawab “Ya”. Cukup bersahabat sekali untuk seorang sahabat, itu yang membuatku mengatakan bahwa Vyn “aneh”.

 

Aku cukup merasa tidak enak dengan Vyn karena selalu meminta pertolongan tanpa pikir panjang. Mungkin dia sudah seperti seorang ibu untukku daripada sahabat. Ya, dia selalu ada dan seperti memeliharaku dengan baik. Melakukan segala hal untuk membuatku senang dan tenang.

 

Dan seperti sekarang ini, Vyn sedang menuju kemari karena dia menggangguku lagi.

 

Dia…yang selalu terlihat, namun tidak terlihat. Yang selalu terdengar, tapi tidak terdengar. Yang selalu terasa, namun tidak terasa. Yang selalu semu, namun tidak semu.

 

Karena dia….memanglah ada.

 

“Ini aku, Vyn, Vyn Elandria. Tak apa, bukalah!” Terdengar teriakan Vyn dari luar diiringi beberapa ketukan kecil yang khas, membuatku yakin bahwa itu memanglah Vyn.

 

“Tunggu sebentar.”

 

Aku bergegas berdiri, berjalan ke depan untuk membukakan pintu. Kudapati sosok hangat dan lembut Vyn yang sedang terlihat khawatir, seakan anaknya baru saja masuk rumah sakit karena kecelakaan.

 

Vyn langsung memelukku lembut dan berkata, “Kau tidak apa-apa ‘kan? Tidak ada yang terluka ‘kan?”

 

Aku menggelengkan kepala, “Humm…tidak ada. Hanya saja…aku sudah tidak kuat lagi.”

 

Vyn menghela napas.

 

“Inilah mengapa aku selalu menyuruhmu untuk segera mencari pacar!”

 

“…Ta…tapi aku…”

 

Vyn melepas pelukannya, kemudian memegang kedua bahuku, seakan memaksa pandanganku dan pandangannya untuk bertemu.

 

“Baik, aku mengerti. Makanya aku masih tetap ada disini, setidaknya sampai traumamu hilang,” ujar Vyn menanggapiku, tanpaku harus membentuk satu kalimat.

 

“Terima kasih, Vyn.”

 

“Jadi, kali ini apa?” tanya Vyn sembari memain-mainkan matanya, seperti secara otomatis mencari-cari sesuatu yang janggal di sekeliling ruangan.

 

“Itu…” jawabku, menunjuk ke meja depan TV.

 

Dipungutnya kado terkutuk itu, “Hih! Menjijikkan!” Lalu Vyn berjalan keluar dan membuang kado itu ke tempat sampah yang bertuliskan “Terima Kasih!” yang aku tempelkan di dinding, maksudku “terima kasih sudah menjaga lingkungan!”

 

Ketika pintu kembali ditutup, Vyn sekali lagi menghela napas.

 

“Sudahlah, seperti biasa, lupakan saja. Kalau sekali lagi orang terkutuk itu mengirim sesuatu yang lebih parah dari ini, aku bakal lapor ke polisi,” gertak Vyn seakan dia sedang mendengarnya.

 

“Me…mengapa harus sekali lagi?”

 

“Firasatku mengatakan, sekarang masih baik-baik saja. Tenang saja, malam ini aku tidur di sini kok!” ujar Vyn, membuatku sedikit lebih nyaman ketimbang sendirian.

 

Seperti yang sudah aku katakan, memiliki Vyn sama seperti memiliki ibu. Ada saat dibutuhkan, dan selalu membuatku nyaman. Dia memang sosok yang sedikit kasar namun sebenarnya sangat lembut dan penuh perhatian.

 

Dulu pun ketika aku pernah ditipu oleh seorang kenalanku dan hampir diperkosa, Vyn tiba-tiba saja datang mendobrak pintu, ditemani oleh beberapa polisi. Seperti seorang pahlawan yang datang pada saat-saat genting, dia bisa tahu aku dimana dan dalam keadaan kritis. Ketika aku menanyakannya pun dia cuma menjawab, “Firasat saja, untung tidak terlambat.”

 

Vyn seperti seorang ibu untukku, penyelamatku ketika aku sendirian.

 

Aku memang sangat beruntung ketika bersamanya.

 

Ya, hanya ketika bersamanya.

 

Karena…

 

Lagi-lagi dia membuntutiku dari balik bayangan gelap malam.

 

“Jangan datang, jangan…” gumamku pelan.

 

Sosoknya berada di belakangku sekitar beberapa meter saja. Ketika aku sudah melewati sebuah rumah, sosok itu mulai berjalan mengikutiku. Terus menerus seperti itu hingga aku sampai di rumahku. Tidak pernah berubah-ubah dan polanya sama, sehingga aku bisa menghapalnya.

 

Tahu pun juga karena dia yang entah memang sengaja atau tidak pandai bersembunyi, aku tidak tahu. Siapapun yang meliriknya meski hanya sekali pasti tahu bahwa ada seseorang yang sedang membuntutiku. Seperti memang sengaja menampakkan sosoknya.

 

“Uuuu….pergi…aku mohon…” gumamku sekali lagi.

 

Namun, seperti memang sengaja tidak mendengar atau malah sama sekali tidak mendengar, sosok itu tetap mengikutiku. Doa tidak berhasil, harapan pun sirna. Mungkin dari luar tidak ada yang menyadarinya, tapi yang jelas aku merasa takut.

 

Deg…deg…deg…Detak jantungku menggema cepat, memecahkan keheningan malam di jalan yang entah kenapa sepi ini. Denyut nadi di sekujur tubuhku dapat kurasakan ikut berdenyut kencang dan membuat tubuhku semakin panas.

 

Tak tak…tak tak…

 

Langkahku yang diikuti sosok itu bergantian membentuk tempo yang aneh, seperti mengiringi denyutan dan detak jantungku yang semakin tidak karuan ini, membuat dadaku sesak dan memaksaku bernapas lewat mulut.

 

—Aku sudah tidak tahan lagi!

 

“Tolong!” teriakku spontan sebelum kemudian aku berlari sekuat tenaga.

 

Tentu, tidak ada yang menolong karena sekali lagi, bagaikan sihir, entah mengapa jalan ke arah rumahku pasti sepi. Aku rasa bila ada segerombolan perampok mencegat dan mengeroyokku, tidak ada yang tahu. Aku tidak bisa membayangkan apa jadinya aku jika demikian.

 

Jadi, aku lari sekencang mungkin.

 

Jadi, aku kunci pintu rumah rapat-rapat.

 

Jadi, aku bersembunyi di balik selimut dan menelepon Vyn.

 

[“Halo? Ada apa lagi kali ini?”] Vyn langsung bertanya pada intinya, mungkin dia mulai terbiasa dengan maksudku meneleponnya malam-malam seperti ini.

 

“Uuu…lagi-lagi malam ini…”

 

[“Tidak ada yang aneh-aneh ‘kan? Maksudku, dia tidak melakukan apa-apa selain mengikutimu ‘kan?”]

 

“I…iya, tapi…”

 

[“Syukurlah kalau begitu, untung saja tidak ada lagi hadiah…eh, kamu sudah cek belum? Itu, siapa tahu ada hadiah lagi.”]

 

“Ah, iya. Tadi belum sempat dan aku langsu—“ belum sempat aku mengakhiri kalimatku dan seakan menjawab pertanyaan Vyn, mulai terdengar lantunan nada yang sepertinya dari kotak musik yang pelan dan lirih, seakan merintih, mencari seseorang yang hilang.

 

Lolongan yang menggema di rumah kecilku ini.

 

“Kucing manis, kucing manis…

 

Janganlah engkau menangis…

 

Mau kemana, mau kemana…

 

Aku ada dimana-mana…”

 

“…Tidak.”

 

“Kucing berlindung, manis sembunyi…

 

Janganlah engkau pergi…

 

Tersesat jalan, tersesat lari…”

 

“…Tidak tidak tidak…”

 

“Aku ada disini…”

 

“TIDAK!” dengan sebuah teriakkan, aku banting kotak musik itu hingga tidak berbunyi lagi, mati kehilangan sumber nyawanya.

 

Aku takut.

 

Apa sendirian.

 

Aku sudah tidak kuat lagi.

 

Aku ingin semuanya berakhir!

 

[“Halo? Halo? Hadiah lagi?!”] Kali ini suara Vyn yang memecah keheningan rumahku. Aku meletakkan teleponku ke telinga, “Ya, dan panggil polisi sekarang juga. Aku sudah tidak tahan lagi.”

 

[“Baik, tunggu aku. Aku akan segera ke sana setelahnya.”]

 

Aku melempar teleponku ke sofa, menggambil selimut, dan  membungkus diri di pojokan kamar. Aku takut dan aku butuh kehangatan. Ya, aku butuh ketentraman hati, ini sudah di luar kemampuanku. Jika berlama-lama, akal sehatku tidak akan bisa menahannya lagi.

 

Aku harus tenang.

 

Ya, tarik napas….keluarkan…tarik lagi…keluarkan lagi.

 

Sepertinya aku sudah bisa untuk lebih tenang lagi. Tubuhku mulai terasa hangat lagi dan napasku mulai teratur kembali. Udara malam bisa kembali aku hirup dengan nyaman.

 

Segar.

 

Aku sangat berharap, setelah ini semuanya berakhir. Hidupku tentram kembali dan aku selalu merasa aman. Tidak lagi merepotkan Vyn, aku akan berjalan sendirian tanpa bergantung padanya terlalu banyak.

 

Ya, harapan-harapanku sangatlah menyenangkan. Pulang kerja tanpa pengawasan menganggu dari siapapun, tidak ada hadiah aneh dan menjijikkan lagi, tidak ada surat kosong dan telepon iseng lagi. Yah, semuanya sangat tentram dan nyaman.

 

Aku sangat ingin ini segera berakhir.

 

“Ini aku, Vyn, Vyn Elandria. Tak apa, bukalah!” Terdengar teriakan Vyn dari luar diiringi beberapa ketukan kecil yang khas, membuatku yakin bahwa itu memanglah Vyn.

 

Aku bergegas membuang selimutku dan berjalan ke arah pintu keluar. Meski aku merasakan ada yang aneh, aku sudah secara otomatis merespon panggilan Vyn untuk membukakan pintu. Seperti sudah terprogam di otak dan tanpa pikir panjang, pintu sudah terbuka dan aku…tidak menemukan sosok siapapun di luar pintu.

 

Yang bisa bisa terdengar hanyalah suara Vyn yang diulang-ulang, “Ini aku, Vyn, Vyn Elandria. Tak apa, bukalah!”

 

Dan jelas sekali suara itu terdengar dari luar rumah.

 

Tidak ada ketukan pintu lagi.

 

….!!

 

Semakin aku mendengar suara itu, semakin jelas darimana suara itu berasal setelah aku mengeluarkan kepalaku untuk menengok ke luar rumah. Bisa aku lihat dengan jelas sekali bahwa ada suatu kotak berwarna hitam yang menggantung di dinding. Aku sangat yakin sekali kalau itu suatu benda yang biasa disebut sebagai ‘alat rekam’.

 

Spontan aku membanting pintu…tapi aku urungkan karena bila pintu ini rusak, maka tamatlah riwayatku. Aku kunci pintu dengan tujuh gembok, yang memang sengaja aku siapkan untuk saat-saat seperti ini. Logikanya, bukankah keadaan akan aman bila tidak ada yang bisa masuk ke rumah ini?

 

Ya, semacam memaksakan teori, aku meyakinkan diriku untuk tetap tenang dan berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ya, tinggal menunggu bantuan datang, Vyn, beserta beberapa polisi. Mereka akan berpatroli selama 24 jam dan seakan seperti bodyguard, mereka akan menjagaku, mungkin selama beberapa hari hingga situasi aman.

 

Suatu saat, penguntit itu akan tertangkap dan polisi-polisi itu akan kembali pulang ke kantornya. Suasana akan menjadi tentram dan aman. Aku akan menjadi sangat bahagia dan nyaman di rumah sendiri.

 

Sebentar lagi…hanya sebentar la—

 

“Siapa itu?!” teriakku spontan setelah mendengar suara pecah suatu benda, aku yakin benda yang ada di dalam rumah karena suaranya begitu keras.

 

Tanpa pikir panjang, aku berjalan dengan cepat ke dapur dan mengambil sebuah pisau, tentu untuk menjaga diri. Walaupun mungkin aku tidak berani menggunakannya, setidaknya bisa aku gunakan untuk menakut-nakuti. Ya, bisa juga demikian.

 

“Si-siapa di sana?!” teriakku lagi. “Keluar atau aku a-akan menusukmu!!”

 

Aku mengancamnya….tidak, aku ketakutan. Aku sudah tidak kuat lagi. Aku bingung harus mengatakan apa, harus melakukan apa, teriak, lari, membuka tujuh gembok kunci, sembunyi dalam kulkas, aku tidak tahu. Yang bisa aku lakukan hanyalah berteriak.

 

“Aku ulang sekali lagi! Keluar atau aku akan me-menusukmu!!”

 

Dan menjawab pertanyaanku, sesuatu mengeluarkan suara yang membuat bulu kudukku berdiri, seperti ada sesuatu yang berlari ke atas dan ke bawah pada tulang belakangku, tanganku terasa dingin, napasku sesak, dan aku muak mendengar itu lagi.

 

“Ini aku, Vyn, Vyn Elandria. Tak apa, bukalah!”

 

Hawa dingin menyengat leherku. Informasi-informasi yang sampai di otak hanyalah membuatku terdiam membeku. Saat ini, aku menjadi patung hidup. Sekuat apapun keinginanku untuk bergerak, tubuhku menolaknya mentah-mentah.

 

Aku tahu itu adalah napas seseorang.

 

Keringat dingin hanya berhenti di ujung pori-pori, tidak keluar dan menetes. Kedua mataku hanya bergerak-gerak ke sudut kanan dan kiri, bergantian, dan memaksa kepala untuk menoleh. Tapi itu mustahil, meskipun otakku berpikir demikian, jiwaku beku, menolak semua perintah yang kuinginkan untuk menoleh. Mataku hanya bisa terbelalak dan tubuhku gemetar seiring dengan napasnya yang terus berhembus tenang di belakangku.

 

“…”

 

 

Ya, ada seseorang di belakangku.

Read previous post:  
Read next post:  
Writer kyuukou okami
kyuukou okami at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 41 weeks ago)
100

Uuuuh.. Saya sukaaa!!>w<

Emosi si main chara bisa ditulis dengan baik, walau tiba di salah satu bagian, vyn menghilang begitu saja..

Btw, ini cuma perasaan saya aja atau endingnya beda sama punya kak erik ya? Kayaknya yg di sana ada brantem2nya deh. Di sini kok kepotong?@.@

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 41 weeks ago)

iya, sengaja kesepakatannya dipotong disitu, hoho.
thanks dah mampir yuu!

Writer Kurenai86
Kurenai86 at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 41 weeks ago)
90

errr...
udah baca yang punya erik juga
dan tetep aja berasa nggantung
pensaran sama akhirnya >.<
terus Vyn juga tetep misterius

Writer H.Lind
H.Lind at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
80

Saya rasa yang 'Saya tidak kuat laginya' itu ga perlu diulang begitu banyak. Habis menurut saya membaca begitu banyak kalimat yang diulang tidak menambahkan kesan terhadap kalimatnya. Mungkin lain kalau kalimat2 yang berulang itu diceritakan ditulis di kertas, bukan di pikiran si tokoh semata.
.
Penasaran dengan misterinya. *langsung meluncur ke cerpen berikutnya :)

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

ohh, begitu...oke deh, makasih sarannya!! ^^
selamat menikmati!

Ini endingnya beda sama yang dikirim ke email ya? Yang resmi yang di email kan?

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

loh, berbeda yah?
waduh, yang bener sih yang ini.
salah kirim kayaknya, boleh dikirim lagi, yang ini?

Writer elbintang
elbintang at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
90

Dimas,harusnya yang ini ditutup dengan adegan yang tidak ngegantung gitu. kerna punya Erick, kan beda pov yah?

sayang aja. Ini bERPOTENSI banget. Ketakutan si korban terasa. direv dulu baru dikirim.

Sukses!

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

waduh, udah dikirim sama erik deh kayaknya.
tapi emang kesepakatannya gini sih, jadi yah, makasih sarannya kak el! ^^

Writer dansou
dansou at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
100

Hoooo.... kenapa pada bikin cerita abstrak macam beginiii??? TT__TT *nangis*
.
Oke, saya bacanya sampai menahan napas. So, good job there, Dimdim
.
Tapi karena saya yang agak telat koneknya ini masih belum ngerti apa maksud dan tujuan cerita ini, kayaknya saya mesti baca punyanya Erick deh ==a

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

wah, kalau gitu saya bakal bikin yang dikau ga bisa napas Dan, hehe.
Thanks bro!

Writer Shinichi
Shinichi at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
100

sorong teruuusss :D
semoga menang!
ahak hak hak

Writer Erick
Erick at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
80

SUNDULLL!!! XD
.
Up Up Up Up...

Writer Sam_Riilme
Sam_Riilme at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
80

kok kayanya saya rada miss ya, pas setelah scene awal kan Vyn dateng ->terus katanya nginep -> flashback -> tau-tau si aku ngerasa dikejar? Transisinya ga kerasa
.
Yup, ini cukup ngegambarin perasaan horor si aku daripada versi yang waktu itu

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

uhm...mungkin belum saya tuliskan atau mungkin siratkan bahwa yang dikejer" tuh beberapa hari setelah nginep. hehe, maap.
. aye! berarti saya cukup berhasil!

Writer souLYncher
souLYncher at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)
90

mendebarkan. tapi ko 'cinta' gak pake horor juga..???
siapa yang satunya lagi..???

Writer nereid
nereid at Cerpen EAT 2011 - Two Shadow (7 years 42 weeks ago)

hmmm, lupa masukin <---ngeles
ehm, tunggu aja lanjutannya di posting, kan duet nih ^^