Kemal Potter (Chapter 7 : Pelahap Maut Menjadi Trending Topic)

Aku berada di tempat yang asing lagi.

Kali ini aku sepertinya berada di sebuah hutan liar. Pohon-pohon menjulang tinggi menutupi cahaya matahari sehingga tempat ini lebih gelap daripada yang seharusnya. Gayus berjalan pelan bersama ularnya, lengkap dengan jubah hitam yang selalu dipakainya. Dia menarik baju di lengannya. Terlihat tato bergambar ular yang cukup mengerikan, tepat dibawah tato bergambar hati yang ditengahnya bertuliskan 'Mama'.

Dia menyentuh tato ular itu dengan tongkat sihirnya. Langit langsung ditutupi mendung, tempat itu pun menjadi lebih gelap daripada sebelumnya. Lalu satu persatu asap pekat muncul dari balik langit. Asap itu satu persatu mendarat di sekeliling Gayus, lalu muncullah orang dari asap tersebut. Mereka semua bertopeng dan memakai jubah hitam.

"Selamat datang saudara-saudara," kata Gayus, "Sudah lama kita tidak bertemu. Tapi aku kecewa pada kalian."

Suasana menjadi tegang, "Apa yang kalian lakukan selama aku tidak ada? Kalian tidak pernah mencariku!!" Dia lalu berjalan ke arah seseorang dan melepas topengnya, "Marzuki Ali."

Orang yang disebut Marzuki Ali itu langsung berlutut meminta maaf, "Maafkan aku, tuan Gayus. Saya sebenarnya selalu mencari anda."

"Kau bohong! Sms gak pernah, nelpon gak pernah!" bentak Gayus.

Marzuki Ali memasang tampang menyesal, "Saya gak punya pulsa."

"Huh!" Gayus lalu berjalan ke setiap orang sambil melepas topeng mereka. "Bagaimana denganmu Ruhut Sitompul? Andika? Olga Syahputra?"

Tak ada yang menjawab. 

"Sudah saatnya kita bangkit lagi. Kita tunjukkan kita tetap bisa menguasai dunia walaupun tanpa Lord Voldemort. Sebarkan peringatan ini pada semua orang!!" Gayus mengarahkan tongkatnya ke atas, keluar percikan api hitam dari tongkatnya, lalu satu persatu Blackberry keluar.

"Sebarkan peringatan ini lewat Facebook, Twitter dan semua jejaring sosial!!" 

Perintah itu langsung dituruti semua pelahap maut. Mereka mengambil satu Blackberry dan meng-update status. Status itu di retweet oleh orang-orang yang kaget. Dalam sekejap saja, Pelahap Maut menjadi salah satu Trending Topic. Gayus tertawa keras.

"Marzuki, kau lanjutkan tugasmu menguasai DPR! Yang lain ikut aku," Gayus tersenyum licik, "Kita akan menyerang Hogwarts cabang Indonesia."

Saat itulah aku terbangun. Aku ternyata tertidur di samping tempat tidur Dinda dalam ruang kesehatan. Dinda masih belum terbangun dari pingsannya sejak jatuh saat bertanding Quidditch. Seseorang menepuk kepalaku dari belakang.

"Heh bangun juga kau," kata Indra, "Berasa pacar ya, tidur nungguin gitu."

"Eng, enggak kok. Dinda itu kan temanku!" 

Aku yang teringat mimpiku, langsung membuka hapeku untuk memeriksa twitter. Benar saja, Pelahap Maut berada di daftar TT. Jadi mimpiku ini benar. Aku menceritakan hal ini kepada Indra.

"Kau yakin??" tanya Indra tak percaya.

"Aku cukup yakin, ini buktinya," aku memperlihatkan twitterku pada Indra.

"Mana, mana? 'Lagi menunggu dia bangun...' Apaan nih??"

Aku langsung panik mengambil hapeku, itu statusku sebelum tertidur tadi. "Gak papa, jadi apa tindakan kita?"

Indra berpikir sejenak, "Sebaiknya kita bilang kepada kepala sekolah."

...................................................................................................................................................................................................................................

Kami sekarang berada di kantor kepala sekolah. Ruangan ini cukup besar, berisi foto-foto para guru dan piala-piala yang setelah kuteliti adalah milik kepala sekolah Sofyan. Ada juga poster tim Quidditch Indonesia pertama, Jakarta Flyers. Ruangan ini cukup nyaman. Kepala sekolah duduk di belakang meja. Kami sudah menceritakan semuanya.

"Jadi semua yang kau lihat itu nyata? Kau bisa melihat dari mimpi?"

Aku menggerakkan bahuku, "Mungkin bisa, tapi ini tak selalu terjadi."

Kepala Sekolah Sofyan menumbuhkan jenggot dengan sihir perubahan usia yang mana adalah keahlian khususnya, lalu dia mengelus jenggotnya. Alasan yang tepat untuk menumbuhkan jenggot. 

"Setelah ini, temuilah Pak Narapati. Dia lebih ahli, soal ini. Dan Indra, panggilkan ketua asramamu ke sini."

Aku langsung mencari kantor Pak Narapati, guru pertahanan terhadap ilmu hitam, sedangkan Indra memanggil ketua asrama kami, Kak Dion.

Setelah bertanya ke beberapa orang, aku akhirnya tahu letak kantor yang kucari. Aku mengetuk pintunya, tak ada jawaban. Kucoba buka pintunya, ternyata tak terkunci. Kuintip sedikit. Kosong.

Aku hampir saja berbalik sebelum melihat asap hitam masuk ke kantor dari entah mana. Keluarlah dari asap itu seorang laki-laki berjubah. Pelahap maut. Dia terlihat mencari-cari sesuatu, lalu dia mengambil sebuah botol berisi cairan hijau dan meneguknya. Perlahan tubuhnya berubah, dia kini Pak Narapati.

Aku langsung lari menjauhi kantor tersebut. Pelahap Maut sudah ada di Hogwarts.

 

 

(Bersambung......)

Read previous post:  
Read next post:  
90

komedinya dapet. hahaha

90

akhirnya ... keluar juga ... hahaha ...

semacam sembelit

100

aduh.. ngakak juga nih pas baca "Sebarkan peringatan ini lewat Facebook, Twitter dan semua jejaring sosial!!" hhahaha XD

90

Ahahahaha, ketawa poll. Lanjutkan kak Kemal ;)

90

bwahahahahaha...
mantep banget...

90

aduh, ngakak lagi deh saya! xDDD
suka dengan:
"Kau bohong! Sms gak pernah, nelpon gak pernah!" bentak Gayus.

Marzuki Ali memasang tampang menyesal, "Saya gak punya pulsa."
.
bener2 epic!

100

'Sms gak pernah, nelpon gak pernah!'
ya ampun, sukses bikin saya cekikikan di depan lappie XDD
lanjuuut

100

Epic Kemal is epic :)
.
Akhirnya keluar juga lanjutannya. Tato bertuliskan Mama itu yang bikin saya ngakak :D