[Katalis Waktu] Fragmen 5 - Mantan Budak

“Kalian berdua mencari orang yang sama?”

Nulla hanya sanggup memandangi Lan dan Sua bergantian. Sementara, keduanya saling bersitatap tajam, tanpa sepatah kata pun mampu hadir di antara mereka.

“Kau … bawahan Klan Arinaz?” kata Lan akhirnya, memecahkan hening di tempat sempit itu. Matanya masih memandang tak percaya.

“Kau belum menjawab pertanyaanku,” sahut Sua dingin. “Untuk apa kau mencari majikanku?”

“Aku ingin membantunya.”

Nulla memandangi Lan bingung. “Kau mabuk, Lan? Kupikir kau mencarinya untuk—”

Mata tajam Lan seketika membungkam Nulla. “Kaupikir aku mencarinya untuk apa? Kalau wanita itu tewas sebelum aku sempat bertemu dengannya, hanya akan tersisa kegelapan yang menantiku. Aku butuh cahaya untuk menerangi jalanku dalam pencarian ini. Wanita itu … adalah lilinnya.”

“Tewas? Kenapa kau bicara seperti itu tentang nonaku?”

“Sua, aku akan berkata jujur,” kata Lan kemudian. “Nonamu dalam bahaya. Seseorang mengirim seorang pembunuh untuk menghabisinya. Kalau kau ingin dia selamat, ayo kerja sama. Tak satu pun dari kita tahu keberadaannya. Dalam penelusuran ini, dua kepala akan lebih berguna.”

Sua terus memelototi Lan, tapi tak menyangkal. Lan tersenyum, itu berita bagus.

“Siapa kau sebenarnya, Lan? Apa yang kaucari dengan menggunakan nonaku?”

“Itu tidak penting.”

“Itu penting.”

Keduanya bertatapan lama sekali. Masih setajam tadi. Akhirnya, Lan menghela panjang. Dalam kondisi seperti ini, ia tak punya pilihan. Lagi pula, bukankah jalan kembali ke Klan Verellin sudah tertutup rapat? “Aku tadinya bekerja pada sebuah klan yang kebetulan punya urusan dengan nonamu.”

Sua mendekati Lan dengan tangan terlipat. Pandangannya curiga. “Maksudmu, Verellin?”

Lan bungkam, tampak sedikit terkejut. Ia tak pernah menyangka bahwa gadis yang kelihatan lemah itu ternyata bisa berpikir cepat. Akhirnya, Lan mengangguk sigap.

“Kalau aku tadi tidak salah dengar, Nona Nulla mengatakan bahwa kau berkhianat. Itu artinya, yang mengirim pembunuh untuk melenyapkan nyawa Nona Zuri adalah Lehen Verellin. Dan kau bermaksud mencegah pembunuhan itu. Kenapa?”

Dia cerdas, pikir Lan. Ia terdiam sejenak. Apakah tidak apa-apa bercerita tentang adiknya? Ia seketika menghapus pikiran itu dari benaknya. Siapa pun yang berhubungan dengan klan Arinaz tak bisa dipercaya. Dalam situasi seperti ini, ia bahkan tak boleh percaya pada siapa pun. Hidup-mati Yue yang sedang dipertaruhkan di sini.

“Aku sudah bilang tadi. Aku membutuhkan sesuatu dari nonamu. Dan pembunuh yang dikirim Lehen sangat berbahaya. Dia masih muda—sama sepertimu—tapi bahkan aku pun belum pernah bisa mengalahkannya.”

Lan membuang napas perlahan. Itu bukan bualan. Ia memang belum pernah bisa mengalahkan Yue. Lan tidak takut Yue kalah. Yang ditakutkannya … bocah itu tak bisa mengendalikan kekuatannya sendiri. Itu bisa berakhir mencelakai diri sendiri.

“Baik, kita kerja sama,” kata Sua pada akhirnya. “Tapi, sedikit saja kau berani melukai nonaku, aku akan menghabisimu.”

“Setuju.”

 

***

 

“Kau ini, Lan. Yakin, tak mau menggunakan kuda?”

Lan melirik Nulla sepintas, lalu kembali sibuk membantu wanita itu memasukkan buku dan peta ke dalam sebuah tas besar, sampai-sampai Lan heran bagaimana cara mengangkut tas besar itu dengan tubuh kurus Nulla. “Kau tahu sendiri medannya tidak sesuai untuk kuda. Jalan kaki lebih efektif. Tapi, kau membawa tas besar seperti ini. Apa tidak merepotkan?”

Nulla menghampiri Lan sambil merebut sebuah buku dari tangan Lan. Ia mengambil alih pekerjaan Lan begitu saja. “Bukan aku yang akan membawanya.”

Lan tak perlu bertanya lagi. Ia mundur selangkah dan memandangi sesosok lelaki penuh luka di ujung koridor sana, tengah mendengarkan instruksi Nell. Lelaki itu tak membantah atau menanggapi kata-kata Nell. Ia hanya diam.

“Kenapa dia tak bicara sepatah kata pun, meskipun Nell bertanya apakah ia paham atau tidak?”

Nulla seketika menghentikan pekerjaannya. Berpaling pada Lan, ia berkata ringan, “Karena Zen tak bisa bicara.”

“Sejak lahir?”

Nulla menggeleng cepat. “Tahun-tahun awal di Liava, dia pernah menolak bekerja. Beruntung baginya, dia hanya kehilangan lidah, bukan kepala.”

Lan membeliak. “Mereka memotong lidahnya?!”

Nulla tersenyum, lalu menggamit lengan Lan. Karena masih terkejut dengan masa lalu Zen, Lan sama sekali tak menepis Nulla. “Jangan dipikirkan. Itulah kehidupan budak. Kekeliruan sepele bisa berdampak fatal. Tapi, gara-gara dia tak bisa bicara, aku jadi tidak bisa menanyakan nama aslinya. Menyuruhnya menulis juga tidak mungkin. Budak-budak Timur kan selalu buta huruf.”

Lan bergeming saja sewaktu Nulla mencoba menariknya ke ruang depan. Jadi, ditinggalkannya Lan di sana sambil berkata, “Kalau begitu, aku mau mencari gadis api itu dulu.”

Kata-kata itu menyentak Lan. Ia mendengus geli. Sekarang, gadis serampangan itu punya julukan? “Gadis api? Dia jauh lebih pantas dengan julukan tikus api.”

“Kenapa?”

“Tikus bisanya hanya bikin repot. Itulah sebabnya, hama tikus akan jadi menyengsarakan kalau tidak dibasmi.”

“Tapi, tikus pandai menyusup, sangat cepat, dan lincah. Menguntungkan untuk kondisi kita saat ini.”

“Terserah,” katanya kemudian. “Sana pergilah. Setelah kubereskan apa yang perlu dibawa, akan kususul kau.”

Tanpa menunggu, Nulla segera pergi. Lan bisa melihat tangan yang melambai dari balik punggung Nulla. Setelah wanita itu menghilang di belokan, Lan mendesah pelan. Matanya kembali tertuju pada Zen. Sewaktu Zen menangkap tatapannya, Lan merasa ada sesuatu yang dalam dan gelap dalam mata lelaki itu. Tak butuh waktu lama untuk perasaan itu mencapai hati Lan. Ia meremas dadanya. Mata itu seolah menyedot hati Lan dan menenggelamkannya ke dasar samudera. Terasa dingin dan kosong. Lan hanya bisa mengernyit, lantas berpaling untuk melanjutkan pekerjaannya. Perasaan macam apa ini? batinnya. Lan yakin ia pernah merasakan hal yang sama, dulu sekali. Hanya saja ia tidak ingat.

 

***

 

Setelah pamit pada Nell, keempatnya memulai perjalanan. Sua berkali-kali menempel pada Lan, menanyakan berbagai hal, mau tak mau membuat Lan jengah. “Meskipun kita melakukan perjalanan bersama, itu tidak mengubah fakta bahwa kita adalah musuh. Kenapa kau terus menempeliku begini?”

“Bukankah musuh kemarin adalah kawan hari ini, Lan? Dalam perang segalanya bisa terjadi.”

Lan tidak menyangkal. Ia bahkan masih tidak mengerti awal mula perang dua klan dari dua negara ini. Apa yang sebenarnya mereka perebutkan. Dulu, ia hanya bawahan yang selayaknya patuh tanpa mempertanyakan apa pun. Tapi, ia bebas sekarang. Entah bagaimana, pertanyaan yang selama ini tersembunyi jauh di lubuk hatinya pelan-pelan terangkat ke permukaan. Lan mendengus geli bercampur getir seketika. Bebas? Apa benar akan semudah ini?

Lan terhenti seketika. Ia segera menoleh ke seberang bukit, tempat sebuah kastil kecil kediaman klan Verellin berada. Pemandangan indah lembah Regal di hadapannya tak mampu menarik perhatiannya.

Perlahan, Nulla mendekatinya. “Lan?”

“Kita harus segera keluar dari lembah,” sahut Lan dengan wajah pucat, tanpa menoleh. “Ini terlalu mudah. Ini benar-benar terlalu mudah.”

Setelah mengatakan itu, Lan berbalik mendahului Nulla dan mempercepat langkah. Nulla berlari mengiringinya. “Terlalu mudah? Apa maksudmu?”

“Aku terlalu panik dengan situasi yang melibatkan Yue, jadi aku tidak terlalu memperhatikan. Tapi, sekarang, setelah dipikir-pikir lagi, apa menurutmu ini tidak aneh? Lehen bukanlah tipe pemaaf. Kenapa dia melepaskanku?”

“Benar juga, begitu kau mengatakannya, memang terdengar aneh.” Nulla berhenti, lantas menghampiri Zen yang membawakan tasnya. Ia mengambil sebuah gulungan kertas yang sudah tua dan membentangkannya. Jemarinya menelusuri kertas yang ternyata adalah peta wilayah itu. Cepat, ia menggeleng beberapa kali. “Tidak bisa. Malam nanti, kita masih akan terjebak di bukit batu ini.”

“Bagaimana dengan gua-gua ini?” tanya Sua sambil ikut memeriksa peta di samping Nulla. “Kita bisa berlindung di sana malam ini.”

“Tidak bisa juga. Bukit ini masih termasuk wilayah kekuasaan Klan Verellin. Kita tidak bisa berhenti.” Lan kemudian menoleh pada Sua. “Aku dan Nulla sudah terbiasa melakukan perjalanan panjang tanpa istirahat. Bagaimana denganmu?”

“Jangan meremehkanku. Kau pikir bagaimana aku bisa sampai di negeri ini seorang diri?”

“Satu lagi,” kata Lan sambil mengencangkan kedua belati di pinggang kanan-kirinya. “Setelah kita selamat keluar dari bukit, kita masih harus menghadapi Hutan Kabut.”

“Menurutmu akan ada serangan di hutan?”

“Tidak. Tapi, kau tahu apa maksudku.”

Nulla tak menjawab. Tapi, bulu kuduknya menegak tak terkecuali. “Kau yakin mau mengambil jalur Hutan Kabut, Lan? Apa tidak bisa kita mengambil jalur satunya?”

“Satu-satunya jalan menuju Kota Mati adalah jalur Hutan Kabut. Kau tahu itu.”

 

***

 

Tepat seperti dugaan Nulla, begitu bulan naik, mereka masih belum keluar dari bukit batu. Beruntung bulan sedang purnama, sehingga memudahkan mereka menyimak jalur bebatuan mana yang bisa dilewati. Meski mereka bergerak cepat, Lan sempat beberapa kali melirik ke arah Zen. Dia yang membawa beban paling berat di antara mereka berempat. Kalau lelaki itu tertinggal di belakang, perjalanan bisa lumayan terganggu, terutama dengan sebagian besar bekal berada di dalam tas yang dibawa Zen. Begitu sudah merasa yakin bahwa lelaki itu bergerak sama cepatnya dengan para wanita di rombongan itu, Lan mendesah lega. Ia kemudian fokus memperhatikan jalur kembali.

Tak lama, telinganya bergerak-gerak kecil. Suara angin yang sebelumnya selalu mampir ke sekitar mereka, menghilang begitu saja. Ia seketika mengisyaratkan ketiga orang di belakangnya untuk berhenti.

Beberapa kelebat bayangan hitam tertangkap matanya. Tidak sampai sepuluh. Tapi, Lan yakin betul jumlah sebenarnya jauh lebih banyak.

Suara desingan tak lama kemudian membuat telinganya menegak. Wajahnya berubah pucat. “Tiarap!!” teriaknya sambil meraih Nulla dan mendorongnya jatuh dari belakang. Ia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai tameng dengan cara menindihkan tubuhnya sendiri pada Nulla. Suara desingan belum juga berhenti, tapi Lan bisa merasakan beberapa benda tipis panjang mendarat pelan di atas tubuhnya. Tanpa melihat pun ia tahu itu adalah anak panah yang jatuh sehabis memantul pagar-pagar bebatuan di sekeliling mereka.

Tiba-tiba desingan itu berhenti. Nulla berusaha bangkit, tapi Lan menahannya agar tetap tiarap. Sua yang telungkup di dekat Lan, bangkit tanpa bisa dicegah.

“Apa yang kaulakukan?! Gelombang kedua akan segera datang.”

“Aku tidak suka bertelungkup diam seperti ini.”

“Tapi—”

“Sudah, kaulihat saja.” Sua menyeringai. Sorot mata gadis itu tidak mampu dibaca Lan. “Kalau bisa semudah itu tumbang di sini, aku tidak pantas menyebut diriku sebagai tangan kanan Nona Zuri.”

Hanya selang beberapa saat, gelombang kedua datang menyergap dari segala arah. Dengan santai, Sua menjentikkan jemarinya. Udara di sekitar jemari yang berjentik itu bergejolak, lalu hawa panas menyebar. Udara yang bergejolak tadi tersedot ke satu titik, membentuk api sewarna darah yang menjilat-jilat ganas udara di sekelilingnya. Dengan satu gerakan memutar, api merah itu membesar seolah efek ledakan yang tepat menarget hujan anak panah yang menuju mereka berempat. Seketika, hujan anak panah berubah menjadi hujan abu.

Senyum Sua menghilang saat menyadari ada beberapa yang masih bisa lolos, kini menargetnya dari arah yang berlainan. Tenaganya sudah lumayan terkuras untuk membuat api sebesar tadi, ia takkan bisa membuat lagi api yang sama besar. Tapi, apakah ia masih punya pilihan?

Sua bersiap membuat api lagi, tapi tenaganya terkuras jauh lebih banyak dari dugaannya. Ia pun jatuh setengah berlutut setengah berjongkok tepat di saat anak panah yang paling depan hampir mengenainya. Lan yang melihat itu segera bangkit sambil menghunus kedua belatinya. Anak panah pertama dan kedua berhasil dilumpuhkan, tapi tidak yang berikutnya. Salah satu menggores lengan kanannya. Dan masih ada beberapa yang menyusul.

Lan mengencangkan pegangannya pada gagang belati, lantas memantapkan kuda-kudanya. Ia baru saja mau mengayunkan belatinya, udara di atasnya tiba-tiba bergejolak. Beberapa anak panah yang bergerak menujunya seperti baru saja menabrak perisai tak kasatmata, lalu jatuh begitu saja. Hening beberapa saat. Lan menoleh pada Sua. Gadis itu menggeleng cepat. “Bukan aku.”

Lan tercenung. Ia tahu pasti itu bukan Nulla. Kalau bukan Sua juga yang melakukannya, lantas pekerjaan siapa? Perasaan dingin dan kosong itu menghantam Lan kembali. Ia meremas dadanya. Seketika matanya tertuju pada satu-satunya lelaki di rombongan mereka.

Sikap Zen yang masih mengangkat tangannya ke udara membuat Lan yakin kalau memang lelaki itu yang tadi melindunginya. Tapi, sesuatu mulai mengusiknya. Bukannya berterima kasih, Lan hanya menatap Zen tak percaya. Bagaimana mungkin seorang budak memiliki kemampuan seperti itu?

“Zen, siapa kau sebenarnya?”

 

 

Read previous post:  
47
points
(1923 words) posted by aocchi 7 years 33 weeks ago
67.1429
Tags: Cerita | Novel | petualangan | fantasi | Katalis Waktu | lcdp | tragedi
Read next post:  
90

*lanjut*

80

Mampir lagi. :P
.
Btw,

Quote:
Nulla hanya sanggup memandangi Lan dan Sua bergantian. Sementara, keduanya saling bersitatap tajam, tanpa sepatah kata pun mampu hadir di antara mereka.
CMIIW. Bukannya kata bersitatap itu artinya udah 'saling menatap', Ao? ^^a

70

Secara umum, chapter ini yang terbaik sepanjang yang aku baca
^^

Kekurangannya satu : pada adegan diserang, aku belum merasakan ketegangan. Nah, kalau ditanya kenapa, aku juga ga tahu... Mungkin pilihan katanya yang ga pas.

diksi ya? *catet*
harus lebih banyak mengeksplorasi kbbi nih XD
sankyuu XD

80

ceritanya bagus :)

80

Colonel learns new skill: Penggorengan Api
*eh
Lanjut~

penipuan.. tidak koq, aq yg trtipu.. ahemahem.. aq pikir lan itu cowok. ga taunya setelah aq baca dr awal, trnyata wanita.. #salahsendiribacadrbelakang.. habisnya, nulla kan menggamit lengannya lan n lan ga sadar gtu.. seolah lan biasanya ga mau. dan persepsiq lan adalah cowok. ditambah sua yg pingin deket2 lan mulu.. wadaw...

mau tanya boleh?
gie itu apa ya? aq bc d komen sblum ni.. dan aq, ga ngerti begitu.. #jgndiketawain
hoho.. :-)

lol
berarti saya berhasil dong bikin karakter cewek yang maskulin *plak
err, ceritanya ini awal saya bikin cerita ini tuh iseng2 coba masukin member LCDP dalam satu cerita (gak semuanya sih)
berawal dari keisengan, eh kok malah jadi pengen saya bikin konflik yang agak rumit dikit, lahirlah cerita ini
dan semua karakter di cerita ini based on member of Le Chateau de Phantasm
gie yg username kekomnya duniamimpigie, saya ambil karakternya & saya kasih nama Nulla :3

90

err.. apakah Nulla itu karakternya gie?
XD
.
waktu ada deskripsi telinga Lan bergerak2, terus tegak, bayangan saya kalo Lan berpenampilan manusia (minimal kupingnya) langsung buyar. Jadi dia punya kuping macam anjing / kucing ya?
.
aih, motongnya bikin penasaran aja dah
tapi ditanya gitu juga si Zen nggak bakal bisa jawab kan ^^a

iya, Nulla is Gie ... keliatan gak?
.
err, soal itu ... saya kayaknya salah pilih kata *kabur bareng sion*
wkwkwk, harus lebih cermat lagi nih memainkan diksi *plak

bagus klo, ceritanyadi bikin komik.. hehe

kau entah orang kesekian yang ngomong kalau tipe tulisan saya kayak komik *plak
makasih XD

90

ini adalah cerita yang paling dan selalu gw tunggu2..

makasih, zen XD